0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan18 halaman

Laporan Asma Bronkial untuk Keperawatan

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai sistem pernapasan dan asma bronkial, yang mencakup definisi, anatomi, fisiologi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi, manifestasi klinik, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan, dan proses keperawatan. Asma bronkial merupakan kondisi paru-paru kronis yang ditandai dengan kesulitan bernapas dan gejala seperti sesak napas dan batuk. Penatalaksanaan mencakup intervensi medis dan non-medis untuk mengelola gejala dan mencegah serangan.

Diunggah oleh

eva novitasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan18 halaman

Laporan Asma Bronkial untuk Keperawatan

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai sistem pernapasan dan asma bronkial, yang mencakup definisi, anatomi, fisiologi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi, manifestasi klinik, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan, dan proses keperawatan. Asma bronkial merupakan kondisi paru-paru kronis yang ditandai dengan kesulitan bernapas dan gejala seperti sesak napas dan batuk. Penatalaksanaan mencakup intervensi medis dan non-medis untuk mengelola gejala dan mencegah serangan.

Diunggah oleh

eva novitasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

SISTEM PERNAFASAN ASMA BRONKIAL

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Stase Keperawatan Anak

Disusun Oleh :

Eva Novitasari

NPM D524030

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

INSTITUT KESEHATAN RAJAWALI

BANDUNG 2024
A. Definisi
Asma adalah suatu keadaan kondisi paru – paru kronis yang ditandai
dengan kesulitan bernafas, dan menimbulkan gejala sesak nafas, dada terasa
berat, dan batuk terutama pada malam menjelang dini hari. Dimana saluran
pernafasan mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap
rangsangan tertentu, yang menyebabkan penyempitan atau peradangan yang
bersifat sementara (Masriadi, 2016).
Asma merupakan penyakit inflamasi kronik pada jalan nafas dan
dikarakteristikkan dengan hiperresponsivitas, produksi mukus, dan edema
mukosa. Inflamasi ini berkembang menjadi episode gejala asma yang
berkurang yang meliputi batuk, sesak dada, mengi, dan dispnea. Penderita
asma mungkin mengalami periode gejala secara bergantian dan berlangsung
dalam hitungan menit, jam, sampai hari (Brunner & Suddarth, 2017).
B. Anatomi dan Fisiologi
Paru-paru manusia terletak pada rongga dada, bentuk dari paru-paru
adalah berbentuk kerucut yang ujungnya berada di atas tulang iga pertama
dan dasarnya berada pada diafragma. Paru terbagi menjadi dua bagian yaitu,
paru kanan dan paru kiri. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus sedangkan
paru-paru kiri mempunyai dua lobus. Setiap paru-paru terbagi lagi menjadi
beberapa sub-bagian, terdapat sekitar sepuluh unit terkecil yang disebut
bronchopulmonary segments. Paru-paru bagian kanan dan bagian kiri
dipisahkan oleh sebuah ruang yang disebut mediastinum (Evelyn, 2016).

Paru-paru manusia dibungkus oleh selaput tipis yang bernama pleura.


Pleura terbagi menjadi pleura viseralis dan pleura pariental. Pleura viseralis
yaitu selaput tipis yang langsung membungkus paru, sedangkan pleura parietal
yaitu selaput yang menempel pada rongga dada. Diantara kedua pleura terdapat
rongga yang disebut cavum pleura (Evelyn, 2016).
Menurut Evelyn (2016) sistem pernafasan manusia dapat dibagi ke
dalam sistem pernafasan bagian atas dan pernafasan bagian bawah.
1. Pernafasan bagian atas meliputi hidung, rongga hidung, sinus paranasal, dan
faring.
2. Pernafasan bagian bawah meliputi laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan
alveolus paru.
Menurut Price & Wilson (2015) sistem pernapasan terbagi menjadi dari
dua proses, yaitu inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi adalah pergerakan dari
atmosfer ke dalam paru, sedangkan ekspirasi adalah pergerakan dari dalam paru
ke atmosfer. Agar proses ventilasi dapat berjalan lancar dibutuhkan fungsi yang
baik pada otot pernafasan dan elastisitas jaringan paru. Otot-otot pernafasan
dibagi menjadi dua yaitu : otot inspirasi yang terdiri atas, otot interkostalis
eksterna, sternokleidomastoideus, skalenus dan diafragma. Otot-otot ekspirasi
adalah rektus abdominis dan interkostalis internus.
C. Etiologi
Menurut Global Initiative for Asthma tahun 2016, faktor resiko
penyebab asma bronchial di bagi menjadi tiga kelompok yaitu:
1. Faktor genetik
a. Atopi/alergi
Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya.
b. Hipereaktivitas bronkus
Saluran nafas sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen maupun
iritan.
c. Jenis kelamin
Anak laki-laki sangat beresiko terkena asma bronchial sebelum usia 14
tahun, prevalensi asma pada anak laki-laki adalah 1,5-2 kali dibanding
anak perempuan
d. Ras/etnik
e. Obesitas
Obesitas atau peningkatan/body mass index (BMI), merupakan faktor
resiko asma.
2. Faktor lingkungan
a. Alergen dalam rumah (tungau debu rumah, spora jamur, kecoa, serpihan
kulit binatang seperti anjing, kucing, dan lain sebagainya).
b. Alergen luar rumah (serbuk sari, dan spora jamur).
c. Faktor lain
1) Alergen dari makanan.
2) Alergen obat-obatan tertentu
3) Exercise-induced asthma
D. Klasifikasi
Secara etiologis menurut (Riyadi, 2014), asma bronkhial dibagi dalam
3 tipe:
1. Asma bronkhial tipe non atopi (intrinsik).
Pada golongan ini, keluhan tidak ada hubungan nya dengan paparan
(exposure) terhadap alergen dan sifat – sifatnya adalah serangan timbul
setelah dewasa, pada keluarga tidak ada yang menderita asma, penyakit
infeksi sering menimbulkan serangan, ada hubungannya dengan pekerjaan
atau beban fisik, rangsangan psikis mempunyai peran untuk menimbulkan
serangan reaksi asma, perubahan cuaca atau lingkungan yang non spesifik
merupakan keadaan peka bagi penderita.
2. Asma bronkhial tipe atopi ( Ekstrinsik)
Pada golongan ini, keluhan ada hubungannya dengan paparan terhadap
alergen lingkungan yang spesifik. Kepekaan ini biasanya dapat ditimbulkan
dengan uji kulit atau provokasi bronkhial. Pada tipe ini mempunyai sifat-
sifat : timbul sejak anak – anak, pada famili ada yang menderita asma,
adanyan asma pada waktu bayi, sering menderita rinitis (alergi serbuk
bunga).
3. Asma bronkhial campuran (Mixed)
Pada golongan ini, keluhan diperberat baik oleh faktor – faktor intrinsik
maupun ekstrinsik.
Klasifikasi derajat asma bronkhial, Klasifikasi tahapan penyakit asma
berdasarkan keparahan penyakit pada pasien tertera pada tabel dibawah ini :
Tabel Penilaian derajat serangan asma
Parameter Ringan Sedang Berat Ancaman
Aktivitas Belajar berbicara Istirahat Henti nafas
Bicara Kalimat Penggal Kata – kata Kalimat
kalimat
Posisi Bisa Lebih suka Duduk
berbaring duduk bertompang
lengan
Kesadaraan Mungkin Biasanya Biasanya Kebingungan
teragitasi teragritasi teragritasi
Mengi Sedang, Nyaring, Sangat Sulit atau
sering hanya sepanjang nyaring, terdengar tidak
pada akhir ekspirasi terdengar
ekspirasi tanpa
stetoscop
Sesak nafas minimal sedang berat
Otot bantu Biasanya Biasanya Ya Gerakan
nafas tidak ya paradoks
thorakabdom
inal
Retraksi Dangkal, Sedang Dalam Dangkal
retraksi ditambah ditambah nafas hilang atau
interkostal retraksi cuping hidung
supertermal
Laju nafas meningkat meningkat meningkat Menurun
Pulsus Tidak ada < Ada 10-20 Ada mmHg Tidak ada
paradok 10 mmHg mmHg > 20 tanda
sus kelelahan

otot
Nafas
PEFR atau % nilai % nilai
FEVI dugaan dugaan

Pra >60%, <40%


broncodilator >80%
Pasca <60%
broncodiator respons <2
jam
SaO2 (%) >95% 91-95% <90%
PaO2 Normal >60 mmHg <60 mmHg
(biasanya
tidak perlu
diperiksa)
PaCO2 <45 mmHg <45 mmHg >45 mmHg
SaO2 (%) >95% 91-95% <90%

E. Patofisiologi
Mekanisme perjalanan penyakit asma bronkhial adalah individu dengan
asma yang mengalami respon imun yang buruk terhadap lingkungan. Antibodi
yang di hasilkan (IgE) kemudian menyerang sel-sel mast dalam paru (Dahlan,
2016). Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan
antibodi, menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast (disebut mediator)
seperti histamin, brakidinin dan prostaglandin serta anafilaksis dari substansi
yang bereaksi lambat. Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru
mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan nafas, bronkospasme,
pembengkakan membran mukosa dan pembentukan mukus yang sangat banyak
(Smeltzer & Bare, 2014).
Pasien setelah terpajan alergen atau penyebab atau faktor pencetus,
segera akan timbul dispnea. Pasien merasa seperti tercekik dan harus beridiri
atau duduk dan berusaha penuh menggerakan tenaga untuk bernafas. Kesulitan
utama terletak pada saat ekspirasi. Percabangan trakeobronkial melebar dan
memanjang selama inspirasi, tetapi sulit untuk memaksakan udara keluar dari
bronkhiolus yang sempit mengalami edema dan terisi mukus yang dalam
keadaan normal akan berkontraksi sampai tingkatan tertentu pada saat ekspirasi
(Mangunnegoro, 2014).
F. Manifestasi Klinik
Menurut teori dalam buku Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Gangguan Sistem Pernapasan tahun 2019 penyakit asma memiliki tanda dan
gejala, yaitu :
1. Secara umum asma mempunyai gejala seperti batuk (dengan atau tanpa 14
lendir), dispnea, dan mengi.
2. Asma biasanya menyerang pada malam hari atau pada pagi hari.
3. Eksaserbasi sering didahului dengan meningkatnya gejala selama berhari-
hari, tapi bisa juga terjadi secara tiba-tiba.
4. Pernapasan berat.
5. Obstruksi jalan napas yang memperburuk dyspnea.
6. Batuk kering awalnya, diikuti dengan batuk yang lebih kuat dengan
produksi sputum berlebih.
7. Gejala tambahan seperti diaphoresis, takikardi, dan tekanan nadi yang
melebar(Puspitasari, 2019).
G. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik asma bronkhial menurut (Huda Nurarif, 2015)
meliputi:
1. Pengukuran fungsi paru (Spirometri)
Pengukuran ini dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator
aerosol golongan adrenergik. Menunjukkan diagnotik asma jika adanya
peningkatan pada nilai FEV dan FVC sebanyak lebih dari 20%.
2. Tes provokasi bronchus
Tes ini dilakukan pada Spirometri internal. Penurunan FEV sebesar 20%
atau bahkan lebih setelah tes provoksi dan denyut jantung 80- 90% dari
maksimum dianggap bermakna bila menimbulkan penurunan PEFR 10%
atau lebih.
3. Pemeriksan kulit
Pemeriksaan kulit ini dilakukan untuk menunjukkan adanya antibody IgE
hypersensitive yang spesifik dalam tubuh.
4. Pemeriksaan laboratorium
b. Analisa gas darah (AGD/ Astrup)
Hanya dilakukan pada klien dengan serangan asma berat karena terjadi
hipoksemia, hiperksemia, dan asidosis respiratorik.
c. Sputum
Adanya badan kreola adalah salah satu karakteristik untuk serangan
asmabronkhial yang berat, karena hanya reaksi yang hebat yang akan
menyebabkan transudasi dari edema mukosa, sehingga terlepas
sekelompok sel- sel epitel dari perlekatannya.
d. Sel eosinophil
Sel eosinofil pada klien asma dapat mencapai 1000- 1500/mm2 dengan
nilai sel eosinofil normal adalah 100-200/mm2
e. Pemeriksaan darah rutin dan kimia.
Menunjukkan asmabronkhial jika jumlah sel eosinofil yang lebih dari
15.000/mm2 terjadi karena adanya insfeksi. Serta nilai SGOT dan SGPT
meningkat disebabkan hati akibat hipoksia atau hyperkapnea.
5. Pemeriksaan radiologi Hasil pemeriksaan radiologi biasanya normal tetapi
ini merupakan prosedur yang harus dilakukan dalam pemeriksaan
diagnostik dengan tujuan tidak adanya kemungkinan penyakit patologi di
paru serta komplikasi asma bronkhial.
H. Penatalaksanaan
Menurut (Bruner & Suddarth, 2017) yaitu :
1. Penatalaksanaan Medis
a. Agonis adrenergik – beta 2 kerja –pendek.
b. Antikolinergik.
c. Kortikosteroid : inhaler dosis – terukur (MDI)
d. Inhibitor pemodifikasi leukotrien / antileukotrien.
e. Metilxatin.
2. Penatalaksanaan non farmakologis
a. Berhenti merokok.
b. Aktifitas fisik secara teratur.
c. Mencegah paparan alergen ditempat kerja, di dalam maupun di luar
ruangan.
d. Mencegah penggunaan obat yang dapat memperberat asma.
e. Tekinik pernapasan yang benar (Breathing Exercise, yoga dan senam
asma).
f. Diet sehat dan menurunkan berat badan.
g. Mengatasi stres emosional.
h. Imunoterapi alergen

I. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Wahid dan Suprapto (2013) data pengkajian sebagai berikut:
a. Pengumpulan data
1) Identitas klien
pengkajian mengenai nama, umur dan jenis kelamin perlu dikaji
pada penyalit status asmatikus. Srangan asmapada usia dini
memberikan implikasi bahwa sangat mungkin terdapat status atopi.
Sedangkan pada usia dewasa dimungkinkan adanya faktor non
atopi. Alamat menggambarkan kondisi lingkungan tempat klien
berada, dapat mengetahui kemungkinan faktor pencetus serangan
asma. Status perkawinan, gangguan emosional yang timbul dalam
keluarga atau lingkungan merupakan faktor pencetus serangan
asma, pekerjaan, serta bangsa perlu juga dikaji untuk mengetahui
adanya pemaparan bahan allergen. Hal ini yang perlu dikaji tentang:
tanggal MRS, nomor rekaman medik, dan diagnosis keperawatan
medis.
2) Identitas penanggung jawab
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Klien dengan serangan asma sering mencari pertolongan
dengan keluhan, terutama sesak napas yang hebat dan mendadak
kemudian diikuti dengan gejala-gejalayang lain yaitu: whezzing,
pengunaan otot bantu pernapasann, kelelahan gangguan kesadaran,
sianosis, serta perubahan tekanan darah. Perlu juga dikaji kondisi
awal terjadinya serangan.
2) Riwayat penyakit dahulu
Seperti yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti
infeksi saluran napas atas, sakit tenggorokan, amandel, sinusitis,
polip hidung. Riwayat serangan asma frekuensi, waktu, allergen-
alergen yang dicurigai sebagai pencetus serangan serta riwayat
pengobatan yang dlakukan untuk meringankan gejala asma.

3) Riwayat Kesehatan Keluarga


Pada klien dengan serangan status asmatikus perlu dikaji
tentang riwayat penyakit asma atau penyakit allergen yang lain pada
anggota keluarganya karena hipersensitifitas pada penyakit asma ini
lebih ditentukan oleh factor genetic oleh lingkungan.
4) Riwayat psikososial
Gangguan emosional sering dipandang sebagai salah satu
pencetus bagi serangan asma baik gangguan itu berasal dari rumah
tangga, lingkungan sekitar samapi lingkungan kerja. Seoraang yang
punya beban hidup yang berat berpotensi terjadi serangan asma,
yatim piatu, ketidak harmonisan hubungan dengan orang lain
sampai ketakutan tidak bias menjalankan peran semula.
Integritas ego: ansietas, ketakutan, peka rangsang.
c. Pemeriksaan Fisik
1) BI-reath :
a) Peningkatan frekuensi pernapasan , susah bernapas,
perpendekan periode inspirasi, pemanjangan ekspirasi,
penggunaan otot-otot aksesori pernapasan (retraksi sternum,
pengangkatan bahu waktu bernapas)
b) Dipsnea pada saat ini istirahat atau respon terhadap aktifitas atau
latihan
c) Nafas memburuk ketika pasien berbaring terlentang di tempat
tidur.
d) Pernafasan cuping hidung
e) Adanya mengi yang terdengar tanpa stetoskop
f) Batuk keras, kering dan akhirnya batuk produktif
g) Faal paru terdapat penurunan FEVI
2) B2-Boold:
a) Takikardi
b) Tensi meningkat
c) Pulsus paradoks (penurunan tekanan darah 10mmHg waktu
inspirasi)
d) Sianosis
e) Diaphoresis
f) Dehidrasi
3) B3-Brain:
a) Gelisah
b) Cemas
c) Penurunan kesadaran
4) B4-Bowel:
Pada klien yang mengalami dipsnea penggunaan otot bantu nafas
maksimal kontraksi otot abdomen meningkat yang mengakibatkan
menurunnya nafsu makan. Dalam keadaan hiposia juga
mengakibatkan penurunan motilitas pada gaster sehingga
memperlambat pengosongan lambung yang menyebapkan penuruna
nafsu makan.
5) B6-Bladder Pada klien dengan hiperventilasi akan kehilangan cairan
melalui penguapan dan tubuh berkompensasi dengan penurunan
prosuksi urine.
6) B6-Bone: Pada klien yang mengalami hipoksia penggunaan otot
bantu nafas yang lama menyebapkan kelelahan. Selain itu hipoksia
menyebapkan metabolism anaerob sehingga terjadi penurunan ATP.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien asma yaitu :
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya
napas.
b. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan spasme
jalan napas.
c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
ketidakseimbangan ventilasi-perfusi.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen.
e. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala penyakit.
3. Intervensi Keperawatan
No SDKI SLKI SIKI
1. Pola napas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan Manajement jalan nafas
berhubungan dengan asuhan keperawatan selama Observasi
hambatan upaya napas ....x24 jam diharapkan pola 1. Monitor pola napas
napas pasien membaik dengan 2. Monitor bunyi napas tambahan
kriteria hasil : 3. Monitor sputum
1. Tidak terjadi dispnea Terapeutik
2. Frekuensi pernapasan normal 1. Pertahankan kepatenan jalan napas
3. Tidak terdapat suara 2. Posisikan semi-fowler atau fowler
tambahan 3. Berikan minum hangat
4. Ventilasi semenit meningkat 4. Lakukan fisioterapi dada, jika diperlukan
5. Kapasitas vital meningkat 5. Berikan oksigen/ nebulizer
6. Kedalaman nafas membaik Edukasi
7. Pemanjangan fase ekspirasi 1. Anjurkan asupan cairan
menurun 200ml/hari, jika tidak
kontraindikasi
2. Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian bronkodilator,
ekspektoran, mukolitik

2. Bersihan jalan nafas tidak Setelah dilakukan tindakan Manajement Asma


efektif berhubungan keperawatan selama ....x24 jam Observasi
dengan spasme jalan napas diharapkan bersihan jalan napas 1. Monitor frekuensi dan keadaan nafas
pasien membaik dengan kriteria 2. Monitor tanda dan gejala hipoksia
hasil : 3. Monitor bunyi nafas tambahan
1. Batuk efektif meningkat Terapeutik
2. Produksi sputum menurun 1. Berikan posisi semifowler 30-45º
3. Mengi menurun Edukasi
4. Wheezing menurun 1. Anjurkan meminimalkan ansietas yang dapat
5. Gelisah menurun meningkatkan kebutuhan oksigen
6. Frekuensi nafas membaik 2. Anjurkan bernafas lambat dan dalam
7. Pola nafas membaik 3. Ajarkan mengidentifikasi dan menghindari
pemicu
3. Gangguan pertukaran gas Setelah diberikan tindakan Pemantauan respirasi
berhubungan dengan keperawatan selama ...x24 jam Observasi
ketidakseimbangan diharapkan pertukaran gas 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan
ventilasi-perfusi pasien membaik, dengan kriteria upaya nafas
hasil : 2. Monitor pola nafas
1. Tingkat kesadaran pasien 3. Monitor kemampan batuk efektif
meningkat 4. Monitor adanya produksi sputum
2. Bunyi nafas tambahan 5. Monitor adanya sumbatan jalan nafas
menurun 6. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
3. Gelisah menurun 7. Auskultasi bunyi nafas
4. Nafas cuping hidung 8. Monitor saturasi oksigen
menurun Terapeutik
1. Atur interval pemantauan respirasi sesuai
kondisi pasien
2. Dokumentasikan hasil pantauan
Edukasi
1. Jelaskan tujuan prosedur pemantauan
2. Informasikan hasil pemantauan
4. Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan tindakan
Manajemen Energi
berhubungan dengan asuhan keperawatan selamaObservasi
ketidakseimbangan antara ....x24 jam diharapkan
1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang
suplai dan kebutuhan intoleransi aktivitas pasien
mengakibatkan kelelahan
oksigen. membaik dengan kriteria hasil
2. Monitor kelelahan fisik dan emosional
: 3. Monitor pola dan jam tidur
1. Kemudahan dalam
4. Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama
melakukan aktivitas
melakukan aktivitas
meningkat Terapeutik
2. Dispnea saat/setelah
1. Sediakan lingkungan nyaman dan rendah
aktivitas menurun stimulus
3. Perasaan lemah menurun
2. Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
4. Tekanan darah membaik
3. Berikan fasilitas duduk disisi tempat tidur, jika
5. Frekuensi napas
tidak dapat berpindah atau berjalan
membaik 4. Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan
Edukasi
1. Anjurkan tirah baring
2. Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
3. Anjurkan menghubungi perawat
5 Gangguan rasa nyaman Setelah dilakukan perawatan Observasi
berhubungan dengan 3x24 jan diharapkan keluhan 1. identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
gejala penyakit sesak menurun Dengan kriteria frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri
hasil: 2. identifikasi sekala nyeri
1. pernafasan kembali ke 3. identifikasi respon nyeri non verbal
rentang normal 4. identifikasi factor yang memperberat dan
2. klien tampak nyaman memperingan nyeri
5. identifikasi pengetahuan dan kelainan tentang
nyeri
6. identifikasi pengaruh budaya terhadap respon
nyeri
7. identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
8. monitor keberhasilan kmplementer yang sudah
di berikan
9. monitor efeksamping penggunaan analgetik
Terapeutik
10. berikan teknik nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
11. kontrol lingkungan yang memperberat rasa
nyeri
12. fasilitasi istirahat dan tidur
13. pertimbangkan jenis dan sumber nyei dalam
pemilihan strategi meredakan nyeri
Edukasi
14. jelaskan penyebap, periode, dan pemicu nyeri
15. jelaskan strategi meredakan nyeri
16. anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
17. anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
18. ajarkan teknik nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
19. kolaborasi pemberian analgetik jika peru
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2016). Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC
Brunner et al. 2017. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC.
Global Initiatif for Asthma(GINA). 2017. Global strategy for asthma management
and Prevention.
Kementrian Kesehatan Ri. Profil Kesehatan Indonesia 2015. Jakarta: Kementrian
Kesehatan Ri, 2016.
Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. 2015. APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.
Padila. 2015. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha medika.
Riyadi, Sujono. 2011. Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Indikator Diagnostik(1st ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat
PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Tindakan Keperawatan(Ist ed). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat
PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan(1st ed.). Jakarta: Dewan Pengurus
Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai