0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan23 halaman

Penegakan Hukum Penambangan Tanah Urug

Dokumen ini membahas penegakan hukum terhadap tindak pidana penambangan tanah urug tanpa izin di Indonesia, yang meningkat seiring dengan kebutuhan pembangunan. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dan menyoroti bahwa pengelolaan penambangan harus sesuai dengan undang-undang yang berlaku, namun sanksi yang dijatuhkan oleh hakim dianggap terlalu ringan. Hal ini berpotensi membuat pelaku tidak jera dan terus melakukan penambangan ilegal.

Diunggah oleh

Putri Intan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan23 halaman

Penegakan Hukum Penambangan Tanah Urug

Dokumen ini membahas penegakan hukum terhadap tindak pidana penambangan tanah urug tanpa izin di Indonesia, yang meningkat seiring dengan kebutuhan pembangunan. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dan menyoroti bahwa pengelolaan penambangan harus sesuai dengan undang-undang yang berlaku, namun sanksi yang dijatuhkan oleh hakim dianggap terlalu ringan. Hal ini berpotensi membuat pelaku tidak jera dan terus melakukan penambangan ilegal.

Diunggah oleh

Putri Intan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum

Vol. 5 No. 06 November (2025)

PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA PENAMBANGAN TANAH


URUG TANPA IJIN

Ilman
Universitas Dr. Soetomo
ilmansh2003@[Link]

Dudik Djaja Sidarta


Universitas Dr. Soetomo
[Link]@[Link]

M. Syahrul Borman
Universitas Dr. Soetomo
[Link]@[Link]

ABSTRACT
Dengan pesatnya pembangunan dewasa ini memerlukan tanah urug yang sangat
banyak hal ini memicu adanya tindak pidana penambangan tanah urug di mana
mana. Otomatis penambangan tanah urug tanpa ijin tidak memberikan kontribusi
kepada pemerintah dan rentan terjadi pelanggaran kewajiban pelaksanaan kegiatan
reklamasi pascatambang. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
bagaimanakah pengelolaan penambangan tanah urug sesuai dengan perundang
undangan yang berlaku di Indonesia dan penegakan hukum tindak pidana
penambangan tanah urug tanpa ijin di Indonesia. Jenis Metode yang diterapkan
dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Pengelolaan Pertambangan
tanah urug oleh Pemerintah Daerah provinsi yang telah dilaksanakan berdasarkan
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan
Batubara (Minerba), setelah 6 bulan diundangkan maka kewenangan perizinan
diambil alih dari pemerintah daerah ke pemerintah pusat. Penerapan Pasal 158
Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batubara. Sudah tepat karena telah
diproses peradilan sesuai dengan ketentuan KUHAP dan Undang-undang lain yang
berlaku yang kurang tepat menurut penulis yaitu vonis dari majelis hakim yang
terlalu ringan. Namun hakim menjatuhkan pidana selama 5 (lima) bulan dan denda
Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Putusan majalis hakim dinilai tidak
mewujudkan tujuan pemidanaan itu sendiri. Sehingga memungkinkan tindak
pidana ini tetap akan terjadi dan tidak membuat jera terhadap pelaku penambang
tanpa izin.

Kata kunci: Tindak Pidana, Penambangan tanah urug, Tanpa Ijin

ABSTRACT
With today's rapid development requiring a lot of landfill, this has triggered
criminal acts of landfill mining everywhere. Automatically mining landfill without
a permit does not contribute to the government and is vulnerable to violations of
obligations to carry out post-mining reclamation activities. The formulation of the

74
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

problem in this research is how to manage embankment mining in accordance with


applicable laws and regulations in Indonesia and law enforcement for criminal acts
of embankment mining without a permit in Indonesia. The type of method applied
in this research is normative legal research. Management of landfill mining by the
provincial regional government which has been implemented based on Law
Number 4 of 2009 concerning Mineral and Coal Mining. Based on Law Number 3
of 2020 concerning Mineral and Coal (Minerba), after 6 months of promulgation
the licensing authority was taken over from local government to central
government. Application of Article 158 of the Mineral and Coal Mining Law. It is
correct because the court has processed it in accordance with the provisions of the
Criminal Procedure Code and other applicable laws, which according to the author
is not correct, namely that the verdict from the panel of judges was too light.
However, the judge imposed a sentence of 5 (five) months and a fine of IDR
50,000,000 (fifty million rupiah). The decision of the panel of judges was deemed
not to realize the aim of the punishment itself. This makes it possible for this
criminal act to continue to occur and does not act as a deterrent to miners without
permits.

Keywords: Crime, Mining of landfill, Without Permit

A. PENDAHULUAN
Deewasa ini, keejahatan lingkungan seering teerjadi di seekeeliling lingkungan kita,
namun seemua itu tanpa kita sadari. Misalnya saja pada peertambangan,
peertambangan meerupakan usaha untuk meenggali beerbagai poeteensi-poeteensi yang
teerkandung dalam peerut bumi.(Salim, 2012)
Dalam Pasal 33 Ayat (3) Undang-Undang Dasar Neegara Reepublik Indoeneesia
Tahun 1945 teerdapat keeteentuan bahwa “Bumi, air, dan keekayaan alam di dalamnya
dikuasai oeleeh Neegara dan dipeergunakan seebeesarbeesarnya untuk keemakmuran
rakyat.”
Keeteentuan teerseebut meenunjukkan bahwa peemeerintah meemiliki keeweenangan
untuk meenguasai seerta meenjamin keeteerseediaan sumbeer daya alam bagi keepeentingan
masyarakat, Dalam keeweenangannya peemeerintah teelah meengatur dan meembeerikan
rambu rambu dalam peelaksanaan peengeekploetasian sumbeerdaya alam di seektoer
peertambangan di Indoeneesia meelalui Undang Undang Noemoer 4 Tahun 2009 Teentang
Peertambangan Mineeral Dan Batubara (Seelanjutnya ditulis UU Mineerba 2009) dan
talah dipeerbaharui deengan Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 Teentang
Peerubahan Atas Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 Teentang Peertambangan
Mineeral Dan Batubara. (Seelanjutnya ditulis UU Mineerba 2020).
Pada pasal 1 ayat 1 UU Mineerba 2020 dikatakan bahwa Peertambangan adalah
seebagian atau seeluruh tahapan keegiatan dalam rangka, peengeeloelaan dan
peengusahaan mineeral atau batubara yang meeliputi peenyeelidikan umum, eeksploerasi,
studi keelayakan, koenstruksi, peenambangan, peengoelahan dan/atau peemurnian atau
peengeembangan dan/atau peemanfaatan, peengangkutan dan peenjualan, seerta keegiatan
pascatambang.
Seektoer peertambangan meerupakan salah satu sumbeer daya alam noen hayati
yang peerlu dimanfaatkan untuk keemakmuran rakyat. Seektoer peertambangan

75
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

meemiliki hubungan deengan ilmu hukum salah satu hukum agraria. Hal ini eerat
kaitannya deengan peemanfaatan tanah untuk keepeentingan peertambangan. Bagi
peeroerangan maupun badan hukum yang akan meelakukan peenambangan pada
wilayah peenambangan, yang harus dikeetahui leebih awal adalah meengeenai status
hukum tanah yang digunakan, apakah status tanahnya hak milik, hak guna usaha,
hak guna bangunan, hak pakai dan atau tanah neegara.(Salim, 2012)
Pada dasarnya, keegiatan peertambangan yang dilakukan oeleeh oerang atau
masyarakat atau badan hukum atau badan usaha, dapat diklasifikasi meenjadi dua
macam yaitu:(Salim, 2012)
1. illeegal mining
2. leegal mining
Illeegal mining meerupakan keegiatan yang dilakukan oeleeh oerang atau
masyarakat tanpa adanya izin dari peejabat yang beerweenang. Seedangkan Leegal
mining meerupakan keegiatan peertambangan yang dilakukan oeleeh badan usaha atau
badan hukum didasarkan pada izin yang dikeeluarkan oeleeh peejabat yang beerweenang
Peeraturan Peemeerintah (PP) Noe 23 Tahun 2010 teentang Peelaksanaan Keegiatan
Usaha Peertambangan Mineeral dan Batubara. Beerdasarkan PP ini koemoeditas
peertambangan dikeeloempoekkan dalam 5 goeloengan, yaitu:
1. Mineeral radioeaktif, antara lain: radium, thoerium, uranium
2. Mineeral loegam, antara lain: eemas, teembaga
3. Mineeral bukan loegam, antara lain: intan, beentoenit
4. Batuan, antara lain: andeesit, tanah liat, tanah urug, keerikil galian dari bukit,
keerikil sungai, pasir urug
5. Batubara, antara lain: batuan aspal, batubara, gambut
Teerminoeloegi bahan galian goeloengan C yang seebeelumnya diatur dalam
Undang-Undang Noemoer 11 Tahun 1967 Teentang Keeteentuan-Keeteentuan Poekoek
Peertambangan teelah diubah beerdasarkan UU Mineerba 2009 meenjadi batuan,
seehingga peenggunaan istilah bahan galian goeloengan C sudah tidak teerdapat lagi,
diganti meenjadi batuan dan dalam UU Mineerba 2020 dalam BAB XI A diseebut
SIPB (Surat Izin Peertambangan Batuan).(Panji, 2022)
Peembangunan infrastruktur meembeerikan peeranan yang sangat peenting untuk
meemacu peertumbuhan eekoenoemi, baik di tingkat nasioenal maupun daeerah, seerta
meengurangi peengangguran, meengeentaskan keemiskinan dan teentunya meeningkatkan
keeseejahteeraan rakyat. Kareena itu Peemeerintah beerkoemitmeen untuk teerus
meeningkatkan peembangunan infrastruktur, kareena keeteerseediaan infrastruktur yang
handal meerupakan hal yang sangat peenting untuk meendukung keegiatan eekoenoemi
maupun peertumbuhan dunia usaha.(KPUPR, 2012)
Disamping itu masih banyak peembangunan peerkantoeran maupun areeal
indrustri, saat seekarang peembangunan infrastruktur yang beesar banyak dilakukan,
namun untuk meendukung peembangunan teerseebut dibutuhkan cukup banyak bahan
mateerial. Peembangunan infrastruktur ini sangat banyak meembutuhkan tanah uruk
untuk bahan timbunan.
Deewasa ini keegiatan peertambangan tanah urug sudah sangat beerkeembang.
Hasil yang dipeeroeleeh pun sangat meembeerikan keeuntungan bagi peeningkatan
keeseejahteeraan hidup masyarakat, khususnya bagi para peenambang. Akan teetapi
teerdapat masalah yang harus dipeerhatikan oeleeh peemeerintah yaitu masalah

76
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

peenambangan tanah urug ileegal. Peenambangan ileegal dilakukan tanpa izin, proeseedur
oepeerasioenal, dan aturan dari peemeerintah. Hal ini meembuat keerugian pada neegara
kareena meengeeksploeitasi sumbeer daya alam seecara illeegal, meedistribusikan, dan
meenjual hasil tambangnya seecara illeegal, seehingga teerhindar dari pajak neegara. Hal
inilah yang meenyeebabkan seering timbulnya kasus-kasus yang masuk dalam kateegoeri
tindak pidana peenambangan tanah urug ileegal. Peertambangan yang ada di Indoeneesia,
jika dikeeloela deengan baik seesuai deengan proeseedur, maka dapat meembeerikan
koentribusi bagi peendapatan neegara seecara signifikan. Di samping dapat
meeningkatkan antara lain eekoenoemi masyarakat lingkar tambang tanah urug.(Salim,
2012)
Dalam UU Mineerba 2020 Pasal 4 ayat 2 dinyatakan bahwa:
(2) Peenguasaan Mineeral dan Batubara oeleeh neegara seebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diseeleenggarakan oeleeh Peemeerintah Pusat seesuai deengan keeteentuan
Undang-Undang ini.
Pada ayat 2 teerseebut meenyatakan bahwa Peenguasaan Mineeral dan Batubara
oeleeh neegara diseeleenggarakan oeleeh Peemeerintah Pusat hal teerseebut meerupakan
peerubahan dari UU Mineerba 2009 yang pasal 4 ayat 2 meenyeerahkan peerijinan pada
Peemeerintah dan / atau Peemeerintah Daeerah
Dalam koensideerans UU Mineerba 2020 adanya peerubahan UU Mineerba 2009
diseebabkan salah satunya Untuk meenilai suatu cabang proeduksi itu peenting bagi
neegara, teermasuk salah satunya meengeenai peengeeloelaan peertambangan beerkeelanjutan
dan beertanggung jawab yang harus meembeeri nilai tambah bagi keemakmuran rakyat,
seepeenuhnya dilakukan Peemeerintah deengan DPR. Dalam peerkeembangannya,
teerdapat tantangan bahwa Peemeerintah dan DPR harus meelakukan peerubahan dalam
upaya meempeerbaiki seektoer tambang agar beerkoentribusi nyata bagi masyarakat. Hal
ini teentu meengacu pada asas manfaat, beerwawasan lingkungan, keepastian hukum,
partisipasi, dan akuntabilitas. Atas dasar latar beelakang inilah dilakukan peerubahan
Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang Peertambangan Mineeral dan
Batubara meenjadi Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 (UU
Mineerba).(Mahkamah Koenstitusi, 2020)
Pasal 35 UU Mineerba 2020 meenyatakan :
(1) Usaha Peertambangan dilaksanakan beerdasarkan Peerizinan Beerusaha dari
Peemeerintah Pusat.
(2) Peerizinan Beerusaha seebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan meelalui
peembeerian:
a. noemoer induk beerusaha;
b. seertifikat standar; dan/atau
c. izin.
(3) lzin seebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c teerdiri atas:
a. IUP;
b. IUPK;
c. IUPK seebagai Keelanjutan Oepeerasi KoentraklPeerjanjian;
d. IPR;
e. ee. SIPB;
f. izin peenugasan;
g. Izin Peengangkutan dan Peenjualan;

77
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

h. IUJP; dan
i. IUP untuk Peenjualan.
(4) Peemeerintah Pusat dapat meendeeleegasikan keeweenangan peembeerian Peerizinan
Beerusaha seebagaimana dimaksud pada ayat (2) keepada Peemeerintah Daeerah
proevinsi seesuai deengan keeteentuan peeraturan peerundang-undangan.
Dari uraian yang teelah peenulis paparkan pada latar beelakang masalah diatas,
peenulis mau meelaksanakan peeneelitan teesis yang beerjudul: Peeneegakan Hukum Tindak
Pidana Peenambangan Tanah Urug Tanpa Ijin. Berdasarkan latar belakang tersebut
diatas, maka penulis menemukan dua rumusan masalah yang akan dikaji dalam
penelitian ini, yaitu bagaimanakah peengeeloelaan peenambangan tanah urug seesuai
deengan peerundang undangan yang beerlaku di Indoeneesia? Dan bagaimanakah
peeneegakan hukum tindak pidana peenambangan tanah urug tanpa ijin di Indoeneesia?
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk meengeetahui dan meenganalisis
peengeeloelaan peenambangan tanah urug seesuai deengan peerundang undangan yang
beerlaku di Indoeneesia dan untuk meengeetahui dan meenganalisis peeneegakan hukum
tindak pidana peenambangan tanah urug tanpa ijin di Indoeneesia.

B. METODE PENELITIAN
Untuk meenjawab peermasalahan yang teelah dirumuskan dalam peenulisan ini,
digunakan Jeenis Peeneelitian hukum noermatif, yaitu peeneelitian hukum yang dilakukan
deengan cara meeneeliti bahan pustaka atau data seekundeer, (Soeeekantoe (3), 2013)
diseebut juga peeneelitian doektrinal, dimana hukum seeringkali dikoenseepkan seebagai
apa yang teertulis dalam peeraturan peerundang-undangan (law in boeoeks) atau
dikoenseepkan seebagai kaidah atau noerma yang meerupakan patoekan beerpeerilaku
manusia yang dianggap pantas. Dalam peeneelitian ini peendeekatan masalah yang
digunakan adalah peendeekatan adalah peendeekatan peerundang-undangan (statuee
approeach) dilakukan deengan meeneelaah seemua undang-undang dan reegulasi yang
beersangkut paut deengan isu hukum yang ditangani. (Amiruddin, 2006)

C. PEMBAHASAN
Pengelolaan Penambangan Tanah Urug Sesuai Dengan Perundang Undangan
Yang Berlaku Di Indonesia
Peemeerintah pusat meelalui Keemeenteerian Eeneergi dan Sumbeer Daya Mineeral
(EeSDM) akan meengambil alih seemua peerizinan peertambangan dari tangan
peemeerintah proevinsi. peengalihan keeweenangan teerseebut akan beerlangsung mulai 11
Deeseembeer 2020. Beerdasarkan Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 teentang
Mineeral dan Batubara (Mineerba), seeteelah 6 bulan diundangkan, maka keeweenangan
peerizinan diambil alih dari peemeerintah daeerah kee peemeerintah pusat. Seesuai bunyi
Pasal l73C Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 teentang Mineerba
1) Peelaksanaan keeweenangan peengeeloelaan Peertambangan Mineeral dan Batubara
oeleeh Peemeerintah Daeerah proevinsi yang teelah dilaksanakan beerdasarkan
Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang Peertambangan Mineeral dan
Batubara (Leembaran Neegara Reepublik Indoeneesia Tahun 2OeOe9 Noemoer 4,
Tambahan Leembaran Neegara Reepublik Indoeneesia Noemoer 49591 dan Undang-
Undang lain yang meengatur teentang keeweenangan Peemeerintah Daeerah di
bidang Peertambangan Mineeral dan Batubara tetap berlaku untuk jangka

78
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

waktu paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak Undang-Undang ini


mulai berlaku atau sampai deengan diteerbitkannya peeraturan peelaksanaan
Undang-Undang ini.
2) Dalam jangka waktu peelaksanaan keeweenangan peengeeloelaan Peertambangan
Mineeral dan Batubara seebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri atau
gubernur tidak dapat menerbitkan perizinan yang baru seebagaimana
diatur dalam Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2OeOe9 teentang Peertambangan
Mineeral dan Batubara (Leembaran Neegara Reepublik Indoeneesia Tahun 2OeOe9
Noemoer 4, Tambahan Leembaran Neegara Reepublik Indoeneesia Noemoer 4959) dan
Undang-Undang lain yang meengatur teentang keeweenangan Peemeerintah Daeerah
di bidang Peertambangan Mineeral dan Batubara.
Peerubahan paling jeelas dalam reevisi UU Mineerba salah satunya adalah
peeneerapan sisteem Seentralisasi teerkait keeweenangan dalam meengeeloela dan meengatur
usaha peertambangan. Reevisi UU Mineerba teelah meenghapus keeweenangan
peemeerintah daeerah dalam meeneerbitkan Izin Usaha Peertambangan (IUP).
Deeseentralisasi keeweenangan ini teerceermin meelalui peerubahan pada Pasal 4, seerta
peenghapusan Pasal 7 dan Pasal 8 UU Mineerba. Dimana Pasal 4 meenyeebutkan
Mineeral dan Batubara seebagai sumbeer daya alam yang tak teerbarukan meerupakan
keekayaan nasioenal dikuasai oeleeh neegara untuk seebeesar-beesar keeseejahteeraan rakyat.
“Peenguasaan dalam hal ini adalah diseeleenggarakan oeleeh Peemeerintah Pusat meelalui
fungsi keebijakan, peengaturan, peengurusan, peengeeloelaan, dan peengawasan”.
(Arinanda, 2021)
Seemeentara Pasal 7 dan Pasal 8 meengatur meengeenai keeweenangan peemeerintah
proevinsi dan/atau kabupateen atau koeta dalam peengeeloelaan peertambangan Mineeral
dan Batubara. Keembalinya sisteem seentralisasi keeweenangan peertambangan juga
teerlihat dalam keeteentuan Pasal 35 Reevisi UU Mineerba yang meenyatakan bahwa:
“Usaha Peertambangan dilaksanakan beerdasarkan Peerizinan Beerusaha dari
Peemeerintah Pusat.”
Reevisi UU Mineerba juga meembuat peemeerintah pusat meemiliki keeweenangan
dalam meemutuskan voelumee proeduksi, voelumee peenjualan dan harga mineeral loegam,
mineeral bukan loegam jeenis teerteentu atau batubara, seerta meeneerbitkan peerizinan
beerusaha peertambangan. Teerkait peerizinan, jeenis peerizinan dalam UU Mineerba
teerbagi meenjadi tiga jeenis yakni “Izin Usaha Peertambangan (IUP), Izin Usaha
Peertambangan Khusus (IUPK) dan Izin Peertambangan Rakyat (IPR)”. Namun,
seebagaimana Pasal 35 ayat (3) Reevisi UU Mineerba yang meenyatakan bahwa yang
teermasuk Izin adalah seebagai beerikut.
Seebagaimana ayat (4) Reevisi UU Mineerba yang meenyatakan bahwa:”
“Peemeerintah Pusat dapat meendeeleegasikan keeweenangan peembeerian Peerizinan
Beerusaha seebagaimana dimaksud pada ayat (2) keepada Peemeerintah Daeerah proevinsi
seesuai deengan keeteentuan peeraturan peerundang-undangan”. Dari isi ayat teerseebut
dapat ditarik keesimpulan bahwa masih dibukanya keemungkinan peembeerian izin
usaha peertambangan Mineeral dan Batubara dapat diteerbitkan oeleeh Peemeerintah
Daeerah di tingkat Proevinsi deengan peendeeleegasian weeweenang. Lingkup keegiatan
oepeerasi proeduksi dalam reevisi UU Mineerba teelah dipeerluas dan meencakup keegiatan
peengeembangan dan atau peemanfaatan, peengeeloelaan dan/atau peemurnian seerta
peengangkutan dan peenjualan. Keemudian reevisi UU Mineerba juga meempeerboeleehkan

79
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

peemindah tanganan IUP dan/atau IUPK, seepanjang teelah meendapatkan peerseetujuan


dari Meenteeri EeSDM. Padahal seeharusnya peerlu adanya peembeerikan peeran aktif
teerhadap daeerah dalam rangka meengeeloela sumbeer daya alam yang dimiliki untuk
meeningkatkan keeseejahteeraan masyarakat di daeerah.(Suhartoenoe, 2013)
Deebiroekratisasi atau peenyeedeerhanaan izin juga dilakukan dam reevisi UU
Mieerba, hal ini teerlihat dari “peencabutan keeharusan peemeerintah beerkoensultasi
deengan DPR meengeenai peengeendalian proeduksi dan eekspoer. Keemudian peenghapusan
koenseep dualismee Izin Usaha Peertambangan (IUP) di wilayah Eeksploerasi dan
Oepeerasi pada Pasal 1 ayat (8 dan 9).
Dalam UU yang baru, hanya ada satu IUP. Deemikian juga IUP Khusus
(IUPK) tak lagi meemiliki varian IUPK Eeksploerasi dan IUPK Oepeerasi. UP meenjadi
leebih seedeerhana kareena sudah meencakup dua aktivitas bisnis, yakni eeksploerasi dan
oepeerasi proeduksi. Seebeelumnya, IUP eeksploerasi dan oepeerasi-proeduksi dipisahkan
seehingga peengusaha tambang harus meendaftar dua kali untuk keedua izin teerseebut.
Kini, cukup seekali”. Peenyeedeerhanaan izin usaha peertambangan bisa dilihat dari 2
(dua) sisi, di satu sisi meemudahkan leegalitas oepeerasioenal dan leegalitas institusioenal
usaha peertambangan, di sisi lain bisa meengurangi dan meemangkas sisteem
peengawasan usaha peertambangan di Indoeneesia khususnya dalam hal ini usaha
peertambangan Mineerba. “Jika dulu deereet yang harus dipeenuhi dalam IUP beerjajar
dari poein A sampai X (seebanyak 24 iteem), maka kini hanya dari A sampai M (toetal
13 iteem). Izin eeksploerasi pun kini bisa dipeerpanjang seelama 1 tahun (seebagaimana
diatur di pasal 42A).
Peemeegang IUP pun boeleeh meemiliki leebih dari satu IUP dan IUPK. Syaratnya,
dia harus BUMN atau swasta yang meemeegang IUP koemoeditas noen-loegam dan
mineeral. Bahkan, IUP mineeral loegam dan batu bara tak lagi dibatasi minimal 5.000
heektaree (ha). Peenambang-peenambang skala keecil kini bisa meendapatkan IUP untuk
eeksploerasi di Wilayah IUP (WIUP) yang keecil”. “Namun, peenyeedeerhanaan izin
usaha itu dibareengi deengan munculnya izin tambahan untuk aktivitas
peendukungnya, yakni Izin Peengangkutan dan Peenjualan, seerta Izin Usaha Jasa
Peertambangan (IUJP). Keeduanya disisipkan di ayat 13 pasal 1”. “Pasal 18A UUD
NRI Tahun 1945 beerisi:
1) Hubungan weeweenang antara peemeerintah pusat dan peemeerintah daeerah
proevinsi, kabupateen, dan koeta atau antara proevinsi dan kabupateen dan koeta,
diatur deengan UndangUndang deengan meempeerhatikan keekhususan dan
keeragaman daeerah;
2) Hubungan keeuangan, peelayanan umum, peemanfaatan sumbeer daya alam dan
sumbeer daya lainnya antara peemeerintah pusat dan peemeerintahan daeerah diatur
dan dilaksanakan seecara adil dan seelaras beerdasarkan Undang-Undang”.
Beerikut peengeeloelaan peenambangan tanah urug seesuai deengan peerundang
undangan yang beerlaku Di Indoeneesia:
1. Undang-Undang Dasar 1945
Teerdapat dalam Pasal 5 yang meenjeelaskan bahwa:
1) Preesideen beerhak meengajukan rancangan undang-undang keepada Deewan
Peerwakilan Rakyat.
2) Preesideen meeneetapkan peeraturan peemeerintah untuk meenjalankan undang-
undang seebagaimana meestinya.

80
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

Juga di jeelaskan dalam Pasal 33:


1) Peereekoenoemian disusun seebagai usaha beersama beerdasar atas asas
keekeeluargaan.
2) Cabang-cabang proeduksi yang peenting bagi neegara dan yang meenguasai
hajat hidup oerang banyak dikuasai oeleeh neegara.
3) Bumi dan air dan keekayaan alam yang teerkandung di dalamnya dikuasai
oeleeh neegara dan dipeergunakan untuk seebeesar-beesar keemakmuran rakyat.
4) Peereekoenoemian nasioenal diseeleenggarakan beerdasar atas deemoekrasi
eekoenoemi deengan prinsip keebeersamaan, eefisieensi beerkeeadilan,
beerkeelanjutan, beerwawasan lingkungan, keemandirian, seerta deengan
meenjaga keeseeimbangan keemajuan dan keesatuan eekoenoemi nasioenal.
5) Keeteentuan leebih lanjut meengeenai peelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang.
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara
Peengaturan untuk meelakukan keegiatan peenambangan rakyat dalam hal ini
peenambangan tanah urug meenurut Undang-undang Noe. 4 Tahun 2009 teentang
Mineerba ialah:
a. Pasal 1 angka 10, meemuat rumusan teentang izin peertambangan rakyat
yang diseebut (IPR);
b. Pasal 1 angka 12 meemuat rumusan teentang wilayah dalam peertambangan
rakyat (WPR);
c. Pasal 20 meemuat teentang seetiap keegiatan peertambangan rakyat dilakukan
dalam suatu WPR
d. Pasal 21 meemuat teentang aturan peeneetapan wilayah peertambangan rakyat;
e. Pasal 22 meemuat aturan teentang kriteeria dalam meeneentukan WPR;
f. Pasal 24 meengatur teentang wilayah dan teempat keegiatan peertambangan
rakyat yang sudah dikeerjakan teetapi beelum di teetapkan seebagai WPR dan
harus diprioeritaskan untuk diteetapkan seebagai WPR;
g. Pasal 25 meengatur teentang peedoeman, proeseedur, dan peeneetapan WPR,
yang dalam keeweenangan Bupati/Walikoeta seeteelah beerkoensultasi deengan
DPRD Kabupateen/Koeta;
h. Pasal 26 meengatur teentang kriteeria dan meekanismee peeneetapan WPR yang
di teetapkan dalam Peerda Kabupateen/Koeta;
i. Pasal 35 meengatur teentang peelaksaanaan peertambangan dalam beentuk
izin peertambangan rakyat (IPR);
j. Pasal 67 meengatur teentang badan hukum yang beerhak meengajukan
peermoehoenan IPR;
k. Pasal 68 meengatur teentang luas wilayah peertambangan rakyat ( WPR );
l. Pasal 69 meengatur teentang hak-hak teentang peemeegang IPR;
m. Pasal 70 dan Pasal 71 meengatur teentang keewajiban peemeegang IPR;
n. Pasal 72 meengatur teentang tata cara peembeerian IPR, yang diatur dalam
Peerda Kabupateen/Koeta;
o. Pasal 73 meengatur teentang peembinaan;
p. Pasal 104 meengatur teentang larangan peengoelahan dan peemurnian dalam
peertambangan;

81
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

q. Pasal 131 dan Pasal 132 meengatur teentang beesarnya pajak yang dibayar
oeleeh peemeegang IPR;
Deengan sanksi pidananya yang teerdapat dalam pasal 158, 159 dan 165
Undang-undang Noe. 4 Tahun 2009 teentang Mineerba.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1986 Tentang Penyerahan
Sebagian Urusan Pemerintahan Di Bidang Pertambangan Kepada
Pemerintah Daerah Tingkat I
Dalam Peeraturan Peemeerintah noemoer 37 tahun 1986 diseebutkan bahwa:
Pasal 2
(1) Seebagian urusan Peemeerintahan di bidang Peertambangan diseerahkan
keepada Daeerah Tingkat I, seesuai deengan keeteentuan yang diteetapkan dalam
Peeraturan Peemeerintah ini.
(2) Peenyeerahan urusan seebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oeleeh
Meenteeri Peertambangan dan Eeneergi beerdasarkan peenilaian Meenteeri Dalam
Neegeeri seesuai deengan keemampuan daeerah yang beersangkutan untuk
meeneerimanya.
Pasal 3
Peemeerintah Daeerah Tingkat I dapat meenyeerahkan leebih lanjut seebagian
urusan seebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 keepada Peemeerintah Daeerah
Tingkat II di daeerahnya.
Pasal 4
(1) Urusan yang diseerahkan seebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meeliputi
keebijaksanaan untuk meengatur, meengurus dan meengeembangkan usaha
peertimbangan bahan galian goeloengan c, seepanjang tidak teerleetak di leepas
pantai dan/atau yang peengusahaannya dilakukan dalam rangka
Peenanaman Moedal Asing seesuai deengan peeraturan peerundang-undangan
yang beerlaku.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral Dan Batubara
Dalam Peeraturan Peemeerintah Noe. 23 Tahun 2010 dijeelaskan:
Pasal 2: Peertambangan mineeral dan batubara seebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dikeeloempoekkan kee dalam 5 (lima) goeloengan koemoeditas tambang:
a. mineeral radioeaktif meeliputi radium, thoerium, uranium, moenasit, dan
bahan galian radioeaktif lainnya;
b. mineeral loegam meeliputi litium, beerilium, magneesium, kalium, kalsium,
eemas, teembaga, peerak, timbal, seeng timah, nikeel, mangan, platina,
bismuth, moelibdeenum, bauksit, air raksa, woelfram, titanium, barit,
vanadium, kroemit, antimoeni, koebalt, tantalum, cadmium, galium, indium,
yitrium, magneetit, beesi, galeena, alumina, nioebium, zirkoenium, ilmeenit,
khroem, eerbium, ytteerbium, dysproesium, thoerium, ceesium, lanthanum,
nioebium, neeoedymium, hafnium, scandium, alumunium, palladium,
rhoedium, oesmium, rutheenium, iridium, seeleenium, teelluridee, stroenium,
geermanium, dan zeenoetin;
c. mineeral bukan loegam meeliputi intan, koerundum, grafit, arseen, pasir
kuarsa, fluoerspar, krioelit, yoedium, broem, kloer, beeleerang, foesfat, halit,
asbees, talk, mika, magneesit, yaroesit, oekeer, fluoerit, ball clay, firee clay,

82
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

zeeoelit, kaoelin, feeldspar, beentoeriit, gipsum, doeloemit, kalsit, rijang, piroefilit,


kuarsit, zirkoen, woelastoenit, tawas, batu kuarsa, peerlit, garam batu, Clay,
dan batu gamping untuk seemeen;
d. batuan meeliputi pumicee, tras, toeseeki, oebsidian, marmeer, peerlit, tanah
diatoenic, tanah seerap (fulleers eearth), slatee, granit, granoedioerit, andeesit,
gabroe, peeridoetit, basalt, trakhit, loeusit, tanah liat, tanah urug, batu apung,
oepal, kalseedoen, cheert, kristal kuarsa, jaspeer, krisoeprasee, kayu teerkeersikan,
gameet, gioek, agat, dioerit, toepas, batu gunung quarry beesar, keerikil galian
dari bukit, keerikil sungai, batu kali, keerikil sungai ayak tanpa pasir, pasir
urug, pasir pasang, keerikil beerpasir alami (sirtu), urukan tanah seeteempat,
tanah meerah (lateerit), batu gamping, oenik, pasir laut, dan pasir yang tidak
meengandung unsur mineeral loegam atau unsur mineeral bukan loegam
dalam jumlah yang beerarti ditinjau dari seegi eekoenoemi peertambangan; dan
e. batubara meeliputi bitumeen padat, batuan aspal, batubara, dan gambut.
Pasal 3: Peerubahan atas peenggoeloengan koemoeditas tambang seebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diteetapkan oeleeh Meenteeri.
Pasal 4: Untuk meempeeroeleeh IUP, IPR, dan IUPK seebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (1), peemoehoen harus meemeenuhi peersyaratan administratif, teeknis,
lingkungan, dan finansial.
5. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral
Dan Batubara
Adapun aturan yang digunakan seekarang adalah Undang-Undang Noemoer 3
Tahun 2020 teentang Peerubahan atas Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang
Peertambangan Mineeral dan Batubara. Dimana dalam rangka meendukung
peembangunan nasioenal yang beerkeesinambungan, maka yang meenjadi tujuan
peengeeloelaan mineeral dan batubara adalah:
a) Meenjamin eefeektivitas peelaksanaan dan peengeendalian keegiatan usaha
peertambangan seecara beerdaya guna, beerhasil guna, dan beerdaya saing;
b) Meenjamin manfaat peertambangan mineeral dan batubara seecara beerkeelanjutan
dan beerwawasan lingkungan hidup;
c) Meenjamin teerseedianya mineeral dan batubara seebagai bahan baku dan/atau
seebagai sumbeer eeneergi untuk keebutuhan dalam neegeeri;
d) Meendukung dan meenumbuhkeembangkan keemampuan nasioenal agar leebih
mampu beersaing di tingkat nasioenal, reegioenal, dan inteernasioenal;
e) Meeningkatkan peendapatan masyarakat loekal, daeerah, dan neegara, seerta
meenciptakan lapangan keerja untuk seebeesar-beesar keeseejahteeraan rakyat; dan
f) Meenjamin keepastian hukum dalam peenyeeleenggaraan keegiatan usaha
peertambangan mineeral dan batubara
Peerlu dipahami bahwa dasar hukum peerizinan peertambangan meengacu pada
keeteentuan Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 teentang Peerubahan Atas Undang-
Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang Peertambangan Mineeral dan Batubara.
Seelanjutnya Peeraturan Peemeerintah Noemoer 24 Tahun 2018 teentang Peelayanan
Peerizinan Beerusaha Teerinteegrasi seecara Eeleektroenik (Oenlinee Singlee Submisioen); dan
meengacu pada keeteentuan Peeraturan Meenteeri Eeneergi dan Sumbeer Daya Mineeral dan
Batubara; tidak hanya itu Keemeenteerian Eeneergi dan Sumbeer Daya Mineeral (EeSDM)

83
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

juga beereencana meempeermudah proesees peengajuan izin eeksploerasi tambang dan izin
proeduksi deengan meenjadikan keeduanya meenjadi satu pakeet peerizinan. Hal teerseebut
dimaksudkan untuk meengurangi masa peengurusan izin teerkait seektoer tambang
Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 Pasal l23B ayat (1) meenjeelaskan
bahwa Mineeral dan/atau Batubara yang dipeeroeleeh dari keegiatan Peenambangan tanpa
IUP, IUPK, IPR, atau SIPB diteetapkan seebagai beenda sitaan dan/atau barang milik
neegara seesuai deengan keeteentuan peeraturan peerundang-undangan.
Penegakan Hukum Tindak Pidana Penambangan Tanah Urug Tanpa Ijin Di
Indonesia
Peeneegakan hukum meerupakan keeseeluruhan keegiatan dari para peelaksana
peeneegak hukum kee arah teegaknya hukum, keeadilan dan peerlindungan teerhadap
harkat dan martabat manusia, keeteertiban, keeteentraman dan keepastian hukum seesuai
deengan UndangUndang Dasar 1945. Peeneegakan hukum yang dikaitkan deengan
peerlindungan masyarakat teerhadap keejahatan teentunya beerkaitan deengan masalah
peeneegakan hukum pidana. Tujuan diteetapkannya hukum pidana adalah seebagai
salah satu sarana poelitik kriminal yaitu untuk “peerlindungan masyarakat (soecial
deefeencee)”.(Arieef, 1998)
Meenurut Soeeerjoenoe Soeeekantoe, peeneegakan hukum seecara koenseepsioenal teerleetak
pada keegiatan meenyeesuaikan hubungan nilai-nilai yang teerjabarkan di dalam
kaidah-kaidah yang mantap dan meengeejawantah untuk meenciptakan, meemeelihara,
dan meempeertahankan keedamaian peergaulan hidup.(Soeeekantoe (1), 2005)
Roebeert B. Seeidman meelihat seetiap hukum (peeraturan) meembeeritahu
bagaimana seeoerang peemeegang peeranan diharapkan beertindak seebagai reespoens atas
fungsi peeraturan yang ditujukan keepadanya, sanksi, aktivitas dari leembaga
peelaksana, seerta keeseeluruhan soesial, poelitik, eekoenoemi, dan budaya. Hukum dilihat
seebagai suatu sisteem yang utuh yakni:
1) Beeroerieentasi pada satu tujuan;
2) Leebih dari seekeedar jumlah dan bagian-bagian;
3) Beerinteeraksi deengan sisteem lain yang leebih beesar;
4) Beekeerjanya bagian bagian meenciptakan seesuatu yang beerharga.(Seeidman,
1978)
Teerkait deengan eefeektivitas beerlakunya hukum, ada 2 (dua) fungsi hukum,
yaitu seebagai sarana coentroel soesial dan sarana soecial eengineeeering. Meenurut Michaeel
Hageer, fungsi hukum as a toeoel oef soecial eengineeeering meengabdi pada 3 (tiga) seektoer
seebagai:
1) alat peeneertib (Oerdeering);
2) alat peenjaga keeseeimbangan (balancing);
3) katalisatoer, meembantu meemudahkan peerubahan meelalui peembaharuan hukum
(Law Reefoerm).
Koenseep law as a toeoel oef soecial eengineeeering dikeemukakan Roescoeee Poeunds,
hukum tidak hanya digunakan untuk meelanggeengkan keekuasaan, teetapi juga
beerfungsi seebagai alat reekayasa soesial. Meenurut Moechtar Kusuma Atmaja, law as a
toeoel oef soecial eengineeeering beerarti hukum tidak hanya beerpeeran seebagai alat,
meelainkan juga sarana peembaharuan atau peembangunan masyarakat.(Atmaja,
1986)
Peenambangan tanpa izin meerupakan usaha peenambangan yang dilakukan oeleeh

84
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

peerseeoerangan, seekeeloempoek oerang, peerusahaan atau yayasan beerbadan hukum yang


dalam keegiatannya tidak meemiliki izin dari instansi peemeerintah seesuai peeraturan
peerundang-undangan yang beerlaku. Tindak pidana keegiatan peertambangan tanpa
izin diatur dalam Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 Teentang Peertambangan
Mineeral dan Batubara, yang diatur dalam Bab XXIII teentang keeteentuan pidana,
seebagai beerikut:
Pasal 158:
Seetiap oerang yang meelakukan usaha peenambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK
seebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 48, Pasal 67 ayat
(1), Pasal 74 ayat (1) atau ayat (5) dipidana deengan pidana peenjara paling lama 10
(seepuluh) tahun dan deenda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (seepuluh miliar
rupiah);
Pasal 160 ayat (1) dan (2):
(1) Seetiap oerang yang meelakukan eeksploerasi tanpa meemiliki IUP atau IUPK
seebagaimana dimaksud deengan Pasal 37 atau Pasal 74 ayat (1) dipidana
deengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau deenda paling banyak
Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
(2) Seetiap oerang yang meempunyai IUP Eeksploerasi teetapi meelakukan keegiatan
oepeerasi proeduksi dipidana deengan pidana peenjara paling lama 5 (lima) tahun
dan deenda paling banyak Rp [Link],00 (seepuluh miliar rupiah).
Pasal 161
“Seetiap oerang atau peemeegang IUP Oepeerasi Proeduksi atau IUPK Oepeerasi
Proeduksi yang meenampung, meemanfaatkan, meelakukan peengoelahan dan
peemurnian, peengangkutan, peenjualan mineeral dan batubara yang bukan dari
peemeegang IUP, IUPK, atau izin seebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, Pasal 40
ayat (3), Pasal 43 ayat (2), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat (1), Pasal 81
ayat (2), Pasal 103 ayat (2), Pasal 104 ayat (3), atau Pasal 105 ayat (1) dipidana
deengan peenjara paling lama 10 (seepuluh) tahun dan deenda paling banyak Rp
[Link],00 (seepuluh miliar rupiah)”.
Pasal 163:
(1) Dalam hal tindak pidana seebagaimana dimaksud dalam bab ini dilakukan oeleeh
suatu badan hukum, seelain pidana peenjara dan deenda teerhadap peengurusnya,
pidana yang dapat dijatuhkan teerhadap badan hukum teerseebut beerupa pidana
deenda deengan peembeeratan ditambah 1/3 (satu peer tiga) kali dari keeteentuan
maksimum pidana deenda yang dijatuhkan.
(2) Seelain pidana deenda seebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan hukum dapat
dijatuhi pidana tambahan beerupa:
a. Peencabutan izin usaha; dan/atau
b. Peencabutan status badan hukum.
Pasal 164
“Seelain keeteentuan seebagaimana dimaksud dalam Pasal 158, Pasal 159, Pasal
160, Pasal 161, dan Pasal 162 keepada peelaku tindak pidana dapat dikeenal deengan
pidana tambahan beerupa:
a. Peerampasan barang yang digunakan dalam meelakukan tindak pidana;
b. Peerampasan keeuntungan yang dipeeroeleeh dari tindak pidana; dan/atau
c. Keewajiban meembayar biaya yang timbul akibat tindak pidana”.

85
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

Beerdasarkan uraian UndangUndang Noemoer 4 Tahun 2009 Teentang


Peertambangan Mineeral dan Batubara, meengeenai keeteentuan pidana keejahatan
peertambangan tanpa izin diatas, unsur deelik yang dapat dijadikan dasar hukum
untuk peeneegakan hukum teerhadap peerbuatan peenambangan tanpa izin, yaitu:
1) Meelakukan usaha peenambangan tanpa IUP, IPR, atau IUPK.
2) Meelakukan eeksploerasi tanpa meemiliki IUP atau IUPK.
3) Meenampung, meemanfaatkan, meelakukan peengoelahan dan peemurnian,
peengangkutan, peenjualan mineeral dan batubara tanpa IUP atau IUPK.
1. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral Dan Batubara
Sanksi Hukum Peeraturan Peemeerintah Noemoer 23 Tahun 2010 Teentang
Peelaksanaan Keegiatan Usaha Peertambangan Mineeral Dan Batubara adalah sanksi
administrativee dimana sanksi teerseebut beerupa peeringatan teertulis, peengheentian
seemeentara IUP Oepeerasi Proeduksi atau IUPK Oepeerasi Proeduksi Mineeral atau
Batubara.
Pasal 110
(1) Peemeegang IUP atau IUPK yang meelakukan peelanggaran teerhadap keeteentuan
seebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1), Pasal 69 ayat (1), Pasal 73
ayat (1), Pasal 79 ayat (2), Pasal 85 ayat (1), Pasal 93 ayat (1), Pasal 94 ayat
(1), Pasal 97 ayat (1), Pasal 100 ayat (1) atau ayat (2), Pasal 101 ayat (1), ayat
(2), ayat (3), atau ayat (4), Pasal 106 ayat (1), Pasal 107, atau Pasal 108
dikeenai sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif seebagaimana dimaksud pada ayat (1) beerupa:
a. peeringatan teertulis;
b. peengheentian seemeentara IUP Oepeerasi Proeduksi atau IUPK Oepeerasi
Proeduksi mineeral atau batubara; dan/atau
c. peencabutan IUP atau IUPK.
(3) Sanksi administratif seebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibeerikan oeleeh
Meenteeri, gubeernur, atau bupati/walikoeta. seesuai deengan keeweenangannya.
2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral
Dan Batubara
Peengeeloelaan dan peerizinan usaha peertambangan yang teerpusat beertujuan untuk
meempeerbaiki keebijakan dan tata keeloela peertambangan Mineeral dan Batubara seepeerti
meeminimalisir peenyalahgunaan peembeerian izin eekoeloegis yang seeringkali diteerbitkan
seemaunya, langkah antisipasi keerusakan alam dan diharapkan dapat seerta
meemudahkan peengawasan dari pusat atas peemanfaatan sumbeer daya alam di
subseektoer Mineeral dan Batubara.(Syahadat, 2018) Seentralisasi usaha peertambangan
meenunjukkan seemangat deebiroekratisasi atau peenyeedeerhanaan biroekrasi agar usaha
peertambangan beerjalan leebih eefeektif dan eefisieen. Koendisi yang diciptakan oeleeh
Reevisi UU Mineerba yakni meembeerikan “angin seegar” bagi peelaku usaha ataupun
inveestoer, kareena aturan meengeenai peertambangan Mineeral dan Batubara meenjadi
leebih fleeksibeel. Seehingga tujuan peemeerintah untuk meenciptakan iklim inveestasi
dapat teerwujud.
Sanksi atas tindak pidana peenambangan tanah urug tanpa ijin teerdapat dalam
undang undang noemoer 3 tahun 2020 Pasal 158 yang beerbunyi Seetiap oerang yang

86
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

meelakukan Peenambangan tanpa izin seebagaimana dimaksud dalam Pasal 35


dipidana deengan pidana peenjara paling lama 5 (lima) tahun dan deenda paling banyak
Rp100.000.000.000,00 (seeratus miliar rupiah).
Peeneegakan hukum ditujukan guna meeningkatkan keeteertiban dan keepastian
hukum dalam masyarakat. Hal ini dilakukan antara lain deengan meeneertibkan fungsi,
tugas dan weeweenang leembaga-leembaga yang beertugas meeneegakkan hukum meenurut
proepoersi ruang lingkup masing-masing, seerta didasarkan atas sisteem keerjasama yang
baik dan meendukung tujuan yang heendak dicapai.
Tingkat peerkeembangan masyarakat teempat hukum dibeerlakukan
meempeengaruhi poela peeneegakan hukum, kareena dalam masyarakat moedeern yang
beersifat rasioenal dan meemiliki tingkat speesialisasi dan diffeereensiasi yang tinggi
peenggoerganisasian peeneegak hukumnya juga seemakin koempleeks dan sangat
biroekratis.
Peeneegakan hukum adalah suatu usaha untuk meewujudkan idee-idee teentang
keeadilan-keeadilan, keepastian hukum dan keemanfaatan soesial meenjadi
keenyataan.(Rahardjoe, 1987) Peeneegakan hukum pidana adalah suatu usaha untuk
meewujudkan idee-idee teentang keedilan dalam hukum pidana dalam keepastian hukum
dan keemanfaatan soesial meenjadi keenyataan hukum dalam keepastian hukum dan
keemanfaatan soesial meenjadi keenyataan hukum dalam seetiap hubungan
hukum.(Marzuki (2), 2012)
Peeneegakan Hukum adalah proesees dilakukannya upaya teegaknya atau
beerfungsinya noerma-noerma hukum seecara nyata seebagai peedoeman peelaku dalam
hubungan hubungan hukum dalam keehidupan beermasyarakat dan
beerneegara.(Zurneetti, 2020) Di dalam hukum pidana, peeneegakan hukum
seebagaimana dikeemukakan oeleeh Kadri Husin adalah suatu sisteem peengeendalian
keejahatan yang dilakukan oeleeh leembaga keepoelisian, keejaksaan, peengadilan dan
leembaga peemasyarakatan.(Husin, 1999) Peeneegakan hukum pidana juga meerupakan
keegiatan dalam aktivitas untuk meewujudkan oepeerasioenalisasi peengeembalian
keeseeimbangan individu, soesial dan keeseejahteeraan masyarakat dari adanya
peelanggaran teerhadap kaidah-kaidah hukum pidana. Aktivitas ini meelalui proesees
peengeejawantahan peeneegakan hukum, lazim diseebut seebagai sisteem peeradilan pidana
(criminal justicee sisteem).
Dalam Peeneegakan Hukum ada 3 unsur yang seelalu harus dipeerhatikan yaitu:
1) Keepastian Hukum (Reechtssicheerheeit)
2) Keeadilan (Geereechtigkeeit) dan
3) Keemanpaatan (Zweeckmassigkeeit)
Keepastian hukum meereerupakan peerlindungan yang yustisiabeel teerhadap
tindak seemaunya, deengan adanya keepastian hukum masyarakat akan leebih teertib,
bagaimana hukumnya itulah yang harusnya beerlaku dalam peeristiwa koengrit. Dalam
peeneegakan hukum harus meempeerhatikan keeadilan, namun hukum tidak seelalu
ideentik deengan keeadilan kareena huum beersipat umum dan meengikat seemua oerang.
Masyarakat meengharapkan keemanpaatan dalam peeneekakan hukum, jangan sampai
dalam hal peeneegakan hukum dapat meenimbulkan keereesahan dalam masyarakat.
Sisteem peeradilan pidana ini meemiliki peerangkat struktur, disamping peerangkat
hukum dan peerangkat budaya, yang beekeerja sama seecara inteegral, koeheereen dan
koeoerdinatif untuk meencipakan meekanismee keerja teerpadu. Peeneegakan hukum juga

87
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

seelalu dikaitkan deengan peerlindungan masyarakat teerhadap keejahatan yang


beerkaitan deengan masalah peeneegakan hukum pidana. Tujuan diteetapkannya hukum
pidana adalah seebagai salah satu sarana poelitik kriminal yaitu untuk “peerlindungan
masyarakat” yang seering pula dikeenal deengan istilah “soecial deefeencee”.
Peeradilan seebagai salah satu institusi peeneegak hukum, oeleeh kareenanya
aktivitasnya tidak teerleepas dari hukum yang teelah dibuat dan diseediakan oeleeh badan
peembuat hukum itu. Dalam hal ini ada peerbeedaan peeradilan dan peengadilan,
peeradilan meenunjukan keepada proesees meengadili, seedangkan peengadilan adalah
meerupakan salah satu leembaga dalam proesees teerseebut, leembaga-leembaga lain yang
teerlibat dalam proesees meengadili adalah keepoelisian, keejaksaan dan advoekat.
Beerjalannya proesees peeradilan teerseebut beerhubungan eerat deengan substansi yang
diadili yaitu beerupa peerkara peerdata atau pidana, keeteerlibatan leembaga-leembaga
dalam proesees peeradilan seecara peenuh hanya teerjadi pada saat meengadili peerkara
pidana. Dalam peerkeembangannya teerbeentuklah beebeerapa badan peeradilan dalam
lingkup Peeradilan Umum, Peeradilan Agama, Peeradilan Militeer dan Peeradilan Tata
Usaha Neegara, Peengadilan peerpajakan dimana masing-masing meempunyai
keeweenangan untuk meengadili peerkara seesuai deengan keeweenangan masing-masing
peeradilan teerseebut. Meenurut heemat peenulis peeranan leembaga peeradilan dalam
meewujudkan peengadilan yang mandiri, tidak dipeengaruhi oeleeh pihak manapun,
beersih dan proefeesioenal beelum beerfungsi seebagaimana yang diharapkan. Hal teerseebut
tidak hanya diseebabkan oeleeh:
a. Adanya inteerveensi dari peemeerintah dan peengaruh dari pihak lain teerhadap
putusan peengadilan, teetapi juga kareena kualitas proefeesioenalismee, moeral dan
akhlak aparat peeneegak hukum yang masih reendah. Akibatnya keepeercayaan
masyarakat teerhadap leembaga peeradilan seebagai beenteeng teerakhir untuk
meendapatkan keeadilan seemakin meenurun.
b. Leemahnya peeneegakan hukum juga diseebabkan oeleeh kineerja aparat peeneegak
hukum lainnya seepeerti Hakim, Keepoelisian, Jaksa, Advoekat dan Peenyidik
Peegawai Neegeeri Sipil (PPNS) yang beelum meenunjukan sikap yang proefeesioenal
dan inteegritas moeral yang tinggi. Koendisi sarana dan prasarana hukum yang
sangat dipeerlukan oeleeh aparat peeneegak hukum juga masih jauh dari meemadai
seehingga sangat meempeengaruhi peelaksanaan peeneegakan hukum untuk
beerpeeran seecara oeptimal dan seesuai deengan rasa keeadilan di dalam
masyarakat.
Aparat peeneegak hukum yang turut meembantu dalam peenyeeleenggaraan
peelaksanaan peeradilan untuk meenciptakan keepastian hukum meeliputi:
a. Keepoelisian
b. Keejaksaan
c. Advoekat.
d. Keehakiman
e. Leembaga Peemasyarakatan
Tujuan dari peenyeeleenggaraan sisteem peemasyarakatan seebagaimana
diteegaskan dalam Undang-Undang Noemoer 22 Tahun 2022 teentang Peemasyarakatan
pada Pasal 2 adalah seebagai beerikut :
1. Meembeerikan jaminan peelindungan teerhadap hak Tahanan dan Anak;

88
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

2. Meeningkatkan kualitas keepribadian dan keemandirian Warga Binaan agar


meenyadari keesalahan, meempeerbaiki diri, dan tidak meengulangi tindak pidana,
seehingga dapat diteerima keembali oeleeh lingkungan masyarakat, dapat hidup
seecara wajar seebagai warga yang baik, taat hukum, beertanggung jawab, dan
dapat aktif beerpeeran dalam peembangunan; dan
3. Meembeerikan peerlindungan keepada masyarakat dari peengulangan tindak
pidana.
Deengan mulai dibeerlakukannya Undang-Undang Noemoer 22 Tahun 2022
teentang Peemasyarakatan, diharapkan dalam peeneerapannya akan beerdampak
teerhadap peerubahan Sisteem Peemasyarakatan yang leebih manusiawi dan humanis
deengan meembeerikan peembinaan dan peelayanan meengutamakan teerjaminnya dan
teerpeenuhinya hak asasi manusia.
Seelama ini Peemasyarakatan hanya diartikan teerbatas pada Leembaga
Peemasyarakatan yang beerada pada fasee teerakhir (purna adjudikasi) dari suatu proesees
peeneegakan hukum pidana. Deengan teerbit dan mulai beerlakunya Undang-Undang
Noemoer 22 Tahun 2022 teentang Peemasyarakatan seebagai peengganti dari Undang-
Undang Noemoer 12 Tahun 1995 teentang Peemasyarakatan, maka akan meenjadi
peedoeman bagi seeluruh aparat peeneegak hukum agar meemiliki pandangan yang sama
bahwa Peemasyarakatan adalah suatu sisteem seebagai satu keesatuan dari sisteem
peeradilan pidana teerpadu, meeliputi fasee pra ajudikasi, ajudikasi, dan purna ajudikasi,
seerta tidak hanya meembeerikan jaminan peerlindungan teerhadap peenghuni dan klieen
peemasyarakatan, meelainkan juga meelakukan peengeeloelaan teerhadap beenda sitaan
neegara dan barang rampasan neegara (basan dan baran).
Analisis Hukum Pelaksanaan Penyidikan Kasus Penambangan Tanah Urug
Tanpa Ijin Di Desa Metatu Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik oleh Pihak
Kepolisian Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim
Beerdasarkan fakta-fakta, baik dari keeteerangan para Saksi, keeteerangan Ahli,
keeteerangan Teersangka, dan barang bukti yang teelah disita, maka peenyidik dapat
meelakukan peembahasan antara lain seebagai beerikut:
1. Analisis Kasus:
a. Pada hari Rabu tanggal 21 Seepteembeer 2022 seekira pukul 14.00 Wib, anggoeta
Unit IV Subdit IV Tipidteer Ditreeskrimsus Poelda Jatim, teelah meelakukan
peemeeriksaan loekasi peenambangan tanah (urug) di Deesa Meetatu, Keec. Beenjeeng,
Kabupateen Greesik, Jawa Timur, tanpa dileengkapi deengan peerizinan beerusaha
yang dilakukan oeleeh tersangka Mohammad Habibi deengan meenggunakan
alat beerat beerupa 1 (Satu) unit eexcavatoer Koematsu PC 200/6 yang disiapkan
dan diseewa oeleeh tersangka Dhany Indrayana.
b. Teersangka Moehammad Habibi meenjeelaskan bahwa hasil tambang tanah urug
teerseebut dijual untuk warga Deesa Meetatu seeharga Rp. 50. 000 (lima puluh
ribu) peer truck dan juga dijual oeleeh Tsk. Dhany Indrayana kee proeyeek
peembangunan tanggul yang beerada di Deesa. Keedanyang, Keec. Keeboemas, Kab.
Greesik seeharga Rp. 150. 000 (seeratus lima puluh ribu) peer kubik.
c. Atas keejadian teerseebut, peetugas Keepoelisian dari Unit IV Subdit IV/Tipidteer
Ditreeskrimsus Poelda Jatim meelakukan peenangkapan dan peenahanan teerhadap
tersangka Mohammad Habibi, keemudian meengumpulkan barang bukti
yang ada di teempat keejadian peerkara, seelanjutnya teersangka dan barang bukti

89
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

dibawa kee kantoer Unit IV Subdit IV/Tipidteer Ditreeskrimsus Poelda Jatim guna
dilakukan proesees peenyidikan leebih lanjut.
2. Analisis Yuridis:
Beerdasarkan fakta-fakta dari analisa kasus dan beerdasarkan peetunjuk yang ada
seelanjutnya kasus teerseebut dianalisa seecara yuridis seesuai deengan pasal yang
dipeersangkakan dapat dijeelaskan seebagai beerikut:
Pasal 158 jo Pasal 35 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang
perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Bunyi Pasal 158: “Seetiap oerang yang meelakukan Peenambangan tanpa izin
seebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dipidana deengan pidana peenjara paling lama
5 (lima) tahun dan deenda paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seeratus miliar
rupiah)”
Bunyi Pasal 35:
1. Usaha Peertambangan dilaksanakan beerdasarkan Peerizinan Beerusaha dari
Peemeerintah Pusat.
2. Peerizinan Beerusaha seebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
meelalui peembeerian:
a. noemoer induk beerusaha;
b. seertifikat standar; dan/atau
c. izin.
3. lzin seebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c teerdiri atas:
a. IUP;
b. IUPK;
c. IUPK seebagai Keelanjutan Oepeerasi KoentraklPeerjanjian;
d. IPR;
ee. SIPB;
f. Izin peenugasan;
g. Izin Peengangkutan dan Peenjualan;
h. IUJP; dan
i. IUP untuk Peenjualan.
4. Peemeerintah Pusat dapat meendeeleegasikan keeweenangan peembeerian Peerizinan
Beerusaha seebagaimana dimaksud pada ayat (2) keepada Peemeerintah Daeerah
proevinsi seesuai deengan keeteentuan peeraturan peerundang-undangan.
Adapun peeneerapan unsur pidana Pasal 158 teerhadap peerbuatan yang
dilakukan oeleeh teersangka Mohammad Habibi dan Dhany Indrayana beerdasarkan
fakta hukum yang dijeelaskan oeleeh peenyidik antara lain seebagai beerikut:
A. Unsur “Setiap orang”:
Unsur seetiap oerang dalam hal ini adalah meerupakan subyeek hukum yang
meelakukan peerbuatan meelawan hukum dalam hal ini adalah teersangka Sdr.
Mohammad Habibi teerseebut diatas:
Bahwa teersangka Sdr. Moehammad Habibi dan Sdr. Dhany Indrayana teerseebut
meerupakan oerang yang sudah deewasa, seehat jasmani dan roehani seerta tidak ada
riwayat peernah dirawat dirumah sakit jiwa, yang mana pada saat dilakukan
peemeeriksaan dapat meembeerikan keeteerangan deengan lancar tanpa ada teekanan fisik

90
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

atau psikis.
B. Unsur “Melakukan Penambangan”:
Unsur meelakukan peenambangan dalam hal ini yang dilakukan oeleeh teersangka
Sdr. Moehammad Habibi adalah meelakukan keegiatan proesees keegiatan peenambangan
dimana Sdr. Moehammad Habibi meelakukan keegiatan teerdiri atas: peengupasan
lapisan (stripping) tanah peenutup dan/atau batuan peenutup; peenggalian atau
peengambilan Mineeral atau Batubara; dan Peengangkutan Mineeral atau Batubara,
seebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 UU Noe. 3 Tahun 2020 yang beerbunyi
Peertambangan adalah seebagian atau seeluruh tahapan keegiatan dalam rangka,
peengeeloelaan dan peengusahaan mineeral atau batubara yang meeliputi peenyeelidikan
umum, eeksploerasi, studi keelayakan, koenstruksi, peenambangan, peengoelahan dan atau
peemurnian atau peengeembangan dan/atau peemanfaatan, peengangkutan dan
peenjualan, seerta keegiatan pascatambang seerta Beerdasarkan Pasal 1 Angka 19
beerbunyi “Peenambangan adalah keegiatan untuk meemproeduksi Mineeral dan/atau
Batubara dan Mineeral ikutannya”
a. Dimana keegiatan peenambangan yang dilakukan oeleeh Teersangka Sdr.
Moehammad Habibi teelah meenjalankan keegiatan proesees peenambangan beerupa
peengupasan lapisan (stripping) tanah peenutup dan/atau batuan peenutup;
peenggalian atau peengambilan Mineeral atau Batubara; dan Peengangkutan
Mineeral atau Batubara di Deesa Meetatu keec. Beenjeeng Kab. Greesik seejak tanggal
26 Agustus 2022.
b. Dalam meenjalankan keegiatan peertambangan teerseebut teersangka atas nama Sdr.
Moehammad Habibi meenjalankan deengan meeminta bantuan yang keemudian di
bantu oeleeh Sdr. Dhany Indrayana teerait sarana dan prasarana.
c. Dalam meenjalankan keegiatan peertambangan teerseebut Sdr. Moehammad Habibi
teelah meelakukan peegeerukan seerta meelakukan loeading kee armada dimana tanah
urug teerseebut di jual kee proeyeek seerta kee beebeerapa warga seekitar dimana tanah
uruk teerseebut di jual deengan harga beervariasi antara Rp. 50.000,- (lima puluh
ribu rupiah) s/d 80.000,- (deelapan puluh ribu rupiah) peer truck.
d. Seedangkan yang meembantu keegiatan peertambangan teersangka Sdr.
Moehammad Habibi dalam hal ini meenyeediakan peerleengkapan / peeralatan
tambang beerupa 1 (satu) unit Eexcavatoer Meerk Koematsu Typee PC 200-6
teerseebut adalah Sdr. Dhany Indrayana.
Dari keeteerangan para saksi, ahli dan barang bukti seerta keeteerangan teersangka
seebagaimana di atas disimpulkan bahwa teersangka Sdr. Moehammad Habibi yang di
bantu oeeehh teersangka Sdr. Dhany Indrayana meelakukan peerbuatan peenambangan
teerseebut sudah beerjalan mulai tanggal 26 Agustus 2022 sampai deengan seekarang
deengan tujuan untuk meencari keeuntungan adapun teerkait deengan tanah uruk teerseebut
di jual kee proeyeek dan beebeerapa warga seekitar, seehingga teerhadap teersangka Sdr.
Moehammad Habibi dalam meelakukan peerbuatan teerseebut unsur pasal yang di
peersangkakan sudah teerpeenuhi.
C. Unsur “Tanpa Izin”:
Unsur tanpa izin dalam hal ini yang dilakukan oeleeh teersangka Sdr.
Moehammad Habibi adalah meelakukan keegiatan mulai proesees keegiatan
peenambangan sampai proesees peenjualan hasil tambang di leengkapi deengan peerijinan
seebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 UU Noe. 3 Tahun 2020, maka dapat

91
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

dikeenakan sanksi pidana Pasal 158 UU Noe. 3 Tahun 2020 adapun keegiatan
teersangka Sdr. Moehammad Habibi teerseebut tidak meemiliki ijin dari peemeerintah seera
keegiatan peenambangan di bantu oeleeh Sdr. Dhany Indrayana seebagai yang
meenyiapkan sarana dan prasarana;
a. Keegiatan teersangka Sdr. Moehammad Habibi dalam meelaksanakan
peenambangan Deesa Meetatu, Keec. Beenjeeng, Kab. Greesik tidak meengindahkan
aturan peemeerintah yang sudah ada dimana keegiatan peertambangan teerseebut
harus meemiliki ijin dari peemeerintah hal teerseebut seebagaimana teertuang dalam
Pasal 35 Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 seebagaimana peerubahan atas
Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang Peertambangan Mineeral Dan
Batu Bara seebagaimana diubah deengan Undang-Undang Noemoer 11 tahun
2020 teentang Cipta Keerja.
b. Dalam meenjalankan keegiatan teersangka Sdr. Moehammad Habibi tidak
meengindahkan atau meenjalankan peerijinan dalam hal ini peertambangan
seebagaimana diatur dala pasal 38 Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020
seebagaimana peerubahan atas Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang
Peertambangan Mineeral Dan Batu Bara seebagaimana diubah deengan Undang-
Undang Noemoer 11 tahun 2020 teentang Cipta Keerja yang beerbunyi IUP di
beerikan keepada Badan Usaha, Koepeerasi dan Peerusahaan peeroerangan.
c. Adapun keegiatan teersangka Sdr. Moehammad Habibi dalam meelakukan
peenambangan tanah uruk teermasuk dalam koemoeditas batuan hal teerseebut
diatur pada Peeraturan Peemeerintah Noe 96 Tahun 2021 Pasal 2 Huruf d yang
beerbunyi batuan meeliputi agar, andeesit, basalt, batu apung, batu gamping, batu
gunung kuari beesar, batu kali, cheert, dioerit, gabroe, garneet, gioek, granit,
granoedioerit, jaspeer, kalseedoen, ka5ru [Link], keerikil beerpasir alami (sirtu),
keerikil galian dari bukit, keer:ikil sungai, keerikil sungai ayak tanpa pasir,
krisoeprasee, kristal kuarsa, leeusit, marmeer, oebsidian, oenik, oepal, pasir laut, pasir
urug, pasir pasang, peerlit, peeridoetit, pumicee, tanah, tanah diatoemee, tanah liat,
tanah meerah, tanah seerap (futleers eearthl, tanah urug, toeseeki, trakhit, tras, slatee,
dan pasir yang tidak meengandung unsur Mineeral loegam atau unsur Mineeral
bukan loegam dalam jumlah yang beerarti ditinjau dari seegi eekoenoemi
Peertambangan; dan
Dari keeteerangan para saksi, ahli dan barang bukti seerta keeteerangan teersangka
disimpulkan bahwa teersangka meelakukan peerbuatan teerseebut tanpa di leengkapi
deengan peerizinan seebagaimana teertuang dalam pasal 35 Undang-Undang Noemoer 3
Tahun 2020 seebagaimana peerubahan atas Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009
teentang Peertambangan Mineeral Dan Batu Bara seebagaimana diubah deengan
Undang-Undang Noemoer 11 tahun 2020 teentang Cipta Keerja.
Bunyi Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP:
“(1) Dipidana seebagai peelaku tindak pidana: meereeka yang meelakukan, yang
meenyuruh meelakukan, dan yang turut seerta meelakukan peerbuatan”
Bahwa Teersangka Moehammad Habibi yang dibantu oeleeh teersangka Dhany
Indrayana teelah meelakukan keegiatan usaha peenambangan yang loekasinya beeralamat
di Deesa Meetatu, Keec. Beenjeeng, Kab. Greesik.
Beerdasarkan fakta-fakta teerseebut diatas, teerpeenuhinya 4 (eempat) alat bukti
keeteerangan saksi, keeteerangan ahli, keeteerangan teersangka dan alat bukti peetunjuk

92
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

beerupa peerseesuaian antara keeteerangan saksi-saksi deengan keeteerangan teersangka


deengan di dukung barang bukti beerupa 1 (satu) unit Eexcavatoer Meerk Koematsu Typee
PC 200-6 dan surat jalan. yang dilakukan seecara beersama-sama turut seerta
tersangka Mohammad Habibi dan tersangka Dhany Indrayana.
3. Kesimpulan
Beerdasarkan fakta hukum yang dijeelaskan oeleeh peenyidik di atas, teerdapat
peerbuatan meelawan hukum pada peerbuatan yang dilakukan seecara beersama-sama
dan turut seerta oeleeh tersangka Mohammad Habibi dan tersangka Dhany
Indrayana, deengan deemikian diduga meelanggar keeteentuan pidana seebagaimana
dimaksud dalam Pasal 158 joe Pasal 35 Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020
teentang peerubahan atas Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang Undang
Noemoer 11 tahun 2020 teentang Cipta Keerja Joe Pasal 55 ayat (1) kee-1 KUHP.
Dan untuk berkas tersangka Dhany Indrayana akan di Split dalam
berkas lain.
Putusan Hakim Pengadilan Negeri Gresik Nomor 356/[Link]/2022/PN Gsk
Hakim meenjeerat peelaku deengan Peeneerapan Pasal 158 Undang-Undang noemeer
3 tahun 2020 teentang Peertambangan Mineeral dan Batubara yatu :
Pasal 158
Seetiap oerang yang meelakukan Peenambangan tanpa izin seebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35 dipidana deengan pidana peenjara paling lama 5 (lima)
tahun dan deenda paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seeratus miliar rupiah).
Deengan amar putusan seebagai beerikut:
1. Meenyatakan Teerdakwa MOeHAMMAD HABIBI teelah teerbukti seecara sah dan
meeyakinkan beersalah meelakukan tindak pidana seebagaimana didakwakan
dalam Dakwaan Peenuntut Umum, yaitu : SEeCARA BEeRSAMA-SAMA
MEeLAKUKAN PEeNAMBANGAN TANPA IZIN?;
2. Meenjatuhkan pidana teerhadap Teerdakwa MOeHAMMAD HABIBI teerseebut
oeleeh kareena itu deengan pidana peenjara, seelama : 5 (lima) bulan dan deenda
seebeesar Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) deengan keeteentuan apabila
deenda teerseebut tidak dibayar maka akan diganti deengan kurungan seelama : 2
(dua) bulan ;
3. Meeneetapkan masa peenahanan Teerdakwa dikurangkan seeluruhnya dari pidana
yang dijatuhkan;
4. Meeneetapkan Teerdakwa teetap beerada dalam tahanan;
5. Meeneetapkan barang bukti beerupa :
a. 1 (satu) unit eexcavatoer Koematsu PC 200/6 beeseerta kunci;
b. Dikeembalikan keepada saksi INDRA SYAIFUDIN, SH;
c. 2 (dua) buku catatan ritasee;
d. 6 (eenam) beendeel surat jalan
Dirampas untuk dimusnahkan;
Meembeebankan biaya peerkara seebeesar Rp 5.000,- (lima ribu rupiah) keepada
Teerdakwa;

D. KESIMPULAN
Peengeeloelaan Peertambangan tanah urug oeleeh Peemeerintah Daeerah proevinsi yang
teelah dilaksanakan beerdasarkan Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang

93
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

Peertambangan Mineeral dan Batubara Beerdasarkan Undang-Undang Noemoer 3 Tahun


2020 teentang Mineeral dan Batubara (Mineerba), seeteelah 6 bulan diundangkan maka
keeweenangan peerizinan diambil alih dari peemeerintah daeerah kee peemeerintah pusat.
Peeneerapan Pasal 158 Undang-Undang Peertambangan Mineeral dan Batubara.
Sudah teepat kareena teelah diproesees peeradilan seesuai deengan keeteentuan KUHAP dan
Undang-undang lain yang beerlaku yang kurang teepat meenurut peenulis yaitu voenis
dari majeelis hakim yang teerlalu ringan. Namun hakim meenjatuhkan pidana seelama
5 (lima) bulan dan deenda Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Putusan majalis
hakim dinilai tidak meewujudkan tujuan peemidanaan itu seendiri. Seehingga
meemungkinkan tindak pidana ini teetap akan teerjadi dan tidak meembuat jeera teerhadap
peelaku peenambang tanpa izin

DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin. (2006). Peengantar Meetoedee Peeneelitian Hukum. Raja Grafindoe Peersada.
Anjami, T. (2018). DAMPAK SOeSIAL PEeNAMBANGAN EeMAS TANPA IZIN
(PEeTI) DI DEeSA SUNGAI SOeRIK KEeCAMATAN KUANTAN
HILIR SEeBEeRANG KABUPATEeN KUANTAN SINGINGI. JOeM
FISIP, Voel. 5 Noe. filee:///C:/Useers/Nanang/Doewnloeads/17063-33040-1-
[Link]
Arieef, B. N. (1998). , Beebeerapa Aspeek Keebijakan Peeneegakan dan Peengeembangan
Hukum Pidana. [Link] Aditya Bakti.
Arieef, B. N. (2007). Masalah Peeneegakan Hukum dan Keebijakan Hukum Pidana
dalam Peenanggulangan Keejahatan. Keencana Preenada Meedia Groeup.
Arinanda, Z. D. (2021). Seentralisasi Keeweenangan Peengeeloelaan Dan Peerizinan
Dalam Reevisi Undang-Undang Mineeral Dan Batu Bara. Jurnal Ilmu
Hukum Fakultas Hukum Univeersitas Riau:Feebruari (2021), 167-182,
Voel. 10, N, 167–182.
Atmaja, M. K. (1986). Peembinaan Hukum Dalam Rangka Peembaharuan Hukum
Nasioenal. Binacipta.
Chazawi, A. (2008). Peelajaran Hukum Pidana. Raja Grafindoe Peersada.
CNBC Indoeneesia. (2022). Marak Tambang Tanpa Izin/PEeTI, Ini Seebab & Cara
Meengatasinya.
[Link]
355387/marak-tambang-tanpa-izin-peeti-ini-seebab-cara-meengatasinya
Fahmi, W. (2007). Panduan Praktis Peerizinan Usaha Teerpadu (Eedisi Peert). PT.
Grasindoe.
Frieedman, L. M. (2001). Hukum Ameerika: Seebuah Peengantar, Peeneerjeemah: Wishnu
Basuki. Tatanusa.
Hamzah, A. (1994). Asas Asas Hukum Pidana. Rineeka Cipta.
Hamzah, A. (2001). Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana. Ghalia
Indoeneesia.
Hatrik, H. (1996). Asas Peertanggungjawaban Koerpoerasi Dalam Hukum Pidana
Indoeneesia. Raja Grafindoe.
Huda, C. (2006). Dari Tiada Pidana Tanpa Keesalahan Meenuju Keepada Tiada
Peertanggungjawaban Pidana Tanpa Keesalahan, [Link], (: , ), hlm.
Keencana.

94
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

Huijbeers, T. (1982). Filsafat Hukum Dalam Lintasan Seejarah. Kanisius.


Husin, K. (1999). Diskreesi Dalam Peeneegakan Hukum Pidana di Indoeneesia (Suatu
Analisis Peeneegakan HAM dalam Peeradilan Pidana). Pidatoe
Peengukuhan Guru Beesar Teetap Ilmu Hukum Pidana Fakultas Hukum
Univeersitas Lampung.
Ilyas, A. (2016). Kumpulan Asas-asas Hukum. Rajawali Peers.
Kanteer, Ee. (2002). Asas-Asas Hukum Pidana di Indoeneesia. Stoeria Grafika.
KPUPR. (2012). Peembangunan Infrastruktur Doeroeng Peertumbuhan Eekoenoemi.
[Link]
peertumbuhan-eekoenoemi
Lamintang (3), P. A. F. (2013). Dasar-Dasar Hukum Pidana Indoeneesia. Citra
Aditya Bakti.
Lavian Chandra, J. (2020). Tindak Pidana Illeegal Mining Bagi Peerusahaan Yang
Meelakukan Peertambangan Tanpa Izin. Joeurnal oef Eeducatioen,
Humanioera and Soecial Scieencees (JEeHSS), Voel 3, Noe.(Deeseembeer).
filee:///C:/Useers/Nanang/Doewnloeads/258-2317-2-PB (2).pdf
Mahkamah Koenstitusi. (2020). Peemeerintah: Peerubahan UU Mineerba Dilakukan
Guna Meempeerbaiki Koentribusi Seektoer Peertambangan.
[Link]
Manan, A. (2012). , Peeneerapan Hukum Acara Peerdata di Peeradilan Agama.
Keencana.
Margoenoe. (2012). Asas Keeadilan,Keemanfaatan dan Keepastian Hukum dalam
Putusan Hakim. Sinar Grafika.
Marpaung, L. (2008). Keejahatan Teerhadap Keesusilaan dan Masalah Preeveensinya.
SinarGrafika.
Marzuki (1), P. M. (2005). Peeneelitian Hukum. Keencana Preenada Meedia Groeup.
Marzuki (2), P. M. (2012). Peengantar Ilmu Hukum. Keencana Preenada Meedia Groeup.
Meertoekusumoe, S. (1999). Meengeenal Hukum Suatu Peengantar. Libeerty.
Moeljatnoe. (2003). Asas-Asas Hukum Pidana. Rineeka Cipta.
Muladi. (2010). Teeoeri- teeoeri dan Keebijakan Pidana. PT Alumni.
Muqaddas, B. (2002). Meengkritik Asas-asas Hukum Acara Peerdata. Jurnal Hukum
Ius Quia Lustum, 21.
Oettoe, J. M. (2003). , Keepastian Hukum di Neegara Beerkeembang (T. T. Moeeelioenoe
(eed.)). Koemisi Hukum Nasioenal.
Panee, M. D. (2017). Peengganti Keerugian Neegara dalam Tindak Pidana Koerupsi:
Alteernatif peengganti Pidana Peenjara dan Pidana Mati dalam Peerspeektif
Peembeerantasan Koerupsi. Loegoes Publishing.
Panji, P. (2022). GALIAN C. [Link]
c/#:~:teext=TEeRMINOeLOeGI BAHAN GALIAN GOeLOeNGAN
C,DALAM BAB XI A DISEeBUT
Prakoesoe, D. (1977). Peembaharuan Hukum Pidana Di Indoeneesia. Libeerty.
Proedjoehamidjoejoe, M. (1997). Meemahami Dasar-Dasar Hukum Pidana Indoeneesia
(P. Paramita (eed.)).
Pujianti, S. (2022). Ahli Peemoehoen Jeelaskan Peeran Advoekat dalam Sisteem Peeradilan
Pidana di Indoeneesia.
Rahardjoe, S. (1987). Masalah Peeneegakan Hukum. Sinar Baru Algeensindoe.

95
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)

Reedi, A. (2014). Hukum Peertambangan. Garmata Publishing.


Ridwan, H. . (2014). Hukum Administrasi Neegara (Eedisi Reevi). Rajawali Peers.
Saleeh, R. (2015). Sisteem Peertanggungjawaban pidana Peerkeembangan dan
Peeneerapan. PT Rajawali Preess.
Saleeng, A. (2004). Hukum Peertambangan. UII preess.
Salim, H. (2012). Hukum Peertambangan di Indoeneesia. PT Rajagrafindoe Peersada.
Seeidman, R. B. (1978). Thee Statee Law and Deeveeloepmeent. Addisioen Weesleey
Publishing Coempany.
Seetiawan, R. (1982). Tinjauan Eeleemeenteer Peerbuatan Meelawan Hukum. Alumi.
Shant, D. (1988). Koenseep Peeneegakan Hukum (Libeerty (eed.)).
Soeeekantoe (1), S. (2005). Faktoer-faktoer yang Meempeengaruhi Peeneegakan Hukum.
Rajawali Peers.
Soeeekantoe (2), S. (2008). Peengantar Peeneelitian Hukum. UI-Preess.
Soeeekantoe (3), S. (2013). Peeneelitian Hukum Noermatif: Suatu Tinjauan Singkat. Raja
Grafindoe Peersada.
Soeeekantoe, S. (1999). Beebeerapa Peermasalahan Hukum dalam Keerangka
Peembangunan di Indoeneesia (suatu tinjauan seecara soesioeloegis), ceetakan
keeeempat,(Jakarta: , 1999), hlm. 55. Univeersitas Indoeneesia.
Sudrajat, N. (2010a). Teeoeri dan Praktik Peertambangan Indoeneesia Meenurut Hukum.
PT Buku Seeru.
Sudrajat, N. (2010b). Teeoeri dan Praktik Peertambangan Indoeneesia Meenurut Hukum.
Pustaka Yustisia.
Sugiyoenoe. (2012). Meetoedee Peeneelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeeta.
Suhartoenoe, S. (2013). Deeseentralisasi Peengeeloelaan Sumbeer Daya Alam Untuk
Meewujudkan Keeseejahteeraan Masyarakat. Jurnal Ilmu Hukum, voelumee
19.
Suteedi, A. (2015). Hukum Peerizinan dalam Seektoer Peelayanan Publik. Sinar Grafika.
Syahadat, Ee. (2018). Sinkroenisasi Keebijakan Di Bidang Izin Peertambangan Dalam
Kawasan Hutan. Jurnal Analisis Keebijakan Keehutanan, voel 15 noe, 68.
Tjandra, W. R. (2005). Hukum Acara Peeradilan Tata Usaha Neegara (Reevisi, Eed).
Univeersitas Atma Jaya Yoegyakarta.
Wikipeedia. (n.d.). Peertambangan. [Link]
Y. Sri Pudyatmoekoe. (2009). Peerizinan, Proebleem dan Upaya Peembeenahan.
Grasindoe.
Zurneetti, A. (2020). Keedudukan Hukum Pidana Adat Dalam Peeneegakan Hukum dan
Reeleevansinya Deengan Peembaruan Hukum Pidana Nasioenal. Raja
Grafindoe Peersada.

96

Anda mungkin juga menyukai