TUGAS TUTORIAL 2
MATA KULIAH PEMBAHARUAN DALAM PEMBELAJARAN DI SD
Disusun Oleh:
Nama : Novi Usva Tun Khasanah
NIM : 857629682
Kode Kelas : PDGK4505
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UPBJJ UT PURWOKERTO
POKJAR KRAMAT – TEGAL
2025
SOAL
1. Pembelajaran berbasis budaya menjadikan budaya sebagai metode bagi siswa
untuk mentransformasikan hasil observasi mereka ke dalam bentuk dan prinsip
yang kreatif tentang alam. Pembelajaran berbasis budaya dibedakan menjadi tiga
macam, yaitu belajar tentang budaya, belajar dengan budaya, dan belajar melalui
budaya. Jabarkan perbedaan ketiganya dan berilah masing-masing contoh yang
terjadi di lingkungan di mana Anda berada, dan pendapat ahli untuk memperkuat
argumentasi Anda!
Jawaban: Pembelajaran berbasis budaya merupakan pendekatan yang
mengintegrasikan unsur budaya dalam proses belajar mengajar. Tujuannya adalah
agar siswa dapat memahami dan mengapresiasi kekayaan budaya lokal sekaligus
mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif melalui pengalaman
belajar yang kontekstual.
Tiga Jenis Pembelajaran Berbasis Budaya:
1. Belajar Tentang Budaya
Definisi:
Belajar tentang budaya berarti siswa mempelajari budaya sebagai objek
pembelajaran. Fokusnya adalah pada pengetahuan tentang nilai-nilai, adat istiadat,
kesenian, dan sejarah budaya tertentu.
Contoh di lingkungan saya:
Siswa SD mempelajari sejarah dan filosofi di balik Tari Serimpi. Mereka diajarkan
tentang asal-usul tarian ini, makna gerakannya, serta nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya seperti kelembutan dan kesopanan.
Pendapat Ahli:
Menurut Gay (2010), pembelajaran tentang budaya dapat membantu siswa
mengenali identitas budaya mereka sendiri dan orang lain, sehingga membangun
sikap toleransi dan rasa hormat antar budaya.
2. Belajar Dengan Budaya
Definisi:
Belajar dengan budaya berarti budaya digunakan sebagai media atau alat bantu
dalam pembelajaran. Budaya tidak hanya dipelajari, tetapi juga digunakan untuk
menyampaikan materi pembelajaran lainnya.
Contoh di lingkungan saya:
Dalam pelajaran matematika, guru menggunakan motif batik lokal seperti motif
parang atau kawung untuk mengajarkan konsep simetri dan geometri. Siswa
diminta mengidentifikasi pola dan garis simetri dari kain batik yang dibawa ke
kelas.
Pendapat Ahli:
Banks (2004) menyatakan bahwa penggunaan budaya dalam pembelajaran dapat
meningkatkan keterlibatan siswa karena mereka merasa pembelajaran lebih
relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari.
3. Belajar Melalui Budaya
Definisi:
Belajar melalui budaya adalah pembelajaran yang memanfaatkan praktik budaya
sebagai proses atau metode pembelajaran, bukan sekadar isi atau alat bantu. Di
sini, budaya menjadi cara berpikir, berperilaku, dan memecahkan masalah.
Contoh di lingkungan saya:
Siswa belajar kerja sama dan gotong royong melalui praktik tradisi nyadran atau
bersih-bersih makam menjelang Ramadan. Mereka dilibatkan dalam
merencanakan kegiatan, berkomunikasi antar kelompok, dan merefleksikan nilai
sosial dari kegiatan tersebut.
Pendapat Ahli:
Menurut Nieto (2010), belajar melalui budaya menjadikan pengalaman budaya
sebagai landasan dalam membentuk nilai dan keterampilan siswa dalam berpikir
kritis, menyelesaikan masalah, dan berkolaborasi.
2. Proses pembelajaran berbasis budaya yang bertujuan untuk penciptaan arti bersifat
sangat dinamis. Proses tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengemukakan berbagai rasa keingintahuannya, terlibat dalam proses analisis dan
eksplorasi yang kreatif untuk mencari jawaban, serta terlibat dalam proses
pengambilan kesimpulan yang unik. Uraikan (analisis) proses penciptaan makna
melalui proses pembelajaran berbasis budaya berdasarkan empat komponennya.
Sertakan contoh nyata yang terjadi di lingkungan di mana Anda berada, dan
pendapat ahli untuk memperkuat argumentasi Anda!
Jawaban: Proses pembelajaran berbasis budaya yang bertujuan untuk penciptaan
makna berlangsung melalui interaksi dinamis antara siswa, budaya, dan
lingkungan belajarnya. Dalam pendekatan ini, siswa tidak sekadar menerima
informasi, melainkan aktif membangun pemahaman mereka sendiri melalui
keterlibatan langsung dengan budaya.
Berikut ini adalah analisis proses penciptaan makna dalam pembelajaran berbasis
budaya berdasarkan empat komponennya, lengkap dengan contoh nyata dan
pendapat ahli:
1. Rasa Ingin Tahu (Curiosity)
Pembelajaran dimulai dari pengamatan terhadap fenomena budaya yang
memunculkan rasa penasaran pada siswa. Keingintahuan ini menjadi pemicu
utama bagi siswa untuk bertanya dan mengeksplorasi lebih lanjut.
Contoh di lingkungan saya (misalnya di Jawa Tengah):
Saat melihat tradisi wayang kulit dalam rangka perayaan Maulid Nabi, siswa
bertanya:
"Mengapa dalang menggunakan bahasa Jawa kuno?"
"Apa makna tokoh Semar dalam pewayangan?"
Pertanyaan ini mendorong siswa untuk melakukan riset dan wawancara dengan
budayawan setempat.
Pendapat Ahli:
Menurut Dewey (1938), keingintahuan merupakan awal dari proses belajar yang
bermakna karena mendorong siswa untuk berpikir aktif dan reflektif terhadap
dunia di sekitarnya.
3. Analisis dan Eksplorasi Kreatif
Siswa mulai mengumpulkan informasi, mengolah data budaya, dan
mengeksplorasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya secara kreatif. Proses ini
mencakup diskusi, eksperimen, kolaborasi, dan penggalian makna secara
mendalam.
Contoh:
Dalam proyek "Mengenal Filosofi Rumah Joglo", siswa melakukan:
• Observasi langsung ke rumah adat
• Wawancara dengan pemilik rumah
• Diskusi kelompok untuk mengidentifikasi makna simbolik seperti tinggi atap, tata
ruang, dan bahan bangunan
Siswa kemudian membuat model miniatur rumah Joglo dari bahan daur ulang
sebagai representasi pemahaman mereka.
Pendapat Ahli:
Menurut Vygotsky (1978), pembelajaran yang melibatkan eksplorasi budaya
membantu siswa membangun makna melalui interaksi sosial dan konteks nyata.
3. Pengambilan Kesimpulan yang Unik
Dari hasil eksplorasi, siswa menyusun interpretasi mereka sendiri yang bisa
berbeda antara satu dengan lainnya. Kesimpulan ini tidak hanya berdasarkan fakta,
tetapi juga mencerminkan nilai, pengalaman pribadi, dan refleksi kritis siswa.
Contoh:
Setelah memahami filosofi rumah Joglo, beberapa siswa menyimpulkan bahwa
desain tersebut mencerminkan nilai-nilai sosial masyarakat Jawa seperti hierarki
dan keharmonisan, sementara siswa lain menekankan pada kesadaran ekologis dan
keterpaduan dengan alam.
Pendapat Ahli:
Bruner (1996) menyatakan bahwa penciptaan makna dalam pembelajaran adalah
proses aktif yang bersifat individual namun dibentuk oleh budaya tempat siswa
berada.
4. Transformasi Pengetahuan Menjadi Tindakan atau Karya
Tahap akhir adalah ketika siswa mengubah pemahaman yang telah mereka bangun
menjadi tindakan nyata, seperti proyek, presentasi, pertunjukan, atau aksi sosial
yang berbasis budaya.
Contoh:
Siswa mengadakan pameran budaya dengan tema “Rumah Adat Nusantara” yang
menampilkan hasil observasi dan makna filosofis dari rumah-rumah adat di
Indonesia. Mereka membuat replika, poster edukatif, serta video dokumenter
berisi wawancara dengan tokoh budaya lokal.
Pendapat Ahli:
Freire (1970) menekankan pentingnya transformasi pengetahuan menjadi tindakan
(praxis) sebagai bentuk pembelajaran yang membebaskan dan memberdayakan
siswa.
3. Pendidikan demokrasi dan HAM merupakan bagian integral dari Pendidikan
Kewarganegaraan, yang pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan individu menjadi
warga negara yang cerdas dan baik (smart and good citizens). Pendekatan pembelajaran
yang disarankan untuk dikembangkan adalah yang berorientasi pada proses berpikir kritis
dan pemecahan masalah atau “critical thinking-oriented and problem solving-oriented
models. Untuk itu, perlu dilakukan pembelajaran dengan cara melibatkan siswa melalui
suatu “Praktik belajar”. Uraikan 5 (lima) langkah dalam melaksanakan “praktik belajar”
yang dimaksud, lengkapi uraian Anda dengan contoh nyata yang terjadi di lingkungan di
mana Anda berada, dan pendapat ahli untuk memperkuat argumentasi Anda dalam
jawaban Anda!.
Jawaban: Pendidikan demokrasi dan HAM dalam konteks Pendidikan
Kewarganegaraan bertujuan untuk menumbuhkan warga negara yang cerdas secara
intelektual dan berkarakter baik secara moral. Salah satu pendekatan yang dianjurkan
adalah “praktik belajar” yang berorientasi pada berpikir kritis dan pemecahan
masalah.
Berikut ini adalah lima langkah utama dalam melaksanakan praktik belajar tersebut,
lengkap dengan contoh nyata dan pendapat ahli:
1. Identifikasi Masalah Sosial yang Relevan
Langkah awal adalah mengajak siswa mengidentifikasi permasalahan nyata yang
berkaitan dengan demokrasi dan HAM di lingkungan sekitar mereka. Permasalahan
ini harus kontekstual agar siswa merasa terlibat langsung.
Contoh Nyata (di sekolah atau lingkungan sekitar):
Siswa menemukan bahwa di sekolah terjadi kasus perundungan (bullying) terhadap
siswa yang berasal dari latar belakang ekonomi berbeda. Mereka menyadari ini
sebagai pelanggaran terhadap nilai HAM, terutama hak untuk merasa aman.
Pendapat Ahli:
Menurut Brookfield (2012), berpikir kritis dimulai dari proses mengenali masalah
nyata dan mempertanyakan norma atau struktur sosial yang ada.
2. Pengumpulan Informasi dan Data
Siswa diajak untuk melakukan observasi, wawancara, atau studi pustaka guna
mengumpulkan data tentang masalah tersebut dari berbagai sudut pandang.
Contoh:
Siswa mewawancarai guru BK, siswa yang menjadi korban, serta melakukan survei
singkat kepada teman-teman sekelas untuk mengetahui pandangan mereka tentang
bullying.
Pendapat Ahli:
Menurut Freire (1970), pemahaman terhadap realitas sosial harus dibangun dari
interaksi langsung dengan lingkungan sekitar agar pembelajaran menjadi bermakna
dan membebaskan.
3. Analisis dan Refleksi Kritis
Setelah data terkumpul, siswa menganalisis akar masalah, nilai-nilai HAM yang
dilanggar, serta dampaknya bagi individu dan komunitas. Refleksi kritis dibutuhkan
untuk membandingkan kondisi ideal dengan kenyataan.
Contoh:
Siswa menyadari bahwa perundungan terjadi karena kurangnya pemahaman tentang
toleransi, empati, dan hak asasi manusia. Mereka membandingkan perilaku tersebut
dengan prinsip-prinsip demokrasi seperti kesetaraan dan penghormatan terhadap
perbedaan.
Pendapat Ahli:
Lipman (2003) menyatakan bahwa pembelajaran demokrasi menuntut siswa untuk
berpikir secara reflektif dan rasional agar mampu mengambil posisi etis terhadap isu-
isu publik.
4. Perumusan Solusi dan Alternatif Tindakan
Siswa kemudian ditantang untuk merancang solusi atau alternatif tindakan yang
konkret dan aplikatif, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Contoh:
Siswa merancang kampanye “Sekolah Ramah HAM” dengan membuat poster, video
edukasi, serta menyusun aturan kelas yang berlandaskan pada prinsip non-
diskriminasi dan saling menghormati.
Pendapat Ahli:
Menurut Bransford et al. (2000), pembelajaran berbasis pemecahan masalah
memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan
keterampilan sosial.
5. Implementasi dan Evaluasi Tindakan
Langkah akhir adalah pelaksanaan rencana yang telah dibuat dan melakukan evaluasi
bersama atas dampak atau perubahan yang terjadi.
Contoh:
Siswa melaksanakan kampanye anti-bullying selama satu minggu dan melakukan
refleksi kelas untuk mengevaluasi apakah terjadi perubahan sikap di kalangan siswa
terhadap teman yang berbeda latar belakang.
Pendapat Ahli:
Kolb (1984) menekankan pentingnya siklus pengalaman belajar aktif yang meliputi
tindakan, refleksi, konseptualisasi, dan eksperimen sebagai dasar pembelajaran efektif.
4. Konsep dan prinsip demokrasi seyogianya dikuasai, diterapkan, dan disosialisasikan
melalui proses pendidikan kewarganegaraan yang bersifat multidimensional
(multidimensional citizenship education). Paradigma ini berbeda dengan paradigma
Pendidikan demokrasi yang pernah ada sampai saat ini, yang didasarkan pada asumsi
normatif kepentingan politik, tujuan yang monodimensional dan atomistik, tidak ada
interaksi antarlatar pendidikan, serta pengalaman belajar yang serba terbatas, siswa
hanya digiring untuk lulus tes dan bukan untuk mampu hidup yang demokratis di
masyarakat. Jelaskan aspek yang membedakan pembelajaran demokratis yang bersifat
multidimensional dengan yang bersifat monodimensional. Sertakan contoh nyata yang
terjadi di lingkungan di mana Anda berada, dan pendapat ahli untuk memperkuat
argumentasi Anda!
Jawaban: Perbedaan antara pendidikan demokrasi yang bersifat multidimensional dan
pendidikan demokrasi yang monodimensional terletak pada cara pandang terhadap
warga negara, tujuan pendidikan, pendekatan pembelajaran, dan ruang lingkup
pengalaman belajar.
Berikut adalah penjabaran aspek-aspek yang membedakan kedua paradigma tersebut,
disertai contoh nyata dan pendapat ahli:
1. Tujuan Pendidikan
• Monodimensional:
Pendidikan diarahkan hanya untuk mengetahui konsep demokrasi secara normatif,
sekadar untuk lulus ujian. Siswa menghafal definisi tanpa mengaitkannya dengan
kehidupan nyata.
• Multidimensional:
Tujuan pendidikan adalah membentuk warga negara yang mampu berpikir kritis,
berperilaku demokratis, dan terlibat aktif dalam masyarakat. Pendidikan tidak
hanya menyasar kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik.
• Contoh Nyata:
Di sekolah saya, pembelajaran lama hanya menugaskan siswa menghafal pasal-
pasal UUD 1945. Kini, siswa diajak untuk berdiskusi tentang isu lingkungan di
sekitar sekolah, dan memilih solusi melalui voting kelas—sebuah penerapan nyata
prinsip partisipatif.
• Pendapat Ahli:
Banks (2008) menekankan bahwa pendidikan kewarganegaraan yang baik harus
membantu siswa mengembangkan identitas ganda: sebagai individu dalam
komunitas lokal dan sebagai warga dunia.
2. Ruang Lingkup Pembelajaran
• Monodimensional:
Pembelajaran demokrasi terbatas pada mata pelajaran tertentu (misalnya PPKn)
tanpa integrasi dengan mata pelajaran lain atau kehidupan nyata.
• Multidimensional:
Demokrasi diajarkan melalui pendekatan interdisipliner dan lintas konteks—baik di
kelas, dalam organisasi siswa, maupun kegiatan sosial kemasyarakatan.
• Contoh Nyata:
• Siswa belajar prinsip demokrasi melalui mata pelajaran lain:
o Di Bahasa Indonesia: menulis artikel opini tentang kebebasan berpendapat.
o Di IPS: menganalisis struktur pemerintahan daerah.
• Pendapat Ahli:
Parker (2003) menyatakan bahwa pendidikan demokrasi harus bersifat lintas-
disiplin karena nilai-nilai demokrasi menyentuh seluruh aspek kehidupan
masyarakat.
3. Pendekatan Pembelajaran
• Monodimensional:
Guru menjadi sumber utama (teacher-centered). Siswa pasif, hanya menerima
materi dan tidak diberi ruang untuk berpikir kritis atau berdialog.
• Multidimensional:
Pembelajaran bersifat aktif (student-centered), berbasis diskusi, proyek sosial,
simulasi, debat, dan praktik pengambilan keputusan bersama.
• Contoh Nyata:
Dalam pembelajaran tentang HAM, siswa diberi tugas membuat forum dialog kelas
mengenai isu diskriminasi dan menyusun solusi bersama.
• Pendapat Ahli:
Dewey (1916) menyatakan bahwa demokrasi dalam pendidikan berarti keterlibatan
aktif siswa dalam proses belajar sebagai latihan langsung dalam kehidupan
demokratis.
4. Interaksi Sosial dan Konteks Sosial
• Monodimensional:
Tidak ada keterkaitan antara pembelajaran dengan masyarakat atau lingkungan
sekitar. Pendidikan terisolasi dari realitas sosial.
• Multidimensional:
Pembelajaran terhubung dengan kehidupan nyata. Siswa terlibat dalam komunitas,
proyek masyarakat, dan kegiatan partisipatif lainnya.
• Contoh Nyata:
Siswa terlibat dalam kegiatan forum anak desa untuk membahas isu pernikahan
dini dan menyuarakan aspirasi ke pemerintah desa.
• Pendapat Ahli:
Gutmann (1999) menekankan bahwa pendidikan demokrasi harus menyediakan
ruang bagi siswa untuk mengalami langsung praktik-praktik demokrasi di
masyarakat.