0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan12 halaman

PBL untuk Tingkatkan Berpikir Kritis Matematika

Dokumen ini membahas pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan Problem Based Learning (PBL). PBL dirancang untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar, meningkatkan kemampuan analisis, dan memecahkan masalah dengan cara yang relevan dengan dunia nyata. Dengan demikian, pembelajaran matematika tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada pengembangan keterampilan berpikir kritis yang esensial bagi siswa.

Diunggah oleh

forestr805
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan12 halaman

PBL untuk Tingkatkan Berpikir Kritis Matematika

Dokumen ini membahas pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan Problem Based Learning (PBL). PBL dirancang untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar, meningkatkan kemampuan analisis, dan memecahkan masalah dengan cara yang relevan dengan dunia nyata. Dengan demikian, pembelajaran matematika tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada pengembangan keterampilan berpikir kritis yang esensial bagi siswa.

Diunggah oleh

forestr805
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

DENGAN PROBLEM BASED LEARNING

Berta Apriza1
1
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar STKIP Muhammadiyah Kotabumi
email: berthaafriza90@[Link]

ABSTRACT
Education functions to upgrading, forming, character and develop civilization nation.
Having the ability to think and actions to effective and creative in the realm of abstract
and concrete can be used as self development independently. Students need to armed
with critical thinking skills, systematic, logical, creative, and cooperate effectively to
obtain, choose, and manage an information. Mathematics learning is directed to
develop critical thinking skills and discussed open and objective because mathematics
having strong and structure clear and links between the concept of the one with another
concept. By analyzing learning needs of mathematics, formulate and designed a
learning programs, choose a strategies and evaliated them correctly to get good results.
The ability critical thinking is very important in studying new matter and that known
way, and learn to ask effectively and reach a conclusion consistent with the facts.
Mathematic learning with problem based learning is the concept of better used activity
of the student during learning. In accordance with statements from Westwood (2008:
31) stated that PBL: 1) propel oneself directly in learning, 2) prepared students to
critical thinking and analytical, 3) give opportunity to students to identify, find and use
numerous this approuch in should think, 4) is the learning is very closely related to the
real world and motivate students, 5) involving activeness in integrating information and
skills of various the discipline, and 6) knowledge and strategy by the possibility of will
be maintained and tranferred to the learning situation other, improve the ability to
communicate and the social skills needed to cooperation and teamwork. By chance the
learning process as an alternative in solving mathematical problems with using the
ability critical think an to cultivate the scientific attitude of student.
Keywords: The Ability Critical Thinking, Mathematic Learning, Problem Based Learning

PENDAHULUAN Sejalan dengan pendapat Bassham, Irwin,


Nardone, and Wallace (2011:1) meng-
Berpikir merupakan sebuah aktivitas
ungkapkan bahwa fungsi pendidikan adalah
yang dilakukan manusia bahkan saat ke-
mengajarkan seseorang untuk berpikir
adaan tertidur. Bagi otak, berpikir dan
secara intensif dan berpikir kritis. Orang-
menyelesaikan masalah merupakan paling
orang yang memiliki kemampuan berpikir
penting dengan kemampuan yang tidak
kritis tidak hanya mengenal sebuah
terbatas. Kemampuan berpikir adalah salah
jawaban. Namun, akan terus mencoba me-
satu kecakapan hidup (life skill) yang perlu
ngembangkan kemungkinan jawaban lain-
dikembangkan melalui proses pendidikan.
Jurnal Eksponen Volume 9 No. 1, April 2019, hal. 55²66

nya berdasarkan analisis, proses penalaran kemampuan berpikir kritis dan logis, dan
sampai pada tahap kompleks, dan informasi meningkatkan kemampuan analisis dan
yang telah didapat dari suatu per- pemecahan masalah tingkat tinggi.
masalahannya. Partisipasi yang baik dalam pem-
Matematika merupakan ilmu univer- belajaran dapat dilihat dari fakta-fakta akan
sal yang berguna bagi kehidupan manusia keterampilan dan kemampuan berpikir serta
dan juga mendasari perkembangan tekno- kompetensi peserta didik pada saat bekerja
logi modern, serta mempunyai peran sama. Hal ini memberikan kesempatan
penting dalam berbagai disiplin ilmu dan kepada peserta didik untuk membangun
memajukan daya pikir manusia. Dalam pengetahuannya secara aktif. Artinya pe-
kurikulum 2013 dinyatakan bahwa mata ngetahuan ditemukan, dibentuk, dan di-
pelajaran matematika perlu diberikan ke- kembangkan sendiri serta peserta didik
pada semua peserta didik mulai dari belajar berdasarkan masalah yang terkait
sekolah dasar hingga sekolah menengah dengan dunia nyata sehingga pembelajaran
untuk membekali peserta didik dengan lebih bermakna bagi mereka. Problem
kemampuan berpikir logis, analitis, sis- Based Learning (PBL) menawarkan ke-
tematis, kritis, inovatif dan kreatif, serta terlibatan peserta didik secara aktif dalam
kemampuan bekerja sama. Pembelajaran proses pembelajaran.
matematika melatih cara berpikir dan ber- Panen (dalam Rusmono, 2012:74)
nalar dalam menarik kesimpulan, misalnya mengatakan bahwa dalam pembelajaran
melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, PBL, peserta didik terlibat dalam proses
eksperimen, menunjukkan kesamaan, per- penelitian yang mengharuskannya untuk
bedaan, konsisten, dan inkonsistensi. Smith mengidentifikasi permasalahan, mengum-
(Chambers, 2013:7) menyatakan³YDOXH RI pulkan data, dan menggunakan data ter-
learning mathematics as being something sebut untuk pemecahan masalah. Pe-
WKDW µGLVFLSOLQH WKH PLQG GHYHORSV ORJLFDO nerapan PBL dalam pembelajaran dapat
and critical reasoning, and develops menstimulus peserta didik untuk meng-
analytical and problem solving skills to a gunakan kemampuan berpikir, meningkat-
KLJK GHJUHH¶ ZKLFK LV D PRUH KHOSIXO kan kemampuan matematik siswa, meng-
articulation of the purist standpoint´ 'DUL optimalkan penguasaan materi belajar,
pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa menerapkan belajar dalam kelompok, dan
nilai yang terkandung dalam pembelajaran dapat memaknai pembelajaran dengan baik.
matematika dapat membantu peserta didik Berdasarkan pemikiran di atas,
dalam mendisiplinkan akal, meningkatkan tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan

56
Kemampuan Berpikir Kritis Melalui Pembelajaran Matematika dengan Problem Based Learning
(Berta Apriza)

dasar-dasar kemampuan berpikir kritis dalam berpikir dengan maksud untuk


dalam pembelajaran matematika dengan meningkatkannya satu sama lain, serta
problem based learning sehingga penguasa- dapat membentuk pemikiran korektif
an materi belajar dan penyelesaian masalah pendek, mandiri, dan disiplin diri. Hal ini
dalam matematika yang berkaitan me- membutuhkan standar yang ketat dari
ningkat dengan baik. keunggulannya dan perintah sadar dalam
penggunaannya. Mempunyai makna sama
PEMBAHASAN
dengan pendapat Glazer (2001:1) bahwa:
Kemampuan Berpkir Kritis
³critical thinking in mathematics is the
ability and disposition to incorporate
Kemampuan berpikir kritis setiap
prior knowledge, mathematical reason-
individu berbeda antara satu dengan lainnya ing, and cognitive strategies to
generalize, prove, or evaluate
sehingga perlu dipupuk sejak dini. Berpikir
unfamiliar mathematical situations in a
terjadi dalam setiap aktivitas manusia yang UHÀHFWLYH PDQQHU
berfungsi untuk menyelesaikan masalah, Maksudnya adalah berpikir kritis
membuat keputusan, serta mencari alasan. dalam matematika merupakan kemampuan
Proses atau jalannya berpikir memiliki tiga dan disposisi untuk menggabungkan pe-
langkah pokok, yaitu: (1) pembentukan ngetahuan, penalaran matematika, dan stra-
pengertian, (2) pembentukan pendapat, dan tegi kognitif untuk menggeneralisasi, mem-
(3) penarikan kesimpulan. Mason ber- buktikan, atau mengevaluasi situasi mate-
pendapat (2008:2) bahwa berpikir kritis matis secara efektif. Indikator dari keteram-
didasari oleh keterampilan yang khusus, pilan berpikir kritis ada lima perlakuan
seperti kemampuan untuk menilai alasan yang sistematis, yaitu:
benar, atau untuk menimbang bukti yang
a. Berpikir Kritis Sebagai Keterampilan
relevan, atau untuk mengidentifikasi argu- Menganalisis
men menyesatkan (keliru). Seseorang yang
Jika seorang peserta didik memiliki pe-
berpikir kritis memiliki karakter khusus
ngetahuan yang memadai (prior Know-
yang dapat diidentifikasi dengan melihat
ledge), ia dapat membangun atau memben-
bagaimana seseorang menyikapi suatu
tuk kerangka berpikirnya sendiri untuk
masalah, kebiasaan dalam bertindak, ber-
mempertanyakan dan menilai informasi
argumen, dan memanfaatkan intelektual-
atau pengetahuan baru yang diperolehnya.
nya serta pengetahuannya.
Paul, R. dan Elder, L (2008:2) b. Berpikir kritis dalam Mensintesis

menyatakan bahwa berpikir kritis adalah Peserta didik seringkali menjadi penerima
bentuk menganalisis dan mengevaluasi informasi yang pasif dari setiap informasi

57
Jurnal Eksponen Volume 9 No. 1, April 2019, hal. 55²66

yang didapatkan, baik itu dengan cara Berikut adalah gambar yang
mendengar maupun melihat, hendaknya berbentuk piramid dari pengetahuan
peserta didik terbiasa untuk tidak mudah kognitif (Taksonimi Bloom).
menarik sebuah kesimpulan dan mengambil
keputusan atas apa yang mereka dapatkan.

c. Berpikir kritis dalam Mengenal dan


Menyelesaikan Masalah

Proses berpikir memerlukan banyak


langkah dan strategi yang dilakukan tidak
hanya dengan mengikuti cara dan langkah
yang sudah ada dan tersedia dalam pikiran
sendiri.
Gambar. 1
d. Berpikir kritis dalam Menyimpulkan dan Kegiatan kognitif (Taksonomi Bloom)
Mengambil Keputusan Jackson, D & Newberry, P (2012: 3)

Dalam mengambil keputusan atas setiap


Kemampuan berpikir kritis dapat
masalah yang dihadapi, dibutuhkan ke-
mendorong peserta didik memunculkan ide-
mampuan yang baik dalam menganalisis,
ide atau pemikiran baru, menyeleksi
mengeneralisasikan, mengorganisasikan,
berbagai pendapat sehingga dapat mem-
membandingkan, mengevalusai, dan mem-
bedakan mana pendapat yang relevan atau-
buat kesimpulan dari masalah yang di-
pun yang tidak relevan. Sejalan dengan
hadapi.
pendapat Ryan (2015:2) yang menyatakan

e. Keterampilan dalam Mengevaluasi dan bahwa berpikir kritis dapat membantu me-
Menilai nafsirkan ide-ide yang kompleks, menilai

Dalam taksonomi Bloom, keterampilan bukti yang disediakan untuk mendukung

mengevaluasi merupakan tahap kognitif argumen, dan membedakan antara kewajar-

yang paling tinggi, karena pada tahap ini an dan tidak masuk akal. Berpikir kritis

peserta didik dituntut untuk mampu adalah keterampilan dalam mengajukan

menyinergikan aspek-aspek kognitif lain- pertanyaan yang relevan. Kemampuan dan

nya dalam menilai sebuah fakta atau indikator berpikir kritis lebih lanjut

konsep. diuraikan pada tabel berikut.

58
Kemampuan Berpikir Kritis Melalui Pembelajaran Matematika dengan Problem Based Learning
(Berta Apriza)

Tabel 2 untuk mengembangkan kemampuan meng-


Kemampuan dan Indikator berpikir
gunakan matematika dalam pemecahan
kritis
masalah dan mengomunikasikan idea tau
Kemampuan
No Berpikir Indikator gagasan dengan menggunakan simbol,
Kritis
Argumen dengan alasan;
tabel, diagram, dan media lain.
Memberikan menunjukan perbedaan Proses pembelajaran di kelas se-
1
argument dan persamaan; serta
argumen yang utuh. bagai implementasi dari sebuah kurikulum
Mendeduksikan secara
Melakukan logis, kondisi logis, serta merupakan sarana untuk membantu peserta
2
deduksi melakukan interpretasi
terhadap pernyataan. didik memperoleh informasi, ide, ke-
Melakukan pengumpul- terampilan, nilai, cara berpikir, meng-
Melakukan an data; membuat gene-
3
induksi ralisasi dari data; mem- ekspresikan diri, dan cara-cara bagaimana
buat tabel dan grafik.
Evaluasi diberikan ber- untuk belajar. Pembelajaran matematika
dasarkan fakta, berdasar-
Melakukan dasarnya bertujuan dalam tercapainya
4 kan pedoman atau
evaluasi
prinsip serta memberi-
kan alternatif.
keberhasilan mahasiswa dalam mempelajari
Memilih kemungkinan matematika. Nitko dan Brokhart (2011:20)
Memutuskan solusi dan menentukan
5 dan kemungkinan-kemung- PHQ\DWDNDQ EDKZD ³instruction is the
melaksanakan kinan yang akan di-
laksanakan. process you see to provide students with the
conditions that help them achieve the
Pembelajaran Matematika OHDUQLQJ WDUJHWV´. Maksudnya adalah
Kemampuan manusia untuk belajar pembelajaran merupakan proses yang
merupakan karakteristik yang membedakan digunakan untuk memberikan peserta didik
dirinya dengan makhluk hidup lain. Belajar suatu kondisi yang membantu mereka untuk
sangat bermanfaat bagi setiap orang. mencapai target belajar. Dalam hal ini
Seseorang yang selalu belajar akan terus target belajar berkaitan dengan hasil
menerus mengembangkan potensi yang (output) yang diperoleh peserta didik
dimilikinya dan berimbas pada pening- setelah memperoleh proses pembelajaran.
katan kualitas hidupnya. Matematika me- Keberhasilan atau target tersebut tidak
rupakan ilmu yang universal dan perlu hanya meningkatnya prestasi belajar, tetapi
diberikan kepada semua peserta didik yang lebih penting meningkatnya kom-
mulai dari sekolah dasar untuk mem- petensi-kompetensi seperti kemampuan
bekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, Dalam Permendikbud Nomor 58
dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. tahun 2013, disebutkan bahwa tujuan
Selain itu matematika sekolah bertujuan pembelajaran matematika di sekolah pada

59
Jurnal Eksponen Volume 9 No. 1, April 2019, hal. 55²66

tingkat lanjut, yaitu agar peserta didik kalimat lengkap, simbol, tabel,
memiliki kemampuan sebagai berikut: diagram, atau media lain untuk
1. Memahami konsep matematika, me- memperjelas keadaan atau masalah.
rupakan kompetensi dalam men- 5. Memiliki sikap menghargai kegunaan
jelaskan keterkaitan antarkonsep dan matematika dalam kehidupan, yaitu
menggunakan konsep maupun algo- memiliki rasa ingin tahu, perhatian,
ritma, secara luwes, akurat, efisien, dan minat dalam mempelajari mate-
dan tepat, dalam pemecahan masalah. matika, serta sikap ulet dan percaya
2. Menggunakan pola sebagai dugaan diri dalam pemecahan masalah.
dalam penyelesaian masalah dan 6. Memiliki sikap dan perilaku yang
mampu membuat generalisasi ber- sesuai dengan nilai-nilai dalam
dasarkan fenomena atau data yang matematika dan pembelajarannya,
ada. Menggunakan pola sebagai seperti taat azas, konsisten, men-
dugaan dalam penyelesaian masalah, junjung tinggi kesepakatan, toleran,
dan mampu membuat generalisasi menghargai pendapat orang lain,
berdasarkan fenomena atau data yang santun, demokrasi, ulet, tangguh,
ada. kreatif, menghargai kesemestaan
3. Menggunakan penalaran pada sifat, (konteks, lingkungan), kerjasama,
melakukan manipulasi matematika adil, jujur, teliti, cermat, bersikap
baik dalam penyederhanaan, maupun luwes dan terbuka, memiliki kemauan
menganalisis komponen yang ada berbagi rasa dengan orang lain.
dalam pemecahan masalah dalam 7. Melakukan kegiatan±kegiatan moto-
konteks matematika maupun di luar rik yang menggunakan pengetahuan
matematika (kehidupan nyata, ilmu, matematika.
dan teknologi). Hal ini meliputi ke- 8. Menggunakan alat peraga sederhana
mampuan memahami masalah, mem- maupun hasil teknologi untuk
bangun model matematika, menye- melakukan kegiatan-kegiatan mate-
lesaikan model dan menafsirkan matika. Kecakapan atau kemampuan-
solusi yang diperoleh termasuk dalam kemampuan tersebut saling terkait
rangka memecahkan masalah dalam erat, yang satu memperkuat sekaligus
kehidupan sehari-hari (dunia nyata). membutuhkan yang lain.
4. Mengomunikasikan gagasan, pena-
Sumarno (2010) menyatakan bahwa
laran serta mampu menyusun bukti
pembelajaran matematika diarahkan untuk
matematika dengan menggunakan

60
Kemampuan Berpikir Kritis Melalui Pembelajaran Matematika dengan Problem Based Learning
(Berta Apriza)

mengembangkan (1) kemampuan berpikir standing what students know and need to
matematis yang meliputi: pemahaman, learn and then challenging and supporting
pemecahan masalah,penalaran, komunikasi, WKHP WR OHDUQ LW ZHOO´ Makna dari
dan koneksi matematis; (2) kemampuan pernyataan tersebut adalah bahwa pem-
berfikir kritis, serta sikap yang terbuka dan belajaran matematika yang efektif mem-
obyektif, serta (3) disposisi matematis butuhkan pemahaman tentang apa yang
atau kebiasaan, dan sikap belajar ber- peserta didik tahu dan butuhkan untuk
kualitas yang tinggi. Kebiasaan dan sikap dipelajari, kemudian menantang dan men-
belajar yang dimaksud antara lain terlukis dukung mereka mempelajarinya dengan
pada karakteristik utama SRL yaitu: (1) baik. Dengan adanya pembelajaran mate-
Menganalisis kebutuhan belajar mate- matika yang seperti ini, maka akan dapat
matika, merumuskan tujuan; dan me- dipastikan untuk melakukan penilaian
rancang program belajar (2) Memilih dan terhadap apa yang telah siswa pelajari
menerapkan strategi belajar; (3) Memantau selama proses pembelajaran.
dan mengevaluasi diri apakah strategi telah
Problem Based Learning
dilaksanakan dengan benar, memeriksa
hasil (proses dan produk), serta merefleksi Pembelajaran dengan PBL mem-
untuk memperoleh umpan balik. Hal yang berikan kesempatan kepada siswa untuk
serupa dengan apa yang diungkapkan mempelajari materi akademis dan ke-
Joyce, et al. (2009:7) pengajaran yang baik terampilan mengatasi masalah dengan
adalah pengajaran yang merangkul pe- terlibat di berbagai situasi kehidupan nyata.
ngalaman belajar tanpa batas mengenai Problem Based Learning merupakan pem-
bagaimana gagasan dan emosi berinteraksi belajaran yang menjadikan masalah sebagai
dengan suasana kelas dan bagaimana dasar atau basis bagi siswa untuk belajar.
keduanya dapat berubah sesuai suasana Uden & Beaumont (2006:29) menyatakan
yang juga turut berubah. ³Unlike conventional learning, PBL takes
Pembelajaran matematika juga harus an integrated approach to learning based
mencerminkan bagaimana pengguna mate- on the requirements of the problem as
matika menyelidiki situasi masalah, me- perceived by the learners´ 'DUL SHUQ\DWDDQ
nentukan variable-variabel, melakukan tersebut dapat dipahami bahwa tidak seperti
perhitungan, dan memverifikasi kebenaran belajar secara konvensional, PBL meng-
prediksi tersebut. Secara umum dinyatakan gunakan pendekatan terintegrasi dalam
dalam NCTM (2000:16), ³HIIHFWLYH belajar yang mensyaratkan adanya masalah
mathematics teaching requires under- yang dapat dirasakan oleh pelajar.

61
Jurnal Eksponen Volume 9 No. 1, April 2019, hal. 55²66

Seperti halnya yang diungkapkan berusaha menemukan solusi riil untuk


:HLVVLQJHU PHQ\DWDNDQ ³Pro- masalah riil. Peserta didik harus
blem Based Learning (PBL) is an menganalisis dan menetapkan masalah-
instructional strategy that encourages nya, mengembangkan hipotesis dan
students to develop critical thinking and membuat prediksi, mengumpulkan dan
problem-solving skills that they can carry menganalisis informasi, melaksanakan
ZLWK WKHP WKURXJKRXW WKHLU OLIHWLPHV´. eksperimen (jika memungkinkan),
Maksudnya bahwa belajar berbasis masalah membuat inferensi, dan menarik
merupakan suatu strategi pembelajaran kesimpulan. Metode investigasif yang
yang mendorong siswa untuk mengem- digunakan tentu bergantung pada
bangkan kemampuan berpikir kritis dan masalah yang diteliti.
dapat menyelesaikan masalah yang dapat d. Produksi artefak dan exhibit. PBL
digunakan mereka sepanjang hidupnya menuntut peserta didik untuk meng-
Adapun karakteristik yang dimiliki konstruksikan produk dalam berbagai
oleh PBL menurut Arends (2012:397) yakni artefak dan exhibit yang menjelaskan
sebagai berikut: atau merepresentasikan solusi mereka.
a. Pernyataan atau masalah perangsang. Salah satu diantaranya yaitu pe-
PBL mengorganisasikan pengajaran nyusunan permasalahan secara ber-
diseputar pertanyaan dan masalah yang tahap, siswa membuat model per-
penting secara social dan bermakna masalahan yang didapat saat proses
secara personal bagi siswa. Peserta pembelajaran kemudian siswa mem-
didik dihadapkan pada berbagai situasi bangun program untuk penyelesaian
kehidupan nyata dan ada berbagai dari permasalahan yang didapat, hingga
solusi yang competing untuk me- pada akhirnya peserta didik mem-
nyelesaikannya. presentasikan hasil yang dipelajari.
b. Focus interdisipliner. Meskipun PBL e. Kolaborasi. PBL ditandai oleh peserta
dapat dipusatkan pada subjek tertentu didik yang bekerja bersama peserta
(sains, matematika, dan sejarah), tetapi didik lain secara berpasangan ataupun
masalah yang diinvestigasikan dipilih dalam kelompok kecil. Bekerjaa
karena solusinya menuntut peserta bersama memberikan motivasi untuk
didik untuk menggali banyak subjek. keterlibatan secara berkelanjutan dalam
c. Investigasi autentik. PBL meng- tugas-tugas kompleks dan mening-
haruskan peserta didik untuk me- katkan kesempatan untuk melakukan
lakukan investigasi autentik yang penyelidikan dan dialog bersama serta

62
Kemampuan Berpikir Kritis Melalui Pembelajaran Matematika dengan Problem Based Learning
(Berta Apriza)

mengembangkan berbagai keteram- Tahap Deskripsi

pilan sosial. Fase 2: Menyusun strategi. ƒ Memastikan sebisa


mungkin bahwa sis-
Siswa menyusun strategi
Pendapat serupa juga diungkapkan oleh wa menggunakan
untuk memecahkan masalah
pendekatan yang
Cheong (2008:47) bahwa, dan guru memberikan mereka
berguna untuk me-
umpan balik soal strategi
in the traditional teacher-centered
mecahkan masalah
approach, the teacher is knowledge- tersebut
able in the subject matter and the focus Fase 3: Menerapkan ƒ Memberi siswa pe-
of teaching is on the transmission of strategi.
ngalaman untuk me-
knowledge from the expert teacher to
the novice student. In contrast, the PBL Siswa menerapkan strategi- mecahkan masalah
approach is a student-centered strategi mereka saat guru
approach in which the focus is on secara cermat memonitor
VWXGHQW¶V OHDUQLQJ DQG ZKDW WKH\ GR WR upaya mereka dan mem-
achieve this. In such an environment,
the role of the teacher is more of a berikan umpan balik
facilitator than an instructor. Fase 4: Membahas dan ƒ Memberi siswa um-
mengevaluasi hasil.
pan balik tentang
Pada pembelajaran tradisional yang Guru membimbing diskusi upaya mereka
berpusat pada guru, guru sebagai sumber tentang upaya siswa dan hasil
pengetahuan pada materi pelajaran dan yang mereka dapatkan

fokus pengajaran sebagai proses pe-


mindahan pengetahuan dari guru pada Manfaat lain yang didapat dengan
peserta didik. Sebaliknya, pada pem- menerapkan Pembelajaran PBL menurut
belajaran PBL, pembelajaran dipusatkan Westwood (2008:31), yaitu 1) mendorong
kepada peserta didik sementara guru lebih diri sendiri secara langsung dalam belajar
berperan sebagai fasilitator dan instruktur. (encourages self-direction in learning), 2)
Menurut Eggen & Kauchak menyiapkan siswa untuk berpikir secara
(2012:311), tahapan-tahapan dalam pem- kritis dan analitis (prepares students to
belajaran PBL adalah sebagai berikut. think critically and analytically), 3)
Tabel 2 memberikan kesempatan kepada siswa
Fase PBL untuk mengidentifikasi, menemukan dan
Tahap Deskripsi
menggunakan berbagai pendekatan dalam
Fase 1: Mereview dan ƒ Menarik perhaitan
menyajikan masalah. berpikir (empowers students to identify,
siswa kedalam pe-
Guru mereview pengetahuan lajaran locate and use appropriate resources), 4)
yang dibutuhkan untuk me- ƒ Memberikan fo- masalah belajar sangat erat kaitannya
mecahkan masalah dan mem- kus konkret untuk dengan dunia nyata dan memotivasi siswa
berikan siswa masalah untuk pelajaran
(issues studied are linked closely with the
dipecahkan

63
Jurnal Eksponen Volume 9 No. 1, April 2019, hal. 55²66

real world and are motivating for students), mengevaluasi masalah tersebut. Dengan
5) melibatkan keaktifan dalam meng- demikian, proses pembelajaran ini dapat
integrasikan informasi dan keterampilan menjadi filter bagi peserta didik dalam
dari berbagai disiplin ilmu (active membedakan masalah yang relevan dan
involvement in integrating information and tidak relevan, yang dapat membantu peserta
skills from different disciplines), dan 6) didik dalam membuat pertimbangan dalam
pengetahuan dan strategi yang diperoleh sebuah keputusan. Selain itu, dapat
kemungkinan akan dipertahankan dan di- meyakinkan mereka dalam melakukan
pindahkan ke situasi belajar lainnya, me- sebuah tindakan, atau berpikir kritis
ningkatkan kemampuan komunikasi dan sehingga dapat dikatakan sebagai kom-
keterampilan sosial yang diperlukan untuk petensi yang akan dicapai serta alat yang
kerja sama dan kerja sama tim (knowledge digunakan dalam mengonstruksi penge-
and strategies acquired are likely to be tahuannya. Pada tahap ini harapannya
retained and transferred to other learning peserta didik dapat menggunakan kete-
situations enhances communication skills rampilan sosial, pengetahuan, dan strategi
and social skills necessary for cooperation untuk menyelesaikan masalah dengan cara
and teamwork.) sendiri.
Dengan kerja sama tim, peserta
Kemampuan Berpikir Kritis dalam
didik diberi kesempatan untuk melakukan
Pembelajaran Matematika dengan
Problem Based Learning diskusi dengan temannya kemudian meng-
arahkannya untuk mengambil kesimpulan
Kemampuan berpikir kritis me-
dari hasil diskusi tersebut. Dengan me-
rupakan proses kognitif yang terarah, jelas,
lakukan beberapa langkah dalam menye-
dan aktif pada peserta didik sehingga dapat
lesaikan permasalahan matematika maka
mendisiplinkan intelektualnya dalam me-
kemampuan berpikir kritis peserta didik
mecahkan masalah, menganalisis, membuat
dalam pembelajaran matematika dengan
kesimpulan, dan mengevaluasi semua aspek
Problem Based Laerning yang didapatkan
dari situasi masalah matematika yang
optimal sesuai dengan indikator-
diberikan. Dalam proses pembelajaran ma-
indikatornya.
tematika dengan Problem Based Learning,
peserta didik dihadapkan dengan per-
PENUTUP
masalahan yang riil dalam matematika yang
kemudian dibimbing agar mereka dapat Pembelajaran matematika dengan
mengindentifikasi, menganalisis, serta problem based learning memberikan

64
Kemampuan Berpikir Kritis Melalui Pembelajaran Matematika dengan Problem Based Learning
(Berta Apriza)

pengaruh positif dalam mengembangkan kritis yang baik sesuai dengan indikatornya.
kemampuan berpikir kritis. Melalui Tenaga pendidik disarankan untuk mem-
problem based learning dalam pem- berikan informasi dan bimbingan tentang
belajaran matematika yang disajikan dalam bagaimana pembelajaran matematika
bentuk masalah matematika, peserta didik dengan problem based laerning yang
diberi kesempatan untuk mengidentifikasi, membuahkan kemampuan berpikir kritis
menganalisis, serta mengevaluasi masalah meningkat dengan baik.
dengan menggunakan kemampuan berpikir

DAFTAR RUJUKAN

Arends, R. I. 2012. Learning to teach. (9th ed). New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Basham, Irwin, Nardone, and Wallace. 2011. Critical thingking a VWXGHQW¶V LQWURGXFWLRQ New
York, NY: McGraw-Hill

Chambers, P. 2013. Teaching mathematics: developing as a reflektive secondary teacher.(2th


ed). London: Sage Publication inc.

Cheong, F. 2008. Using a problem based learning approach teach an intelligent system
course. [versi Elektronic]. Journal of information technology education, Volume 7,
Page 47-60 .

Eggen. P. & Kauchak. D. 2012. Strategi dan model pembelajaran. (Terjemahan Satrio
Wahono). Jakarta: Indeks.
Glazer, E. 2001. Using internet primary sources to teach critical thinking skills in
mathematics. Westport, CA: British Library

Jackson, D., & Newberry, P. 2012. &ULWLFDO WKLQJNLQJ D XVHU¶V PDQXDO Boston, MA:
Wadsworth

Joyce, Bruce, Weil, & Cahoun. 2009. Models of teaching. model-model pengajaran.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Mason, M. 2008. Critical thingking and learning. Victoria: Blackwell Publishing

Mendikbud. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 58, Tahun 2013,
tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah.

Nitko, A.J., & Brookhart, S. M. 2011. Educational asessment of students. (5th ed). Boston,
Massachusetts: Pearson Educational.
NCTM. 2000. Principles and standars for school mathematics. New York, NY: The National
Council of Teachers of Mathematics, Inc.

65
Jurnal Eksponen Volume 9 No. 1, April 2019, hal. 55²66

Paul, R., & Elder, L. 2008. The miniature guide to critical thinking concepts and
tools. California: Santa Rosa.

Rusmono. 2012. Strategi pembelajaran dengan problem based learning itu perlu. Bogor:
Ghalia Indonesia.

Ryan, V. R. 2015. Beyon feelings a guide to critical thinking. Diambil tanggal 2 Maret 2015.
Tersedia: Roger Hu P1-C02-1
<[Vincent_Ruggiero]_Beyon_Feelings_A_Guide_to_Critical [Link]>

Sumarno, U. 2010. Berpikir dan disposisi matematika: apa, mengapa, dan bagaimana
dikembangkan pada peserta didik. Diambil tanggal 27 Desembar 2014 dari
[Link]

Uden, Lorna & Beaumont, Chris. 2006. Technology and problem-based learning. London:
Information Science Publishing (an imprint of Idea Group Inc.)

Weissinger, P.A., 2004. Critical thinking, metacognition, and problem-based learning,in


enhancing thinking through problem-based learning approaches. Singapore: Thomson
Learning.

Westwood. 2008. What teachers need to know about. Victoria, Australia: ACER press.

66

Anda mungkin juga menyukai