Niobium ditemukan pada tahun 1801 oleh Charles Hatchett,
seorang ahli kimia Inggris, dalam bijih dari Connecticut. Ia
menamai unsur tersebut "columbium" sebagai penghormatan
untuk negara asal bijih, yang diasosiasikan dengan Amerika
Serikat. Nama "niobium" kemudian diadopsi secara resmi pada
tahun 1949 oleh International Union of Pure and Applied
Chemistry (IUPAC).
Berikut lebih detail mengenai sejarahnya:
1801: Charles Hatchett menemukan niobium dalam bijih dari
Connecticut dan menamakannya "columbium" (Cb).
1864-1865: Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa
columbium dan niobium adalah unsur yang sama, dan keduanya
digunakan secara bergantian.
1949: IUPAC secara resmi mengadopsi nama "niobium" (Nb) untuk
unsur tersebut.
Awal abad ke-20: Niobium mulai digunakan secara komersial.
1964: Jurnal Tetsu-to-Hagane menjelaskan bagaimana niobium
dapat meningkatkan kekerasan dan kekuatan baja.
Kini: Niobium banyak digunakan dalam berbagai industri seperti
logam paduan, superkonduktor, dan teknologi nuklir.
Niobium juga memiliki sejarah terkait dengan dewa dan dewi
Yunani, di mana namanya diambil dari Niobe, seorang dewi tangis
dalam mitologi Yunani.
Niobium ditemukan pada tahun 1801 oleh Charles Hatchett,
seorang ahli kimia Inggris, dalam bijih dari Connecticut. Ia
menamai unsur tersebut "columbium" sebagai penghormatan
untuk negara asal bijih, yang diasosiasikan dengan Amerika
Serikat. Nama "niobium" kemudian diadopsi secara resmi pada
tahun 1949 oleh International Union of Pure and Applied
Chemistry (IUPAC).
Berikut lebih detail mengenai sejarahnya:
1801: Charles Hatchett menemukan niobium dalam bijih dari
Connecticut dan menamakannya "columbium" (Cb).
1864-1865: Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa
columbium dan niobium adalah unsur yang sama, dan keduanya
digunakan secara bergantian.
1949: IUPAC secara resmi mengadopsi nama "niobium" (Nb) untuk
unsur tersebut.
Awal abad ke-20: Niobium mulai digunakan secara komersial.
1964: Jurnal Tetsu-to-Hagane menjelaskan bagaimana niobium
dapat meningkatkan kekerasan dan kekuatan baja.
Kini: Niobium banyak digunakan dalam berbagai industri seperti
logam paduan, superkonduktor, dan teknologi nuklir.
Niobium juga memiliki sejarah terkait dengan dewa dan dewi
Yunani, di mana namanya diambil dari Niobe, seorang dewi tangis
dalam mitologi Yunani.
Niobium ditemukan pada tahun 1801 oleh Charles Hatchett,
seorang ahli kimia Inggris, dalam bijih dari Connecticut. Ia
menamai unsur tersebut "columbium" sebagai penghormatan
untuk negara asal bijih, yang diasosiasikan dengan Amerika
Serikat. Nama "niobium" kemudian diadopsi secara resmi pada
tahun 1949 oleh International Union of Pure and Applied
Chemistry (IUPAC).
Berikut lebih detail mengenai sejarahnya:
1801: Charles Hatchett menemukan niobium dalam bijih dari
Connecticut dan menamakannya "columbium" (Cb).
1864-1865: Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa
columbium dan niobium adalah unsur yang sama, dan keduanya
digunakan secara bergantian.
1949: IUPAC secara resmi mengadopsi nama "niobium" (Nb) untuk
unsur tersebut.
Awal abad ke-20: Niobium mulai digunakan secara komersial.
1964: Jurnal Tetsu-to-Hagane menjelaskan bagaimana niobium
dapat meningkatkan kekerasan dan kekuatan baja.
Kini: Niobium banyak digunakan dalam berbagai industri seperti
logam paduan, superkonduktor, dan teknologi nuklir.
Niobium juga memiliki sejarah terkait dengan dewa dan dewi
Yunani, di mana namanya diambil dari Niobe, seorang dewi tangis
dalam mitologi Yunani.