Definisi DVT
Trombosis vena dalam (DVT) adalah kondisi terjadinya pembekuan darah (thrombus) di
dalam pembuluh darah vena, yang umumnya terjadi pada vena di kakidan mencakup
bagian betis, paha, vena popliteal, atau vena di panggul dan lengan yang mengarah ke
jantung.
Trombosis sendiri merujuk pada pembentukan bekuan darah yang terdiri dari komponen darah
yang tidak normal, terjadi tanpa adanya luka atau lesi vaskular. DVT pada dasarnya merupakan
penyakit tromboemboli vena yang juga mencakup emboli paru-paru.
Epidemiologi
DVT merupakan permasalahan atau komplikasi yang menyebabkan abnormalitas tonus
(hipotonus), dan pada manifestasinya, penderita akan mengalami kelemahan pada satu
sisi anggota tubuhnya
Kejadian DVT pada ras Asia dan Hispanik melaporkan angka yang lebih rendah
dibandingkan dengan ras Kaukasia, Afrika-Amerika Latin, dan Asia Pasifik. Padapasien
yang terbaring di tempat tidur di 25 rumah sakit, kejadian pasien yangmengalami
trombosis vena dalam selama rawat inap mencapai 10,0 per 1000 pasien yang masuk.
Sebagai contoh, studi prospektif di India terhadap 125 pasien dengan trauma tungkai
bawah melaporkan bahwa prevalensi trombosis vena dalam adalah4,8%,
sementaradalam studi kohort prospektif multisenter di Cina yang melibatkan 862 pasien
berbasis rumah sakit dengan stroke akut, insiden keseluruhan trombosis vena dalam
dalam 2 minggu setelah stroke akut mencapai 12,4% .
ETIOLOGI
Faktor Resiko
1. Stasis Vena
Aliran darah melambat akibat imobilisasi (bed rest, perjalanan panjang), gagal
jantung, atau kompresi mekanis (misal: tumor atau kehamilan).
Stasis memicu akumulasi faktor koagulasi dan mengurangi clearance inhibitor alami
(e.g., protein C/S) .
2. Kerusakan Endotel Vaskular
Trauma pembuluh darah (operasi, kateter vena), inflamasi (vaskulitis), atau stres
oksidatif (merokok, diabetes)
Kerusakan endotel memicu eksposisi kolagen subendotel dan aktivasi faktor
jaringan (Tissue Factor, TF), yang mengaktivasi jalur koagulasi .
3. Hiperkoagulabilitas
Kongenital: Mutasi Factor V Leiden, defisiensi protein C/S/antitrombin III.
Didapat: Kanker (peningkatan TF dan mucin), sindrom antifosfolipid, kehamilan,
atau obat (kontrasepsi oral) .
PATOFISIOLOGI
Trombosis adalah mekanisme perlindungan yang mencegah kehilangan darah dan
menutup pembuluh darah yang rusak. Fibrinolisis menangkal atau menstabilkan
trombosis. Pemicu trombosis vena sering kali bersifat multifaktorial, dengan bagian
yang berbeda dari tiga serangkai Virchow berkontribusi dalam berbagai tingkat pada
setiap pasien, tetapi semuanya menghasilkan interaksi trombus awal dengan endotel.
Hal ini merangsang produksi sitokin lokal dan menyebabkan adhesi leukosit pada
endotel, sehingga mendorong terjadinya trombosis vena. Tergantung pada
keseimbangan relatif antara jalur koagulasi dan trombolitik, maka terjadilah
penyebaran trombus. DVT paling sering terjadi pada tungkai bawah di bawah lutut
dan dimulai dari lokasi dengan aliran rendah, seperti sinus solealis, di belakang
kantong katup vena. Korelasi potensial antara DVT dan aterosklerosis (AS) telah
diusulkan. Disfungsi endotel yang terlibat dalam mekanisme patofisiologis DVT
berpotensi mengakibatkan AS. Oleh karena itu, risiko yang lebih besar untuk
terjadinya AS pada pasien dengan DVT .
KLASIFIKASI
DVT Dari segi anatomi, Deep Vein Thrombosis (DVT) dapat diklasifikasikan
sebagai proksimal atau distal, tergantung pada daerah vena yang terlibat. Trombosis
pada vena iliaka, femoralis, dan/atau poplitea dianggap sebagai DVT proksimal,
walaupun dapat bersamaan dengan DVT betis (distal). Diferensiasi lebih lanjut
menjadi DVT iliofemoral dan femoropopliteal dapat memberikan informasi
tambahan yang berguna. Sebaliknya, trombosis yang terbatas pada betis vena dalam
disebut sebagai DVT betis atau distal. Pentingnya klasifikasi anatomi DVT yang
akurat terletak pada perbedaan risiko emboli paru (PE), risiko pengembangan post-
thrombotic syndrome (PTS), dan prognosis keseluruhan, yang bergantung pada
wilayah vena yang terkena
MANIFESTASI KLINIS
Gejala dan tanda Deep Vein Thrombosis (DVT) umumnya menjadi lebih parah
ketika trombosis meluas ke arah proksimal, mencerminkan tingkat obstruksi aliran
keluar yang lebih besar dan gangguan hemodinamik. Dari tiga jenis anatomi DVT,
yaitu DVT iliofemoral, femoropopliteal, dan betis, DVT iliofemoral cenderung
berkaitan dengan gejala yang paling berat. Gejala DVT betis dapat bervariasi,
bahkan mungkin tidak menunjukkan gejala, tergantung pada kondisi drainase.
Hingga 80% kasus DVT mungkin tidak terlihat secara klinis, dan rasa sakit dapat
menjadi satu-satunya gejala. Pada kasus DVT di tingkat iliofemoral, tungkai
biasanya sangat bengkak dan nyeri, dengan penurunan mobilitas dan edema dari
selangkangan dan distal karena drainase kolateral vena yang terbatas di daerah
panggul. Vena superfisial yang menonjol dapat terlihat. Untuk DVT yang berasal
dari vena iliaka, nyeri punggung mungkin menjadi ciri awal.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Sesuai dengan pedoman National Institute for Clinical Excellence, berikut ini adalah
Pemeriksaan yang dilakukan:
- D-dimers (sangat sensitif tetapi tidak terlalu spesifik)
- Profil koagulasi
- Ultrasonografi vena tungkai proksimal, yang, jika positif, mengindikasikan bahwa
pasien harus dirawat karena mengalami DVT
Memutuskan cara pemeriksaan ditentukan oleh risiko DVT. Langkah pertama adalah
menilai probabilitas klinis DVT dengan menggunakan sistem penilaian Wells.
o Probabilitas klinisnya rendah untuk pasien dengan skor 0 hingga 1, tetapi bagi
mereka yang memiliki skor dua atau lebih, probabilitas klinisnya tinggi.
o Jika pasien memiliki skor 2 atau lebih, pemindaian ultrasonografi vena tungkai
proksimal harus dilakukan dalam waktu 4 jam, dan jika hasilnya negatif, tes D-
dimer harus dilakukan. Jika pencitraan tidak dapat dilakukan dalam waktu 4
jam, tes D-dimer harus dilakukan, dan antikoagulan parenteral dosis sementara
selama 24 jam harus diberikan. Pemindaian ultrasonografi vena tungkai
proksimal harus dilakukan dalam waktu 24 jam setelah diminta.
o Dalam kasus tes D-dimer positif dan pemindaian ultrasonografi vena kaki
proksimal negatif, pemindaian ultrasonografi vena kaki proksimal harus diulang
6 hingga 8 hari kemudian untuk semua pasien
o Jika pasien tidak mendapatkan skor 2 pada skor DVT Wells, tetapi tes D-dimer
positif, pasien harus menjalani pemindaian ultrasonografi vena tungkai
proksimal dalam waktu 4 jam, atau jika hal ini tidak memungkinkan, pasien
harus menerima antikoagulan parenteral dosis sementara selama 24 jam.
Pemindaian ultrasonografi vena tungkai proksimal harus dilakukan dalam waktu
24 jam setelah diminta.
o Pada semua pasien yang didiagnosis dengan DVT, perlakukan seolah-olah ada
pemindaian ultrasonografi vena kaki proksimal yang positif
PENATALAKSANAAN
Pengobatan trombosis vena dalam (DVT) melibatkan tiga fase. Fase pertama
hari setelah diagnosis)melibatkan terapi parenteral dan peralihan ke antagonis
e-ISSN:2986-3597;p-ISSN:2986-4488,Hal97-106
vitamin K (VKA) atau antikoagulan oral dosis tinggi langsung (DOAC). Fase kedua (setelah 3-
6 bulan) mempertahankan pengobatan VKA atau DOAC. Pengobatan awal dan jangka panjang
wajib untuk semua pasien DVT, dengan keputusan untuk melanjutkan terapi bergantung pada
manfaat dan risiko antikoagulasi lanjutan.
Pada pasien dengan kondisi tertentu, seperti gagal ginjal berat atau risiko perdarahan
tinggi, heparin unfractionated (UFH) intravena dapat dianggap lebih baik daripada low-
molecular-weight heparin (LMWH). Meskipun UFH memiliki kelemahan dalam variabilitas
dosis, LMWH dan fondaparinux menjadi pilihan parenteral utama karena efektivitasnya yang
setara dengan UFH dan kemungkinan keamanan yang lebih tinggi
Direct oral anticoagulants (DOAC) merupakan opsi terbaru yang muncul untuk
pengobatan DVT. DOAC seperti dabigatran dan edoxaban dipelajari setelah fase awal
pengobatan parenteral, sedangkan apixaban dan rivaroxaban dievaluasi dengan "pendekatan
obat tunggal." Meta-analisis menunjukkan bahwa DOAC setidaknya seefektif dan mungkin
lebih aman daripada terapi konvensional
Pilihan trombolisis/trombektomi dapat dipertimbangkan untuk mencegah
perkembangan Post-Thrombotic Syndrome (PTS) pada DVT masif yang mengancam nyawa.
Penggunaan filter vena cava hanya disarankan pada pasien dengan kontraindikasi
antikoagulasi yang tidak dapat segera diatasi
Komponen lain dari manajemen DVT melibatkan penggunaan stoking kompresi
[Link] stoking
dalam mencegah PTS masih belum pasti, penggunaannya tetap masuk akal untuk
mengendalikan gejala DVT proksimal akut. Prinsip bedrest pada pasien DVT adalah
mencegah emboli paru tanpa memicu stasis vena. Tatalaksana non-farmakologi juga ditujukan
untuk mengurangi morbiditas pada serangan akut dan mengurangiinsiden PTS
e-ISSN:2986-3597;p-ISSN:2986-4488,Hal97-106
DAFTAR PUSTAKA
Mazzolai, L., Ageno, W., Alatri, A., Bauersachs, R., Becattini, C., Brodmann, M., Emmerich,
J., Konstantinides, S., Meyer, G., Middeldorp, S., Monreal, M., Righini, M., & Aboyans, V.
Second consensus document on diagnosis and management of acute deep vein thrombosis:
updated document elaborated by the ESC Working Group on aorta and peripheral vascular
diseases and the ESC Working Group on pulmonary circulation and right ventricular function.
European Society of Cardiology (ESC). 2021.
Sheikh M. Waheed; Pujitha Kudaravalli; David T. Hotwagner. Deep Vein Thrombosis ,2024