Digital Inhalers untuk Manajemen PPOK
Digital Inhalers untuk Manajemen PPOK
Abstrak
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronik tidak menular, dimana terjadi hambatan
aliran udara pada saluran pernafasan, bersifat nonreversibel atau parsial reversibel yang merupakan respon
inflamasi. Pemberian obat continue secara inhaler diperlukan karena dirasa lebih praktis. Morbiditas, mortalitas
dan perkembangan penyakitnya bisa menjadi cepat bila terjadi eksaserbasi akut, namun dapat dicegah dengan
pengelolaan yang tepat. Mengidentifikasi pemanfaatan digital inhalers dalam pengelolaan pasien PPOK Penelitian
menggunakan metode literatur review non systematic yang dilakukan secara online database tahun 2018-2022.
Perangkat dan teknologi telah banyak dikembangkan untuk pengelolaan [Link] digital inhalers meningkatkan
pemantauan PPOK dengan mendukung penggunaan inhaler yang tepat, memantau kepatuhan pengobatan dengan
monitoring jarak jauh. Selanjutnya data dikirim ke server yang otomatis memperbaharui catatan medis pasien. Data
dapat dianalisis tenaga kesehatan untuk selanjutnya memberikan umpan balik kepada pengguna. Studi literatur
menunjukan pemanfaatan digital inhalers meningkatkan ketepatan dosis, kepatuhan terapi serta mendeteksi dini
perburukan penyakit. Dengan demikian kontinuitas perawatan dapat berlangsung meski klien di luar rumah sakit
Abstract
Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a chronic non-communicable lung disease, where airflow
obstruction occurs in the respiratory tract, is non-reversible or partially reversible, which is an inflammatory
response. Morbidity, mortality and disease progression can be rapid in the event of an acute exacerbation, but can
be prevented with appropriate management. Purpose to identifyi the use of digital inhalers in the management
of COPD patients The study used a non-systematic literature review method conducted online in the 2018-
2022 database. Many tools and technologies have been developed for COPD management. The digital inhaler
app improves COPD monitoring by supporting proper use of inhalers, monitoring medication adherence with
remote monitoring. Then the data is sent to the server which automatically updates the patient’s medical records.
The data can be analyzed by health workers to then provide feedback to users. Literature study shows that the
use of digital inhalers improves dosing accuracy, therapy adherence and early detection of disease worsening
4. North et al. A Randomised Digital Medicine Menentukan Randomized •Subyek diambil secara
(2020) controlled feasibility (2020) dampak controlled trial acak untuk menerima
trial of E-health dari rencana with blinded perawatan, dimana
application managemen outcome kelompok kontrol dengan
supported care vs mandiri pasien assesment manajemen diri tertulis
usual care after berbasis aplikasi (n=21) dan kelompok
exacerbation interaktif dengan aplikasi myCOPD
of COPD: the dibandingkan (n=20) diamati selama 90
RESCUE trial dengan rencana hari
manajemen diri •Hasil efikasi primer
tertulis yang yang didapat adalah
digunakan saat ini tingkat pemulihan gejala
pada pasien. yang diukur dengan skor
COPD
Assessment test (CAT).
Dimana efek pengobatan
pada
skor CAT adalah 4,49
(95% CI :-8.41,-0,58)
poin lebih rendah pada
kelompok myCOP.
•Teknik inhaler pada
kelompok intervensi
digital meningkat
dibandingkan dengan
perawatan biasa.
Dimana pada intervensi
digital kesalahan kritis
menurun dari 101
menjadi 20 kesalahan
kritis. Sementara pada
kelompok perawatan
biasa, kesalahan kritis
menurun dari 100
menjadi 72 kesalahan
kritis.
•Eksaserbasi cenderung
lebih jarang pada
kelompok dengan
intervensi digital (18
peristiwa) dibandingkan
dengan perawatan biasa
(34 peristiwa)
•Resiko penerimaan
kembali rumah sakit
secara numerik lebih
rendah pada kelompok
intervensi digital atau
penerimaan kembali
0,383 (CI 95%: n=35)
•Dalam studi kelayakan
platform, manajemen
mandiri digital myCOPD,
telah diterima pasien
untuk meningkatkan
tingkat pemulihan
eksaserbasi. My COPD
mengurangi kesalahan
kritis dalam teknik
inhaler.
5. Yawn et al. Pilot Study of a Journal of the •Untuk Prospective •Inhaler ELLIPTA
(2021) Patient Wxperience COPD mengetahui cohort pilot digunakan oleh
with an ELLIPTA Foundation apakah inhaler study responden, namun ada
Inhaler Electronic (2021) ELLIPTA beberapa responden
Medication diterima atau mengurangi penggunaan
and Associated digunakan oleh selama penelitian
Integrated System: responden •Responden merasa
A Prospective •Untuk puas dan merasa inhaler
Observational Study mengetahui ELLIPTA lebih mudah
Using the COPD seberapa puas digunakan
Patient- Powered dan mudah pasien •Responden menngikuti
research network menggunakan instruksi inhaler
inhaler ELLIPTA ELLIPTA dengan baik
•Untuk sehingga gejala atau
mengetahui beban yang dirasakan
ketaatan pasien berkurang
dalam mengikuti
instruksi inhaler
ELLIPTA
Ketepatan dosis obat ini juga dipengaruhi tanda dan gejala agar bisa memprediksi dan
teknik penggunaan yang tepat. Sehingga melakukan upaya pencegahan.
perlu dilakuakan pengembangan lebih Layanan aplikasi digital inhaler dilengkapi
lanjut terkait dengan pemantauan teknik dengan sensor yang dapat menagkap lokasi
pemakaian inhaler. Dalam jurnal Digital pengguna aplikasi saat inhaler digunakan,
Medicine (2020), hasil penelitian didapatkan sehingga dapat dianalisis faktor lingkungan
bahwa pada kelompok intervensi dengan yang memungkinkan menjadi faktor pencetus
digital inhaler terjadi peningkatan dimana kekambuhan. Aplikasi digital inhaler ini
kesalahan kritis teknik inhaler menurun dari menawarkan solusi termasuk program
101 menjadi 20 kesalahan kritis, sementara Pendidikan pasien dan modifikasi gaya
pada kelompok dengan perawatan biasa, hidup, sistem monitoring jarak jauh, alat
kesalahan kritis menurun dari 100 menjadi merekam dan mengkomunikasikan gejala
72 kesalahan kritis (North et al., 2020). dan mengintegrassikan data dengan fisiologis
untuk membantu memahami penyakitnya
Kepatuhan Terapi (Watson and Wilkinson, 2022).
Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh
Faktor lain yang turut berpengaruh pada jurnal Digital Medicine (2020) disebutkan
kesuksesan terapi adalah kepatuhan pasien bahwa angka kejadian eksaserbasi cenderung
terhadap terapi yang diberikan, mengingat lebih jarang pada kelompok intervensi digital
SOPD merupakan penyakit kronis yang rawan dibandingkan dengan perawatan biasa. Serta
bagi pasien mengalami putus terapi. Dalam resiko readministrasi ke rumah sakit lebih
jurnal Therapeutic Advance in Respiratory rendah pada kelompok intervensi digital
Disease (2022) didapatakan bahwa pada (North et al., 2020).
kelompok intervensi denan digital inhaler
ditemukan tingkat kepatuhan yang baik Hambatan dan tantangan
dengan 86% melakukan latihan rutin 6 kali
seminggu sesuai dengan yang diusulkan. Walaupun jurnal sebelumnya menyatkan
Lebih lanjut penelitian ini mengemukankan bahwa penggunaan digital inhaler memberi
walaupun tidak ditemukan perbaikan yang dampak posistif terhadap pengelolaan
signifikan dari keluhan sesak nafas, namun pasien PPOK, namun perlu dilakukan kajian
memperlihatkan peningkatan yang signifikan ulang atau penelitian lebih lanjut terkait
dalam kemampuan management diri dengan teknik hasil dan dan maaf lebih
(p<0,001) (Watson and Wilkinson, 2022). luas bagi masyarakat (Tay et al., 2022).
Hal ini selaras dengan penelitian prospective Seperti juga yang di jelaskan dalam jurnal
cohort pilot study yang dipublikasikan oleh Expert Opinion on Drug Delivery (2019)
Journal of the COPD Foundation (2021) disebutkan bahwa walaupun sejumlah
mengemukanan bahwa responden merasa buktu mendukung penggunaan smart
puas dengan penggunaan inhaler ELLIPTA inhaler dalam meningkatkan kepatuhan dan
(digital inhaler) dan mengikuti instruksi mengidentifikasi pola penggunaan, namun
inhaler ini dengan baik sehingga gajala dan masih banyak yang harus dipelajari kembali
beban yang dirasakan berkurang (Yawn et al., agar dapat di prakterkan dalam kehidupan
2021) Dengan adanya aplikasi digital inhaler sehari-hari (Greene & Costello, 2019).
ini bisa sebagai pengawas bagi pasien, dan Dalam jurnal Pulm Thern (2022),
pengingat untuk patuh terdahap terapi. disebutkan adanya hambatan dalam
penerapan digital inhaler, adanya potensi
Deteksi dini dan pencegahan masalah terkait intervensi yang melibatkan
kekambuhan teknologi digital dan perekaman data. Hal
ini dikalitkan dengan perlindungan privasi
PPOK apabila tidak dikelola dengan baik pasien. Kemudian adanya penolakan pasien
dapat menjadi predisposisi eksaserbasi akut untuk mengubah pola perawatan yang sudah
dan perkembangan penyakit (Kemenkes RI, berlangsung selama ini. Masalah selanjutnya
2019). sehingga sebelum terjadi suatu kondisi adalah terkait ketidak pastian tanggung jawab
perburukan atau eksaserbasi, perlu memahami klinis untuk meninjau karena monitoring
bersifat jarak jauh (Honkoop et al., 2022). JMIRFormative Research, 3(4), 1–9. https://
Sehingga diperlukan penelitian yang lebih [Link]/10.2196/13286
baik terkait manfaat dan efektifitas digital
inhaler terhadap hasil kesehatan untuk Chrystyn, H., Saralaya, D., Shenoy, A., Toor,
pasien PPOK, diharapkan nantinya memberi S., Kastango, K., Calderon, E., ... & Safioti,
kepercayaan pada pasien untuk dapat G. (2022). Investigating the accuracy of the
diaplikasikan dalam praktek sehari-hari. Digihaler, a new electronic multidose dry-
powder inhaler, in measuring inhalation
Simpulan parameters. Journal of Aerosol Medicine and
Pulmonary Drug Delivery, 35(3), 166-177.
Pengembangan teknologi khusunya dalam
pengelolaan pasien PPOK sangat diperlukan GOLD. (2020). Global strategy for the
untuk meningkatkan keterlibatan pasien diagnosis, management, and prevention of
dalam upaya pengelolaan kesehatannya secara chronic obstructive pulmonary disease (2020
mandiri. Digital inhaler memiliki potensi Report). [Link]
untuk merevolusi pengelolaan penyakit
saluran pernafasan kronis dengan mendukung Greene, G., & Costello, R.W. (2019).
ketepatan pemebrian dosis, kepatuhan terapi Personalizing medicine - could the smart
da deteksi dini pencegahan perburukan inhaler revolutionize treatment for COPD
penyakit. Beberapa penelitian tentunya harus and asthma patients?. Expert Opinion on
masih perlu dikembangkan dan diuji coba Drug Delivery, 16(7), 675–677. [Link]
lebih lanjut untuk meningkatkan keamanan org/10.1080/17425247.2019.162 8017
dan kenyamanan pengguna aplikasi ini.
Diharapkan melalui telaah literatur ini Honkoop, P., Usmani, O., & Bonini, M. (2022).
akan membangkitkan peran serta perawat The current and future role of technology in
dalam pengembangan teknologi untuk deteksi respiratory care. Pulmonary Therapy, 8(2),
dini tanda perburukan kondisi pasien PPOK 167–179. [Link]
melalui deteksi jarak jauh untuk meningkatkan 022-00191-y
pelayanahn keperawatan. Serta melakukan
kerjasama lintas sektoral dengan profesi dan Kemenkes RI. (2019). Pedoman nasional
bidang lain untuk mengembangkan teknologi pelayanan kedokteran tata laksana penyakit
yang dapat menjadi penghubungan antara paru obstruktif kronik. Jakarta: Kementerian
pasien dan pelayanan kesehatan secara Kesehatan RI.
mudah dan murah.
Lukito, D.B., & Permana, P. (2017). Penyakit
Referensi paru obstruksi kronis ekserbasi akut. In
Universitas Udayana (Issue 1302006140).
Chan, A.H.Y., Pleasants, R.A., Dhand, R.,
Tilley, S.L., Schworer, S.A., Costello, R.W., North, M., Bourne, S., Green, B., Chauhan,
& Merchant, R. (2021). Digital inhalers for A. J., Brown, T., Winter, J., Jones, T., Neville,
asthma or chronic obstructive pulmonary D., Blythin, A., Watson, A., Johnson, M.,
disease: A scientific perspective. Pulmonary Culliford, D., Elkes, J., Cornelius, V., &
Therapy, 7(2), 345–376. [Link] Wilkinson, T. M. A. (2020). A randomised
org/10.1007/s41030-021- 00167-4 controlled feasibility trial of E-health
application supported care vs usual care after
Chen, J., Kaye, L., Tuffli, M., Barrett, M.A., exacerbation of COPD: The RESCUE trial.
Jones-Ford, S., Shenouda, T., Gondalia, Npj Digital Medicine, 3(1), 1 – 9 .
R., Henderson, K., Combs, V., Sickle, D. [Link]
Van, & Stempel, D.A. (2019). Passive
monitoring of short-acting beta-agonist Stone, R., Cooke, M., & Mitchell, M. (2020).
use via digital platform in patients with Undergraduate nursing students’ use of
chronic obstructive pulmonary disease: video technology in developing confidence
Quality improvement retrospective analysis. in clinical skills for practice: A systematic