15
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengembangan Media Pembelajaran
1. Pengertian Media Pembelajaran
Pengembangan adalah suatu proses yang dipakai untuk mengembangkan
atau memvalidasi produk pendidikan baik berupa proses, produk, dan rancangan.
Jadi pengembangan bisa diartikan sebagai suatu inovasi atau perubahan berupa
mengembangkan suatu produk. Sedangkan istilah media berasal dari bahasa latin
yaitu medius yang berarti tengah, perantara atau pengantar. Menurut Hamidjojo
yang dimaksud media adalah sebuah bentuk media pembelajaran yang dapat
menjadi pelantar dari berbagai penyeber berbagai ide, sehingga ide tersebut
dapat di terima dengan baik oleh penerima.16
Menurut Arief [Link] media pembelajaran adalah segala sesuatu yang
dapat menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga hal ini bisa
mendapatkan ransangan pikiran dan minat belajar peserta didik.17
Menurut National Education Association menyatakan bahwa media
pembelajaran merupakan sarana komunikasi yang dapat didengar maupun
dipandang, termasuk teknologi perangkat kelas juga merupakan salah satu dari
media pembelajaran. Isi dari media pembelajaran sendiri berupa suara, buku,
film, ataupun video.18
16
M. Miftah, “Fungsi Dan Peran Media Pembelajaran Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Belajar
Siswa,” Jurnal Kwangsan 1, no. 2 (2013): 120.
17
Sulthony, “Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif Budaya Indonesia Untuk Siswa SD
Negeri Giwangan Yogyakarta,” 1.936.
18
Fatikh Inayahtur Rahma, “Media Pembelajaran (Kajian Terhadap Langkah-Langkah Pemilihan Media
Dan Implementasinya Dalam Pembelajaran Bagi Anak Sekolah Dasar,” Jurnal Studi Islam 14, no. 2
(2019): 88–89.
16
Menurut Gagne & Briggs media pembelajaran merupakan alat fisik yang
digunakan untuk menyampaikan suatu isi materi pembelajaran, yang didalamnya
terdiri dari buku, gambar, grafik, televisi, dan komputer. Menurut Winkel media
pembelajaran merupakan suatu sarana yang dipakai oleh pendidik untuk
memegang peranan dalam proses belajar mengajar. Sedangkan menurut Rossie
& Breidle dalam Wina Sanjaya media pembelajaran adalah sebuah alat atau
bahan yang digunakan untuk mengajar, alat dan bahan ini bisa berupa radio,
televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya.19
Hal ini sesuai dengan teori Information Pick Up, teori ini digagas oleh
[Link] yang berpendapat bahwa persepsi ini bergantung sepenuhnya pada
informasi yang berada dalam rangkaian stimulus dan bukan berada pada sensasi
yang dipengaruhi oleh kognisi. Menurut Gibson, persepsi merupakan
konsekuensi langsung dari sifat lingkungan dan tidak melibatkan sebagai bentuk
pemrosesan sensoris. Teori ini dikembangkan sebagian besar untuk sistem
visual. Gibson kemudian membahas tentang implikasi teori untuk meneliti
gambar bergerak dan gambar tidak bergerak.20
Jadi dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan suatu alat
pembelajaran yang berupa bahan atau keadaan yang dapat digunakan sebagai
alat sebuah pelantara selama proses pembelajaran berlangsung.
2. Fungsi Media Pembelajaran
Peranan media dalam pembelajaran dapat menentukan efektivitas dan
pencapaian dalam tujuan pembelajaran. Menurut Mckom dalam bukunya yang
19
Andi Kristanto, Media Pembelajaran (Surabaya : Penerbit Bintang Surabaya, 2016), 5.
20
Herman Dwi Surjono, Multimedia Pembelajaran Interaktif (Yogyakarta : UNY Press, 2017).
17
berjudul “Audio Visual Aids To Instruction” mengemukakan empat fungsi media
pembelajaran antara lain:
a. Mengubah titik berat pendidikan formal artinya yang dulu pendidikan
bersifat abstrak berubah menjadi kongkret, yang dulu pendidikan bersifat
teoris sekarang menjadi fungsional praktis.
b. Membangkitkan motivasi belajar siswa, melalui media pembelajaran peserta
didik menjadi lebih tertarik dalam mengikuti proses pembelajaran.
c. Memberikan penjelasan yang dimana pendidik nantinya memberikan
pengetahuan dan pengalaman, sehingga peserta didik lebih mengerti dan
lebih jelas melalui media pembelajaran tersebut.
d. Memberikan stimulasi belajar terutama dalam hal rasa ingin tahu. Melalui
media pembelajaran diharapkan peserta didik bisa lebih aktif dalam
pembelajaran.21
3. Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Media pembelajaran memiliki jenis-jenis media yang berbeda. Secara umum
media pembelajaran dibagi menjadi tiga kelompok yaitu, suara, visual, dan
gerak. Menurut Rudi Bretas media pebelajaran diklasifikasikan menjadi tujuh
antara lain:
a. Media audio visual gerak, seperti film suara, pita video, film, dan tv.
b. Media audio visual diam, seperti rangkaian suara.
c. Audio semi visual gerak seperti tulisan jauh bersuara.
d. Media visual bergerak, seperti film-film bisu.
e. Media visual diam, seperti halaman cetak, foto, slide bisu.
21
M. Miftah, “Fungsi Dan Peran Media Pembelajaran Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Belajar
Siswa,” 121.
18
f. Media audio seperti radio, telepon.
g. Media cetak, seperti buku, modul, dan bahan ajar.22
4. Kriteria Media Pembelajaran
Media pembelajaran yang begitu banyak tentu tidak digunakan semua oleh
pendidik, namun digunakan beberapa media pembelajaran saja. Oleh karena itu,
perlu diadakan pemilihan media pembelajaran yang tepat. Agar pemilihan media
pembelajaran bisa tepat, maka terdapat faktor-faktor dalam pemilihan media
pembelajaran. Menurut Nana Sujana dalam memilih kriteria media pembelajaran
yang tepat perlu dipertimbangkan beberapa faktor antara lain:
a. Ketepatan media dengan tujuan pengajaran.
b. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran.
c. Kemudahan memperoleh media.
d. Keterampilan guru dalam menggunakannya.
e. Tersedia waktu untuk menggunakannya.
f. Sesuai dengan taraf berfikir anak.23
B. Powerpoint Interaktif
1. Pengertian Powerpoint Interaktif
Menurut Ananda dan Nuraini media pembelajaran berbasis multimedia
interaktif merupakan media yang dapat meningkatkan motivasi dan semangat
belajar peserta didik, sehingga menimbulkan peserta didik menjadi lebih aktif.
Pada zaman yang semakin berkembang ini banyak yang menggunakan inovasi
media pembelajaran berupa powerpoint. Media interaktif powerpoint ini juga
22
Fatikh Inayahtur Rahma, “Media Pembelajaran (Kajian Terrhadap Langkah-Langkah Pemilihan
Media Dan Implementasinya Dalam Pembelajaran Bagi Anak Sekolah Dasar,” 89.
23
Muhammad Hasan et al., “Media Pembelajaran” (Klaten : Tahta Media Group, 2021), 23.
19
dibilang media yang fleksibel karena media ini bisa dibawa kemana-kemana dan
bisa digunakan kapan pun dan dimana pun.24
Menurut Atang Gunawan, microsoft powerpoint merupakan suatu program
yang bisa dibuat dan menolah data untuk bahan presentasi. Data yang dibuat
sendiri berupa grafik, teks, tabel, gambar dan lain sebagainya, dalam hal ini
powerpoint bisa digunakan oleh pendidik untuk bahan media pembelajaran
karena dapat membantu menjelaskan atau menyampaikan sesuatu yang sukit
untuk disampaikan. Dengan menggunakan powerpoint menjadikan peserta didik
tidak mudah merasa bosan selama diruang kelas. Dengan menggunakan
microsoft powerpoint ini dapat dimanfaatkan pendidik untuk menyampaikan
materi yang sulit dipahami dan dimengerti oleh peserta didik.25
Fasilitas dari microsoft powerpoint yaitu dapat digunakan untuk
memprogram model pembelajaran interaktif. Adapaun peranan dalam media
powerpoint antara lain:
a. Penggunaan media ini lebih efektik dalam mencapai tujuan pembelajaran.
b. Dapat digunakan sebagai penyaji dan penyalur pesan, dapat mewakili
pendidik dalam menyampaikan informasi secara jelas dan menarik.
c. Dapat merangsang proses pembelajaran.
d. Mencipatkan lingkungan belajar yang menarik dan tidak monoton.
e. Dapat menyajikan materi pembelajaran dengan sistematis dan logis.
Berdasarkan pemaparan diatas, media powerpoint merupakan sebuah
program aplikasi yang dapat digunakan untuk bahan presentasi maupun
24
Ragin, Magdalena, and Puspita, “Pengembangan Media Interaktif Berbasis Powerpoint dalam
Pembelajaran Bahasa Inggris Siswa Sekolah Dasar.”
25
Novia Dwi Khasanah and Siti Dewi Maharani, “Penerapan Media Powerpoint Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Pada Tema 8 Subtema 1 Daerah Tempat Tinggalku Kelas IV SD Negeri 57 Palembang,”
Journal of Education Research 5, no. 1 (2023): 37.
20
mengajar, powerpoint ini memiliki beberapa slide didalamnya. Fasilitas dari
microsoft powerpoint dapat digunakan sebagai model pembelajaran interaktif
yang bisa digunakan disekolah dasar, karena microsoft powerpoint ini dapat
dibawa dan digunakan dimana pun dan kapan pun media powerpoint ini bisa
dikatakan media yang fleksibel.
2. Kelebihan Dan Kekurangan Media Powerpoint Interaktif
Menurut Harianto menjelaskan bahwa pada hakekatnya powerpoint memiliki
kelebihan dan kekurangan yaitu:
a. Kelebihan powerpoint
1) Menyediakan jenis template yang konsisten.
2) Menyediakan operasi yang mudah untuk mengorganisasikan kesemua
elemen dalam reka bentuk, latar, warna, corak serta aturan perisian.
3) Menambah gambar atau objek ke dalam slide yang sudah tersedia.
4) Bisa menambahkan gambar animasi ke dalam slide.
b. Kekurangan powerpoint
1) Harus mempertimbangkan keperluan animasi yang digunakan, supaya
peserta didik tidak terfokus digambar animasi saja.
2) Harus mempunyai kemahiran dan pengetahuan mengenai penggunaan
kompoter.
3) Harus memperhatikan kesan penglihatan yang jelas terhadap slide yang
disediakan.26
26
Rustam Efendi Tambunan and Edim Sonurya, “Penerapan Media Powerpoint Untuk Meningkatkan
Aktivitas Dan Hasil Belajar Pengetahuan Dasar Teknik Bangunan Pada Siswa Kelas X Program Keahlian
Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Merdeka Berastagi Tahun Ajaran 2012/2013,” Jurnal Pendidikan
Teknologi Dan Kjuruan 16, no. 2 (2014): 6–7.
21
C. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Secara sederhana hasil belajar merupakan suatu kemampuan yang dimiliki
peserta didik melalui kegiatan belajar. Hasil belajar merupakan suatu akibat
yang dapat diperoleh peserta didik yang sudah melalui beberapa tahapan yang
telah ditempuh. Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh oleh
peserta didik setelah mengalami proses pembelajaran berlangsung, perubahan ini
dapat terjadi ditingkah laku dalam hal pengetahuan, pengalaman, sikap, dan
keterampilan peserta didik. Sehingga menjadikan peserta didik lebih baik dari
pada sebelumnya.27
Menurut Dimaynti dan Mudjiono, hasil belajar merupakan suatu hal yang
bisa dipandang dari 2 sisi yaitu dari sisi peserta didik dan dari sisi pendidik. Dari
sisi peserta didik hal dapat dilihat yaitu perkembangan mental yang bisa
menjadikan peserta didik lebih baik dibandingkan dengan saat sebelum belajar.28
Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan suatu penilaian akhir
yang dapat diperoleh dari proses belajar, proses belajar ini sendiri menjadikan
peserta didik mempunyai pribadi yang lebih baik dapat dilihat dari segi tingkah
laku, pengetahuan, dan sikap dari pada saat sebelum belajar.
27
Ahmadiyanto, “Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Media Pembelajaran
Ko-Ruf-Si (Kotak Huruf Edukasi) Berbasis Word Square Pada Materi Kedaulatan Rakyat Dan Sistem
Pemerintahan Di Indonesia Kelas VIIIC SMP Negeri 1 Lampihong Tahun Pelajaran 2014/2015,” Jurnal
Pendidikan Kewarganegaraan 6, no. 2 (2016): 984.
28
Sulastri, Imran, and Arif Firmansyah, “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Strategi
Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Mata Pelajaran IPS Di Kelas V SDN 2 Limbo Makmur Kecamatan
Bumi Raya,” Jurnal Kreatif Tadulako Online 3, no. 1 : 92.
22
2. Teori Hasil Belajar
Ada beberapa macam teori belajar, yaitu teori belajar kontruktivisme, teori
kognitif dan teori behaviorisme.29
a. Teori Belajar Kontruktivisme
Menurut Suprijono mengemukakan bahwa teori kontruktivisme
menekankan pada belajar auntentik, yaitu proses interaksi seseorang dengan
objek yang dipelajari secara nyata. Bukan hanya sekedar mempelajari teks,
tetapi juga menghubungkan teks itu dengan kondisi yang sebenarnya.
Selanjutnya Susanto berpendapat dengan teori kontruktivisme, siswa
berusaha untuk menemukan informasi sendiri dan menyesuaikan apakah
informasi tersebut masih sesuai atau perlu direvisi. Dari kedua pendapat
tersebut, dapat dimaknai bahwa teori belajar kontruktivisme menuntut
peserta didik menemukan sendiri pengetahuannya dan memahami informasi
yang diperoleh.
b. Teori Belajar Kognitif
Menurut Suprijono menyampaikan teori belajar kognitif menekankan
belajar sebagai proses internal. Belajar adalah aktivitas yang melibatkan
proses berpikir yang sangat kompleks untuk mencapai, mengingat dan
menggunakan pengetahuan. Selanjutnya Rifa’i menyebutkan teori belajar
kognitif memerlukan penggambaran tentang perhatian memori, elaborasi,
rehearsal (latihan), pelacakan kembali dan pembuatan informasi yang
bermakna guna mengkaji berbagai konsep tersebut, maka teori kognitif ini
menekankan pada pendekatan pengolahan informasi. Dari kedua pendapat
29
Yuberti, Teori Pembelajaran Dan Pengembangan Bahan Ajar Dalam Pendidikan (Lampung : Anugrah
Utama Raharja (AURA), (2014): 25-49.
23
tersebut dapat dimaknai bahwa teori belajar kognitif menekankan pada
kegiatan siswa untuk mengumpulkan informasi.
c. Teori Belajar Behavioristik
Menurut Suprijono berpendapat teori perilaku atau behavioristik
diartikan sebagai proses pembentukan hubungan antara rangsangan
(stimulus) dan balas (respon). Pembelajaran merupakan proses pembiasaan,
sehingga diharapkan akan terbentuk kebiasaan. Selanjutnya Rifa’i
menjelaskan belajar merupakan proses perubahan perilaku yang tampak
maupun perilaku yang tidak tampak sehingga diperoleh hasil permanen yang
sama. Hasil belajar (perubahan perilaku) tidak disebabkan oleh kemampuan
internal manusia (insight), tetapi karena faktor stimulus yang menimbulkan
respon. Dari kedua pendapat tersebut dapat dimaknai teori belajar
behavioristik menekankan perubahan perilaku manusia melalui stimulus
(rangsangan) dari luar.
Berdasarkan ketiga teori belajar di atas yaitu teori belajar kontruktivisme,
kognitif dan behaviorisme, teori kontruktivisme lebih ditekankan dalam
pengembangan media yang dilakukan peneliti. Hal tersebut dikarenakan dalam
proses pembelajaran, siswa difasilitasi guru agar dapat menemukan pengetahuannya
sendiri pada muatan IPS materi rumah adat. Dengan begitu, pembelajaran yang
diperoleh siswa menjadi bermakna karena melalui pengalaman nyata dengan
menggunakan media pembelajaran powerpoint interaktif sehingga dapat
memaksimalkan hasil belajar siswa.
24
D. Karakteristik Peserta Didik Kelas IV Sekolah Dasar
1. Karakteristik Anak SD Secara Umum
Terbagi dalam 4 karakter dasar yaitu yang pertama adalah anak
mmpunyai karakteristik senang bermain, karakteristik kedua anak senang
bergerak, karakteristik ketiga anak senang bekerja dalam kelompok, dan
karakteristik keempat anak senang merasakan atau melakukan/memperagakan
sesuatu secara langsung. Karakteristik pada umumnya pada anak usia 6-10 tahun
adalah30:
a. Adanya korelasi positif yang tinggi anatara kesehatan jasmani dan prestasi
sekolah.
b. Adanya kecenderungan untuk memuji diri sendiri.
c. Suka membanding-bandingkan diri sendiri dengan anak lain dengan
anggapan untuk meremehkan anak lain.
d. Karakteristik yang terakhir adalah kecenderungan untuk bersifat apatis
apabila tidak bisa menyelesaikan suatu hak yang dianggapnya sulit.
2. Teori Perkembangan Menurut Piaget
Dalam teori perkembangan menurut Piaget terdapat empat tahap
perkembangan anak salah satunya yang sesuai dengan penelitian ini adalah tahap
operasional konkrit. Secara rinci tahap operasional konkrit dimulai pada umur
tujuh tahun sampai sebelas tahun. Pada tahap ini akan dapat berpikir secara logis
mengenai peristiwa-peristiwa yang konkrit dan mengklasifikasikan benda-benda
ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Kemampuan untuk mengklasifikasikan
sesuatu sudah ada, tetapi belum bisa memecahkan problem-problem yang
30
Mutia, “Characteristics Of Children Age Of Basic Education,” FITRAH: International Islamic
Education Journal 3, no. 1 (2021): 118–19.
25
bersifat abstrak. Operasi konkret adalah tindakan mental yang bisa dibalikkan
yang berkaitan dengan objek konkrit nyata. Operasi konkrit membuat anak bisa
mengoordinasikan beberapa karakteristik, jadi bukan hanya fokus pada satu
kualitas objek.31
Peserta didik kelas IV SD berusia antara 9-10 tahun, berdasarkan tahap
perkembangan Piaget dan juga karakteristik secara umum perkembangan diatas
maka, peserta didik kelas IV sudah berasa dalam tahap operasional konkret,
yang mana telah mampu berpikir secara logis, fleksibel, mengorganisasikan
dalam sebuah aplikasi terhadap benda konkret namun anak belum mampu
berpikir secara abstrak. Dalam hal ini berdasarkan tahapan operasional konkrit
menurut Abdurahman “pada tahapan operasional yang dapat dipikirkan oleh
anak masih terbatas pada benda-benda konkret yang dapat dilihat dan diraba”.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang
menggunakan media konkret seperti gambar yang sesuai dengan mata pelajaran
serta penggunaan media interkatif berbasis powerpoint sangatlah cocok
diterapkan untuk anak kelas IV SD karena sesuai dengan karakteristik
perkembangan mereka.
E. Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
1. Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial
Menurut Kosasi Djahiri menyatakan bahwa IPS merupakan ilmu
pengetahuan yang bisa memadukan berbagai konsep tentang cabang ilmu sosial
sosial dan ilmu lainnya, yang dimana konsep ini nanti bisa diolah berdasarkan
prinsip-prinsip pendidikan dan didaktif yang bisa diolah menjadi program
31
Leny Marinda, “Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget Dan Problematikanya Pada Anak Usia
Sekolah Dasar,” An-Nisa’ : Jurnal Kajian Perempuan Dan Keislaman 13, no. 1 (2020): 124.
26
pengajaran ditingkat sekolah.32 Moeljono Cokrodikardjo mengungkapkan bahwa
ilmu pengetahuan sosial merupakan gabungan dari berbagai cabang ilmu sosial
yang diantarnya terdapat ilmu: sosiologi, ekonomi, geografi yang dapat
dipelajari dengan mudah.33
Dapat disimpulkan bahwa hakikat ilmu pengetahuan sosial merupakakan
suatu cabang sosial yang bisa mempelajari tentang lingkup lingkungan dan
masyarakat yang dapat berkembang dikemudian hari.
2. Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial
Terdapat empat tujuan pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial antara
lain:
a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan
lingkungan.
b. Memiliki kemampuan dasar untuk bisa berpikir logis dan kritis, rasa ingin
tahu, inkuiri, dan bisa memecahkan masakah serta mempunyai keterampilan
dalam kehidupan sosial.
c. Memiliki komitmen dan kesadaran penuh terhadap nilai-nilai sosial.
d. Memiliki kemampuan berkomunikasi baik, dapat bekerja sama serta bisa
berkompetensi dengan lingkungan masyarakat ditingkat nasional, lokal, dan
global.34
32
Rahmad, “Kedudukan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Pada Sekolah Dasar,” Jurnal Madrasah
Ibtidaiyah 2, no. 1 (2016): 70.
33
Ahmad Salim, Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Kompetensi Memahami Usaha Persiapan
Kemerdekaan Melalui Metode Pembelajaran Jigsaw Bagi Peserta Didik Kelas VIII F, Jurnal Pendidikan
Djiwa Utama, 2016, hlm 53.
34
Parni, “Pembelajaran IPS Di Sekolah Dasar,” Jurnal Kajian Perbatasan Antarnegara, Diplomasi Dan
Hubungan Internasional 3, no. 2 (2020): 101.
27
3. Materi Keberagaman Suku dan Budaya
a. Keberagaman Pakaian Adat
Pakaian adat merupakan bentuk pakaian yang menjadi ciri khas dari
daerah tersebut, pakain ini memiliki corak, warna, serta bentuk yang
beraneka ragam. Pakaian adat ini biasanya di gunakan pada acara tertentu
saja.
Tabel 2.1 Pakaian Adat di Indonesia
No Daerah Pakaian Adat
1 Aceh Ulee Balang
2 Sumatera Barat Bundo Kaduang
3 Sumatera Utara Ulos
4 Sumatera Selatan Aesan Gede
5 Kepulauan Riau Teluk Belanga
6 Provinsi Riau Melayu
7 Provinsi Jambi Melayu Jambi
8 Bangka Belitung Paksian
9 Provinsi Lampung Tulang Bawang
10 Banten Pangsi
11 DKI Jakarta Betawi
12 Jawa Barat Kebaya Jawa
13 Yogyakarta Kesatrian Ageng
14 Jawa Tengah Kebaya Jawa
15 Jawa Timur Pesa’an
16 Bali Safari dan Kebaya
17 NTB Suku Sasak
18 Klimantan Selatan Bagajah Gamuling Baular Lutut
19 Kalimantan Timur Kustin
20 Sulawesi Barat Lipa Saqbe Mandar
21 Sulawesi Tengah Nggembe
22 Sulawesi Utara Laku Tepu
23 Sulawesi Tenggara Kinawo
24 Sulawesi Selatan Bodo
25 Gorontalo Biliu dan Makuta
26 Maluku Cele
27 Maluku Utara Manteren Lamo
28 Papua Barat Ewer
29 Papua Koteka/Holim
30 Kalimantan Utara Kulawi
28
b. Keberagaman Rumah Adat
Pembangunan rumah adat pada dasarnya disesuaikan dengan kondisi
dan wilayah setempat. Setiap bentuk rumah memiliki simbol dan bentuk
yang unik. Dibawah ini terdapat nama-nama rumah adat di Indonesia, yaitu
sebagai berikut:
Tabel 2.2 Rumah Adat Di Indonesia
No Daerah Rumah Adat
1 Aceh Krong Bade
2 Sumatera Utara Bolon
3 Sumatera Barat Rumah Gadang
4 Riau Selaso Jatuh Kembar
5 Jambi Panggung Kajang Leko
6 NTT Rumah Musalaki
7 Sumatera Selatan Limas
8 Lampung Nuwo Sesat
9 Bangka Belitung Rumah Rakit
10 Betawi Kebaya
11 Jawa Barat Rumah Sunda
12 Jawa Tengah Joglo
13 Jawa Timur Joglo Situbondo
14 Yogyakarta Bangsal Kencono
15 Bali Gapura Candi Bentar
16 NTB Dalam Loka
17 Kalimantan Barat Panjang
18 Kalimantan Tengah Betang
19 Kalimantan Timur Rumah Lamin
20 Maluku Utara Sasadu
21 Gorontalo Rumah Dulohupa
22 Sulawesi Barat Rumah Boyang
23 Sulawesi Tengah Rumah Tambi
24 Sulawesi Utara Walewangko
25 Maluku Baileo
26 Papua Barat Honai
27 Papua Kariwari
28 Sulawesi Tenggara Banua Tada
29 Kalimantan Selatan Bubungan Tinggi
30 Kalimantan Utara Baloy
29
c. Suku Bangsa
Ada banyak suku bangsa yang mendiami wilayah Kepulauan Indonesia.
dibandingkan dengan negara lain, jumlah suku bangsa Indonesia menjadi
yang terbesar didunia. Berikut nama-nama suku bangsa Indonesia.
Tabel 2.3 Suku Bangsa Indonesia
No Provinsi Suku Bangsa
1 D.I Aceh Aceh,Alas,Gayo,Lut,Gayo Luwes
2 Bali Bali Aga dan Bali Majapahit
3 Jambi Anak Dalam,Jambi,Kerinci,Melayu
4 Jawa Barat Cirebon dan Sunda
5 Jawa Timur Jawa,Madura,Osing
6 Maluku Utara Seram,Bunda,Buru,Furur,Aru
7 DKI Jakarta Betawi
8 Sulawesi Selatan Makassar,Bugis,Toraja
9 Bengkulu Enggano,Kaur,Lembok,Muko-Muko
10 Banten Baduy,Sunda,dan Banten
11 Sumatera Barat Mentawai,Minangkabau,Guci
12 Jawa Tengah Jawa dan Samin
13 Sulawesi Utara Sangir,Talaud,Minahasa
14 Sumatera Barat Mentawai,Minangkabau
15 Kalimantan Selatan Dayak
16 Kalimantan Utara Dayak dan Banjar
17 Papua Asmat,Arfak,Kaure
18 Sumatera Utara Batak
19 Kalimantan Timur Dayak (Bulungan,Tidung,Kutai)
20 Bangka Belitung Bangka,Belitung,Pangkal Pinang
21 Sulawesi Tengah Kaili,Pamona,Mori
22 Gorontalo Gorontalo,Suwawa
23 Papua Barat Doteri,Kuri,Onim,Atam
24 NTT Alor,Rate,Timor
25 Kalimantan Selatan Dayak (Banjar,Bakumpai,Bukit)
26 Kalimantan Utara Tidung,Banjar,Dayak
27 Maluku Ambon,Ternate,Tidore
28 Lampung Abung,Krui,Melayu
29 Riau Akit,Melayu Riau,Rawa
30 DI Yogyakarta Jawa
30
d. Kerangka Berpikir
Berdasarkan permasalahan yang ditemukan oleh peneliti. Peneliti
menemukan bahwa pendidik kurang memiliki inovasi ketika pembelajaran
berlangsung dan pendidik tidak mengajarkan menggunakan alat peraga
berupa media pembelajaran. Sehingga menjadikan peserta didik mudah
merasa bosan dan kurang tertarik dengan pelajaran ilmu pengetahuan sosial
terutama pada materi keberagaman suku dan budaya, karena pada materi ini
menyebutkan berbagai macam rumah adat, pakaian adat, dan suku bangsa.
Hal ini menjadi salah satu penyebab bahwa peserta didik belum bisa
menghafal sepenuhnya tentang keberagaman suku dan budaya.
Dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik, peneliti menggunakan
media pembelajaran yang bertujuan supaya peserta didik memiliki
konentrasi penuh dan tidak mudah merasa bosan. Hal ini menjadikan peserta
didik lebih tertarik dan bersemangat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Peneliti akan menggunakan media pembelajaran powerpoint interaktif,
maksud dari media pembelajaran powerpoint interaktif merupakan media
yang berupa slide-slide yang didalamnya terdapat menu, materi, kompetensi,
tujuan, dan kuis sehingga menjadikan peserta didik bisa belajar sambil
bermain melalui media pembelajaran interaktif berbasis powerpoint.
Menurut Ananda dan Nuraini media pembelajaran berbasis multimedia
interaktif merupakan media yang dapat meningkatkan motivasi dan
semangat belajar peserta didik, sehingga menimbulkan peserta didik menjadi
lebih aktif. Keunggulan dari media pembelajaran powerpoint interaktif ini
sendiri yaitu: mudah dibawa kemana-mana dan bisa digunakan dimanapun
31
dan kapanpun, dapat menarik perhatian peserta didik, dapat dipakai
berulang-ulang, lebih cepat merangsang cara perkir peserta didik mengenai
materi yang ditampilkan. Meskipun terdapat keunggulan menggunakan
media pembelajaran powerpoint interaktif, media ini juga mempunyai
kekurangan yaitu: harus mempunyai persiapan yang cukup menyita waktu,
harus mempunyai LCD proyektor agar bisa ditampilkan didepan kelas,
pendidik harus memiliki keahlian yang cukup untuk mengoperasikan
program powerpoint ini, agar jalannya presentasi bisa berjalan dengan lancar
dan tanpa hambatan.
Dengan menggunakan media pembelajaran powerpoint interaktif di
harapkan peserta didik menjadi lebih memahami dan mengetahui tentang
macam-macam keberagaman suku dan budaya, menjadikan pembelajaran
didalam kelas menjadi aktif dan efektif, serta dapat meningkatkan hasil
belajar peserta didik.