KERANGKA BAHAN AJAR PROYEK PLH SD
BERBASIS CRT/ETNOPEDAGOGI
1. Judul Proyek
"Menjaga Dan Melestarikan Lingkungan Hidup Mata Air Ciguriang"
Reihad Abiyoga & Jainal Mauludin
2. Latar Belakang (±750 kata)
Isi Pokok:
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di Sekolah Dasar merupakan proses pembelajaran yang
bertujuan untuk membentuk sikap dan perilaku ramah lingkungan sejak usia dini. PLH tidak
hanya menanamkan pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran dan
tanggung jawab peserta didik terhadap keberlanjutan hidup di bumi. Menurut Saribanon et al.
(2021), PLH di tingkat dasar berperan penting dalam membentuk karakter anak yang peduli
terhadap lingkungan karena pada masa ini anak berada dalam tahap perkembangan moral dan
kognitif yang pesat. Namun, tantangan global seperti krisis air bersih, kerusakan ekosistem,
serta meningkatnya bencana akibat perubahan iklim mengharuskan pendekatan pembelajaran
yang lebih kontekstual dan bermakna. Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di Sekolah Dasar
merupakan proses pembelajaran yang bertujuan untuk menanamkan kesadaran, pengetahuan,
serta keterampilan kepada peserta didik sejak dini dalam menjaga dan melestarikan lingkungan
hidup. Melalui PLH, siswa diajak untuk memahami keterkaitan antara manusia dan lingkungan
serta pentingnya perilaku yang ramah lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sekolah Dasar menjadi tempat strategis untuk membentuk karakter peduli lingkungan karena
pada tahap inilah nilai-nilai dasar mulai tertanam kuat. Namun, agar pembelajaran PLH lebih
bermakna dan kontekstual, perlu adanya integrasi dengan budaya lokal. Pendekatan Culturally
Responsive Teaching (CRT) dan etnopedagogi menjadi jawaban untuk menjembatani kebutuhan
ini. CRT menekankan pada relevansi budaya dalam pembelajaran, sementara etnopedagogi
berangkat dari kearifan lokal dan tradisi masyarakat sebagai sumber belajar. Integrasi nilai-nilai
lokal ini menjadikan siswa tidak hanya paham secara teoritis, tetapi juga mampu meresapi
pentingnya menjaga lingkungan melalui contoh konkret dari komunitas mereka sendiri. Di sisi
lain, saat ini masyarakat tengah menghadapi berbagai masalah lingkungan yang nyata dan
mendesak, seperti krisis air bersih, rusaknya ekosistem, hingga pengabaian terhadap nilai-nilai
dan tradisi lokal yang dulu menjadi pilar pelestarian alam. Hal ini juga terjadi di kawasan Mata
Air Ciguriang, Bandung. Sumber air yang dahulu menjadi pusat kehidupan masyarakat dan
simbol budaya lokal kini mengalami penurunan kualitas dan kuantitas akibat alih fungsi lahan,
pencemaran, serta kurangnya pelibatan generasi muda dalam pelestarian. Tradisi menjaga alam
yang dulu dijunjung tinggi oleh masyarakat sekitar, kini mulai dilupakan. Salah satu strategi
yang relevan adalah integrasi nilai-nilai budaya lokal ke dalam pembelajaran melalui
pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) dan etnopedagogi. CRT memungkinkan
peserta didik memahami materi pembelajaran dengan mengaitkan konteks budaya mereka,
sementara etnopedagogi menekankan pada warisan kearifan lokal sebagai sumber
pembelajaran (Gay, 2010; Windiani, 2020). Sayangnya, dalam praktiknya, nilai-nilai lokal sering
terabaikan di sekolah, bahkan di wilayah yang masih kaya akan tradisi dan kearifan lingkungan.
Akibatnya, terjadi degradasi nilai-nilai luhur yang dahulu menjaga harmoni manusia dan alam.
Misalnya, dalam konteks krisis air, banyak masyarakat mulai meninggalkan tradisi menjaga
sumber mata air atau mengabaikan upacara adat yang mengandung pesan konservasi. Padahal,
penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal seperti subak di Bali atau hutan larangan di
Sumatera merupakan bentuk pengelolaan lingkungan berbasis budaya yang terbukti lestari
(Satria, 2022). Pelestarian lingkungan hidup merupakan tantangan besar yang perlu ditanamkan
sejak dini, khususnya kepada peserta didik di jenjang Sekolah Dasar (SD). Salah satu pendekatan
yang relevan dan bermakna adalah mengenalkan kearifan lokal sebagai bagian dari upaya
menjaga kelestarian lingkungan. Kearifan lokal tidak hanya memuat nilai-nilai ekologis, tetapi
juga menyimpan praktik-praktik budaya yang telah terbukti menjaga harmoni antara manusia
dan alam selama berabad-abad. Contohnya adalah tradisi masyarakat sekitar Mata Air
Ciguriang di Kota Bandung, yang sejak lama menjaga kelestarian sumber air melalui aturan
adat, mitos lokal, dan praktik ramah lingkungan. Urgensi mengenalkan kearifan lokal kepada
siswa SD terletak pada pentingnya mengembangkan pemahaman bahwa budaya dan alam
saling berkaitan. Dalam konteks Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), pengenalan ini tidak hanya
menguatkan identitas lokal peserta didik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan
pentingnya menjaga warisan alam dan budaya untuk masa depan. Apalagi di tengah ancaman
modernisasi dan alih fungsi lahan, keberadaan situs-situs alami seperti Mata Air Ciguriang
semakin terpinggirkan. Peserta didik pada dasarnya memiliki potensi besar dalam membangun
sikap cinta lingkungan. Mereka merupakan generasi yang masih terbuka terhadap nilai-nilai
baru dan mampu menumbuhkan kebiasaan positif sejak dini. Melalui pendekatan budaya,
peserta didik dapat melihat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab moral
atau akademik, tetapi juga bagian dari identitas dan kehormatan sebagai bagian dari suatu
komunitas. Tradisi lokal yang menanamkan sikap tidak menebang pohon sembarangan,
menjaga kebersihan air, dan melakukan ritual syukur adalah contoh konkret yang dapat
menjadi inspirasi dalam pembelajaran. Tujuan dari proyek ini adalah membangun kesadaran
lingkungan melalui pemahaman budaya lokal, khususnya dengan menjadikan Mata Air
Ciguriang sebagai objek pembelajaran kontekstual. Dengan menggabungkan pendekatan
Culturally Responsive Teaching (CRT) dan etnopedagogi, proyek ini mendorong siswa untuk
belajar dari lingkungan sekitarnya dan memahami nilai-nilai kearifan lokal secara langsung.
Melalui kunjungan lapangan, wawancara dengan tokoh adat, serta kampanye sederhana seperti
pembuatan poster atau slogan pelestarian, siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga
mengalami proses reflektif dan kreatif yang bermakna. Proyek ini selaras dengan nilai-nilai
dalam Profil Pelajar Pancasila, yaitu: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
melalui rasa syukur atas anugerah alam; bergotong royong saat bekerja dalam kelompok dan
berinteraksi dengan masyarakat lokal; bernalar kritis dalam menganalisis dampak perubahan
lingkungan; mandiri dalam menyusun karya dan laporan; serta kreatif dalam mengekspresikan
gagasan pelestarian melalui media visual maupun tulisan. Dengan pendekatan ini, siswa tidak
hanya menjadi pembelajar yang cerdas, tetapi juga agen perubahan yang berakar pada nilai-
nilai budaya dan cinta lingkungan.
3. Hasil Eksplorasi Budaya
(Didapat dari observasi/wawancara/dokumentasi kearifan lokal) Komponen yang diungkapkan:
1) Nama komunitas lokal (misalnya: Kampung Adat Ciptagelar)
2) Praktik pelestarian lingkungan (contoh: larangan menebang pohon dekat sumber air)
3) Peran tokoh adat (fungsi dalam menjaga nilai budaya)
4) Upacara adat atau simbol yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan
5) Filosofi lokal (misalnya: "leuweung hejo, cai herang, hirup sauyunan")
6) Dokumentasi visual (jika tersedia: foto/rekaman)
Bahan-bahan di atas di olah menjadi:
1) Bacaan siswa (narasi atau teks fiksi berbasis nyata)
2) Ilustrasi visual (gambar praktik budaya lokal)
3) Lembar Aktivitas (cerdas cermat, pertanyaan reflektif, proyek mini)
4. Tujuan Pembelajaran
Buat TP disesuaikan dengan jenjang SD (Kurikulum Merdeka):
1) Siswa mampu memahami pentingnya menjaga lingkungan sekitar
2) Siswa mampu mengenali dan menghargai nilai-nilai budaya lokal
3) Siswa mampu membuat karya berupa poster, cerita pendek, atau vlog pendek tentang
pelestarian lingkungan berbasis budaya
4) Siswa mampu bekerja sama dalam tim dan menyampaikan gagasannya secara kreatif
5. Integrasi Nilai Profil Pelajar Pancasila
Dimensi Implementasi
Beriman & Berakhlak Menghargai ciptaan Tuhan lewat alam
Bernalar Kritis Menganalisis makna dan manfaat praktik
lokal
Mandiri Mengerjakan proyek sendiri atau bersama
Kreatif Menyajikan ide dalam bentuk karya
Berkebinekaan Menghargai budaya lokal yang beragam
Gotong Royong Diskusi dan kerja kelompok
6. Keterkaitan dengan Mata Pelajaran SD
Contoh integrasi dalam Pembelajaran
Mata Indikator Ketercapaian Kegiatan Pembelajaran
Pelajaran Kompetensi
IPAS Menjelaskan hubungan manusia Mengamati praktik pelestarian air di
dan lingkungan komunitas lokal
Bahasa Menulis teks laporan hasil Membuat laporan hasil kunjungan ke
Indonesia observasi komunitas lokal
PPKn Menghargai keragaman budaya Diskusi nilai budaya yang mendukung
dan norma pelestarian lingkungan
SBDP Menghasilkan karya seni Membuat poster pelestarian lingkungan
berdasarkan pengalaman nyata menggunakan simbol budaya lokal
7. Strategi Pembelajaran Berbasis CRT/Etnopedagogi dalam Pembelajaran
Langkah-langkahnya: (awal, inti akhir)
Pengintegrasian dalam pemb IPAS
1) Mengangkat identitas budaya lokal peserta didik
2) Memberikan ruang eksplorasi terhadap nilai-nilai budaya yang hidup di sekitar siswa
3) Pembelajaran berbasis proyek yang berorientasi pada masalah nyata dan kearifan lokal
4) Kolaborasi dengan tokoh adat sebagai narasumber
5) Penilaian berbasis proses, kolaborasi, dan refleksi budaya
Pengintegrasian dalam pemb [Link]
1) Mengangkat identitas budaya lokal peserta didik
2) Memberikan ruang eksplorasi terhadap nilai-nilai budaya yang hidup di sekitar siswa
3) Pembelajaran berbasis proyek yang berorientasi pada masalah nyata dan kearifan lokal
4) Kolaborasi dengan tokoh adat sebagai narasumber
5) Penilaian berbasis proses, kolaborasi, dan refleksi budaya
8. Penilaian
Aspek yang Dinilai:
1) Pemahaman konsep lingkungan hidup dan budaya lokal
2) Keterlibatan aktif dalam diskusi dan eksplorasi budaya
3) Produk karya proyek: laporan, poster, cerita, atau media kreatif lainnya
4) Refleksi pribadi siswa tentang pentingnya pelestarian budaya dan lingkungan
9. Refleksi dan Tindak Lanjut
1) Refleksi siswa (tertulis/lisan) tentang pengalaman pembelajaran
2) Kolaborasi lanjutan dengan komunitas lokal (misal: adopsi pohon, bersih mata air)
3) Ide pengembangan: Festival Mini Budaya dan Lingkungan di sekolah