Mengenal Sejumlah Regulasi yang Mengatur
CSR di Indonesia
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) masih terus menyusun draft Rancangan Undang-Undang
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, atau yang sering dikenal dengan ‘Corporate Social
Responsibility’ (CSR). RUU yang juga diusulkan oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ini
telah ditetapkan masuk ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2017.
Sehingga, pada tahun ini, RUU ini ditargetkan dapat disahkan menjadi undang-undang.
Meski begitu, CSR bukan merupakan hal yang baru diatur dalam peraturan perundang-undangan
di Indonesia. Sejumlah peraturan perundang-undangan, termasuk yang bersifat sektoral, telah
mengatur mengenai CSR tersebut. Berikut adalah beberapa regulasi tersebut:
1. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
Konsep CSR yang terdapat dalam UU Perseroan Terbatas juga mencakup lingkungan. Jadi,
secara resmi, UU ini menggunakan istilah Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). UU
ini mengatur kewajiban bagi perseroan yang berkaitan dengan sumber daya alam untuk
melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Pasal 74 ayat (1) UU PT berbunyi, “Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang
dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan.” Bila ketentuan ini tidak dijalankan, maka ada sanksi yang akan dijatuhkan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan Perseroan Terbatas
Pemerintah menerbitkan PP No. 47 Tahun 2012 sebagai peraturan pelaksana dari Pasal 74 UU
PT di atas. PP No. 47 Tahun 2012 yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono ini hanya berisi sembilan pasal. Salah satu yang diatur adalah mekanisme
pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan perseroan.
Pasal 4 ayat (1) PP No. 47 Tahun 2012 menyebutkan, “Tanggung jawab sosial dan lingkungan
dilaksanakan oleh Direksi berdasarkan rencana kerja tahunan Perseroan setelah mendapat
persetujuan Dewan Komisaris atau RUPS sesuai dengan anggaran dasar Perseroan, kecuali
ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan.”
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
UU Penanaman Modal juga menyelipkan satu pasal yang mengatur CSR. Pasal 15 huruf b
berbunyi: “Setiap penanam modal berkewajiban: melaksanakan tanggung jawab sosial
perusahaan.” Penjelasan Pasal 15 huruf menambahkan bahwa yang dimaksud dengan “tanggung
jawab sosial perusahaan” adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanam
modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan,
nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat.
4. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi
UU Minyak dan Gas Bumi memang tidak secara tersurat mengatur tanggung jawab sosial
perusahaan. Namun, bila dibaca secara seksama, ada satu aturan yang secara tersirat
menyinggung mengenai CSR. Ketentuan itu adalah Pasal 11 ayat (3) huruf p, yang berbunyi,
“Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memuat palin sedikit
ketentuan-ketentuan pokok yaitu: pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak
masyarakat adat.”
5. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
UU Minerba tidak menyebut tanggung jawab sosial secara tersurat, tetapi menggunakan istilah
program pengembangan dan pemerdayaan masyarakat. Pasal 108 ayat (1) UU Minerba
menyebutkan bahwa “Pemegang IUP (Izin Usaha Pertambangan) dan IUPK (Izin Usaha
Pertambangan Khusus) wajib menyusun program pengembangan dan pemberdayaan
masyarakat.”
Pasal 1 angka 28 UU Minerba mendefinisikan pemberdayaan masyarakat sebagai “usaha untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat, baik secara individual maupun kolektif, agar menjadi
lebih baik tingkat kehidupannya.”
6. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara
PP No. 23 Tahun 2010 merupakan aturan pelaksana dari UU Minerba. PP ini menjelaskan lebih
lanjut mengenai pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang telah disinggung oleh UU
Minerba. Ada satu bab khusus, yakni BAB XII, yang terdiri dari empat pasal yang mengatur
pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satunya adalah Pasal 108 yang berbunyi, “Setiap pemegang IUP Operasi Produksi dan
IUPK Operasi Produksi wajib menyampaikan laporan realisasi program pengembangan dan
pemberdayaan masyarakat setiap 6 (enam) bulan kepada menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.” Pelanggaran terhadap kewajiban ini dapat dikenakan sanksi
administratif.
7. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi
UU Panas Bumi juga memiliki satu pasal yang mengatur mengenai tanggung jawab sosial
perusahaan. UU ini menyebutkan istilah tanggung jawab sosial perusahaan dan pengembangan
masyarakat sekaligus. Pasal 65 ayat (2) huruf b berbunyi: “Dalam pelaksanaan
pelenyelenggaraaan Panas Bumi masyarakat berhak untuk: memperoleh manfaat atas kegiatan
pengusahaan Panas Bumi melalui kewajiban perusahaan untuk memenuhi tanggung jawab
sosial perusahaan dan/atau pengembangan masyarakat sekitar.”
8. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Penanganan Fakir Miskin
Setidaknya ada dua pasal yang menyinggung CSR dalam UU No. 13 Tahun 2011. Pertama, Pasal
36 ayat (1) huruf c yang menyatakan bahwa salah satu sumber pendanaan dalam penanganan
fakir miskin, adalah dana yang disisihkan dari perusahaan perseroan. Ketentuan ini ditegas oleh
Pasal 36 ayat (2) yang berbunyi, “Dana yang disisihkan dari perusahaan perseroan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c digunakan sebesar-besarnya untuk penanganan
fakir miskin.”
Selain itu, ada pula Pasal 41 yang menggunakan istilah pengembangan masyarakat. Pasal 41 ayat
(3) menjelaskan bahwa pelaku usaha berperan serta dalam menyediakan dana pengembangan
masyarakat sebagai perwujudan dari tanggung jawab sosial terhadap penanganan fakir miskin.
Aturan-Aturan Hukum Corporate Social Responsibility
Apakah perusahan benar-benar wajib untuk membudidaya atau membangun desa setempat?
Kalau misalnya ada kewajiban itu tolong dijelaskan juga undang-undangnya.
Jawaban :
Mengenai perusahaan membangun desa setempat, hal ini terkait dengan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
atau Corporate Social Responsibility (“TJSL”). TJSL tidak hanya mengenai kegiatan yang dilakukan perusahaan
dimana perusahaan ikut serta dalam pembangunan ekonomi masyarakat setempat, tetapi juga terkait kewajiban
perusahaan dalam melestarikan lingkungan.
Dalam hal ini, Anda tidak menyebutkan apa jenis perusahaan tersebut. Oleh karena itu kami akan memaparkan
mengenai TJSL dalam berbagai peraturan perundang-undangan, yaitu sebagai berikut:
1. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UUPT”) serta Peraturan Pemerintah
No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Perseroan Terbatas (“PP 47/2012”)
Mengenai TJSL, diatur dalam Pasal 74 UUPT dan penjelasannya. Pengaturan ini berlaku untuk perseroan.
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UUPT, Perseroan (Perseroan Terbatas) adalah badan hukum yang merupakan
persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang
seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta
peraturan pelaksanaannya.
Menurut Pasal 1 angka 3 UUPT, Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen perseroan untuk
berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan
lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada
umumnya.
Pasal 74 UUPT pada dasarnya mengatur mengenai hal-hal berikut ini:
a. TJSL ini wajib untuk perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan
dengan sumber daya alam.
Yang dimaksud dengan “perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam”
adalah perseroan yang kegiatan usahanya mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam.
Sedangkan yang dimaksud dengan “perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya yang berkaitan
dengan sumber daya alam” adalah perseroan yang tidak mengelola dan tidak memanfaatkan sumber
daya alam, tetapi kegiatan usahanya berdampak pada fungsi kemampuan sumber daya alam.
b. TJSL ini merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya
perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
c. Mengenai sanksi, dikatakan bahwa perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban TJSL akan dikenai
sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait.
Dalam Pasal 4 PP 47/2012, dikatakan bahwa TJSL dilaksanakan oleh Direksi berdasarkan rencana kerja
tahunan perseroan setelah mendapat persetujuan Dewan Komisaris atau Rapat Umum Pemegang Saham
(“RUPS”) sesuai dengan anggaran dasar perseroan. Rencana kerja tahunan perseroan tersebut memuat rencana
kegiatan dan anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan TJSL.
Pelaksanaan TJSL tersebut dimuat dalam laporan tahunan perseroan dan dipertanggungjawabkan kepada RUPS
(Pasal 6 PP 47/2012).
2. Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (“UU 25/2007”)
Dalam Pasal 15 huruf b UU 25/2007 diatur bahwa setiap penanam modal wajib melaksanakan TJSL. Yang
dimaksud dengan TJSL menurut Penjelasan Pasal 15 huruf b UU 25/2007 adalah tanggung jawab yang
melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang,
dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat.
Sedangkan yang dimaksud dengan penanam modal adalah perseorangan atau badan usaha yang melakukan
penanaman modal yang dapat berupa penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing (Pasal 1 angka 4
UU 25/2007).
Selain itu dalam Pasal 16 UU 25/2007 juga diatur bahwa setiap penanam modal bertanggung jawab untuk
menjaga kelestarian lingkungan hidup. Ini juga merupakan bagian dari TJSL.
Jika penanam modal tidak melakukan kewajibannya untuk melaksanakan TJSL, maka berdasarkan Pasal 34 UU
25/2007, penanam modal dapat dikenai sanksi adminisitatif berupa:
a. peringatan tertulis;
b. pembatasan kegiatan usaha;
c. pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal; atau
d. pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.
Selain dikenai sanksi administratif, penanam modal juga dapat dikenai sanksi lain sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan (Pasal 34 ayat (3) UU 25/2007).
3. Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (“UU
32/2009”)
Berdasarkan Pasal 68 UU 32/2009, setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban:
a. memberikan informasi yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara
benar, akurat, terbuka, dan tepat waktu;
b. menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup; dan
c. menaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku kerusakan lingkungan
hidup.
4. Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER-05/MBU/2007 Tahun
2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina
Lingkungan sebagaimana terakhir diubah dengan Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara No.
PER-08/MBU/2013 Tahun 2013 Tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri Negara Badan
Usaha Milik Negara No. PER-05/MBU/2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara
Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan (“Permen BUMN 5/2007”)
Dalam peraturan ini diatur mengenai kewajiban Perusahaan Perseroan (“Persero”), Perusahaan Umum
(“Perum”), dan Perusahaan Perseroan Terbuka (“Persero Terbuka”).
Berdasarkan Pasal 2 Permen BUMN 5/2007, Persero dan Perum wajib melaksanakan Program Kemitraan
BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan. Sedangkan Persero Terbuka dapat melaksanakan
Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan dengan berpedoman pada
Permen BUMN 5/2007 yang ditetapkan berdasarkan keputusan RUPS.
Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil
agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana BUMN (Pasal 1 angka 6 Permen BUMN
5/2007). Sedangkan Program Bina Lingkungan adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh
BUMN melalui pemanfaatan dana BUMN (Pasal 1 angka 7 Permen BUMN 5/2007).
5. Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 Tentang Minyak Dan Gas Bumi (“UU 22/2001”)
Kegiatan usaha hulu yang dilaksanakan oleh Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap berdasarkan Kontrak Kerja
Sama dengan Badan Pelaksana wajib memuat ketentuan-ketentuan pokok yang salah satunya adalah ketentuan
mengenai pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak masyarakat adat (Pasal 11 ayat (3)
huruf p UU 22/2001).
Selain itu dalam Pasal 40 ayat (5) UU 22/2001 juga dikatakan bahwa Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap
yang melaksanakan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi (kegiatan usaha hulu dan kegiatan usaha hilir) ikut
bertanggung jawab dalam mengembangkan lingkungan dan masyarakat setempat.
Melihat pada ketentuan-ketentuan di atas, dapat dilihat bahwa memang ada peraturan-peraturan yang mewajibkan
perusahaan untuk membangun masyarakat di sekitar.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Ada satu hal yang menarik dari unggahan video salah seorang anggota Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) Republik Indonesia yang membuat video tantangan terhadap Gubernur DKI
Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (AHOK). Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengomentari
tentang isi video tersebut, namun yang menjadi fokus saya adalah pada salah satu statement dari
yang bersangkutan yang menyebutkan CSR sebagai Customer Service Relationship.
Saya tidak menamfikkan bahwa masih banyak orang yang belum pernah mengenal apa itu CSR.
Mungkin bagi mereka yang bekerja di perusahaan, tentu CSR bukan lah suatu yang asing.
Namun bagi mereka yang berpendidikan kurang, bisa saja mereka masih asing dengan istilah
yang satu ini.
Sebagai ulasan singkat untuk pemahaman sederhana bagi para pembaca, saya mencoba membuat
ulasan tentang topik ini. CSR atau dikenal juga sebagai Corporate Social Responsibility secara
harfiah jika diterjemahkan adalah tanggung jawab sosial suatu perusahaan.
Jadi sebenarnya, apa sih CSR ini? Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 tahun 2009
tentang Perseroan Terbatas, menyebutkan, “Tanggung jawab sosial dan lingkungan adalah
komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna
meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan
sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.”
Kemudian, menurut Gunawan Widjaja dalam bukunya yang berjudul, “150 Tentang Perseroan
Terbatas”, menyebutkan sebagai berikut, “Corporate Social Responsibility atau yang
kadangkala disebut juga dengan Business Social Responsibility atau Corporate Citizenship pada
prinsipnya merupakan bentuk kerja sama antara perusahaan (tidak hanya perseroan terbatas)
dengan segala sesuatu atau segala hal (stake holders) yang secara langsung maupun tidak
langsung berinteraksi dengan perusahaan tersebut untuk tetap menjamin keberadaan dan
kelangsungan usaha (sustainability) perusahaan tersebut.”
Jadi dalam pemahaman sederhananya, CSR ini adalah sebuah bentuk tanggungjawab dari
Perusahaan untuk menyisihkan sebagian dari keuntungan usahanya untuk melakukan kegiatan
sosial kemasyarakatan. Bentuk kegiatan sosial ini biasanya berupa tanggung jawab terhadap
kualitas kehidupan maupun lingkungan masyarakat di daerah tempat sekitar kedudukan
perusaaan. Meskipun tidak menutup kemungkinan juga apabila CSR ini dilakukan dalam lingkup
masyarat yang lebih luas.
Jika merujuk pada ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1995, CSR ini sendiri
sebelumnya bukan suatu yang wajib dilaksanakan oleh Perusahaan, namun pasca berlakunya
Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), CSR menjadi
kewajiban dari Perusahaan. Dalam ketentuan Pasal 74 ayat (1) UUPT, disebutkan, “Perseroan
yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam
wajib melaksanakan Tanggung Jawab sosial dan Lingkungan.” Berdasarkan ketentuan Pasal 74
ayat (1) UUPT tersebut, CSR ini menjadi wajib bagi Perusahaan yang bergerak di bidang sumber
daya alam. Lalu bagaimana dengan perusahaan lain yang tidak bergerak dalam bidang sumber
daya alam?
Secara legalitasnya dalam UUPT yang ditekankan hanya untuk perusahaan yang bergerak di
bidang sumber daya alam, namun merujuk pada ketentuan Pasal 15 huruf b Undang-Undang
Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanam Modal (UU Penanaman), yang menyebutkan, “Setiap
penanam modal berkewajiban: (b) melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.” Maka
dengan mengacu pada ketentuan ini, maka setiap perusahaan baik yang bergerak di bidang
sumber daya alam maupun tidak, tetap memiliki kewajiban untuk melaksana CSR. Bahkan UU
Penaman Modal sudah terlebih dahulu mengundangkannya.
Di samping UUPT dan UU Penanaman Modal, masih terdapat sejumlah aturan yang mengatur
tentang kewajiban pelaksanaan CSR bagi perusahaan, diantaranya:
1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi;
2. Pasal 68 Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
3. Pasal 4 Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial Dan
Lingkungan Perseroan Terbatas;
4. Pasal 2 Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER-05/MBU/2007
Tahun 2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha
Kecil Dan Program Bina Lingkungan sebagaimana terakhir diubah dengan Peraturan
Menteri Badan Usaha Milik Negara No. PER-08/MBU/2013 Tahun 2013 Tentang
Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No.
PER-05/MBU/2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan
Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan;
Dari uraian singkat di atas, dapat dilihat bagaimana berlakunya CSR (Corporate Social
Responsibility) dalam sistem hukum di Indonesia. Dengan memahami hal tersebut, tentu bagi
pembaca, tidak lagi ada pemahaman yang salah mengenai kepanjangan maupun pengertian dari
CSR, kecuali pembaca sendiri memang ingin menciptakan sebuah istilah baru dengan singkatan
CSR.
Wajib CSR: Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 2012
"Setiap perseoan selaku subjek hukum mempunyai tanggungjawab sosial dan lingkungan" begitulah
kira-kira bunyi pasal 2 dari peraturan pemerintah yang baru saja disahkan oleh presiden. Peraturan
pemerintah No. 47 tahun 2012 ini merupakan tindak lanjut dan penjelas dari undang-undang
perusahaan No. 40 tahun 2007. Dalam peraturan ini juga disebutkan pada pasal 3, Kewajiban ini berlaku
bagi perseoroan yang menjalankan bidang usahanya berkaitan dengan sumberdaya alam. Secara garis
besar Peraturan pemerintah ini terkesan memberikan dukungan terhadap kegelisahan pelaku usaha
maupun pelaku pembangunan dalam tatanan hukum dan tanggung jawab sosial-lingkungan. Dalam hal
ini, juga disebutkan bahwa tanggung jawab sosial merupakan biaya bagi perseroan seperti disebutkan
pada pasal 5. Pada sisi, pemberdayaan penulis mencoba menelaah dampak dari peraturan ini. Beberapa
hal yang perlu dan sangat perlu diperjelas adalah dalam alur dan tanggung jawab sosial tidak
memperlihatkan upaya pelibatan stakeholder yang sesungguhnya menjadi fondasi dari maksimalisasi
pembangunan yang diharapkan oleh pemerintah. Dan perencanaan tanggung jawab sosial terkesan
diserahkan sepenuhnya pada otoritas perseroan yang secara prinsip menutup proses kerjasama
partisipatif dan melibatkan para pelaku pembangunan sampai pada level akar rumput. Selain itu, belum
adanya batasan-batasan penjelas bagaimana tanggung jawab sosial itu di pertanggung jawabkan pada
penerima manfa'at maupun pemerintah. Hal lain yang cukup menggelitik adalah tidak tergambar
indikator atau tolak ukur sebuah model tanggung jawab sosial yang terukur dan tersturktur. Sehingga
penulis menarik premis awal, lahirnya peraturan ini masih sangat prematur dan membutuhkan
penyempurnaan-penyempurnaan yang disana-sini, serta analisis yang lebih terpadu dari dampak serta
model sebuah kebijakan