Keanekaragaman Serangga Tanah dan Air
Keanekaragaman Serangga Tanah dan Air
OLEH:
NAMA : MUH FATIH TJOKA
NIM : M011241028
KELAS/KLP : B/8
ASISTEN : 1. MUHAMMAD ALWI SYAIF UMAR
2. ZULFINA NUR ANNIZA Z
ii
DAFTAR GAMBAR
iii
DAFTAR TABEL
iv
BAB I
PENDAHULUAN
Serangga umumnya memiliki tubuh yang kecil dan ringan. Tubuh seperti itu
memungkinkan serangga untuk terbang, melompat, atau berlari cepat. Meskipun
kecil dan ringan, tubuh serangga umumnya juga kuat. Penyebabnya adalah
serangga memiliki rangka luar yang disebut eksoskeleton. Rangka luar tersebut
berlapis zat kitin yang keras dan akan melindungi jaringan otot dan organ-organ
yang terdapat di dalamnya. Seluruh bagian pada permukaan tubuhnya memiliki
berbagai saraf penerima rangsang, seperti cahaya, tekanan, bunyi, temperatur,
angin, dan bau (Wijayanto, 2023).
Kalian telah mengetahui bahwa salah satu ciri serangga adalah memiliki
tubuh yang terbagi atas tiga bagian, yaitu kepala (head), dada (thorax), dan perut
(abdomen). Pada tiap bagian tersebut terdapat berbagai organ yang secara
keseluruhan membentuk struktur tubuh serangga. Nah, bagaimana struktur dari
tiap bagian tersebut? Mari kita ulas bagian tubuh serangga, meliputi kepala, dada,
dan perut (Wijayanto, 2023).
Serangga permukaan tanah merupakan kelompok yang sering
dilupakan bahkan serangga permukaan tanah sering disebut sebagai parasite pada
organisme lain (Rachmasari., et al., 2016). Padahal kelompok ini mempunyai
potensi yang tidak ternilai,terutama membantu dalam perombakan bahan
organik tanah (Marheni., et al., 2017). Kehidupan serangga permukaan tanah
tergantung pada tempat hidupnya dan keberadaan hewan tanah ditentukan
oleh situasi tempat tinggalnya tersebut serta tergantung pada faktor lingkungan
(Pratiwi., et al, 2018).
Serangga permukaan tanah memiliki peranan penting terhadap
keberlangsungan kehidupan vegetasi diatasnya dan berperan penting dalam
ekosistem tanah (Nuraeni & Mangesu, 2017). Serangga memiliki nilai penting
yaitu nilai ekologi, endemisme, konservasi, estetika dan pendidikan serta
ekonomi (Rachmasari, et al., 2016). Serangga merupakan bagian dari
keanekaragaman hayati dengan potensi manfaat terbesar yang harus
5
dijaga kelestariannya dari kepunahan maupun penurunan keanekaragaman
jenisnya (Andriani., et al., 2017).
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kelompok hewan tanah sangat banyak dan beranekaragam dan salah satu
diantara hewan tanah tersebut adalah kelompok arthropoda dari kelas insekta atau
serangga. Pada umumnya hewan tanah dikenal sebagai perombak bahan organik
yang memegang peranan penting dalam daur hara. Peran utama tersebut tidak
dapat dirasakan langsung oleh manusia, tapi dapat dimanfaatkan setelah melalui
jasa biota. Tanpa fauna tanah, perombakan tumpukan bahan organik di sekeliling
kita akan berjalan lambat. Serangga tanah merupakan salah satu kelompok yang
sering dilupakan, padahal kehidupan kelompok ini memiliki hubungan yang
sangat erat dengan keadaan lingkungan tempat hidup. Serangga tanah mempunyai
potensi yang tidak ternilai terutama dalam membantu perombakan bahan organik
tanah, juga menjadi salah satu makhluk penyeimbang lingkungan. Beberapa
diantara serangga tanah dapat digunakan sebagai indikator tingkat kesuburan
tanah atau keadaan tanah. Penelitian serangga tanah ini masih jarang dilakukan
terutama di Indonesia, akibatnya informasi yang terhimpun dari kelompok ini
belum banyak. Oleh karena pada itu serangga tanah mempunyai peranan yang
cukup penting sehingga perlu diungkapkan dengan salah satu cara, yaitu
melakukan inventarisasi (Patang, 2010).
Keanekaragaman merupakan salah satu indikator kestabilan suatu komunitas.
Salah satu sumber daya yang berperan dalam komunitas adalah serangga
permukaan tanah. Serangga sebagai salah satu komponen keanekaragaman hayati
memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu, sebagai herbivor, karnivor,
dan detrivor. Hutan Gunung Geulis yang sebagian dikelola masyarakat
berpengaruh pada kelimpahan, distribusi dan keanekaragaman jenis biota
penghuni Hutan termasuk serangga permukaan tanah. Penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui keanekaragaman, kelimpahan dan distribusi serangga
permukaan tanah pada dua zonasi di Hutan Gunung Geulis yang berbatasan
dengan desa Jatiroke. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari hingga Februari
2014 dengan menggunakan metode survei yaitu pengambilan sampel serangga
7
secara langsung dengan menggunakan pitfall trap. Setiap zonasi dipasang 30
pitfall trap. Jebakan dipasang selama 24 jam dan dilakukan sampling setiap satu
minggu sekali selama 5 minggu. Selain itu juga mencatat faktor lingkungan seperti
kelembaban tanah, pH tanah, dan ketebalan seresah. Hasil penelitian didapat pada
zona 2 (600 mdpl) terdapat jumlah individu serangga yang relatif lebih banyak
dibandingkan dengan zona 1 (400 mdpl), dengan komposisi serangga 7 ordo
dengan 14 famili dari (1001 individu) pada zona 1, sedangkan pada zona 2
didapatkan 6 ordo dengan 13 famili dari (1077 individu). Adanya perbedaan pH
tanah, ketebalan serasah, serta vegetasi pada kedua zona tersebut memungkinkan
adanya perbedaan keanekaragaman dan komposisi serangga tanah ( ida, 2017).
2.2 Karakteristik Serangga Akuatik
Serangga akuatik dapat digunakan sebagai model dalam menganalisis
struktur dan fungsi dari ekosistem air tawar disebabkan oleh kelimpahan yang
tinggi, kecepatan pertumbuhan yang tinggi dengan masa hidup yang pendek,
biomassa besar dan proses kolonisasi yang cepat pada habitat air tawar (Solanki &
Shukla 2015). Keberadaan serangga akuatik dari famili tertentu dapat mengindikasi
kesehatan perairan (Choudary & Ahi 2015). Salah satu dari jenis serangga
akuatik adalah ordo Diptera. Representasi dari Diptera (lalat, nyamuk, dan
asosiasinya) merupakan serangga holometabola yang dibedakan dengan
serangga lainnya melalui kehadiran sepasang sayap fungsional pada dewasa.
Karakter inilah yang mendasari nama diptera (di: dua; ptera: sayap) (Fusari et al.
2018).
Salah satu ekosistem akuatik yang ada di Kabupaten Bogor adalah Sungai
Cigambreng yang berlokasi pada kecamatan Tenjolaya. Kecamatan Tenjolaya
sendiri merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bogor yang memiliki
luas 23,83m2 (BPS Kabupaten Bogor 2019). Sungai Cigambreng dimanfaatkan
oleh masyarakat setempat untuk sumber pengairan persawahan, mencuci pakaian
serta dari sisi ekologi merupakan tempat terjadinya proses interaksi antar
hewan-hewan akuatik. Sehingga, kajian tentang produktivitas sekunder di
daerah Sungai Cigambreng penting untuk dilakukan sebagai salah satu aspek
pertimbangan dalam pengelolaan sungai tersebut. pengambilan contoh organisme
bentik pada tiap stasiun menggunakan surber dengan tiga sub stasiun. Secara
8
geografis DAS Cisadane terletak pada 106020’50’’-106028’20’’BT dan 600’59’’-
6047’02’’LS. Berdasarkan citra DEM, luas DAS Cisadane adalah 1.372,34
km2dengan panjang sungai utama adalah 292,71 km (Junaidi 2014).
2.3 Keragaman Serangga
Keragaman serangga dinilai dapat memberikan kontribusi terhadap
kehidupan manusia, termasuk peranan serangga dalam suatu agroekosistem.
Serangga memiliki berbagai peranan dalam agroekosistem meliputi serangga hama,
polinator, predator, parasitoid, dan dekomposer. Monitoring serangga merupakan
langkah awal yang dapat dilaksanakan guna mengetahui keragaman dan keberadaan
serangga dalam suatu agroekosistem. Informasi mengenai keragaman serangga
serta peranannya terhadap agroekosistem di kota Tasikmalaya masih sangat terbatas
sehingga dirasa perlu untuk melaksanakan monitoring keragaman serangga. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pemasangan light trap pada 6
kecamatan berbeda di kota Tasikmalaya yaitu kecamatan Cihideung, Mangkubumi,
Tawang, Tamansari, Kawalu, dan Cibeureum selama tiga hari. Serangga yang
terperangkap kemudian diidentifikasi dan ditentukan peranannya terhadap
agroekosistem. Berdasarkan hasil pemasangan perangkap dan identifikasi,
didapatkan 15 spesies serangga berbeda. Sembilan spesies berperan sebagai hama:
Drosophila spp., Oryctes rhinoceros, Lepidioma stigma, Leptocorisa acuta,
Acanthocephala spp., Scirpophaga innotata, Helicoperva armigera, Spodoptera
frugiperda, dan Spodoptera litura. Tiga spesies sebagai polinator: Anopheles spp.,
Musca domestica, dan Camponotus pennsylvanicus (Shahabuddin et al., 2015)
Indonesia merupakan negara dengan kekayaan hayati tinggi (mega
biodiversity), termasuk keragaman jenis serangga yang berlimpah, sekitar 250.000
jenis atau 15% dikenal di Indonesia (Shahabuddin et al., 2015). Keberadaan
serangga yang berlimpah berbanding lurus dengan tingkat keragaman serangga dan
menjadi indikator keseimbangan ekosistem. Keseimbangan ekosistem dikatakan
stabil apabila dalam suatu ekosistem memiliki keragaman serangga yang tinggi dan
sebaliknya, keragaman serangga yang rendah maka ekosistem tersebut tidak stabil
atau seimbang (Alrazik et al., 2017). Serangga dalam suatu ekosistem dapat
memberikan kontribusi terhadap kehidupan manusia, termasuk peranan serangga
dalam ekosistem pertanian (agroekosistem) yang diusahakan manusia. Serangga
9
memiliki berbagai peranan penting diantaranya sebagai hama (Fakhrah, 2016),
penyerbuk atau polinator, predator atau parasitoid (Satria et al., 2017), dekomposer
(Hasyimuddin et al., 2017), maupun serangga yang dianggap netral atau tidak
memiliki dampak langsung terhadap tanaman budidaya. Serangga merupakan
organisme yang sangat adaptif karena ditunjang oleh kemampuan berkembang biak
yang tinggi, siklus hidup yang singkat, dapat mengkonsumsi inang yang beragam
(polifagus), serta perilaku beradaptasi, Kemampuan-kemampuan tersebut yang
menunjang serangga untuk beradaptasi dan menempati hampir seluruh ekosistem
di permukaan bumi. Bentuk adaptasi serangga terhadap lingkungan menjadikan
serangga memiliki waktuwaktu aktif tertentu. Berdasarkan aktivitasnya, serangga
dikelompokan menjadi serangga diurnal dan nokturnal. Serangga diurnal
merupakan serangga yang aktif pada siang hari, sedangkan serangga nokturnal
merupakan serangga yang aktif pada malam hari (Satria et al., 2017).
2.4 Habitat Serangga
Keberadaan serangga pada suatu habitat pertanian dipengaruhi oleh
beberapa faktor salah satunya adalah habitat alami. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mempelajari pengaruh jarak habitat alami terhadap keanekaragaman dan
kelimpahan serangga pengunjung bunga pada pertanaman mentimun. Penelitian
dilakukan di lahan mentimun pada 12 lokasi yang terletak di Kabupaten Bogor,
Cianjur, dan Sukabumi, Jawa Barat. Jarak habitat alami dengan lahan pertanian
dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu dekat dengan habitat alami (kurang
dari 200 m) dan jauh dari habitat alami (lebih dari 1000 m). Pengamatan
serangga pengunjung bunga mentimun dilakukan dengan cara menghitung
jumlah serangga pengunjung bunga mentimun yang hinggap pada 100 unit bunga
yang dilakukan pada empat transek berbeda. Penghitungan jumlah serangga
pengunjung bunga dilakukan pada empat waktu yang berbeda dan pada hari
yang berbeda. Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan jarak habitat alami
dengan lahan pertanian berpengaruh terhadap keanekaragaman spesies serangga
pengunjung bunga, tetapi tidak berpengaruh terhadap kelimpahannya. Spesies
serangga pengunjung bunga dominan yang ditemukan di pertanaman mentimun
adalah Aphis sp., Tapinomasp., dan Thripsparvispinus Karny, sedangkan serangga
penyerbuk dominan yang ditemukan adalah Apiscerana Fabricius. Jarak habitat
10
alami dari lahan pertanian berpengaruh terhadap keberadaan serangga
pengunjung bunga khususnya serangga penyerbuk yang memiliki peran penting
dalam meningkatkan hasil pertanian (Garibaldi et al. 2016).
Keberadaan serangga pada suatu habitat pertanian dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya teknik budi daya, seperti monokultur maupun
polikultur, penggunaan insektisida , dan keberadaan habitat alami. Habitat alami
disekitar lahan pertanian didefinisikan sebagai area yang memiliki luasan
minimal 0,5 ha yang didalamnya terdapat berbagai jenis tanaman tahunan dan tidak
dimanfaatkan untuk budi daya tanaman . Habitat alami dapat menyediakan
sumber daya penting bagi serangga berguna, yaitu menyediakan sumber daya,
seperti makanan, inang alternatif, dan tempat berlindung. Walaupun demikian,
kekayaan dan kelimpahan spesies serangga penyerbuk pada suatu habitat
pertanian dipengaruhi oleh jarak habitat alami dari lahan pertanian (Garibaldi
et al. 2016).
11
BAB III
METODE PRAKTIKUM
12
3.3.2 Alat Dan Bahan Serangga Akuatik
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini, sebagai berikut:
1. Sweet Net, sebagai alat menangkap serangga.
2. Pinset, sebagai alat untuk mengambil serangga sampel serangga yang
didapat.
3. Kamera, sebagai media dokumentasi kegiatan praktikum.
4. Botol Sampel, sebagai media penyimpanan serangga yang telah didapat.
5. ATM, sebagai alat penunjang praktikum.
Adapun Bahan Yang Digunakan Pada Praktikum Serangga Akuatik, Sebagai
berikut:
1. Alkohol70 %, sebagai media larutan untuk mematikan serangga.
1. Pergi ke titik atau lokasi yang telah ditentukan dan ambil titik koordinat
sungai yang ditempati ambil sampel.
2. Cari serangga yang terdapat di permukaan sungai, pertengahan sungai,
sampai ke dasar sungai menggunakan sweep net.
3. Setelah itu serangga yang sudah ada dimasukkan kebotol sampel yang berisi
13
alkohol 70%.
H’ = -Ʃ[Link] pi pi =ni/N
Dimana
Keterangan :
H’ = Indeks keanekaragaman
‘W
14
3.4.2 Indeks Kemerataan Eveness
Keterangan :
Keterangan :
15
Tabel 3. Klasifiikasi nilai indeks kekayaan jenis Margalef
ni
D=Ʃ
N
Keterangan :
D = Indeks dominansi
16
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Lokasi praktikum yang saya amati merupakan area terbuka yang terdiri atas
dua tipe habitat, yaitu habitat darat (permukaan tanah) dan habitat perairan. Kondisi
lingkungannya tergolong cukup alami, dengan tingkat gangguan manusia yang
minim. Di bagian permukaan tanah, terdapat banyak serasah berupa daun-daun
kering, ranting kecil, dan batu-batuan yang tersebar. Tanah di lokasi ini cenderung
lembap, terutama setelah hujan, dan hal tersebut mendukung aktivitas berbagai
jenis serangga tanah.
Sementara itu, habitat perairan berada tidak jauh dari area darat. Airnya
tenang dan cukup jernih, dengan kedalaman yang dangkal. Di sekitar perairan
tumbuh beberapa tanaman air serta vegetasi liar seperti rumput dan semak. Saya
juga mengamati adanya aktivitas serangga air seperti jentik nyamuk dan serangga
yang berjalan di permukaan air.
Secara keseluruhan, lokasi ini mendukung keanekaragaman serangga karena
menyediakan berbagai mikrohabitat yang sesuai untuk hidup dan berkembang
biaknya serangga tanah maupun serangga air. Kombinasi antara kondisi tanah,
keberadaan vegetasi, serta kualitas air menjadi faktor penting yang memungkinkan
banyak jenis serangga dapat ditemukan dan diamati di lokasi ini..
17
Tabel 5. Data serangga akuatik.
18
berwarna coklat populasi
tua hingga organisme di
kehitaman, dengan habitat
panjang tubuh perairan.
umumnya sekitar Selain itu,
8–10 mm. keberadaan
Gerris
marginatus
juga dapat
menjadi
indikator
kualitas air,
karena mereka
lebih banyak
ditemukan di
perairan yang
relatif bersih
dan alami.
2 Kingdom: Animalia Gerris lacustris Serangga
Phylum: adalah serangga Gerris
Arthropoda akuatik dari famili lacustris, yang
Class: Insecta Gerridae yang dikenal sebagai
Order: Hemiptera dikenal sebagai water strider,
19
dilengkapi dengan mengendalikan
kaki panjang dan populasi
tipis yang serangga kecil
memungkinkannya dan organisme
berjalan di atas lain yang jatuh
permukaan air ke air,
berkat tegangan sehingga
permukaan. Gerris menjaga
lacustris hidup di keseimbangan
permukaan ekosistem.
perairan tenang Selain itu,
seperti kolam, Gerris
danau, dan sungai lacustris juga
lambat, dan menjadi
berburu serangga indikator
kecil yang jatuh ke kualitas air,
air. Adaptasinya karena
yang unik kehadirannya
membuatnya mencerminkan
sangat sensitif kondisi
terhadap getaran lingkungan
air untuk perairan yang
mendeteksi relatif bersih
mangsa atau dan stabil.
ancaman.
3 Kingdom: Serangga dalam Serangga
Animalia tribus Metrocirini dalam tribus
Phylum: merupakan Metrocirini
Arthropoda anggota dari famili memiliki peran
Class: Insecta Phlaeothripidae ekologis yang
20
Family: Sebagai tribus, herbivora
Phlaeothripidae Metrocirini maupun
mencakup predator.
berbagai genus
yang memiliki
kesamaan ciri
morfologi dan
genetik. Anggota
Metrocirini
umumnya
memiliki tubuh
kecil hingga
sedang, dengan
sayap sempit dan
berbulu, serta
tubuh yang
memanjang dan
ramping. Sebagian
besar spesies
dalam Metrocirini
berperan sebagai
predator alami dari
serangga kecil
lainnya.
4 Kingdom: Notonecta glauca, Sebagai
Animalia yang dikenal predator,
Phylum: sebagai common Notonecta
Arthropoda backswimmer atau glauca
Class: Insecta greater water- membantu
Order: Hemiptera boatman, adalah mengendalikan
Notonecta glauca Family: serangga air populasi
Notonectidae pemangsa yang spesies inang,
21
Genus: Notonecta termasuk dalam yang pada
famili gilirannya
Notonectidae. dapat
Serangga ini dapat mempengaruhi
ditemukan di dinamika
habitat air tawar rantai makanan
yang tenang dan kualitas
seperti kolam, air. Selain itu,
danau, rawa, dan serangga ini
saluran air lambat juga berfungsi
di berbagai sebagai
belahan dunia, mangsa bagi
termasuk Eropa, predator lain,
Asia, dan Afrika seperti ikan
Utara. Dengan dan amfibi,
panjang tubuh menjadikannya
sekitar 13–16 mm, bagian integral
Notonecta glauca dari jaring-
memiliki tubuh jaring makanan
ramping berwarna akuatik.
coklat terang
dengan mata besar
berwarna merah.
5 Kingdom: Rhagovelia obesa Rhagovelia
Animalia adalah spesies obesa berperan
Phylum: serangga air kecil sebagai
Arthropoda dari keluarga predator yang
Class: Insecta Veliidae yang memakan
Rhagovelia obesa Order: Hemiptera termasuk dalam invertebrata
Family: Veliidae ordo Hemiptera. kecil dan
Genus: Dikenal sebagai materi organik
Rhagovelia "water strider" di permukaan
22
kecil, serangga ini air, membantu
memiliki panjang mengendalikan
tubuh sekitar 3,7– populasi larva
4,5 mm dan tubuh nyamuk dan
pipih yang menyediakan
memungkinkan makanan bagi
mereka bergerak predator
di permukaan air. tingkat lebih
Mereka umumnya tinggi.
ditemukan di
habitat air tawar
seperti sungai
kecil dan kolam di
wilayah timur
Amerika Utara,
dari Nova Scotia
hingga Florida dan
Mississippi.
23
Tabel 6. Data serangga permukaan tanah.
24
hektar. Sebagai itu, semut ini
omnivora melindungi
oportunistik, serangga
semut ini pengisap cairan
memangsa tanaman seperti
berbagai kutu daun dan
invertebrata dan kutu putih,
memelihara yang dapat
serangga merusak
penghisap getah tanaman
seperti kutu daun pertanian.
untuk
mendapatkan
cairan manis.
2 Kingdom: Ceuthophilus Ceuthophilus
Animalia stygius adalah stygius, dikenal
Phylum: spesies jangkrik sebagai
Arthropoda unta dari "Kentucky cave
Class: Insecta keluarga cricket" atau
Order: Rhaphidophorida "camel cricket,"
Ceuthophilus
Orthoptera e yang ditemukan adalah serangga
stygius
Family: di Amerika nokturnal yang
Rhaphidophorida Utara. Serangga berperan
e ini memiliki penting dalam
Genus: tubuh ekosistem gua.
Ceuthophilus melengkung ke Sebagai
atas, antena trogloxene, ia
panjang, dan kaki menggunakan
belakang yang gua sebagai
kuat, namun tempat
tidak memiliki berlindung di
sayap . Sebagai siang hari dan
25
troglofil, C. keluar pada
stygius malam hari
menggunakan untuk mencari
gua sebagai makan dan
tempat bertelur di luar
berlindung di gua. Melalui
siang hari dan aktivitas ini, C.
keluar untuk stygius
mencari makan membawa
serta bertelur di energi dan
luar gua pada nutrisi dari luar
malam hari. ke dalam gua,
Reproduksi mendukung
spesies ini kehidupan
bersifat musiman, organisme gua
dengan telur lainnya yang
ditemukan bergantung
terutama pada pada sumber
bulan Agustus daya eksternal.
hingga Oktober . Kotoran, telur,
dan bangkai C.
stygius menjadi
sumber
makanan utama
bagi spesies
gua seperti
kumbang dan
laba-laba
troglobitik.
26
3 Kingdom: Teleogryllus Serangga dari
Animalia adalah genus genus
Phylum: serangga dari Teleogryllus,
Arthropoda famili Gryllidae memiliki peran
Teleogryllus Class: Insecta yang tersebar penting dalam
Order: luas di Afrika, ekosistem
Orthoptera Asia, Australia, sebagai
Family: dan kepulauan omnivora yang
Gryllidae Pasifik. Serangga membantu
Genus: ini memiliki dalam
Teleogryllu tubuh berwarna dekomposisi
cokelat tua materi organik
hingga hitam, dan sebagai
panjang sekitar sumber
2,5–3 cm, dengan makanan bagi
antena panjang predator seperti
dan kaki kelelawar,
belakang yang burung, dan
kuat untuk reptil. Mereka
melompat. juga berperan
Mereka aktif di dalam studi
malam hari, ilmiah
bersembunyi di mengenai
siang hari, dan perilaku,
memakan materi fisiologi, dan
tanaman serta ekologi, serta
sisa-sisa digunakan
serangga. Jantan sebagai model
menghasilkan dalam
suara khas penelitian
dengan neuroetologi.
menggesekkan Namun,
27
sayap depan beberapa
untuk menarik spesies dapat
betina. Dalam menjadi hama
ekosistem, pertanian
mereka berperan dengan
sebagai pemakan merusak
detritus dan juga tanaman di
sebagai hama ladang dan
pertanian karena kebun. Selain
dapat merusak itu, mereka
tanaman. Siklus berkontribusi
hidupnya pada siklus
berlangsung nutrisi tanah
beberapa bulan, melalui
dengan betina aktivitas makan
mampu bertelur dan ekskresi
hingga 2.000 mereka.
butir selama
masa hidupnya.
4 Kingdom: Acheta Acheta
Animalia domesticus domesticus,
Phylum: adalah spesies atau jangkrik
Arthropoda serangga dari rumah,
Class: Insecta ordo Orthoptera memiliki peran
Archeta
Order: yang berasal dari beragam dalam
domesticus
Orthoptera Asia Barat Daya ekosistem dan
Family: dan kini tersebar kehidupan
Gryllidae luas di seluruh manusia. Di
Genus: Acheta dunia. Serangga bidang
ini memiliki pertanian,
tubuh berwarna serangga ini
cokelat dapat berperan
28
kekuningan sebagai hama
dengan panjang (Organisme
sekitar 16–21 Pengganggu
mm. Ciri khasnya Tanaman/OPT)
adalah tiga garis yang merusak
gelap melintang tanaman seperti
di kepala dan pakcoy dan
antena panjang kubis dengan
yang melebihi memakan
panjang bagian-bagian
tubuhnya. tanaman .
Namun, secara
ekologis,
mereka juga
berkontribusi
dalam daur
ulang materi
organik di
tanah. Selain
itu, Acheta
domesticus
telah
dimanfaatkan
sebagai sumber
protein
alternatif yang
berkelanjutan
dalam industri
pangan dan
pakan, karena
nilai gizinya
yang tinggi dan
29
efisiensi
produksinya .
5 Kingdom: Paraponera Paraponera
Animalia clavata, dikenal clavata, atau
Phylum: sebagai semut lebih dikenal
Arthropoda peluru, adalah sebagai semut
Class: Insecta spesies semut peluru,
Paraponera
Order: besar yang memainkan
clavata
Hymenoptera berasal dari hutan peran sebagai
Family: hujan tropis predator, semut
Formicidae Amerika Tengah ini membantu
Genus: dan Selatan. mengendalikan
Paraponera Semut ini populasi
terkenal karena serangga kecil
sengatannya yang dan arthropoda
sangat lainnya,
menyakitkan, menjaga
digambarkan keseimbangan
seperti terkena ekologis. Selain
tembakan peluru, itu, mereka
dan dianggap juga berperan
sebagai salah satu sebagai
sengatan pemulung,
serangga paling memecah
menyakitkan di materi organik
dunia. Semut dan
peluru memiliki berkontribusi
tubuh berwarna pada siklus
hitam kemerahan nutrien di
dengan panjang dalam tanah.
sekitar 2–3 cm, Aktivitas
dan biasanya foraging
30
membangun mereka, yang
sarangnya di mencakup
pangkal pohon di pencarian
hutan dataran nektar dan
rendah yang mangsa di
lembap. kanopi hingga
ke permukaan
tanah,
mendukung
dinamika rantai
makanan dan
penyebaran
energi dalam
ekosistem.
6 Kingdom: Thrips tabaci, Thrips tabaci,
Animalia dikenal sebagai atau yang
Phylum: thrips bawang, dikenal sebagai
Arthropoda adalah serangga thrips bawang,
Thrips tabaci Class: Insecta kecil berukuran merupakan
Order: sekitar 1 mm serangga hama
Thysanoptera dengan tubuh pertanian yang
Family: ramping tersebar luas
Thripidae berwarna kuning dan memiliki
Genus: Thrips pucat hingga dampak
cokelat tua dan signifikan
sayap sempit terhadap
berjumbai. berbagai
Serangga ini tanaman
merupakan hama budidaya di
pertanian penting seluruh dunia.
yang menyerang Serangga kecil
berbagai tanaman ini menyerang
31
seperti bawang, tanaman
kubis, kentang, dengan cara
dan tomat. menusuk
Dengan alat jaringan daun
mulut tipe menggunakan
menusuk dan alat mulutnya
menghisap, T. yang khas,
tabaci merusak kemudian
jaringan tanaman mengisap
dengan cairan sel
menghisap cairan tanaman.
sel, menyebabkan Akibatnya,
bercak keperakan daun
pada daun dan mengalami
menghambat perubahan
pertumbuhan warna menjadi
tanaman. perak atau
putih,
pertumbuhan
tanaman
terhambat, dan
hasil panen
menurun secara
drastis. Selain
kerusakan fisik,
T. tabaci juga
berperan
sebagai vektor
bagi beberapa
virus tanaman
penting, seperti
Tomato Spotted
32
Wilt Virus
(TSWV), Iris
Yellow Spot
Virus (IYSV),
dan Tobacco
Streak Virus
(TSV), yang
dapat
menyebabkan
kerusakan lebih
lanjut pada
tanaman inang.
7 Kingdom: Scarabaeus Scarabaeus
Animalia viettei adalah viettei,
Phylum: spesies kumbang memiliki peran
Arthropoda pelotero dari ekologis yang
Class: Insecta keluarga sangat penting
Scarabaeus viettei
Order: Coleopter Scarabaeidae. dalam menjaga
Family: Kumbang ini keseimbangan
Scarabaeidae memiliki panjang ekosistem.
Genus: tubuh sekitar Sebagai
Scarabaeus 21,5 hingga 23,0 pemakan
mm dan kotoran
menunjukkan (coprophagous)
dimorfisme , kumbang ini
seksual; pejantan membantu
memiliki kepala dalam proses
dengan karina daur ulang
frontal, nutrisi dengan
sedangkan betina mengonsumsi
memiliki tuberkel dan mengubur
kotoran hewan,
33
konikal di area yang
tersebut. mempercepat
pengembalian
unsur hara ke
dalam tanah.
Selain itu,
aktivitas
mereka juga
berkontribusi
pada
penyebaran biji
secara
sekunder, yang
mendukung
regenerasi
tanaman dan
keanekaragama
n hayati.
A. Indeks Keanekaragaman
Serangga Akuatik
1
0,8
0,6
0,4
0,2
0
Permukaan Tengah Dasar
34
komunitas serangga di permukaan tanah cenderung didominasi oleh satu jenis
spesies saja, atau bahkan tidak ditemukan adanya kehadiran serangga saat waktu
pengambilan sampel. Ketidakhadiran keragaman ini dapat disebabkan oleh kondisi
lingkungan yang kurang mendukung atau gangguan antropogenik yang
menyebabkan berkurangnya keanekaragaman serangga di permukaan tanah.
B. Indeks Kekayaan
Kekayaan
2,5
2
1,5
1
0,5
0
Permukaan Tengah Dasar
35
C. Indeks Dominansi
Serangga Dominansi
1,2
1
0,8
0,6
0,4
0,2
0
Permukaan Tengah Dasar
Kemerataan
1
0,8
0,6
0,4
0,2
0
Permukaan Tengah Dasar
36
4.3.2 Serangga Permukaan Tanah
A. Indeks Keanekaragaman
Serangga Tanah
0
-0,1 Perangkap 1 Perangkap 2 Perangkap 3
-0,2
-0,3
-0,4
-0,5
-0,6
-0,7
-0,8
Kekayaan
3,5
3
2,5
2
1,5
1
0,5
0
Perangkap 1 Perangkap 2 Perangkap 3
37
Grafik indeks kekayaan menunjukkan bahwa kekayaan serangga permukaan
tanah tertinggi terdapat pada lokasi p2 dengan nilai sebesar 2,88. Hal ini
menunjukkan bahwa pada lokasi tersebut kaya akan beberapa jenis serangga.
Sementara itu, pada lokasi p1 sebesar 0,25 dan p3 tercatat sebesar 2,23. Hal ini
mengindikasikan bahwa penyebaran jumlah kekayaan serangga permukaan tanah
lebih besar pada lokasi p2, kemudian p3, dan terakhir yaitu lokasi p1. Perbedaan
tingkat kekayaan ini bisa mencerminkan adanya perbedaan kondisi lingkungan atau
sumber daya di tiap lokasi yang memengaruhi struktur komunitas serangga
permukaan tanah
C. Indeks Dominansi
Serangga Dominansi
1,2
1
0,8
0,6
0,4
0,2
0
Perangkap 1 Perangkap 2 Perangkap 3
38
D. Indeks Kemerataan
Kemerataan
0
-0,2 Perangkap 1 Perangkap 2 Perangkap 3
-0,4
-0,6
-0,8
-1
-1,2
Pada gambar grafik di atas, terlihat bahwa nilai indeks kemerataan pada lokasi
p2 adalah sebesar -1, sementara pada lokasi p1 dan p3 indeks kemerataan bernilai
0. Hal ini menunjukkan bahwa kemerataan spesies serangga betul-betul tidak
ditemukan pada lokasi p2, sedangkan pada lokasi p1 dan p3 memang tidak
ditemukan keanekaragaman spesies. Nilai indeks keanekaragaman ini
mengindikasikan seberapa banyak jenis serangga yang berhasil diidentifikasi dalam
masing-masing lokasi sampling. Semakin tinggi nilai indeks, semakin beragam
spesies yang ada. Sebaliknya, nilai 0 menunjukkan tidak adanya kemerataan spesies
pada lokasi tersebut, terlebih jika menyentuh nilai minus. Hasil ini memperlihatkan
adanya perbedaan tingkat kemerataan serangga antar lokasi yang diamati dalam
praktikum.
39
BAB V
PENUTUP
5.2 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu:
1. Identifikasi berbagai jenis serangga tanah merupakan langkah awal yang
penting dalam memahami keragaman hayati yang ada di dalam tanah. Dengan
mengenali spesies-spesies tertentu secara morfologis maupun taksonomis,
kita dapat menentukan fungsi ekologis masing-masing serangga, seperti
sebagai dekomposer, predator alami, penyerbuk, maupun hama. Proses
identifikasi ini juga memberikan dasar yang kuat untuk studi lebih lanjut
terkait interaksi ekologis, distribusi geografis, dan potensi pemanfaatannya
dalam bidang pertanian dan konservasi. Selain itu, identifikasi yang akurat
memungkinkan pemantauan dinamika populasi dan deteksi dini terhadap
gangguan ekosistem.
2. Teknik pengambilan sampel yang tepat sangat penting untuk memperoleh
data yang representatif mengenai populasi serangga tanah. Berbagai metode
seperti perangkap jebakan tanah (pitfall trap), ekstraksi tanah (Berlese-
Tullgren funnel), dan pengayakan tanah memungkinkan pengumpulan
spesimen secara efisien. Setelah sampel diperoleh, analisis data menjadi
krusial untuk menilai kepadatan populasi, indeks keanekaragaman, dan
distribusi spasial serangga. Penguasaan teknik-teknik ini mendukung kajian
ilmiah yang lebih akurat dan valid, serta menjadi dasar dalam perencanaan
pengelolaan tanah yang berwawasan lingkungan.
3. Serangga tanah memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan
ekosistem, khususnya dalam proses-proses seperti dekomposisi bahan
organik, sirkulasi unsur hara, dan pembentukan struktur tanah. Interaksi
antara serangga tanah dan tanaman, baik secara langsung (misalnya sebagai
herbivora atau polinator) maupun tidak langsung (misalnya melalui
perubahan struktur tanah), berkontribusi terhadap produktivitas pertanian dan
kesehatan lingkungan. Pemahaman yang mendalam terhadap interaksi ini
memungkinkan kita mengoptimalkan peran positif serangga tanah dalam
sistem pertanian berkelanjutan dan konservasi sumber daya alam.
40
4. Aktivitas manusia seperti penggunaan pestisida kimia, pembukaan lahan,
urbanisasi, dan pencemaran tanah dapat memberikan tekanan ekologis yang
signifikan terhadap populasi serangga tanah. Perubahan ini seringkali
menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati, hilangnya spesies lokal,
dan terganggunya rantai makanan dalam tanah. Dengan memahami dampak-
dampak tersebut, kita dapat merancang strategi mitigasi yang lebih bijaksana,
seperti penggunaan pestisida ramah lingkungan, praktik pertanian konservasi,
dan restorasi habitat. Kesadaran akan dampak aktivitas manusia juga penting
dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan
ekosistem tanah bagi keberlangsungan kehidupan manusia dan alam secara
keseluruhan.
5.2 Saran
41
DAFTAR PUSTAKA
42
Universitas Hasanuddin. Jurnal Satria Seri Ilmu Pengetahuan Alam,
32, 62–69.
Patang, Fatmawati. 2010. Keanekaragaman Takson Serangga Dalam Tanah Pada
Areal Hutan Bekas Tambang Batubara PT. Mahakam Sumber Jaya
Desa Separi Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur. Issn 1829-7226
Bioprospek Volume 7 Nomor [Link]
Pratiwi, D. I., Arisandy, D. A., & Febrianti, Y. (2018). Keanekaragaman Serangga
Permukaan Tanah di Kebun Kopi Desa Belumai Kecamatan Padang
Ulak Tanding Kabupaten Rejang Lebong. Lubuklinggau: STKIP-
PGRI Lubuklinggau.
Rachmasari, O. D., Prihanta, W., & Susetyarini, R. E. (2016). Keanekaragaman
Serangga Permukaan Tanah di Arboretum Sumber Brantas Batu-
Malang sebagai Dasar Pembuatan Sumber Belajar Flipchart. Jurnal
Pendidikan Biologi Indonesia, 2(2), 188–197
Satria, R., Viet, B. T., & Eguchi, K. (2017). New synonymy and redescription of
Anochetus mixtus Radchenko, 1993, and distinction from the other
members of the Anochetus rugosus group (Hymenoptera:
Formicidae: Ponerinae). Asian Myrmecology, 9(1993).
Shahabuddin, Hidayat, P., Nordjito, W. A., & Manuwoto, S. (2015). Research on
insect biodiversity in Indonesia: Dung beetles (Coleoptera:
Scarabaeidae) and its role in ecosystem. Biodiversitas, Journal of
Biological Diversity, 6(2), 141–146.
Solanki R, Shukla A. 2015. Aquatic insects for biomonitoring freshwater
ecosystems: A report. International Journal of Science and
Research. 6(2): 2056-2058.
Wahyudi, W. (2023). Mengenal Kehidupan Serangga. CV. Media Edukasi
Creative.
43
LAMPIRAN
44
Lampiran 2. Sampul Referens
45
46
1