CASE METHOD
“MASALAH-MASALAH YANG DIALAMI GURU IPS PADA SAAT PROSES
PEMBELAJARAN DI SMP SWASTA AMIR HAMZAH MEDAN”
Dosen Pengampu:
[Link] Khair Amal, [Link] & Salwiyah Fitriani, [Link],. [Link]
Disusun Oleh:
Reynaldi Hutasoit (3231122018)
Revania Sitohang (3233122052)
Sabrina Salsabila (3232422008)
Sri Wahyuni Pratiwi (3232422009)
Yulia Evelyn Simanjuntak (3233122007)
Valentina Situmorang (3233122013)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2025
Informan:
1. Santi (Guru IPS, SMP Swasta Amir Hamzah)
2. Tria Armaya (Guru IPS, SMP Swasta Amir Hamzah)
No Masalah Uraian
1. Kedisplinan Siswa Kedisiplinan siswa merupakan elemen utama dalam
pendidikan yang berperan besar dalam membentuk
karakter, kebiasaan, dan etika mereka dalam kehidupan
sehari-hari. Kedisiplinan tidak hanya berarti menaati
peraturan sekolah, tetapi juga menunjukkan tanggung
jawab, kesadaran akan kewajiban, serta komitmen
dalam menjalankan tugas. Di lingkungan sekolah,
kedisiplinan tercermin dalam berbagai aspek, seperti
kepatuhan terhadap tata tertib, kedatangan tepat waktu
ke kelas, penyelesaian tugas dan pekerjaan rumah secara
tepat waktu dan sesuai instruksi, serta sikap hormat
kepada guru dan rekan sesama siswa. Siswa di SMP
Swasta Amir Hamzah kedisiplinan masih menjadi
tantangan bagi para guru dalam menjalankan tugasnya.
Dua permasalahan utama yang sering terjadi di sekolah
ini adalah ketidakdisplinan siswa dalam mengenakan
atribut sekolah sesuai dengan aturan yang telah
ditetapkan. Banyak siswa SMP yang datang ke sekolah
dengan pakaian yang tidak sesuai standar, seperti tidak
memakai dasi, sepatu yang tidak sesuai aturan, atau
bahkan tidak mengenakan seragam lengkap pada hari-
hari tertentu. Selain permasalahan atribut, keterlambatan
siswa dalam mengumpulkan tugas juga menjadi salah
satu tantangan yang dihadapi guru. Banyak siswa yang
kurang memiliki rasa tanggung jawab dalam
menyelesaikan tugas tepat waktu, sehingga guru harus
memberikan peringatan berulang kali atau bahkan
memberikan konsekuensi tertentu agar siswa menyadari
pentingnya disiplin dalam mengerjakan tugas. Sikap ini
tidak hanya memengaruhi hasil akademik siswa, tetapi
juga menghambat proses pembelajaran, terutama ketika
tugas tersebut berfungsi sebagai evaluasi terhadap
pemahaman materi yang telah diajarkan.
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi tidak
disiplinnya peserta didik di sekolah yaitu, pertama
faktor internal yaitu :
(Hermatasiyah, N. (2022)
1. Kebiasaan yaitu merupakan cara bertindak yang
diperoleh melalui belajar secara berulang-ulang, yang
pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat otomatis
(Djaali, 2012).
2. Perilaku yang menyimpang itu harus dikoreksi
dengan meminimalisir intervensi (Aqib Zainal, 2011)
3. Minat merupakan kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan danmengenang beberapa kegiatan
(Slameto, 2013).
4. Nilai dan Moral. Menurut Ali Asrori (2010) nilai
adalah penilaian individuterhadap terhadap suatu objek
atau sekumpulan objek yang lebih berdasarkanpada
sistem niali tertentu dari pada hanya sekedar
karakteristik objek tersebut. Sedangkan moral
merupakan tatanan perilaku yang memuat niali-nilai
tertentu untuk dilakukan individu dalam hubungannya
dengan individu, kelompok dan masyarakat.
Kedua adalah faktor eksternal sebagai berikut :
1. Lingkungan Keluarga merupakan lembaga
pendidikan tertua, bersifat informal yang pertama dan
utama dialami oleh anak serta lembagapendidikan yang
bersifat koderati. Orang tua bertanggung jawab
memelihara, merawat, melindungi dan mendidik agar
tumbuh dan berkembang denganbaik (Hasbullah, 2009).
2. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan yang
bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama
mereka diserahkan kepada sekolah. artinyatidak semua
tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua
terutama hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam
keterampilan, oleh karena itudikirimkan anak ke sekolah
(Hasbullah, 2009).
3. Hubungan dengan teman adalah anak-anak atau
remaja yang memiliki usiaatau tingkat kematangan yang
kurang lebih sama (Santrock,2007)
4. Mata pelajaran adalah pelajaran yang harus diajarkan
(dipelajari) pada tingkat sekolah.
2. Kesulitan Dalam memahami Kesulitan dalam memahami materi pembelajaran adalah
materi pembelajaran tantangan yang sering dihadapi siswa di lingkungan
pendidikan. Hambatan ini dapat disebabkan oleh
berbagai faktor, seperti tingkat kecerdasan dan daya
tangkap siswa yang berbeda-beda, metode pengajaran
yang kurang sesuai dengan gaya belajar individu, serta
lingkungan belajar yang tidak kondusif. Jika tidak
segera diatasi, kesulitan ini dapat berdampak pada
penurunan nilai akademik, berkurangnya kepercayaan
diri, serta menurunnya motivasi siswa dalam mengikuti
proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang efektif
membutuhkan pemahaman yang baik dari setiap siswa
terhadap materi yang diajarkan. Namun, di SMP Swasta
Amir Hamzah, salah satu tantangan utama yang
dihadapi oleh para guru adalah kesulitan siswa dalam
memahami materi pembelajaran. Salah satu penyebab
utama kesulitan siswa dalam memahami materi adalah
perbedaan kemampuan akademik dan daya tangkap
mereka. Dalam satu kelas, terdapat siswa yang dapat
memahami konsep dengan cepat, sementara sebagian
lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk
menguasai materi yang sama. Perbedaan ini menuntut
guru untuk menerapkan strategi pengajaran yang dapat
menjangkau seluruh siswa tanpa menghambat proses
pembelajaran secara keseluruhan. Selain itu, kebiasaan
belajar mandiri yang minim juga menjadi kendala, di
mana banyak siswa cenderung hanya mengandalkan
penjelasan dari guru di kelas tanpa meluangkan waktu
untuk mengulang materi atau mengerjakan latihan
tambahan di rumah. Hal ini menyebabkan pemahaman
mereka terhadap pelajaran menjadi dangkal dan sulit
berkembang.
Menurut Annisa, I. S., & Mailani, E. (2023). Faktor
internal adalah faktor yang bermula dari kondisi fisik
siswa dan kondisi psikologis siswa, contohnya seperti
kesehatan jasmani dan kondisi psikologi seperti dalam
bentuk motivasi atau mimpi, perhatian, minat, bakat,
belajar dan sikap atau perilaku siswa. Sedangkan faktor
eksternalnya berasal dari luar kepribadian siswa, seperti
keluarga, sekolah, dan masyarakat, contohnya berupa
kurikulum atau metode guru mengajar, pengembangan
siswa yang sulit dalam belajar tema integrasi. Syah
(2017, h. 184-186) menjelaskan faktor internal siswa
terjadi karena adanya kejadian atau keadaan yang timbul
dari dalam diri siswa, faktor ini meliputi gangguan atau
kekurangmampuan psiko-fisik siswa seperti yang
beranah kognitif seperti kurangnya kapasitas
pengetahuan siswa, yang beranah afektif seperti labilnya
emosi dan sikap, dan yang beranah psikomotor seperti
terganggunya indera penglihat dan pendengaran.
Sedangkan faktor eksternal terjadi karena adanya
kejadian atau keadaan yang timbul dari luar diri siswa.
Faktor eksternal dibagi menjadi dua, yaitu faktor
lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
Faktor lingkungan sosial yaitu lingkungan
perkampungan/masyarakat, dan lingkungan sekolah.
Faktor lingkungan non-sosial meliputi lingkungan
alamiah, faktor fungsional, dan faktor materi
pembelajaran. Selain itu faktor penyebab siswa
mengalami kesulitan belajar juga dikarenakan saat
proses pembelajaran tematik, hanya beberapa dari siswa
yang dapat mengerti seluruh materi yang diajarkan serta
dapat membedakan setiap materi yang telah
dicampurkan. Tidak hanya itu, pada pembelajaran
tematik kerap ditemui persoalan yang menjadi kendala
dalam belajar yang diakibatkan adanya keberagaman
tingkat kognitif siswa. Maka dari itu, penguasaan hasil
belajar juga akan berbeda. Adanya tingkat pemahaman
siswa yang berbeda, maka akan berbeda pula hasil
belajar siswa. Jika siswa mengalami kesulitan belajar
maka siswa akan susah untuk mengikuti kegiatan belajar
dengan baik. Faktor yang mepenyebabkan kesulitan
belajar sulit untuk dipastikan karena faktor tersebut
bersifat rumit
3. Fasilitas Sekolah yang kurang Fasilitas sekolah merupakan salah satu faktor utama
baik yang mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran.
Fasilitas yang memadai dapat menciptakan lingkungan
belajar yang nyaman, mendukung kegiatan akademik,
serta meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Di
SMP Swasta Amir Hamzah, masih terdapat berbagai
kendala terkait fasilitas yang kurang memadai, yang
berdampak langsung pada kualitas pendidikan dan
kenyamanan siswa serta guru dalam menjalankan
kegiatan belajar-mengajar.
Salah satu permasalahan utama yang dihadapi adalah
kondisi ruang kelas yang kurang layak. Beberapa ruang
kelas memiliki ventilasi yang tidak optimal, sehingga
sirkulasi udara menjadi buruk dan membuat suasana
belajar terasa pengap. Pencahayaan yang minim juga
menjadi kendala, terutama bagi siswa yang duduk di
bagian belakang kelas, sehingga mereka kesulitan
membaca tulisan di papan tulis. Selain itu, banyak meja
dan kursi yang dalam kondisi rusak atau tidak
ergonomis, menyebabkan siswa merasa tidak nyaman
saat belajar dalam waktu yang lama. Keterbatasan
jumlah ruang kelas juga sering kali mengakibatkan
jumlah siswa dalam satu kelas terlalu banyak, yang
berdampak pada kurangnya ruang gerak dan
menurunnya efektivitas interaksi antara guru dan siswa.
Selain ruang kelas, fasilitas pendukung seperti
perpustakaan, toilet, musholla juga mengalami kendala.
Perpustakaan yang seharusnya menjadi sumber literasi
tambahan bagi siswa memiliki koleksi buku yang
terbatas dan tidak diperbarui sesuai dengan kurikulum
terbaru. Akibatnya, siswa kesulitan mendapatkan
referensi yang relevan untuk menunjang pemahaman
materi pelajaran. Musholla yang tersedia juga kurang
memadai, dengan kapasitas yang tidak mencukupi untuk
menampung seluruh siswa saat waktu ibadah tiba, serta
fasilitas wudhu yang kurang layak.
Menurut Lisnawati, dkk (2023), Sarana dan prasarana
menjadi salah satu faktor yang sangat penting untuk
menunjang proses pembelajaran. Sarana dan prasarana
ini akan mendukung keberhasilan dalam proses
pembelajaran sehingga pembelajaran berjalan dengan
efektif dan efisien. Hanya saja pada pelaksanaannya
sarana dan prasarana ini masih terdapat permasalahan -
permasalahan. Baik di sekolah negeri maupun swasta
permasalahan sarana dan prasarana ini memiliki
kesamaan. permasalahan-permasalahan umum yang
terjadi baik di sekolah negeri maupun swasta yaitu:
1. Fasilitas penunjang pembelajaran yang kurang
memadai, seperti kurangnya kursi dan meja yang ada di
dalam kelas. Hal tersebut seringkali dikeluhkan oleh
para guru - guru. Terkadang terdapat siswa yang yang
duduk bertiga dengan temannya, dan juga tidak
kebagian tempat duduk.
2. Kurangnya buku paket dalam sumber belajar.
Permasalahan ini juga dapat membuat pembelajaran
menjadi tidak efektif dan efisien dikarenakan siswa
terganggu untuk mencari informasi ketika pembelajaran
berlangsung. meskipun hal ini bisa dilakukan inisiatif
lain tetapi permasalahan ini cukup penting untuk
diperhatikan.
3. Rusaknya sarana dan prasarana, seperti meja dan
kursi yang rusak dan tidak bisa terpakai lagi, papan tulis
yang sudah rusak/potong.
4. Kurangnya alat - alat penunjang pembelajaran.
Seperti tidak tersedia spidol di ruang kelas ataupun alat -
alat tulis seperti alat peraga, penggaris, dan lain
sebagainya. Hal tersebut tentunya dapat berpengaruh
terhadap proses pembelajaran misalnya seperti
terhambatnya waktu pembelajaran karena guru harus
mengambil dahulu ke kantor guru.
5. Kurangnya ruang kelas, ruang untuk menyimpan
media pembelajaran ataupun alat - alat sekolah lainnya,
tidak ada lapangan, lahan parkir dan sebagainya.
6. Hilangnya media pembelajaran dan sarana prasarana
di sekolah.
7. Tidak terawatnya sarana dan prasarana di sekolah.
Permasalahan - permasalahan diatas banyak terjadi di
sekolah dasar baik negeri maupun swasta. Hal tersebut
tentunya dilatar belakangi oleh beberapa hal
diantaranya:
1. Kurangnya dana sekolah Banyak dari guru-guru di
sekolah mengeluh bahwa permasalahan sarana dan
prasarana ini diakibatkan oleh kurangnya dana.
Keperluan sekolah yang terlalu banyak membuat dana
yang diberikan tidak cukup untuk memperbaiki,
membeli sarana dan prasarana yang kurang maupun
rusak. Selain itu, penanganan oleh pemerintah jua
terbilang cukup lama untuk mengatasi permasalahan
tersebut, sehingga guru-guru di sekolah beserta staff -
staffnya harus bisa memutar otak untuk menangani hal
tersebut.
2. Hilangnya rasa tanggung jawab warga sekolah dalam
menjaga sarana dan prasarana Selain dari kurangnya
dana, hal yang menjadi penyebab permasalahan-
permasalahan pada sarana dan prasarana muncul yaitu
dikarenakan hilangnya rasa tanggung jawab dari warga
sekolah itu sendiri. Terkadang masih banyak orang
orang yang mencoret-coret meja/kursi, tidak
menyimpan alat alat pembelajaran dengan baik setelah
digunakan, dan lain sebagainya.
3. Kurangnya lahan Kurangnya lahan sekolah juga
menjadi salah satu penyebab kurangnya ruang kelas,
tidak tersedianya lapangan, lahan parkir dan sebagainya.
Faktor - faktor ini lah yang bisa menjadi penyebab dari
munculnya permasalahan-permasalahan sarana dan
prasarana di sekolah dasar.
4. Rendahnya Motivasi Belajar Rendahnya Motivasi Belajar Siswa merupakan kondisi
Siswa di mana siswa mengalami penurunan motivasi dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran, baik di sekolah
maupun di rumah. Rendahnya Motivasi Belajar Siswa
dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan
sosial mereka. Salah satu penyebab utama kurangnya
semangat belajar siswa di SMP Swasta Amir Hamzah
adalah pengaruh teman sebaya dan faktor keluarga.
Lingkungan pergaulan di sekolah memiliki peran besar
dalam membentuk kebiasaan belajar siswa. Jika seorang
siswa berada dalam kelompok teman sebaya yang tidak
memiliki minat terhadap pendidikan, sering bolos, atau
kurang disiplin dalam mengerjakan tugas, maka
kemungkinan besar ia akan terpengaruh dan mengikuti
pola perilaku yang sama. Tekanan dari teman sebaya
juga bisa membuat siswa lebih fokus pada kegiatan di
luar akademik, seperti bermain game, menghabiskan
waktu di media sosial dari pada belajar. Selain pengaruh
teman sebaya, tekanan yang terlalu besar dari orang tua
juga bisa menjadi bumerang. Beberapa siswa
mengalami stres karena tuntutan akademik yang tinggi
dari keluarga, seperti harus mendapatkan nilai sempurna
atau selalu menjadi yang terbaik di kelas. Jika tidak
diimbangi dengan pendekatan yang mendukung dan
pemahaman terhadap kemampuan anak, tekanan ini
justru bisa membuat siswa kehilangan minat belajar dan
merasa terbebani dengan sekolah. Selain itu, kondisi
keluarga yang tidak harmonis, seperti konflik antara
orang tua, kurangnya komunikasi dalam keluarga, atau
kesulitan ekonomi, juga dapat berdampak pada
semangat belajar siswa. Mereka mungkin mengalami
kesulitan berkonsentrasi di kelas karena masalah yang
dihadapi di rumah, sehingga menjadi kurang termotivasi
untuk belajar.
Menurut Riyanti (2022), Motivasi belajar adalah faktor
penting dalam mencapai keberhasilan akademik.
Namun, banyak siswa yang mengalami rendahnya
motivasi belajar, yang dapat berdampak negatif pada
pencapaian mereka di sekolah. Pendidik dan orang tua
perlu memahami faktor-faktor yang memengaruhi
motivasi belajar siswa agar dapat mengatasi masalah ini
dengan efektif. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Rendahnya Motivasi Belajar Siswa :
a. Lingkungan Belajar: Faktor-faktor seperti
kurangnya dukungan dari guru dan teman
sekelas, kurikulum yang tidak menarik, dan
suasana belajar yang tidak kondusif dapat
mengurangi motivasi belajar siswa.
b. Masalah Pribadi: Siswa yang mengalami
masalah pribadi seperti rendahnya rasa percaya
diri, gangguan emosional, atau tekanan dari
lingkungan sekitar dapat mengalami rendahnya
motivasi belajar.
c. Ketidakjelasan Tujuan: Ketidakjelasan tentang
tujuan belajar yang relevan dan penting bagi
siswa dapat mengurangi motivasi mereka untuk
belajar.
5. Problematika dalam Merencanakan dan mengembangkan media
merencanakan dan pembelajaran adalah bagian penting dari proses
Mengembangkan Media pendidikan, terutama di era modern yang menuntut
pembelajaran lebih interaktif dan menarik. Namun, guru
sering menghadapi berbagai masalah dalam proses ini,
baik dari segi teknis, finansial, maupun pedagogis.
Sebagaimana idealnya sebuah pembelajaran, semua
kebijakan yang diterapkan haruslah melalui sebuah
perencanaan. Begitu juga halnya dengan media
pembelajaran IPS, dimana media yang kemudian akan
diterapkan dalam haruslah pertimbangan, berdasarkan
melalui bukan selera. pembelajaran banyak asal pilih
Karena itu, tidaklah heran jika banyak guru yang
kemudian mengalami banyak kendala terkait
perencanaan ini. Guru IPS di SMP Swasta Amir
Hamzah sering dihadapi kendala berupa kesulitan dalam
menentukan media pembelajaran IPS yang sesuai
dengan materi yang ada di dalam kurikulum. Dengan
kata lain bahwa ada beberapa materi pembelajaran yang
sulit untuk dicarikan dan dirangcang medianya.
Beberapa materi yang sulit dicarikan medianya tersebut
adalah seperti tema-tema yang berkenaan dengan
sejarah atau masa lalu. Guru Ips SMP Swasta Amir
Hamzah menyatakan bahwa mencari media
pembelajaran untuk materi masa lampau, seperti sejarah
atau peristiwa lama, lebih sulit daripada materi terkini.
Hal ini disebabkan oleh terbatasnya sumber daya seperti
video, gambar, atau dokumen tentang masa lampau yang
tersedia di internet. Sementara itu materi terkini jauh
lebih mudah ditemukan karena banyak tersedia di
internet dalam bentuk video atau sumber lainnya.
Selanjutnya
kesulitan dalam merancang media pembelajaran IPS
yang berbasis IT. untuk zaman pembelajaran sekarang
berbasis ini media IT sangatlah dianjurkan akan tetapi
menyatakan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam
merancang media pembelajaran IPS berbasis komputer
dari awal. Namun, jika media tersebut sudah tersedia
dan hanya perlu dimanfaatkan, penggunaannya menjadi
lebih mudah. Meskipun demikian, kendala dalam
penggunaan tetap sering terjadi.
Menurut Raihany, dkk (2022), Adapun yang membuat
problematika dalam merancang dan mengembangkan
media tersebut ialah guru merasa repot, mahal, tidak
bisa, tidak tersedia, dan kurang pengarahan (Alwi,
2017). Dengan adanya problematika tersebut membuat
adanya suatu masalah dalam suatu rancangan yang
sudah dilakukan akan menjadi sia-sia, jika media
pembelajaran dan metodenya masih biasa saja dan tidak
bisa memotivasi para siswanya. Adapun masalah yang
sering terjadi adalah ketika seorang guru hanya
menggunakan metode ceramah di depan kelas maka
media yang dipakai hanya media audio dan membuat
para siswanya tidak termotivasi dalam keberlangsungan
pembelajaran. Dalam melakukan pembelajaran tentu
saja kita sudah merencanakan dan mengembangkan
media pembelajaran, tetapi dalam rencana yang sudah di
memiliki pasti ada permasalahan dan banyak
pertimbangan agar tidak asal dalam memilih media
pembelajaran. Karena itu, banyak guru yang kemudian
mengalami kendala terkait perencanaan yang sudah
mereka buat. Biasanya ada guru yang sulit mengaitkan
materi dengan tema-tema media pembelajaran yang
sedang dibahas, maka dari itu muncul suatu
problematika. Ada juga guru yang tidak bisa
menggunakan dan memanfaatkan IT, dengan itu
menimbulkan batas keterampilan dalam merancang dan
mengembangkan media pembelajaran. Terkadang di
dalam suatu sekolah ada yang memiliki keterbatasan
sarana dan prasarana dalam IT yang menjadikan salah
satu faktor utama, dalam masalah mengembangkan
media yang akan digunakan (Putri & Citra, 2019).
6 Alokasi waktu tidak sesuai Tantangan yang sering dihadapi oleh guru dan siswa
selama proses pembelajaran adalah mengatur waktu
pembelajaran. Ketidakseimbangan waktu antara latihan,
evaluasi, dan penyampaian materi merupakan masalah
utama. Kadang-kadang, terlalu banyak waktu
dihabiskan untuk menjelaskan ide-ide, sementara waktu
yang tersedia untuk melakukan praktik atau
mengungkapkan materi sangat terbatas. Karena mereka
tidak memiliki kesempatan untuk menerapkan apa yang
telah mereka pelajari, hal ini dapat menyebabkan siswa
kesulitan memahami topik secara menyeluruh. Jadwal
pembelajaran yang padat dan kaku juga seringkali
mengabaikan kebutuhan siswa seperti waktu untuk
istirahat dan kegiatan ekstrakurikuler. Akibatnya, siswa
dapat menjadi lelah dan tidak fokus.
Faktor penyebab alokasi waktu tidak sesuai:
1. Jam pelajaran di siang hari/ jam terakhir
Dari hasil pengamatan/observasi, pada jam terakhir
siswa kurang fokus memperhatikan guru. Siswa selalu
sibuk sendiri dengan kegiatannya masing-masing.
Terkadang banyak siswa tertidur ketika pelajaran baru
dimulai, siswa tertidur karena lelah setelah seharian
mengikuti pelajaran. Terlebih jika ada tugas pelajaran
produktif, para siswa lebih senang mengerjakan tugas
produktif ketimbang menyimak guru ketika
menerangkan.
2. Metode mengajar yang monoton
Guru menggunakan metode mengajar yang monoton
dan hanya focus pada satu topik pembahasan dan tidak
menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi siswa.
7 Perbedaan kemampuan siswa Setiap siswa memiliki kecepatan, gaya belajar, dan
tingkat pemahaman materi yang berbeda. Beberapa
siswa mampu menyerap informasi dengan cepat dan
mengaplikasikannya dengan baik, sementara yang lain
membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami
konsep yang sama. Berbagai faktor, baik internal
maupun eksternal, bertanggung jawab atas perbedaan ini
(Hamidah, 2021)
Faktor internal:
1. Faktor Fisik
Kondisi anak yang kurang sehat dapat mengalami
kesulitan belajar dan menurunkan prestasi belajar.
Sedangkan anak-anak yang sehat dan cukup gizi tidak
mudah lelah dalam belajar. Anak akan penuh perhatian
untuk menemukan sendiri hal yang ia ingin pelajari.
Anak akan aktif mendengarkan uraian-uraian.
Kesehatan jasmani mempengaruhi prestasi belajar anak.
2. Tingkat kecerdasan
Siswa dengan IQ tinggi umumnya memiliki kemampuan
untuk menyerap informasi lebih cepat, memahami
materi kompleks dengan mudah, dan mengaplikasikan
pengetahuan mereka secara efektif. Namun, penting
untuk diingat bahwa IQ bukanlah satu-satunya penentu
keberhasilan akademis.
Faktor eksternal:
1. Lingkungan keluarga
Siswa yang berasal dari keluarga dengan tingkat
pendidikan rendah atau kurangnya dukungan orang tua
mungkin kesulitan mengikuti pelajaran dibandingkan
siswa yang mendapatkan dukungan penuh dari
keluarganya.
2. Metode mengajar yang tidak sesuai dengan siswa
Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda.
Seorang guru dapat menggunakan gaya belajar yang
berbeda, seperti visual (belajar melalui gambar dan
diagram), auditori (belajar melalui suara dan penjelasan
lisan), atau kinestetik (belajar melalui gerakan dan
praktik langsung). Siswa yang gaya belajarnya tidak
sesuai dengan metode tersebut akan kesulitan
memahami materi.
8 Tekanan dari kurikulum Kurikulum merdeka dimaksudkan untuk memberi guru
dan siswa kebebasan yang lebih besar, tetapi ternyata
dapat menyebabkan beberapa masalah dalam
pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS). Tekanan
untuk menyesuaikan diri dengan kurikulum baru
merupakan masalah utama. Ini menuntut guru untuk
lebih inovatif dan kreatif dalam merencanakan
pembelajaran. Mengubah metode mengajar tradisional
menjadi lebih berbasis proyek, kontekstual, dan
berpusat pada siswa adalah tantangan besar bagi banyak
guru. Selain itu, kurangnya pelatihan dan pemahaman
mendalam tentang Kurikulum Merdeka membuat guru
sulit melaksanakannya dengan baik.
Masalah lain adalah beban administratif yang
meningkat, seperti menyusun modul ajar, merancang
proyek, dan melakukan asesmen yang sesuai dengan
kurikulum merdeka. Hal ini dapat mengurangi fokus
guru pada proses pembelajaran itu sendiri. Di sisi siswa,
Kurikulum Merdeka menuntut kemandirian dan
kemampuan berpikir kritis, yang tidak semua siswa siap
melakukannya. Siswa yang terbiasa dengan sistem
pembelajaran konvensional mungkin kesulitan
beradaptasi dengan pendekatan baru yang lebih fleksibel
dan berbasis proyek.
9 Ketidakhadiran Guru atau Siswa kehilangan kesempatan untuk belajar secara
Pengganti yang Tidak
terstruktur dan efektif ketika guru tidak memiliki
Memadai
pengganti yang kompeten. Pengganti yang kurang
berpengalaman atau tidak memahami materi pelajaran
seringkali tidak mampu menciptakan suasana belajar
yang produktif. Akibatnya, siswa mungkin hanya
diberikan tugas tanpa instruksi yang memadai atau
dibiarkan tanpa aktivitas belajar yang relevan. Selain
itu, ketidakhadiran guru yang sering terjadi dapat
mengganggu kontinuitas pembelajaran, terutama untuk
mata pelajaran yang membutuhkan pemahaman
bertahap seperti matematika atau ilmu pengetahuan
alam. Siswa yang tidak mendapatkan bimbingan
langsung dari guru mungkin kesulitan memahami materi
baru atau melanjutkan pelajaran yang sebelumnya telah
diajarkan. Hal ini dapat menimbulkan ketertinggalan
dalam pencapaian kurikulum dan memengaruhi hasil
belajar siswa secara keseluruhan.
Faktor penyebab:
1. Guru seringkali diharuskan menghadiri rapat
dinas, pelatihan, atau workshop yang diadakan
selama jam sekolah.
2. Perilaku siswa yang sulit diatur atau kurangnya
dukungan dari siswa dapat mengurangi semangat
guru untuk mengajar.
3. Guru yang tidak memiliki komitmen kuat
terhadap profesi mengajar mungkin sering absen
tanpa alasan yang jelas.
4. Jadwal mengajar yang padat dan tidak fleksibel
dapat membuat guru kelelahan dan memilih
untuk absen.
Dampak dari guru yang sering tidak hadir mengajar:
Materi pelajaran tertunda.
Siswa kehilangan motivasi belajar.
Pengganti yang tidak kompeten mengurangi
kualitas pembelajaran.
Pencapaian kurikulum tidak terpenuhi.
10 Pengelolaan waktu siswa Beberapa siswa menghadapi kesulitan dalam mengatur
waktu antara belajar dan kegiatan ekstrakurikuler yang
dapat menyebabkan kelelahan atau penurunan performa
akademik. Masalah ini muncul karena siswa yang lebih
tertarik pada kegiatan ekstrakurikuler dibanding belajar
di kelas sehingga tugas menumpuk, persiapan ujian
yang tidak matang. Manajemen waktu yang tidak baik
membuat siswa kewalahan dan stres dan akhirnya
berdampak negatif pada kesehatan mental dan fizik
meraka. Kelelahan yang berlebihan dapat mengurangi
konsentrasi, motivasi, dan kemampuan mereka untuk
menyerap informasi dengan efektif. Selain itu,
kurangnya waktu untuk istirahat dan relaksasi dapat
memicu burnout, yang semakin memperburuk performa
akademik.