BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Kinerja Guru
1. Definisi Kinerja
Kinerja merupakan kegiatan yang dijalankan oleh tiap-
tiap individu dalam kaitannya untuk mencapai tujuan yang
sudah direncanakan. Berkaitan dengan hal tersebut terdapat
beberapa definisi mengenai kinerja. Smith dalam (Mulyasa,
2005: 136) menyatakan bahwa kinerja adalah “output drive from
processes, human or otherwise”. Kinerja merupakan hasil atau
keluaran dari suatu proses. Dikatakan lebih lanjut oleh Mulyasa
bahwa kinerja atau performance dapat diartikan sebagai prestasi
kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, hasil-hasil kerja atau
unjuk kerja.
Kinerja merupakan suatu konsep yang bersifat universal
yang merupakan efektifitas operasional suatu organisasi, bagian
organisasi, dan karyawannya berdasarkan standar dan kriteria
yang telah ditetapkan sebelumnya. Karena organisasi pada
dasarnya dijalankan oleh manusia maka kinerja sesungguhnya
merupakan perilaku manusia dalam menjalankan perannya
dalam suatu organisasi untuk memenuhi standar perilaku yang
11
12
telah ditetapkan agar membuahkan tindakan serta hasil yang
diinginkan.
Dessler (1997: 513) menyatakan pengertian
kinerja hampir sama dengan prestasi kerja ialah
perbandingan antara hasil kerja actual dengan
standar kerja yang ditetapkan, Dalam hal ini
kinerja lebih memfokuskan pada hasil kerja.
Beberapa pengertian tentang kinerja
tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja
adalah prestasi kerja yang telah dicapai oleh
seseorang. Kinerja atau prestasi kerja merupakan
hasil akhir dari suatu aktifitas yang telah dilakukan
seseorang untuk meraih suatu tujuan. Pencapaian
hasil kerja ini juga sebagai bentuk perbandingan
hasil kerja seseorang dengan standar yang telah
ditetapkan. Apabila hasil kerja yang dilakukan oleh
seseorang sesuai dengan standar kerja atau
bahkan melebihi standar maka dapat dikatakan
kinerja itu mencapai prestasi yang baik.
Kinerja yang dimaksudkan diharapkan
memiliki atau menghasilkan mutu yang baik dan
tetap melihat jumlah yang akan diraihnya. Suatu
pekerjaan harus dapat dilihat secara mutu
13
terpenuhi maupun dari segi jumlah yang akan
diraih dapat sesuai dengan yang direncanakan.
2. Definisi Kinerja Guru
Kinerja guru mempunyai spesifikasi tertentu. Kinerja
guru dapat dilihat dan diukur berdasarkan spesifikasi atau
kriteria kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru.
Berkaitan dengan kinerja guru, wujud perilaku yang dimaksud
adalah kegiatan guru dalam proses pembelajaran. Berkenaan
dengan standar kinerja guru Sahertian sebagaimana dikutip
Kusmianto (1997: 49) dalam buku panduan penilaian kinerja
guru oleh pengawas menjelaskan bahwa: “Standar kinerja guru
itu berhubungan dengan kualitas guru dalam menjalankan
tugasnya seperti :
a. Bekerja dengan siswa secara individual
b. Persiapan dan perencanaan pembelajaran
c. Pendayagunaan media pembelajaran
d. Melibatkan siswa dalam berbagai pengalaman belajar
e. Kepemimpinan yangaktif dari guru.
UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang
Sisdiknas pasal 39 ayat (2), menyatakan bahwa pendidik
merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan
14
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi
pendidik pada perguruan tinggi. Keterangan lain menjelaskan
dalam UU No. 14 Tahun 2005 Bab IV Pasal 20 (a) tentang Guru
dan Dosen menyatakan bahwa standar prestasi kerja guru dalam
melaksanakan tugas keprofesionalannya, guru berkewajiban
merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses
pembelajaran yang bermutu serta menilai dan mengevaluasi
hasil pembelajaran. Tugas pokok guru tersebut yang diwujudkan
dalam kegiatan belajar mengajar merupakan bentuk kinerja
guru.
Pendapat lain diutarakan Soedijarto (1993) menyatakan
ada empat tugas gugusan kemampuan yang harus dikuasai oleh
seorang guru. Kemampuan yang harus dikuasai oleh seorang
guru, yaitu:
a. Merencanakan program belajar mengajar
b. Melaksanakan dan memimpin proses belajar mengajar
c. Menilai kemajuan proses belajar mengajar
d. membina hubungan dengan peserta didik.
Berdasarkan Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang
standar proses untuk satuan pendidikan menengah dijabarkan
beban kerja guru mencakup kegiatan pokok :
15
a. Merencanakan pembelajaran
b. Melaksanakan pembelajaran
c. Menilai hasil pembelajaran
d. Membimbing dan melatih peserta didik
e. melaksanakan tugas tambahan.
Kinerja guru dapat dilihat saat dia melaksanakan
interaksi belajar mengajar di kelas termasuk persiapannya baik
dalam bentuk program semester maupun persiapan mengajar.
Berkenaan dengan kepentingan penilaian terhadap kinerja guru.
Georgia Departemen of Education telah mengembangkan teacher
performance assessment instrument yang kemudian dimodifikasi
oleh Depdiknas menjadi Alat Penilaian Kemampuan Guru
(APKG). Alat penilaian kemampuan guru, meliputi:
a. Rencana pembelajaran (teaching plans and materials) atau
disebut dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
b. Prosedur pembelajaran (classroom procedure)
c. Hubungan antar pribadi (interpersonal skill).
Proses belajar mengajar tidak sesederhana seperti yang
terlihat pada saat guru menyampaikan materi pelajaran di kelas,
tetapi dalam melaksanakan pembelajaran yang baik seorang
guru harus mengadakan persiapan yang baik agar pada saat
melaksanakan pembelajaran dapat terarah sesuai tujuan
pembelajaran yang terdapat pada indikator keberhasilan
16
pembelajaran. Proses pembelajaran adalah rangkaian kegiatan
yang dilakukan oleh seorang guru mulai dari persiapan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran sampai pada tahap
akhir pembelajaran yaitu pelaksanaan evaluasi dan perbaikan
untuk siswa yang belum berhasil pada saat dilakukan evaluasi.
3. Faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja
Menurut Notoatmodjo (2013 ; 216), kinerja sangat
berkaitan dengan kualitas pelayanan, yaitu:
a. Ketepatan waktu pelayanan (reliability)
Pemberian pelayanan yang diberikan sesuai dengan
lamanya proses layanan meliputi waktu tunggu dan waktu
proses.
b. Kemudahan mendapatkan pelayanan (accessibility)
Meliputi kemudahan untuk dihubungi dan [Link]
lokasi fasilitas jasa yang mudah dijangkau, waktu
menunggu yang tidak terlalu lama, saluran komunikasi yang
mudah dihubungi,dan lain-lain.
c. Variasi model pelayanan
Variasi model pelayanan yang tidak menyebabkan rasa
bosan terhadap sesuatu yang sifatnya hanya itu-itu saja
tanpa adanya hal-hal lain yang berbeda (variative).
d. Akurasi pelayanan
17
Pelayanan yang diberikan terbebas dari kesalahan-
kesalahan, baik kesalahan teknis, prosedur, pelaksanaan dan
hasilnya sesuai dengan yang diharapkan orang yang
meminta layanan.
Menurut Handoko (2012;264) dalam pembahasan
mengenai permasalahan kinerja maka tidak terlepas dari
berbagai macam faktor yang menyertai diantaranya :
a. Faktor kemampuan (ability)
Secara psikologis kemampuan (ability) terdiri dari
kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge
dan skill) artinya pegawai yang memiliki IQ diatas rata-rata
(110-120) dengan pendidikan yang memadai untuk
jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan
sehari-hari maka akan lebih mudah mencapai kinerja
diharapkan. Oleh karena itu pegawai perlu ditempatkan pada
pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
b. Faktor motivasi
Motivasi terbentuk sikap (attitude) seorang dalam
menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan
kondisi yang menggerakkan diri yang terarah untuk mencapai
tujuan kerja. Instrumen pengukuran kinerja merupakan alat
yang dipakai dalam mengukur kinerja individu seorang yang
meliputi, yaitu:
18
1. Prestasi Kerja, hasil kerja pegawai dalam menjalankan
tugas, baik secara kualitas maupun kuantitas kerja.
2. Keahlian, tingkat kemampuan teknis yang dimiliki oleh
pegawai dalam menjalankan tugas yang dibebankan
kepadanya. Keahlian ini bisa dalam bentuk kerjasama,
komunikasi, insentif, dan lain-lain.
3. Perilaku, sikap dan tingkah laku pegawai yang melekat
pada dirinya dan dibawa dalam melaksanakan tugas-
tugasnya. Pengertian perilaku disini juga mencakup
kejujuran, tanggung jawab dan disiplin.
4. Kepemimpinan, merupakan aspek kemampuan
manajerial dan seni dalam memberikan pengaruh kepada
orang lain untuk mengkoordinasikan pekerjaan secara
tepat dan cepat, termasuk pengambilan keputusan, dan
penentuan prioritas
4. Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja adalah salah satu tugas penting untuk
dilakukan oleh seorang manajer atau [Link]
demikian, pelaksanaan kinerja yang objektif bukanlah tugas
yang sederhana. Penilaian harus dihindarkan adanya “like dan
dislike”, dari penilai, agar objektifitas penilai dapat terjaga.
Kegiatan penilaian ini adalah penting, karena dapat digunakan
untuk memperbaiki keputusan-keputusan personalia dan
19
memberikan uman balik kepada pegawai tentang kinerja
pegawai tersebut. Menurut Notoatmodjo (2013;102),
menyatakan pendapatnya bahwa, “Penilaian kinerja dapat
dilaksanakan oleh siapa saja yang mengerti benar tentang
penilaian kinerja secara individual”. Kemungkinannya antara
lain adalah:
1. Para atasan yang menilai bawahannya.
2. Bawahan yang menilai atasannya.
3. Anggota kelompok menilai satu sama sama lain.
4. Penilaian pegawai sendiri.
5. Penilaian dengan multisumber.
6. Sumber-sumber dari luar.
Handoko (2012;120), juga menyatakan bahwa,
”Penilaian kinerja yang dilakukan dalam sutu organisasi
haruslah mengikuti standar kinerja yang ditetapkan, dimana
pengukuran kinerja tersebut memberikan umpan balik yang
positif kepada pegawai”.
Menurut Dessler (2013;210) ada lima faktor dalam
penilaian kinerja yang popular, yaitu:
1. Prestasi pekerjaan, meliputi : akurasi, ketelitian,
keterampilan, dan penerimaan keluaran.
2. Kuantitas pekerjaan, meliput : volume keluaran dan
kontribusi.
20
3. Kepemimpinan yang diperlukan, meliputi : mmebutuhkan
saran, arahan atau perbaikan.
4. Kedisplinan, meliputi : kehadiran, sanksi, warkat, regulasi,
dapat dipercaya/ diandalkan dan ketepatan waktu.
5. Komunikasi, meliputi : hubungan antar pegawai maupun
dengan pimpinan, media komunikasi.
Berdasarkan teori di atas, penilaian kinerja dapat menjadi
sumber informasi utama dan umpan balik untuk pegawai, yang
merupakan kunci pengembangan bagi pegawai di masa
mendatang. Di saat atasan mengidentifikasi kelemahan, potensi
dan kebutuhan pelatihan melalui umpan balik penilaian kinerja,
mereka dapat memberitahukan pegawai mengenai kemajuan
pegawai tersebut, mendiskusikan keterampilan apa yang perlu
mereka kembangkan dan melaksanakan perencanaan
pengembangan.
Menurut Dessler (2013;230), penilaian kinerja
(performance appraisal) pada dasarnya merupakan faktor kunci
guna mengembangkan suatu organisasi yang efektif dan efisien.
Pegawai menginginkan dan memerlukan umpan balik berkenaan
dengan prestasi karyawan tersebut dan penilaian menyediakan
kesempatan untuk memberikan kesempatan untuk meninjau
kemajuan pegawai, dan untuk menyusun rencana peningkatan
kinerja.
21
5. Tujuan Penilaian Kinerja
Penilaian Kinerja merupakan suatu alat yang manfaatnya
tidak hanya untuk mengevaluasi kinerja seorang pegawai akan
tetapi juga memngembangkan serta memotivasi pegawai.
Penilaian tersebut juga akan memberikan dampak yang positif
dan semangat dalam diri pegawai untuk lebih berkualitas dan
menghasilkan kinerja yang optimal.
Handoko (2012;120), menyatakan, “Penilaian kinerja
seharusnya menciptakan gambaran akurat dari kinerja
perorangan. Penilaian tidak dilakukan hanya untuk mengetahui
kinerja [Link]-hasil yang baik dan dapat diterima harus
data diidentifikasikan sehingga dapat dipakai sebagai dasar
penilaian hal lainnya. Untuk mencapai tujuan ini, sistem
penilaian hendaknya terkait dengan pekerjaan dan praktis,
temasuk standar, dan menggunakan ukuran-ukuran yang
terukur”
Menurut Moekijat (2013;138), tujuan dari penilaian
kinerja adalah sebagai berikut :
1. Sebagai dasar perencanaan bidang kepegawaian khusunya
penyempurnaan kondisi kerja, peningkatan mutu dan hasil
kerja.
2. Untuk mengetahui keterampilan dan kemampuan pegawai.
22
3. Sebagai dasar pengembangan dan pendayagunaan pegawai
seoptimal mungkin, sehingga dapat diarahkan jenjang/
rencana karirnya, kenaikan pangkat dan kenaikan jabatan.
4. Mendorong terciptanya hubungan timbal baik yang sehat
antara atasan dan bawahan. Mengetahui kondisi organisasi
secara keseluruhan dari bidang kepegawaian khususnya
kinerja pegawai dalam bekerja.
5. Secara pribadi, pegawai mengetahui kekuatan dan
kelemahannya sehingga dapat memacu perkembangannya.
Bagi atasan yang menilai akan lebih memperhatikan dan
mengenal bawahan dan pegawainya, sehingga dapat lebih
memotivasi pegawai.
6. Hasil penilaian pelaksanaan pekerjaan dapat bermanfaat bagi
penelitian dan pengembangan di bidang kepegawaian.
6. Indikator Kinerja
Landasan yang sesungguhnya dalam suatu organisasi
adalah kinerja. Pengertian kinerja menurut Fatah (2010:129),
adalah prestasi atau penampilan kerja atau ungkapan
kemampuan yang disasari oleh pengetahuan, sikap, dan
ketrampilan serta motivasi dalam menghasilkan suatu hasil
kerja.
Indikator kinerja dikemukakan sebagai berikut:
23
a. Quantity of work: jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu
periode yang ditentukan.
b. Quality of work: kualitas kerja yang dicapai berdasarkan
syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya.
c. Job knowledge: luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan
dan ketrampilannya.
d. Creativeness: keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan
dan tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-
persoalan yang timbul.
e. Coorperation: kesediaan untuk bekerjasama dengan orang
lain atau sesame anggota organisasi.
f. Dependability: kesadaran untuk dapat dipercaya dalam hal
kehadiran dan penyelesaian kerja.
g. Intiative: semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru
dalam memperbesar tanggung jawabnya.
h. Personal qualities: menyangkut, kepribadian,
kepemimpinan, keramahan, dan intregitas pribadi (Rivai
dan Basri, 2013 : 85-86).
2.1.2. Lingkungan Kerja Fisik
1. Definisi Lingkungan Kerja Fisik
Menurut Gitosudarmo dan Sudita (2012 : 67-68),
lingkungan kerja merupakan salah satu faktor penting dalam
menciptakan kinerja karena lignkungan kerja mempunyai
24
pengaruh langsung terhadap karyawan dalam menyelesaikan
pekerjaannya yang pada akhirnya akan meningkatkan
kinerjanya dalam organisasi. Suatu lingkungan kerja dikatakan
baik apabila karyawan dapat melaksanakan kegiatan kerja secara
optimal, sehat, aman, dan nyaman.
Kondisi dan suasana lingkungan kerja yang baik akan dapat
tercipta dengan adanya penyusunan organisasi secara baik dan
benar bahwa suasana kerja yang baik dihasilkan terutama dalam
organissasi yang tersusun secara baik, sedangkan suasana kerja
yang kurang baik banyak ditimbulkan dalam organisasi yang
tidak tersusun dengan baik pula (Martoyo 2011: 73).
Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik
yang terdapat disekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi
pegawai baik secara langsung maupun tidak langsung
(Sedarmayanti 2010:11).
Menurut Sarwono (2005: 86) “Lingkungan kerja fisik
adalah tempat kerja pegawai melakukan aktivitasnya”.
Lingkungan kerja fisik mempengaruhi semangat dan emosi
kerjapara karyawan. Faktor-faktor fisik ini mencakup suhu
udara di tempat kerja, luas ruang kerja, kebisingan, kepadatan,
dan kesesakan. Faktor-faktor fisik ini sangat mempengaruhi
tingkah laku manusia.
2. Manfaat Lingkungan Kerja
25
Menurut Ishak dan Tanjung (2003:26), manfaat lingkungan
kerja adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas
dan prestasi kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang
diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi
adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat, artinya
pekerjaan diselesaikan sesuai standard yang benar dan dalam
skala waktu yang ditentukan. Prestasi kerjanya akan dipantau
oleh individu yang bersangkutan, dan tidak akan menimbulkan
terlalu banyak pengawasan serta semangat juangnya akan tinggi.
3. Indikator Lingkungan Kerja Fisik
Masalah lingkungan kerja dalam organisasi sangat penting,
hal ini diperlukan adanya pengaturan maupun penataan faktor-
faktor lingkungan kerja fisik dalam penyelenggaraan aktivitas
organisasi. Faktor-faktor lingkungan kerja fisik menurut Davis
(2010 : 123-125) adalah sebagai berikut :
1. Pewarnaan
Masalah warna dapat berpengaruh terhadap karyawan
didalam melaksanakan pekerjaan, akan tetapi banyak
perusahaan yang kurang memperhatikan masalah warna
dengan demikian pengaturan hendaknya memberikan
manfaat sehingga dapat meningkatkan semangat kerja
karyawannya.
2. Penerangan
26
Penerangan dalam ruang kerja karyawan memegang
peranan yang sangat penting dalam meningkatkan semangat
pegawainya sehingga mereka akan menunjukan hasil kerja
yang baik.
3. Udara
Didalam ruangan kerja diperlukan udara yang cukup
dimana dengan adanya pertukaran udara yang cukup akan
menyebabkan kebugaran dan kesegaran fisik pegawainya.
4. Suara bising
Suara yang bising akan sangat mengganggu pegawainya
dalam bekerja, oleh karena itu setiap organisasi harus
menghilangkan suara bising tersebut atau paling tidak
menekannya untuk memperkecil suara bising tersebut.
5. Keamanan
Rasa aman bagi pegawai sangat berpengaruh terhadap
semangat kerja dan kinerja karyawan.
6. Kebersihan
Lingkungan kerja yang bersih akan menciptakan keadaan
diskusinya menjadi sehat. Dengan adanya lingkungan yang
bersih pegawai akan merasa senang sehingga kinerja
karyawan meningkat.
2.1.3. Lingkungan Kerja Non Fisik
27
1. Pengertian Lingkungan Kerja
Menurut Gitosudarmo dan Sudita (2012 : 67-68 ),
lingkungan kerja merupakan salah satu faktor penting dalam
menciptakan kinerja karena lignkungan kerja mempunyai
pengaruh langsung terhadap karyawan dalam menyelesaikan
pekerjaannya yang pada akhirnya akan meningkatkan
kinerjanya dalam organisasi. Suatu lingkungan kerja dikatakan
baik apabila karyawan dapat melaksanakan kegiatan kerja secara
optimal, sehat, aman, dan nyaman.
Kondisi dan suasana lingkungan kerja yang baik akan
dapat tercipta dengan adanya penyusunan organisasi secara baik
dan benar bahwa suasana kerja yang baik dihasilkan terutama
dalam organissasi yang tersusun secara baik, sedangkan suasana
kerja yang kurang baik banyak ditimbulkan dalam organisasi
yang tidak tersusun dengan baik pula (Martoyo 2011: 73).
Dari pendapat tersebut dapat diterangkan bahwa
terciptanya suasana kerja sangat dipengaruhi oleh struktur
organisasi yang ada dalam organaisasi tersebut.
Menurut Sedarmayanti ( 2010 :11) secara garis besar
lingkunga kerja terbagi menjadi dua yaitu lingkungan kerja fisik
dan lingkunga kerja non fisik.
a. Lingkungan kerja fisik
28
Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan
berbentuk fisik yang terdapat disekitar tempat kerja yang
dapat mempengaruhi pegawai baik secara langsung maupun
tidak langsung (Sedarmayanti 2010:11).
b. Lingkungan kerja non fisik
Menurut sedarmayanti (2010:13-14) , lingkungan
kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang
berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan
atasan maupun hubungan dengan bawahan sesame rekan
kerja maupun hubungan dengan bawahan. Lingkungan kerja
nonfisik ini tidak kalah pentingnya dengan lingkungan kerja
fisik. Semangat kerja pegawai sangat dipengaruhi oleh
lingkungan kerja nonfisik, misalnya hubungan dengan
sesame pegawai atau pimpinannya.
Kedua jenis lingkungan kerja diatas, lingkungan kerja
fisik dan lingkungan kerja non fisik harus selalu diperhatikan
dalam suatu organisasi. Keduanya tidak dapat dipisahkan
begitu saja. Terkadang organisasi hanya mengutamakan salah
satu jenis lingkungan kerja diatas tetapi akan lebih baik lagi
apabila keduanya dilakukan secara maksimal
2. Pengertian Lingkungan Kerja Non Fisik
29
Menurut Sedarmayanti (2001), “Lingkungan kerja non
fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan
hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun
hubungan sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan
bawahan”. Sementara itu, Wursanto (2009) menyebutnya
sebagai lingkungan kerja psikis yang didefinisikan sebagai
“sesuatu yang menyangkut segi psikis dari lingkungan kerja”.
Berdasarkan pengertianpengertian tersebut, dapat dikatakan
bahwa lingkungan kerja non fisik disebut juga lingkungan kerja
psikis, yaitu keadaan di sekitar tempat kerja yang bersifat non
fisik. Lingkungan kerja semacam ini tidak dapat ditangkap
secara langsung dengan pancaindera manusia, namun dapat
dirasakan keberadaannya.
Jadi, lingkungan kerja non fisik merupakan lingkungan
kerja yang hanya dapat dirasakan oleh perasaan. Berdasarkan
pendapat dan uraian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa
lingkungan kerja non fisik adalah lingkungan kerja yang tidak
dapat ditangkap dengan panca indera manusia. Akan tetapi,
lingkungan kerja non fisik ini dapat dirasakan oleh para pekerja
melalui hubungan-hubungan sesama pekerja maupun dengan
atasan.
3. Jenis Lingkungan Kerja Non Fisik
30
Beberapa macam lingkungan kerja yang bersifat non
fisik menurut Wursanto (2009) disebutkan yaitu:
a. Perasaan aman pegawai
Perasaan aman pegawai merupakan rasa aman dari berbagai
bahaya yang dapat mengancam keadaan diri pegawai.
Wursanto (2009: 269), perasaan aman tersebut terdiri dari
sebagai berikut :
1. Rasa aman dari bahaya yang mungkin timbul pada saat
menjalankan tugasnya.
2. Rasa aman dari pemutusan hubungan kerja yang dapat
mengancam penghidupan diri dan keluarganya.
3. Rasa aman dari bentuk intimidasi ataupun tuduhan dari
adanya kecurigaan antar pegawai.
b. Loyalitas pegawai
Loyalitas merupakan sikap pegawai untuk setia terhadap
perusahaan atau organisasi maupun terhadap pekerjaan
yang menjadi tanggungjawabnya. Loyalitas ini terdiri dari
dua macam, yaitu loyalitas yang bersifat vertikal dan
horizontal. Loyalitas yang bersifat vertikal yaitu loyalitas
antara bawahan dengan atasan atau sebaliknya antara atasan
dengan bawahan. Loyalitas ini dapat terbentuk dengan
berbagai cara. Menurut pendapat Wursanto (2009) untuk
menunjukan loyalitas tersebut ditunjukan dengan cara :
31
1. Kunjungan atau silaturahmi ke rumah pegawai oleh
pimpinan atau sebaliknya, yang dapat diwujudkan
dalam bentuk kegiatan seperti arisan.
2. Keikutsertaan pimpinan untuk membantu kesulitan
pegawai dalam berbagai masalah yang dihadapi
pegawai.
3. Membela kepentingan pegawai selama masih dalam
koridor hukum yang berlaku.
4. Melindungi bawahan dari berbagai bentuk ancaman.
Sementara itu, loyalitas bawahan dengan atasan dapat
dibentuk dengan kegiatan seperti open house, memberi
kesempatan kepada bawahan untuk bersilaturahmi kepada
pimpinan, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti hari besar
keagamaan seperti lebaran, hari natal atau lainnya. Loyalitas
yang bersifat horisontal merupakan loyalitas antar bawahan atau
antar pimpinan. Loyalitas horisontal ini dapat diwujudkan
dengan kegiatan seperti kunjung mengunjungi sesama pegawai,
bertamasya bersama, atau kegiatan-kegiatan lainnya.
c. Kepuasan pegawai
Kepuasan pegawai merupakan perasaan puas yang muncul
dalam diri pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan
pekerjaan. Perasaan puas ini meliputi kepuasan karena
kebutuhannya terpenuhi, kebutuhan sosialnya juga dapat
32
berjalan dengan baik, serta kebutuhan yang bersifat
pesikologis terpenuhi.
4. Upaya Peningkatan Kualitas Lingkungan Kerja Non Fisik
Untuk peningkatan adanya lingkungan kerja yang
memberikan kesempatan berlatih dan motivasi belajar, manajer
membutuhkan (Noe et al., 2008:281):
a. Penyediaan bahan, waktu, informasi hubungan kerja, dan alat
bantu kerja lainnya bagi karyawan untuk digunakan dengan
keterampilan yang baru atau perilaku yang baru sebelum
berpartisipasi dalam program pelatihan.
b. Berbicara positif tentang program-program pelatihan
perusahaan kepada karyawan.
c. Biarkan karyawan mengetahui bahwa mereka melakukan
pekerjaan yang baik bila mereka menggunakan materi-materi
pelatihan dalam pekerjaannya.
d. Memperhatikan keanggotaan kelompok kerja yang dilibatkan
bersama yang lainnya dalam percobaan penggunaan
keterampilan baru pada pekerjaan dan mensosialisasikan
umpan balik serta berbagi pengalaman-pengalaman pelatihan
dan situasi-situasi yang sesuai dengan materi pelatihan yang
dapat membantu pekerjaannya.
33
e. Berikan karyawan waktu dan kesempatan yang praktis untuk
mengaplikasikan keterampilan baru atau perilaku yang baru
pada pekerjaannya.
5. Indikator Lingkungan Kerja Non Fisik
Indikator-indikator lingkungan kerja non fisik oleh
DeStefano (2006) yaitu sebagai berikut:
1. Prosedur Kerja, adalah rangkaian tata pelaksanaan kerja
yang di atur secara berurutan, sehingga terbentuk urutan
kerja secara bertahap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
2. Standar Kerja, adalah persyaratan tugas, fungsi atau
perilaku yang ditetapkan oleh pemberi kerja sebagai sasaran
yang harus dicapai oleh seorang karyawan.
3. Pertanggung jawaban Supervisor, Tanggung jawab seorang
supervisor untuk menyusun tugas karyawan agar dapat
dikerjakan secara efektif dan adil. Supervisor juga
bertanggung jawab mengadakan evaluasi karyawan untuk
menjamin pencapaian sasaran yang sudah ditetapkan oleh
perusahaan.
4. Kejelasan Tugas, yaitu sejauh mana pekerjaan itu menuntut
diselesaikannya seluruh potongan kerja secara utuh dan
dapat dikenali oleh karyawan. Dalam hal ini karyawan
dituntut untuk memahami dan mampu melaksanakan
pekerjaan mereka berdasarkan instruksi dari atasan.
34
5. Sistem Penghargaan, Sistem imbalan atau sistem
penghargaan (reward system) adalah sebuah program yang
digunakan untuk mengenali prestasi individual karyawan,
seperti pencapaian sasaran atau proyek atau penggunaan
ide-ide kreatif.
6. Hubungan antar Karyawan, yaitu hubungan dengan rekan
kerja harmonis dan tanpa ada saling intrik diantara sesama
rekan kerja. Salah satu faktor yang mempengaruhi
karyawan tetap tinggal dalam satu organisasi adalah adanya
hubungan yang harmonis diantara rekan kerja.
2.1.4. Kedisiplinan Kerja
1. Definisi Kedisiplinan Kerja
Banyak yang mengartikan disiplin itu bilamana
karyawan selalu datang serta pulang tepat pada waktunya.
Pendapat itu hanya salah satu yang dituntut oleh organisasi.
Oleh karena itu kedisiplinan dapat diartikan sebagai tingkah
laku yang tertulis maupun yang tidak tertulis. (Hasibuan,
2009:212)
Disiplin kerja dapat didefeinisikan sebagai suatu sikap
menghormati, menghargai, patuh dan taat terhadap peraturan-
peraturan yang berlaku, baik yang tertulis maupun tidak tertulis
serta sanggup menjalankannya dan tidak menggelak untuk
menerima sanksi-sanksinya apabila ia melanggar tugas dan
35
wewenang yang diberikan kepadanya. (Sastrohadiwiryo,
2003 :291).
Menurut Rivai, Kedisiplinan merupakan fungsi operatif
MSDM yang terpenting, karena semakin baik disiplin karyawan
pada perusahaan, maka semakin tinggi prestasi kerja yang dapat
dicapai, (Rivai, 2009:824).
2. Jenis Disiplin Kerja
Menurut (Moekizat, 2002: 356) Pembagian disiplin ada 2 jenis
yaitu:
a. Self imposed discipline yaitu disiplin yang dipaksanakn diri
sendiri.
Disiplin yang berasal dari diri sesorang yang ada pada
hakikatnya merupakan suatu tanggapan spontan terhadap
pimpinan yang cakap dan merupakan semacam dorongan
pada dirinya sendiri artinya suatu keinginan dan kemauan
untuk mengerjakan apa yang sesuai dengan keinginan
kelompok.
b. Command discipline yaitu disiplin yang diperintahkan.
Disiplin yang berasal dari suatu kekuasaan yang diakui dan
menggunakan cara-cara menakutkan untuk memperoleh
pelaksanaan dengan tindakan yang diinginkan yang
dinyatakan melalui kebiasaan, peraturan-peraturan tertentu.
36
Dalam bentuknya yang ekstrim “command discipline”
memperoleh pelaksanaannya dengan menggunakan hukum.
3. Indikator Disiplin Kerja
Indikator yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan
karyawan suatu organisasi, diantaranya Hasibuan (2003):
a. Kehadiran tepat waktu
Kehadiran tepat waktu adalah kehadiran kerja karyawan yang
sesuai dengan jam kerja yang telah ditetapkan oleh
perusahaan.
b. Ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan
Ketepatan waktu penyelesaianpekerjaan adalah batasan
waktu yang telah ditetapakan untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan.
c. Mentaati peraturan kerja
Dalam hal ini semua karyawan wajin mentaati semua
peraturan kerja yang telah ditetapkan oleh undang-undang
d. Menjalankan prosedur kerja
Semua karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya harus
berdasarkan prosedur kerja yang telah ada (SOP).
2.2. Hasil Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini dapat
dilihat pada tabel 2.1.
No. Judul Penelitian Alat Analisis Kesimpulan
37
1. Betania Widya K (2014) Data penelitian Terdapat
dengan judul” pengaruh dikumpulkan pengaruh
lingkungan kerja fisik, menggunakan signifikan dari
kepuasan kerja, dan disiplin kuesioner lingkungan
kerja terhadap kinerja guru tertutup kerja fisik,
di SMK PGRI 1 Kudus. modifikasi kepuasan kerja,
skala likert dan disiplin
Jumlah sampel kerja terhadap
41 responden kinerja guru
metode SMK PGRI 1
penelitian Kudus secara F
dengan uji t uji maupun secara
F t.
Menggunakan
analisi regresi
linier berganda
2. Virgianti (2018), dengan Data penelitian Terdapat
judul pengaruh lingkungan dikumpulkan pengaruh
kerja fisik dan lingkungan menggunakan signifikan dari
kerja non fisik terhadap kuesioner lingkungan
kinerja karyawan pada PT. tertutup kerja fisik dan
Trans Retail Indonesia modifikasi lingkungan
skala likert kerja non fisik
Jumlah sampel terhadap
36 responden kinerja
metode karyawan
penelitian secara F
dengan uji t uji maupun secara
F t.
Menggunakan
analisi regresi
linier berganda
3. Karine Noerlestasi (2016) Data penelitian Terdapat
dengan judul pengaruh dikumpulkan pengaruh yang
lingkungan kerja non fisik menggunakan positif dan
terhadap kinerja pada kuesioner signifikan dari
telemarketing PT. Comment tertutup lingkungan
Indonesia Jakarta modifikasi kerja non fisik
skala likert terhadap
Jumlah sampel kinerja secara
100 responden secara t.
metode
penelitian
dengan uji t uji
F
Menggunakan
38
analisi regresi
linier berganda
2.3. Kerangka Teoritis
Analisis pengaruh lingkungan kerja fisik, lingkungan kerja non fisik
dan kedisiplinan kerja terhadap kinerja Pegawai SMP Negeri 1 Petanahan
Kebumen, sehingga kerangka teoritis penelitian adalah sebagai berikut di
bawah ini :
Gambar 2.1
Kerangka Teoritis
Lingkungan Kerja Fisik
(X1)
H1
H2
Lingkungan Kerja Non Kinerja Pegawai
Fisik
(Y1)
(X2)
H3
Kedisiplinan Kerja
(X3)
H4
Keterangan :
: Hubungan secara simultan
: Hubungan secara parsial
Gambar 2.1 : Kerangka Konseptual
Sumber : Data diolah
2.4. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
39
H1 : Terdapat pengaruh secara parsial variabel lingkungan kerja fisik
terhadap kinerja pegawai SMP Negeri 1 Petanahan Kebumen.
H2 : Terdapat pengaruh secara parsial variabel lingkungan kerja non fisik
terhadap kinerja pegawai SMP Negeri 1 Petanahan Kebumen.
H3: Terdapat pengaruh secara parsial variabel kedisiplinan kerja terhadap
kinerja pegawai SMP Negeri 1 Petanahan Kebumen.
H4 : Terdapat pengaruh secara simultan variabel lingkungan kerja fisik,
lingkungan kerja non fisik, dan kedisiplinan kerja terhadap kinerja
pegawai SMP Negeri 1 Petanahan Kebumen.