Program GP untuk Kepemimpinan Murid
Program GP untuk Kepemimpinan Murid
2. A - Ambil Pelajaran
Kondisi saat ini: Murid masih bergantung pada guru dalam banyak keputusan. Ada
beberapa inisiatif murid untuk terlibat dalam kegiatan sekolah, namun partisipasi mereka
masih terbatas.
Pelajaran dari masa lalu: Ketika diberikan ruang, murid mampu menunjukkan
kreativitas dan tanggung jawab yang baik. Namun, mereka membutuhkan lebih banyak
kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan pembelajaran yang
bermakna.
3. G - Gali Mimpi
4. J - Jabarkan Rencana
Rencana Implementasi:
Penyusunan Mentor Sebaya: Pilih murid-murid yang akan menjadi mentor sebaya
berdasarkan kriteria tertentu (misalnya, prestasi akademik, sikap, dan kemampuan
komunikasi).
Sosialisasi Program: Adakan pertemuan bersama seluruh murid, guru, dan orang tua
untuk memperkenalkan program serta tujuan yang ingin dicapai. Jelaskan peran masing-
masing pihak dalam program ini.
Proyek Berbasis Minat Murid: Setiap murid diberikan kebebasan untuk memilih dan
menjalankan proyek sesuai minat mereka, seperti proyek seni, olahraga, atau akademik.
Setiap proyek akan didampingi oleh mentor sebaya dan guru sebagai fasilitator.
Forum Diskusi Murid: Adakan forum rutin di mana murid dapat berbagi perkembangan
proyek, tantangan yang mereka hadapi, dan mendapatkan masukan dari guru dan teman.
Pembelajaran Mandiri: Dorong murid untuk belajar secara mandiri dengan
mengembangkan solusi untuk proyek mereka. Guru akan menyediakan sumber daya yang
dibutuhkan dan memberikan bimbingan jika diperlukan.
3. Tahap Refleksi dan Evaluasi (Bulan 5)
Refleksi Bersama: Setelah program berjalan selama beberapa bulan, adakan sesi refleksi
bersama untuk membahas apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki. Murid akan
diminta untuk berbagi pengalaman mereka dan bagaimana program ini memengaruhi
perkembangan kepemimpinan mereka.
Evaluasi Proyek: Setiap proyek murid akan dievaluasi berdasarkan kriteria tertentu
seperti kreativitas, tanggung jawab, dan keterlibatan aktif.
5. A - Atur Aksi
Guru sebagai Teladan (Ing Ngarsa Sung Tuladha): Guru memberikan contoh
kepemimpinan yang baik.
Proyek Berbasis Minat (Ing Madya Mangun Karsa): Berikan kebebasan kepada murid
untuk memilih proyek dan berikan dukungan selama proses.
Pembelajaran Mandiri dengan Dukungan (Tut Wuri Handayani): Dorong murid
untuk belajar mandiri dengan bimbingan minimal dari guru.
Indikator Keberhasilan:
2. A - Ambil Pelajaran
Kondisi saat ini: Di sekolah, guru sering kali menjadi pengambil keputusan utama dalam
proses belajar, sementara partisipasi murid masih terbatas. Keterlibatan murid dalam
kegiatan sekolah masih belum optimal.
Pelajaran dari masa lalu: Program-program yang berhasil biasanya melibatkan murid
secara langsung dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, memberikan mereka
ruang untuk berkreasi dan berkolaborasi dengan guru.
Dari pelajaran ini, kita dapat menyimpulkan bahwa memberikan ruang bagi murid untuk lebih
terlibat akan menciptakan iklim belajar yang lebih inklusif dan kolaboratif.
3. G - Gali Mimpi
Terciptanya sekolah yang kolaboratif, di mana peran Guru Penggerak sangat kuat
dalam mendorong kepemimpinan murid dan kerjasama antar guru.
Guru dan murid bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang
partisipatif dan inovatif.
Nilai-nilai Guru Penggerak—berpihak pada murid, kolaboratif, reflektif, inovatif,
dan mandiri—dapat diterapkan dalam setiap aspek kehidupan sekolah.
4. J - Jabarkan Rencana
Berikut adalah rencana aksi yang akan dijalankan untuk mewujudkan mimpi tersebut:
Sosialisasi Nilai Guru Penggerak: Mengadakan workshop bagi seluruh guru di sekolah
tentang peran Guru Penggerak dan nilai-nilai utamanya, seperti berpihak pada murid,
kolaborasi, refleksi, inovasi, dan kemandirian.
Pembentukan Tim Guru Penggerak: Membentuk tim yang terdiri dari Guru Penggerak
dan guru lain yang akan merancang dan menjalankan program-program kolaboratif di
sekolah.
Fasilitasi Diskusi Terbuka: Mengadakan forum bulanan antara guru dan murid, di mana
murid dapat mengajukan ide terkait pembelajaran atau kegiatan sekolah yang mereka
inginkan.
Forum Perwakilan Murid: Membentuk forum perwakilan murid dari setiap kelas untuk
menyampaikan hasil diskusi dan bekerja sama dengan guru untuk menyusun langkah-
langkah implementasi.
Pengambilan Keputusan Kolaboratif: Guru akan memfasilitasi, bukan memimpin
secara mutlak, setiap pengambilan keputusan terkait dengan kegiatan yang diajukan oleh
murid.
Proyek Lingkungan Sekolah: Guru dan murid bekerja sama untuk menciptakan proyek
seperti penghijauan sekolah, pengelolaan sampah, atau kampanye kebersihan.
Proyek Teknologi atau Literasi: Murid dan guru berkolaborasi untuk membuat media
komunikasi sekolah, seperti blog, buletin sekolah, atau platform digital lain yang dikelola
bersama.
Kegiatan Ekstrakurikuler Berbasis Minat: Mendorong murid untuk mengusulkan
kegiatan ekstrakurikuler baru sesuai minat mereka, yang akan difasilitasi oleh guru.
5. A - Atur Aksi
Sosialisasi dan Pembentukan Tim: Menyiapkan workshop nilai Guru Penggerak dan
memilih tim pelaksana program dari kalangan guru dan murid.
Pelaksanaan Program Kolaborasi: Implementasikan proyek-proyek yang sudah
disepakati bersama murid, dengan guru berperan sebagai fasilitator.
Refleksi Berkala: Setiap dua bulan, guru dan murid mengadakan sesi refleksi dan
evaluasi untuk memastikan program berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan.
Indikator Keberhasilan:
Dengan rencana ini, Guru Penggerak berperan sebagai pemimpin perubahan yang membantu
menciptakan lingkungan sekolah yang lebih inklusif, kolaboratif, dan inovatif. Kolaborasi antara
guru dan murid akan memperkuat proses pembelajaran dan memastikan bahwa sekolah berpihak
pada murid.
Pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam aksi nyata ini adalah:
2. A - Ambil Pelajaran
Murid sering kali pasif dalam pembelajaran, hanya mengikuti instruksi guru tanpa
kesempatan untuk mengekspresikan minat, pendapat, atau pilihan mereka sendiri.
Kurangnya kolaborasi antara murid dan guru dalam perencanaan dan evaluasi
pembelajaran.
Program yang memberikan ruang bagi murid untuk terlibat dalam proses belajar
menghasilkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Kolaborasi antara murid dan guru menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif dan
memperkuat hubungan antara guru dan murid.
Dari pelajaran ini, perlu diambil langkah untuk memberikan ruang bagi murid dalam proses
belajar, sehingga visi Guru Penggerak tentang pembelajaran yang berpihak pada murid dapat
diwujudkan.
3. G - Gali Mimpi
Sekolah yang menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid, di mana murid
berperan aktif dalam mengarahkan pembelajaran mereka sendiri.
Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu murid mengembangkan potensi, minat,
dan bakat mereka.
Kolaborasi antara murid, guru, dan komunitas sekolah dalam menciptakan pembelajaran
yang inovatif dan reflektif.
Lingkungan sekolah yang mendukung kemandirian murid dalam berpikir kritis,
berkolaborasi, dan mengambil keputusan dalam pembelajaran.
4. J - Jabarkan Rencana
Sosialisasi kepada Guru: Mengadakan pertemuan dengan seluruh guru untuk membahas
visi Guru Penggerak dan bagaimana pembelajaran yang berpihak pada murid bisa
diterapkan di kelas.
Diskusi dengan Murid: Mengadakan sesi diskusi terbuka dengan murid tentang
pentingnya partisipasi mereka dalam pembelajaran dan bagaimana mereka bisa ikut
menentukan arah pembelajaran.
Penggalian Minat Murid: Setiap murid diminta untuk mengidentifikasi minat dan
kebutuhan belajar mereka melalui survei atau wawancara. Guru akan mengadaptasi
materi pembelajaran berdasarkan hasil ini.
Pilihan dalam Pembelajaran: Memberikan pilihan kepada murid dalam menentukan
metode pembelajaran, materi yang dipelajari, atau jenis tugas yang akan dikerjakan. Hal
ini membantu murid merasa lebih bertanggung jawab atas pembelajaran mereka.
Proyek Kolaboratif Murid-Guru: Mengembangkan proyek-proyek yang melibatkan
kolaborasi antara murid dan guru, misalnya proyek berbasis masalah atau proyek
lingkungan yang didesain bersama.
Refleksi Bersama: Setelah beberapa bulan program berjalan, diadakan sesi refleksi di
mana murid dan guru bersama-sama mengevaluasi pengalaman mereka dalam proses
belajar. Mereka membahas apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.
Feedback Murid: Guru memberikan kesempatan bagi murid untuk memberikan umpan
balik tentang pembelajaran yang mereka jalani dan memberikan saran untuk
pengembangan lebih lanjut.
5. A - Atur Aksi
Sosialisasi Visi: Menyusun agenda sosialisasi visi Guru Penggerak kepada guru dan
murid dalam bentuk pertemuan rutin dan diskusi kelas.
Implementasi Program "Suara dan Pilihan Murid": Menyusun format survei untuk
mengidentifikasi minat dan kebutuhan murid, serta menyusun pedoman pelaksanaan
proyek kolaboratif.
Refleksi dan Evaluasi: Menyusun jadwal refleksi berkala dan format feedback untuk
murid dalam menilai program yang telah berjalan.
Penguatan dan Replikasi: Membentuk tim pengembangan program yang bertugas untuk
mengawal penguatan dan replikasi program di kelas lain.
Indikator Keberhasilan:
1. Partisipasi Aktif Murid: Jumlah murid yang terlibat aktif dalam menentukan metode
pembelajaran dan materi yang dipelajari.
2. Kolaborasi Guru-Murid: Banyaknya proyek kolaboratif yang melibatkan murid dan
guru dalam pembelajaran.
3. Peningkatan Kualitas Pembelajaran: Hasil survei dan refleksi yang menunjukkan
peningkatan kepuasan murid terhadap pembelajaran yang berpihak pada mereka.
4. Replikasi Program: Jumlah kelas yang menerapkan pendekatan pembelajaran yang
berpihak pada murid setelah program berjalan sukses di kelas percontohan.
Lagu-lagu nasional dipilih karena mampu membangkitkan semangat, kebersamaan, dan nilai-
nilai nasionalisme yang sejalan dengan tujuan membangun budaya positif di sekolah.
2. A - Ambil Pelajaran
3. G - Gali Mimpi
Sekolah yang memiliki budaya positif di mana murid mulai hari dengan suasana yang
penuh semangat dan kesadaran nasionalisme melalui lagu-lagu kebangsaan.
Murid yang siap belajar dengan penuh antusiasme dan disiplin setiap pagi setelah
mendengarkan lagu nasional yang menggugah semangat mereka.
Lingkungan sekolah yang penuh nilai-nilai positif seperti rasa cinta tanah air, disiplin,
dan kerjasama, yang tercipta melalui kebiasaan mendengarkan lagu-lagu nasional setiap
pagi.
4. J - Jabarkan Rencana
Pemilihan Lagu-lagu Nasional: Memilih beberapa lagu nasional yang akan diputar di
sekolah, seperti "Indonesia Raya," "Garuda Pancasila," dan "Hari Merdeka." Daftar
lagu ini akan dirotasi setiap minggu agar murid tidak bosan.
Penjadwalan Pemutaran Lagu: Menentukan waktu pemutaran lagu di pagi hari,
misalnya 10 menit sebelum bel masuk, agar murid sudah berada di kelas atau di lapangan
dan mendengarkan lagu-lagu tersebut secara khidmat.
Koordinasi dengan Pihak Sekolah: Mengatur kerja sama dengan tim teknis sekolah
untuk memastikan pemutaran lagu berjalan lancar, baik melalui pengeras suara di
lapangan atau di kelas-kelas.
Refleksi Mingguan: Setiap minggu, guru kelas mengajak murid untuk berbagi perasaan
mereka setelah mendengarkan lagu-lagu nasional. Apakah lagu-lagu tersebut
mempengaruhi semangat mereka untuk belajar dan bagaimana peran lagu tersebut dalam
membangun suasana positif di kelas.
Mengembangkan Sikap Positif: Guru memberikan apresiasi kepada murid yang
menunjukkan semangat belajar setelah mendengarkan lagu nasional di pagi hari, sebagai
cara untuk memperkuat budaya positif dan disiplin di sekolah.
5. A - Atur Aksi
Menyusun Daftar Lagu Nasional: Memilih lagu-lagu yang relevan dan bermakna, serta
mempersiapkan materi diskusi yang berkaitan dengan lagu tersebut.
Mempersiapkan Pengeras Suara: Memastikan peralatan teknis seperti pengeras suara
sekolah berfungsi dengan baik setiap pagi.
Pelaksanaan Pemutaran Lagu Setiap Hari: Memastikan setiap pagi lagu nasional
diputar sesuai jadwal, dan murid diajak mendengarkan dengan penuh perhatian sebelum
memulai pelajaran.
Monitoring dan Evaluasi Berkala: Secara rutin melakukan evaluasi mengenai
efektivitas program ini terhadap budaya positif di sekolah, serta mengumpulkan umpan
balik dari guru dan murid.
Indikator Keberhasilan:
Tujuan utama dari aksi ini adalah memastikan bahwa setiap murid, dengan kemampuan, gaya
belajar, dan minat yang beragam, dapat belajar dengan cara yang paling efektif bagi mereka.
2. A - Ambil Pelajaran
Dari pelajaran ini, kita perlu mengimplementasikan strategi yang lebih inklusif dan beragam
untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid.
3. G - Gali Mimpi
4. J - Jabarkan Rencana
Refleksi Bersama Murid: Mengadakan sesi refleksi di mana murid diminta untuk
berbagi pengalaman mereka terkait pembelajaran berdiferensiasi. Apa yang mereka
rasakan efektif, dan apa yang bisa diperbaiki?
Evaluasi Kinerja Murid: Menggunakan berbagai metode asesmen untuk mengevaluasi
kemajuan setiap murid, baik dari aspek akademik maupun non-akademik. Evaluasi ini
memperhatikan pencapaian sesuai dengan profil belajar masing-masing murid.
5. A - Atur Aksi
Pemetaan Profil Murid: Guru menyusun alat untuk mengidentifikasi kesiapan belajar,
minat, dan gaya belajar murid. Menggunakan hasil ini sebagai dasar dalam mendesain
pembelajaran.
Desain Pembelajaran Berdiferensiasi: Menyusun rencana pelajaran yang mencakup
variasi dalam konten, proses, dan produk belajar.
Pelaksanaan dan Umpan Balik: Menggunakan pendekatan berbeda untuk kelompok
murid sesuai dengan profil mereka, dan memberikan umpan balik secara personal dan
berkala.
Refleksi dan Evaluasi: Menyusun format refleksi dan evaluasi hasil pembelajaran dari
perspektif murid dan guru.
Penguatan dan Replikasi: Menyiapkan materi untuk pelatihan guru lain dan
menyebarluaskan praktik berdiferensiasi yang telah berhasil.
Indikator Keberhasilan:
1. Keterlibatan Murid: Meningkatnya partisipasi aktif murid dalam proses belajar karena
adanya pilihan dan variasi metode belajar.
2. Peningkatan Hasil Belajar: Murid yang memiliki kebutuhan belajar khusus
menunjukkan peningkatan hasil belajar karena metode yang disesuaikan.
3. Umpan Balik Positif dari Murid: Murid memberikan umpan balik yang positif terkait
fleksibilitas dan keragaman dalam pembelajaran.
4. Diterapkannya Praktik di Kelas Lain: Program pembelajaran berdiferensiasi berhasil
diterapkan dan diadopsi oleh guru lain di sekolah.
Kompetensi sosial emosional meliputi kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial,
keterampilan relasional, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
2. A - Ambil Pelajaran
Murid sering mengalami kesulitan dalam mengelola emosi, menyelesaikan konflik, dan
bekerja sama dalam kelompok.
Kurangnya ruang dan waktu dalam pembelajaran untuk melatih kemampuan sosial
emosional seperti empati, komunikasi, dan pengendalian diri.
Dari sini, pembelajaran perlu dirancang untuk memasukkan pengembangan kompetensi sosial
emosional sebagai bagian integral dari pengalaman belajar.
3. G - Gali Mimpi
4. J - Jabarkan Rencana
Simulasi dan Drama: Guru mengajak murid untuk melakukan simulasi atau drama
tentang situasi sosial yang membutuhkan empati dan kesadaran sosial. Murid diberi peran
untuk memerankan situasi konflik dan diajak berdiskusi bagaimana mereka dapat
menyelesaikannya dengan cara yang positif.
Program "Buddy System": Menginisiasi program di mana setiap murid memiliki
"teman belajar" atau "buddy" yang bertanggung jawab untuk saling mendukung dalam
tugas dan tantangan belajar. Ini memperkuat hubungan sosial dan membangun empati
antar murid.
5. A - Atur Aksi
Indikator Keberhasilan:
1. Perubahan Positif pada Pengelolaan Emosi: Murid mampu mengenali dan mengelola
emosi mereka dengan lebih baik, serta menunjukkan kemampuan menghadapi situasi
stres atau konflik dengan cara yang lebih positif.
2. Peningkatan Empati dan Kesadaran Sosial: Murid menunjukkan peningkatan empati
terhadap teman-teman mereka, serta lebih peduli dengan kebutuhan dan perasaan orang
lain.
3. Keterampilan Relasional yang Lebih Baik: Murid lebih mampu bekerja sama dalam
kelompok, menyelesaikan konflik secara damai, dan berkomunikasi dengan efektif.
4. Keputusan yang Bertanggung Jawab: Murid mampu membuat keputusan yang
bijaksana dalam situasi sosial maupun akademik, dengan mempertimbangkan
konsekuensi jangka panjang dari tindakan mereka.
Pertanyaan utama:
2. A - Ambil Pelajaran
Guru di sekolah menghadapi berbagai tantangan seperti mengelola kelas yang beragam,
menciptakan pembelajaran yang menarik, dan memberikan diferensiasi yang sesuai
dengan kebutuhan murid.
Program pelatihan guru biasanya lebih berfokus pada teori, namun belum banyak praktik
pendampingan langsung (coaching) yang dapat membantu guru secara nyata di lapangan.
Coaching secara personal membantu guru lebih memahami diri mereka, mengidentifikasi
kekuatan dan area pengembangan, serta mendapatkan dukungan dalam proses belajar
mengajar. Dengan pendekatan ini, guru merasa lebih didampingi dalam mengatasi
masalah spesifik di kelas.
Pendampingan melalui coaching memberikan ruang bagi guru untuk berefleksi dan
mencari solusi dari tantangan yang mereka hadapi, sehingga dampaknya lebih terasa
dibandingkan dengan pelatihan yang bersifat satu arah.
3. G - Gali Mimpi
Guru yang lebih percaya diri dan terampil dalam mengelola kelas, mengadaptasi
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid, dan lebih reflektif terhadap praktik
mengajarnya.
Kualitas pembelajaran yang meningkat melalui pendekatan coaching, di mana guru
dibimbing untuk melakukan inovasi dan menerapkan strategi pembelajaran yang lebih
efektif dan relevan.
Terbentuknya budaya saling mendukung di antara para guru melalui sesi coaching
yang bersifat kolaboratif, sehingga setiap guru merasa mendapatkan dukungan
profesional dalam pengembangan dirinya.
4. J - Jabarkan Rencana
Identifikasi Kebutuhan Guru: Mengadakan survei atau diskusi dengan guru untuk
mengidentifikasi tantangan utama yang mereka hadapi di kelas dan area mana yang
mereka butuhkan pendampingan.
Penyusunan Modul Coaching: Menyiapkan modul coaching yang berfokus pada
keterampilan mengajar, manajemen kelas, pembelajaran berdiferensiasi, dan
pengembangan kompetensi profesional lainnya.
Pelatihan Coach: Melatih beberapa guru senior atau pendidik yang berkompeten dalam
metode coaching agar siap untuk memfasilitasi sesi-sesi coaching.
Sesi Coaching Individu: Setiap guru di sekolah mendapatkan sesi coaching pribadi
setiap dua minggu sekali selama 30-45 menit, di mana mereka dapat mendiskusikan
tantangan yang dihadapi di kelas, serta merumuskan rencana aksi untuk mengatasinya.
Sesi Refleksi dan Evaluasi: Di akhir setiap sesi coaching, guru dan coach merefleksikan
perkembangan yang telah dicapai dan mendiskusikan langkah-langkah selanjutnya.
Pendampingan Berkelanjutan: Selama pelaksanaan, guru tetap didampingi untuk
memantau implementasi rencana yang telah dibuat dan menyesuaikan strategi
pembelajaran yang relevan.
5. A - Atur Aksi
Indikator Keberhasilan:
1. Peningkatan Kompetensi Guru: Guru menjadi lebih percaya diri dan terampil dalam
mengelola kelas, mengimplementasikan strategi pembelajaran yang lebih baik, serta lebih
reflektif dalam proses pengajaran.
2. Pembelajaran yang Lebih Efektif: Murid mendapatkan pengalaman belajar yang lebih
berkualitas, berkat guru yang mampu mengelola pembelajaran dengan pendekatan yang
lebih relevan dan responsif terhadap kebutuhan murid.
3. Budaya Coaching yang Tumbuh: Terbentuknya budaya saling mendukung antar guru
melalui coaching, di mana setiap guru merasa didampingi dan didukung dalam
pengembangan profesional mereka.
4. Keberlanjutan Program Coaching: Program coaching berkelanjutan dengan lebih
banyak guru yang terlibat, baik sebagai peserta maupun sebagai coach, sehingga tercipta
ekosistem pembelajaran profesional yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di
sekolah.
Pertanyaan utama:
Bagaimana saya, sebagai pemimpin pembelajaran, dapat membuat keputusan yang tepat
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah, dengan mempertimbangkan
kepentingan murid, guru, dan seluruh warga sekolah?
2. A - Ambil Pelajaran
Pengambilan keputusan yang kolaboratif dan berbasis data dapat menghasilkan solusi
yang lebih tepat guna, serta lebih mudah diterima oleh guru dan murid.
Melibatkan semua pihak dalam proses pengambilan keputusan, seperti guru, murid, dan
orang tua, akan menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab yang lebih besar
terhadap implementasi keputusan tersebut.
Keputusan yang diambil berdasarkan data dan refleksi akan lebih efektif dalam
menyelesaikan masalah di sekolah dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
3. G - Gali Mimpi
Keputusan pembelajaran yang lebih tepat sasaran: Setiap keputusan yang diambil
berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, kesejahteraan murid, dan peningkatan
kinerja guru.
Proses pengambilan keputusan yang partisipatif: Semua pihak yang terkait (guru,
murid, dan orang tua) terlibat dalam proses pengambilan keputusan, sehingga solusi yang
dihasilkan lebih relevan dan aplikatif.
Budaya refleksi dan evaluasi: Tercipta budaya di mana setiap keputusan selalu
dievaluasi dan direfleksikan untuk memastikan bahwa keputusan tersebut benar-benar
berdampak positif pada pembelajaran.
4. J - Jabarkan Rencana
Identifikasi Tantangan dan Kebutuhan: Melakukan survei dan diskusi dengan guru,
murid, dan orang tua untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam proses
pembelajaran dan kebutuhan yang perlu dipenuhi.
Pengumpulan Data: Mengumpulkan data terkait kinerja murid, kehadiran, partisipasi,
serta umpan balik dari guru tentang tantangan yang mereka hadapi di kelas.
Membangun Tim Keputusan: Membentuk tim pengambil keputusan yang terdiri dari
perwakilan guru, murid, dan orang tua untuk memastikan bahwa setiap keputusan
melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan.
Diskusi Terarah: Mengadakan sesi diskusi rutin dengan tim untuk membahas data yang
telah dikumpulkan dan merumuskan solusi yang paling relevan dan dapat diterapkan di
sekolah.
Pembuatan Rencana Aksi: Merancang rencana aksi untuk setiap keputusan yang
diambil, termasuk langkah-langkah implementasi, sumber daya yang dibutuhkan, dan
indikator keberhasilan.
Pengambilan Keputusan Berbasis Paradigma: Menggunakan kerangka berpikir empat
paradigma (individu vs komunitas, jangka pendek vs jangka panjang, kebenaran vs
loyalitas, keadilan vs kasih sayang) untuk menyeimbangkan berbagai aspek dalam proses
pengambilan keputusan.
Evaluasi Hasil Keputusan: Melakukan evaluasi terhadap hasil dari keputusan yang telah
diimplementasikan, dengan menggunakan data kinerja murid, umpan balik dari guru,
serta refleksi bersama.
Refleksi Kolektif: Mengadakan pertemuan dengan tim pengambil keputusan untuk
merefleksikan proses pengambilan keputusan yang telah dilakukan, serta
mengidentifikasi area perbaikan.
Penyesuaian Rencana: Jika diperlukan, lakukan penyesuaian terhadap keputusan yang
diambil agar lebih sesuai dengan kondisi yang ada dan memberikan dampak yang lebih
baik.
5. A - Atur Aksi
Indikator Keberhasilan:
Pertanyaan utama:
Pengelolaan sumber daya yang efektif melibatkan pemanfaatan aset yang ada di sekitar sekolah,
seperti tumbuhan secang, serta melibatkan siswa dalam kegiatan praktis untuk meningkatkan
keterampilan kewirausahaan mereka.
2. A - Ambil Pelajaran
Pohon secang yang tumbuh di sekitar sekolah kurang dimanfaatkan secara optimal.
Padahal, tanaman ini memiliki potensi sebagai bahan baku alami untuk minuman
tradisional yang menyehatkan.
Murid belum banyak terlibat dalam kegiatan yang memanfaatkan sumber daya lokal
sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek.
Pengelolaan sumber daya sekolah lebih banyak berfokus pada pemanfaatan fasilitas fisik
dan tenaga kerja, belum memanfaatkan alam sekitar secara maksimal.
Memanfaatkan potensi lokal seperti pohon secang tidak hanya dapat meningkatkan
kreativitas murid, tetapi juga membantu mereka memahami pentingnya pelestarian
lingkungan dan potensi ekonomi dari sumber daya alam.
Mengelola sumber daya secara kolaboratif antara murid, guru, dan komunitas dapat
menciptakan produk yang bernilai jual dan meningkatkan rasa tanggung jawab bersama
terhadap sumber daya sekolah.
3. G - Gali Mimpi
Visi yang ingin dicapai:
4. J - Jabarkan Rencana
Pelatihan Pemanfaatan Sumber Daya: Mengadakan pelatihan bagi murid tentang cara
memanen dan mengolah pohon secang menjadi sari yang bisa digunakan untuk bahan
dasar es mambo.
Proses Produksi: Bersama murid, memulai proses produksi es mambo dari sari secang,
dimulai dari pemanenan, pengolahan sari, pencampuran dengan bahan-bahan lain, hingga
proses pembekuan.
Pengemasan Produk: Melatih murid untuk mengemas es mambo dengan tampilan yang
menarik dan sesuai standar kebersihan. Libatkan murid dalam proses desain kemasan
yang menarik dan informatif.
Evaluasi Hasil Produksi dan Penjualan: Melakukan evaluasi terhadap proses produksi
dan hasil penjualan es mambo sari secang, melibatkan guru, murid, dan pihak sekolah
untuk mengetahui kekuatan dan area yang perlu diperbaiki.
Pengembangan Produk: Berdasarkan evaluasi, lakukan pengembangan produk lebih
lanjut, seperti inovasi rasa es mambo atau memperluas pasar dengan menjual ke
komunitas luar sekolah.
5. A - Atur Aksi
Langkah-langkah praktis untuk mengelola sumber daya dan memproduksi es mambo dari
sari secang:
Mengajak Kolaborasi Semua Pihak: Melibatkan seluruh murid, guru, dan warga
sekolah dalam kegiatan produksi dan pemasaran es mambo untuk menciptakan rasa
tanggung jawab bersama.
Pelatihan Berkelanjutan: Mengadakan pelatihan rutin bagi murid tentang proses
produksi sari secang, termasuk pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Monitoring dan Evaluasi: Melakukan monitoring berkala terhadap proses produksi es
mambo untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan produksi. Gunakan hasil evaluasi
untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk.
Promosi dan Pemasaran Berkelanjutan: Melibatkan murid dalam pengembangan
strategi pemasaran yang inovatif, seperti promosi melalui media sosial atau kemitraan
dengan komunitas lokal.
Indikator Keberhasilan:
Pertanyaan utama:
Dalam hal ini, penting untuk merancang program pencak silat yang tidak hanya fokus pada
keterampilan fisik, tetapi juga membangun karakter, disiplin, dan kerja sama di antara siswa.
2. A - Ambil Pelajaran
Ekstrakurikuler pencak silat di sekolah belum dikelola dengan baik, sehingga belum
memberikan dampak signifikan terhadap siswa dalam hal karakter dan keterampilan
sosial.
Beberapa siswa yang mengikuti ekstrakurikuler merasa kurang termotivasi dan tidak ada
tantangan dalam kegiatan yang dilakukan.
Kurangnya kolaborasi antara pelatih, guru, dan siswa dalam merancang kegiatan pencak
silat yang menarik dan bermanfaat.
3. G - Gali Mimpi
4. J - Jabarkan Rencana
Pelatihan Rutin: Mengadakan pelatihan rutin setiap minggu dengan fokus pada teknik
pencak silat, pembentukan karakter, dan kerja sama di antara siswa.
Kegiatan Pembinaan Karakter: Mengadakan kegiatan di luar pelatihan, seperti seminar
tentang nilai-nilai disiplin, kerja sama, dan pentingnya menjaga kesehatan.
Kompetisi Internal: Menyelenggarakan kompetisi internal di antara anggota
ekstrakurikuler untuk mengukur perkembangan keterampilan dan membangun rasa
persaingan yang sehat.
Evaluasi Program: Mengadakan evaluasi berkala untuk menilai kemajuan siswa dan
efektivitas program, melibatkan siswa dan pelatih dalam memberikan masukan.
Pengembangan Program: Berdasarkan hasil evaluasi, lakukan penyesuaian terhadap
program untuk meningkatkan kualitas dan relevansi kegiatan pencak silat. Tambahkan
elemen baru seperti kelas teknik lanjutan atau kolaborasi dengan perguruan tinggi.
5. A - Atur Aksi
Langkah-langkah praktis untuk mengelola program pencak silat yang berdampak pada
siswa:
Indikator Keberhasilan: