0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan2 halaman

Pengorbanan Seorang Ayah untuk Anak

Cerita ini menggambarkan hubungan antara seorang ayah yang pekerja keras dan anaknya yang awalnya tidak menghargai pengorbanan ayahnya. Seiring waktu, anak menyadari kesalahan dan menyesali sikapnya setelah ayahnya sakit dan meninggal. Akhirnya, anak menyadari bahwa ayahnya adalah pahlawan sejati dalam hidupnya.

Diunggah oleh

MTs Nurul Cholil 2
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan2 halaman

Pengorbanan Seorang Ayah untuk Anak

Cerita ini menggambarkan hubungan antara seorang ayah yang pekerja keras dan anaknya yang awalnya tidak menghargai pengorbanan ayahnya. Seiring waktu, anak menyadari kesalahan dan menyesali sikapnya setelah ayahnya sakit dan meninggal. Akhirnya, anak menyadari bahwa ayahnya adalah pahlawan sejati dalam hidupnya.

Diunggah oleh

MTs Nurul Cholil 2
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Ayah: Seorang pekerja keras, sederhana, dan penyayang.

Anak: Seorang anak yang awalnya kurang menghargai pengorbanan ayahnya, namun kemudian
menyesal.
Ibu: Seorang istri yang mendukung suaminya.
Setting: Sebuah rumah sederhana di pinggiran kota.

 Adegan 1:

[Ruangan makan. Ayah sedang menyiapkan sarapan. Anak sedang asyik bermain ponsel]

Anak: Yah, aku lapar nih. Ada apa aja buat sarapan?

Ayah: Ada nasi, telur dadar, dan sayur. Makan yang banyak ya, Nak. Kamu kan masih tumbuh besar.

Anak: (Dengan nada bosan ) Ah, lagi-lagi itu. Aku mau makan yang lain aja, Yah. Misalnya, ayam
goreng atau pizza.

Ayah: (Tertawa kecil) Lain kali, ya. Ayah lagi nggak ada uang banyak.

Anak: (Merengek) Tapi, Yah...

Ibu: (Datang dari dapur ) Sabar, Nak. Ayah sudah berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi kita.

Anak: (Masih cemberut) Iya, Ibu.

[Anak pergi meninggalkan meja makan]

 Adegan 2:

[Beberapa tahun kemudian. Anak sudah kuliah. Ayah terlihat lebih tua dan lelah.]

Ayah: (Sambil menyerahkan amplop pada anak) Ini uang jajanmu, Nak. Jangan boros-boros, ya.

Anak: (Menerima amplop tanpa semangat) Iya, Yah.

Ayah: Kamu kuliah sudah semester berapa?

Anak: Semester lima, Yah.

Ayah: Jangan lupa belajar yang rajin, ya. Ayah bangga sama kamu.

Anak: (Hanya mengangguk)

[Ayah terlihat sedih. Ia tahu anaknya tidak sebahagia dulu.]

 Adegan 3:

[Beberapa tahun kemudian. Ayah sakit keras. Anak berada di samping tempat tidur ayahnya.]

Anak: Yah, maafkan aku. Aku baru sadar betapa besar pengorbananmu untukku. Aku sering
mengeluh dan tidak menghargai apa yang sudah kamu berikan.

Ayah: (Lemah) Tida apa-apa, Nak. Yang penting kamu sudah sadar.
Anak: (Menangis) Aku janji akan menjadi anak yang baik.

Ayah: (Mengusap air mata anak) Ayah percaya padamu.

[Ayah meninggal dunia. Anak sangat terpukul]

 Adegan 4:

[Beberapa waktu setelah kematian ayahnya. Anak duduk sendirian di kamarnya. Ia melihat-lihat
foto-foto ayahnya]

Anak: (Bergumam) Aku sangat merindukanmu, Yah. Maafkan aku atas semua kesalahan yang telah
aku lakukan.

[Anak menangis sejadi-jadinya. Ia sadar bahwa ayahnya adalah pahlawan sejati dalam hidupnya]

Anda mungkin juga menyukai