0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan11 halaman

Pertanggungjawaban Penambangan Tanpa Izin

Dokumen ini membahas pertanggungjawaban pelaku tindak pidana penambangan tanpa izin berdasarkan Pasal 158 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020. Kasus yang diteliti melibatkan terdakwa yang melakukan penambangan tanah liat tanpa izin, yang berujung pada hukuman penjara selama 2 bulan 15 hari dan denda. Penelitian ini juga menyoroti kelemahan dalam pertimbangan hukum yang dianggap terlalu ringan untuk mencegah pelanggaran serupa di masa depan.

Diunggah oleh

Putri Intan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan11 halaman

Pertanggungjawaban Penambangan Tanpa Izin

Dokumen ini membahas pertanggungjawaban pelaku tindak pidana penambangan tanpa izin berdasarkan Pasal 158 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020. Kasus yang diteliti melibatkan terdakwa yang melakukan penambangan tanah liat tanpa izin, yang berujung pada hukuman penjara selama 2 bulan 15 hari dan denda. Penelitian ini juga menyoroti kelemahan dalam pertimbangan hukum yang dianggap terlalu ringan untuk mencegah pelanggaran serupa di masa depan.

Diunggah oleh

Putri Intan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

YUSTISIA MERDEKA: Jurnal Imiah Hukum; ISSN: 2580-0019

Website : [Link]

PERTANGGUNGJAWABAN PELAKU TINDAK PIDANA MELAKUKAN


USAHA PENAMBANGAN TANPA IZIN IUP, IPR ATAU IUPK
BERDASARKAN PASAL 158 UNDANG-UNDANG NOMOR
3 TAHUN 2020 TENTANG PERTAMBANGAN
MINERAL DAN BATU BARA
(Studi Putusan Nomor : 518/[Link]/2022/[Link])

Lukmanul Hakim1, Aprinisa2, Alma Zhuhri Febriansyah3


123
Fakultas Hukum Universitas Bandar Lampung Jln. ZA. Pagar Alam No. 26
Labuhan Ratu Bandar Lampung Provinsi Lampung
email: cindvia76@[Link]

Abstract--Mining is all or part of the stages of activity in the management and


exploitation of minerals or coal which includes exploration, feasibility studies,
construction, mining, management & refining, transportation & sales, and post-
mining activities. As for what is the dispute in this study, how is the
responsibility of the perpetrators of criminal acts in conducting a mining
business without IUP, IPR or IUPK Permits & How to consider the rules of the
Panel of Judges in determining the crime of carrying out a mining business
without IUP, IPR or IUPK Permits from Study Decision Number: 518
/[Link]/2022/ [Link]? the research method used is normative & empirical
juridical, the output of research on criminal liability for conducting mining
business without a permit is imprisonment for 2 (two) months & 15 (fifteen)
days & a penalty of IDR 5,000,000.00 (5 million rupiah) And the legal
considerations of the Panel of Judges in determining the criminal act of
conducting a mining business are not yet perfect because it is too light for the
perpetrators who have committed mining crimes without causing environmental
damage as a result, as a result of which they cannot have a deterrent effect on
the perpetrators.
Keywords: Crime; Mining Business; Without permission.

I. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang kaya akan mineral (tambang). Mineral
yang terkandung di dalamnya antara lain emas, perak, tembaga, minyak dan gas
bumi, batu bara dan masih banyak lagi potensi alam lainnya yang dapat
menunjang pembangunan negara ini. Dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 setelah
perubahan keempat tahun 2002 (selanjutnya disebut UUD 1945 singkatnya)
mengatur bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang di dalamnya diurus oleh
Negara dan dikelola oleh Negara. digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat. Berdasarkan pasal ini, eksploitasi kebendaan di tanah Indonesia adalah hak

Volume 9 Nomor 1 Bulan Maret Tahun 2023, YUSTISIA MERDEKA | 48


bangsa Indonesia, sebagai satu kesatuan, bukan hak perorangan atau golongan
tertentu. 1

Bahan yang digali merupakan sumber daya alam yang tidak dapat
diperbaharui dan dalam jumlah yang terbatas tentunya memiliki nilai ekonomis
yang sangat tinggi. Adanya nilai ekonomi yang tinggi tersebut merupakan salah
satu faktor yang menjelaskan mengapa usaha bahan tambang merupakan industri
yang dimiliki baik oleh pemerintah maupun swasta. Adanya kegiatan
pertambangan juga memberikan dampak negatif, karena pertambangan selalu
identik dengan kerusakan lingkungan dan masalah lainnya. Ketidakpatuhan
terhadap standar penambangan, ketidakpedulian terhadap masalah lingkungan,
masalah dengan masyarakat lokal dan izin penambangan adalah masalah yang ada
dalam operasi penambangan di suatu tempat.2

Sebagai bentuk pembuatan instrumen hukum, pemerintah menerbitkan Undang-


undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (selanjutnya disebut Undang-Undang
Minerba) jo Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun hal ini
mencerminkan pentingnya setiap pengelolaan atau pengusahaan hanya dapat dilakukan
dengan adanya izin dari negara. Pengaturan hukum terhadap tindak pidana penambangan
secara liar dirumuskan dalam Bab XXIII Pasal 158 sampai Pasal 165 Undang-Undang
Minerba.3

Adapun kasus tersebut dapat di atas dapat tercemin dalam Putusan


Pengandilan Negeri Tanjung Karang Nomor: 518/[Link]/2022/[Link] telah
terjadi tindak pidana melakukan penambangan tanpa izin usaha Pertambangan
(IUP) Terdakwa KUSWANTO Bin SUMARDI (Alm) melakukan penggalian
tanah lempung tanpa memiliki izin dan pada saat itu didapati bahwa baru saja
dilakukan kegiatan penggalian tanah lempung/liat yang mana terdapat satu unit
alat berat jenis Exsavator merek HITACHI tipe X200 warna Oranye terletakdi
Dusun II, Desa Sendang Retno, Kecamatan. Sendang Agung, Kabupaten.
Lampung Tengah, kemudian dilakukan interogasi terhadap terdakwa dan
berdasarkan keterangan dari terdakwa benar bahwa terdakwa melakukan kegiatan
penggalian/penambangan tanah lempung di lokasi tersebut sudah selama 2 (dua)
bulan atau sekitar sejak Desember 2021 sampai dengan sekarang yang tidak
memiliki izin penambangan dan tidak memiliki dokumen perizinan dalam bentuk
apapun yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM.

1 Adrian Sutedi. 2011. Hukum Pertambangan. Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 4.


2
Niniek Suparni. 2003. Eksistensi Pidana Denda dalam Sistem Pidana dan Pemidanaan,
Sinar Grafika, Jakarta. hlm. 35.
3
Muhammad Topan. 2009. Kejahatan Koorporasi Dibidang Lingkungan Hidup
Persefektif Viktimologi Dalam Pembaharuan Hukum Pidana Di Indonesia. Nusamedia, Bandung.
hlm. 87.

49
II. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang terjadi permasalahan dalam
penelitian ini adalah:
a. Bagaimana pertanggungjawaban pelaku tindak pidana dalam melakukan
usaha penambangan tanpa Izin IUP, IPR atau IUPK berdasarkan Studi
Putusan Nomor: 518/[Link]/2022/[Link]?
b. Bagaimana pertimbangan hukum majelis Hakim dalam memutuskan tindak
pidana melakukan usaha penambangan tanpa Izin IUP, IPR atau IUPK
berdasarkan Studi Putusan Nomor: 518/[Link]/2022/ [Link]?

III. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum yuridis normatif yakni


melakukan dengan cara mengkaji berbagai literatur yang sifatnya tidak terbatas
oleh waktu dan tempat, serta mengkaji berbagai literatur baik yang berupa buku-
buku, hasil penelitian sebelumnya maupun peraturan perundang-undangan baik
cetak maupun online yang berkaitan dengan permasalahan yang ditelit, Untuk
menjawab permasalahan yang ada, maka penelitian ini menggunakan 3 (tiga)
pendekatan penelitian yaitu, pendekatan perundang-undangan (statute approach),
pendekatan konseptual (conceptual approach), dan pendekatan komparatif
(comparative approach).

Jenis dan sumber bahan-bahan hukum yang digunakan dalam penelitian


ini terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Pengumpulan bahan-
bahan hukum dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan menginventarisasi
aturan hukum positif, meneliti bahan pustaka (buku, jurnal ilmiah, laporan hasil
penelitian), dan sumber-sumber bahan hukum lainnya yang relevan dengan
permasalahan hukum yang dikaji. Bahan-bahan hukum yang sudah terkumpul,
selanjutnya diklasifikasi, diseleksi dan dipastikan tidak bertentangan satu sama
lain, untuk memudahkan menganalisis dan mengkonstruksikannya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pertanggungjawaban Tindak Pidana Dalam Melakukan Usaha


Penambangan Tanpa Izin IUP, IPR Atau IUPK Berdasarkan Studi
Putusan Nomor: 518/[Link]/2022/ [Link].

Perbuatan terdakwa Kuswanto Bin (Alm) Sumbardi yang melakukan


tindak pidana pertambangan bahan galian tanpa izin usaha pertambangan
pemerintah berdasarkan Pasal 158 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3
Tahun 2020 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan dan Pertambangan pertambangan batubara. Perbuatan
Terdakwa dimulai sekitar bulan Desember 2021 ketika Saksi Janta alias Mbah
Janta meminta Terdakwa untuk mencetak/membuat sawahnya seluas kurang lebih

50
2500 meter persegi (dua ribu lima ratus meter persegi) yang terletak di Dusun II,
Desa Sendang Retno, Kec. Sendang Agung, Kab. Lampung Tengah menjadi lebih
rendah sehingga pengairan sawahnya menjadi normal/baik dan terdakwa membuat
kesepakatan antara terdakwa dan saksi Janta alias Mbah Janta, kesepakatan ini
hanya dilakukan secara lisan ketika pengerjaannya kurang lebih 4 bulan, pemilik
tanah, yaitu saksi Janta alias Mbah Janta dari pihak terdakwa menerima ganti rugi
bagi orang yang tidak dapat mengolah/menanam beras sebesar Rp.5.000.000,-
(lima juta rupiah).

Pekerjaan kemudian dilakukan dengan menggali tanah sawah,


menggunakan alat berat berupa 1 (satu) buah alat berat Hitachi orange tipe X200
yang disewa oleh Saksi Darwin Setiawan Bin Sakiman dengan perhitungan
kurang dari biaya sewa operasional per jam sebesar Rp. 180.000,-/jam (seratus
delapan puluh ribu rupiah per jam), selanjutnya digunakan 1 (satu) buah alat berat
Hitachi X200 berwarna orange untuk mengeruk dan membuang lumpur/tanah liat.
Tanah liat/tanah liat yang digunakan tergugat sebagai bahan baku pembuatan batu
bata berada di pabrik batu bata milik terdakwa atau yang biasa disebut tobong,
dan sebagian terdakwa juga menjual kepada perusahaan pembuat batu bata yang
mereka beli sendiri. pertambangan. Truk jungkit. dengan harga jual Rp.100.000,-
/Ritase (masing-masing seratus ribu rupiah) dan dalam satu hari bahan baku tanah
liat menghasilkan rata-rata 15 dump truck Ritase yang digunakan sendiri oleh
terdakwa di pabrik batu bata milik terdakwa. untuk 5 dump truck Ritase, sisa
tergugat dijual kepada pembeli yang datang langsung ke lokasi pembangunan.

Kegiatan yang dilakukan oleh Bapak Kuswanto Bin (Alm) Sumbardi


merupakan kegiatan penambangan yang termasuk dalam kelompok mineral bumi
dan dinas ESDM provinsi lampung belum pernah menerima permintaan apapun
terkait permohonan izin usaha pertambangan (IUP) dan provinsi lampung. Dinas
ESDM belum pernah mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk
kegiatan penambangan di Dusun II, Desa Sendang Retno, Kec. Sendang Agung,
Kab. Lampu tengah. Dengan demikian, jika ada organisasi komersial, koperasi
atau perusahaan swasta yang melakukan kegiatan penambangan (tanah liat/tanah
liat) untuk mendapatkan keuntungan tanpa izin, maka hal ini tidak dapat
dimaafkan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ahmad Hasan Basri
selaku Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Bandar Lampung menjelaskan
bahwa perbuatan Kuswanto Bin (Alm) Sumbardi diatur dan dipidana sesuai
dengan yang diatur dalam Pasal 158 UU Kejaksaan . Republik Indonesia Nomor 3
Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 terkait
Pertambangan dan Batubara. Selain itu, perbuatan terdakwa juga memenuhi unsur
Pasal 158 UU Minerba sebagai dakwaan eksklusif kejaksaan. Faktor-faktor
tersebut adalah4:
a. Unsur Setiap Orang.
4
Roni Wiyanto. 2012. Asas-asas Hukum Pidana Indonesia, Mandar Maju, Bandung. hlm.
23.

51
Dalam Undang-Undang RI Nomor No 3 Tahun 2020 Tentang Perubahan
atas Undang-Undang RI Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batu Bara disebutkan bahwa yang dimaksud Setiap orang adalah orang
perseorangan dan/atau korporasi yang bergerak dibidang pertambangan yang
didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan dalam wilayah negara
kesatuan republik Indonesia, pada hakekatnya unsur setiap orang ini menunjuk
pada subyek hukum kepada siapa perbuatan pidana itu dapat
dipertanggungjawabkan, dalam perkara a quo adalah atas nama terdakwa
Kuswantobin (alm) Sumbardi sebagaimana identitasnya yang diuraikan Penuntut
Umum dalam surat dakwaannya beserta berkas perkara yang menjadi
lampirannya, hal ini juga sesuai dengan keseluruhan saksi-saksi yang memberikan
keterangan dibawah sumpah di persidangan pada pokoknya telah menerangkan
bahwa terdakwa yang hadir dan diperiksa dipersidangan ini adalah benar terdakwa
sebagaimana surat dakwaan dan terdakwa sendiri telah mengakui sehat jasmani
maupun rohani dengan demikian tidak terdapat kesalahanmengenai orang (error in
Persona) yang diajukan dimuka persidangan.5

b. Unsur Telah Melakukan Penambangan Tanpa IUP, IPR atau IUPK

Undang-Undang RI Nomor No 3 Tahun 2020 Tentang Perubahan atas


Undang Undang RI Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu
Bara disebutkan pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan
dalam rangka pengelolaan dan pengusahaan mineral dan batubara, adapun hal itu
diperjalas dalam Pasal 2 ayat 1 huruf D Peraturan Pemerintah Nomor 96 tahun
2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara
disebutkan batuan meliputi agar, andesit, basalt, batu apung, batu gamping, batu
gunung, kuari besar, batu kali, chert, diorite, gabbro, garnet, giok, gamping, tanah
liat, tanah merah, tanah serap, tanah urug, dan pasir yang tidak mengandung
mineral logam atau unsur mineral bukan logam.6 Oleh karena itu, kegiatan yang
dilakukan oleh Termohon merupakan pertambangan bahan galian, berdasarkan
Pasal 35 UU Minerba yang mengatur bahwa kegiatan pertambangan tersebut
dilakukan berdasarkan izin pertambangan yang dikeluarkan oleh pemerintah
pusat. IUP diberikan kepada: badan usaha, yang dapat berbentuk badan usaha
swasta, badan usaha umum atau daerah, koperasi; dan perorangan, yang dapat
berupa warga negara Indonesia, organisasi bisnis, atau perseroan terbatas. IUP
akan diterbitkan setelah menerima WIUP (Wilayah Izin Usaha Pertambangan).
Dalam WIUP dapat diterbitkan 1 IUP atau lebih IUP.7

Bapak Ahmad Hasan Basri selaku Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan
Negeri Bandar Lampung menjelaskan bahwa karena seluruh unsur Pasal 158 UU

5
Tri Hayati. 2015. Era Baru Hukum Pertambangan di Bawah Rezim Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2009, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta. hlm. 67.
6
Lukmanul Hakim, Okta Ainita, Justicia Tessalonika Panjaitan. 2022.
Pertanggungjawaban Pelaku Tindak Pidana Perusakan Sepeda Motor Vol. 2 No. 1. Indonesia
Journal of Law and Social-Political Governance. Hlm. 85.
7
Salim HS. 2015. Hukum Pertambangan di Indonesia. Raja Grafindo, Jakarta. hlm. 54.

52
Minerba telah terpenuhi, maka Jaksa Penuntut Umum mendakwanya sebagai
berikut:
1. Memvonis terdakwa Kuswanto Bin (Alm) Sumbardi bersalah “beroperasi
tanpa izin usaha pemerintah” berdasarkan Pasal 158 Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Mineral Batu
Bara dan Undang-Undang Pertambangan Nomor 4 Tahun 2009 seperti dalam
dakwaan kami.
2. Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Kuswanto Bin (Alm) Sumbardi
karena. 4 (empat) bulan dikurangi terdakwa selama dalam tahanan dengan
perintah agar terdakwa tetap dalam tahanan dan denda sebesar Rp.
5.000.000,00 (lima juta rupiah) tambahan 1 (satu) bulan;

3. Bukti pernyataan berupa:

a. 1 (satu) buah alat Exapator Hitachi type X200 Orange. kembali ke


Darwin Setiawan Bin Sakimin.
b. 1 (satu) buku catatan kuning digunakan untuk mencatat hasil bahan
tanah liat yang dilampirkan pada BAP.

4. Memaksa terdakwa membayar biaya perkara Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah).
Namun permohonan Jaksa Penuntut Umum tersebut tidak diterima oleh
Hakim dengan pertimbangan Majelis Hakim yang memutuskan sebagai
berikut:

a. Membuktikan bahwa terdakwa Kuswanto bin (Alm) Sumbardi tersebut di


atas dinyatakan bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak
pidana “menjalankan usaha pertambangan tanpa izin IUP, IPR atau
IUPK”, sebagaimana dalam Akta Dakwaan Tunggal Kejaksaan;
b. Menghukum terdakwa dengan pidana penjara 2 (dua) bulan 15 (lima belas)
hari dan denda sebesar Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah) dengan
ketentuan tidak membayar denda tersebut mengakibatkan pidana penjara 1
(satu) bulan;
c. Menetapkan tenggang waktu penangkapan atau penahanan yang telah
dijalani terdakwa secara penuh yang dikurangkan dari pidana yang
dijatuhkan;
d. Menyatakan bahwa terdakwa masih dalam tahanan;
e. Menetapkan bukti sebagai:

1) 1 (satu) Knalpot Hitachi Orange Tipe X200. Kembali ke Darwin


Setiawan Bin Sakimin
2) 1 (satu) buku catatan kuning digunakan untuk mencatat hasil bahan
tanah liat yang dilampirkan pada BAP

5. memerintahkan tergugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 2.000,-


(dua ribu rupiah);

53
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dianalisis bahwa terdakwa terbukti
telah melakukan tindak Pidana melakukan usaha penambangan tanpa izin IUP,
IPR atau IUPK sebagaimana diatur dalam Pasal 158 Undang-Undang Minerbar
yang berbunyi: setiap orang yang melakukan penambangan tanpa izin dipidana
penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp. [Link]
(seratus milyar rupiah). Dengan demikian tuntutan Jaksa Penutut Umum
(selanjutnya disebut dengan JPU) dalam Putusan Nomor: 518/[Link]/2022/
[Link] dengan terdakwa Kuswanto bin (Alm) Sumbardi lebih ringan dari 1 Tahun
dari kententuan Pasal 158 Undang-Undang Minerbar yang mana JPU hanya
menutut Terdakwa 4 (empat) bulan dikurangi Terdakwa selama berada dalam
tahanan dengan perintah terdakwa tetap ditahan dan denda Rp.5.000.000,- (lima
juta rupiah) subsidair 1 (satu) bulan. Berdasarkan pada fakta-fakta persidangan
berupa, barang bukti keterangan Para saksi dan Keyakinan hakim, dari tuntutan
JPU tersebut Majelis Hakim memutuskan dan berpendapat lain dengan hanya
menghukum Terdakwa lebih ringan 1 bulan 15 hari dari tuntutan JPU dengan
pidana Penjara selama 2 (dua) bulan dan 15 (lima belas) hari dan denda sejumlah
Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak
dibayar diganti dengan pidana penjara selama 1 (satu) bulan.

2. Pertimbangan Hukum Majelis Hakim Dalam Memutuskan Tindak


Pidana Melakukan Usaha Penambangan Tanpa Izin IUP, IPR Atau
IUPK Berdasarkan Studi Putusan Nomor: 518/[Link]/2022/ [Link].

Dalam Putusan Nomor: 518/[Link]/2022/ [Link], pertimbangan Majelis


Hakim sebagai hal yg sangat menarik lantaran sebagaimana ketahui dipembahasan
kita yg pertamana keputusan Majelis Hakim lebih ringan 1 bulan 15 hari menurut
tuntutan JPU selama 4 (empat) bulan 15 (5 belas) hari & hukuman sejumlah Rp
5.000.000,00 (5 juta rupiah) menggunakan ketentuan bila hukuman tadi nir
dibayar diganti menggunakan pidana penjara selama 1 (satu) bulan. Jika ditinjau
menurut ketentuan Pasal 158 Undang-Undang Minerba acaman pidana bagi
pelaku Pertambangan tanpa biar merupakan lima Tahun penjara, menggunakan
demi kian Perimbangan hakim pada menjatuhkan putusan adalah galat satu unsur
krusial pada menguatkan putusan dikarenakan pertimbangan itulah yg sebagai
aspek krusial menurut holistik aspek putusan, bahkan suatu putusan yg nir
memuat pertimbangan yg relatif akan sebagai alasan buat bisa diajukan pulang
suatu upaya aturan baik itu banding juga kasasi, yg mengakibatkan potensi dalam
putusan tadi akan bisa dibatalkan sang pengadilan yg lebih tinggi.8

Berdasarkan wawancara penulis menggunakan Bapak Efiyanto D, selaku


Hakim pada Pengadilan Negeri kelas 1 A Tanjung Karang menyampaikan bahwa
pertimbangan hakim pada Putusan Nomor: 518/[Link]/2022/ [Link] yg
dilakukan sang terdakwa Kuswanto bin (Alm) Sumbardi telah sempurna hal ini

8
Tongat. 2008. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia dalam Perspektif Pembaharuan,
UMM Press, Malang. hlm. 34.

54
terlihat bahwa hakim pada menjatuhkan putusan wajib menurut indera bukti,
unsur-unsur & pertimbaangan yg matang pada hal ini terdakwa sudah sahih &
terbukti melakukan tindak pidana pertambangan tanpa mempunyai biar , yg
mengakibatkan kerusakan lingkungan selain itu dasar-dasar pertimbangan lain yg
dijadikan acuan sang hakim pada masalah ini menjadi berikut:
1) Pertimbangan Hakim Jaksa Penutut Umum telah dapat membuktikan
dakwaanya terhadap terdakwa yakni Unsur-Unsur dalam Pasal 158 Undang-
Undang Minerba sebagai berikut :
a. Unsur Setiap Orang
b. Unsur Telah Melakukan Penambangan Tanpa IUP, IPR atau IUPK
2) Selain telah terpenuhinya unsur-unsur dalam Pasal 158 Undang-Undang
Minerbar Pertimbangan Majelis Hakim lainya adalah dua alat bukti yang sah
sebagaimana dimaksud didalam Pasal 183 dan Pasal 184 KUHAP berupa:
a. Keterang Para Saksi
b. barang bukti sebagai berikut:
1) 1 (satu) unit Exapator Merek HITACHI tipe X200 warna Oranye.
Karena merupakan milik sdr Darwin Setiawan bin Sakiminmakasudah
sepantasnya dikembalikan kepada Darwin SetiawanbinSakimin.
2) 1 (satu) buah buku catatan warna kuning yang digunakan untuk
mencatat hasil material tanah lempung Karena merupakan fotocopy
maka sudah sepantasnyatetapterlampir dalam berkas.9

Oleh karenanya dalam hal ini Majelis Hakim telah memperoleh sebuah
keyakinan bahwa terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah
melakukantindak pidana sebagaimana yang didakwakan oleh Penuntut Umum
tersebut.

3) Pertimbanga majelis hakim selanjutnya adalah Majelis tidak menemukan hal-


hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana baik sebagai
alasan pembenar dan atau alasan pemaaf maka Terdakwa harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya, oleh karena Terdakwa mampu
bertanggungjawab maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana.

4) Pertimbangang Hakim selanjutnya bahwa untuk menjatuhkan pidana terhadap


Terdakwa, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang
memberatkan adalah Perbuatan terdakwa dapat menimbulkan dampak
kerusakanlingkungan, dan Keadaan yang meringankan adalah Terdakwa
sopan dipersidangan serta Terdakwa belum pernah dihukum.

Berdasarkan uraian di atas dapat dianalisis bahwa pertimbangan juri dalam


mengambil keputusan atas perkara no. 518/[Link]/2022/[Link] terhadap
terdakwa Kuswanto bin (Alm) Sumbardi yang terbukti secara sah dan meyakinkan
melakukan tindak pidana pertambangan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam
pasal 518/[Link]/2022/PN .Tjk 158 UU Minerba didasarkan pada 4 (empat)
9
Aprinisa, Bambang Hartono, Muhamad Bagas Ranata. 2022.
PertanggungjawabanPidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Penggelapan Uang Oleh Aparatur
Negara (Studi Putusan Nomor: 83/Pid.B/2021/Pn Kbu, Suara Keadilan, Vol. 23 No. 1. hlm. 43.

55
pokok yaitu, pertama, penuntut umum dapat membuktikan semua tuntutannya
terhadap terdakwa sebagai terdakwa tunggal, kedua, cukup 2 alat bukti permulaan
sebagaimana ditentukan dalam hukum acara pidana pada berupa keterangan-
keterangan dan bukti-bukti pidana, dan pertimbangan keempat majelis hakim
adalah bahwa hal yang memberatkan adalah karena perbuatan terdakwa
Kerusakan lingkungan dan dakwaan perbuatan meringankan adalah dakwaan yang
santun dan tidak pernah dipidana.

V. PENUTUP
1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka penulis dapat menarik
kesimpulan yaitu :
a. Pertanggungjawaban tindak pidana dalam melakukan usaha penambangan
tanpa Izin IUP, IPR Atau IUPK yang dilakuan oleh terdakwa Kuswanto bin
(Alm) Sumbardi mengali Tanah liat tanpa izin dari Pemerinta, terdakwa harus
dihukum dengan penjara selama 2 (dua) bulan dan 15 (lima belas) hari dan
denda sejumlah Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah) dengan ketentuan apabila
denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama 1 (satu)
bulan.
b. Pertimbangan Hukum Majelis Hakim dalam memutuskan tindak pidana
melakukan usaha penambangan tanpa izin IUP, IPR Atau IUPK berdasarkan
studi Putusan Nomor: 518/[Link]/2022/ [Link]. belum tepat dan tidak
sesuai dengan kentetuan Peraturan Perundang-Undang yang berlaku, serta
Penulis bependapat bahwa Putusan yang diberikan Majelis Hakim terlalu
ringan bagi pelaku yang telah tindak pidana petambangan tanpa izin sehingga
menyebabkan kerusakan likungan, sehingga tidak dapat memberikan efek jera
bagi para pelaku.

2. Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut:
a. Saran kepada masyarakat yang ingin melakukan kegiatan yang berhubungan
dan berdanpak pada lingkungan agar lebih teliti serta memahami apakah
kegiatan yang dilakukan merupakan tindakan pidana atau bukan, jangan
sampai karena ketidak tahuan dan kekurangan hati-hatian dapat merugikan diri
sendiri.

b. Saran untuk penegak hukum khusunya Majelis Hakim untuk dapat menindak
dengan tepat terkait kejahatan tindak pidana pertambangan yang dilakukan
tanpa izin dengan memberikan sanksi hukum yang tegas, dikarenakan tindak
pidana pertambangan yang dilakukan tanpa izin yang dilakukan terdakwa
sangat merugikan banyak orang dan merusak lingkungan, diharapkan sanksi
yang diberikan lebih berat agar para pelaku mendatkan efek Jera.

56
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku-Buku.
Muhammad Topan. 2009. Kejahatan Koorporasi Dibidang Lingkungan Hidup
Persefektif Viktimologi Dalam Pembaharuan Hukum Pidana Di Indonesia.
Nusamedia, Bandung.

Niniek Suparni. 2003. Eksistensi Pidana Denda dalam Sistem Pidana dan
Pemidanaan, Sinar Grafika, Jakarta.
Rahman Syamsuddin. 2014. Merajut Hukum di Indonesia. Wacana Media,
Jakarta.

Roni Wiyanto. 2012. Asas-asas Hukum Pidana Indonesia, Mandar Maju,


Bandung.
Salim HS. 2015. Hukum Pertambangan di Indonesia. Raja Grafindo, Jakarta.

Satichid Kartanegara. Hukum Pidana Kumpulan Kuliah-Kuliah, Balai Lektur


Mahasiswa, Jarkta.

Tongat. 2008. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia dalam Perspektif


Pembaharuan, UMM Press, Malang.

Tri Hayati. 2015. Era Baru Hukum Pertambangan di Bawah Rezim Undang-
Undang Nomor 4 Tahun 2009, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta.

B. Peraturan Perundang-Undanganlainya:

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 hasil


Amandemen.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum


Pidana.

Undang–Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang – Undang Hukum


Acara Pidana.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Republik Indonesia.

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan


Batubara jo Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

57
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup jo Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang
Cipta Kerja.
Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara.
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 Jo. Peraturan pemerintah Nomor 58
Tahun 2010 Jo. Peraturan Pemerintah Nomor 92 Tahun 2015 tentang
Pedoman Pelaksanaan Hukum Acara Pidana (KUHAP).

C. Sumber lainya:

Aprinisa, Bambang Hartono, Muhamad Bagas Ranata. 2022.


Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana
Penggelapan Uang Oleh Aparatur Negara (Studi Putusan Nomor:
83/Pid.B/2021/Pn Kbu, Suara Keadilan, Vol. 23 No. 1.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. [Link] Besar BahasaIndonesia.
Balai Pustaka, Jakarta.
Elisabeth Nurhaini Butarbutar. 2011. Penerapan Dan Pengaturannya Dalam
Hukum Acara Perdata. Dinamika Hukum. Volume 11 Nomor 3 Fakultas
Hukum, Universitas Katolik Santo Thomas, Sumatra Utara.
Lukmanul Hakim, Okta Ainita, Justicia Tessalonika Panjaitan. 2022.
Pertanggungjawaban Pelaku Tindak Pidana Perusakan Sepeda Motor
Vol. 2 No. 1. Indonesia Journal of Law and Social-Political Governance.

Mr. N.E. algra dan Mr. HRW. Gokkel. 2008. Kamus Istilah Hukum Fockema
Andreae, diterjemahkan oleh Saleh Adiwinata dkk., Bina Cipta, Jakarta.

Suhariyono AR. 2009. Penentuan Sanksi Pidana Dalam Suatu Undang-Undang,


Volume. 6 Nomor. 4, Jurnal Legisasi Hukum.

Yan Pramadya Puspa. 2008. Kamus Hukum Belanda-Indonesia-Inggris. Aneka


Ilmu, Semarang.

58

Anda mungkin juga menyukai