BAB III
PEMBAHASAN DRPs
Stroke merupakan suatu sindrom yang terdiri dari gejala hilangnya fungsi
system saraf pusat fokal (atau global) yang dapat menyebabkan kerusakan pada
otak maupun sumsum tulang belakang akibat tdak normalnya suplai darah.
Mekanisme vascular penyebab stroke terbagi menjadi dua yaitu, adanya iskemik
(sumbatan) yang mengakibatkan terganggunya aliran darah ke otak dan
hemoragik (pendarahan) yaitu pecahnya pembuluh darah dan mengalirkan
darah ke otak dan area ekstravaskular di antara kranium. Stroke iskemik timbul
akibat thrombosis atau embolisis yang terjadi mengenai pembuluh darah otak dan
menyebabkan obstruksi aliran darah otak yang mengenai satu atau lebih pembuluh
darah otak.
Pasien stroke akut mengalami peningkatan tekanan darah sistolik hingga di
atas 140 mmHg. Banyak studi yang menunjukkan adanya hubungan antara
hipertensi pada stroke akut iskemik maupun hemoragik. Penanganan hipertensi
penting dilakukan pada pasien stroke untuk pencegahan stroke berulang maupun
komplikasi vascular. Penatalaksanaan hipertensi yang tidak tepat pada kedaruratan
neurovascular akut dapat menyebabkan peningkatan resiko kerusakan otan dan
saraf.
Terapi utama stroke pada fase akut adalah dengan pemberian terapi
trombolisis menggunakan rtPA(recombinant-tisue plasminogen activator) secara
intravena maupun intraarterial kurang dari 3 jam setelah awitan. Dosis yang
dianjurkan pada pasien di asia adalah 0,6mg/kgBB (maksimum 60 mg), berupa 10
% dosis total diberikan sebagai bolus inisial dan sisanya dalam infus IV selama 60
menit. Terapi ini harus diberikan dalam rentang waktu 3 – 5 Jam sesuai pedoman
American Heart Association/American Stroke Association (AHA/ ASA) class I,
level of evidence A.
1
Pada kasus Ny. Manih dengan Riwayat hipertensi disarankan pemberian
kombinasi amlodipine 1 x 10 mg pada malam hari dan candesartan 1 x 8 mg pada
pagi hari. Dalam hal ini klasifikasi DRPs menurut PCNE vol 9 tergolong dalam
P 1.2 Efek pengobatan tidak optimal dan C 1.5 Perawatan obat tidak ada tau tidak
lengkap meskipun ada indikasi. Karena penggunaan amlodipine telah dilakukan
selama 3 tahun dan kurangnya perbaikan. Pada penelitian Juwita (2018)
disebutkan bahwa kombinasi amlodipine 1 x 10 mg dan candesartan 1 x 8 mg
sudah tepat karena pemilihan kombinasi berasal dari golongan obat yang berbeda
yaitu CCB dan ARB. Sebagai pemantauan hipertensi harus dilakukan monitoring
tekanan darah.
Penggunaan amlodipine tersebut tidak dapat di gabungkan dengan pemberian
atorvastatin karena dapat menimbulkan interaksi antar keduanya, amlodipine
dapat meningkatkan kadar atorvastatin dalam darah dan hal ini dapat
meningkatkan resiko kerusakan hati. Atorvastatin dapat digunakan untuk
mengurangi resiko stroke hingga 30% (Purnamasari,2018) , beberapa studi
menyatakan bahwa statin dapat segera menurunkan kadar lipid sehingga dapat
meningkatkan kondisi klinis stroke dan mengurangi resikonya dikarenakan efek
pleotropik dari statin. Dalam masalah ini tergolong dalam P 2.1 Kejadian obat
yang merugikan (mungkin) terjadi dan C 1.1 Obat yang tidak sesuai dengan
pedoman/formularium. Maka disarankan penggantian atorvastatin dengan
clopidogrel 1 x 75 mg. Clopidogrel merupakan obat anti platelet yang sering
digunakan dalam pengobatan kardiovaskular. Clopidogrel dengan indikasi infark
miokard akut, stroke kardioembolik, syndrome coroner akut. Beberapa penelitian
yang membandingkan efektivitas penggunaan asetosal kombinasi clopidogrel dan
asetosal Tunggal menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan. Penggunaan
antiplatelet kombinasi clopidogrel dengan aspilet pada pasien stroke iskemik
memiliki efek samping terhadap gastrointestinal sehingga sebagai pencegahannya
juga diberikan omeprazole 2 x 40 mg.
Pada pasien stroke iskemik juga diberikan injeksi citicoline sebagai standar
untuk pengobatan stroke iskemik akut. Namun, pada pasien yang diberikan rtPA
2
dan citicoline tidak dapat memberikam efek tambahan yang menguntungkan.
Studi systematic review menunjukkan citicoline meningkatkan fungsi kognitif dan
memberikan pemulihan motoric lengkap stroke iskemik ringan hingga sedang.
Pasien juga didiagnosis mengalami BP (Bronokpneumonia),
bronkopneumonia adalah infeksi yang mempengaruhi saluran udara masuk ke
paru – paru. Keadaan ini terutama disebabkan oleh infeksi bakteri tetapi juga
dapat disebabkan oleh infeksi virus dan jamur. Cara yang dapat dilakukan untu
mendiagnosis BP adalah melalui rontgen dada, pemeriksaan rontgen thorax,
pemeriksaan darah lengkap. Bronkopneumonia biasanya didahului dengan infeksi
saluran nafas bagian atas, suhu naik hingga 39 – 40 oC dan mungkin disertai
kejang karena demam. Pneumonia virus umumnya dikaitkan dengan batuk,
mengi, demam kurang menonjol diabandingkan dengan pneumonia bakteri.
Sedangkan pneumonia bakteri biasanya berhubungan dengan demam tinggi,
mengggil, batuk, dispnea. Pasien dengan bronkopneumonia diklasifikasikan
menjadi 3 kategori pneumonia ringan (nafas cepat) pneumonia berat (retraksi)
pneumonia sangat berat (tidak dapat minum/makan, kejang, letargis).
Pasien diberikan obat metil prednisolone yang jika digunakan bersamaan
dengan antibiotic levofloxacin mempunyai interaksi mayor yang dapat
meningkatkan resiko terjadinya tendinitis dan rupture tendon. Pasien cukup
diberikan antibiotic Tunggal ceftriaxone 1 x 2 gram sebagai alternatif obat untuk
menghindari adanya interaksi dan juga karena belum adanya pemeriksaan WBC
(White Blood cell) sebagai penunjang bahwa infeksi yang dialami benar
disebabkan oleh bakteri bukan virus atau jamur.
efek samping yang mungkin terjadi dari obat clopidogrel ataupun ceftriaxone
dapat berupa diare. Maka sebagai penanganan dari efek samping tersebut perlu
digunakan diatab 3x1 jika dibutuhkan. Sementara itu, penggunaan laxadine dapat
dihentikana jika pasien tidak mengalami konstipasi.
Adapun beberapa planing yang disarankan untuk menghasilkan outcome yang
diharapkan yaitu: monitoring tekanan darah, pemeriksaan darah lengkap,
3
pemeriksaan rontgen thorax, monitoring kepatuhan minum obat, monitoring
keluhan, dan menjaga pola hidup sehat.