0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan14 halaman

Konsep dan Klasifikasi Diabetes Mellitus

Dokumen ini membahas tentang diabetes mellitus, termasuk pengertian, klasifikasi, patofisiologi, faktor risiko, gejala klinis, pemeriksaan laboratorium, komplikasi, dan penatalaksanaan. Diabetes mellitus adalah kelainan metabolisme yang ditandai oleh hiperglikemia akibat gangguan sekresi atau kerja insulin. Terdapat dua tipe utama diabetes, yaitu tipe I yang tergantung insulin dan tipe II yang tidak tergantung insulin, serta komplikasi yang dapat terjadi jika tidak terkelola dengan baik.

Diunggah oleh

hy399114
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan14 halaman

Konsep dan Klasifikasi Diabetes Mellitus

Dokumen ini membahas tentang diabetes mellitus, termasuk pengertian, klasifikasi, patofisiologi, faktor risiko, gejala klinis, pemeriksaan laboratorium, komplikasi, dan penatalaksanaan. Diabetes mellitus adalah kelainan metabolisme yang ditandai oleh hiperglikemia akibat gangguan sekresi atau kerja insulin. Terdapat dua tipe utama diabetes, yaitu tipe I yang tergantung insulin dan tipe II yang tidak tergantung insulin, serta komplikasi yang dapat terjadi jika tidak terkelola dengan baik.

Diunggah oleh

hy399114
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Diabetes Mellitus


1. Pengertian Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus menurut Smeltzer & Bare (2017) merupakan
sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa
dalam darah atau hiperglikemia. Pada diabetes, kemampuan tubuh untuk
bereaksi terhadap insulin dapat menurun, atau pancreas dapar
menghentikan sama sekali produksi insulin. Keadaan inilah yang
menyebabkan hiperglikemia.
Diabetes mellitus (DM) atau kencing manis adalah suatu kumpulan
gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar gula
dalam darah akibat kekurangan insulin, baik absolute maupun relative.
Absolut artinya pancreas sama sekali tidak bisa menghasilkan insulin
sehingga harus mendapatkan insulin dari luar (melalui suntikan) dan
relative artinya pancreas masih bisa menghasilkan insulin yang kadarnya
berbeda pada setiap orang (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2021)
Diabetes mellitus (DM) adalah suatu kelainan metabolisme kronis
yang terjadi karena berbagai penyebab, ditandai oleh konsentrasi glukosa
darah melebihi normal, disertai dengan gangguan metabolisme
karbohidrat, lemak dan protein yang diakibatkan oleh kelainan sekresi
hormon insulin, kelainan kerja insulin atau kedua-duanya (World Health
Organization, 2023),(IDF, 2021)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diabetes mellitus
adalah suatu penyakit yang ditandai oleh kenaikan glukosa dalam darah
yang disebabkan karena kelainan sekresi hormone insulin.

6
7

2. Klasifikasi Diabetes Mellitus


Klasifikasi diabetes berdasarkan penyebab, perjalanan klinik dan terapinya
menurut Brunner & Suddart (2017) adalah sebagai berikut:

a. Tipe I

Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM), 5-10% dari seluruh


penderita diabetes

Ciri-ciri klinik:

1) Awitan terjadi pada sebagian usia, tetapi biasanya usia muda (<30
tahun)
2) Biasanya bertubuh kurus pada saat diagnosis, dengan penurunan
berat badan baru saja terjadi
3) Etiologi mencakup faktor genetic, imunologi dan lingkungan
(misalnya virus)
4) Sering memiliki antibody sel pulau Langerhans
5) Sering memiliki antibody terhadap insulin sekalipun belum
pernah mendapatkan terapi insulin
6) Sedikit atau tidak mempunyai insulin endogen
7) Memerukan insulin untuk mempertahankan kelangsungan hidup
8) Cenderung memiliki ketosis jika tidak memiliki insulin
9) Komplikasi akut hiperglikemia: ketoasidosis diabetic

b. Tipe II
Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM), 90%-95% dari
seluruh penyandang diabetes obese 80% dari tipe II, nonobese 20%
dari tipe II
Ciri-ciri klinik:
1) Awitan terjadi disegala usia, biasanya diatas 30 tahun
2) Biasanya bertubuh gemuk (obese) pada saat didiagnosa
3) Etiologi mencakup faktor obesitas, herediter atau lingkungan
8

4) Tidak ada antibody sel pulau Langerhans


5) Penurunan produksi insulin endogen atau peningkatan resistensi
insulin
6) Mayoritas penderita obesitas dapat mengendalikan glukosa
darahnya melalui penurunan berat badan.
7) Agens hiperglikemia oral dapat memperbaiki kadar glukosa darah
bila modifikasi diet dan latihan tidak berhasil
8) Mungkin memerlukan insulin dalam jangka waktu pendek atau
panjang untuk mencegah hiperglikemia
9) Ketosis jarang terjadi, kecuali bila keadaan stress atau menderita
infeksi
10) Komplikasi akut: sindrom hyperosmolar nonketotik

c. Diabetes mellitus yang berkaitan dengan keadaan atau sindrom


lain Ciri-ciri klinik:
1) Disertai dengan keadaan yang diketahui atau dicurigai dapat
menyebabkan penyakit, seperti penyakit pankreatitis, kelainan
hormonal, obat-obat seperti glukokortikoid dan preparat yang
mengandung esterogen penyandang diabetes
2) Bergantung pada kemampuan pancreas untuk menghasilkan
insulin, pasien mungkin memerlukan terapi dengan obat oral atau
insulin.

d. Diabetes gestasional
1) Awitan sekama kehamilan, biasanya terjadi pada trimester kedua
atau ketiga
2) Disebabkan oleh hormone yang disekresikan plasenta dan
menghambat kerja insulin
3) Resiko terjadinya komplikasi perinatal diatas normal, khususnya
macrosomia (bayi yang secara abnormal berukuran besar)
9

4) Dibatasi dengan diet dan insulin (jika diperlukan) untuk


mempertahankan secara ketat kadar glukosa darah normal
5) Terjadi pada sekitar 2%-5% dari seluruh kehamilan
6) Intoleransi glukosa terjadi untuk sementara waktu tetapi dapat
kambuh kembali
a) Pada kehamilan selanjutnya
b) 30%-40% akan mengalami diabetes yang nyata (biasanya
tipe II) dalam waktu 10 tahun (khususnya yang obesitas)
(1) Faktor resiko mencakup: obesitas, usia diatas 30
tahun, riwayat diabetes dalam keluarga, pernah
melahirkan bayi yang besar (lebih dari 4,5 kg)
(2) Pemeriksaan skrinning (tes toleransi glukosa) harus
dilakukan pada semua wanita hamil dengan usia
kehamilan antara 24 hingga 28 minggu.
(Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2021)

3. Patofisiologi Diabetes Mellitus


a. Diabetes tipe I
Terdapat ketidakmampuan menghasilkan insulin karena sel-sel
pancreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang
berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap
dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia posprandial (sesudah
makan).
Jika konsentrasi dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat
menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya
glukosa tersebut diekskresikan dalam urin (glukosuria). Ekskresi ini
akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan,
keadaan ini disebut dieresis osmotic. Pasien mengalami peningkatan
dalam berkemih (polyuria) dan rasa haus (polidipsi) (Smeltzer et al.,
2017).
b. Diabetes tipe II
Terdapat 2 masalah utama yang berhubungan dengan insulin,
yaitu: resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya
insulin akan
10

terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat


terikatnya insulin dengan reseptor khusus tersebut, terjadinya suatu
rangkaian reaksi dalam metabolism glukosa di dalam sel. Resistensi
insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel,
dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi
pengambilan glukosa oleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya
glukosa dalam darah harus terdapat peningkatan insulin yang
diekskresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini
terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan
dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat.
Namun, jika sel-sel tidak mampu mengimbangi peningkatan
kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan meningkat dan
terjadi diabetes tipe II (Smeltzer et al., 2017).
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri
khas diabetes tipe II, namun terdapat jumlah insulin yang adekuat,
untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton. Oleh
karena itu, ketoasidosis diabetic tidak terjadi pada diabetes tipe II.
Meskipun demikian, diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat
menimbulkan masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom
hiperglikemik hiperosmoler nonketotik. Akibatnya intoleransi glukosa
yang berlangsung lambat dan progresif, makan awitan diabetes tipe II
dapat berjalan tanpa terdeteksi, gejalanya sering bersifat ringan dan
dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, polyuria, polydipsia, infeksi
pada kulit yang tidak sembuh-sembuh, infeksi dan pandangan yang
kabur (Smeltzer et al., 2017)
11

4. Faktor Resiko Diabetes Mellitus


Mengutip dari Smeltzer, (2017) faktor resiko diabetes mellitus umumnya
dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu:
a. Faktor yang tidak dapat di modifikasi
1) Umur
Semakin bertambahnya umur, maka resiko menderita diabetes
mellitus akan meningkat.
2) Jenis kemalin
Di Amerika serikat penderita diabetes mellitus lebih banyak
terjadi pada perempuan dari pada laki-laki
3) Bangsa dan etnik
Berdasarkan penelitian terakhir di 10 negara menunjukkan
bahwa bangsa asia lebih berisiko terserang diabetes mellitus
dibandingkan bangsa barat
4) Faktor keturunan
Riwayat diabetes dalam keluarga terutama orang tua atau
saudara kandung memiliki resiko lebih besar terkena penyakit
ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak
menderita diabetes mellitus.
b. Faktor yang dapat dimodifikasi
1) Obesitas
Berdasarkan beberapa teori menyebutkan bahwa obesitas
merupakan faktor predisposisi terjadinya resistensi insulin.
2) Aktifitas fisik yang kurang
Prevalensi diabetes mellitus mencapai 2-4 kali lipat terjadi pada
individu yang aktif
3) Stress
4) Pola makan
(Smeltzer et al., 2017)
12

5. Gejala klinis Diabetes Mellitus


Menurut (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2021),(Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, 2020),(Mansjoer, 2007) gambaran klinis
pada penderita diabetes mellitus adalah sebagai berikut:
a. Poliuria (sering kencing dalam jumlah banyak)
b. Polidipsi (banyak minum)
c. Polifagia (rasa lapar yang semakin berat)
d. Lemas
e. Berat badan menurun
f. Kesemutan
g. Mata kabur
h. Impotensi pada pria
i. Gatal (pruritus pada vulva)
j. Mengantuk (somnolen) yang terjadi pada beberapa hari atau beberapa
minggu
6. Pemeriksaan Laboraturium Diabetes Mellitus
Menurut Riskesdas (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2021),
(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020) kegiatan pemeriksaan
laboratorium dalam perannya untuk mendukung pengelolaan DM dapat
berfungsi sebagai penyaring penyakit (screening), diagnostic dan
pemantauan pengendalian. Pemeriksaan penyaring yang khusus ditujukan
untuk mengetahui prevalensi DM pada penduduk secara massal (massal
screening)
Pemeriksaan penyaring dilakukan dengan pemeriksaan glukosa
darah. Pemeriksaan glukosa dalam urin kurang sensitive dan relative tidak
spesifik. Konsentrasi glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan
penyaring DM.
Nilai normal kadar gula darah tersaji pada tabel dibawah ini:
13

Tabel 2. 1. Nilai normal kadar gula darah


Bukan DM Belum pasti DM DM
Konsentrasi glukosa
darah sewaktu
(mg/dL)
• Plasma vena < 110 110 - 199 ≥ 200
• Darah kapiler < 90 90 - 199 ≤ 200
Konsentrasi glukosa
darah puasa (mg/dL)
• Plasma vena
• Darah kapiler < 110 110 - 125 ≥ 126
< 90 90 - 109 ≤ 110
Sumber: (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2021)
Untuk kelompok dengan faktor resiko yang hasil pemeriksaan
penyaringnya negative, pemeriksaan penyaring ulangan dilakukan setiap
tahun. sedangkan bagi mereka yang berusia >45 tahun tanpa faktor resiko
lain, pemeriksaan dapat dilakukan setiap 3 tahun.
7. Komplikasi Diabetes Mellitus
Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dapat menimbulkan
komplikasi akut dan kronis. Berikut ini akan diuraikan beberapa
komplikasi yang sering terjadi dan harus diwaspadai:
a. Hipoglikemia
Sindrom hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis penderita merasa
pusing, lemas, gemetar, pandangan berkunang-kunang, pitam
(pandangan menjadi gelap), keluar keringat dingin, detak jantung
meningkat, sampai hilang kesadaran. Apabila tidak ditolong dapat
terjadi kerusakan otak dan akhirnya kematian.
b. Hiperglikemia
Hiperglikemia adalah kondisi atau keadaan dimana kadar gula darah
melonjak secara tiba-tiba. Keadaan ini dapat disebabkan oleh stress,
infeksi, dan konsumsi obat-obat tertentu. Hiperglikemia ditandai
dengan poliuria, polidipsia, polifagia, kelelahan yang padah dan
pandangan kabur.
14

c. Komplikasi makrovaskuler
3 komplikasi makrovaskuler yang umum berkembang pada penderita
diabetes adalah:
1) Penyakit jantung coroner (coronary hearth disease atau CAD)
2) Penyakit pembuluh darah otak
3) Penyakit pembuluh darah perifer (peripheral vascular disease
atau PVD)
d. Kompliksai mikrovaskuler
Komplikasi mikrovaskuler terutama terjadi pada penderita diabetes tipe
I. hiperglikemia yang persisten dan pembentukan protein yang
terglikasi (termasuk HbA1c) menyebabkan dinding pembuluh darah
menjadi makin lemah dan rapuh sehingga terjadi penyumbatan pada
pembuluh- pembuluh darah kecil. Hal inilah yang mendorong
timbulnya komplikasi-komplikasi mikrovaskuler, antara lain retinopati,
nefropati, dan neuropati.
(IDF, 2021),(American Diabetes Association, 2019)
8. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
Menurut (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2021),(Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, 2020), terdapat lima dasar pengobatan DM
yang dinamakan Pentalogi Terapi DM, yaitu:
a. Edukasi
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat perlu selalu dilakukan
sebagai bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang
sangat penting dari pengelolaan DM secara holistik. Materi edukasi
terdiri dari materi edukasi tingkat awal dan materi edukasi tingkat
lanjut.
b. Tata laksana gizi klinis
Tata laksana gizi yang tepat pada pasien diabetes dengan
menerapkan pola makan sehat direkomendasikan sebagai bagian
terintegrasi dalam pencegahan dan penanganan DM tipe 2.
Tantangan utama pada pemberian perencanaan makan bagi pasien
15

diabetes adalah menetapkan jenis makanan yang dapat dikonsumsi


agar mendukung tercapainya kontrol glikemik, kolesterol, berat
badan, dan tekanan darah, serta mencegah berbagai komplikasi
DM. Perencanaan pola makan bersifat individual karena tidak ada
pola makan dengan jumlah dan jenis pilihan makanan yang sama
yang sesuai untuk semua pasien. Pola makan sehat ini bervariasi
antar individu dan perlu memperhatikan berbagai faktor terkait,
seperti riwayat pola makan (kebiasaan makan sehari-hari, pilihan
makanannya, pemenuhan masukan zat gizinya, pemahaman akan
makanan, mitos, dan sebagainya), informasi klinis pasien termasuk
usia, status antropometri, aktifvitas fisis, obat yang dikonsumsi,
penyakit penyerta dan kondisi klinis lainya (kondisi fisis,
kemampuan menelan, status saluran cerna, dan lainnya).
Pemberian tata laksana gizi pada pasien diabetes perlu juga
memperhatikan masalah sosial-ekonomi, kultur budaya,
kecerdasan, keinginan atau kemampuan untuk merubah pola
makan yang lama, termasuk kondisi emosional khususnya pada
pasien yang baru didiagnosis DM.
Prinsip pengaturan makan pada pasien DM hampir sama dengan
anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang
seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-
masing individu. Pasien DM perlu diberikan penekanan mengenai
pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah kandungan
kalori, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun
glukosa darah atau insulin.
c. Latihan fisik
Tata laksana latihan fisik untuk pasien diabetes dibagi menjadi tiga
kelompok yaitu:
1) Latihan fisik untuk preventif Tujuan umum tindakan
preventif adalah untuk meningkatkan regulasi insulin
terutama pada pasien prediabetes, yang dapat dicapai
melalui
16

strategi meningkatkan dan memelihara kebugaran fisik,


meningkatkan dan mempertahankan performa otot dan
mengendalikan faktor risiko. Target capaian yang
diharapkan adalah pasien mengerti tingkat aktivitas fisik
dan intensitas latihan aerobik yang efektif untuk mencegah
terjadinya komplikasi diabetes melitus, membantu
penurunan berat badan, serta mencapai kualitas hidup yang
optimal.
2) Latihan fisik untuk pasien DM tanpa komplikasi
Prinsip tata laksana rehabilitasi medik pada pasien DM tanpa
komplikasi, adalah untuk menunda atau mencegah
komplikasi kardiovaskular dan neuromuskuloskeletal.
Target capaian pada program rehabilitasi medik adalah
perbaikan uji kebugaran kardiorespirasi dan otot,
mempertahankan massa otot, meningkatkan aktivitas fisik
menjadi kategori sedang, dan mencapai kualitas hidup yang
optimal.
3) Latihan fisik untuk pasien DM dengan komplikasi
Komplikasi pada pasien DM yang sering terjadi adalah
neuropati, angiopati, artropati, kaki diabetes, ulkus diabetes.
Prinsip tata laksana rehabilitasi medik untuk mencegah
komplikasi adalah mengendalikan kadar glukosa darah dan
penyakit premorbid, menurunkan risiko disabilitas, serta
memperbaiki kualitas hidup
d. Intervensi Farmakologi
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan
latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari
obat oral dan bentuk suntikan.
e. Individualisasi Terapi
Manajemen diabetes melitus harus bersifat individual. Pelayanan yang
diberikan berbasis pada individu dimana keinginan,
17

kebutuhan, dan kemampuan pasien menjadi komponen penting dan


utama dalam menentukan pilihan dan target terapi. Pertimbangan
tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain: usia pasien dan
harapan hidupnya, lama menderita DM, riwayat hipoglikemia,
penyakit penyerta, adanya komplikasi kardiovaskular, serta
komponen penunjang lain (ketersediaan obat dan kemampuan daya
beli). Regimen pengobatan harus dievaluasi secara berkala setiap
3-
6 bulan, dan disesuaikan dengan kebutuhan pasien dengan
memperhatikan faktor risiko yang baru.
(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020)
18
19

Kerangka Teori

Diabetes Mellitus
Komplikasi DM
Faktor risiko DM
1. Akut
1. Obesitas 2. Kronis
2. Gaya hidup Penatalaksanaan
3. Stress
4. Pola makan

Perencanaan Diet Latihan Fisik Terapi Farmakologi Edukasi

Kepatuhan Faktor-faktor yang


Pengelolaan Diet mempengaruhi:
1. Pengetahuan
2. Sikap
3. Dukungan Keluarga
4. Dukungan Petugas
Kesehatan

Gambar 2. 1. Kerangka teori


Sumber: (American Diabetes Association, 2019),(World Health Organization, 2023),
(IDF, 2021),(Notoatmodjo, 2010),(Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2021)

Anda mungkin juga menyukai