KRITIK PENERAPAN VICARIOUS LIABILITY DALAM PENGEMBANGAN KEBIJAKAN
FORMULASI HUKUM PIDANA DI INDONESIA
Tema : Kritik terhadap pengaturan pertanggungjawaban pidana korporasi dalam
undang-undang Indonesia
Disusun untuk Memenuhi Ujian Tengah Semester
Mata Kuliah Kejahatan Korporasi Kelas E `
Dosen Pengampu:
Alfons Zakaria, LLM., S.H.
Lucky Elza Aditya, S.H., M.H.
Disusun Oleh :
Hatta Joang Kusuma
225010107111207
KEMENTERIAN PENDIDIKAN TINGGI SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS HUKUM
MALANG
2025
A. LATAR BELAKANG
Pasca Perang Dunia II, berbagai negara memulai upaya pembaruan
hukum pidana sebagai respons terhadap dinamika sosial dan kompleksitas
kejahatan modern. Pembaruan ini tidak hanya terjadi di negara-negara baru,
tetapi juga di negara-negara yang sudah lama berdiri, termasuk Indonesia.
Dalam konteks hukum pidana nasional, Indonesia sebenarnya telah memulai
proses pembaruan sejak proklamasi kemerdekaan tahun 1945. Namun,
pembaruan hukum pidana yang dijalankan sejak saat itu dinilai belum
menyeluruh karena sebagian besar masih bersifat tambal sulam, tanpa
mengganti secara total sistem hukum pidana kolonial yang diwarisi dari
Wetboek van Strafrecht (WvS).1
Gagasan reformasi hukum pidana secara menyeluruh baru muncul
secara lebih sistematis sejak tahun 1963, dengan harapan dapat membentuk
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) nasional yang sesuai dengan
nilai-nilai keindonesiaan dan standar hukum internasional. Salah satu
pendekatan penting dalam reformasi ini adalah pengembangan asas-asas
baru atau pengecualian terhadap asas klasik dalam hukum pidana. Salah satu
asas yang banyak diperbincangkan adalah Geen Straft Zonder Schuld (tidak
ada pidana tanpa kesalahan), yang menjadi landasan utama dalam
pertanggungjawaban pidana.2 Namun, perkembangan masyarakat modern
menuntut adanya fleksibilitas dalam menerapkan asas ini, sehingga beberapa
pengecualian mulai diperkenalkan, termasuk konsep pertanggungjawaban
pengganti (vicarious liability).
Vicarious liability adalah bentuk tanggung jawab pidana yang
memungkinkan seseorang atau subjek hukum dimintai pertanggungjawaban
atas perbuatan pidana yang dilakukan oleh orang lain dalam hubungan
tertentu, seperti antara atasan dan bawahan, atau korporasi dan pegawainya.
Konsep ini awalnya berasal dari hukum perdata (tort law), namun kini mulai
diakomodasi dalam hukum pidana modern termasuk dalam Rancangan KUHP
Indonesia. Meski begitu, pengaturannya masih belum lengkap dan
menimbulkan perdebatan, terutama karena bertentangan dengan prinsip
dasar hukum pidana yang mensyaratkan adanya kesalahan pribadi (mens
1
Soekarno mengerucutkan kembali menjadi ekasila, yang artinya satu sila, yakni gotong-royong. Untuk lebih
jelasnya lihat Randy Pradityo, Internasionalisme dalam Pancasila, makalah disampaikan pada Kongres
Pancasila VIII yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta
pada tanggal 30 Mei-1 Juni 2016.
2
Muhamad Romdoni. 2022. The Reconstitution of Death Criminal Imposition against Persons of Criminal Actions
on Narcotics Post- Decision of the Constitutional Court Number 2-3/PUU-V/[Link]
BRIEF,11(2),508–[Link] from [Link] legal/article/view/154.
1
rea). Oleh karena itu, penulis merasa penting untuk mengkaji lebih dalam
tentang posisi, bentuk, serta batasan penerapan vicarious liability dalam
kebijakan formulasi hukum pidana di Indonesia, baik dalam sistem hukum
yang berlaku saat ini maupun dalam rancangan kebijakan hukum pidana ke
depan.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif, yaitu pendekatan
yang bertumpu pada kajian terhadap norma-norma hukum tertulis, baik berupa
peraturan perundang-undangan, doktrin, maupun asas-asas hukum yang
relevan. Pendekatan ini bertujuan untuk menganalisis konsep
pertanggungjawaban pengganti (vicarious liability) dalam kerangka hukum
pidana Indonesia, khususnya dalam konteks pembaharuan dan formulasi
kebijakan hukum pidana nasional. Dalam mengumpulkan data hukum, penulis
melakukan studi kepustakaan (library research) terhadap berbagai sumber
hukum primer seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP),
Undang-Undang terkait, serta Rancangan KUHP yang menjadi acuan dalam
pembaharuan hukum pidana di Indonesia.
Penulisan ini juga menggunakan sumber hukum sekunder berupa
literatur-literatur hukum, buku ajar, jurnal ilmiah, hasil seminar, dan pendapat
para ahli hukum pidana yang membahas topik pertanggungjawaban pidana
secara tidak langsung, baik dalam hukum nasional maupun perbandingan
dengan sistem hukum lain. Pendekatan normatif ini dipadukan dengan
pendekatan konseptual, yakni dengan menelaah dan membandingkan berbagai
teori serta pandangan akademik terkait penerapan vicarious liability dalam
sistem hukum pidana modern. Dengan demikian, metode ini memungkinkan
penulis untuk mengkaji baik dimensi dogmatis maupun dimensi kebijakan
hukum, dalam rangka menilai sejauh mana konsep vicarious liability dapat
diterima dan diterapkan dalam sistem hukum pidana Indonesia yang tengah
mengalami proses pembaruan.
C. PEMBAHASAN
Pertanggungjawaban pengganti (vicarious liability) dalam hukum pidana
merupakan isu penting dan sekaligus problematik dalam kerangka pembaruan
hukum pidana Indonesia. Vicarious liability memungkinkan seseorang atau
entitas misalnya atasan, pimpinan perusahaan, atau korporasi dimintai
pertanggungjawaban pidana atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan
2
oleh orang lain (bawahan, agen, pegawai) dalam hubungan tertentu, meskipun
pihak yang dimintai pertanggungjawaban tidak secara langsung melakukan
tindak pidana.3 Konsep ini dinilai relevan dalam konteks kejahatan modern yang
sering dilakukan dalam struktur organisasi atau korporasi, di mana
pertanggungjawaban pidana tidak bisa hanya dibebankan pada pelaku
langsung. Namun, di sisi lain, konsep ini juga menimbulkan berbagai kritik
yuridis, karena bertentangan dengan prinsip fundamental hukum pidana
Indonesia.
Kritik utama terhadap vicarious liability adalah bahwa penerapannya
bertentangan dengan asas tiada pidana tanpa kesalahan (geen straf zonder
schuld) sebagaimana tercermin dalam Pasal 44 KUHP dan menjadi fondasi
dalam sistem hukum pidana nasional. Dalam pasal tersebut ditegaskan bahwa
seseorang tidak dapat dipidana apabila tidak dapat dipertanggungjawabkan
atas perbuatannya, misalnya karena gangguan jiwa. Artinya, sistem hukum kita
mensyaratkan adanya kesalahan pribadi sebagai syarat utama untuk
dijatuhkannya pidana. Vicarious liability, karena memungkinkan pemidanaan
terhadap pihak yang tidak melakukan perbuatan secara langsung, dipandang
melanggar prinsip ini. Ini juga dapat mengarah pada bentuk strict liability, yakni
pertanggungjawaban pidana tanpa mempertimbangkan adanya unsur mens rea
(niat jahat).
KUHP saat ini belum secara eksplisit mengatur mengenai
pertanggungjawaban pengganti, dan bahkan dalam Rancangan Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) pun, pengaturannya masih terbatas
pada korporasi sebagai subjek hukum pidana, tanpa memberikan batasan yang
jelas tentang bagaimana pertanggungjawaban dapat dibebankan kepada pihak
lain yang tidak terlibat langsung dalam perbuatan pidana. Misalnya, dalam
Pasal 45 RKUHP, disebutkan bahwa korporasi dapat dikenai pidana apabila
tindak pidana dilakukan oleh pengurus yang memiliki kedudukan fungsional
dalam struktur organisasi, tetapi belum terdapat mekanisme eksplisit mengenai
bagaimana bentuk hubungan hukum atau fungsi pengawasan yang dapat
melahirkan vicarious liability terhadap pihak diluar pelaku utama.4
3
I Gusti Ngurah Agung Sweca Brahmanta, “Tinjauan Yuridis Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak,” Jurnal
Analogi Hukum 3, no.3 (2021):355– 62, [Link]
4
Komnas HAM, 5 September 2019, “Komnas HAM Minta Penundaan Pengesahan Draft RKUHP”,
[Link] komnasham-minta-penundaan- pengesahan-draft-
rkuhp. html, diakses tanggal 18 Mei 2020.
3
Dalam Pasal 46 RKUHP, korporasi dapat dijatuhi pidana apabila tindak
pidana tersebut dilakukan untuk kepentingan korporasi. Namun, konsep
vicarious liability dalam artian lebih luas, seperti tanggung jawab pimpinan atas
perbuatan bawahannya dalam konteks umum (non-korporasi), masih belum
mendapat tempat. Hal ini berpotensi menciptakan ketimpangan antara struktur
sosial modern dengan sistem hukum pidana yang masih kaku, dan
menimbulkan ketidakpastian hukum dalam praktik.5
Meskipun konsep ini dikritik, vicarious liability tidak serta merta harus
ditolak. Dalam konteks hukum pidana modern, di mana kejahatan tidak lagi
hanya dilakukan oleh individu perseorangan melainkan juga oleh kelompok,
organisasi, atau korporasi, diperlukan pendekatan yang lebih progresif. Dalam
kasus seperti kejahatan korporasi, pelanggaran lingkungan hidup, atau korupsi
institusional, seringkali sulit membuktikan kesalahan individual yang spesifik,
padahal tindakan tersebut merupakan hasil keputusan struktural atau sistemik.
Oleh karena itu, penggunaan vicarious liability dapat dianggap sebagai bentuk
realisme hukum, dengan tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan
batas-batas tertentu dalam penerapannya.
Penerapan vicarious liability dapat ditemukan dalam sistem hukum
Anglo Saxon seperti Inggris dan Amerika Serikat, di mana korporasi maupun
atasan dapat dimintai pertanggungjawaban atas tindakan yang dilakukan oleh
bawahannya dalam lingkup pekerjaannya.6 Meski demikian, penerapan
tersebut selalu disertai dengan mekanisme kontrol, pembatasan, dan
pembuktian hubungan kerja atau kewenangan secara ketat, agar tidak
menimbulkan kriminalisasi yang sewenang-wenang.
Dalam konteks formulasi hukum pidana Indonesia, vicarious liability
perlu ditempatkan secara hati-hati dan terbatas, tidak bertentangan dengan
prinsip legalitas dan asas kesalahan.7 Jika hendak dimasukkan ke dalam
5
Elvina Frederica et al., “Analysis of Conditional Criminal Decision in Domestic Violence Crime Case,”
International Journal of Social Science and Human Research 06, no. 02 (February 9, 2023),
[Link]
6
Syaifullah Yophi Ardianto, “Perlindungan Hukum Terhadap Anak Sebagai Korban Dari Tindak Pidana
Perdagangan Orang Di Kota Pekanbaru”, Jurnal Ilmu Hukum, vol 3. No. 1, pasal 1.
7
Muladi, Beberapa Catatan tentang RUU-KUHP, dalam Jurnal Legislasi Indonesia - Volume 1 Nomor 2 -
September 2004.
4
sistem hukum pidana nasional, maka pembentuk undang-undang perlu
menyusun aturan yang jelas dan tegas, baik terkait bentuk hubungan hukum
yang dapat melahirkan pertanggungjawaban pengganti, ruang lingkup jenis
tindak pidana yang dapat dikenakan, maupun bentuk pertanggungjawaban
yang proporsional dan adil. Dengan demikian, hukum pidana Indonesia tetap
dapat merespons tantangan zaman tanpa mengorbankan prinsip dasar
keadilan dan perlindungan hak asasi manusia.8
D. KESIMPULAN
Baik dalam KUHP yang berlaku saat ini maupun dalam Rancangan
KUHP (RKUHP), pengaturan mengenai vicarious liability masih terbatas,
khususnya terkait hubungan antara pelaku langsung dan pihak yang dimintai
tanggung jawab, ruang lingkup tindak pidana yang dapat dikenakan, serta
bentuk pidana yang sesuai.9 Ketidakhadiran rumusan yang tegas dan
sistematis dapat menimbulkan ketidakpastian hukum dan membuka celah
kriminalisasi yang tidak adil. Oleh karena itu, jika vicarious liability hendak
dijadikan bagian dari formulasi hukum pidana nasional, maka perlu dirumuskan
secara hati-hati, terbatas, dan jelas agar tidak bertentangan dengan prinsip
keadilan, asas legalitas, serta perlindungan hak asasi manusia. Meskipun
vicarious liability dapat dipandang sebagai instrumen strategis dalam
menghadapi bentuk-bentuk kejahatan modern yang bersifat sistemik dan
terstruktur, keberadaannya dalam sistem hukum pidana Indonesia perlu
diposisikan secara proporsional, dengan tetap menghormati prinsip-prinsip
dasar hukum pidana nasional dan memperhatikan perlindungan terhadap
individu yang dimintai pertanggungjawaban.
E. SARAN
1. Perlu Perumusan yang Tegas dan Jelas dalam RKUHP Pemerintah dan
pembentuk undang-undang perlu memberikan perhatian lebih dalam
merumuskan pengaturan tentang vicarious liability secara eksplisit
dalam Rancangan KUHP, dengan menegaskan batasan, hubungan
hukum, serta jenis tindak pidana yang dapat dikenakan
pertanggungjawaban pengganti. Rumusan yang tidak jelas berpotensi
menimbulkan multitafsir dan ketidakpastian hukum yang dapat
8
Manasa S Raman, Vicarious Liability, [Link] Liability, hlm.20.
9
Ibid.
5
merugikan pihak-pihak yang tidak seharusnya dimintai
pertanggungjawaban pidana.
2. Penelitian Lanjutan dan Perbandingan Hukum Diperlukan penelitian
lanjutan, baik secara akademik maupun empiris, untuk mengkaji
penerapan vicarious liability dalam sistem hukum pidana negara lain,
terutama negara-negara dengan tradisi hukum kontinental seperti
Indonesia. Hasil perbandingan hukum tersebut dapat dijadikan referensi
dalam menyusun kebijakan formulasi hukum pidana yang sesuai
dengan kebutuhan nasional, tanpa mengorbankan prinsip dasar hukum
pidana yang telah mapan.
F. PENUTUP
Kritik terhadap konsep vicarious liability dalam sistem hukum pidana
Indonesia menggarisbawahi pentingnya kehati-hatian dalam menerima dan
merumuskan bentuk-bentuk pertanggungjawaban pidana baru yang
menyimpang dari asas klasik hukum pidana, terutama asas kesalahan. Sebagai
sistem hukum yang masih berakar kuat pada prinsip individualisasi tanggung
jawab, hukum pidana Indonesia belum memiliki kerangka yang kokoh dan
sistematis untuk menampung pertanggungjawaban tidak langsung
sebagaimana dimaksud dalam vicarious liability.10 Ketidaksiapan ini terlihat dari
ketiadaan pengaturan eksplisit dalam KUHP yang berlaku saat ini, serta
minimnya elaborasi dalam RKUHP mengenai bentuk hubungan hukum yang
dapat menimbulkan tanggung jawab pidana pengganti.
Kejahatan modern seperti kejahatan korporasi atau pelanggaran
lingkungan, vicarious liability dapat dipandang sebagai solusi pragmatis untuk
menjerat pelaku dalam struktur yang kompleks, penerapannya tetap harus
dibatasi secara normatif agar tidak mengikis prinsip keadilan dan kepastian
hukum. Oleh karena itu, kritik terhadap konsep ini seharusnya tidak dimaknai
sebagai penolakan total, melainkan sebagai upaya untuk mengingatkan agar
pembaruan hukum pidana nasional tidak hanya bertujuan merespons
kebutuhan praktis, tetapi juga tetap berpijak pada asas-asas fundamental yang
menjamin hak dan kebebasan warga negara. Pembaruan hukum pidana tidak
boleh mengorbankan prinsip legalitas, proporsionalitas, dan keadilan demi
10
Barda Nawawi Arief, 2009, Tujuan dan Pedoman Pemidanaan Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang, hlm. 43.
6
fleksibilitas hukum semata. Maka dari itu, setiap upaya memasukkan vicarious
liability ke dalam sistem hukum pidana Indonesia harus dilandasi oleh analisis
kritis dan pertimbangan normatif yang mendalam, agar tidak menimbulkan
ketimpangan antara tujuan penegakan hukum dan perlindungan hak asasi
manusia.