0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
101 tayangan7 halaman

Terapi Individu

Dokumen ini menjelaskan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk tiga jenis terapi: Terapi Penerimaan dan Komitmen (ACT), Terapi Okupasi, dan Terapi Keluarga. Setiap terapi memiliki tujuan, proses, dan evaluasi yang spesifik untuk membantu klien mengatasi masalah mental dan emosional. SOP ini juga menekankan pentingnya persiapan, intervensi, dan dokumentasi dalam pelaksanaan terapi.

Diunggah oleh

Raudhatul Hayati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
101 tayangan7 halaman

Terapi Individu

Dokumen ini menjelaskan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk tiga jenis terapi: Terapi Penerimaan dan Komitmen (ACT), Terapi Okupasi, dan Terapi Keluarga. Setiap terapi memiliki tujuan, proses, dan evaluasi yang spesifik untuk membantu klien mengatasi masalah mental dan emosional. SOP ini juga menekankan pentingnya persiapan, intervensi, dan dokumentasi dalam pelaksanaan terapi.

Diunggah oleh

Raudhatul Hayati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Terapi Individu

Berikut adalah SOP (Standar Operasional Prosedur) untuk Terapi Penerimaan dan Komitmen
(ACT) (Maulia et al., 2022):
Defenisi Terapi Penerimaan dan Komitmen (ACT) adalah suatu bentuk terapi
yang berfokus pada penerimaan dan komitmen untuk mengubah
perilaku dan meningkatkan kualitas hidup.
Tujuan Tujuan dari SOP ini adalah untuk memastikan bahwa Terapi
Penerimaan
dan Komitmen (ACT) dilakukan secara efektif dan konsisten untuk
membantu klien mengatasi masalah mental dan emosi.
Persiapan Sebelum melakukan terapi ACT, pastikan bahwa:
1. Klien telah memberikan persetujuan untuk melakukan terapi.
2. Klien telah memahami tujuan dan proses terapi.
3. Terapis telah memahami riwayat klien dan masalah yang dihadapi.

Proses terapi Berikut adalah langkah-langkah proses terapi ACT:


1. Penerimaan: Terapis membantu klien untuk menerima dan
memahami masalah yang dihadapi.
2. Komitmen: Terapis membantu klien untuk membuat komitmen
untuk mengubah perilaku dan meningkatkan kualitas hidup.
3. Penilaian: Terapis melakukan penilaian untuk memahami
masalah klien dan menentukan tujuan terapi.
4. Intervensi: Terapis melakukan intervensi untuk membantu klien
mengatasi masalah dan mencapai tujuan terapi.
Evaluasi: Terapis melakukan evaluasi untuk memantau kemajuan klien
dan menentukan apakah tujuan terapi telah tercapai.
Intervensi 5. Teknik penerimaan: Membantu klien untuk menerima dan
memahami masalah yang dihadapi.
6. Teknik komitmen: Membantu klien untuk membuat komitmen
untuk mengubah perilaku dan meningkatkan kualitas hidup.
7. Teknik mindfulness: Membantu klien untuk meningkatkan
kesadaran dan penerimaan terhadap pikiran, perasaan, dan
perilaku.
Teknik values-based action: Membantu klien untuk mengidentifikasi
nilai-nilai yang penting dan melakukan tindakan yang sesuai dengan nilai-
nilai tersebut.
Evaluasi Evaluasi dilakukan untuk memantau kemajuan klien dan menentukan
apakah tujuan terapi telah tercapai. Evaluasi dapat dilakukan melalui:
1. Penilaian subjektif: Klien menilai kemajuan mereka sendiri.
2. Penilaian objektif: Terapis menilai kemajuan klien berdasarkan
data dan observasi.
Pengukuran hasil: Mengukur hasil terapi berdasarkan tujuan yang telah
ditentukan.
Dokumentasi Dokumentasi adalah penting untuk memastikan bahwa terapi ACT
dilakukan secara efektif dan konsisten. Dokumentasi dapat meliputi:
1. Catatan terapi: Catatan tentang proses terapi dan kemajuan klien.
2. Rencana terapi: Rencana terapi yang telah disepakati oleh klien
dan terapis.
Hasil evaluasi: Hasil evaluasi yang menunjukkan kemajuan klien dan
efektivitas terapi

Terapi Okupasi
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) TERAPI OKUPASI
(Distraksi/Menghardik)
Pengertian Cara menghardik adalah salah satu cara untuk mengontrol
halusinasi sehingga pada akhirnya klien dengan halusinasi tidak
menunjukkan tanda dan gejala halusinasi kembali

Tujuan/Manfaat Klien mampu mengontrol halusinasi dengan cara


menghardik
Indikasi Pasien dengan diagnosa keperawatan Halusinasi
Persiapan Kerja 1. Persiapan pasien :
 Kondisi umum klien tenagn, tidak dalam masa halusinasi
aktif
 Komunikasi verbal baik
 Klien mampu berinteraksi dalam waktu yang cukup lama
(fokus)
2. Persiapan media :
Perawat
Tahapan Kerja a) Mengidentifikasi jenis halusinasi klien
b) Mengidentifikasi isi halusinasi pasien
c) Mengidentifikasi waktu, frekuensi, dan situasi terjadinya
halusinasi
d) Mengidentifikasi respons klien terhadap halusinasi
e) Mengajarkan klien menghardik halusinasi
f) Menganjurkan dan bersama klien memasukka
cara menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian
3. Sikap perawat :
 Posisi tubuh tegak, kontak mata positif, tersenyum
 Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
 Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat
berkenalan
 Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai
klien
 Buat kontrak yang jelas
 Tunjukkan sikap jujur, dan menepati janji setiap kali
interaksi
 Tunjukkan sikap empati dan menerima apa adanya
 Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan
dasar klien
 Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien
 Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan
klien
 Memantu klien mengenal halusinasinya (jenis, isi, waktu,
frekuensi, situasi, dan respons klien)
 Mengajarkan klien cara mengontrol halusinasi dengan cara
menghardik, yaitu minta klien :
Tutup telinga dan mengatakan kepada diri sendiri
bahwa ini tidak nyata (“saya tidak
g) mau dengar”)
Menemui orang lain (perawat, teman, atau keluarga)
untuk bercerita tentang halusinasinya
Membuat dan melaksanakan jadwal dan kegiatan
sehari-hari yang telah disusun
Meminta keluarga atau perawat, teman
untuk menegurnya jika ia sedang berhalusinasi
Evaluasi 1. Mengevaluasi tindakan yang baru dilakukan
2. Merapikan pasien dan lingkungan
3. Berpamitan dengan pasien
4. Membereskan dan kembalikan alat ketempat semula
5. Mencuci tangan
6. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan
7. Nilai kepuasan klien dan betulkan cara
penggunaannya
8. Evaluasi perasaan klien (merasa aman dan nyaman)
h) Kontrak waktu untukk kunjungan selanjutnya

Terapi Keluarga

Standar Operasional Prosedur (SOP) Terapi Keluarga Dalam Keperawatan Jiwa

Pengertian Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberi


peawatan langsung pada setiap keadaan ( sehat-sakit) klien
Terapikeluarga meupakan suatu psikoterapi modalitas dengan focus
pada penanganan keluarga sebagai unit sehingga dalam
pelaksanaanyaterapis membantu keluarga dalam mengidentifikasi
dalam perbaikan keadaan yang maladaptive.
Tujuan 1. Menurunkan konflik, kecemasan keluarga kepada pasien
2. Meningkatkan kesadaran keluarga terhadap
kebutuhanmasingmaasing anggota keluarga kepada pasien
3. Meningkatkan kemampuan penanganan terhadap krisiskepada
pasien
4. Mengembangkan hubungan peran yang sesuai kepada pasien
5. Meningkatkan kesehatan jiwa keluarga sesuai dengantingkat
perkembangan anggota keluarga kepada pasien

Alat 1. Alas tempat duduk


2. Ruangan yang nyaman dan tenang

Prosedur PRAINTERAKSI
Pelaksanaan 1. Menyiapkan diri secara fisikdan psikologis (tidak adakonflik
internal yang dapat mempengaruhi proses terapi)
2. Mempelajari rekam medis pasien sebagai data awal
3. Menyiapkan lingkungan yang tenang, nyaman, dan aman

ORIENTASI
1. Menyapa pasien sesuai kultur/sosial budaya setempat
2. Memperkenalkan diri
3. Melakukan kontrak topik, waktu, dan tempat pertemuan
4. Menanyakan keluhan utama pasien saat ini
5. Memvalidasi masalah yang dialami pasien
6. Menjelaskan maksud dan tujuan pertemuan
7. Menjelaskan prinsip prosedur dari terapi keluarga yangakan
dilakukan
8. Menjelaskan kepada pasien jangka waktu efektifmelakukan
terapi keluarga (15-30 menit)

TAHAP KERJA
1. Meminta kepada klien dan keluarga duduk setengahlingkaran
2. Melatih komunikasi, menyelesaikan konflik, mengatasi prilaku
dan stress
3. Memberikan kesempatan kepada klien untuk
memvalidasi perasaan dan pengalaman
4. Meminta kepada klien untuk mengungkapkan masalahnya
5. Meminta keluarga membuat sesuatu keadaan dimanaanggota
keluarga dapat melihat bahaya terhadap diri kliendan
aktivitasnya.
6. Meminta klien tidak merasa takut dan bersikap terbuka
7. Meminta klien mengidentifikasi keluhan klien yangdirasakan
sebagai masalah
8. Meminat klien dan keluarga mengindentifikasi harapanklien
dan keluarganya terhadap terapi keluarga
9. Meminta kepada keluarga mengubah cara berpikir klien
(Reframing)

Anda mungkin juga menyukai