MAKALAH
INQUIRY LEARNING
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Strategi Pembelajaran Matematika
Oleh :
1. Riris Miladul Idaini 13012300001
2. Arsy Aisyah 13012300005
PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BINA BANGSA
TA. 2024/2025
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Inquiry Learning
Dalam konteks pendidikan yang terus berkembang, pemilihan model pembelajaran
yang tepat menjadi krusial. Inquiry adalah kata yang memiliki banyak makna bagi banyak
orang dalam berbagai konteks yang berbeda. Dalam bidang sains, inquiry berarti seni atau
ilmu bertanya tentang alam dan menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Inquiry
dilakukan melalui langkah-langkah seperti observasi dan pengukuran, hipotesis,
interpretasi, dan penyusunan teori. Inquiry memerlukan eksperimentasi, refleksi, dan
pengenalan terhadap kekuatan dan kelemahan metode yang digunakan (Hebrank, 2000).
Pendapat senada dikemukakan oleh Budnitz (2003), yang mengatakan bahwa inquiry
berarti mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab melalui justifikasi dan verifikas.
Inquiry learning merupakan salah satu metode yang mendukung pendekatan pedagogis
konstruktivisme, di mana siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran melalui
penyelidikan dan penemuan sendiri.
Proses pembelajaran matematika saat ini masih banyak didominasi oleh pengajar,
dimana pengajar sebagai sumber utama pengetahuan. Dalam hal ini pengajar memegang
peranan penting dalam pelaksanaan pembelajaran, Sehingga metode yang digunakan
banyak menuntut keaktifan pengajar dari pada siswa sebagai pembelajar sehingga siswa
kurang aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat mengakibatkan pencapaian tujuan
pembelajaran oleh paramahasiswa tidak optimal. Pada pembelajaran matematika
hendaknya disesuaikan dengan bahan ajar dan perkembangan berpikir siswa. Salah satu
alternatif metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mendorong siswa berpikir
aktif dan meningkatkan pemahaman akan pembelajaran matematika adalah metode
pembelajaran inquiry.
Metode ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa, tetapi juga keterampilan
berpikir kritis dan kreativitas. Metode inquiry learning merupakan metode pembelajaran
yang melibatkan peserta didik dalam proses pengumpulan data dan pengujian hipotesis
(Arends, 2008, p.45). Hal ini berarti dalam pembelajarannya peserta didik diajak untuk
berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari
suatu permasalahan yang di pertanyakan. Peserta didik dituntut untuk merumuskan
permasalahan serta melakukan penyelidikan yang bertujuan untuk memecahkan
permasalahan tersebut.
Metode inquiry learning adalah metode pembelajaran yang memberi kesempatan pada
peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran melalui penyelidikan,
sehingga melatih peserta didik untuk kreatif dan berpikir kritis untuk menemukan sendiri
suatu pengetahuan. Akhir dari metode inquiry learning adalah peserta didik mampu
menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya
berdasarkan fakta-fakta yang ada. Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa
metode inquiry learning cenderung menekankan kepada kebutuhan gaya belajar peserta
didik,
B. Model Pembelajaran Inquiry Learning
Model pembelajaran inquiry dibagi dalam empat bentuk metode yaitu confirmation
atau exploration inquiry (inkuiri terkonfirmasi/eksplorasi), structured inquiry (inkuiri
terstruktur), guided inquiry (inkuiri terbimbing), dan open/free inquiry (inkuiri
terbuka/bebas). Berikut ini adalah penjelasan singkat dari beberapa macam metode inquiry:
1. Confirmation/Exploration Inquiry (Lederman, J.S ,2010) ini merupakan metode dimana
siswa mempelajari dan memahami materi pembelajaran yang hasilnya telah mereka
ketahui. Dalam metode ini siswa akan diberi pertanyaan dan metode cara
mengerjakannya. Siswa telah mengetahui hasil atau jawaban dari pertanyaan yang
diberikan. Metode ini sangat efektif ketika tujuan dari pendidik adalah untuk
mengingatkan kembali materi yang telah diberikan sebelumnya, atau untuk
mengajarkan pada siswa bagaimana melakukan sebuah penelitian atau eksperimen.
2. Structured Inquiry (Bell, R & Banchi, H., 2008) metode ini tidak jauh berbeda dengan
metode pertama, perbedaannya terletak pada siswa tidak mengetahui hasil dari
pertanyaan yang diberikan, siswa dibiarkan mencari kesimpulan sendiri dengan
menggunakan metode pengerjaan yang telah ditentukan oleh pendidik. Siswa diberi
kesempatan untuk menganalisis data sehingga menghasilkan kesimpulan berdasarkan
bukti data yang mereka miliki.
3. Guided Inquiry (Lederman, J.S ,2010) merupakan pembelajaran inkuiri yang telah
direncanakan, diawasi, dan diintervensi. Dalam metode ini siswa dibimbing oleh
pendidik untuk mencari, memahami, dan menyelidiki materi pembelajaran. Siswa
diberi masalah atau pertanyaan, tetapi siswa diberi kebebasan dalam menentukan
metode atau solusi dari pemecahan masalah tersebut. Siswa memiliki peran lebih
dibandingkan dua metode sebelumnya, mereka memiliki kesempatan untuk memilih
materi, organisasi data, dan pendekatan analisis.
4. Open/free Inquiry (Bell, R & Banchi, H., 2008) Metode ini merupakan tingkatan
tertinggi dari model inkuiri dimana pembelajaran berpusat pada siswa, siswa mencari,
memahami, dan menyelidiki sendiri materi pembelajaran. Siswa berperan penuh dalam
pembelajaran yang mengharuskan mereka merumuskan masalah, mengembangkan
metode penelitian, mengumpulkan dan menganalisis data, dan juga membuat
kesimpulan berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisi.
C. Tahapan Model Pembelajaran Inquiry Learning
Untuk memahami lebih jauh tentang model ini, penting untuk mengenal tahapan-
tahapan yang terlibat dalam pembelajaran inquiry. Model pembelajaran inquiry learning
umumnya terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
1. Orientasi
Pada tahap ini, guru memperkenalkan topik atau masalah yang akan dipelajari
dan membangkitkan minat siswa untuk mempelajarinya. Pada tahap ini, guru
menciptakan konteks yang relevan agar siswa merasa tertarik dan termotivasi untuk
belajar. Misalnya, jika topiknya adalah tentang lingkungan, guru dapat memulai dengan
menunjukkan video tentang polusi atau mengajak siswa berdiskusi tentang isu-isu
lingkungan yang mereka temui sehari-hari.
2. Merumuskan Masalah
Guru membimbing dan memfasilitasi siswa untuk merumuskan dan memahami
masalah nyata yang telah disajikan. siswa diajak untuk merumuskan masalah yang
ingin mereka selidiki. Siswa harus mampu mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan
yang relevan dan menarik berdasarkan topik yang telah diperkenalkan. Proses ini
melibatkan diskusi kelompok, di mana siswa saling bertukar ide dan perspektif.
3. Merumuskan Hipotesis
Guru membimbing peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berhipotesis
dengan cara menyampaikan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk
bisa atau dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai
perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang terjadi.
4. Mengumpulkan Data
Guru membimbing siswa dengan cara mengajukan berbagai pertanyaan yang bisa
mendorong siswa untuk dapat berpikir dan mencari informasi yang dibutuhkan. Pada
tahap ini, siswa mulai mengumpulkan data untuk menguji hipotesis yang telah mereka
buat. Data bisa diambil dari berbagai sumber, seperti buku, artikel, wawancara, atau
survei. Proses pengumpulan data ini mendorong siswa untuk lebih aktif dalam mencari
informasi dan memahami cara kerja metode penelitian.
5. Menguji Hipotesis
Guru membimbing siswa dalam proses cara menetukan jawaban yang dianggap
dan diterima sesuai dengan data dan infosmasi yang diperoleh atau diperlukan
berdasarkan pengumpulan datanya. Yang terpenting dalam cara menguji hipotesis
adalah mencari Tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang telah diberikan.
6. Merumuskan Kesimpulan
Guru membimbing siswa dalam proses bagaimana mendeskripsikan temuan yang
diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang
akurat sebaiknya guru dapat mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
Sementara itu, menurut Clevery terdapat beberapa langkah dalam proses pembelajaran
menggunakan metode inquiry learning, yaitu sebagai berikut.
1. Exploration Tutorial: Dalam tahap ini, siswa akan melakukan kegiatan eksplorasi untuk
menemukan sesuatu yang baru berdasarkan pemahaman awal yang dimiliki mereka.
2. Self Directed Learning: Selanjutnya, siswa belajar secara mandiri berdasarkan dari
perkembangan pemahaman setelah tahapan eksplorasi didapatkannya. Artinya bahwa
setelah melakukan tahapan eksplorasi maka siswa akan menemukan konsep baru yang
harus dipelajari, dan dipahami secara mandiri.
3. Review Tutorial: Merupakan tahapan ketiga dimana pada tahapan ini siswa
mempresentasikan hasil temuan yang didapatkannya dari proses selfdirected learning.
4. Consolidation Tutorial: Siswa bersama-sama dengan anggota kelompoknya melakukan
konsolidasi terhadap hal-hal yang mereka temukan. Konsolidasi dilakukan dengan
diskusi kelompok maupun presentasi.
5. Plenary Tutorial: Yaitu siswa merefleksikan pembelajaran individu dan kelompok
dengan fasilitator. Dalam tahapan ini penguatan diberikan oleh fasilitator pendamping
yang memberikan pembimbingan pada saat proses pembelajaran berlangsung
D. Manfaat Pendekatan Inqury Learning
Pendekatan Inquiry Based Learning adalah suatu pendekatan yang digunakan dan
mengacu pada suatu cara untuk mempertanyakan, mencari pengetahuan (informasi), atau
mempelajari suatu gejala. Pembelajaran dengan pendekatan IBL selalu mengusahakan agar
siswa selalu aktif secara mental maupun fisik. Sasaran utama kegiatan belajar mengajar
dengan menggunakan pendekatan Inquiry Based Learning ini adalah:
1. Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan relajar mengajar
2. Mengembangkan sikap percaya pada diri sendiri (self-belief) pada diri siswa tentang
apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.
Metode Inquiry Based Learning mengajak siswa untuk berpikir kritis, logis dan
sistematis. Metode Inquiry Based Learning lebih mementingkan penggunaan penalaran
induktif (inductive reasoning) daripada penalaran deduktif (deductive reasoning).
Penalaran induktif memandang fenomena-fenomena atau situasi-situasi yang khusus lalu
membuat simpulan secara keseluruhan. Esensinya, pada penalaran induktif, bukti-bukti
khusus (spesifik) ditempatkan ke dalam suatu relasi (hubungan) gagasan/ide yang lebih
luas (umum). Pendekatan saintifik dengan metode Inquiry Based Learning merujuk pada
teknik-teknik penyelidikan terhadap suatu atau beberapa fenomena atau gejala,
memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan
sebelumnya.
Manfaat Inqury Based Learning Pada Pembelajar :
a. materi pelajaran yang dipelajari terkait dengan pengalaman sehari-hari pemelajar,
yang kadangkala menimbulkan keingintahuan mereka
b. IBL dapat membuat pembelajar aktif karena IBL meminimalisir metode ceramah
c. IBLdapat mengakomodasi perbedaan perkembangan pemelajar
d. Metode penilaian pada IBL memungkinkan pembelajar memperlihatkan kompetensi
dengan berbagai cara
e. IBL dapat mensinergikan berbagai mata pelajaran dan metode mengajar/belajar yang
berbeda
f. IBL dapat mengembangkan kompetensi komunikasi pemelajar karena mereka harus
menyampaikan temuannya dengan cara yang mudah dipahami
g. IBLdapat mengembangkan berpikir kritis pemelajar, dan
h. Akhirnya, IBL dapat membuat pemelajar lebih mandiri.
Bagi guru, IBL dapat menciptakan kesempatan untuk mempelajari bagaimana pikiran
pemelajar bekerja. Pemahaman tersebut dapat digunakan untuk menciptakan situasi belajar
dan memfasilitasi mereka dalam memperoleh pengetahuan. Ketika menerapkan IBL guru
dapat mengetahui :
a. Kapan memberikan dorongan
b. Petunjuk apa yang dapat diberikan kepada setiap pemelajar
c. Apa yang tidak perlu diberikan kepada pemelajar
d. Bagaimana membaca perilaku pemelajar ketika mereka sedang bekerja
e. Bagaimana membantu pemelajar berkolaborasi dalam memecahkan masalah secara
bersama-sama
f. Kapan pengamatan, hipotesis, atau eksperimen bermakna bagi pemelajar
g. Bagaimana mentolelir ambiguitas
h. Bagaimana memanfaatkan kesalahan (mistakes) secara konstruktif, dan
i. Bagaimana membimbing pemelajar secara tepat
DAFTAR PUSTAKA
Zuhri, M. S. Jatmiko, B. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning)
Menggunakan Phet Simulation Untuk Menurunkan Miskonsepsi Siswa Kelas Xi Pada Materi
Fluida Statis Di Sman Kesamben Jomban. Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF). 3(3),
103-107
Depin, dkk. 2024. Inquiry Learning: Pengertian, Sintaks Dan Contoh Implementasi Di Kelas.
Indonesian Jurnal on Education and Learning. 1(2), 39-43
Handoyono, N. A. 2016. Pengaruh Inquiry Learning Dan Problem-Based Learning Terhadap
Hasil Belajar Pkkr Ditinjau Dari Motivasi Belajar. Jurnal Pendidikan Vokasi. 6(1), 31-42