0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan11 halaman

Perlindungan Hukum Hak Cipta Fotografi

Dokumen ini membahas perlindungan hukum terhadap hak cipta karya seni fotografi berdasarkan UU No. 28 Tahun 2014. Undang-undang ini memberikan perlindungan yang lebih rinci dan detail dibandingkan dengan undang-undang sebelumnya, dengan sanksi pidana yang lebih berat bagi pelanggar. Selain itu, dokumen ini juga menyoroti pentingnya hak moral dan hak eksklusif bagi pencipta karya fotografi.

Diunggah oleh

ilhamardiansyah1564
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan11 halaman

Perlindungan Hukum Hak Cipta Fotografi

Dokumen ini membahas perlindungan hukum terhadap hak cipta karya seni fotografi berdasarkan UU No. 28 Tahun 2014. Undang-undang ini memberikan perlindungan yang lebih rinci dan detail dibandingkan dengan undang-undang sebelumnya, dengan sanksi pidana yang lebih berat bagi pelanggar. Selain itu, dokumen ini juga menyoroti pentingnya hak moral dan hak eksklusif bagi pencipta karya fotografi.

Diunggah oleh

ilhamardiansyah1564
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SISTEM PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK CIPTA TERHADAP

KARYA SENI FOTOGRAFI BERDASARKAN UU NO. 28 TAHUN 2014

DZULFIKAR

041041649

ABSTRAK

Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) merupakan hak atas kekayaan yang timbul atau lahir dari
kemampuan intelektual manusia, Keberadaan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang
hak cipta Pasal 12 ayat (1) merupakan suatu bukti bahwa sudah ada regulasi yang mengatur
tentang perlindungan hukum bagi hak cipta, Bidang lain selain hak cipta adalah bidang- bidang
yang merupakan bagian dari Hak Milik Perindustrian atau industrial property right yang
antara lain terdiri dari paten yang diatur dalam UU. No. 13 tahun 2016 dan Merek yang diatur
dalam UU. No. 20 tahun 2016. Seni Fotografi selalu menjadi bidang yang menarik bagi
kebanyakan orang dan saat ini sudah menjadi bagian hidup manusia yang sulit dipisahkan.
Menyangkut Fotografi dapat digandengkan dengan pengaturan yang juga berlaku untuk bidang-
bidang seni lainnya yakni pasal 113 UUHC ayat 4 UUHC No. 28 Tahun 2014 ancaman pidana
maksimalnya 10 Tahun atau denda sebesar 4 Milyar, hal ini labih lama jika dibandingkan dengan
UUHC yang lama yakni UU No. 19 Tahun 2002 yang hanya 7 tahun maksimal. Dengan demikian
UUHC No. 28 tahun 2014 lebih secara rinci dan detail memberikan perlindungan hukum baik
secara perdata maupun pidana terhadap pencipta, pemilik hak cipta maupun pemilik hak terkait.

Kata kunci : sistem, hak cipta, UU NO. 28 TAHUN 2014

PENDAHULUAN
Undang-Undang nomor 28 ta-hun 2014 tentang Hak Cipta mem-bawa kemajuan baru
dalam per-lindungan hak cipta tersebut, yang meliputi perlindungan terhadap buku, program
komputer, pamflet, sampul karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain,
ceramah, kuliah, pidato, lagu atau musik dengan atau tanpa teks, drama, tari, koreografi,
pewayangan dan panto-mim, seni rupa dalam segala bentuk, arsitektur, peta, seni batik,
fotografi, sinematografi, terjemahan, tafsir, sa-duran, bunga rampai, database, dan karya lain
dari hasil pengalihwujudan. Dari sekian banyak ciptaan yang dilindungi sesuai dengan Undang-
Undang ini, penulis mengkhususkan pada hak cipta atas karya seni foto-grafi.

Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) merupakan hak atas kekayaan yang timbul atau
lahir dari kemampuan intelektual manusia. HaKI memang menjadikan karya-karya yang timbul
atau lahir karena adanya kemampuan intelektual manusia sehingga harus dilindungi.
Kemampuan intelektual manusia tersebut dihasilkan oleh manusia melalui daya, rasa, dan
karsanya yang diwujudkan dengan karya-karya intelektual. Karya-karya intelektal yang
dihasilkan akan menjadi ber-nilai, apabila dikaitkan dengan man-faat ekonomi yang melekat
padanya, sehingga akan menumbuhkan konsep kekayaan terhadap karya-karya inte-lektual.
Dewasa ini kebutuhan akan perlndungan hukum di bidang ilmu sengetahuan, seni dan
sastra semakin dirasakan perlu, terutama bagi pihak yang berhasil menciptakan sesuatu. Seni
fotografi merupakan bagian dari hak atas kekayaan intelektual di bidang seni merupakan
bagian dari hak cipta yang juga membutukan adanya perlindungan hukum. Sedangkan hak
cipta sebagai bagian dari Hak atas Kekayaan Intelektual, dimana seni fotografi termasuk di
dalamnya.

Fotografi selalu menjadi bi-dang yang menarik bagi ke-banyakan orang dan saat ini
sudah menjadi ba-gian hidup manusia yang sulit di-pisahkan. Dengan semakin berkem-
bangnya teknologi saat ini ber-pengaruh terhadap kebutuhan kita terhadap seni fotografi, salah
satunya kebutuhan akan eksistensi di jejaring sosial, seperti facebook dan twitter membuat
bidang fotografi menjadi menarik banyak kalangan, baik di-sadari atau tidak.
Dewasa ini, seni fotografi merupakan salah satu bidang seni yang sedang marak
ditekuni oleh berbagai kalangan di Indonesia. Peminatnya beragam, mulai dari generasi muda
sampai yang tua, mulai dari golongan menengah sampai golongan elite. Tujuan orang
menekuni bidang fotografi juga bermacam-macam, ada yang hanya sekedar hobby untuk
kepuasan ba-tin. Ada yang menjadikan foto-grafi sebagai ajang aktualisasi diri dan
berorganisasi serta menambah relasi pertemanan. Namun, banyak juga yang menjadikan
fotografi sebagai tempat mencari nafkah, bisnis atau komersial. Misalnya fotografer terse-but
adalah pemilik studio foto, penye-dia stok foto, penyedia jasa foto pernikahan (wedding
photography), kontributor foto, freelance dan sebagainya. Contoh lain, fotografer tersebut
adalah seorang pekerja dalam artian karyawan suatu perusahaan atau instansi, dimana
fotografer tersebut menerima honor baik tetap maupun honorer. Misalnya wartawan foto,
fotografer studio, dosen foto-grafi dan sebagainya. Walaupun tu-juan menekuni bidang
fotografi beragam, hal ini tidak membuat foto-grafer tersebut lepas dari segala aspek hukum
yang berlaku di Indonesia. Terlebih lagi apabila fotografer ter-sebut bergerak di bidang bisnis
fo-tografi yang mengandung unsur ko-mersial.

Keberadaan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang hak cipta Pasal 12 ayat (1)
merupakan suatu bukti bahwa sudah ada regulasi yang mengatur tentang perlindungan hukum
bagi hak cipta, khususnya seni fotografi. jadi sudah sepatutnya apabila para fotografer tidak
perlu resah akan adanya klaim karya seni fotonya oleh orang lain. Namun masih terdapat
pelanggaran terhadap hak cipta atas karya seni fotografi.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, seni fotografi
merupakan salah satu ciptaan yang dilindungi. Bukan hal yang baru bahwa karya seni forografi
merupakan salah satu karya seni yang dilindungi, dalam Undang-Undang Hak Cipta Tahun
1987 disebutkan bahwa karya seni fotografi merupakan ciptaan yang bersifat derivatif atau
turunan diatur dalam Psl 27 ayat (1).

Dewasa ini, seni fotografi merupakan salah satu bidang seni yang sedang marak ditekuni
oleh berbagai kalangan di Indonesia. Peminatnya beragam, mulai dari generasi muda sampai
yang tua, mulai dari golongan menengah sampai golongan elite. Tujuan orang menekuni bidang
fotografi juga bermacam-macam, ada yang hanya sekedar hobby untuk kepuasan batin. Ada
orang yang menekuni fotografi untuk mengejar prestasiseperti misalnya lomba foto dan
pameran. Ada yang menjadikan fotografi sebagai ajang aktualisasi diri dan berorganisasi serta
menambah relasi pertemanan. Namun, banyak juga yang menjadikan fotografi sebagai tempat
mencari nafkah, bisnis atau komersial. Misalnya fotografer ter-sebut adalah pemilik studio foto,
penyedia stok foto, penyedia jasa foto pernikahan (wedding photography), kontributor foto,
freelance dan sebagainya. Contoh lain, fotografer tersebut adalah seorang pekerja dalam artian
karyawan suatu perusahaan atau instansi, dimana fotografer tersebut menerima honor baik tetap
maupun honorer. Misalnya wartawan foto, fotografer studio, dosen foto-grafi dan sebagainya.
Walaupun tu-juan menekuni bidang fotografi b, hal ini tidak membuat fotografer tersebut
lepas dari segala aspek hukum yang berlaku di Indonesia. Terlebih lagi apabila fotografer
tersebut bergerak di bidang bisnis fotografi yang mengan-dung unsur komersial.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, seni fotografi
merupakan salah satu ciptaan yang dilindungi. Bukan hal yang baru bahwa karya seni forografi
merupakan salah satu karya seni yang dilindungi, dalam Undang- Undang Hak Cipta Tahun
1987 disebutkan bahwa karya seni fotografi merupakan ciptaan yang bersifat derivatif
/turunan diatur dalam Pasal 27 ayat (1).

Keberadaan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang hak cipta Pasal 12 ayat (1)
merupakan suatu bukti bahwa sudah ada regulasi yang mengatur tentang perlindungan hukum
bagi hak cipta, khususnya seni fotografi. Jadi sudah sepatutnya apabila para fotografer tidak
perlu resah akan adanya klaim karya seni fotonya oleh orang lain. Namun masih terdapat
pelanggaran terhadap hak cipta atas karya seni fotografi.
1. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar be-lakang di atas, maka dapat dirumus-kan permasalahan sebagai
berikut :

a. Bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap karya seni fotografi berdasarkan


Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 tahun 2014 ?

b. Hambatan apa yang ditemui dalam pemberian perlindungan hukum terhadap karya seni
fotografi ?

2. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah sebagaimana dikemukakan di atas, maka tujuan


dilakukannya penelitian ini adalah : untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum terhadap
karya seni fotografi

PEMBAHASAN

A. Perlindungan Hukum Terhadap Seni Fotografi

Sejak dahulu, Indonesia dikenal sebagai Negara yang memi-liki beragam kekayaan yang
tidak hanya terbatas pada kekayaan sumber daya laam, tetapi juga kayak an sumber daya manusia
dengan segala kreativitas yang telah mem-berikan suatu bentuka kekayaan intelektual yang
sangat berharga. Hasil olah sumber daya manusia Indonesia tersebut menjelma menjadi berbagai
macam bentuk, mulai dari ragam seni rupa, seni gerak, seni tari, seni musik, seni sastra, seni
suara, maupun kearifan-kearifan lokal yang menak-jubkan dan sangat membanggakan ialah seni
fotografi, yang merupakan salah satu kesenian bentuk refleksi dan daya pikir masyarakat Indo-
nesia.
Karya cipta seni fotografi sebagai ciptaan yang dilindungi, maka pemegang Hak Cipta
seni fotografi memperoleh perlindungan selama hidupnya dan terus berlangsung hingga 50 (lima
puluh) tahun setelah meninggal dunia (Pasal 29 ayat 1 UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak
Cipta). Selama jangka waktu perlindungan tersebut, pemegang Hak Cipta fotografi memiliki hak
eksklusif untuk melarang pihak lain mengu-mumkan dan memperbanyak cipta-annya atau
member izin kepada orang lain untuk melakukan pengumuman dan perbanyakan ciptaan yang di-
punyai tanpa mengurangi pemba-tasan- pembatasan menurut peraturan-peraturan yang berlaku
(Pasal 1 ayat 1 UUHC 2014).
Pembahasan tetntang hak cipta tentunya juga tidak akan pernah ter-lepas dari hak
ekonomi, hak moral, dan hak eksklusif. Keberadaan hak cipta tentu juga didukung dengan
keberadaan hak-hak tersebut. Sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2014 tersirat bahwa hak cipta sebagai hak eksklusif, dimana keberadaannya
merekat kepada pemiliknya atau pemegangnya yang merupakan kekuasaan pribadi atas ciptaan
yang bersangkutan. Dengan itulah dapat kita ketahui bahwa sebuah ciptaan tidak dapat begitu
saja dimanfaatkan dan digunakan oleh orang lain tanpa ijin dari penciptanya, mengingat bahwa
penciptanya me-merlukan proses panjang dan rumit ketika menciptakan karya tersebut.
Munculnya hak eksklusif ialah setelah sebuah sebuah ciptaan diwujudkan dan sejak saat itu hak
tersebut mulai dapat dilaksanakan. Seorang pencipta diperbolehkan mengumumkan, mem-
perbanyak ciptaan serta memberikan kepada orang lain untuk meman-faatkan hak cipta, yang
mana semua itu dikarenakan adanya hak eksklusif yang melekat pada si pencipta. Hak eksklusif
secara garis besar terbagi atas tiga hak, yaitu hak untuk mengumumkan ciptaan, hak untuk
memperbanyak ciptaan, dan hak un-tuk memberi izin.

Suatu ciptaan, tentunya tidak penah lepas dari yang namanya pencipta. Dalam kehidupan
sehari-hari terkadang kita temui judul lagu dengan mencantumkan nama pen- ciptanya, tidak
hanya lagu, puisi, tari, dan lukisan juga acap kali tercantum nama pencipta di karya tersebut.
Penyebutan atau pencantuman nama pencipta atau penemu dalam suatu karya intelektual
merupakan suatu penghormatan dan penghargaan yang diberikan pada pencipta. Inilah yang
disebut dengan hak moral. Selain itu, dengan adanya hak moral yang melekat pada suatu ciptaan,
nantinya akan menyebabkan seorang pencipta dapat mengklaim atau mengajukan keberatan atas
perubahan-perubahan baik seluruh atau sebagian atas karyanya tersebut.
Mengenai hak moral ini, dalam konteks ke-indonesiaan sesuai dengan Pasal 24, Pasal 25,
dan Pasal 26 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 antara lain:
1. Pencipta atau ahli waris berhak menuntut pemegang cipta supaya nama pencipta
tetap dicantumkan dalam ciptaannya.
2. Suatu ciptaan tidak boleh diubah walaupun hak ciptanya telah diserahkan kepada
pihak lain kecuali dengan persetujuan pencipta atau ahli warisnya.
3. Pencipta tetap berhak mengadakan perubahan pada ciptaannya sesuai dengan
keputusan dalam masyarakat.
4. Dalam informasi elektronika tentang informasi manajemen hak pencipta tidak boleh
ditiadakan atau diubah
5. Hak cipta atas nama suatu ciptaan tetap berada ditangan pencipta selama kepada
pembeli ciptaan itu tidak diserahkan seluruh ciptaannya oleh pencipta.
6. Hak cipta yang dijual sebagian atau seluruhnya tidak dapat dijual lagi untuk kedua
kalinya oleh penjual yang sama.
Penjelasan mengenai hak ekonomi, hak ekskusif, dan hak moral yag merupakan suatu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari hak cipta, membuktikan bahwa suatu hasil karya olah
fikir manusia, sangat berharga dan perlu untuk diberikan suatu perlindungan dengan cara
menjadikan karya tersebut sebagai hak cipta yang diberikan dan dimiliki oleh pencipta dan atau
orang yang telah diberi ijin guna memanfaatkan hak tersebut.
Perlindungan dan pemberian jaminan atas hak cipta yang dimuat baik dalam beberapa
konvensi internasional maupun yang dimuat dalam aturan-aturan nasional kesemuanya itu
diberikan kepada suatu ciptaan yang masuk dalam kategori seni, sastra, dan ilmu pengetahuan.
Salah satuanya ialah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 yang sudah menyebutkan satu
persatu objek yang dilindungi dengan menggunakan rezim hak cipta ini. Sebagaimana yang
tercantum dalam Pasal 12 UU tahun 2014 sudah tercantum selengkapnya ketentuan ini merinci
beberapa bagian ciptaan yang dilindungi hak ciptanya, yakni:
 Buku, program komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang
diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;
 Ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu;
 Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
 Lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
 Drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;
 Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni
kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan;
 Arsitektur;
 Peta;
 Fotografi;
 Sinematografi;
 Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil
penga- lihwujudan.
 Seni batik;

Dari apa yang dapat disim-pulkan bahwa kesemua objek yang dilindungi oleh rezim hak
cipta tersebut merupakan komponen-kom-ponen dari hak cipta bergerak di bidang seni, satra, dan
ilmu penge-tahuan.
Seni fotografi di Indonesia mulai mendapat perlindungan hak cipta sejak Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1987 hingga Undang-Un-dang Nomor 28 Tahun 2014. Perlindungan
tersebut terdapat pada Pasal-Pasal berikut:
1. Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta atas
potret
 Untuk memperbanyak atau mengumumkan Ciptaannnya, Peme-gang Hak Cipta
atas Potret se-seorang harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari orang yang
dipotret, atau izin ahli warisnya dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah
orang dipotret me-ninggal dunia.
 Jika suatu Potret me-muat grambar 2 (dua) orang atau lebih, untuk Perbanyakan
atau Pengumuman setiap orang yang dipotret, apabila Pengumuman atau
Perbanyakan itu memuat juga orang lain dalam Potret itu, Pemegang Hak Cipta
harus terlebih dahulu men-dapatkan izin dari setiap orang dalam Potret itu, atau
ahli waris masing-masing dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah yang
dipotret meninggal dunia.
Ketentuan dalam Pasal ini hanya berlaku terhadap Potret yang dibuat;
 Atas permintaan sendiri dari orang yang dipotret;
 Atas permintaan yang dila-kukan atas nama orang yang dipotret;
 untuk kepentingan orang yang dipotret
1. Pasal 20 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014
Pemegang Hak Cipta atas Potret tidak boleh mengumumkan potret yang dibuat:
 Tanpa persetujuan dari orang yang dipotret;
 Tanpa persetujuan orang lain atas nama yang dipotret; atau
 Tidak untuk kepentingan yang dipotret, Apabila pengumuman itu berten- tangan
dengan kepen-tingan yang wajar dari orang yang dipotret, atau dari salah satu
ahli wa-risnya apabila orang yang dipotret sudah meninggal dunia.
2. Pasal 21 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014
Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta, pemotretan untuk diu-mumkan atas
seorang pe-laku atau lebih dalam su-atu pertunjukan umum wa-laupun bersifat komer-sil, kecuali
dinyatakan lain oleh orang yang berke-pentingan.
3. Pasal 22 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014
Untuk kepentingan kea-manan umum dan/atau un-tuk keperluan proses pera- dilan
pidana, Potret sese-orang dalam keadaan ba-gaimanapun juga dapat diperbanyak dan diumum-kan
oleh instansi yang berwenang.

4. Pasal 23 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014


Kecuali terdapat persetu-juan lain antara Pemegang Hak Cipta dan pemilik Ciptaan
fotografi, seni lukis, gambar, arsitektur, seni pahat dan/atau hasil seni lain, pemilik berhak tanpa
persetujuan Peme-gang Hak Cipta untuk mempertunjukkan Ciptaan di dalam suatu pameran untuk
umum atau mem-perbanyaknya dalam satu catalog tanpa mengurangi ketentuan Pasal 19 dan
Pasal 20 apabila hasil karya seni tersebut berupa Potret.

B. Hambatan Dalam Pemberian Perlindungan Hukum Terhadap Karya Seni


Fotografi
Penegakan hukum terhadap pelanggaran Hak Cipta sangat pen-ting, mengingat
perkembangan per-lindungan Hak Cipta dan perlin-dungan hukum terhadap Hak Cipta bagi
pencipta masih kurang, dimana masih banyak terdapat hambatan-hambatan yang timbul dalam
pene-gakan hukum ini, meskipun telah dilakukan upaya-upaya hukum oleh para pihak, serta
dengan menerapkan sanksi-sanksi hukum terhadap pelanggar Hak Cipta berdasarkan Undang-
Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014.
Peran serta semua pihak bukan hanya pemerintah dan pencipta atau pemegang Hak
Cipta saja tetapi juga masyarakat pada umumnya dalam penegakan hukum ini. Suatu hal
yang menjadi permasalahan dalam perlindungan hukum di bidang hak cipta termasuk di dalamnya
perlin-dungan terhadap karya seni fotografi adalah bagaimana pengaturan per-lindungan Hak
Cipta di Indonesia dan bagaimana pula per-lindungan hukum terhadap pelang-garan Hak Cipta itu
sendiri. Permasalahan berikutnya adalah bagaimana hambatan yang terdapat dalam penegakan
hukum di bidang Hak Cipta dan bagaimana upaya penegakan hukum terhadap pelang-garan Hak
Cipta serta bagai-mana sanksi hukum yang dapat dite-rapkan terhadap pelanggaran Hak Cipta
berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta yakni Undang-undang No. 28 tahun 2014.
Dari data penelitian yang ada menunjukkan bahwa terjadi hambatan dalam perlindungan
hukum di bidang hak cipta utamanya yang berkaitan dengan perlindungan terhadap karya seni
fotografi. Di Bidang ini terdapat faktor-faktor penghambat yang antara lain adalah faktor budaya
yang terdapat pada masyarakat Indonesia yakni adanya ketidak mauan masyarakat untuk bersusah
payah mencari sumber perlindungan yang dapat mengamankan dirinya dari tindakan oarang-orang
yang tidak bertanggungjawab dengan begiatu gampangnya menggunakan karya-karya hasil orang
lain.
Permasalahan berikutnya yang dapat menghambat penegakan hukum adalah adanya
anggapan bahwa menlakukan pengurusan untuk mendapatkan perlindungan hak cipta terlalu
berbelit-belit dan memakan waktu yang cukup lama. Terhadap anggapan ini dapat sampaikan
mengingat bahwa Haki merupakan satu jenis Hak Kebendaaan yang etrgolong hak kebendaan
bergerak tak berwujd, sehingga untuk pemberian hak jenis ini perlu memenuhi prosedur tertentu
yang dapat disam-paikan sebagai berikut :
1. Permohonan pendaftaran ciptaan diajukan dengan cara mengisi formulir yang
disediakan untuk itu dalam bahasa Indonesia dan diketik rangkap 2 (dua).
2. Pemohon wajib melampirkan:
a. Surat kuasa khusus, apabila permohonan diajukan melalui kuasa;
b. Contoh ciptaan dengan ketentuan sebagai berikut:
 buku dan karya tulis lainnya: 2 (dua) buah yang telah dijilid dengan edisi terbaik;

 Apabila suatu buku berisi foto seseorang harus dilampirkan surat tidak keberatan dari
orang yang difoto atau ahli warisnya;
 program komputer: 2 (dua) buah disket disertai buku petunjuk pengoperasian dari
program komputer tersebut;
 CD/VCD/DVD: 2 (dua) buah disertai dengan uraian ciptaannya;
 alat peraga: 1 (satu) buah disertai dengan buku petunjuknya;
 lagu: 10 (sepuluh) buah berupa notasi dan atau syair;
 drama: 2 (dua) buah naskah tertulis atau rekamannya;
 tari (koreografi): 10 (sepuluh) buah gambar atau 2 (dua) buah rekamannya;
 pewayangan: 2 (dua) buah naskah tertulis atau rekamannya;
 pantomim: 10 (sepuluh ) buah gambar atau 2 (dua) buah rekamannya;
 karya pertunjukan: 2 (dua) buah rekamannya;
 karya siaran: 2 (dua) buah rekamannya;
 seni lukis, seni motif, seni batik, seni kaligrafi, logo dan gambar: masing- masing 10
(sepuluh) lembar berupa foto;
 seni ukir, seni pahat, seni patung, seni kerajinan tangan dan kolase: masing- masing
10 (sepuluh) lembar berupa foto;
 arsitektur: 1 (satu) buah gambar arsitektur;
 p e t a: 1 (satu) buah;
 fotografi: 10 (sepuluh) lembar;
 sinematografi: 2 (dua) buah rekamannya;
 terjemahan: 2 (dua) buah naskah yang disertai izin dari pemegang hak cipta;
 tafsir, saduran dan bunga rampai: 2 (dua) buah naskah

c. salinan resmi akta pendirian badan hukum atau fotokopinya yang dilegalisasi notaris,
apabila pemohon badan hukum;
d. fotokopi kartu tanda penduduk; dan
e. bukti pembayaran biaya permohonan sebesar Rp. 75.000,- (tujuh puluh lima ribu
rupiah).*) untuk program komputer sebesar Rp. 150.000,-
3. Dalam hal permohonan pendaftaran ciptaan yang pemegang hak ciptanya bukan si
pencipta sendiri, pemohon wajib melampirkan bukti pengalihan hak cipta tersebut.
KESIMPULAN

Perlindungan hukum ter-hadap Karya Seni fotografi dilakukan secara umum dalam
pengertian tidak ada pasal khusus yang menyangkut perlindungan untuk bidang fotografi. Ada
dua sarana yakni sarana Hukum Perdata dan sarana Hukum Pidana. Sarana hukum perdata dapat
kita temukan pada pasal 95 s.d pasal 101 Undang- undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014.
Sedangkan upaya Hukum pidana sebagaimana diatur dalam Bab XVII, dimana disitu setidak-
tidaknya terdapat 8 pasal yakni pasal 112 s.d pasal 119 UUHC No. 28 tahun 2014. Menyangkut
Foto-grafi dapat digan-dengkan dengan penga-turan yang juga berlaku untuk bidang-bidang seni
lainnya yakni pasal 113 UUHC ayat 4 UUHC No. 28 Tahun 2014 ancaman pidana maksi-malnya
10 Tahun atau denda sebesar 4 Milyar, hal ini labih lama jika dibandingkan dengan UU-HC yang
lama yakni UU No. 19 Tahun 2002 yang hanya 7 tahun maksimal. Dengan demi-kian UUHC No.
28 tahun 2014 lebih secara rinci dan detail memberikan perlin-dungan hukum baik secara perdata
maupun pidana terhadap pencipta, pemilik hak cipta maupun pemilik hak terkait. UUHC No 28
tahun 2014 secara mem-berikan perlindungan labih baik dengan memberikan ruang untuk
penyelesaian sengketa secara alternatif melalui proses mediasi dan arbitrase hal ini demi
kemajuan dalam mela-kukan perlindungan di bidang Hak Cipta guna terus mendukung kreatifitas
dalam berkarya dan ber-kreasi serta produk-tifitas dalam menciptakan karya cipta yang baru

Hambatan-hambatan yang timbul dalam penegakan hukum Hak Cipta

1) Rasa enggan dari sebagian masyarakat Indonesia untuk melakukan pendaftaran hak cipta,
sehingga banyak yang belum memahami mak-na sebuah pen-daftaran. Di samping itu
kurangnya sosoalisali dari Lemba-ga terkait dengan HaKI khususnya Derektorat Hak
Cipta kepada masya-rakat khususnya insan fotografer.
2) Kurang jelasnya pasal yang berhubungan dengan karya seni fotografi juga merupakan
hambatan dalam perlindungan hukum terhadap para insan yang mengabdi di bidang
karya seni fotografi. Hal yang di-temukan di dalam UUHC tahun 2014 ini hanyalah
perlindungan yang diberikan secaca umum terhadap bi- dang-bidang yang ada
dilingkungan seni dari sekian bidang karya yang disebutkan dalam pasal 40 UUHC No.
28 tahun 2014 sebagai mana disebutkan di atas. Penyebutan yang kurang spesifik itulah
yang menye-babkan sebagian masyarakat merasa kesulitan untuk mengajukan perm-
asalahannya ke dunia peradilan.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hapiz Hilman. [Link] Fotografi di [Link]. Indraprasta PGRI.

Adrian Sutedi.2009. Hak Atas Keka-yaan Intelektual. Sinar Grafika, Jakarta.

Bryan A. Garner. 1999. Black’s law dictionary. West Group. Unites States of America.

Devi Rahayu. 2011. Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cipta Motif Batik Tanjungbumi
[Link]. Gajah Mada.

Hoyyima Khoiri dan A. Yusrianto Elga. 2010. Piawai Fotografi untuk pemula.

FlashBooks: Jog-jakarta.

Johnny Ibrahim. 2010. Teori dan metodologi penelitian hukum normative. Bayumedia Pub-
lishing. Malang.
Peter Mahmud Marzuki. 2005. Pene-litian Hukum. Kencana Prenada Media Group: Jakarta.

Peter Mahmud Marzuki. 2008. Penelitian Hukum. Kencana Prenada Media Group:
Jakarta.

Putusan Mahkamah Agung Nomor 037 K/N/HAKI/2006. Raharjo


Satjipto. [Link] dan perilaku. Kompas: Jakarta.
Ranti Fauza Mayana. 2007. Per-lindungan Desain Industri di Indonesia. Grasindo: Jakarta.

Kitab Undang-Undang Hukum Perda-ta (KUHPer atau BW).

Setiono. 2004. Rule of law (Supre-masi Hukum). Surakarta : Ma-gister Ilmu Hukum
Program Pascasarjana Universitas Sebe-las Maret.

Setiono. 2004. Rule of law (Supre-masi Hukum). Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret. Su-rakarta.

Sophar Maru Hutagalung. 1994. Hak Cipta: kedudukan dan pera-nannya di dalam
pembangun-an. Akademika Pres-sindo: Ja-karta.

Suyud Margono. 2001. Hak kekayaan intelektual: komentar atas undang-undang rahasia da-
gang, desain industri, desain tata letak sirkuit terpadu. No-vindo Pustaka Mandiri:
Jakarta.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.


Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak cipta.
Yekti Herlina. 2009. Kreativitas Dalam Seni Fotografi. Univer-sitas Kristen Petra.

Anda mungkin juga menyukai