ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL
A. LATAR BELAKANG
Organisasi pergerakan yang dimotori oleh anak-anak muda memainkan peran penting dalam
sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Kemunculan organisasi pergerakan itu menandai perubahan
pola gerakan, dari awalnya banyak melalui perjuangan fisik atau perang beralih pada meja-meja
perundingan dan negoisasi. Seperti diketahui, pada periode awal abad ke-20, Indonesia masih berada
di bawah pemerintahan kolonial Belanda yang menguasai beberapa wilayah di Nusantara.
Organisasi-organisasi pergerakan yang dibentuk pada masa tersebut bertujuan untuk melawan
penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Melalui organisasi ini, anak-anak muda
berupaya untuk menentukan nasib bangsanya sendiri dan juga demi kesejahteraan seluruh rakyat
Indonesia.
Organisasi pergerakan nasional yang berisi sekelompok orang dengan struktur keanggotaan
resmi ini memiliki satu tujuan untuk bersama-sama berjuang untuk kepentingan bersama di atas nama
bangsa Indonesia. Pergerakan nasional menjadi wujud protes atas penindasan kaum kolonial kepada
rakyat di Indonesia selama bertahun-tahun.
Penyebab terjadinya pergerakan nasional dibedakan dalam dua kelompok, yaitu:
1. Faktor internal (dalam negeri)
Beberapa faktor penyebab timbulnya pergerakan nasional yang bersumber dari dalam negeri antara
lain:
A) Adanya tekanan dan penderitaan yang berkelanjutan. Rakyat Indonesia harus melawan penjajah.
B) Adanya rasa senasib yang hidup dalam cengkraman penjajah dan timbul semangat bersatu
membentuk negara.
C) Adanya rasa kedasaran nasional dan harga diri, menyebabkan kehendak untuk memiliki tanah
air serta hak menentukan nasib sendiri.
2. Faktor eksternal (luar negeri)
Beberapa faktor eksternal juga mendorong proses timbulnya pergerakan nasional, di antaranya:
A) Masuknya paham liberalisme dan human rights
B) Diterapkannya pendidikan sistem barat dalam pelaksanaan Politis Etis pada 1902. Sehingga
menimbulkan wawasan luas bagi pelajar Indonesia.
C) Kemenangan jepang terhadap Rusia tahun 1905, yang membangkitkan rasa percaya diri bagi
rakyat Asia-Afrika dan bangkit melawan penjajah.
D) Gerakan Turki Muda pada 1896-1918 yang bertujuan menanamkan dan mengembangkan
nasionalisme Turki.
E) Gerakan Pan-Islamisme yang ditumbuhkan oleh Djamaluddin al-Afgani yang mematahkan dan
melenyapkan imperialisme barat.
F) Pergerakan nasional di Asia, seperti gerakan Nasionalisme di India, Tiongkok, dan Philipina.
B. TOKOH DALAM ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL DAN PERAN
Organisasi pada pergerakan nasional di Indonesia Dalam buku Sejarah Pergerakan Nasional
Indonesia (2012) karya SJ Rutgers, terdapat beberapa organisasi yang ada selama pergerakan
nasional, di antaranya:
1) Budi Utomo
Organisasi yang diawali dr. Wahidin Soedirohoesodo yang berkeliling Jawa untuk melakukan
sosialisasi pentingnya pendidikan. Selain itu, terdapat dana pendidikan untuk yang kurang mampu.
Dana tersebut disebut dengan Studie Fond. Pada 1907, Wahidin bertemu denghan Soetomo,
mahasiswa STOVIA dan membentuk organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Organisasi ini
merupakan organisasi pertama yang didirikan oleh bangsa Indonesia dan beranggotakan mahasiswa
STOVIA. Berdirinya organisasi merupakan awal kebangkitan nasional atau pergerakan nasional.
Sehingga ditetapkan sebagai hari Kebangkitan Nasional.
2) Sarekat Islam
Organsiasi tersebut berawal dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan Haji Samanhudi di Solo
pada 1905. Organisasi tersebut dibentuk untuk melindungi pengusaha lokal agar dapat bersaing
dengan pengusaha non lokal dalam dagang batik. Kemudian SDI dirubah menjadi Sarekat Islam (SI)
dan diketuai oleh HOS Tjokroaminoto pada 1912. SI kemudian menjadi besar karena semua orang
boleh bergabung dalam organisasi jika beragam Islam. Namun pada 1921, SI terpecah menjadi dua
kubu yaitu SI Putih dan SI Merah. SI Putih berpusat di Yogyakarta dan SI Merah berpusat di
Semarang.
3) Indische Partij
Didirikan di Bandung pada 25 Desember 1912 oleh Tiga Serangkai, yaitu Dr EFE Douwes Dekker
(Danudirja Setiabudi), RM Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), serta dr Tjipto
Mangoenkoesoemo. Indische Partij bertujuan untuk mengembangkan rasa nasionalisme,
menciptakan persatuan antara orang Indonesia dan Bumiputera. Selain itu juga mempersiapkan
kehidupan rakyat yang merdeka. Organisasi tersebut mengkritik pemerintah kolonial Belanda. Kritikan
ditulis oleh RM Suwardi yang berjudul Als ik een Nederlander was (Seandainya aku seorang
Belanda). Sehingga pada 4 Mei 1913, organisasi tersebut dianggap partai terlarang dan ketiga tokoh
tersebut diasingkan ke Belanda.
4) Perhimpunan Indonesia
Organisasi yang didirkan Belanda pada 1908 yang awalnya diberi nama Indische Vereeniging oleh
Soetan Kasajangan Soripada dan RM Noto Suroto. Kemudian 1925 dirubah namanya menjadi
Perhimpunan Indonesia. Istilah Indonesia digunakan untuk menunjukkan identitas diri bangsa dan
negara serta menggantikan kata Hindia Belanda. Tokoh yang tergabung adalah Mohammad Hatta,
Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat. Perhimpunan Indonesia berjuang dengan kekuatan
sendiri dan tidak meminta kepada pemerintah kolonial Belanda. Organisasi ini memiliki majalah
dengan nama Hindia Poetra dan menjadi Indonesia Merdeka.
5) Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV)
Didirikan pada 9 Mei 1914 oleh Henk Sneevliet, anggota Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda dan
rekannya di Surabaya. Organisasi ini menganut paham Marxisme dan berganti nama menjadi Partai
Komunis Hindia pada 23 Mei 1920. Pada Desember 1920 berubah nama lagi menjadi Partai Komunis
Indonesia (PKI). PKI diketuai oleh Semaun. Pada tanggal 13 November 1926, PKI melancarkan
pemberontakan di Jawa dan Sumatera yang kemudian dikalahkan oleh kolonial Belanda.
6) Partai Nasional Indonesia (PNI)
PNI merupakan perkumpulan yang dibentuk Soekarno pada tanggal 4 Juli 1927. PNI bergerak dalam
bidang politik, ekonomi, dan sosial. Setelah Kongres tahun 1928 di Surabaya, anggotanya semakin
meningkat sehingga mengkhawatirkan pemerintah kolonial. Akhirnya pada 29 Desember 1929 empat
tokoh PNI, yaitu Soekarno, Gatot Mangkoeprodjo, Maskoen, dan Soepriadinata ditangkap dan
dihukum oleh Pengadilan Bandung. Soekarno kemudian menyampaikan pembelaan dengan
Indonesia Menggugat.