0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan10 halaman

Digital Inhalers untuk Manajemen PPOK

Dokumen ini membahas penggunaan digital inhalers dalam pengelolaan pasien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) melalui tinjauan literatur dari tahun 2018 hingga 2022. Digital inhalers terbukti meningkatkan kepatuhan terapi, ketepatan dosis, dan deteksi dini perburukan penyakit, serta memungkinkan pemantauan jarak jauh yang lebih baik. Dengan demikian, teknologi ini berpotensi meningkatkan manajemen diri pasien PPOK dan kontinuitas perawatan meskipun pasien berada di luar rumah sakit.

Diunggah oleh

Zalida Fani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan10 halaman

Digital Inhalers untuk Manajemen PPOK

Dokumen ini membahas penggunaan digital inhalers dalam pengelolaan pasien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) melalui tinjauan literatur dari tahun 2018 hingga 2022. Digital inhalers terbukti meningkatkan kepatuhan terapi, ketepatan dosis, dan deteksi dini perburukan penyakit, serta memungkinkan pemantauan jarak jauh yang lebih baik. Dengan demikian, teknologi ini berpotensi meningkatkan manajemen diri pasien PPOK dan kontinuitas perawatan meskipun pasien berada di luar rumah sakit.

Diunggah oleh

Zalida Fani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penggunaan Digital Inhalers (Smart Inhalers) pada Pengelolaan Pasien

Penyakit Paru Obstruksi Kronis: Literatur review


Dewa Ayu Ari Rama Dewi, Tuti Herawati
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia
Email : dewa.ayu24@[Link]

Abstrak

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronik tidak menular, dimana terjadi hambatan
aliran udara pada saluran pernafasan, bersifat nonreversibel atau parsial reversibel yang merupakan respon
inflamasi. Pemberian obat continue secara inhaler diperlukan karena dirasa lebih praktis. Morbiditas, mortalitas
dan perkembangan penyakitnya bisa menjadi cepat bila terjadi eksaserbasi akut, namun dapat dicegah dengan
pengelolaan yang tepat. Mengidentifikasi pemanfaatan digital inhalers dalam pengelolaan pasien PPOK Penelitian
menggunakan metode literatur review non systematic yang dilakukan secara online database tahun 2018-2022.
Perangkat dan teknologi telah banyak dikembangkan untuk pengelolaan [Link] digital inhalers meningkatkan
pemantauan PPOK dengan mendukung penggunaan inhaler yang tepat, memantau kepatuhan pengobatan dengan
monitoring jarak jauh. Selanjutnya data dikirim ke server yang otomatis memperbaharui catatan medis pasien. Data
dapat dianalisis tenaga kesehatan untuk selanjutnya memberikan umpan balik kepada pengguna. Studi literatur
menunjukan pemanfaatan digital inhalers meningkatkan ketepatan dosis, kepatuhan terapi serta mendeteksi dini
perburukan penyakit. Dengan demikian kontinuitas perawatan dapat berlangsung meski klien di luar rumah sakit

Kata Kunci: Digital inhalers, Pengelolaan , PPOK

The Use of Digital Inhalers (Smart Inhalers) in the Management of the


Chronic Obstructive Pulmonary Disease Patient: A literature review

Abstract

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a chronic non-communicable lung disease, where airflow
obstruction occurs in the respiratory tract, is non-reversible or partially reversible, which is an inflammatory
response. Morbidity, mortality and disease progression can be rapid in the event of an acute exacerbation, but can
be prevented with appropriate management. Purpose to identifyi the use of digital inhalers in the management
of COPD patients The study used a non-systematic literature review method conducted online in the 2018-
2022 database. Many tools and technologies have been developed for COPD management. The digital inhaler
app improves COPD monitoring by supporting proper use of inhalers, monitoring medication adherence with
remote monitoring. Then the data is sent to the server which automatically updates the patient’s medical records.
The data can be analyzed by health workers to then provide feedback to users. Literature study shows that the
use of digital inhalers improves dosing accuracy, therapy adherence and early detection of disease worsening

Keywords: COPD, Digitalinhalers, Management

Journal of Nursing Care - Volume 6 Issue 1 February 2023 67


Dewa Ayu: Penggunaan Digital Inhalers (Smart Inhalers) pada Pengelolaan Pasien Penyakit
Paru Obstruksi Kronis

Pendahuluan terhadap penyakit yang terbatas dan akses


ke pusat pelayanan kesehatan yang tidak
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) memadai. Untuk mendukung pasien dengan
merupakan suatu penyakit kronik progresif PPOK dalam mengelola kondisinya secara
yang tidak menular yang ditandai dengan mandiri diperlukan suatu sistem perawatan
adanya sumbatan aliran udara pada saluran kesehatan yang memadai. Pemantauan
pernafasan yang bersifat nonreversible secara manual dirasa tidak dapat menjangkau
atau reversible parsial, yang berhubungan lebih banyak masyarakat sehingga
dengna respon inflamasi abnormal saluran diperlulkan pengembangann dalam sistem
pernafasan terhadap partikel berbahaya pengelolaannya.
dari udara (Kemenkes RI, 2019). Dimana Transformasi digital mengembangkan
merupakan penyakit multikomponen yang perawatan kesehatan biasa menjadi perawatan
memiliki tanda terjadinya hipersekresi yang terintegrasi. Dalam perkembangannya,
mucus, penyempitan jalan nafas, dan adanya digital inhaler menjadi salah satu solusi dalam
kerusakan pada alveoli paru (To & Diagnosis, pengelolaan mandiri pasien dengan PPOK.
2021). Perangkat inhaler digital merupakan suatu
PPOK menjadi salah satu dari tiga perangkat yang terhubungan dengan server
peneyebab kematian tertinggi di dunia dan pelayanan kesehatan. Sensor yang terpasang
90% dari kematian tersebut terjadi di negara pada perangkat digital inhaler dapat melacak
dengna penghasilan rendah dan menengah lokasi, sensor juga dapat mencatat waktu,
(GOLD, 2020). World Health Organization mencatat penggunaan, menyimpan data, dan
(WHO) melaporkan PPOK menyebabkan mengirim data ke pusat server (pelayanan
kematian 3.23 juta penduduk pada tahun kesehatan) untuk nantinya pelayanan
2019 (WHO, 2021). kesehatan akan memberikan umpan balik
Eksaserbasi akut merupakan suatu fase untuk keberlangsungan terapi.
dari PPOK yang ditandai dengan manifestasi Tinjauan literatur ini bertujuan untuk
yang berat pada paru, yang disebabkan mengidentifikasi pemanfaatan digital inhalers
terpajan faktor pencetus (Lukito & Permana, dalam pengelolaan pasien PPOK dalam
2017). PPOK eksaserbasi akut menjadi faktor rangka peningkatan manajemen diri pasien
yang meningkatkan mortalitas, morbiditas dan mengurangi tingkat kekambuhan.
dan perkembangan penyakit.
Karena sifatnya yang kronis sehingga Metode Penelitian
pendidikan, penyediaan keterampilan dan
dorongan bagi pasien untuk dapat mengelola Penelitian ini menggunakan metode
kondisinya secara mandiri menjadi hal yang literature review non systematic, yaitu suatu
harus diperhatikan. metode studi literatur yang digunakan untuk
Salah satu terapi dalam pengobatan pasien menganalisis literatur atau artikel penelitian
dengan PPOK adalah terapi inhalasi (To & yang dipilih dari berbagai sumber yang
Diagnosis, 2021). Terapi inhalasi merupakan dapat dipercaya untuk menghasilkan suatu
modalitas terapi yang kompleks untuk dapat kesimpulan. Literatur yang digunakan dalam
dikelola pasien PPOK secara mandiri. Terapi studi ini adalah jurnal-jurnal yang membahas
inhalasi yang optimal memerlukan teknik mengenai topik dengan 3 (tiga) kategori
yang tepat sehingga pelepasan aerosol kata kunci yaitu; Digital Inhalers; PPOK;
dari inhaler optimal. Selain itu kepatuhan dan PPOK management. Penelusuran jurnal
terhadap rejimen terapi berperan penting akademik dilakukan dengan menggunakan
dalam menentukan hasil pengobatan. Tingkat online database diantaranya: Google Scholar,
kepatuhan yang buruk terhadap terapi dapat dan ProQuest, ScienceDirect pada katagori
meningkatkan eksaserbasi dan angka kejadian scholarly journals dari tahun 2019-2022.
rawat inap berulang (Chan et al., 2021).
Beberapa tantangan dalam pengelolaan Hasil
mandiri pasien dengan PPOK adalah kurang
optimalnya kepatuhan terhadap terapi, teknik Berdasarkan hasil analisis dari 10 jurnal
inhalasi yang kurang tepat, pemahaman penelitian terkait teknologi digital inhalers

68 Journal of Nursing Care - Volume 6 Issue 1 February 2023


Dewa Ayu: Penggunaan Digital Inhalers (Smart Inhalers) pada Pengelolaan Pasien Penyakit
Paru Obstruksi Kronis

dalam pengelolaan pasien PPOK menunjukkan kondisi kesehatan. Meskipun dalam


adanya manfaat dari penggunaan digital pelaksanaannya masih ditemukan beberapa
inhalers terhadap pengelolaan pasien PPOK kendala teknis. Daftar jurnal yang peneliti
baik dari segi ketepatan dosis obat, kepatuhan temukan dianalisis dalam studi literature
terhadap terapi maupun kemungkinan deteksi review ini (Tabel 1):
dini guna pencegahan terhadap perburukan
JURNAL /
NO PENULIS JUDUL OUTCOME METODE HASIL
TAHUN
1. Tay et al. Electronic Inhaler American Untuk Cluster RCT • Ditemukan bahwa
(2022) Monitoring Academy of mengembangkan Electronic Inhaler
for Chronic Allergy, Asthma kerangka kerja Monitoring memiliki
Airway Disease: & Immunology untuk menilai akurasi diagnostik
Development and (2020) Electronic Inhaler yang baik, pemikiran
Application of Monitoring diagnostik, dan kemajuan
Multidimensional terapeutik, tetapi
Efficacy Framework kurangnya bukti terkait
aspek spesifik dari teknis,
hasil pasien, dan manfaat
bagi masyarakat.
• Pengembangan lebih
lanjut dari Electronic
Inhaler Monitoring
m e m b u t u h k a n
peningkatan keandalan,
kegunaan dan keamanan
untuk pasien, serta
integrasi optimal dengan
rekam medis elektronik
dan perawatan pasien
secara keseluruhan•
2. Watson, A., & Digital healthcare Therapeutic Membahas Uji coba • RCT ini menemukan
Wilkinson, T. in COPD Advances in keuntungan, dan terkontrol kepatuhan yang baik
M. (2022) management: a Respiratory prospek masa (RCT) dengan 86% melakukan
narrative review Disease (2022) depan perawatan latihan rutin enam
on the advantages, kesehatan digital, kali seminggu yang
pitfalls, and need for yang menawarkan diusulkan pada kelompok
further research berbagai alat intervensi.
termasuk rencana • Studi ini tidak
pengelolaan menemukan perbaikan
mandiri, video yang signifikan dalam
pendidikan, video sesak napas di kelompok
pelatihan inhaler, intervensi.
umpan balik • Hasil memperlihatkan
kepada pasien dan peningkatan yang
dan professional signifikan dalam
kesehatan, kemampuan manajemen
pemantauan diri (p<0,001). Tingkat
eksaserbasi dan penyelesaian ini lebih
rehabilitassi paru. baik dibandingkan
dengan perawatan biasa.
3. Chan et al. Digital Inhalers Pulm Ther Untuk meninjau Scientifik Digital inhalers masih
(2021) for Asthma or (2021) penggunaan perspektif, jarang digunakan.
Chronic Obstructive beberapa digital sistematik Namun, penggunaan
Pulmonary Disease: inhaler yang review digital inhaler dapat
A Scientific sering digunakan m e n i n g k a t k a n
Perspective (propeller health, manajemen obat pasien
Teva digihaler, yakni meningkatkan
adherium Hailie, kepatuhan pasien.
dan amiko Dengan adanya digital
respiro) dan inhaler, pasien juga
pengaplikasiannya mengalami peningkatan
dalam dalam penggunaan
bidang klinis inhaler

Journal of Nursing Care - Volume 6 Issue 1 February 2023 69


Dewa Ayu: Penggunaan Digital Inhalers (Smart Inhalers) pada Pengelolaan Pasien Penyakit
Paru Obstruksi Kronis

4. North et al. A Randomised Digital Medicine Menentukan Randomized •Subyek diambil secara
(2020) controlled feasibility (2020) dampak controlled trial acak untuk menerima
trial of E-health dari rencana with blinded perawatan, dimana
application managemen outcome kelompok kontrol dengan
supported care vs mandiri pasien assesment manajemen diri tertulis
usual care after berbasis aplikasi (n=21) dan kelompok
exacerbation interaktif dengan aplikasi myCOPD
of COPD: the dibandingkan (n=20) diamati selama 90
RESCUE trial dengan rencana hari
manajemen diri •Hasil efikasi primer
tertulis yang yang didapat adalah
digunakan saat ini tingkat pemulihan gejala
pada pasien. yang diukur dengan skor
COPD
Assessment test (CAT).
Dimana efek pengobatan
pada
skor CAT adalah 4,49
(95% CI :-8.41,-0,58)
poin lebih rendah pada
kelompok myCOP.
•Teknik inhaler pada
kelompok intervensi
digital meningkat
dibandingkan dengan
perawatan biasa.
Dimana pada intervensi
digital kesalahan kritis
menurun dari 101
menjadi 20 kesalahan
kritis. Sementara pada
kelompok perawatan
biasa, kesalahan kritis
menurun dari 100
menjadi 72 kesalahan
kritis.
•Eksaserbasi cenderung
lebih jarang pada
kelompok dengan
intervensi digital (18
peristiwa) dibandingkan
dengan perawatan biasa
(34 peristiwa)
•Resiko penerimaan
kembali rumah sakit
secara numerik lebih
rendah pada kelompok
intervensi digital atau
penerimaan kembali
0,383 (CI 95%: n=35)
•Dalam studi kelayakan
platform, manajemen
mandiri digital myCOPD,
telah diterima pasien
untuk meningkatkan
tingkat pemulihan
eksaserbasi. My COPD
mengurangi kesalahan
kritis dalam teknik
inhaler.
5. Yawn et al. Pilot Study of a Journal of the •Untuk Prospective •Inhaler ELLIPTA
(2021) Patient Wxperience COPD mengetahui cohort pilot digunakan oleh
with an ELLIPTA Foundation apakah inhaler study responden, namun ada
Inhaler Electronic (2021) ELLIPTA beberapa responden
Medication diterima atau mengurangi penggunaan
and Associated digunakan oleh selama penelitian
Integrated System: responden •Responden merasa
A Prospective •Untuk puas dan merasa inhaler
Observational Study mengetahui ELLIPTA lebih mudah
Using the COPD seberapa puas digunakan
Patient- Powered dan mudah pasien •Responden menngikuti
research network menggunakan instruksi inhaler
inhaler ELLIPTA ELLIPTA dengan baik
•Untuk sehingga gejala atau
mengetahui beban yang dirasakan
ketaatan pasien berkurang
dalam mengikuti
instruksi inhaler
ELLIPTA

70 Journal of Nursing Care - Volume 6 Issue 1 February 2023


Dewa Ayu: Penggunaan Digital Inhalers (Smart Inhalers) pada Pengelolaan Pasien Penyakit
Paru Obstruksi Kronis

6. Zabczyk, C., The Effect of Frontiers •Untuk Naratif •Penggunaan “smart”


& Blakey, Connected in Medical mengetahui Sistematik inhaler memiliki potensi
J.D. (2021) “Smart” Inhalers Technology apakah “smart” evaluasi dalam meningkatkan
on medication (2021) inhaler kesesuaian dosis terapi
Adherence meningkatkan yang ditentukan,
kesesuaian dosis namun datanya masih
yang ditetapkan terbatas
•Untuk •Dalam jangka,
mengetahui perangkat yang
apakah terhubung cenderung
“smart”inhaler memfasilitasi kepatuhan
meningkatkan terhadap saran medis
penerapan terkait rencana terapi,
rencana intervensi walaupun data yang
tersedia massih kurang
7. Chen et al. Passive Monitoring JMIR Untuk Recruitment •Uji coba dilakukan
(2019) of Short-Acting Formative mengevaluasi uji and Eligibility pada 190 pasien yang
Beta-Agonist Use Research (2019) coba peningkatan terdaftar. Pada 3, 6
via Digital Platform kualitas digital dan 12 bulan, pasien
in Patients With yang terintegrasi mencatat pengurangan
Chronic Obstructive secra klinis pada penggunaan short acting
Pulmonary pasien PPOK beta agonist (SABA) dan
Disease: Quality yang memenuhi peningkatan hari bebas
Improvement peesyaratan SABA (p<0,001)
Retrospective perawatan •Keterlibatan pasien,
Analysis yang diukur dengan rasio
penggunaan aktif harian
terhadap penggunaan
altif bulanan adalah >
90% pada 6 dan 12 bulan.
•Retensi pada 6 bulan
adalah 81% (154/190
responden
•Penyedia layanan
digital mendapatkan
pemberitahuan memalui
email rata-rata 2 kali per
pasien selama program
12 bulan

Journal of Nursing Care - Volume 6 Issue 1 February 2023 71


Dewa Ayu: Penggunaan Digital Inhalers (Smart Inhalers) pada Pengelolaan Pasien Penyakit
Paru Obstruksi Kronis

8. Chrystyn et Investigating Journal of Untuk Studi •Keseluruhan peseta


al. (2022) the Accuracy of Aerosol membandingkan perangkat yang mendaftar sebanyak
the Digihaler, a medicine and parameter inhalasi klinis non 150, namun yang terdata
new Electronic Pulmonary drug yang diukur intervensi inhalasinya sebanyak 148
Multidose Dry- Delivery menggunakan dengan 1 kali orang( 50 anak- anak,
Powder Inhaler, (2022) Digihaler dengan kunjungan 49 orang dewasa dengan
in Measuring pembacaan assma dan 49 orang
Inhalation yang dilakukan dewasa dengan PPOK).
Parameters secara bersamaan Usia rata-rata (stabdar
menggunakan deviasi adalah 39,1 (24,5)
Inhalasi Profile tahun; 51% peserta
Recorder (IPR) adalah laki-laki.
•Rata-rata keseluran
(standar deviasi) yang
diukur dengan Digihaler
dan IPR masing-masing
adalah 70,62(17,73) L/
menit dan 72,55 (19,42) L/
menit, dengan perbedaan
persentase rata-rata
1,75% (95%CI: 3,64
hingga 0,15).
•Perbedaan persentase
rata-rata antara
pengukuran Digihaler
dan IPR dari PIF berkisar
dari -2,97% di antara
orang dewasa dengan
PPOK hinggu 0,16% di
antara anak-anak dengan
assma.
•Rata-rata keseluruhan
(standar deviasi) untuk
digihaler dan IPR masing-
masing adalah 1,57 (0,69)
L dan 1,67 (0,73) L dengan
perbedaan persentase
rata-rata 6,11 (95%CI:
8,08 hingga 4,13)
• P e n e l i t i a n
mengkonfirmasi
kemampuan digihaler
untuk memberikan
pengukuran parameter
inhalasi yang akurat saat
digunakan oleh pasien.
9. Greene dan Personalizing Expert Opinion Untuk mengetahui Menggunakan •Sejumlah bukti
Costello ( medicine- could on Drug kemampuan data sekunder m e n d u k u n g
2019) smart inhaler Delivery (2019) smart inhaler dari uji penggunaan smart
revolutionize dalam merevolusi kontrol acak inhaler meningkatkan
treatment for COPD pengobatan (RCT) kepatuhan dan untuk
and asthma terhadap asma mengidentifikasi pola
patients? dan PPOK penggunaan yang
memprediksi hasil
•Namun masih banyak
yang harus dipelajaari
untuk menterjemahkan
teknologi ini dalam
praktik sehari-hari
10. Honkoop, P., The Current and Pulm Ther Membahas peran Studi literatur •Bukti literatur
Usmani, O., Future Role of (2022) saat ini dan menunjukkan bahwa
& Bonini, M. Technology in potensi masa e-health meningkatkan
(2022) Respiratory Care depan dari alat kualitas perawatan
dan pendekatan dan kepatuhan
e-health dalam terhadap terapi, serta
pengobatan memungkinkan deteksi
masalah dini perburukan penyakit
pernafasan paru kronis
•Adanya potensi masalah
terkait intervensi
e-health, seperti
perlindungan privasi
pasien, pengambilan
data dan ketidakpatuhan
terhadap protokol yang
harus dipertimbangkan
dengan cermat.

72 Journal of Nursing Care - Volume 6 Issue 1 February 2023


Dewa Ayu: Penggunaan Digital Inhalers (Smart Inhalers) pada Pengelolaan Pasien Penyakit
Paru Obstruksi Kronis

Pembahasan kesehatan yang biasa, dimana rencana


pengelolaan mandiri ini disesuaikan dengna
Pengelolaan pasien dengan PPOK secara kebutuhan personal dari pasien. Aplikasi
mandiri dapat menurunkan risiko mortalitas, kesehatan digital memiliki potensi dalam
morbiditas dan perkembangan penyakit. melengkapi atau mengganti pengelolaan
Rangkaian pengelolaan ini meliputi edukasi, mandiri yang berbasir kertas, dengan cara
obat inhalasi dan rehabilitasi paru. Mengingat yang dapat diakses dengan mudah dan
PPOK merupakan penyakit yang kronik, terukur.
sehingga diperlukan suatu media yang Platform kesehatan inhaler digital terdiri
dapat membantu pasien dalam pengelolaan dari inhaler yang dilengkapi dengan sensor
kesehatannya secara mandiri. elektromekanis dan mikroelektronika.
Salah satu perangkat digital yang Dimana sensor ini memungkinkan untuk
dikembangkan untuk mendukung mendeteksi waktu/tanggal digunakan inhaler
pengelolaan pasien PPOK secara mandiri secara aktual. Perangkat lain yang disertakan
adalah digital inhaler (smart inhaler). Yang adalah smart phone yang terhubung langsung
mana aplikasi digital ini diharapkan mampu yang dapat menerima data dan natinnya
memenuhi permintaan masyarakat dalam secara otomatis akan mentransfer data kepada
kebutuhan perawatan mandiri pasien PPOK. tenaga kesehatan untuk nantinya dianalisis
Intervensi digital yang ditawarkan dan memberikan umpan balik pada pasien
perangkat ini tidak dibatasi oleh sistem

Gambar 1. Skema komponen platform inhaler digital (Chan et al., 2021)


Sensor elektronik terpasang pada inhaler data tersebut akan ditinjau ulang dan
digital, dimana setiap penggunaan inhaler, dianalisis agar dapat dibuatkan perencanaan
sensor akan merekamnya. Digital inhaler spesifik sesuai dengan kondisi dari pasien.
memandu upaya inhalasi yang tepat oleh
pasien untuk mencapai teknik inhalasi yang Kesesuaian Dosis Obat
tepat, dan dapat mengukur fisiologis fungsi
paru. Ketika inhaler digital disinkronkan Pengaturan dosis yang tepat dan akurat
dengan smartphone yang terhubung dengan menjadi hal penting dalam pengelolaan
internet, tenaga kesehatan dapat mengakses pasien penyakit kronis seperti PPOK. Dalam
semua data yang dihasilkan. Sehingga dapat penelitian yang dilakukan terkait dengan efek
dilakukan monitoring jarak jauh terkait waktu penggunaan digital/smart inhaler didapatkan
dan jarak pengaplikasian inhaler, melihat bahwa penggunaan “smart” inhaler memiliki
kepatuhan pengelolaan mandiri pasien, potensi dalam meningkatkan kesesuaian
menilai teknik inhalasi, mengidentifikasi dosis terapi yang ditentukan, namun datanya
penggunaan obat berlebihan, yang nantinya masih terbatas (Zabczyk & Blakey, 2021).

Journal of Nursing Care - Volume 6 Issue 1 February 2023 73


Dewa Ayu: Penggunaan Digital Inhalers (Smart Inhalers) pada Pengelolaan Pasien Penyakit
Paru Obstruksi Kronis

Ketepatan dosis obat ini juga dipengaruhi tanda dan gejala agar bisa memprediksi dan
teknik penggunaan yang tepat. Sehingga melakukan upaya pencegahan.
perlu dilakuakan pengembangan lebih Layanan aplikasi digital inhaler dilengkapi
lanjut terkait dengan pemantauan teknik dengan sensor yang dapat menagkap lokasi
pemakaian inhaler. Dalam jurnal Digital pengguna aplikasi saat inhaler digunakan,
Medicine (2020), hasil penelitian didapatkan sehingga dapat dianalisis faktor lingkungan
bahwa pada kelompok intervensi dengan yang memungkinkan menjadi faktor pencetus
digital inhaler terjadi peningkatan dimana kekambuhan. Aplikasi digital inhaler ini
kesalahan kritis teknik inhaler menurun dari menawarkan solusi termasuk program
101 menjadi 20 kesalahan kritis, sementara Pendidikan pasien dan modifikasi gaya
pada kelompok dengan perawatan biasa, hidup, sistem monitoring jarak jauh, alat
kesalahan kritis menurun dari 100 menjadi merekam dan mengkomunikasikan gejala
72 kesalahan kritis (North et al., 2020). dan mengintegrassikan data dengan fisiologis
untuk membantu memahami penyakitnya
Kepatuhan Terapi (Watson and Wilkinson, 2022).
Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh
Faktor lain yang turut berpengaruh pada jurnal Digital Medicine (2020) disebutkan
kesuksesan terapi adalah kepatuhan pasien bahwa angka kejadian eksaserbasi cenderung
terhadap terapi yang diberikan, mengingat lebih jarang pada kelompok intervensi digital
SOPD merupakan penyakit kronis yang rawan dibandingkan dengan perawatan biasa. Serta
bagi pasien mengalami putus terapi. Dalam resiko readministrasi ke rumah sakit lebih
jurnal Therapeutic Advance in Respiratory rendah pada kelompok intervensi digital
Disease (2022) didapatakan bahwa pada (North et al., 2020).
kelompok intervensi denan digital inhaler
ditemukan tingkat kepatuhan yang baik Hambatan dan tantangan
dengan 86% melakukan latihan rutin 6 kali
seminggu sesuai dengan yang diusulkan. Walaupun jurnal sebelumnya menyatkan
Lebih lanjut penelitian ini mengemukankan bahwa penggunaan digital inhaler memberi
walaupun tidak ditemukan perbaikan yang dampak posistif terhadap pengelolaan
signifikan dari keluhan sesak nafas, namun pasien PPOK, namun perlu dilakukan kajian
memperlihatkan peningkatan yang signifikan ulang atau penelitian lebih lanjut terkait
dalam kemampuan management diri dengan teknik hasil dan dan maaf lebih
(p<0,001) (Watson and Wilkinson, 2022). luas bagi masyarakat (Tay et al., 2022).
Hal ini selaras dengan penelitian prospective Seperti juga yang di jelaskan dalam jurnal
cohort pilot study yang dipublikasikan oleh Expert Opinion on Drug Delivery (2019)
Journal of the COPD Foundation (2021) disebutkan bahwa walaupun sejumlah
mengemukanan bahwa responden merasa buktu mendukung penggunaan smart
puas dengan penggunaan inhaler ELLIPTA inhaler dalam meningkatkan kepatuhan dan
(digital inhaler) dan mengikuti instruksi mengidentifikasi pola penggunaan, namun
inhaler ini dengan baik sehingga gajala dan masih banyak yang harus dipelajari kembali
beban yang dirasakan berkurang (Yawn et al., agar dapat di prakterkan dalam kehidupan
2021) Dengan adanya aplikasi digital inhaler sehari-hari (Greene & Costello, 2019).
ini bisa sebagai pengawas bagi pasien, dan Dalam jurnal Pulm Thern (2022),
pengingat untuk patuh terdahap terapi. disebutkan adanya hambatan dalam
penerapan digital inhaler, adanya potensi
Deteksi dini dan pencegahan masalah terkait intervensi yang melibatkan
kekambuhan teknologi digital dan perekaman data. Hal
ini dikalitkan dengan perlindungan privasi
PPOK apabila tidak dikelola dengan baik pasien. Kemudian adanya penolakan pasien
dapat menjadi predisposisi eksaserbasi akut untuk mengubah pola perawatan yang sudah
dan perkembangan penyakit (Kemenkes RI, berlangsung selama ini. Masalah selanjutnya
2019). sehingga sebelum terjadi suatu kondisi adalah terkait ketidak pastian tanggung jawab
perburukan atau eksaserbasi, perlu memahami klinis untuk meninjau karena monitoring

74 Journal of Nursing Care - Volume 6 Issue 1 February 2023


Dewa Ayu: Penggunaan Digital Inhalers (Smart Inhalers) pada Pengelolaan Pasien Penyakit
Paru Obstruksi Kronis

bersifat jarak jauh (Honkoop et al., 2022). JMIRFormative Research, 3(4), 1–9. https://
Sehingga diperlukan penelitian yang lebih [Link]/10.2196/13286
baik terkait manfaat dan efektifitas digital
inhaler terhadap hasil kesehatan untuk Chrystyn, H., Saralaya, D., Shenoy, A., Toor,
pasien PPOK, diharapkan nantinya memberi S., Kastango, K., Calderon, E., ... & Safioti,
kepercayaan pada pasien untuk dapat G. (2022). Investigating the accuracy of the
diaplikasikan dalam praktek sehari-hari. Digihaler, a new electronic multidose dry-
powder inhaler, in measuring inhalation
Simpulan parameters. Journal of Aerosol Medicine and
Pulmonary Drug Delivery, 35(3), 166-177.
Pengembangan teknologi khusunya dalam
pengelolaan pasien PPOK sangat diperlukan GOLD. (2020). Global strategy for the
untuk meningkatkan keterlibatan pasien diagnosis, management, and prevention of
dalam upaya pengelolaan kesehatannya secara chronic obstructive pulmonary disease (2020
mandiri. Digital inhaler memiliki potensi Report). [Link]
untuk merevolusi pengelolaan penyakit
saluran pernafasan kronis dengan mendukung Greene, G., & Costello, R.W. (2019).
ketepatan pemebrian dosis, kepatuhan terapi Personalizing medicine - could the smart
da deteksi dini pencegahan perburukan inhaler revolutionize treatment for COPD
penyakit. Beberapa penelitian tentunya harus and asthma patients?. Expert Opinion on
masih perlu dikembangkan dan diuji coba Drug Delivery, 16(7), 675–677. [Link]
lebih lanjut untuk meningkatkan keamanan org/10.1080/17425247.2019.162 8017
dan kenyamanan pengguna aplikasi ini.
Diharapkan melalui telaah literatur ini Honkoop, P., Usmani, O., & Bonini, M. (2022).
akan membangkitkan peran serta perawat The current and future role of technology in
dalam pengembangan teknologi untuk deteksi respiratory care. Pulmonary Therapy, 8(2),
dini tanda perburukan kondisi pasien PPOK 167–179. [Link]
melalui deteksi jarak jauh untuk meningkatkan 022-00191-y
pelayanahn keperawatan. Serta melakukan
kerjasama lintas sektoral dengan profesi dan Kemenkes RI. (2019). Pedoman nasional
bidang lain untuk mengembangkan teknologi pelayanan kedokteran tata laksana penyakit
yang dapat menjadi penghubungan antara paru obstruktif kronik. Jakarta: Kementerian
pasien dan pelayanan kesehatan secara Kesehatan RI.
mudah dan murah.
Lukito, D.B., & Permana, P. (2017). Penyakit
Referensi paru obstruksi kronis ekserbasi akut. In
Universitas Udayana (Issue 1302006140).
Chan, A.H.Y., Pleasants, R.A., Dhand, R.,
Tilley, S.L., Schworer, S.A., Costello, R.W., North, M., Bourne, S., Green, B., Chauhan,
& Merchant, R. (2021). Digital inhalers for A. J., Brown, T., Winter, J., Jones, T., Neville,
asthma or chronic obstructive pulmonary D., Blythin, A., Watson, A., Johnson, M.,
disease: A scientific perspective. Pulmonary Culliford, D., Elkes, J., Cornelius, V., &
Therapy, 7(2), 345–376. [Link] Wilkinson, T. M. A. (2020). A randomised
org/10.1007/s41030-021- 00167-4 controlled feasibility trial of E-health
application supported care vs usual care after
Chen, J., Kaye, L., Tuffli, M., Barrett, M.A., exacerbation of COPD: The RESCUE trial.
Jones-Ford, S., Shenouda, T., Gondalia, Npj Digital Medicine, 3(1), 1 – 9 .
R., Henderson, K., Combs, V., Sickle, D. [Link]
Van, & Stempel, D.A. (2019). Passive
monitoring of short-acting beta-agonist Stone, R., Cooke, M., & Mitchell, M. (2020).
use via digital platform in patients with Undergraduate nursing students’ use of
chronic obstructive pulmonary disease: video technology in developing confidence
Quality improvement retrospective analysis. in clinical skills for practice: A systematic

Journal of Nursing Care - Volume 6 Issue 1 February 2023 75


Dewa Ayu: Penggunaan Digital Inhalers (Smart Inhalers) pada Pengelolaan Pasien Penyakit
Paru Obstruksi Kronis

integrative literature review. Nurse Education WHO. (2021). Chronic obstructive


Today, 84(August 2019), 104230. [Link] pulmonary disease (COPD). [Link]
org/10.1016/[Link].2019.104230 [Link]/News-Room/Fact-Sheets/Detail/
Chronic-Obstructive Pulmonary-Disease-
Tay, T.R., van Boven, J.F.M., Chan, A., & Hew, (Copd)
M. (2022). Electronic inhaler monitoring for
chronic airway disease: Development and Yawn, B.P., McCreary, G.M., Linnell,
application of a multidimensional efficacy J.A., Pasquale, C.B., Malanga, E., Choate,
framework. Journal of Allergy and Clinical R., Stempel, D.A., Gondalia, R., Kaye,
Immunology: In Practice, 10(5), 1189-1201. L., Collison, K.A., Wu, B.S., Gratie, D.,
e1. [Link] Stanford, R.H., & Tomlinson, R. (2021).
To, P.G., & Diagnosis, C. (2021). Global Pilot study of a patient experience with an
initiative for chronic obstructive lung ELLIPTA inhaler electronic medication
disease (GOLD). [Link] [Link]. monitor and associated integrated system:
Accessed January [Link] for Chr. A prospective observational study using the
COPD patient- powered research network.
Watson, A., & Wilkinson, T.M.A. (2022). Chronic Obstructive Pulmonary Diseases,
Digital healthcare in COPD management: A 8(4), 488–501. [Link]
narrative review on the advantages, pitfalls, JCOPDF.2021.0218 Zabczyk, C., & Blakey,
and need for further research. Therapeutic J.D. (2021). The effect of connected “smart”
Advances in Vaccines, 16. [Link] inhalers on medication adherence. Frontiers
org/10.1177/https in Medical Technology, 3(August). https://
[Link]/10.3389/fmedt.2021.657321

76 Journal of Nursing Care - Volume 6 Issue 1 February 2023

Anda mungkin juga menyukai