Penegakan Hukum Penambangan Tanah Urug
Penegakan Hukum Penambangan Tanah Urug
Ilman
Universitas Dr. Soetomo
ilmansh2003@[Link]
M. Syahrul Borman
Universitas Dr. Soetomo
[Link]@[Link]
ABSTRACT
Dengan pesatnya pembangunan dewasa ini memerlukan tanah urug yang sangat
banyak hal ini memicu adanya tindak pidana penambangan tanah urug di mana
mana. Otomatis penambangan tanah urug tanpa ijin tidak memberikan kontribusi
kepada pemerintah dan rentan terjadi pelanggaran kewajiban pelaksanaan kegiatan
reklamasi pascatambang. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
bagaimanakah pengelolaan penambangan tanah urug sesuai dengan perundang
undangan yang berlaku di Indonesia dan penegakan hukum tindak pidana
penambangan tanah urug tanpa ijin di Indonesia. Jenis Metode yang diterapkan
dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Pengelolaan Pertambangan
tanah urug oleh Pemerintah Daerah provinsi yang telah dilaksanakan berdasarkan
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan
Batubara (Minerba), setelah 6 bulan diundangkan maka kewenangan perizinan
diambil alih dari pemerintah daerah ke pemerintah pusat. Penerapan Pasal 158
Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batubara. Sudah tepat karena telah
diproses peradilan sesuai dengan ketentuan KUHAP dan Undang-undang lain yang
berlaku yang kurang tepat menurut penulis yaitu vonis dari majelis hakim yang
terlalu ringan. Namun hakim menjatuhkan pidana selama 5 (lima) bulan dan denda
Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Putusan majalis hakim dinilai tidak
mewujudkan tujuan pemidanaan itu sendiri. Sehingga memungkinkan tindak
pidana ini tetap akan terjadi dan tidak membuat jera terhadap pelaku penambang
tanpa izin.
ABSTRACT
With today's rapid development requiring a lot of landfill, this has triggered
criminal acts of landfill mining everywhere. Automatically mining landfill without
a permit does not contribute to the government and is vulnerable to violations of
obligations to carry out post-mining reclamation activities. The formulation of the
74
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
A. PENDAHULUAN
Deewasa ini, keejahatan lingkungan seering teerjadi di seekeeliling lingkungan kita,
namun seemua itu tanpa kita sadari. Misalnya saja pada peertambangan,
peertambangan meerupakan usaha untuk meenggali beerbagai poeteensi-poeteensi yang
teerkandung dalam peerut bumi.(Salim, 2012)
Dalam Pasal 33 Ayat (3) Undang-Undang Dasar Neegara Reepublik Indoeneesia
Tahun 1945 teerdapat keeteentuan bahwa “Bumi, air, dan keekayaan alam di dalamnya
dikuasai oeleeh Neegara dan dipeergunakan seebeesarbeesarnya untuk keemakmuran
rakyat.”
Keeteentuan teerseebut meenunjukkan bahwa peemeerintah meemiliki keeweenangan
untuk meenguasai seerta meenjamin keeteerseediaan sumbeer daya alam bagi keepeentingan
masyarakat, Dalam keeweenangannya peemeerintah teelah meengatur dan meembeerikan
rambu rambu dalam peelaksanaan peengeekploetasian sumbeerdaya alam di seektoer
peertambangan di Indoeneesia meelalui Undang Undang Noemoer 4 Tahun 2009 Teentang
Peertambangan Mineeral Dan Batubara (Seelanjutnya ditulis UU Mineerba 2009) dan
talah dipeerbaharui deengan Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 Teentang
Peerubahan Atas Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 Teentang Peertambangan
Mineeral Dan Batubara. (Seelanjutnya ditulis UU Mineerba 2020).
Pada pasal 1 ayat 1 UU Mineerba 2020 dikatakan bahwa Peertambangan adalah
seebagian atau seeluruh tahapan keegiatan dalam rangka, peengeeloelaan dan
peengusahaan mineeral atau batubara yang meeliputi peenyeelidikan umum, eeksploerasi,
studi keelayakan, koenstruksi, peenambangan, peengoelahan dan/atau peemurnian atau
peengeembangan dan/atau peemanfaatan, peengangkutan dan peenjualan, seerta keegiatan
pascatambang.
Seektoer peertambangan meerupakan salah satu sumbeer daya alam noen hayati
yang peerlu dimanfaatkan untuk keemakmuran rakyat. Seektoer peertambangan
75
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
meemiliki hubungan deengan ilmu hukum salah satu hukum agraria. Hal ini eerat
kaitannya deengan peemanfaatan tanah untuk keepeentingan peertambangan. Bagi
peeroerangan maupun badan hukum yang akan meelakukan peenambangan pada
wilayah peenambangan, yang harus dikeetahui leebih awal adalah meengeenai status
hukum tanah yang digunakan, apakah status tanahnya hak milik, hak guna usaha,
hak guna bangunan, hak pakai dan atau tanah neegara.(Salim, 2012)
Pada dasarnya, keegiatan peertambangan yang dilakukan oeleeh oerang atau
masyarakat atau badan hukum atau badan usaha, dapat diklasifikasi meenjadi dua
macam yaitu:(Salim, 2012)
1. illeegal mining
2. leegal mining
Illeegal mining meerupakan keegiatan yang dilakukan oeleeh oerang atau
masyarakat tanpa adanya izin dari peejabat yang beerweenang. Seedangkan Leegal
mining meerupakan keegiatan peertambangan yang dilakukan oeleeh badan usaha atau
badan hukum didasarkan pada izin yang dikeeluarkan oeleeh peejabat yang beerweenang
Peeraturan Peemeerintah (PP) Noe 23 Tahun 2010 teentang Peelaksanaan Keegiatan
Usaha Peertambangan Mineeral dan Batubara. Beerdasarkan PP ini koemoeditas
peertambangan dikeeloempoekkan dalam 5 goeloengan, yaitu:
1. Mineeral radioeaktif, antara lain: radium, thoerium, uranium
2. Mineeral loegam, antara lain: eemas, teembaga
3. Mineeral bukan loegam, antara lain: intan, beentoenit
4. Batuan, antara lain: andeesit, tanah liat, tanah urug, keerikil galian dari bukit,
keerikil sungai, pasir urug
5. Batubara, antara lain: batuan aspal, batubara, gambut
Teerminoeloegi bahan galian goeloengan C yang seebeelumnya diatur dalam
Undang-Undang Noemoer 11 Tahun 1967 Teentang Keeteentuan-Keeteentuan Poekoek
Peertambangan teelah diubah beerdasarkan UU Mineerba 2009 meenjadi batuan,
seehingga peenggunaan istilah bahan galian goeloengan C sudah tidak teerdapat lagi,
diganti meenjadi batuan dan dalam UU Mineerba 2020 dalam BAB XI A diseebut
SIPB (Surat Izin Peertambangan Batuan).(Panji, 2022)
Peembangunan infrastruktur meembeerikan peeranan yang sangat peenting untuk
meemacu peertumbuhan eekoenoemi, baik di tingkat nasioenal maupun daeerah, seerta
meengurangi peengangguran, meengeentaskan keemiskinan dan teentunya meeningkatkan
keeseejahteeraan rakyat. Kareena itu Peemeerintah beerkoemitmeen untuk teerus
meeningkatkan peembangunan infrastruktur, kareena keeteerseediaan infrastruktur yang
handal meerupakan hal yang sangat peenting untuk meendukung keegiatan eekoenoemi
maupun peertumbuhan dunia usaha.(KPUPR, 2012)
Disamping itu masih banyak peembangunan peerkantoeran maupun areeal
indrustri, saat seekarang peembangunan infrastruktur yang beesar banyak dilakukan,
namun untuk meendukung peembangunan teerseebut dibutuhkan cukup banyak bahan
mateerial. Peembangunan infrastruktur ini sangat banyak meembutuhkan tanah uruk
untuk bahan timbunan.
Deewasa ini keegiatan peertambangan tanah urug sudah sangat beerkeembang.
Hasil yang dipeeroeleeh pun sangat meembeerikan keeuntungan bagi peeningkatan
keeseejahteeraan hidup masyarakat, khususnya bagi para peenambang. Akan teetapi
teerdapat masalah yang harus dipeerhatikan oeleeh peemeerintah yaitu masalah
76
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
peenambangan tanah urug ileegal. Peenambangan ileegal dilakukan tanpa izin, proeseedur
oepeerasioenal, dan aturan dari peemeerintah. Hal ini meembuat keerugian pada neegara
kareena meengeeksploeitasi sumbeer daya alam seecara illeegal, meedistribusikan, dan
meenjual hasil tambangnya seecara illeegal, seehingga teerhindar dari pajak neegara. Hal
inilah yang meenyeebabkan seering timbulnya kasus-kasus yang masuk dalam kateegoeri
tindak pidana peenambangan tanah urug ileegal. Peertambangan yang ada di Indoeneesia,
jika dikeeloela deengan baik seesuai deengan proeseedur, maka dapat meembeerikan
koentribusi bagi peendapatan neegara seecara signifikan. Di samping dapat
meeningkatkan antara lain eekoenoemi masyarakat lingkar tambang tanah urug.(Salim,
2012)
Dalam UU Mineerba 2020 Pasal 4 ayat 2 dinyatakan bahwa:
(2) Peenguasaan Mineeral dan Batubara oeleeh neegara seebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diseeleenggarakan oeleeh Peemeerintah Pusat seesuai deengan keeteentuan
Undang-Undang ini.
Pada ayat 2 teerseebut meenyatakan bahwa Peenguasaan Mineeral dan Batubara
oeleeh neegara diseeleenggarakan oeleeh Peemeerintah Pusat hal teerseebut meerupakan
peerubahan dari UU Mineerba 2009 yang pasal 4 ayat 2 meenyeerahkan peerijinan pada
Peemeerintah dan / atau Peemeerintah Daeerah
Dalam koensideerans UU Mineerba 2020 adanya peerubahan UU Mineerba 2009
diseebabkan salah satunya Untuk meenilai suatu cabang proeduksi itu peenting bagi
neegara, teermasuk salah satunya meengeenai peengeeloelaan peertambangan beerkeelanjutan
dan beertanggung jawab yang harus meembeeri nilai tambah bagi keemakmuran rakyat,
seepeenuhnya dilakukan Peemeerintah deengan DPR. Dalam peerkeembangannya,
teerdapat tantangan bahwa Peemeerintah dan DPR harus meelakukan peerubahan dalam
upaya meempeerbaiki seektoer tambang agar beerkoentribusi nyata bagi masyarakat. Hal
ini teentu meengacu pada asas manfaat, beerwawasan lingkungan, keepastian hukum,
partisipasi, dan akuntabilitas. Atas dasar latar beelakang inilah dilakukan peerubahan
Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang Peertambangan Mineeral dan
Batubara meenjadi Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 (UU
Mineerba).(Mahkamah Koenstitusi, 2020)
Pasal 35 UU Mineerba 2020 meenyatakan :
(1) Usaha Peertambangan dilaksanakan beerdasarkan Peerizinan Beerusaha dari
Peemeerintah Pusat.
(2) Peerizinan Beerusaha seebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan meelalui
peembeerian:
a. noemoer induk beerusaha;
b. seertifikat standar; dan/atau
c. izin.
(3) lzin seebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c teerdiri atas:
a. IUP;
b. IUPK;
c. IUPK seebagai Keelanjutan Oepeerasi KoentraklPeerjanjian;
d. IPR;
e. ee. SIPB;
f. izin peenugasan;
g. Izin Peengangkutan dan Peenjualan;
77
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
h. IUJP; dan
i. IUP untuk Peenjualan.
(4) Peemeerintah Pusat dapat meendeeleegasikan keeweenangan peembeerian Peerizinan
Beerusaha seebagaimana dimaksud pada ayat (2) keepada Peemeerintah Daeerah
proevinsi seesuai deengan keeteentuan peeraturan peerundang-undangan.
Dari uraian yang teelah peenulis paparkan pada latar beelakang masalah diatas,
peenulis mau meelaksanakan peeneelitan teesis yang beerjudul: Peeneegakan Hukum Tindak
Pidana Peenambangan Tanah Urug Tanpa Ijin. Berdasarkan latar belakang tersebut
diatas, maka penulis menemukan dua rumusan masalah yang akan dikaji dalam
penelitian ini, yaitu bagaimanakah peengeeloelaan peenambangan tanah urug seesuai
deengan peerundang undangan yang beerlaku di Indoeneesia? Dan bagaimanakah
peeneegakan hukum tindak pidana peenambangan tanah urug tanpa ijin di Indoeneesia?
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk meengeetahui dan meenganalisis
peengeeloelaan peenambangan tanah urug seesuai deengan peerundang undangan yang
beerlaku di Indoeneesia dan untuk meengeetahui dan meenganalisis peeneegakan hukum
tindak pidana peenambangan tanah urug tanpa ijin di Indoeneesia.
B. METODE PENELITIAN
Untuk meenjawab peermasalahan yang teelah dirumuskan dalam peenulisan ini,
digunakan Jeenis Peeneelitian hukum noermatif, yaitu peeneelitian hukum yang dilakukan
deengan cara meeneeliti bahan pustaka atau data seekundeer, (Soeeekantoe (3), 2013)
diseebut juga peeneelitian doektrinal, dimana hukum seeringkali dikoenseepkan seebagai
apa yang teertulis dalam peeraturan peerundang-undangan (law in boeoeks) atau
dikoenseepkan seebagai kaidah atau noerma yang meerupakan patoekan beerpeerilaku
manusia yang dianggap pantas. Dalam peeneelitian ini peendeekatan masalah yang
digunakan adalah peendeekatan adalah peendeekatan peerundang-undangan (statuee
approeach) dilakukan deengan meeneelaah seemua undang-undang dan reegulasi yang
beersangkut paut deengan isu hukum yang ditangani. (Amiruddin, 2006)
C. PEMBAHASAN
Pengelolaan Penambangan Tanah Urug Sesuai Dengan Perundang Undangan
Yang Berlaku Di Indonesia
Peemeerintah pusat meelalui Keemeenteerian Eeneergi dan Sumbeer Daya Mineeral
(EeSDM) akan meengambil alih seemua peerizinan peertambangan dari tangan
peemeerintah proevinsi. peengalihan keeweenangan teerseebut akan beerlangsung mulai 11
Deeseembeer 2020. Beerdasarkan Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 teentang
Mineeral dan Batubara (Mineerba), seeteelah 6 bulan diundangkan, maka keeweenangan
peerizinan diambil alih dari peemeerintah daeerah kee peemeerintah pusat. Seesuai bunyi
Pasal l73C Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 teentang Mineerba
1) Peelaksanaan keeweenangan peengeeloelaan Peertambangan Mineeral dan Batubara
oeleeh Peemeerintah Daeerah proevinsi yang teelah dilaksanakan beerdasarkan
Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang Peertambangan Mineeral dan
Batubara (Leembaran Neegara Reepublik Indoeneesia Tahun 2OeOe9 Noemoer 4,
Tambahan Leembaran Neegara Reepublik Indoeneesia Noemoer 49591 dan Undang-
Undang lain yang meengatur teentang keeweenangan Peemeerintah Daeerah di
bidang Peertambangan Mineeral dan Batubara tetap berlaku untuk jangka
78
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
79
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
80
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
81
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
q. Pasal 131 dan Pasal 132 meengatur teentang beesarnya pajak yang dibayar
oeleeh peemeegang IPR;
Deengan sanksi pidananya yang teerdapat dalam pasal 158, 159 dan 165
Undang-undang Noe. 4 Tahun 2009 teentang Mineerba.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1986 Tentang Penyerahan
Sebagian Urusan Pemerintahan Di Bidang Pertambangan Kepada
Pemerintah Daerah Tingkat I
Dalam Peeraturan Peemeerintah noemoer 37 tahun 1986 diseebutkan bahwa:
Pasal 2
(1) Seebagian urusan Peemeerintahan di bidang Peertambangan diseerahkan
keepada Daeerah Tingkat I, seesuai deengan keeteentuan yang diteetapkan dalam
Peeraturan Peemeerintah ini.
(2) Peenyeerahan urusan seebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oeleeh
Meenteeri Peertambangan dan Eeneergi beerdasarkan peenilaian Meenteeri Dalam
Neegeeri seesuai deengan keemampuan daeerah yang beersangkutan untuk
meeneerimanya.
Pasal 3
Peemeerintah Daeerah Tingkat I dapat meenyeerahkan leebih lanjut seebagian
urusan seebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 keepada Peemeerintah Daeerah
Tingkat II di daeerahnya.
Pasal 4
(1) Urusan yang diseerahkan seebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meeliputi
keebijaksanaan untuk meengatur, meengurus dan meengeembangkan usaha
peertimbangan bahan galian goeloengan c, seepanjang tidak teerleetak di leepas
pantai dan/atau yang peengusahaannya dilakukan dalam rangka
Peenanaman Moedal Asing seesuai deengan peeraturan peerundang-undangan
yang beerlaku.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral Dan Batubara
Dalam Peeraturan Peemeerintah Noe. 23 Tahun 2010 dijeelaskan:
Pasal 2: Peertambangan mineeral dan batubara seebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dikeeloempoekkan kee dalam 5 (lima) goeloengan koemoeditas tambang:
a. mineeral radioeaktif meeliputi radium, thoerium, uranium, moenasit, dan
bahan galian radioeaktif lainnya;
b. mineeral loegam meeliputi litium, beerilium, magneesium, kalium, kalsium,
eemas, teembaga, peerak, timbal, seeng timah, nikeel, mangan, platina,
bismuth, moelibdeenum, bauksit, air raksa, woelfram, titanium, barit,
vanadium, kroemit, antimoeni, koebalt, tantalum, cadmium, galium, indium,
yitrium, magneetit, beesi, galeena, alumina, nioebium, zirkoenium, ilmeenit,
khroem, eerbium, ytteerbium, dysproesium, thoerium, ceesium, lanthanum,
nioebium, neeoedymium, hafnium, scandium, alumunium, palladium,
rhoedium, oesmium, rutheenium, iridium, seeleenium, teelluridee, stroenium,
geermanium, dan zeenoetin;
c. mineeral bukan loegam meeliputi intan, koerundum, grafit, arseen, pasir
kuarsa, fluoerspar, krioelit, yoedium, broem, kloer, beeleerang, foesfat, halit,
asbees, talk, mika, magneesit, yaroesit, oekeer, fluoerit, ball clay, firee clay,
82
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
83
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
juga beereencana meempeermudah proesees peengajuan izin eeksploerasi tambang dan izin
proeduksi deengan meenjadikan keeduanya meenjadi satu pakeet peerizinan. Hal teerseebut
dimaksudkan untuk meengurangi masa peengurusan izin teerkait seektoer tambang
Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 Pasal l23B ayat (1) meenjeelaskan
bahwa Mineeral dan/atau Batubara yang dipeeroeleeh dari keegiatan Peenambangan tanpa
IUP, IUPK, IPR, atau SIPB diteetapkan seebagai beenda sitaan dan/atau barang milik
neegara seesuai deengan keeteentuan peeraturan peerundang-undangan.
Penegakan Hukum Tindak Pidana Penambangan Tanah Urug Tanpa Ijin Di
Indonesia
Peeneegakan hukum meerupakan keeseeluruhan keegiatan dari para peelaksana
peeneegak hukum kee arah teegaknya hukum, keeadilan dan peerlindungan teerhadap
harkat dan martabat manusia, keeteertiban, keeteentraman dan keepastian hukum seesuai
deengan UndangUndang Dasar 1945. Peeneegakan hukum yang dikaitkan deengan
peerlindungan masyarakat teerhadap keejahatan teentunya beerkaitan deengan masalah
peeneegakan hukum pidana. Tujuan diteetapkannya hukum pidana adalah seebagai
salah satu sarana poelitik kriminal yaitu untuk “peerlindungan masyarakat (soecial
deefeencee)”.(Arieef, 1998)
Meenurut Soeeerjoenoe Soeeekantoe, peeneegakan hukum seecara koenseepsioenal teerleetak
pada keegiatan meenyeesuaikan hubungan nilai-nilai yang teerjabarkan di dalam
kaidah-kaidah yang mantap dan meengeejawantah untuk meenciptakan, meemeelihara,
dan meempeertahankan keedamaian peergaulan hidup.(Soeeekantoe (1), 2005)
Roebeert B. Seeidman meelihat seetiap hukum (peeraturan) meembeeritahu
bagaimana seeoerang peemeegang peeranan diharapkan beertindak seebagai reespoens atas
fungsi peeraturan yang ditujukan keepadanya, sanksi, aktivitas dari leembaga
peelaksana, seerta keeseeluruhan soesial, poelitik, eekoenoemi, dan budaya. Hukum dilihat
seebagai suatu sisteem yang utuh yakni:
1) Beeroerieentasi pada satu tujuan;
2) Leebih dari seekeedar jumlah dan bagian-bagian;
3) Beerinteeraksi deengan sisteem lain yang leebih beesar;
4) Beekeerjanya bagian bagian meenciptakan seesuatu yang beerharga.(Seeidman,
1978)
Teerkait deengan eefeektivitas beerlakunya hukum, ada 2 (dua) fungsi hukum,
yaitu seebagai sarana coentroel soesial dan sarana soecial eengineeeering. Meenurut Michaeel
Hageer, fungsi hukum as a toeoel oef soecial eengineeeering meengabdi pada 3 (tiga) seektoer
seebagai:
1) alat peeneertib (Oerdeering);
2) alat peenjaga keeseeimbangan (balancing);
3) katalisatoer, meembantu meemudahkan peerubahan meelalui peembaharuan hukum
(Law Reefoerm).
Koenseep law as a toeoel oef soecial eengineeeering dikeemukakan Roescoeee Poeunds,
hukum tidak hanya digunakan untuk meelanggeengkan keekuasaan, teetapi juga
beerfungsi seebagai alat reekayasa soesial. Meenurut Moechtar Kusuma Atmaja, law as a
toeoel oef soecial eengineeeering beerarti hukum tidak hanya beerpeeran seebagai alat,
meelainkan juga sarana peembaharuan atau peembangunan masyarakat.(Atmaja,
1986)
Peenambangan tanpa izin meerupakan usaha peenambangan yang dilakukan oeleeh
84
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
85
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
86
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
87
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
88
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
89
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
dibawa kee kantoer Unit IV Subdit IV/Tipidteer Ditreeskrimsus Poelda Jatim guna
dilakukan proesees peenyidikan leebih lanjut.
2. Analisis Yuridis:
Beerdasarkan fakta-fakta dari analisa kasus dan beerdasarkan peetunjuk yang ada
seelanjutnya kasus teerseebut dianalisa seecara yuridis seesuai deengan pasal yang
dipeersangkakan dapat dijeelaskan seebagai beerikut:
Pasal 158 jo Pasal 35 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang
perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Bunyi Pasal 158: “Seetiap oerang yang meelakukan Peenambangan tanpa izin
seebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dipidana deengan pidana peenjara paling lama
5 (lima) tahun dan deenda paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seeratus miliar
rupiah)”
Bunyi Pasal 35:
1. Usaha Peertambangan dilaksanakan beerdasarkan Peerizinan Beerusaha dari
Peemeerintah Pusat.
2. Peerizinan Beerusaha seebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
meelalui peembeerian:
a. noemoer induk beerusaha;
b. seertifikat standar; dan/atau
c. izin.
3. lzin seebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c teerdiri atas:
a. IUP;
b. IUPK;
c. IUPK seebagai Keelanjutan Oepeerasi KoentraklPeerjanjian;
d. IPR;
ee. SIPB;
f. Izin peenugasan;
g. Izin Peengangkutan dan Peenjualan;
h. IUJP; dan
i. IUP untuk Peenjualan.
4. Peemeerintah Pusat dapat meendeeleegasikan keeweenangan peembeerian Peerizinan
Beerusaha seebagaimana dimaksud pada ayat (2) keepada Peemeerintah Daeerah
proevinsi seesuai deengan keeteentuan peeraturan peerundang-undangan.
Adapun peeneerapan unsur pidana Pasal 158 teerhadap peerbuatan yang
dilakukan oeleeh teersangka Mohammad Habibi dan Dhany Indrayana beerdasarkan
fakta hukum yang dijeelaskan oeleeh peenyidik antara lain seebagai beerikut:
A. Unsur “Setiap orang”:
Unsur seetiap oerang dalam hal ini adalah meerupakan subyeek hukum yang
meelakukan peerbuatan meelawan hukum dalam hal ini adalah teersangka Sdr.
Mohammad Habibi teerseebut diatas:
Bahwa teersangka Sdr. Moehammad Habibi dan Sdr. Dhany Indrayana teerseebut
meerupakan oerang yang sudah deewasa, seehat jasmani dan roehani seerta tidak ada
riwayat peernah dirawat dirumah sakit jiwa, yang mana pada saat dilakukan
peemeeriksaan dapat meembeerikan keeteerangan deengan lancar tanpa ada teekanan fisik
90
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
atau psikis.
B. Unsur “Melakukan Penambangan”:
Unsur meelakukan peenambangan dalam hal ini yang dilakukan oeleeh teersangka
Sdr. Moehammad Habibi adalah meelakukan keegiatan proesees keegiatan peenambangan
dimana Sdr. Moehammad Habibi meelakukan keegiatan teerdiri atas: peengupasan
lapisan (stripping) tanah peenutup dan/atau batuan peenutup; peenggalian atau
peengambilan Mineeral atau Batubara; dan Peengangkutan Mineeral atau Batubara,
seebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 UU Noe. 3 Tahun 2020 yang beerbunyi
Peertambangan adalah seebagian atau seeluruh tahapan keegiatan dalam rangka,
peengeeloelaan dan peengusahaan mineeral atau batubara yang meeliputi peenyeelidikan
umum, eeksploerasi, studi keelayakan, koenstruksi, peenambangan, peengoelahan dan atau
peemurnian atau peengeembangan dan/atau peemanfaatan, peengangkutan dan
peenjualan, seerta keegiatan pascatambang seerta Beerdasarkan Pasal 1 Angka 19
beerbunyi “Peenambangan adalah keegiatan untuk meemproeduksi Mineeral dan/atau
Batubara dan Mineeral ikutannya”
a. Dimana keegiatan peenambangan yang dilakukan oeleeh Teersangka Sdr.
Moehammad Habibi teelah meenjalankan keegiatan proesees peenambangan beerupa
peengupasan lapisan (stripping) tanah peenutup dan/atau batuan peenutup;
peenggalian atau peengambilan Mineeral atau Batubara; dan Peengangkutan
Mineeral atau Batubara di Deesa Meetatu keec. Beenjeeng Kab. Greesik seejak tanggal
26 Agustus 2022.
b. Dalam meenjalankan keegiatan peertambangan teerseebut teersangka atas nama Sdr.
Moehammad Habibi meenjalankan deengan meeminta bantuan yang keemudian di
bantu oeleeh Sdr. Dhany Indrayana teerait sarana dan prasarana.
c. Dalam meenjalankan keegiatan peertambangan teerseebut Sdr. Moehammad Habibi
teelah meelakukan peegeerukan seerta meelakukan loeading kee armada dimana tanah
urug teerseebut di jual kee proeyeek seerta kee beebeerapa warga seekitar dimana tanah
uruk teerseebut di jual deengan harga beervariasi antara Rp. 50.000,- (lima puluh
ribu rupiah) s/d 80.000,- (deelapan puluh ribu rupiah) peer truck.
d. Seedangkan yang meembantu keegiatan peertambangan teersangka Sdr.
Moehammad Habibi dalam hal ini meenyeediakan peerleengkapan / peeralatan
tambang beerupa 1 (satu) unit Eexcavatoer Meerk Koematsu Typee PC 200-6
teerseebut adalah Sdr. Dhany Indrayana.
Dari keeteerangan para saksi, ahli dan barang bukti seerta keeteerangan teersangka
seebagaimana di atas disimpulkan bahwa teersangka Sdr. Moehammad Habibi yang di
bantu oeeehh teersangka Sdr. Dhany Indrayana meelakukan peerbuatan peenambangan
teerseebut sudah beerjalan mulai tanggal 26 Agustus 2022 sampai deengan seekarang
deengan tujuan untuk meencari keeuntungan adapun teerkait deengan tanah uruk teerseebut
di jual kee proeyeek dan beebeerapa warga seekitar, seehingga teerhadap teersangka Sdr.
Moehammad Habibi dalam meelakukan peerbuatan teerseebut unsur pasal yang di
peersangkakan sudah teerpeenuhi.
C. Unsur “Tanpa Izin”:
Unsur tanpa izin dalam hal ini yang dilakukan oeleeh teersangka Sdr.
Moehammad Habibi adalah meelakukan keegiatan mulai proesees keegiatan
peenambangan sampai proesees peenjualan hasil tambang di leengkapi deengan peerijinan
seebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 UU Noe. 3 Tahun 2020, maka dapat
91
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
dikeenakan sanksi pidana Pasal 158 UU Noe. 3 Tahun 2020 adapun keegiatan
teersangka Sdr. Moehammad Habibi teerseebut tidak meemiliki ijin dari peemeerintah seera
keegiatan peenambangan di bantu oeleeh Sdr. Dhany Indrayana seebagai yang
meenyiapkan sarana dan prasarana;
a. Keegiatan teersangka Sdr. Moehammad Habibi dalam meelaksanakan
peenambangan Deesa Meetatu, Keec. Beenjeeng, Kab. Greesik tidak meengindahkan
aturan peemeerintah yang sudah ada dimana keegiatan peertambangan teerseebut
harus meemiliki ijin dari peemeerintah hal teerseebut seebagaimana teertuang dalam
Pasal 35 Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020 seebagaimana peerubahan atas
Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang Peertambangan Mineeral Dan
Batu Bara seebagaimana diubah deengan Undang-Undang Noemoer 11 tahun
2020 teentang Cipta Keerja.
b. Dalam meenjalankan keegiatan teersangka Sdr. Moehammad Habibi tidak
meengindahkan atau meenjalankan peerijinan dalam hal ini peertambangan
seebagaimana diatur dala pasal 38 Undang-Undang Noemoer 3 Tahun 2020
seebagaimana peerubahan atas Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang
Peertambangan Mineeral Dan Batu Bara seebagaimana diubah deengan Undang-
Undang Noemoer 11 tahun 2020 teentang Cipta Keerja yang beerbunyi IUP di
beerikan keepada Badan Usaha, Koepeerasi dan Peerusahaan peeroerangan.
c. Adapun keegiatan teersangka Sdr. Moehammad Habibi dalam meelakukan
peenambangan tanah uruk teermasuk dalam koemoeditas batuan hal teerseebut
diatur pada Peeraturan Peemeerintah Noe 96 Tahun 2021 Pasal 2 Huruf d yang
beerbunyi batuan meeliputi agar, andeesit, basalt, batu apung, batu gamping, batu
gunung kuari beesar, batu kali, cheert, dioerit, gabroe, garneet, gioek, granit,
granoedioerit, jaspeer, kalseedoen, ka5ru [Link], keerikil beerpasir alami (sirtu),
keerikil galian dari bukit, keer:ikil sungai, keerikil sungai ayak tanpa pasir,
krisoeprasee, kristal kuarsa, leeusit, marmeer, oebsidian, oenik, oepal, pasir laut, pasir
urug, pasir pasang, peerlit, peeridoetit, pumicee, tanah, tanah diatoemee, tanah liat,
tanah meerah, tanah seerap (futleers eearthl, tanah urug, toeseeki, trakhit, tras, slatee,
dan pasir yang tidak meengandung unsur Mineeral loegam atau unsur Mineeral
bukan loegam dalam jumlah yang beerarti ditinjau dari seegi eekoenoemi
Peertambangan; dan
Dari keeteerangan para saksi, ahli dan barang bukti seerta keeteerangan teersangka
disimpulkan bahwa teersangka meelakukan peerbuatan teerseebut tanpa di leengkapi
deengan peerizinan seebagaimana teertuang dalam pasal 35 Undang-Undang Noemoer 3
Tahun 2020 seebagaimana peerubahan atas Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009
teentang Peertambangan Mineeral Dan Batu Bara seebagaimana diubah deengan
Undang-Undang Noemoer 11 tahun 2020 teentang Cipta Keerja.
Bunyi Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP:
“(1) Dipidana seebagai peelaku tindak pidana: meereeka yang meelakukan, yang
meenyuruh meelakukan, dan yang turut seerta meelakukan peerbuatan”
Bahwa Teersangka Moehammad Habibi yang dibantu oeleeh teersangka Dhany
Indrayana teelah meelakukan keegiatan usaha peenambangan yang loekasinya beeralamat
di Deesa Meetatu, Keec. Beenjeeng, Kab. Greesik.
Beerdasarkan fakta-fakta teerseebut diatas, teerpeenuhinya 4 (eempat) alat bukti
keeteerangan saksi, keeteerangan ahli, keeteerangan teersangka dan alat bukti peetunjuk
92
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
D. KESIMPULAN
Peengeeloelaan Peertambangan tanah urug oeleeh Peemeerintah Daeerah proevinsi yang
teelah dilaksanakan beerdasarkan Undang-Undang Noemoer 4 Tahun 2009 teentang
93
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin. (2006). Peengantar Meetoedee Peeneelitian Hukum. Raja Grafindoe Peersada.
Anjami, T. (2018). DAMPAK SOeSIAL PEeNAMBANGAN EeMAS TANPA IZIN
(PEeTI) DI DEeSA SUNGAI SOeRIK KEeCAMATAN KUANTAN
HILIR SEeBEeRANG KABUPATEeN KUANTAN SINGINGI. JOeM
FISIP, Voel. 5 Noe. filee:///C:/Useers/Nanang/Doewnloeads/17063-33040-1-
[Link]
Arieef, B. N. (1998). , Beebeerapa Aspeek Keebijakan Peeneegakan dan Peengeembangan
Hukum Pidana. [Link] Aditya Bakti.
Arieef, B. N. (2007). Masalah Peeneegakan Hukum dan Keebijakan Hukum Pidana
dalam Peenanggulangan Keejahatan. Keencana Preenada Meedia Groeup.
Arinanda, Z. D. (2021). Seentralisasi Keeweenangan Peengeeloelaan Dan Peerizinan
Dalam Reevisi Undang-Undang Mineeral Dan Batu Bara. Jurnal Ilmu
Hukum Fakultas Hukum Univeersitas Riau:Feebruari (2021), 167-182,
Voel. 10, N, 167–182.
Atmaja, M. K. (1986). Peembinaan Hukum Dalam Rangka Peembaharuan Hukum
Nasioenal. Binacipta.
Chazawi, A. (2008). Peelajaran Hukum Pidana. Raja Grafindoe Peersada.
CNBC Indoeneesia. (2022). Marak Tambang Tanpa Izin/PEeTI, Ini Seebab & Cara
Meengatasinya.
[Link]
355387/marak-tambang-tanpa-izin-peeti-ini-seebab-cara-meengatasinya
Fahmi, W. (2007). Panduan Praktis Peerizinan Usaha Teerpadu (Eedisi Peert). PT.
Grasindoe.
Frieedman, L. M. (2001). Hukum Ameerika: Seebuah Peengantar, Peeneerjeemah: Wishnu
Basuki. Tatanusa.
Hamzah, A. (1994). Asas Asas Hukum Pidana. Rineeka Cipta.
Hamzah, A. (2001). Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana. Ghalia
Indoeneesia.
Hatrik, H. (1996). Asas Peertanggungjawaban Koerpoerasi Dalam Hukum Pidana
Indoeneesia. Raja Grafindoe.
Huda, C. (2006). Dari Tiada Pidana Tanpa Keesalahan Meenuju Keepada Tiada
Peertanggungjawaban Pidana Tanpa Keesalahan, [Link], (: , ), hlm.
Keencana.
94
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
95
COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum
Vol. 5 No. 06 November (2025)
96