NAMA : HANA MULIAWATI
NPM : 23570018
TUGAS
BERPIKIR MATEMATIKA TINGKAT TINGGI
A. Pengertian Berpikir Kritis Menurut Para Ahli
Berpikir kritis merupakan kemampuan manusia untuk menganalisis, mengevaluasi,
dan menginterpretasikan informasi secara objektif dan rasional. Kemampuan ini penting
dalam pembuatan keputusan yang baik serta mempengaruhi langkah-langkah solusi terhadap
permasalahan yang dihadapi. Menurut para ahli, berpikir kritis dapat diartikan sebagai
berikut:
1. Robert H. Ennis
Menurut Ennis, berpikir kritis adalah pemikiran yang rasional, bertujuan, reflektif,
dan otonom. Pemikiran yang rasional berarti berpikir tidak terbatas oleh emosi atau
kepercayaan pribadi. Pemikiran yang bertujuan berarti memiliki tujuan spesifik dan fokus
pada penyelesaian masalah. Pemikiran yang reflektif berarti mengenali dan mengevaluasi
argumentasi dan ide-ide yang dikemukanan orang lain. Pemikiran yang otonom berarti
mampu berpikir secara mandiri tanpa adanya pengaruh dari orang lain.
2. Richard Paul
Menurut Paul, berpikir kritis adalah proses pemikiran yang aktif, persis, dan terpadu
yang mencerminkan ketelitian, keakuratan, dan pergerakan pemikiran secara sistematis.
Berpikir kritis melibatkan penggunaan menganalisis bukti-bukti, mencegah kesalahan
logika, dan mengenali kecenderungan pemikiran yang bias. Tujuan dari berpikir kritis
adalah untuk mencapai pemahaman yang dalam dan esensial serta mempertanyakan
keyakinan dan asumsi yang ada.
3. Linda Elder dan Richard Paul
Menurut Elder dan Paul, berpikir kritis adalah konsep yang kompleks yang mencakup
banyak aspek. Berpikir kritis melibatkan kemampuan untuk mengidentifikasi,
menganalisis, dan mengevaluasi argumen serta alasan yang digunakan untuk mendukung
suatu keputusan atau pendapat. Selain itu, berpikir kritis juga mencakup kemampuan
untuk mengenali dan melawan bias dan asumsi yang tidak didasarkan pada bukti akurat.
4. Diane F. Halpern
Menurut Halpern, berpikir kritis adalah kemampuan untuk menyelidiki, menganalisis,
dan menghubungkan informasi dengan cara yang logis, rasional, dan reflektif. Berpikir
kritis melibatkan pemahaman terhadap masalah kompleks dan kemampuan untuk
mengevaluasi argumentasi serta solusi yang ada. Hal ini melibatkan analisis terhadap
berbagai sumber informasi dan mempertanyakan kebenaran dari klaim-klaim yang
diutarakan.
5. Peter Facione
Facione menyatakan bahwa berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis,
mengevaluasi, dan memecahkan masalah kompleks dengan cara yang sistematis dan
rasional. Berpikir kritis melibatkan keterampilan dalam mengumpulkan informasi yang
relevan, menggunakan penalaran logis, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti-
bukti yang ada. Selain itu, berpikir kritis juga memungkinkan individu untuk melihat dari
berbagai sudut pandang dan mengakui adanya ketidakpastian dalam proses pengambilan
keputusan.
6. John Dewey
Dewey mendefinisikan berpikir kritis sebagai kemampuan untuk memeriksa,
mengevaluasi, dan memecahkan masalah dengan mengandalkan penalaran logis dan
bukti yang ada. Berpikir kritis melibatkan proses refleksi yang mendalam dan
kemampuan untuk mempertanyakan dan menguji keyakinan serta pandangan yang ada.
Dewey juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam konteks
pendidikan sebagai alat untuk membangun pemahaman yang mendalam dan analisis
yang kritis terhadap pengetahuan yang diperoleh.
7. Daniel T. Willingham
Menurut Willingham, berpikir kritis adalah kemampuan untuk memeriksa dan
mengevaluasi informasi serta argumen dengan menggunakan logika dan bukti yang ada.
Berpikir kritis melibatkan kemampuan untuk mengidentifikasi asumsi yang mendasari
suatu pernyataan, mengenali logika dari argumen yang disajikan, dan mengambil
kesimpulan yang berdasarkan pada bukti yang kuat. Berpikir kritis juga melibatkan
pemahaman terhadap pentingnya pengetahuan dasar dalam proses pengambilan
keputusan yang baik.
8. K.K. Pang
Pang mendefinisikan berpikir kritis sebagai kemampuan untuk mengenali dan
menyelesaikan masalah dengan cara yang rasional dan efektif. Berpikir kritis melibatkan
proses analisis, evaluasi, dan penarikan kesimpulan berdasarkan pada bukti yang ada.
Berpikir kritis juga melibatkan kemampuan untuk mengevaluasi argumentasi,
mengidentifikasi asumsi yang tidak didukung oleh bukti yang akurat, dan menghindari
penilaian yang terlalu dipengaruhi oleh emosi atau kecenderungan personal.
9. David A. Costanza
Menurut Costanza, berpikir kritis adalah kemampuan untuk mengenali dan
mengevaluasi argumentasi serta alasan yang digunakan untuk mendukung suatu pendapat
atau keputusan. Berpikir kritis melibatkan keterampilan dalam mengidentifikasi dan
menghindari kesalahan logika, mengenali bias dalam pemikiran, dan mengumpulkan
bukti yang relevan untuk mendukung suatu keputusan. Berpikir kritis juga melibatkan
kemampuan untuk melihat dari berbagai sudut pandang dan mengambil keputusan yang
didasarkan pada bukti yang kuat.
10. Brooke Noel Moore dan Richard Parker
Menurut Moore dan Parker, berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis,
mengevaluasi, dan memecahkan masalah dengan menggunakan penalaran logis dan
pemahaman yang mendalam terhadap suatu topik. Berpikir kritis melibatkan kemampuan
untuk mempertanyakan dan menguji keyakinan yang ada, mengidentifikasi kelemahan
dalam suatu argumen, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti yang kuat. Berpikir
kritis juga melibatkan pemahaman terhadap pentingnya merujuk kepada sumber yang
dapat dipercaya dan mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda.
11. Fatriani & Sukidjo (2018)
Kemampuan berpikir kritis diartikan sebagai suatu bentuk cara berpikir menggunakan
konsep keterampilan yaitu dengan menerapkan, menganalisis, mensintesis,
mengevaluasi, dan menggeneralisasi suatu informasi.
12. Andini et al (2022)
Berpikir kritis adalah proses naluri siswa dalam memahami masalah dengan tepat dan
menyeluruh, mengkaji dan meninjau penjelasan, serta mengembangkan cara
penyelesaian dalam belajar.
Melalui beberapa definisi para ahli, disimpulkan jika kemampuan berpikir kritis
merupakan suatu proses berpikir reflektif terhadap masalah dengan tahapan analisis yang
menyeluruh dengan mempertimbangkan bukti-bukti yang relevan dan menghasilkan suatu
kesimpulan logis dan diyakini benar.
B. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis
Menurut Robert Ennis sebagaimana dikutip oleh Kurniasih (2010a: 24), memberikan
definisi berpikir kritis terdiri atas 12 indikator yaitu:
1. merumuskan masalah;
2. menganalisis argumen;
3. menanyakan dan menjawab pertanyaan;
4. menilai kredibilitas sumber informasi;
5. melakukan observasi dan menilai laporan hasil observasi;
6. membuat deduksi dan menilai deduksi;
7. membuat induksi dan menilai induksi;
8. mengevaluasi;
9. mendefinisikan dan menilai definisi;
10. mengidentifikasi asumsi;
11. memutuskan dan melaksanakan;
12. berinteraksi dengan orang lain.
Berdasarkan 12 indikator berpikir kritis yang dirumuskan Ennis dikelompokkan
dalam lima besar aktivitas sebagai berikut:
1. Memberikan penjelasan sederhana yang berisi: memfokuskan pertanyaan, menganalisis
pertanyaan dan bertanya, serta menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau
pernyataan;
2. Membangun keterampilan dasar, yang terdiri dari mempertimbangakan apakah sumber
dapat dipercaya atau tidak dan mengamati serta mempertimbangkan suatu laporan hasil
observasi;
3. Menyimpulkan yang terdiri dari kegiatan mendeduksi atau mempertimbangkan hasil
induksi, untuk sampai pada kesimpulan;
4. Memberikan penjelasan lanjut yang terdiri dari mengidentifikasi istilah-istilah dan
definisi pertimbangan dan juga dimensi, serta mengidentifikasi asumsi;
5. Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri dari menentukan tindakan dan berinteraksi
dengan orang lain.
Indikator kemampuan berpikir kritis matematis yang digunakan pada tugas ini
disesuaikan oleh pandangan Anggraini & Wahyuni (2021) sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi relevansi, yaitu kemampuan siswa dalam menulis konsep yang
terkandung dalam masalah dan menuliskan bagian-bagian pernyataan yang
menggambarkan konsep tersebut.
2. Merumuskan masalah ke dalam model matematika, yaitu kemampuan siswa dalam
menjelaskan masalah ke dalam bahasa matematika, seperti simbol, gambar, grafik, atau
model lainnya serta mampu memberikan penjelasan pada masing-masing bahasa
matematika yang digunakan.
3. Menyimpulkan dengan menggunakan prinsip, yaitu kemampuan siswa dalam membuat
kesimpulan pada masalah matematis dengan kaidah inferensi atau kesimpulan pernyataan
yang dianggap benar.
KISI-KISI SOAL BERPIKIR KRITIS
No Indikator Berpikir Kritis Soal Uraian (C4 – Menganalisis) Alternatif Penyelesaian
1. Mengidentifikasi relevansi Pak Budi akan mengecat dinding kolam renang balok Diket. Balok p = 10 m, l = 4 m, t = 2 m
berukuran panjang 10 m, lebar 4 m, dan kedalaman 2 m Karena hanya permukaan kering yaitu dari dasar
(dinding saja, tidak termasuk dasar dan permukaan air). hingga ketinggian 1,5 m maka menggunakan t = 1,5 m
Namun, cat hanya bisa diaplikasikan pada permukaan Ditanya. Luas dinding yang akan dicat?
kering. Jika cat mulai mengelupas pada ketinggian Jawab.
1,5 m di atas dasar kolam, tentukan bidang dinding Luas yang dihitung hanya dua diiding panjang dan dua
mana yang relevan untuk dihitung luasannya! dinding lebar sedangkan untuk dasar dan permukaan
air tidak dihitung.
L=2×p×t+2×l×t
= 2 × 10 × 1,5 + 2 × 4 × 1,5
= 30 + 12
= 42 m2
Jadi luas dinding yang dicat adalah 42 m2.
2. Merumuskan masalah ke dalam model Rani membuat lampu hias dari gabungan setengah bola Diket. r = 6 cm, ttabung = 10 cm
matematika jari-jari 6 cm di atas tabung tinggi 10 cm dengan Ditanya. Volume gabungan (Volume setengah bola dan
jari-jari 6 cm. Ia ingin mengetahui berapa volume volume tabung)?
gabungan itu untuk memperkirakan banyaknya resin Jawab.
yang dibutuhkan. Susun model matematika yang tepat, 2 3 2 3
V setengah bola= π r = × 3 ,14 × 6 =452 ,16 cm3
3 3
lalu analisis setiap langkah untuk mendapatkan volume
total.
2 2
V tabung=π r t=3 ,14 × 6 ×10=1130, 4 cm3
V gabungan=V setengah bola +V tabung
V gabungan=452 ,16+ 1130, 4=1582 , 56 cm3
Jadi volume total adalah 1582,56 cm3
Sebuah tangki air berbentuk limas segiempat beraturan Diket. Limas a = 8 m, t = 6 m
dengan panjang sisi alas 8 m dan tinggi limas 6 m. Air Ditanya. Perbedaan volume
setinggi 4 m diukur dari puncak. Tentukan volume air Jawab.
dalam tangki itu. Buat model matematika dengan Limas penuh:
membandingkan dua limas tersebut (kosong dan berisi) 1 2 1 2 3
V penuh = a t= × 8 × 6=128 m
3 3
lalu analisis perbedaan volumenya.
Limas kosong atas:
2 16
Sisi alas = 8 × = m
3 3
Tinggi = 2 m
( )
2
1 2 1 16 3
V = a t= × × 6=18 , 96 m
3 3 3
Perbedaan volume:
V = 128 – 18,96 = 109,04 m3
Jadi perbedaan volumenya adalah 109,04 m3
3. Menyimpulkan dengan menggunakan Diketahui sebuah bangun ruang gabungan terdiri dari Diket. Prisma segitiga sama kaki alas = 10 cm,
prinsip prisma segitiga (alas segitiga sama kaki: alas = 10 cm, tΔ = 8 cm, tinggi prisma = 12 cm
tinggi = 8 cm; panjang prisma = 12 cm) dihubungkan Limas alas = 10 cm, tΔ = 8 cm, tinggi limas = 6 cm
dengan limas segitiga yang alasnya sama dengan salah Ditanya. Volume bangun gabungan (Volume prisma
satu alas prisma dan tinggi limas 6 cm. Berdasarkan dan limas)?
prinsip perbandingan volume dan kesetaraan alas, Jawab.
analisis dan simpulkan volume total bangun tersebut. Volume Prisma:
1
V p=L a × t p= × 10 ×8 ×12=480 cm3
2
Volume Limas:
1 1 1
V l= × L × t l = × ×10 × 8× 6=80 cm3
3 a 3 2
Volume gabungan = 480 + 80 = 560 cm3
Jadi volume total bangun tersebut adalah 560 cm3
Daftar Pustaka
Kholifah, U. H. (2018). ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS DITINJAU DARI MOTIVASI
BELAJAR SISWA KELAS VII PADA MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING BERBANTUAN
SCAFFOLDING. Semarang: UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG.
Lesmono, R. (2024, May 16). [Link] Retrieved from [Link]
berpikir-kritis-menurut-para-ahli/
Putra, W. A. (2023). KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA PADA PROBLEM BASED
LEARNING BERBANTUAN BUKU AJAR STATISTIKA. Semarang: FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG.