0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan28 halaman

Alokasi Kontigu dalam Sistem Operasi

Dokumen ini membahas metode pengelolaan memori dalam sistem operasi, khususnya Contiguous Allocation dan manajemen memori pada sistem multiprogramming. Metode Contiguous Allocation menyimpan data secara berurutan dalam blok memori yang berdekatan, mempercepat akses data tetapi dapat menyebabkan fragmentasi eksternal. Selain itu, dokumen juga menjelaskan teknik partisi statis dan dinamis dalam manajemen memori, serta algoritma alokasi seperti first-fit, best-fit, dan worst-fit.

Diunggah oleh

Ariel Lesmana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan28 halaman

Alokasi Kontigu dalam Sistem Operasi

Dokumen ini membahas metode pengelolaan memori dalam sistem operasi, khususnya Contiguous Allocation dan manajemen memori pada sistem multiprogramming. Metode Contiguous Allocation menyimpan data secara berurutan dalam blok memori yang berdekatan, mempercepat akses data tetapi dapat menyebabkan fragmentasi eksternal. Selain itu, dokumen juga menjelaskan teknik partisi statis dan dinamis dalam manajemen memori, serta algoritma alokasi seperti first-fit, best-fit, dan worst-fit.

Diunggah oleh

Ariel Lesmana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SISTEM OPERASI

Davit Hermawan, S.T., [Link]


Contiguous
Allocation
Metode pengelolaan memori dalam sistem operasi yang
digunakan untuk menyimpan file atau data pada disk
secara berurutan dalam blok-blok yang saling
berdekatan (kontigu).
Contiguous Allocation
Dengan metode ini, seluruh data sebuah file
dialokasikan dalam satu rentang alamat memori yang
bersebelahan, baik pada memori utama maupun
penyimpanan sekunder (disk).
Alokasi File: Ketika sebuah file ingin disimpan pada disk,
sistem operasi akan mencari rentang blok memori
kosong yang cukup besar untuk menyimpan file tersebut.
Rentang ini harus kontigu (bersebelahan).

Cara Kerja Contiguous Pointer dan Metadata: Sistem operasi menyimpan


Allocation informasi tentang lokasi awal file (starting block) dan
panjang file (jumlah blok yang digunakan) di tabel
alokasi file (File Allocation Table/FAT).

Akses Data: Karena file disimpan secara berurutan,


akses data menggunakan metode ini menjadi sangat
cepat. Hanya perlu mengetahui lokasi awal (starting
block) dan panjang file untuk mengakses seluruh isinya.
Alokasi File: Ketika sebuah file ingin disimpan pada disk,
sistem operasi akan mencari rentang blok memori
kosong yang cukup besar untuk menyimpan file tersebut.
Rentang ini harus kontigu (bersebelahan).

Cara Kerja Contiguous Pointer dan Metadata: Sistem operasi menyimpan


Allocation informasi tentang lokasi awal file (starting block) dan
panjang file (jumlah blok yang digunakan) di tabel
alokasi file (File Allocation Table/FAT).

Akses Data: Karena file disimpan secara berurutan,


akses data menggunakan metode ini menjadi sangat
cepat. Hanya perlu mengetahui lokasi awal (starting
block) dan panjang file untuk mengakses seluruh isinya.
Struktur Disk:
Gambar menunjukkan disk virtual yang terdiri dari 32
blok bernomor 0 hingga 31.
Beberapa blok digunakan untuk menyimpan data file,
sementara blok lainnya kosong (diwakili oleh kotak
putih).

Directory Table (Tabel Direktori):


Tabel di sebelah kanan menunjukkan informasi tentang
file yang tersimpan pada disk. Setiap entri di tabel
mencakup:
Nama file: Identitas file (misalnya, count, tr, dll.).
Start: Lokasi blok awal tempat file dimulai.
Length: Panjang file, yaitu jumlah blok yang
digunakan oleh file.
Isi Tabel Direktori:
File count: Mulai dari blok ke-0 dan menggunakan 2
blok.
File tr: Mulai dari blok ke-14 dan menggunakan 3 blok.
File mail: Mulai dari blok ke-19 dan menggunakan 6 blok.
File list: Mulai dari blok ke-28 dan menggunakan 4 blok.
File f: Mulai dari blok ke-6 dan menggunakan 2 blok.

Pengalokasian pada Disk:


Setiap file dialokasikan dalam blok-blok yang berurutan
(kontigu) pada disk.
Contoh:
File count terletak di blok 0 dan 1.
File mail terletak di blok 19 hingga 24.
Tidak ada blok file yang terpisah atau melompati
alokasi (kontiguitas terjaga).
Keuntungan:
Akses Cepat: Karena file dialokasikan secara berurutan,
file dapat dibaca dalam satu operasi sekuensial, yang
mempercepat akses disk.
Kesederhanaan Struktur Direktori: Setiap file hanya
memerlukan dua informasi utama di tabel: alamat awal
(start) dan panjang file (length).
Hasil Analisis Gambar
Kekurangan:
Fragmentasi Eksternal: Seperti yang terlihat, ada ruang
kosong (di blok 2–5, 8–13, 16–18, dll.) yang tidak cukup
besar untuk menyimpan file baru yang panjangnya
melebihi ukuran ruang kosong tersebut.
Kesulitan Memperbesar File: Misalnya, jika file mail (blok
19–24) ingin diperbesar, ruang kosong yang berdekatan
tidak tersedia. File harus dipindahkan ke lokasi lain atau
menggunakan strategi lain untuk menyimpan data
tambahan.
Keterbatasan Alokasi Kontigu:
Hasil Analisis Gambar Alokasi ini memerlukan proses pencarian ruang kosong
besar yang berdekatan, yang dapat menjadi lambat jika
disk memiliki banyak fragmentasi.
MANAJEMEN MEMORI
PADA SISTEM
MULTIPROGRAMMING
Multiprogramming dengan Partisi Statis

MANAJEMEN MEMORI
PADA SISTEM
MULTIPROGRAMMING Multiprogramming dengan Partisi
Dinamis
Teknik manajemen memori di mana memori utama komputer
dibagi menjadi beberapa partisi tetap (statis) pada saat
sistem operasi diinisialisasi.

Partisi-partisi ini digunakan untuk menjalankan beberapa


Multiprogramming program (atau proses) secara bersamaan, sehingga
dengan Partisi Statis mendukung konsep multiprogramming—yaitu kemampuan
sistem untuk menjalankan beberapa proses dalam waktu
bersamaan untuk meningkatkan utilisasi CPU.

Partisi ini melibatkan pembagian memori utama ke dalam


sejumlah partisi tetap saat sistem dinyalakan, dengan setiap
partisi ditetapkan ke suatu proses.
Dalam pemartisian ini, jumlah partisi (tidak tumpang tindih)
dalam RAM ditetapkan tetapi ukuran setiap partisi mungkin
sama atau tidak sama .

Seperti yang diilustrasikan pada gambar, proses pertama


hanya menggunakan 1 MB dari 4 MB di memori utama.

Oleh karena itu, Fragmentasi Internal di blok pertama adalah


(4-1) = 3 MB. Jumlah Fragmentasi Internal di setiap blok = (4-
1)+(8-7)+(8-7)+(16-14)= 3+1+1+2 = 7 MB.
Misalkan memori utama dibagi menjadi 4 partisi dengan
ukuran tetap:
Partisi 1: 100 KB
Partisi 2: 200 KB
Partisi 3: 300 KB
Contoh Implementasi Partisi 4: 400 KB

Jika ada proses dengan ukuran 250 KB, maka:

Proses tersebut tidak dapat dimuat ke


partisi 1 atau 2 karena ukurannya lebih
besar daripada kapasitas partisi tersebut.
Proses hanya dapat dimuat ke partisi 3
atau 4, tergantung ketersediaan.
Studi Kasus Sebuah sistem operasi menggunakan metode static
partitioning untuk mengelola memori utama sebesar 1 GB,
yang telah dibagi menjadi 4 partisi tetap sebagai berikut:
Partisi 1: 200 MB
Pertanyaan:
Partisi 2: 300 MB
1. Tentukan bagaimana proses-proses
Partisi 3: 250 MB
tersebut dialokasikan ke partisi.
Partisi 4: 250 MB
2. Identifikasi fragmentasi internal (jika ada)
untuk setiap partisi.
3. Berapa banyak proses yang tidak dapat Sistem menerima 5 proses dengan ukuran
dijalankan karena keterbatasan partisi? memori berikut:
Proses A: 180 MB
Proses B: 250 MB
Proses C: 300 MB
Proses D: 220 MB
Proses E: 100 MB
Jawaban
Alokasi Proses dengan First Fit:

Proses A (180 MB) → Masuk ke Partisi 1 (200 MB) → Sisa 20


1. Tentukan bagaimana proses-proses tersebut MB (Fragmentasi Internal)
dialokasikan ke partisi. Proses B (250 MB) → Masuk ke Partisi 3 (250 MB) → Sisa 0
MB
Proses C (300 MB) → Masuk ke Partisi 2 (300 MB) → Sisa 0
MB
Proses D (220 MB) → Masuk ke Partisi 4 (250 MB) → Sisa 30
MB (Fragmentasi Internal)
Proses E (100 MB) → Tidak dapat dialokasikan karena semua
partisi telah penuh.
Jawaban
Fragmentasi internal terjadi jika ukuran proses lebih kecil dari
partisi yang ditempatinya.

2. Identifikasi fragmentasi internal (jika ada)


untuk setiap partisi.

Total fragmentasi internal = 20 MB + 30 MB = 50 MB.


Jawaban

Proses E (100 MB) tidak dapat dialokasikan, meskipun ada


3. Berapa banyak proses yang tidak dapat total 50 MB fragmentasi internal.
dijalankan karena keterbatasan partisi? Namun, karena memori sudah dialokasikan secara statis
dalam partisi tetap, 50 MB ini tidak dapat digunakan untuk
proses baru.
Jumlah proses yang tidak dapat dijalankan: 1 (Proses E).
Soal
Sebuah komputer memiliki memori utama sebesar 512 KB,
yang dibagi menjadi empat partisi statis dengan ukuran
sebagai berikut:
Partisi 1: 100 KB
Pertanyaan:
Partisi 2: 150 KB
1. Tentukan bagaimana proses-proses
Partisi 3: 90 KB
tersebut dialokasikan ke partisi.
Partisi 4: 172 KB
2. Identifikasi fragmentasi internal (jika ada)
untuk setiap partisi.
3. Berapa banyak proses yang tidak dapat Sistem menerima empat proses dengan ukuran
dijalankan karena keterbatasan partisi? sebagai berikut:
Proses A: 80 KB
Proses B: 140 KB
Proses C: 95 KB
Proses D: 100 KB
Metode alokasi memori di mana ukuran partisi memori tidak
ditentukan sebelumnya, tetapi dialokasikan sesuai dengan
kebutuhan proses yang akan dieksekusi.

Multiprogramming Ketika sebuah proses datang dan membutuhkan memori, sistem


operasi akan mencari ruang kosong yang cukup besar untuk
dengan Partisi Dinamis menampung proses tersebut.

Jika ruang kosong ditemukan, maka partisi memori akan


dibuat dengan ukuran yang sesuai untuk proses tersebut.
First-fit: Algoritma best-fit mencari blok memori kosong paling
kecil yang dapat menampung image proses. Algoritma ini
memerlukan waktu yang lama karena harus melihat seluruh
blok memori utama, tetapi fragmentasi eksternal dapat
ditekan sekecil mungkin.

Algoritma Alokasi
Memori Best-fit: Algoritma first-fit mencari memori kosong dari alamat
awal memori utama sampai menemukan blok yang dapat
menampung image proses. Algoritma ini sederhana dan cepat.

Worst-fit: Algoritma worst-fit mencari di seluruh memori utama


untuk mene- mukan hole yang paling besar. Tujuannya adalah
hole sisa yang tercipta setelah alokasi masih cukup besar
untuk dialokasikan ke proses lainnya.
Sebuah sistem operasi memiliki memori utama sebesar 64MB.
Saat ini, terdapat beberapa proses yang akan dieksekusi:

Proses A: 10MB
Proses B: 25MB
Proses C: 15MB
Studi Kasus Proses D: 8MB

Gambarkan alokasi memori menggunakan partisi dinamis


dengan algoritma first-fit, best-fit, dan worst-fit.
Algoritma first-fit mencari ruang kosong pertama yang cukup
besar untuk menampung proses.
Awalnya, memori kosong sebesar 64MB.
Proses A (10MB) ditempatkan di awal memori. Sisa
First-fit memori: 54MB.
Proses B (25MB) ditempatkan setelah Proses A. Sisa
memori: 29MB.
Proses C (15MB) ditempatkan setelah Proses B. Sisa
memori: 14MB.
Proses D (8MB) ditempatkan setelah Proses C. Sisa
memori: 6MB.
Algoritma best-fit mencari ruang kosong terkecil yang cukup
besar untuk menampung proses.
Awalnya, memori kosong sebesar 64MB.
Proses D (8MB) ditempatkan pertama karena paling kecil.
Best-fit Sisa memori: 56MB.
Proses A (10MB) ditempatkan setelah Proses D. Sisa
memori: 46MB.
Proses C (15MB) ditempatkan setelah Proses A. Sisa
memori: 31MB.
Proses B (25MB) ditempatkan setelah Proses C. Sisa
memori: 6MB.
Algoritma worst-fit mencari ruang kosong terbesar yang
tersedia.
Awalnya, memori kosong sebesar 64MB.
Proses B (25MB) ditempatkan pertama karena paling
Worst-fit besar. Sisa memori: 39MB.
Proses C (15MB) ditempatkan setelah Proses B. Sisa
memori: 24MB.
Proses A (10MB) ditempatkan setelah Proses C. Sisa
memori: 14MB.
Proses D (8MB) ditempatkan setelah Proses A. Sisa
memori: 6MB.
Sebuah sistem memiliki memori utama sebesar 100 MB yang
dibagi menjadi partisi dinamis dengan ukuran berikut:
25 MB, 40 MB, dan 35 MB (berurutan dalam memori).
Ada 4 proses yang akan dieksekusi dengan ukuran sebagai
berikut:
Soal 1 Proses P1 = 20 MB
Proses P2 = 30 MB
Proses P3 = 10 MB
Proses P4 = 35 MB

Gunakan First Fit untuk mengalokasikan proses ke dalam


memori. Jelaskan hasil akhirnya!
Diberikan memori utama sebesar 120 MB dengan partisi
dinamis berikut:
50 MB, 30 MB, 40 MB

Soal 2 Proses yang masuk:


P1 (25 MB)
P2 (35 MB)
P3 (30 MB)

Gunakan Best Fit untuk mengalokasikan proses.


Sebuah sistem memiliki memori utama 200 MB yang terbagi
menjadi partisi dinamis berikut:
80 MB, 50 MB, 70 MB
Tiga proses yang masuk:
Soal 3 P1 (40 MB)
P2 (60 MB)
P3 (30 MB)

Gunakan Worst Fit untuk mengalokasikan proses. Jelaskan


Hasil Akhirnya

Anda mungkin juga menyukai