Makalah
Teknologi feedlot
Kebijakan dalam ternak SAPI POTONG
Oleh:
Pirdayani
(G0122502)
PRODI PETERNAKAN FAKULTAS
PETERNAKAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS
SULAWESI BARAT
2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur diucapkan kehadirat Allah Swt. atas segala rahmat-Nya
sehingga makalah ini dapat tersusun sampai selesai. Tidak lupa kami
mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materi.
Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar
makalah ini bisa pembaca praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan
dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman
kami. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sapi potong merupakan salah satu ternak ruminansia yang mempunyai
kontribusi terbesar sebagai penghasil daging, serta untuk pemenuhan
kebutuhan pangan khususnya protein hewani. Berdasarkan Rencana Strategis
Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2010-2014 (Ditjen PKH
2011), daging sapi merupakan 1 dari 5 komoditas bahan pangan yang
ditetapkan dalam RPJMN 2010-2014 sebagai komoditas strategis.
Konsumsi daging sapi nasional pada tahun 2005 sebesar 0,99 kg per
kapita per tahun dan terus meningkat sampai tahun 2012 hingga menjadi 2,16
kg per kapita per tahun (BKP 2013). Permintaan daging sapi tersebut
diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi
nasional, meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya protein
hewani, pertambahan jumlah penduduk, dan meningkatnya daya beli
masyarakat (Daryanto 2009).
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam P4UI (2013) penyediaan
sapi potong dan daging sapi dalam negeri selama ini 97,7% berbasis
peternakan rakyat. Pertumbuhan produksi daging sapi (supply) di dalam negeri
dari tahun 2005-2013 terus meningkat, namun belum mampu mengimbangi
laju permintaan (demand) yang semakin meningkat, sehingga untuk memenuhi
permintaan tersebut diperlukan impor. Kebutuhan daging sapi secara nasional
pada tahun 2013 sebesar 391 ribu ton, untuk penyediaannya dipenuhi dari
produksi dalam negeri (69,67%) dan impor (30,33%). Impor daging sapi pada
tahun 2013 cenderung naik bila dibandingkan dengan tahun 2012 yang hanya
21,29% dan berdasarkan angka sementara realisasi impor tahun 2014 (bulan
Oktober) sudah mencapai 33,82%(Ditjen PKH 2014).
Berdasarkan hasil kajian MB-IPB (2012) Provinsi Jawa Tengah
merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi besar dalam
pengembangan ternak sapi potong dan penghasil ternak sapi potong terbesar
kedua di Indonesia setelah Jawa Timur. Populasi ternak sapi potong dari tahun
2009 terus meningkat hingga mencapai 2,05 juta ekor pada tahun 2012, namun
pada tahun 2013 turun 26,88% menjadi 1,5 juta ekor (Dinas PKH Jateng
2014). Keberadaan sapi potong di Provinsi Jawa Tengah dianggap penting
karena telah berkontribusi sebagai pemasok sapi untuk kebutuhan daging
nasional, terutama untuk wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat (MB-IPB 2012).
Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam pembangunan ekonomi Jawa
Tengah karena dalam program pemantapan pangan nasional, Provinsi Jawa
Tengah merupakan salah satu provinsi penyangga pangan nasional. Selain itu,
berdasarkan hasil Sensus Tani 2013 (Dinas PKH Jateng 2014) peternakan sapi
potong melibatkan banyak petani yaitu 887.837 rumah tangga petani peternak,
sehingga perkembangannya sangat mendukung perkembangan ekonomi
masyarakat di perdesaan. Oleh karena itu, adanya permintaan yang tinggi akan
daging sapi dalam pasar nasional dan yang cukup tinggi di Provinsi Jawa
Tengah merupakan peluang untuk peternak memenuhi pasokan daging sapi
tersebut.
Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor peternakan, termasuk
peternakan sapi potong. Namun tantangan dalam manajemen dan regulasi
tataniaga sapi menjadi perhatian utama pemerintah. Seiring dengan itu,
berbagai kebijakan telah diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan
kelangkaan tataniaga sapi potong
Rumusan Masalah
[Link] peranan sapi potong dalam perekonomian wilayah di Jawa
Tengah?
[Link] potensi pengembangannya berdasarkan perwilayahan?
[Link] apakah yang tepat untuk pengembangan peternakan sapi
potong berdasarkan perencanaan wilayah?
1.2 Tujuan
1. Menganalisis peranan sapi potong dalam perekonomian wilayah di Jawa Tengah.
[Link] potensi pengembangan peternakan sapi potong di Provinsi Jawa Tengah
berdasarkan perwilayahan.
[Link] strategi pengembangan peternakan sapi potong yang tepat berdasarkan
perencanaan wilayah.
BAB II
PEMBAHA
SAN
[Link] Pemberian Pakan
Untuk penggemukan sapi dalam waktu yang relatif singkat maka
Ransum yang diberikan haruslah terdiri dari hijauan dan konsentrat.
Penggemukan sapi dalam waktu yang relatif berarti
Pertambahan bobot badan yang akan disapai harus tinggi (Sugeng, 2000).
Pada umumnya ternak sapi lebih menyukai rumput hijauan ini karena
Sapi adalah hewanherbivora(pemakan rumput). Rumput memiliki
Berbagai jenis dan spesies. Pada umunya rumput yang sering dikondumsi
Oleh ternak sapi ialah rumput gajah, rumput benggala dll.
[Link] Perkawinan
Metode perkawinan yang digunakan pada Peternakan Kelompok
Bina Karya Sejahtera adalah dengan metode Inseminasi Buatan (IB).
Inseminasi Buatan adalah input atau pemasukan air mani ke
Dalam saluran kelamin betina dengan alat buatan manusia.
Adapun tahapan IB adalah penampungan air mani, pemeriksaan kualitas,
Pengenceran, pembuatanair manibeku, pelaksanaaninseminasi,
Rekording dan penilaian hasil inseminasi (Ihsan, 1997). Inseminasi Buatan
Mempunyai beberapa keunggulan yaitu meningkatkan kualitas genetik,
Efektifitas biaya perawatan pejantan, kontrol menular penyakit, aman,
Fleksibel dan memugkinkan menyusun catatan atau rekording dalam
Manajemen pemeliharaan (Hafez, 1993; Peters dan Ball, 1995; Ihsan,
1997). Kerugian akibat IB muncul apabila inseminator kurang terampil
Dalam pelaksanaan IB, akan terjadi inbreeding, apabila tidak dilakukan
Pergantian pejantan yang digunakan (Toelihere, 1993).
Estrus adalah saat ternak bersedia menerima pejantan
Untuk kopulasi (kawin). Lama estrus adalah waktu yang diperlukan dalam
Satu kali ternak betina menjalani estrus atau bersedia dikawini oleh
Pejantan (Riyanto, 2000). Pada saat estrus terjadi hal pokok yakni nampak
Tanda-tanda estrus, pada sapi dikenal dengan tiga A yaitu abang (minor memerah), aboh (vulva
membengkak) dan anget (suhu tubuh
Meningkat sedikit, lebih hangat dari biasanya), berlendir yaitu lendir
Yang berasal dari leher rahim tampak keluar dari vulva, seperti berwarna
Bening atau jernih, transparan yang sering kali melilit pada ekor atau
Menempel pada kaki-kaki belakangnya dan sering terlihat betina
Menemani temannya sewaktu di padang penggembalaan (Nuryadi, 2000).
Hafez (1993), menyatakan bahwa rata-rata panjang siklus estrus untuk
Sapi berumur 21 hari, meskipun panjang siklus estrus yang normal adalah
17-21 hari. Faktor-faktor yang mempengaruhi siklus estrus adalah umur,
Pakan, sistem pemeliharaan dan lingkungan (Toelihere, 1993).
Umur pertama kawin betina adalah 13 bulan sedangkan umur kawin
Jantan berumur 15 bulan, dengan calving interval 1 tahun. Biasanya
Umurnya penyapihan pada peternakan Kelompok Bina Karya Sejahtera
Adalah pada usia 6 bulan dengan cara penyapihan di sekat dengan
Induknya tetapi masih berdekatan. Asal semen beku berasal dari dinas
Dan biasanya semen beku yang digunakan adalah dari bangsa Simental
Atau PO.
Pelaksanaan perkawinan yang tepat sekitar 10-14 jam sejak tanda-
Tanda birahi. Apabila sapi birahi pada pagi hari, maka paling lambat sapi
Dikawinkan pada sore hari, sedangkan apabila sapi birahi pada sore hari,
Maka paling lambat sapi dikawinkan pada pagi hari pada hari berikutnya.
Kebuntingan dapat diamati 21 hari setelah perkawinan. Kalau tidak ada
Tanda-tanda birahi, maka kebuntingan telah terjadi, namun jika tanda-
Tanda birahi muncul lagi, maka perkawinan perlu diulang. Cara lain yang
Dapat dilakukan adalah dengan pengalaman, yang hanya dapat dilakukan
Oleh petugas yang terlatih dan berpengalaman. Setelah anak sapi lahir,
Induk sapi dapat dikawinkan lagi 3 (tiga) bulan setelah melahirkan. Sapi
Bunting harus dipisahkan dari sapi yang lain. Kondisi ini dilakukan untuk
Menjaga kebuntingan. Pakan yang diberikan harus dapat memenuhi
Kebutuhan zat gizi untuk sapi bunting.
[Link] Pemeliharaan
Status kepemilikan ternak adalah gaduhan bantuan pihak lain. Sapi
Dimandikan dua kali sehari. Perawatan anak yang baru lahir adalah
Dengan di lap dan di bantu untuk menyusui. Pemeliharaan jantan dan
Betina dipisah. Pada peternakan ini tidak terdapat padang
Penggembalaan. Jenis usaha peternakan ini adalah tradisional, sifat
Usaha kelompok dengan jenis usaha campuran.
Manajemen Penanganan Kesehatan
Pencegahan penyakit dengan cara memandikan ternak dan
Vaksinasi 2x setahun dan vaksinasi cacing 3 bulan sekali. Biaya vaksinasi
Sebesar Rp 10.000/ekor. Sanitasi kandang dilakukan tiap hari. Penyakit
Yang biasa ditemui adalah cacingan, bloat, diare. Pengobatan dilakukan
Oleh mantri hewan dan biaya pengobatan Rp 50.000/unit.
D. Manajemen Pemasaran Sapi Dan Pupuk Kandang
Bentuk penjualan ternak dilakukan pada masa telah di sapih pada
Umur 6 bulan. Hasil penjualannya maro bathi sekitar 70%:30%. Alasan
Ternak dijual adalah untuk memenuhi kebutuhan. Biasanya pembeli
Datang langsung ke peternak. Penjualan pupuk kandang seharga Rp
200/kg
E. Manajemen Pengadaan Bibit Sapi
Yulianto (2010) menyatakan bahwa bibit yang dibesarkan harus
Sehat dan tidak cacat. Untuk itu, saat ini akan membeli bibit perlu
Memperhatikan ciri-ciri sebagai berikut yaitu tidak ada cacat fisik. Kulit
Tidak rusak atau terluka. Ada tanda di telinga yang menunjukkan bahwa
Anakan sapi tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya. Mata tampak
Cerah dan bersih (tidak berair dan kotor) Tidak sering batuk atau
Gangguan pernapasan serta tidak keluarnya lendir dari hidungnya
1.1 Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan tersebut maka disimpulkan bahwa kebijakan
pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam mengatur tataniaga
sapi potong. Meskipun demikian, masih terdapat berbagai tantangan yang
perlu diatasi untuk meningkatkan efektivitas dan ketidakberlanjutan
kebijakan tersebut.
1.2 Saran
Sebagai langkah ke depan, ada beberapa saran yang dapat
dipertimbangkan oleh pemerintah untuk meningkatkan efektivitas
kebijakan tataniaga sapi potong. Pertama, diperlukan peningkatan
kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam
merumuskan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Kedua,
perlunya diberikan lebih banyak dukungan dan insentif kepada petani lokal
untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas sapi mereka, misalnya
melalui program pelatihan dan bantuan teknis. Ketiga, penting untuk
memperkuat regulasi terkait kesejahteraan hewan dan lingkungan serta
meningkatkan penegakan hukum untuk memastikan kepatuhan industri
terhadap standar yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Ditjen PKH] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2011. Rencana
Strategis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan 2010-2014 Edisi
Revisi. Jakarta [ID]: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan
Kementerian Pertanian.
[Ditjen PKH] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2012. Pedoman
Pelaksanaan Pengembangan Kawasan Sapi dan Kerbau. Jakarta (ID): Direktorat
Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
[Ditjen PKH] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2013. Statistik
Peternakan dan Kesehatan Hewan. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Peternakan dan
Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
[Ditjen PKH] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.2014. Bahan Rapat
Pimpinan: Supply dan Demand Daging Sapi Tahun 2010-2014. Jakarta (ID):
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
Huyen LTT, Tuyet DTV, Markemann A,
Herold P dan Zárate AV. 2012. Beef Cattle Keeping By Smallholders in A Mountainous
Province Of Northern Vietnam In Relation To Poverty Status, Community
Remoteness And Ethnicity. Journal Animal Production Science53 (2) 163-
[Link]/10.1071/AN12117.
Lamsihar NLT. 2013. Sumber Bahan Pakan dan Pakan Ternak Ruminansia. Jakarta (ID):
Direktorat Pakan Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Mayulu H, Sunarso, Sutrisno CI, Sumarsono. 2010. Kebijakan Pengembangan
PeternakanSapi Potong di [Link] Litbang Pertanian. 29 (1):34-
41.
[MB-IPB] Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor. 2012.
Laporan Akhir: Kajian Supply Chain Ternak Sapi dan Daging di Indonesia 2012.
Kerjasama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian
Republik Indonesia dengan Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut
Pertanian Bogor. Bogor (ID): Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut
Pertanian Bogor.
Priyanto D. 2011. Strategi Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong dalam Mendukung
Program Swasembada
Daging Sapi dan Kerbau Tahun 2014. Jurnal Litbang Pertanian 30 (3):108-116.