0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan10 halaman

Sejarah Pendidikan Kewarganegaraan Indonesia

Dokumen ini membahas sejarah perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Indonesia, mulai dari pengenalan mata pelajaran Civics pada tahun 1962 hingga perubahan kurikulum yang terjadi sepanjang waktu. PKn bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kesadaran berbangsa dan bernegara serta kemampuan berpikir kritis demi ketahanan nasional. Pendidikan ini penting untuk membentuk warga negara yang cerdas, bertanggung jawab, dan berkeadaban dalam konteks demokrasi.

Diunggah oleh

triaapriliani980
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan10 halaman

Sejarah Pendidikan Kewarganegaraan Indonesia

Dokumen ini membahas sejarah perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Indonesia, mulai dari pengenalan mata pelajaran Civics pada tahun 1962 hingga perubahan kurikulum yang terjadi sepanjang waktu. PKn bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kesadaran berbangsa dan bernegara serta kemampuan berpikir kritis demi ketahanan nasional. Pendidikan ini penting untuk membentuk warga negara yang cerdas, bertanggung jawab, dan berkeadaban dalam konteks demokrasi.

Diunggah oleh

triaapriliani980
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Sejarah Perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan Di Indonesia

BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pendidikan kewarganegaraan sebenarnya dilakukan dan dikembangkan di seluruh dunia,
meskipun dengan berbagai macam istilah dan nama. Tersebut yang disebut sebagai civic
education, citizenship education dan bahkan ada yang menyebut sebagai democracy education.
ini memiliki peranan yang strategis dalam mempersiapkan warganegara yang cerdas,
bertanggung jawab dan berkeadaban. Berdasarkan rumusan “Civic International” pada tahun
1995, disepakati bahwa pendidikan demokrasi penting untuk pertumbuhan civic culture, Untuk
keberhasilan pengembangan dan pemeliharaan pemerintah demokrasi.

Dalam pembelajaraan Pendidikan Kewarganegaraan harus diberikan materi pada seluruh


Mahasiswa pada Perguruan Tinggi, dan diberikan pada jenjang pendidikan dasar,menengah
pertama dan menengah atas, sekolah seharusnya dikembangkan sebagai tatanan sosial yang
kondusif atau memberi suasana bagi tumbuh kembangnya berbagai kualitas pribadi peserta didik.
Sekolah sebagai bagian integral dari masyarakat perlu dikembangkan sebagai pusat
pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat, yang mampu memberi
keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran demokrasi. Dalam makalah ini akan dijelaskan pengertian, latar belakang lahirnya
dan tujuan pendidikan kewarganegaraan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis merumuskan masalah yang dibahas dalam
makalah ini, antara lain :
1. Bagaimana sejarah PKn?
2. Bagaimana Latar Belakang Pkn?
3. Apa Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan?
4. Bagaimana Perkembangan PKn di Indonesia?
5. Bagaimana Perkembangan PKn pada masa transisi Demokrasi?
C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini agar dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan tujuan
khusus penulisan makalah ini, diantaranya :
[Link] mengetahui dan memahami sejarah PKn.
[Link] mengetahui dan memahami Latar Belakang PKn.
[Link] mengetahui dan memahami tujuan Pendidikan Kewarganegaraan.
[Link] mengetahui dan memahami Perkembangan PKn di Indonesia.
[Link] mengetahui dan memahami perkembangan PKn pada masa transisi Demokrasi.

BAB II
Pembahasan
A. SEJARAH PKN
Pendidikan Kewarganegaraan telah mengalami perkembangan yang fluktuatif, baik dalam
kemasan maupun substansinya. Hal tersebut dapat dilihat dalam substansi kurikulum PKN yang
sering berubah dan tentu saja disesuaikan dengan kepentingan negara. Secara historis,
epistemologis dan pedagogis, pendidikan kewarganegaraan berkedudukan sebagai program
kurikuler dimulai dengan diintroduksikannya mata pelajaran Civics dalam kurikulum SMA tahun
1962 yang berisikan materi tentang pemerintahan Indonesia berdasarkan Undang- Undang
Dasar 1945 (Dept. P&K: 1962). Pada saat itu, mata pelajaran Civics atau
kewarganegaraan, pada dasarnya berisikan pengalaman belajar yang digali dan dipilih dari
disiplin ilmu sejarah, geografi, ekonomi, dan politik, pidato-pidato presiden, deklarasi hak asasi
manusia, dan pengetahuan tentang Perserikatan Bangsa-Bangsa (Somantri, 1969:7). Istilah
Civics tersebut secara formal tidak dijumpai dalam Kurikulum tahun 1957 maupun dalam
Kurikulum tahun 1946. Namun secara materiil dalam Kurikulum SMP dan SMA tahun 1957
terdapat mata pelajaran tata negara dan tata hukum, dan dalam kurikulum 1946 terdapat mata
pelajaran pengetahuan umum yang di dalamnya memasukkan pengetahuan mengenai
pemerintahan.
1. Dalam kurikulum tahun 1968 dan 1969
Istilah Civics dan Pendidikan Kewargaan Negara digunakan secara bertukar pakai
(interchangeably). Misalnya dalam Kurikulum SD 1968 digunakan istilah Pendidikan
Kewarganegaraan yang dipakai sebagai nama mata pelajaran, yang di dalamnya tercakup sejarah
Indonesia, geografi Indonesia, dan Civics ( diterjemahkan sebagai pengetahuan Kewargaan
Negara). Dalam Kurikulum SMP 1968 digunakan istilah Pendidikan Kewarganegaraan yang
berisikan sejarah Indonesia dan Konstitusi termasuk UUD 1945.
2. Dalam tahun 1973/1974
Pendidikan Kewiraan dimulai tahun 1973/1974, sebagai bagian dari kurikulum pendidikan
nasional, dengan tujuan untuk menumbuhkan kecintaan pada tanah air dalam bentuk PPBN yang
dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap awal yang diberikan kepada peserta didik SD sampai
sekolah menengah dan pendidikan PPBN tahap lanjut diberikan di PT dalam bentuk pendidikan
kewiraan.
3. Dalam Kurikulum tahun 1975
Istilah Pendidikan Kewarganegaraan diubah menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang
berisikan materi Pancasila sebagaimana diuraikan dalam Pedoman Penghayatan dan pengamalan
Pancasila atau P4. Perubahan ini sejalan dengan misi pendidikan yang diamanatkan oleh Tap.
MPR II / MPR / 1973. Mata pelajaran PMP ini merupakan mata pelajaran wajib untuk SD, SMP,
SMA, SPG dan sekolah Kejuruan.
4. Kurikulum PPKN 1994
Kurikulum ini mengorganisasikan materi pembelajarannya bukan atas dasar rumusan butir-butir
nilai P4, tetapi atas dasar konsep nilai yang disaripatikan dari P4 dan sumber resmi lainnya yang
ditata dengan menggunakan pendekatan spiral meluas atau Spiral of concept development (Taba,
1967). Pendekatan ini mengartikulasikan sila-sila Pancasila dengan jabaran nilai nya untuk setiap
jenjang pendidikan dan kelas secara catur wulan dalam setiap kelas.
5. Dalam tahun 2004
Dengan berlakunya Undang-undang Sistem pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003,
diberlakukan kurikulum yang dikenal dengan nama Kurikulum berbasis kompetensi tahun 2004
dimana Pendidikan Kewarganegaraan berubah nama menjadi Kewarganegaraan.
6. Dalam Tahun 2006
Namanya berubah kembali menjadi Pendidikan Kewarganegaraan, dimana secara substansi tidak
terdapat perubahan yang berarti, hanya kewenangan pengembangan kurikulum yang diserahkan
pada masing-masing satuan pendidikan, maka kurikulum tahun 2006 ini dikenal dengan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Berbagai perubahan yang dialami dalam pengimlementasian PKn sebagaimana diuraikan atas
menunjukkan telah terjadinya ketidakajekan dalam kerangka pikir, yang sekaligus
mencerminkan telah terjadinya krisis konseptual, yang berdampak pada terjadinya krisis
operasional kurikuler secara Konseptual istilah Pendidikan Kewarganegaraan dapat dirangkum
sebagai berikut :

1. Kewarganegaraan (1956)
2. Civics (1959)
3. Kewarganegaraan (1962)
4. Pendidikan Kewarganegaraan (1968)
5. Pendidikan Moral Pancasila (1975)
6. Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan (1994)
7. Pendidikan Kewarganegaraan (UU No. 20 Tahun 2003)

B. LATAR BELAKANG PKn


Latar belakang lahirnya pendidikan Kewarganegaraan berawal dari perjalanan sejarah panjang
bangsa Indonesia yang dimulai sejak dari perebutan dan mempertahankan kemerdekaan sampai
pada pengisian kemerdekaan, bahkan terus berlangsung hingga zaman reformasi. Kondisi
perebutan dan mempertahankan kemerdekaan itu ditanggapi oleh bangsa indonesia berdasarkan
kesamaan nilai-nilai perjuangan bangsa yang senantiasa tumbuh dan berkembang. Kesamaan
nilai-nilai tersebut dilandasi oleh jiwa, tekad dan semangat kebangsaan. Kesemuanya itu tumbuh
dan berkembang menjadi kekuatan yang mampu mendorong proses Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Pendidikan kewarganegaraan diselenggarakan untuk membekali para mahasiswa selaku calon


pemimpin dimasa depan dengan kesadaran bela negara serta kemampuan berpikir secara
komprehensif integral dalam rangka ketahanan nasional kesadaran bela negara ini berwujud
sebagai kerelaan dan kesadaran melakukan kelangsungan hidup bangsa melalui profesinya
kesadaran bela negara dengan demikian kesadaran bela negara mengandung arti :
a. Kecintaan kepada tanah air,
b. Kesadaran berbangsa dan bernegara,
c. Keyakinan akan pancasila dan UUD 1945,\
d. Kerelaan berkorban bagi bangsa dan negara serta\
e. Sikap dan perilaku awal bela negara.

Negara Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya dari penjajahan pada tanggal 17 Agustus


1945 kemerdekaan yang diproklamasikan itu berangkat dari perjalanan sejarah peperangan yang
panjang yang berabad-abad lamanya melawan penjajahan dalam suasana perpecahan tidak
adanya semangat persatuan dan kesatuan menyebabkan lamanya dibumi nusantara. Penjajahan
itu mengakibatkan kebodohan dan penderitaan yang pada awal abad ke-20 mendorong timbulnya
semangat kebangsaan kebangkitan nasional ini ditandai dengan lahirnya gerakan Budi Utomo
pada tahun 1908 peristiwa sumpah pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 oktober 1928
merupakan tonggak sejarah yang sangat penting. Sumpah tersebut merupakan perjuangan sikap
dan tekad bangsa Indonesia untuk bersatu dalam wadah negara bangsa dan bahasa Indonesia.
“Satu tanah air menunjukkan serta kesatuan geografis satu bangsa menunjukkan satu kesatuan
politik dan satu bahasa menunjukkan satu kesatuan sosial budaya” tekad ini mewujudkan
perjuangan yang akhirnya melahirkan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal
17 Agustus 1945.

Perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia yang dimulai sejak era sebelum dan selama
penjajahan kemudian dilanjutkan dengan era perebutan dan mempertahankan kemerdekaan
sampai hingga era kemerdekaan menimbulkan kondisi dan menuntut yang berbeda sesuai dengan
zamannya. Kondisi dan tuntutan yang berbeda indones ditanggapi oleh bangsa Indonesia
berdasarkan kesamaan nilai-nilai perjuangan bangsa yang senantiasa tumbuh dan berkembang.
Kesamaan nilai-nilai tersebut dilandasi oleh jiwa tekad dan semangat kebangsaan. Kesamaan itu
timbul menjadi kekuatan yang mampu mendorong proses terwujudnya negara kesatuan Republik
Indonesia dalam wadah nusantara.
C. TUJUAN PKn
Terdapat 2 tujuan tentang Pendidikan Kewarganegaraan, yaitu Tujuan Umum dan Tujuan khusus
dari pendidikan Kewarganegaraan itu sendiri :
1. Tujuan Umum
Untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan dasar kepada Mahasiswa mengenai hubungan
antara warga negara dengan negara serta PPBN agar menjadi warga negara yang diandalkan oleh
bangsa dan negara.

2. Tujuan Khusus
a) Agar mahasiswa dapat memahami dan melaksanakan hak dan kewajiban secara santun, jujur
dan demokrasi serta ikhlas sebagai Warga Negara Indonesia terdidik dan bertanggung jawab.
b) Agar mahasiswa menguasai dan memahami berbagai masalah dasar dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta dapat mengatasinya dengan pemikiran kritis dan
bertanggung jawab yang berdasarkan Pancasila, Wawasan Nusantara, dan ketahanan nasional.
c) Agar mahasiswa memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai perjuangan, cinta
tanah air, serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa.

D. PERKEMBANGAN PKn DI INDONESIA

1. Sebelum Proklamasi Kemerdekaan


Pada zaman Hindia Belanda dikenal dengan nama “Burgerkunde”. Pada waktu itu ada 2 buku
resmi yang digunakan, yaitu :
a) Indische Burerschapkunde, yang dibicarakan dalam buku tersebut, masalah masyarakat
pribumi. Pengaruh barat, bidang sosial, ekonomi, hukum, ketatanegaraan dan kebudayaan,
masalah pertanian, masalah perburuhan. Kaum menengah dalam industri dan perdagangan,
terbentuknya dewan rakyat, masalah pendidikan, kesehatan masyarakat, pajak, tentara dan
angkatan laut.
b) Recht & Plicht (Bambang Daroeso, 1986: 8-9) karangan J.B. Vortman yang dibicarakan
dalam buku tersebut yaitu : Badan pribadi yang mengutarakan masyarakat dimana kita hidup,
objek hukum dimana dibicarakan eigendom eropah dan hak-hak atas tanah. Masalah kedaulatan
raja terhadap kewajiban-kewajiban warga negara dalam pemerintah Hindia Belanda. Masalah
Undang-Undang, sejarah alat pembayaran dan kesejahteraan.

Adapun tujuan dari buku tersebut, yakni: agar rakyat jajahan lebih memahami hak dan
kewajibannya terhadap pemerintah Hindia Belanda, sehingga diharapkan tidak menganggap
pemerintah belanda sebagai musuh tetapi justru memberikan dukungan dengan penuh kesadaran
dalam jangka waktu yang panjang.

Pada tahun 1932 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan yang disetujui Volksraad,
bahwa setiap guru harus memiliki izin. Dalam pertimbangannya adalah banyak guru sekolah
partikelir bukanlah lulusan sekolah guru, dan yang berhak mengajar hanyalah lulusan sekolah
guru. Sedangkan lewat pendidikan non-formal terutama dilakukan oleh para tokoh pergerakan
nasional yakni bung Karno dan Bung Hatta. Pelaksanaan pendidikan politik baik yang dilakukan
oleh guru-guru sekolah partikelir maupun yang dilakukan para tokoh pergerakan nasional, pada
prinsipnya dapat dinyatakan sebagai “cikal bakal” pendidikan.

2. Politik atau PKn di Jaman Indonesia merdeka.


Gambaran Nu’man Somantri (1976: 34-35), yakni :

a. Kewarganegaraan (1957) Isi pelajaran kewarganegaraan adalah membahas cara memperoleh


dan kehilangan kewarganegaraan.
b. Civics (1961) Isi civics banyak membahas tentang sejarah kebangkitan nasional . Uud,
pidato-pidato politik kenegaraan yang terutama diarahkan untuk “nation and character building”
Bangsa Indonesia seperti pada waktu pelaksanaan civics di Amerika pada tahun-tahun setelah
declaration of Independence Amerika.
c. Pendidikan Kewargaan Negara (1968) Diberlakukannya kurikulum 1975, PKn pada
prinsipnya merupakan unsur dari PMP. Lahirnya UU no.2 Tahun 1989 tentang SPN (Sistem
Pendidikan Nasional). menunjuk pasal 39 ayat 2, yang menentukan bahwa PKn bersama dengan
pendidikan Pancasila dan Pendidikan Agama harus dimuat dalam kurikulum semua jenis, jalur
dan jenjang pendidikan maka PKn akan mengalami perkembangan lagi.

Menurut ali emran (1976: 4) isi PKn meliputi :

● Untuk SD : pengetahuan Kewarganegaraan, sejarah Indonesia, ilmu Bumi.


● Untuk SMP : Sejarah kebangsaan, kejadian setelah kemerdekaan, UUD 1945, Pancasila,
Ketetapan MPRs.
● Untuk SMA : Uraian pasal-pasal dalam UUD 1945 yang dihubungkan dengan tata
negara, sejarah, ilmu bumi dan ekonomi.
● Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Menurut Kurikulum 1994.
Kurikulum 1994 mengintegrasikan antara pengajaran Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan dengan nama mata pelajaran PPKn.

Tahun 1970 PKn difusikan ke dalam mata pelajaran IPS. Tahun 1972, dalam seminar di
Tawangmangu Surakarta, menetapkan istilah ilmu kewargaan Negara (IKN) sebagai
pengganti CIVICS, dan pendidikan Kewargaan Negara (PKn) sebagai istilah civic
[Link] demikian, IKN lebih bersifat teoritis dan PKn lebih bersifat praktis antara
keduanya merupakan kesatuan tak terpisahkan, karna perkembangan PKn sangat tergantung pada
perkembangan IKN.

E. PERKEMBANGAN PKn PADA MASA TRANSISI DEMOKRASI


Perkembangan PKn pada era Orde Baru, ternyata lebih ditentukan faktor kepentingan untuk
membangun negara (state Building) ketimbang untuk membangun bangsa (Nation Building). Hal
tersebut disebabkan karena:
1. Kemerosotan nilai estetika dan moral para penyelenggara negara yang sudah kehilangan
semangat pengabdian, pengorbanan kejujuran dan keikhlasan.
2. Hukum lebih merupakan alat kekuasaan daripada alat keadilan dan kebenaran.
3. Fandalisme, paternalisme dan absolutism.
4. Posisi dan peran ABRI lebih merupakan alat kekuasaan dari pada alat negara untuk mengabdi
kepada kepentingan rakyat.
Kondisi di atas berpengaruh pada perubahan kurikulum PPKn dan pelaksanaan pengajarannya
di lapang yang lebih menekankan untuk legitimasi dan pembenaran justifikasi berbagai
kebijakan

meningkatkan pemberdayaan warga Negara dalam berhubungan dengan negara. Dalam era
reformasi, tantangan PPKn semakin berat. P4 dipermasalahkan substansinya, karena tidak
memberikan gambaran yang tepat tentang nilai Pancasila sebagai satu kesatuan. Dengan adanya
perubahan UU No. 2 tahun 1989 yang diubah dengan UU No. 2 tahun 2003 tidak dieksplisitkan
lagi nama pendidikan Pancasila, sehingga tinggal Pendidikan Kewarganegaraan. Begitu pula
kurikulum 2004 memperkenalkan istilah Pengganti PPKn dengan kewarganegaraan/pendidikan
kewarganegaraan. Perubahan nama ini juga diikuti dengan perubahan isi PKn yang lebih
memperjelas akar keilmuan yakni politik, hukum dan moral.

BAB III
Penutup

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan diatas, dapat disimpulkan :
[Link] Civics tersebut secara formal tidak dijumpai dalam Kurikulum tahun 1957 maupun
dalam Kurikulum tahun 1946. Namun secara materiil dalam Kurikulum SMP dan SMA tahun
1957 terdapat mata pelajaran tata negara dan tata hukum, dan dalam kurikulum 1946 terdapat
mata pelajaran pengetahuan umum yang di dalamnya memasukkan pengetahuan mengenai
pemerintahan.
[Link] belakang lahirnya pendidikan Kewarganegaraan berawal dari perjalanan sejarah moral
reformasi. Kondisi perebutan dan mempertahankan kemerdekaan itu ditanggapi oleh bangsa
indonesia berdasarkan kesamaan nilai-nilai perjuangan bangsa yang senantiasa tumbuh dan
berkembang. Kesamaan nilai-nilai tersebut dilandasi oleh jiwa, tekad dan semangat kebangsaan.
Kesemuanya itu tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan yang mampu mendorong proses
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
[Link] memberikan pengetahuan dan kemampuan dasar kepada Mahasiswa mengenai
hubungan antara warga negara dengan negara serta PPBN agar menjadi warga negara yang
diandalkan oleh bangsa dan negara.
DAFTAR PUSTAKA

Abdiar, 2010, Pengertian, Tujuan, Sejarah Pendidikan Kewarganegaraan.


[Link]
kewarganegaraan/

Raharjo, 2009, Pengertian, Tujuan, Sejarah Pendidikan Kewarganegaraan.


[Link]

Ardi, 2012 Perkembangan PKn (Pendidikan Kewarganegaraan).


[Link]
[Link]

Widya, Ratna. 2012, Perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia.


[Link]
[Link]

Iiham, Nur Fadil. 2013, Pengertian, Fungsi dan Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan.
[Link]
[Link]

Sumarsono, dkk. 2001. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Anda mungkin juga menyukai