BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cedera kepala merupakan cedera mekanik yang secara langsung
atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka kulit
kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput tengkorak, robekan
selaput otak dan kerusakan jaringan otak itu sendiri serta
mengakibatkan gangguan neorologis. Cedera kepala bisa menyebabkan
otak mengalami benturan dengan tulang kepala bagian dalam yang
memicu terjadinya perdarahan, memar jaringan, hingga terjadinya
kerusakan pada serabut saraf (Ichwanuddin & Nashirah, 2022).
Cedera kepala mengakibatkan perubahan fisik maupun psikologis.
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian utama dikalangan
usia produktif khususnya dinegara berkembang. Penyebab kematian paling
umum di seluruh dunia ialah kematian akibat trauma kepala. Penentuan
diagnosis dini sangat penting dalam menentukan strategi penatalaksanaan
yang tepat pada pasien trauma kepala (Ichwanuddin & Nashirah, 2022;
Mulyono, 2021; Utami et al., 2021).
Menurut Brain Injury Association of America, cedera kepala
adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun
degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar,
yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana
menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik. Terlepas
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
1
2
dari mekanisme cedera kepala, pasien diklasifikasikan secara klinis sesuai
dengan tingkat kesadaran dan distribusi anatomi luka. Kondisi klinis dan
tingkat kesadaran setelah cedera kepala dinilai menggunakan Glasgow
Coma Scale (GCS), merupakan skala universal untuk mengelompokkan
cedera kepala dan faktor patologis yang menyebabkan penurunan
kesadaran. Berdasarkan nilai GCS, maka penderita cedera kepala dengan
nilai GCS <9 dikategorikan cedera kepala berat, GCS 9- 13 dikategorikan
cedera kepala sedang, dan penderita dengan nilai GCS 14 - 15 sebagai
cedera kepala ringan (Ichwanuddin & Nashirah, 2022).
Cedera kepala merupakan keadaan darurat yang memerlukan
penanganan cepat dan tepat untuk mencegah tingginya morbiditas dan
mortalitas penyakit tersebut. Keadaan tersebut menyebabkan peningkatan
tekanan intrakranial atau intraserebral sehingga terjadi penekanan pada
pembuluh darah otak sehingga menyebabkan penurunan aliran darah otak
dan berujung pada kematian sel. Hal ini juga dapat menyebabkan risiko
komplikasi neurologis yang parah sehingga memperburuk prognosis
pasien (Putri et al., 2023).
Menurut laporan World Health Organization (WHO) setiap
tahunnya sekitar 1,2 juta orang meninggal dengan diagnosis cedera kepala
berat yaitu akibat kecelakaan lalu lintas (KLL) (Siahaya et al., 2020).
Tercatat sepanjang periode Januari 2022 hingga 13 September 2022 , dari
laporan pihak Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia
(Korlantas Polri), tercatat 94.617 kasus laka lantas di wilayah Republik
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
3
Indonesia. Angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia meningkat pada
tahun 2023. Sepanjang tahun 2023 tercatat sebanyak 116.000 kasus.
Jumlah ini meningkat 6,8% dibandingkan tahun lalu (Kementrian
Perhubungan Republik Indonesia, 2023). Angka kecelakaan lalu lintas
khususnya di kepulauan riau tercatat sebanyak 1.147 kasus sepanjang
2023, ini menunjukkan peningkatan sebeasar 13% dari tahun sebelumnya
(Polri, 2023). Jumlah kecelakaan lalu lintas pada bulan oktober 2023 di
kota batam tercatat sebanyak 629 kecelakaan (Batam, 2023).
Prevalensi pasien dengan trauma kepala di dunia masih cukup
tinggi. Berdasarkan data berbasis populasi, kejadian trauma kepala di
dunia sekitar 811–979 per 100 ribu orang per tahun. Sedangkan jumlah
pasien trauma kepala yang datang ke rumah sakit sekitar 475-643 per 100
ribu orang per tahun. Diperkirakan sekitar 50-60 juta kasus baru trauma
kepala di seluruh dunia. Persentase kematian akibat trauma kepala 30-40
% dari total kematian akibat trauma (Mulyono, 2021). Angka kejadian
cedera kepala di Indonesia sebesar 11,9%. Cedera kepala berada di
peringkat ketiga, diikuti oleh cedera ekstremitas bawah dan atas masing-
masing sebesar yaitu 67,9% dan 32,7 %. Cedera kepala di Kepulauan Riau
tercatat oleh Riskesdar 2018 sebanyak 1008 orang dan kota batam
memiliki angka tertinggi diantara kota lainnya di Kepulauan Riau, yaitu
dengan angka kejadian sebanyak 573 orang. Tercatat angka kejadian
cedera kepala yang dilakukan tindakan craniotomy di IBS RSUD Embung
Fatimah Kota Batam pada bulan januari hingga bulan desember tahun
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
4
2023 adalah sebanyak 36 kasus (Riset Kesehatan Dasar, 2018, Izzah et al.,
2023).
Salah satu bentuk cedera kepala traumatik adalah Epidural
Haemorrhage (EDH) (Huda & Laksono, 2021). Epidural haemorrhage
(EDH) atau perdarahan epidural adalah perdarahan yang terjadi diantara
tengkorak dan selaput otak tebal (meninges) sehingga menyebabkan
pecahnya pembuluh darah arteri yang paling umum, arteri meningeal
media, dan dapat terjadi dengan atau tanpa patah tulang tengkorak. Darah
masuk di antara tengkorak dan meninges dan ketika banyak darah
terkumpul, tekanan diberikan pada otak dan muncul gejala klinis seperti
sakit kepala, kehilangan kesadaran secara bertahap, dimulai dengan letargi,
stupor hingga koma (Putri et al., 2023).
Hematoma Epidural atau Epidural Haemorrhage (EDH) adalah
kondisi medis di mana terjadi penumpukan darah di antara tengkorak dan
selubung luar otak, yang disebut dura mater. Kondisi ini juga dikenal
sebagai hematoma ekstradural atau perdarahan epidural. Perdarahan
epidural merupakan perdarahan yang terletak antara duramater dan tulang
tengkorak, sering terjadi sebagai akibat kerusakan dari tengkorak itu
sendiri. Hematoma epidural adalah masalah kesehatan intrakranial umum
yang muncul setelah cedera otak traumatis dan sering kali terkait dengan
patah tulang tengkorak hingga mencapai 85% (Tamburrelli et al., 2018).
Perdarahan yang terjadi biasanya berasal dari arteri sehingga keadaan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
5
neurologi dapat dengan cepat memburuk (Adriman et al., 2015; Putri et
al., 2023).
Penatalaksanaan awal yang dapat dilakukan adalah dengan menilai
tingkat kesadaran pasien dengan GCS, resusitasi serta pemeriksaan CT-
Scan untuk dapat mengetahui letak serta volume perdarahan (Husnia,
2020). Penatalaksanaan pilihan utama pada kasus EDH adalah dengan
melakukan laminektomi dekompresi dan evaluasi hematoma
menggunakan tindakan kraniotomi (Hendellyn, Yuliani, Mahadewa,
2020). Penatalaksaan harus dilakukan dengan cepat kurang dari 6 jam
setelah kejadian agar meminimalisasi adanya cedera otak sekunder dan
iskemik otak (Kinanti & Siwi, 2022).
Kraniotomi akan dilakukan jika terjadi perdarahan akut. Tindakan
ini adalah tindakan pembedahan yang dilakukan oleh dokter spesialis ahli
syaraf dengan membuka tulang tengkorak. Hal ini bertujuan untuk
memberikan akses langsung ke otak (Tanriono et al, 2017). Tindakan
kraniotomi menimbulkan komplikasi seperti adanya peningkatan tekanan
intrakranial (TIK), subdural efusi, hidrosefalus, adanya perdarahan hingga
terjadi syok hipovolemik, nyeri, infeksi, kejang hingga dapat
menimbulkan kematian (Failero et al, 2017).
Masalah yang sering terjadi pada pasien neurologis adalah
Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK). Studi oleh Juelsgaard et al.,
(2018) di Helicopter Emergency Medical Service (HEMS) Denmark,
menyatakan bahwa dari total 211 pasien yang dirawat dengan patologi
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
6
intrakranial non traumatik dan traumatic brain injury (TBI) 74%
diantaranya mengalami peningkatan TIK (Juril et al., 2021).
Beberapa obat-obat anestetik dan analgesik mempengaruhi otak,
yang dalam keadaan tertentu justru berbahaya untuk otak sendiri. Pada
cedera kepala, cedera terhadap otak disebabkan oleh trauma mekanik awal
dengan akibat fraktur tulang kepala, kontusi otak, serta cedera vaskuler
dan parenkim hingga menyebabkan perdarahan intrakranial dan
peningkatan tekanan intrakranial (TIK).
Proses inflamasi serta edema akan memperparah peningkatan TIK
dan akhirnya menurunkan tekanan perfusi otak (TPO). Meskipun derajat
berat cedera primer merupakan faktor utama penentu luaran pasien dengan
cedera kepala, namun cedera sekunder terhadap jaringan otak akibat
gangguan fisiologi otak akan lebih memperburuk luaran pasien. Karena
itu, anestesi untuk pasien cedera kepala harus melibatkan pencegahan
cedera sekunder (Aulyan Syah et al., 2017).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Wibowo & Harahap pada
tahun 2020, terapi hiperventilasi bermanfaat untuk mengontrol
peningkatan TIK dalam jangka yang pendek. Pemantauan multimodalitas
diperlukan agar terapi hiperventilasi dapat digunakan secara aman pada
pasien tertentu yang mungkin memerlukan terapi ini. Hiperventilasi
sebaiknya digunakan secara bijaksana untuk kontrol TIK jangka pendek
dan untuk fasilitasi paparan pembedahan selama kraniotomi (Aulyan Syah
et al., 2017).
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
7
Hiperventilasi menghasilkan suatu keadaan hipokapnia dan
selanjutnya terjadilah vasokontriksi serebral. Pada keadaan autoregulasi
yang masih utuh , CBF berhubungan secara linear dengan PaCO2 antara
20-70 mmHg. Sensivitas pembuluh darah serebral terhadap CO2
dihilangkan atau digagalkan oleh adanya cedera kepala atau adanya
berbagai kondisi patologik intraserebral, juga melalui inspirasi konsentrasi
tinggi anestesi inhalasi, atau pembuluh darah tersebut sebelumnya sudah
dilatasi karena pengaruh N2O. Untuk mencapai PaCO2 antara 30-35
mmHg analisa gas darah arterial adalah lebih tinggi dari endtidal (etco2)
dan harus digunakan sebagai variabel kontrol karena kemungkinan
besarnya gradient CO2 arteioalveolar pada pasien bedah saraf. Efektivitas
hiperventilasi (PaCO2 antara 25-29 mmhg) untuk mengendalikan otak
yang menonjol pada pasien yang sebelumnya mendapatkan agen inhalasi
ataupun propofol. Dilakukan hiperventilasi ringan.
Terapi peningkatan tekanan intrakranial pada cedera otak traumatik
berat dapat dilakukan dengan first-tier terapi, dan second-tier terapi.
Second-tier therapy adalah dengan melakukan hiperventilasi untuk men-
capai PaCO2 < 30 mmHg, akan tetapi untuk menurunkan PaCO2 sampai
level ini diperlukan pemantauan SJO2, AVDO2 dan atau pemantauan
aliran darah otak karena rendahnya PaCO2 dapat menimbulkan
vasokonstriksi serebral.
Berdasarkan uraian diatas, dan berdasarkan penelitian sebelumnya
bahwa untuk mengontrol TIK adalah dengan penerapan hiperventilasi,
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
8
maka peneliti tertarik untuk membuat tugas akhir neuroanestesi dengan
judul “Pelaksanaan Hiperventilasi pada Pasien dengan Tindakan
Kraniotomi di IBS RSUD Embung Fatimah Kota Batam”.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini yaitu mampu menerapkan hiperventilasi
pada pasien dengan tindakan kraniotomi di Instalasi Bedah Sentral
(IBS) RSUD Embung Fatimah Kota Batam.
2. Tujuan Khusus
a. Menerapkan hasil pengkajian keperawatan anestesiologi pada
pasien dengan diagnosa medis epidural hematoma yang akan
dilakukan tindakan craniotomy
b. Menerapkan rumusan diagnosa keperawatan anestesiologi pada
pasien dengan diagnosa medis epidural hematoma yang akan
dilakukan tindakan craniotomy
c. Menerapkan intervensi keperawatan anestesiologi pada pasien
dengan diagnosa medis epidural hematoma yang akan dilakukan
tindakan craniotomy
d. Menerapkan implementasi keperawatan anestesiologi pada pasien
dengan diagnosa medis epidural hematoma yang akan dilakukan
tindakan craniotomy
e. Menerapkan evaluasi hasil keperawatan anestesiologi pada pasien
dengan diagnosa medis epidural hematoma yang akan dilakukan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
9
tindakan craniotomy.
f. Menerapkan analisis pengaruh pemberian hiperventilasi pada
kasus epidural hematoma.
C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Menambah pengetahuan ilmu keperawatan anestesiologi
khususnya tentang penerapan hiperventilasi pada pasien dengan
tindakan kraniotomi.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Penata Anestesi
Dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan sumber informasi
bagi penata anestesi untuk mencegah terjadinya peningkatan
tekanan intra kranial (TIK) khususnya pada tindakan kraniotomi.
b. Bagi Civitas Akademika
Diharapkan bisa menjadi informasi tambahan bagaimana
penerapan hiperventilasi pada pasien dengan tindakan kraniotomi.
c. Bagi institusi pendidikan
Sebagai bahan bacaan dan menambah wawasan pengetahuan
bagi mahasiswa Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi
Poltekes Kemenkes Yogyakarta tentang penerapan hiperventilasi
terhadap pasien dengan tindakan kraniotomi.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta