Unsur selenium (Se) ditemukan oleh Jöns Jacob Berzelius pada
tahun 1817, saat ia mencoba mengisolasi telurium dari bijih
logam sulfida. Ia menamainya "selenium" dari bahasa Yunani
"Selene," yang berarti bulan, karena unsur ini ditemukan secara
kimiawi bersama telurium, yang dinamakan "Tellus" (dewi bumi
Romawi). Selenium sering ditemukan sebagai produk sampingan
dari pemurnian logam seperti tembaga dan pemrosesan asam
sulfat.
Elaborasi:
Penemuan:
Berzelius menemukan selenium ketika ia memproses bijih logam
sulfida, mencari telurium. Ia terkejut menemukan unsur baru yang
memiliki kemiripan dengan telurium.
Penamaan:
Nama "selenium" diambil dari kata Yunani "Selene" (bulan),
menunjukkan kemiripan kimiawi dengan telurium (yang dinamakan
dari "Tellus", dewi bumi).
Sumber:
Selenium umumnya ditemukan sebagai produk sampingan dari
pemurnian logam sulfida, terutama tembaga. Ia juga ditemukan
dalam bijih logam sulfida lainnya seperti nikel dan timbal. Selain
itu, selenium juga merupakan hasil sampingan dari produksi asam
sulfat.
Sifat:
Selenium termasuk metaloid, yaitu unsur dengan sifat antara
logam dan nonlogam. Ia memiliki beberapa sifat unik seperti
kemampuan untuk mengkonduksi listrik, tergantung pada jumlah
cahaya yang jatuh di permukaannya. Sifat ini dimanfaatkan dalam
pembuatan sensor cahaya dan perangkat elektronika lainnya.
Aplikasi:
Selenium digunakan dalam industri pembuatan kaca berwarna
merah, pengolah foto, dan dalam produksi penyearah elektronika
(sebelumnya digantikan oleh silikon).
Signifikansi Biologis:
Selenium merupakan nutrisi penting bagi tubuh manusia, berperan
dalam berbagai fungsi, termasuk sebagai komponen penting dalam
enzim glutation peroksidase, yang berperan dalam melindungi sel
dari kerusakan.
Unsur selenium (Se) ditemukan oleh Jöns Jacob Berzelius pada
tahun 1817, saat ia mencoba mengisolasi telurium dari bijih
logam sulfida. Ia menamainya "selenium" dari bahasa Yunani
"Selene," yang berarti bulan, karena unsur ini ditemukan secara
kimiawi bersama telurium, yang dinamakan "Tellus" (dewi bumi
Romawi). Selenium sering ditemukan sebagai produk sampingan
dari pemurnian logam seperti tembaga dan pemrosesan asam
sulfat.
Elaborasi:
Penemuan:
Berzelius menemukan selenium ketika ia memproses bijih logam
sulfida, mencari telurium. Ia terkejut menemukan unsur baru yang
memiliki kemiripan dengan telurium.
Penamaan:
Nama "selenium" diambil dari kata Yunani "Selene" (bulan),
menunjukkan kemiripan kimiawi dengan telurium (yang dinamakan
dari "Tellus", dewi bumi).
Sumber:
Selenium umumnya ditemukan sebagai produk sampingan dari
pemurnian logam sulfida, terutama tembaga. Ia juga ditemukan
dalam bijih logam sulfida lainnya seperti nikel dan timbal. Selain
itu, selenium juga merupakan hasil sampingan dari produksi asam
sulfat.
Sifat:
Selenium termasuk metaloid, yaitu unsur dengan sifat antara
logam dan nonlogam. Ia memiliki beberapa sifat unik seperti
kemampuan untuk mengkonduksi listrik, tergantung pada jumlah
cahaya yang jatuh di permukaannya. Sifat ini dimanfaatkan dalam
pembuatan sensor cahaya dan perangkat elektronika lainnya.
Aplikasi:
Selenium digunakan dalam industri pembuatan kaca berwarna
merah, pengolah foto, dan dalam produksi penyearah elektronika
(sebelumnya digantikan oleh silikon).
Signifikansi Biologis:
Selenium merupakan nutrisi penting bagi tubuh manusia, berperan
dalam berbagai fungsi, termasuk sebagai komponen penting dalam
enzim glutation peroksidase, yang berperan dalam melindungi sel
dari kerusakan.
Unsur selenium (Se) ditemukan oleh Jöns Jacob Berzelius pada
tahun 1817, saat ia mencoba mengisolasi telurium dari bijih
logam sulfida. Ia menamainya "selenium" dari bahasa Yunani
"Selene," yang berarti bulan, karena unsur ini ditemukan secara
kimiawi bersama telurium, yang dinamakan "Tellus" (dewi bumi
Romawi). Selenium sering ditemukan sebagai produk sampingan
dari pemurnian logam seperti tembaga dan pemrosesan asam
sulfat.
Elaborasi:
Penemuan:
Berzelius menemukan selenium ketika ia memproses bijih logam
sulfida, mencari telurium. Ia terkejut menemukan unsur baru yang
memiliki kemiripan dengan telurium.
Penamaan:
Nama "selenium" diambil dari kata Yunani "Selene" (bulan),
menunjukkan kemiripan kimiawi dengan telurium (yang dinamakan
dari "Tellus", dewi bumi).
Sumber:
Selenium umumnya ditemukan sebagai produk sampingan dari
pemurnian logam sulfida, terutama tembaga. Ia juga ditemukan
dalam bijih logam sulfida lainnya seperti nikel dan timbal. Selain
itu, selenium juga merupakan hasil sampingan dari produksi asam
sulfat.
Sifat:
Selenium termasuk metaloid, yaitu unsur dengan sifat antara
logam dan nonlogam. Ia memiliki beberapa sifat unik seperti
kemampuan untuk mengkonduksi listrik, tergantung pada jumlah
cahaya yang jatuh di permukaannya. Sifat ini dimanfaatkan dalam
pembuatan sensor cahaya dan perangkat elektronika lainnya.
Aplikasi:
Selenium digunakan dalam industri pembuatan kaca berwarna
merah, pengolah foto, dan dalam produksi penyearah elektronika
(sebelumnya digantikan oleh silikon).
Signifikansi Biologis:
Selenium merupakan nutrisi penting bagi tubuh manusia, berperan
dalam berbagai fungsi, termasuk sebagai komponen penting dalam
enzim glutation peroksidase, yang berperan dalam melindungi sel
dari kerusakan.