See discussions, stats, and author profiles for this publication at: [Link]
net/publication/320146738
Dasar-dasar Jurnalistik Televisi: Panduan Praktis Memahami Teknik-Teknik
Reportase dan Menulis Naskah Berita untuk Media Televisi
Book · January 2015
CITATIONS READS
0 9,481
1 author:
Syaiful Halim
Universitas Mathla'ul Anwar
117 PUBLICATIONS 35 CITATIONS
SEE PROFILE
All content following this page was uploaded by Syaiful Halim on 12 April 2018.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
BAB 01: “TEROR” MEDIA TELEVISI
Media televisi memiliki keperkasaan yang luar biasa untuk menghadirkan kekinian dan
ke”realitas”an sebuah peristiwa atau pendapat. Media ini juga dapat memberikan
pengaruh yang besar bagi khalayak.
Ketika globalisasi mengikat manusia dalam lingkaran yang semakin sempit,
harus diakui bahwa televisi merupakan kebutuhan utama. Individu mana pun, dari
keluarga apa pun, dari suku apa
pun, dari daerah mana pun, dari
negara mana pun, atau dari benua
mana pun, pasti sepakat, abad ini
masih abad televisi. Abadnya
manusia menggantungkan hidupnya
kepada layar kaca. Laksana oksigen
untuk bernafas. Atau, seperti makan
dan minum untuk kebutuhan lapar
dan dahaga. Atau, seakan pakaian
untuk menutupi raga.
Contoh kasus, ketika menara kembar WTC di Amerika Serikat dihantam
pesawat yang dikendalikan oleh orang-orang yang dilabelkan media Barat sebagai
teroris, seketika dunia menyaksikan drama mengerikan sekaligus memalukan bagi
Negeri Adidaya. Seketika khalayak di penjuru dunia menyaksikan detik-detik tragedi:
1|syaiful HALIM
pesawat mendekati gedung, pesawat menabrak gedung, gedung meledak, gedung
hancur, massa panik, Presiden George Walter Bush pura-pura tenang sambil
membacakan dongeng di depan para siswa di sebuah sekolah, dan berbagai drama lain.
Rentang waktu antara peristiwa dan distribusi informasi tentang peristiwa dari media
ke khalayak bukan lagi dalam hitungan jam atau hari, tapi menit, bahkan detik. Itulah
makna aktualitas bagi media, khususnya televisi, yakni kehadiran gambar dan suara
berisikan realitas yang secepat-cepatnya.
Teknologi membuat awak media tidak perlu memboyong perlengkapan kerja
yang besar, menyita tempat, dan sulit dibawa. Dengan perlengkapan satellite news
gathering (SNG) portable yang hanya sebesar koper, para jurnalis televisi bisa langsung
mentransmisikan rushes copy, bahkan master edit, atau berupa laporan langsung (live
reporting), ke ruang kendali (control room) sebuah stasiun televisi, untuk selanjutnya
ditransmisikan dari ruang kendali utama (master control room) ke rumah-rumah.
Teknologi memungkinkan semua halangan dan hambatan terlewati, sekaligus
memungkinkan khalayak bisa menerima pesan media selekas-lekasnya, menjadikannya
referensi, membincangkannya, bahkan mengembuskan reaksi atas apa-apa yang
dipikirkannya. Pada akhirnya, jalinan globalisasi pun mengalir dengan sempurna.
“Kekuatan televisi terletak pada kemasifan, keseketikaan, dan pesona citra serta
jangkauannya yang luas. Dibandingkan media lain, televisi begitu mudah
dikonsumsi/ditonton, karena dengan hanya menekan tombol dan memilih saluran, ia
langsung bisa hadir ke dalam rumah dan dinikmati keluarga Indonesia,” tegas Idi
Subandi Ibrahim yang menghubungkan kekuatan teknologi televisi dengan
kemampuan menjangkau masyarakat di Tanah Air.1
Teknologi komunikasi mutakhir telah menciptakan apa yang disebut Emil
Dovifat sebagai “publik dunia” atau “weltoffentlichkeit”. Sejak 1964, komunikasi massa
1 Ibrahim, Idi Subandi. 2011. Kritik Budaya Komunikasi; Budaya, Media dan Gaya Hidup dalam Proses
Demokratisasi di Indonesia, Hlm. 3. Yogyakarta: Jalasutra.
2|syaiful HALIM
telah mencapai publik dunia secara langsung dan serentak. Melalui satelit komunikasi,
manusia mampu memperlihatkan satu gambar atau memperdengarkan satu suara
kepada tiga milyar manusia di seluruh dunia secara simultan. Komunikator hanya
tinggal menyambungkan alat pemancar dan jutaan orang tinggal menyetel alat
penerima.2 Catatan ini ditujukan pada konteks 1964. Lantas, bagaimana dengan situasi
sekarang?
Yang pasti, jumlah khalayak tersebut bukan lagi tiga milyar tapi telah berubah
menjadi berkali-kali lipat dari jumlah itu. Dan ini bisa menjadi pembuktian soal
ketergantungan manusia kepada televisi pada dekade sekarang.
Kembali pada uraian Peristiwa 9/11. Bahwa pada akhirnya kecepatan dan
ke”realitas”an yang diperlihatkan gambar dan suara itu pun disaksikan oleh ratusan
juta penonton di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, sekaligus menanamkan sebuah
image terorisme dengan segala efek kerusakan, kepanikan, dan ketegangan yang
ditimbulkannya. “Globaliasi media telah menjadikan berbagai aksi teror tersebut
sebagai sebuah tontonan global (global spectacle), yang membentuk pikiran, persepsi,
dan kesadaran global,” jelas Yasraf Amir Piliang, untuk mendefinisikan pemahaman
tentang keluarbiasaan “teror” yang diembuskan media.3
Dengan kata lain, teror itu pun ditransmisikan oleh media-media Barat ke
televisi-televisi di Tanah Air, sekaligus menghujamkan mimpi buruk Amerika Serikat
tentang terorisme dan ketakutan-ketakutan yang ditimbulkannya. Pemerintah dan
masyarakat di negeri ini pun diwajibkan mewaspadai gerakan para terduga teroris
yang sangat laten, serta mencurigai setiap gerakannya yang dikhawatirkan telah
sampai ke kota-kota lain. Para petugas keamanan di pusat-pusat keramaian
menyiapkan perangkat dan aparat khusus guna mengenduskan ketakutan-ketakutan
2 Rakhmat, Jalaluddin. 2005, Psikologi Komunikasi, Hlm. 186. Bandung: Remaja Rosdakarya.
3 Piliang, Yasraf Amir. 2010. Post-Realitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Post-Metafisika, Hlm 129.
Yogyakarta: Jalasutra.
3|syaiful HALIM
itu. Akhirnya, setiap dari kita yang berada jauh dari lokasi kejadian yang di Amerika
Serikat sana juga menjadi ikut ketakutan dan mencemaskan kehadiran teroris.
Kecurigaan terhadap kalangan tertentu yang dicurigai bertipikal terduga teroris
menjadi kian tak terhindarkan. Media televisi di Tanah Air kita tak kalah paranoid dan
noraknya dalam mengendus gerak-gerik pihak-pihak yang dicurigai teroris (yang
sesungguhnya merupakan framing atau pembingkaian terhadap peristiwa oleh media
Barat). Ini ditunjukkan dalam rupa pelaporan berita atau pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan news presenter media tersebut ke narasumber di sejumlah program berita, baik
yang diproduksi secara rekaman (taping) maupun yang diproduksi secara siaran
langsung (live).
Dalam bentuk berbeda, saya menyederhanakan pemahaman tersebut dalam
bentuk Model Post-Teror Melalui Televisi—perhatikan Gambar 1.4
Gambar 1: Model Post-Teror Melalui Media
Pembacaan atas model tersebut adalah realitas teror (1) menimbulkan efek
kerusakan, kepanikan, dan ketegangan bagi warga di lokasi kejadian yang disebut teror
(2). Realitas teror tersebut dikonstruksi dan didistribusikan media (3) dalam berbagai
4 Budianto, Heri (ed). 2011. Media dan Komunikasi Politik, Hlm. 181. Jakarta: Puskombis UMB Jakarta dan
Aspikom. Model ini merupakan uraian dalam makalah berjudul Akuntabilitas Politisi di Layar Kaca
yang saya tulis untuk buku tersebut.
4|syaiful HALIM
rupa teks (4), termasuk oleh media televisi dengan kekuatan gambar dan suara, ke
hadapan khalayak (5). Globalisasi media televisi menghantarkan juga efek kerusakan,
kepanikan, dan ketegangan dari warga di lokasi kejadian ke kamar-kamar di rumah
khalayak di belahan mana pun sebagai post-teror (6), atau teror susulan dengan dampak
yang lebih hebat dibandingkan teror di lokasi kejadian. Situasi ini sangat
memungkinkan terjadi berkat dukungan media sebagai saluran “resmi” peristiwa teror
tersebut.
“Era simulasi atau simulacrum,” ejek filsuf Prancis Jean Baudrillard—mengadopsi
istilah yang dikemukakan oleh Plato ratusan tahun yang silam tentang hubungan yang
nyata (the real) dan yang tiruan (the copy).5 Sindiran Baudrillard ini senantiasa dipakai
oleh kalangan ilmuwan teori kritis sebagai representasi atas terjadinya peniruan suatu
realitas dalam rupa baru atas realitas lain. Khusus tentang post-teror, lebih gamblang
lagi Baudrillard
menegaskan dalam The
Transparency of Evil:
Essays on Exreme
Phenomena (1993: 75):
kekerasan masa kini,
kekerasan yang
dihasilkan oleh hiper-
modernitas kita, adalah
teror. “Simulacrum
kekerasan, yang muncul dari balik layar ketimbang dari lubuk hasrat: kekerasan di
dalam jagat raya citraan,” katanya.6
Cerita keluarbiasan media televisi dengan daya sebar dan pengaruhnya yang tak
5 Cavallaro, Dani. 2004. Critical and Cultural Theory: Teori Kritis dan Teori Budaya, Hlm. 365. Yogyakarta:
Penerbit Niagara. Cetak miring berdasarkan naskah asli.
6 Piliang, Yasraf Amir. [Link]. Cetak miring berdasarkan naskah asli.
5|syaiful HALIM
terkira menjadi cerita menggiurkan bagi para pengelola stasiun televisi di Tanah Air.
Siaran langsung (live) ala tragedi serangan ke WTC pada 11 September itu juga
dirayakan dengan suka cita dalam rupa: bentrokan Satpol Pamong Praja dan warga
yang mengawal makam Mbah Priok di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang
sangat berdarah-darah; eksekusi penyergapan tim Densus 88 terhadap para terduga
teroris, lengkap dengan adegan baku tembak dan laporan para reporter yang
cenderung sok tahu; hingga bentrokan massa penolak kenaikan harga BBM dan polisi
di depan Gedung MPR/DPR di kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Menjadi luar biasa
karena khalayak mendapatkan sajian realitas terpanas dan tanpa sensor itu secara
langsung dan dalam durasi yang tidak pendek. Kemampuan jurnalis yang handal
dalam menyeleksi dan menghadirkan framing berita menjadi tergusur berkat
ke”realitas”an gambar. Dalam bagian ini, kita pun jadi harus memaklumi betapa
informasi yang justru melanggengkan mitos bahwa “televisi merupakan tontonan”
makin mengabaikan segmentasi khalayak dan dampak psikologis yang bisa terjadi
pada khalayak anak-anak.
Teror media televisi itu bisa bekerja dan mengembangbiakkan segala efek
kerusakannya karena warga Desa Global sangat menyadari, media televisi bukan
hanya dianggap bisa memasok pengetahuan dan wawasan tapi media tersebut telah
dijadikan “belahan jiwa” dan sandaran hidup untuk memutuskan perilaku dan sikap
sosialnya. Warga Desa Global juga sangat meyakini bahwa “otak” manusia memang
sangat membutuhkan pasokan “energi” yang memadai, untuk menjaga kebugaran
seluruh kehidupannya. Bertahan hidup dengan mengandalkan makanan, minuman,
pakaian, dan papan semata, harus diyakini, telah menjadi rumusan hidup nan kuno
dan sudah harus dibungkus rapih di dalam lemari. Hidup yang sebenarnya hidup
adalah ketika manusia memasukkan unsur ketergantungan kepada produk teknologi
yang diimpor secara besar-besaran dari negara-negara maju bernama televisi.
Karena itu, sejak kelopak mata terbuka dan indera lain terbangun dari tidur,
6|syaiful HALIM
segera saja alam sadar individu-individu itu meraih media yang menghidangkan
beragam pesan dan simbol-simbol komunikasi. Asas kebutuhan akan media itulah
yang membuat para pengelola media, khususnya stasiun televisi, senantiasa memacu
ide-idenya untuk menyuguhkan berjuta-juta program teranyar. Baik dalam bentuk
program berita maupun program hiburan. Atau juga, program berwajah perkawinan
berita dan hiburan yang dikenal sebagai infotainment (information and entertainment).
Bagi kebanyakan warga Desa Global, prioritas agenda setting pribadi pun menjadi
semakin tidak jelas: kadang haus berita-berita politik, kadang “menghirup” berita-
berita gosip yang bertaburkan kehidupan pribadi kalangan selebritas, dan kerap
melahap sinetron-sinetron kejar tayang atau acara-acara reality show kacangan yang
dipenuhi drama-drama rekayasa. Di kepala pemirsa terpampang jelas berbagai
program favorit: sinema, sinetron, talk show, reality show, variety show, berita,
infotainment, dokumenter, dan sebagainya. Nama-nama aktris atau aktor asing dan
dalam negeri, selebritas atau politisi bermasalah, tokoh masyarakat berkasus, dan sejuta
nama lain pun, termasuk reporter atau host di berbagai program-program itu, hinggap
di kepala, lengkap dengan tema-tema yang dibahas.
Lebih jauh lagi, warga Desa Global juga menjadikan media televisi sebagai
tuntunan laksana kitab suci, dengan para “pemuka agama” yang rajin berkhotbah di
dalamnya—bergeser dari mitos bahwa “televisi merupakan tontonan”. Ditegaskan
McLuhan, media bagaikan perpanjangan dari sistem indera, organ, dan syaraf kita,
yang selanjutnya menjadikan dunia terasa menyempit. “Lebih daripada itu, kekuatan
media massa telah menjelma menjadi bagaikan ‘agama’ dan ‘tuhan’ sekuler, dalam
artian perilaku orang tidak lagi ditentukan oleh agama-agama tradisional, tetapi tanpa
kita sadari telah diatur oleh media massa, seperti program televisi,” tegasnya.7
Dengan demikian bisa disimpulkan, realitas sosial yang berkembang pesat
7 Ibid, Hlm 87.
7|syaiful HALIM
seperti sekarang ini sangat memungkinkan media memiliki peran paling besar. Media
televisi bukan hanya saluran yang menyebarkan informasi ke seluruh bagian Bumi
tetapi juga merupakan perantara untuk menyusun agenda dan memberitahukan hal-
hal penting bagi manusia, hingga selanjutnya menjadi saluran interaksi bagi seluruh
kegiatan komunikasi. Asumsi kebutuhan vital itu juga yang menjadi modal dasar para
pengelola media saat memulai kegiatan jurnalistik di lingkungan stasiun televisi
(sebagai lembaga pers). Dan pengelola media senantiasa menyampaikan perspektif itu
berulang-ulang di berbagai kesempatan, agar seluruh awak di media itu merancang
dan memproduksi pesan-pesan seperti yang diinginkan oleh pemirsa. Media ada
karena dibutuhkan oleh khalayak. Yang paling penting, sajikan saja apa-apa yang
diinginkan oleh khalayak karena khalayak akan tetap melahapnya. Asumsi ”keinginan
pemirsa” dan ”yang dibutuhkan oleh khalayak” adalah penyamaran atas ”ideologi”
pengelola media, yang sesungguhnya merupakan kepanjangan dari pemilik media.
Dalam konteks tersebut, asumsi McLuhan bahwa yang penting bagi komunikasi
massa adalah media itu sendiri,8 sangat bisa diterima. Pesan media identik dengan
media yang menayangkannya. Tiba-tiba pemirsa menjadi seperti pesakitan yang siap
menerima suntikan apa pun ke dalam tubuhnya, asal ia bisa tetap sehat. Kebenaran
teori hipodermik atau teori stimuli-respons terbukti masih relevan di abad ini.
Asumsinya, khayalak tidak pernah mempersoalkan nilai-nilai luhur pesan media.
Situasi ini sangat memungkinkan seiring dengan melonjaknya perubahan gaya hidup
ke arah yang lebih modernis, bahkan hedonisme.
Perkembangan Media Televisi di Tanah Air
Gejala ketergantungan khalayak di Tanah Air terhadap televisi bukan hanya
terjadi pada masa sekarang. Ketika TVRI mengudara untuk kali pertama pada 1962,
8 Littlejohn, Stephen W. dan Foss, Karen A. 2009. Teori Komunikasi: Theories of Human Communication,
Hlm. 405. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.
8|syaiful HALIM
masyarakat di Tanah Air sudah langsung kepincut dan jatuh cinta kepada teknologi
termutakhir pada saat itu, televisi. Namun, sekadar kepincut dan jatuh cinta memang
belum cukup memadai untuk memiliki kedekatan dengan “keajaiban“ televisi karena
hal itu membutuhkan modal yang tidak kecil untuk merentangkan kebersamaan
dengan produk teknologi tersebut. Hanya kalangan masyarakat tertentu (yang
memiliki uang lebih) yang berkesempatan dekat dengan televisi. Artinya, bagi yang
mampu, ya mereka sudah bisa menjadi bagian dari rutinitas yang dihidangkan media
televisi, sedangkan bagi kalangan masyarakat yang masih berjuang untuk urusan perut
dan pakaian, ya mohon maaf, masih harus bersabar menunggu kesempatan. Yang pasti,
keinginan untuk “bergantung” terhadap rutinitas televisi itu telah ada.
Sampai mendekati tahun 70-an, sebagian besar masyarakat di Tanah Air belum
benar-benar akrab dengan acara-acara televisi. Perlu “perjuangan khusus” bagi mereka
yang sudah tergila-gila pada acara-acara TVRI, satu-satunya stasiun televisi yang
mengudara pada waktu itu. Dalam artian, ia mesti rajin berkunjung ke para tetangga
yang telah memiliki pesawat televisi. Namun, ketika harga pesawat televisi menjadi
lebih murah, masyarakat pun dengan suka cita menghadirkan produk teknologi itu
dalam ruang-ruang rumahnya. Gegap-gempita kepemilikan pesawat televisi, bahkan
hingga setiap rumah memiliki lebih dari satu pesawat televisi, mempercepat pula alur
ikatan kuat antara khalayak di Tanah Air dan program televisi.
“Pada 1970-an, siaran TVRI terutama terbatas pada Pulau Jawa, yang didiami
sekitar 62% penduduk Indonesia. Pada 1974, 90,81% pesawat televisi yang terdaftar,
ada di Jawa. Separuhnya terdaftar di Jakarta. Peluncuran satelit Palapa pada 1976
membawa masuk pulau-pulau lain yang didiami sekitar 38% penduduk Indonesia ke
9|syaiful HALIM
dalam jangkauan TVRI,” jelas Philip Ketley tentang pekembangan pertelevisian di
Tanah Air.9
Setelah televisi swasta mengudara, terutama setelah memperoleh frekuensi
untuk bersiaran secara nasional, kesempatan khalayak untuk menyandarkan seluruh
“energi”nya kepada pesawat televisi pun kian menjadi-jadi. Fenomena ketergantungan
itu kian tak terbendung ketika stasiun-stasiun televisi swasta nasional dan stasiun-
stasiun televisi swasta lokal memperoleh izin siaran, serta bertarung secara terbuka
untuk memperebutkan rating dan share. Beragam isi media dengan kemasan yang
menggoda, bahkan dibumbui aroma mimetisme (saling meniru satu sama lain), semakin
semarak dan memaksa khalayak untuk berlama-lama di hadapan pesawat televisi
seraya memainkan remote control-nya. Meski, dengan sebuah fakta yang tak bisa
diabakan, keseragaman isi media (sekaligus keseragaman pemilik stasiun televisi)
benar-benar terjadi.
Sekadar Catatan
Menutup seluruh penjelasan di atas, saya merangkumnya dalam bentuk Model
Konstruksi “Teror” Media Televisi—perhatikan Gambar 2.
9 Kitley, Philip.2000. Konstruksi Budaya Bangsa di Layar Kaca, Hlm. 50. Jakarta: Institut Studi Arus
Informasi.
10 | s y a i f u l H A L I M
Gambar 2: Model Konstruksi “Teror” Media Televisi
Yang ingin saya tekankan dari seluruh pembahasan di atas adalah, pertama,
media televisi memiliki keperkasaan yang luar biasa untuk menghadirkan kekinian dan
ke”realitas”an sebuah peristiwa atau pendapat hingga memberikan pengaruh yang
besar bagi khalayak saat mengambil keputusan atau referensi. Kuasa media televisi
menjadi persoalan ketika kekuatan konglomerasi yang menjadi invicible-hand di
belakangnya ikut bermain seraya menancapkan hegemoninya, bahkan tanpa
menimbang keluhuran nilai-nilai metafora media—materi ini akan dibahas dalam bab
selanjutnya.
Kedua, para jurnalis televisi yang akan menjadi subjek utama dalam pembahasan
buku ini juga memiliki peranan besar dalam mengonstruksi realitas dan memperkokoh
keperkasaan media televisi. “Kuasa” jurnalis televisi, atas nama profesionalisme,
sesungguhnya bukan hanya berkaitan dengan persoalan kemampuan dan keterampilan
yang multy-talented dan multy-tasking, tapi juga menyinggung persoalan soft-skill dan
kewajiban untuk mengamalkan nilai-nilai etika komunikasi dan kode etik jurnalistik—
materi-materi ini akan dibahas dalam bab-bab selanjutnya.
Ketiga, media televisi melalui tangan-tangan jurnalis televisi-nya memiliki kuasa
penuh untuk mengonstruksi realitas menjadi sebuah “teror” berupa program berita,
yang ditransmisikan dari ruang kendali ke rumah-rumah khalayak hingga membentuk
11 | s y a i f u l H A L I M
pemahaman tentang teror dan postteror—perhatikan kembali perbedaan teror dan
postteror. Seperti telah diuraikan di atas, postteror merupakan kontruksi realitas teror
hasil konstruksi media televisi dan jurnalis televisi yang menjadi teror baru yang
diberikan kepada khalayak. Sedangkan teror adalah teror dalam pengertian yang
sebenarnya yang membangun ketakutan dan kengerian bagi masyarakat. Maka bisa
dipastikan, postteror merupakan virus-virus atau ekstasi komunikasi seperti yang
dimaksudkan Jean Baudrillard.
Di sisi lain, seperti juga masyarakat dunia yang dirasuki virus-virus atau ekstasi
komunikasi, sekarang ini sebagian besar dari masyarakat di Tanah Air telah menjadi
bagian dari keluarbiasaan media televisi. Program-program televisi telah lama menjadi
bagian dari kehidupan kita, sejak masa kanak-kanak kita sampai sekarang. Bahkan,
tanpa kita timbang-timbang lagi kuasa hegemoni yang bergerak secara laten di balik
sebuah industri televisi.[]
12 | s y a i f u l H A L I M
View publication stats