0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan25 halaman

Laporan Kasus Abortus Inkomplit 2025

Laporan ini membahas kasus abortus inkomplit pada seorang pasien berusia 30 tahun yang mengalami perdarahan dari jalan lahir dan nyeri perut. Abortus inkomplit adalah kondisi di mana sebagian hasil konsepsi dikeluarkan, namun masih ada sisa di dalam uterus, yang dapat berpotensi mengancam keselamatan ibu. Penanganan yang tepat dan cepat diperlukan untuk mencegah komplikasi serius seperti perdarahan masif.

Diunggah oleh

Puja Monitra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan25 halaman

Laporan Kasus Abortus Inkomplit 2025

Laporan ini membahas kasus abortus inkomplit pada seorang pasien berusia 30 tahun yang mengalami perdarahan dari jalan lahir dan nyeri perut. Abortus inkomplit adalah kondisi di mana sebagian hasil konsepsi dikeluarkan, namun masih ada sisa di dalam uterus, yang dapat berpotensi mengancam keselamatan ibu. Penanganan yang tepat dan cepat diperlukan untuk mencegah komplikasi serius seperti perdarahan masif.

Diunggah oleh

Puja Monitra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

Laporan Kasus

Abortus Inkomplit

Oleh:

dr. Puja Monitra Transmika

Pembimbing:

dr. Putri Maulina,SpJP

Narasumber:

dr. Wahyudi, Sp. OG

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

RUMAH SAKIT BADAN PENGUSAHAAN BATAM

2024/2025
2

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan kasus Yang berjudul “Abortus Inkomplit”. Laporan
kasus ini bertujuan sebagai salah satu sarana pembelajaran dan salah satu
syarat untuk memenuhi tugas Program Internship Dokter Indonesia
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia di Rumah Sakit Badan
Pengusahaan Batam

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada dr. Wahyudi, Sp. OG


selaku pembimbing dan narasumber yang telah memberikan bimbingan dan
arahan selama penulisan dan penyusunan laporan kasus ini, tak lupa pula
penulis mengucapkan terimakasih kepada dr. Putri Maulina, Sp. JP sebagai
dokter pendamping, dan serta semua pihak yang telah membantu hingga
selesainya laporan kasus ini.

Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan


laporan kasus ini disebabkan keterbatasan kemampuan penulis. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat
diharapkan demi perbaikan di masa yang akan datang. Mudah-mudahan
tinjauan pustaka ini dapat memberi manfaat bagi yang membacanya.

Batam, April 2024

Penulis
3

DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………....... i
Kata Pengantar…………………………………………………………….. ii
Daftar iii
Isi………………………………………………………………........
BAB I 1
Pendahuluan…………………………………………………….......
BAB II Laporan Kasus…………………………………………………...... 3
BAB III Tinjauan 13
Pustaka………………………………………………......
BAB IV Analisa 35
Kasus……………………………………………………..
Daftar Pustaka…………………………………………………………....... 37
2

BAB I
PENDAHULUAN

Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup


di luar kandungan yaitu berat badan kurang dari 500 gram atau usia kehamilan
kurang dari 20 minggu. Berdasarkan aspek klinisnya, abortus spontan dibagi
menjadi beberapa kelompok, yaitu abortus imminens (threatened abortion),
abortus insipiens (inevitable abortion), abortus inkomplit, abortus komplit, missed
abortion, dan abortus habitualis (recurrent abortion), abortus servikalis, abortus
infeksiosus, dan abortus septik.1

Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada


kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
Reproduksi manusia relatif tidak efisien, dan abortus adalah komplikasi tersering
pada kehamilan, dengan kejadian keseluruhan sekitar 15% dari kehamilan yang
ditemukan. Namun angka kejadian abortus sangat tergantung kepada riwayat
obstetri terdahulu, dimana kejadiannya lebih tinggi pada wanita yang sebelumnya
mengalami keguguran daripada pada wanita yang hamil dan berakhir dengan
kelahiran hidup.2

Prevalensi abortus juga meningkat dengan bertambahnya usia, dimana pada


wanita berusia 20 tahun adalah 12%, dan pada wanita diatas 45 tahun adalah 50%.
Delapan puluh persen abortus terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan.3

Abortus inkomplit memiliki komplikasi yang dapat mengancam


keselamatan ibu karena adanya perdarahan masif yang bisa menimbulkan
kematian akibat adanya syok hipovolemik apabila keadaan ini tidak mendapatkan
penanganan yang cepat dan tepat. Seorang ibu hamil yang mengalami abortus
inkomplit dapat mengalami guncangan psikis tidak hanya pada ibu namun juga
pada keluarganya, terutama pada keluarga yang sangat menginginkan anak.
4

BAB II

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
Nama : Ny. PK
Umur : 30 tahun
Agama : Islam
Suku : Melayu
Status Pernikahan : Menikah
Pendidikan Terakhir : S1
Pekerja : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Ciptaland Batam
Pasien masuk ke Rumah Sakit Badan Pengusaha Batam sejak tanggal 30
Januari 2025.
B. Anamnesis
1. Keluhan Utama
Keluar darah dari jalan lahir.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien G1P0A0 8-9 mgg datang ke RS dengan keluhan keluar darah
dari jalan lahir sejak 8 jam SMRS, keluhan disertai nyeri perut bagian
bawah dan perut terasa keram. Nyeri dirasa seperti mules dan tidak
membaik saat minum obat. Keluhan mual dan muntah disangkal. Keluhan
demam, BAB dan BAK tidak ada. HPHT: 6/11/2025. pasien rutin ANC
dengan Sp. OG selama kehamilan. Terakhir USG tanggal 26/1/2025
dengan hasil janin tidak berkembang. Dokter Sp. OG saat itu menyarankan
untuk kuretase tetapi pasien menolak dengan alasan ingin menunggu
jikalau janin bisa berkembang kembali. Pasien mengaku perdarahan yang
keluar berupa gumpalan darah dan tampak jaringan.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
5

Tidak ada.
5. Riwayat Fertilitas
Baik.
6. Riwayat Obstetri
Penderita pernah hamil sebanyak 4 kali, telah melahirkan 3 kali,
tidak pernah mengalami abortus:
Anak I : Perempuan, 3100 gram, spontan, 14 tahun
Anak II : Laki-laki, 3100 gram, spontan, 10 tahun
Anak III : Perempuan 3000 gram, spontan, 7 tahun
Anak IV : Hamil Sekarang
7. Riwayat Ante Natal Care (ANC)
Teratur, pertama kali periksa ke puskesmas pada usia kehamilan 1
bulan.
8. Riwayat Haid
a. Menarche : 13 tahun
b. Lama Menstruasi : 6 hari
c. Siklus Menstruasi : 28 hari
d. HPHT : 6 November 2024
9. Riwayat Perkawinan
Menikah 1 kali, 2 tahun.
C. Pemeriksaan Fisik
1. Tanda-Tanda Vital
Keadaan Umum : Baik
Kesan Sakit : Berat
Kesadaran : Compos Mentis E4M6V5
Status Gizi : BB 60kg, TB 159cm
TD : 121/75 mmHg
Nadi : 87 x/menit
Suhu : 36.8oC
Napas : 20 rpm
SpO2 : 99% on room air
6

2. Status Generalis
a. Kepala
Tidak ditemukan atropi m. temporalis, parese [Link] tidak
ditemukan.
b. Mata
Konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik, mata tidak cowong,
pupil isokor, diameter 3/3, reflek cahaya langsung +/+, reflek cahaya
tidak langsung +/+.
c. Telinga, hidung, tenggorokan
Bentuk normal, napas cuping hidung +/+, tidak ada benjolan,
tidak ada deformitas, tidak ada cairan keluar.
d. Leher
Tekanan vena juguler tidak meningkat, trakea di tengah,
limfadenopati tidak ditemukan, Pembesaran Tiroid (-).
e. Thorax
Tidak ada benjolan, tidak ada deformitas, tidak ada krepitasi,
nyeri tekan negative.
f. Cor
Bunyi jantung I dan II normal, regular, murmur dan gallop tidak
ditemukan.
g. Pulmo
Vesikuler +/+ , rhonki -/-, wheezing -/-, perkusi sonor +/+.
h. Abdomen
Tidak ada benjolan, bising usus (+) normal, tidak ada nyeri
tekan.
i. Genitalia
Tidak ada kelainan.
j. Ekstremitas
Akral hangat +/+, edema -/-, CRT < 2 detik.
D. Status Obstretikus
1. Inspeksi
7

Abdomen membuncit memanjang, stria gravidarum (+), bekas


operasi (-).
2. Palpasi
a. Leopold I : tidak dilakukan pemeriksaan
b. Leopold II : tidak dilakukan pemeriksaan
c. Lepold III : tidak dilakukan pemeriksaan
d. Leopold IV : tidak dilakukan pemeriksaan
e. Gerak janin : tidak dilakukan pemeriksaan
3. Pemeriksaan dalam
a. Inspekulo: Vulva/uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal,
portio utuh, OUE terbuka, darah (+) dari OUE, discharge (-)
b. VT: Vulva/uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal, portio
lunak, OUE terbuka, cavum uteri sebesar telur bebek, darah (+),
discharge (-)
4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium tanggal 30 Januari 2025

Test Hasil Rujukan Satuan


Hematologi
Hemoglobin (Hb) 13.0 13.0-17.0 g/dl
Eritrosit (RBC) 4.47 4.40-5.90 106/uL
Leukosit (WBC) 14.41 H 4.000-11.000 103/uL
Hematokrit 38.0 35 – 50 %
Trombosit 297 150 – 450 103/µL
MCV 85.0 80 – 97 fl
MCH 29.1 26.5 – 33.5 pg
MCHC 34.2 31.5 – 35.0 g/dL
Hitung Jenis Leukosit
Basofil 0.3 0–1 %
Eosinofil 1.9 0–5 %
8

Netrofil 78.8 H 46.0 – 75.0 %


Limfosit 12.7 L 17.0 – 48.0 %
Monosit 6.3 4 – 10 %
GDS 119 <200 mg/dL
Imunologi
Anti HIV Non Reaktif Non Reaktif
HBsAg Non Reaktif Non Reaktif

Ultrasonografi (USG) tanggal 31 Januari 2025


Uterus AF, tampak massa hipohiperekoik 4 x 3 cm.
E. Diagnosis
• G4P3A0 uk 9-10 minggu dengan Abortus Inkomplit
F. Tata Laksana
1. Tata laksana awal IGD:
a. Supp Ketoprofen 1x200mg
b. Observasi KU, TTV dan perdarahan
2. Advice dr. Wahyudi, Sp. OG:
a. IVFD Ringer laktat 20tpm
b. Inj. Ketorolac 30mg
c. Rawat inap
d. Lab persiapan rawat inap
e. USG Tanggal 31/1/2025
G. Prognosis
1. Quo ad vitam : dubia ad bonam
2. Quo ad functionam : dubia ad bonam
3. Quo ad sanationam : dubia
H. Follow Up

Tanggal/ S O A P
Jam
31/1/25 Pasien TD : 120/80 G1P0A0 8-9  IVFD RL 20tpm
9

8.23 mengatakan Nadi : 84 mgg +  Inj. Ketorolac


keluar Suhu : 36.2 Abortus 30mg bila nyeri
darah dari Respirasi : 20 inkomplit  Obs KU, tanda
jalan lahir SpO2 : 99%. vital.
berupa flek,  Pro kuretase
perdarahan
aktif tidak
ada, perut
mules
hilang
timbul.
31/1/24 Pasien TD : 134/86 P3A1  IVFD RL 20tpm
mengatakan Nadi : 64  Inj. Primperan
keluar Suhu : 36.2 1amp/iv (ekstra)
darah dari Respirasi : 20  Amoxiciln
jalan lahir SpO2 : 99%. 3x500mg
berupa flek,  asam mefenamat
perdarahan
3x500mg
aktif tidak
 methylergometrin
ada, perut
mules 3x500mg
hilang  jika k/u stabil -
timbul. >sore os boleh
pulang
10

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum viabel, disertai atau
tanpa pengeluaran hasil konsepsi. Menurut WHO, abortus didefinisikan
sebagai penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan
atau berat janin kurang dari 500 gram.
B. Klasifikasi
Hingga saat ini terdapat berbagai klisifikasi abortus, berikut ini akan
disampaikan dua jenis klasifikasi abortus berdasarkan atas terjadinya/legalitas
dan klinis.
1. Menurut mekanisme terjadinya, abortus dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi dengan sendirinya, tanpa
provokasi dan intervensi.
b. Abortus buatan/ direncanakan adalah abortus yang terjadi karena
diprovokasi, yang dibedakan atas:
1) Abortus provokatus terapeutikus, yaitu abortus yang dilakukan atas
indikasi medis dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan ibu
dan atau janin.
2) Abortus provokatus kriminalis, yaitu abortus yang dilakukan tanpa
indikasi medis.
2. Menurut klinis:
a. Abortus Iminens
Abortus iminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari
uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi
masih dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi sevik.
b. Abortus Insipiens
Abortus insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri
yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal
11

ini rasa mules menjadi lebih sering dan kuat, perdarahan bertambah.
Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum
atau dengan cunam ovum disusul dengan kerokan.
c. Abortus Inkomplit
Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi
pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal
dalam uterus. Pada pemeriksaan vaginal, kanalis servikalis terbuka
dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang
sudah menonjol dari ostium uteri eksternum. Perdarahan pada abortus
inkomplit dapat banyak sekali, sehingga menyebabkan syok dan
perdarahan tidak berhenti sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan.
d. Abortus Komplit
Pada abortus komplit semua hasil konsepsi sudah dikerjakan.
Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah
menutup dan uterus sudah banyak mengecil.
e. Abortus Habitualis
Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali
atau lebih berturut-turut.
f. Abortus Infeksious
Abortus infeksiosus adalah abortus yang disertai infeksi pada
genitalia. Diagnosis ditegakkan dengan adanya abortus yang disertai
gejala dan tanda infeksi alat genitalia, seperti panas, takikardia,
perdarahan pervaginam yang berbau, uterus yang membesar, lembek,
serta nyeri tekan, dan leukositosis.
g. Missed abortion
Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20
minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau
lebih. 6
C. Epidemiologi

Insiden abortus inkomplit belum diketahui secara pasti, namun demikian


disebutkan sekitar 60 persen dari wanita hamil dirawat dirumah sakit dengan
12

perdarahan akibat mengalami abortus inkomplit. Inisiden abortus spontan


secara umum disebutkan sebesar 10% dari seluruh kehamilan. Lebih dari 80%
abortus terjadi dalam 12 minggu pertama kehamilan dan angka tersebut
kemudian menurun secara cepat pada umur kehamilan selanjutnya. Anomali
kromosom menyebabkan sekurang-kurangnya separuh dari abortus pada
trimester pertama, kemudian menurun menjadi 20-30% pada trimester kedua
dan 5-10 % pada trimester ketiga.4
Resiko abortus spontan semakin meningkat dengan bertambahnya paritas
di samping dengan semakin lanjutnya usia ibu serta ayah. Insiden abortus
bertambah pada kehamilan yang belum melebihi umur 3 bulan.5

D. Etiologi
Mekanisme pasti yang bertanggungjawab atas peristiwa abortus tidak
selalu tampak jelas. Kematian janin sering disebabkan oleh abnormalitas pada
ovum atau zigot atau oleh penyakit sistemik pada ibu, dan kadang-kadang
mungkin juga disebabkan oleh penyakit dari ayahnya.4
1. Faktor Genetik
Lima puluh persen sampai tujuh puluh persen abortus spontan
terutama abortus rekuren disebabkan oleh kelainan genetik. Kelainan
genetik menjadi penyebab 70% 6 minggu pertama, 50% sebelum 10
minggu, dan 5% setelah 12 minggu. Kelainan ini dapat disebabkan faktor
maternal maupun paternal. Gamet jantan berkontribusi pada 50% material
genomik embrio. Mekanisme yang dapt berkontribusi menyebabkan
kelainan genetik adalah kelainan kromosom sperma, kondensasi kromatin
abnormal, fragmentasi DNA, peningkatan apoptosis, dan morfologi
sperma yang abormal. Sekitar 42% struktur vili korionik abnormal akibat
gangguan genetik.
2. Gangguan plasenta
Mayoritas kasus abortus berkaitan dengan kelainan genetik maupun
kelainan perkembangan plasenta terutama pada vili korionik yang berperan
sebagai unit fungsional plasenta dalam hal transpor oksigen dan nutrisi
13

pada fetus. Penelitian histologi Haque, et al. pada 128 sisa konsepsi
abortus, ditunjukkan bahwa 97% menunjukkan vili plasenta berkurang,
83% vili mengalami fibrosis stroma, 75% mengalami degenerasi fibroid,
dan 75% mengalami pengurangan pembuluh darah. Inflamasi dan
gangguan genetik dapat menyebabkan aktivasi proliferasi mesenkim dan
edema stroma vili. Keadaan ini akan berlanjut membentuk sisterna dan
digantikan dengan jaringan fibroid. Pada abortus, pendarahan yang
merembes melalui desidua akan membentuk lapisan di sekeliling vili
korionik. Kemudian, material pecah dan merangsang degenerasi fibrinoid.
3. Kelainan uterus
Kelainan uterus dapat dibagi menjadi kelainan akuisita dan kelainan
yang timbul dalam proses perkembangan janin. Cacat uterus akuisita yang
berkaitan dengan abortus adalah leiomioma dan perlekatan intrauteri.
Miomektomi sering mengakibatkan jaringan parut uterus yang dapat
mengalami ruptur pada kehamilan berikutnya, sebelum atau selama
persalinan. Perlekatan intrauteri (sinekia atau sindrom Ashennan) paling
sering terjadi akibat tindakan kuretase pada abortus yang terinfeksi atau
pada missed abortus atau mungkin pula akibat komplikasi postpartum.
Keadaan tersebut disebabkan oleh destruksi endometrium yang sangat
luas. Selanjutnya keadaan ini mengakibatkan amenore dan abortus
habitualis yang diyakini terjadi akibat endometrium yang kurang memadai
untuk mendukung implatansi hasil pembuahan.
Inkomptensi serviks adalah ketidakmampuan serviks untuk
mempertahankan suatu kehamilan oleh karena defek fungsi maupun
struktur pada serviks. Inkompetensi serviks biasanya menyebabkan abortus
pada trimester kedua dengan insidensi 0,5-8%. Keadaan ini juga dapat
menyebabkan hilangnya barrier mekanik yang memisahkan kehamilan dari
flora bakteri vagina dan kebanyakan asimptomatik. Serviks merupakan
barier mekanik yang memisahkan kehamilan dari flora bakteri vagina.
4. Kelainan endokrin
a. Defek Fase Luteal dan Defisiensi Progesteron
14

Defek fase luteal disebut juga defisiensi progesteron merupakan


suatu keadaan dimana korpus luteum mengalami kerusakan sehingga
produksi progesteron tidak cukup dan mengakibatkan kurang
berkembangnya dinding endometrium.
b. Sindrom ovarium polikistik, hipersekresi LH, dan hiperandrogenemia
Sindrom ovarium polikistik terkait dengan infertilitas dan
abortus. Dua mekanisme yang mungkin menyebabkan hal tersebut
terjadi adalah peningkatan hormon LH dan efek langsung
hiperinsulinemia terhadap fungsi ovarium.
c. Faktor Endokrin Sistemik seperti DM atau hipotiroid.
d. Defisiensi progesteron karena kurangnya sekresi hormon tersebut dari
korpus luteum atau plasenta mempunyai hubungan dengan kenaikan
insiden abortus. Karena progesteron berfungsi mempertahankan
desidua, defisiensi hormon tersebut secara teoritis akan mengganggu
nutrisi pada hasil konsepsi dan dengan demikian turut berperan dalam
peristiwa kematiannya.
5. Kelainan Imunologi
Sekitar 15% dari 1000 wanita dengan abortus habitualis memiliki
faktor autoimun. Faktor autoimun misal SLE, APS, antikoagulan lupus,
antibodi antikardiolipin. Insidensi berkisar 1-5% tetapi risikonya mencapai
70%. Selain itu, faktor alloimun dapat mempengaruhi melalui HLA. Bila
kadar atau reseptor leptin menurun, terjadi aktivasi sitrokin proinflamasi,
dan terjadi peningkatan risiko abortus. Mekanismenya berhubungan
dengan timbal balik aktif reseptor di vili dan ekstravili tropoblas.
6. Infeksi
Berbagai macam infeksi dapat menyebabkan abortus pada manusia,
tetapi hal ini tidak umum terjadi. Organisme seperti Treponema pallidum,
Chlamydia trachomatis, Neisseria gonorhoeae, Streptococcus agalactina,
virus herpes simpleks, sitomegalovirus, Listeria monocytogenes dicurigai
berperan sebagai penyebab abortus. Toxoplasma juga disebutkan dapat
menyebabkan abortus. Isolasi Mycoplasma hominis dan Ureaplasma
15

urealyticum dari 4 traktus genetalia sebagaian wanita yang mengalami


abortus telah menghasilkan hipotesis yang menyatakan bahwa infeksi
mikoplasma yang menyangkut traktus genetalia dapat menyebabkan
abortus. Dari kedua organisme tersebut, Ureaplasma Urealyticum
merupakan penyebab utama.
7. Penyakit kronik
Pada awal kehamilan, penyakit-penyakit kronis yang melemahkan
keadaan ibu misalnya penyakit tuberkulosis atau karsinomatosis jarang
menyebabkan abortus. Hipertensi jarang disertai dengan abortus pada
kehamilan sebelum 20 minggu, tetapi keadaan ini dapat menyebabkan
kematian janin dan persalinan prematur. Pada saat ini, hanya malnutrisi
umum sangat berat yang paling besar kemungkinanya menjadi predisposisi
meningkatnya kemungkinan abortus.
8. Trauma
Sekitar 7% wanita mengalami trauma selama kehamilan tetapi
banyak kasus yang tidak dilaporkan. Pada umumnya, mekanisme trauma
yang paling banyak adalah jatuh sendiri dan kesengajaan. Keadaan ini
akan menyebabkan abrupsio plasenta, pendarahan fetomaternal, rupture
uteri, trauma janin langsung.
E. Faktor Resiko
Faktor risiko abortus yaitu:
1. Bertambahnya usia ibu.
Abortus meningkat dengan pertambahan umur setelah usia 30 tahun.
Risiko berkisar 13,3% pada usia 12-19 tahun; 11,1% pada usia 20-24
tahun; 11,9% pada usia 25-29 tahun; 15% pada usia 30-34 tahun; 24,6%
pada usia 35-39%; 51% usia 40-44 tahun; 93,4% pada usia 45 tahun ke
atas. Baru-baru ini peningkatan usia ayah dianggap sebagai suatu faktor
risiko terjadinya abortus. Suatu penelitian yang dilakukan di Eropa
melaporkan bahwa risiko abortus tertinggi ditemukan pada pasangan
dimana usia wanita ≥35 tahun dan pria ≥40 tahun (Tien, 2007).
2. Riwayat reproduksi abortus. Risiko pasien dengan riwayat abortus untuk
16

kehamilan berikutnya ditentukan dari frekuensi riwayatnya. Pada pasien


yang baru mengalami riwayat 1 kali berisiko 19%, 2 kali berisiko 24%, 3
kali berisiko 30%, dan 4 kali berrisiko 40%.
3. Kebiasaan orang tua
a. Merokok dihubungkan dengan peningkatan risiko abortus. Risiko
abortus meningkat 1,2-1,4 kali lebih besar untuk setiap 10 batang
rokok yang dikonsumsi setiap hari. Asap rokok mengandung banyak
ROS (Reactive Oxygen Spesies) yang akan mendestruksi organel
seluler melalui kerusakan mitrokondria, nukleus, dan membran sel.
Selain itu, secara tidak langsung ROS (Reactive Oxygen Spesies) akan
menyebabkan kerusakan sperma. Hal ini menyebabkan fragmentasi
DNA rantai tunggal maupun ganda sperma.
b. Konsumsi alkohol selama 8 minggu pertama kehamilan. Tingkat
aborsi spontan dua kali lebih tinggi pada wanita yang minum alkohol
2x/minggu dan tiga kali lebih tinggi pada wanita yang mengkonsumsi
alkohol setiap hari.
c. Kafein dosis rendah tidak mempunyai hubungan dengan abortus. Akan
tetapi pada wanita yang mengkonsumsi 5 cangkir (500mg kafein) kopi
setiap hari menunjukkan tingkat abortus yang sedikit lebih tinggi.
d. Radiasi juga dapat menyebabkan abortus pada dosis yang cukup. Akan
tetapi, jumlah dosis yang dapat menyebabkan abortus pada manusia
tidak diketahui secara pasti.
e. Alat kontrasepsi dalam rahim yang gagal mencegah kehamilan
menyebabkan risiko abortus, khususnya abortus septik meningkat.
F. Patofisiologi
Proses abortus inkomplit dapat berlangsung secara spontan maupun
sebagai komplikasi dari abortus provokatus kriminalis ataupun medisinalis.
Proses terjadinya berawal dari pendarahan pada desidua basalis yang
menyebabkan nekrosis jaringan diatasnya. Selanjutnya sebagian atau seluruh
hasil konsepsi terlepas dari dinding uterus. Hasil konsepsi yang terlepas
menjadi benda asing terhadap uterus sehingga akan dikeluarkan langsung atau
17

bertahan beberapa waktu.


Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi biasanya
dikeluarkan seluruhnya karena villi korialies belum menembus desidua secara
mendalam. Pada kehamilan antara 8 minggu sampai 14 minggu villi koriales
menembus desidua lebih dalam sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan
sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih
dari 14 minggu umumnya yang mula-mula dikeluarkan setelah ketuban pecah
adalah janin, disusul kemudian oleh plasenta yang telah lengkap terbentuk.
G. Gambaran Klinis
Gejala umum yang merupakan keluhan utama berupa perdarahan
pervaginam derajat sedang sampai berat disertai dengan kram pada perut
bagian bawah, bahkan sampai ke punggung. Janin kemungkinan sudah keluar
bersama-sama plasenta pada abortus yang terjadi sebelum minggu ke-10, tetapi
sesudah usia kehamilan 10 minggu, pengeluaran janin dan plasenta akan
terpisah. Bila plasenta, seluruhnya atau sebagian tetap tertinggal dalam uterus,
maka pendarahan cepat atau lambat akan terjadi dan memberikan gejala utama
abortus inkomplet.
Sedangkan pada abortus dalam usia kehamilan yang lebih lanjut, sering
pendarahan berlangsung amat banyak dan kadang-kadang masif sehingga
terjadi hipovolemik berat.
H. Diagnosis
Diagnosis abortus inkomplit ditegakkan berdasarkan gambaran klinis
melalui anamnesis dan hasil pemeriksaan fisik, setelah menyingkirkan
kemungkinan diagnosis banding lain, serta dilengkapi dengan pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan fisik mengenai status ginekologis meliputi
pemeriksaan abdomen, inspikulo dan vaginal toucher. Palpasi tinggi fundus
uteri pada abortus inkomplit dapat sesuai dengan umur kehamilan atau lebih
rendah. Pemeriksaan penunjang berupa USG akan menunjukkan adanya sisa
jaringan.
Tidak ada nyeri tekan ataupun tanda cairan bebas seperti yang terlihat
pada kehamilan ektopik yang terganggu. Pemeriksaan dengan menggunakan
18

spekulum akan memperlihatkan adanya dilatasi serviks, mungkin disertai


dengan keluarnya jaringan konsepsi atau gumpalan-gumpalan darah. Bimanual
palpasi untuk menentukan besar dan bentuk uterus perlu dilakukan sebelum
memulai tindakan evakuasi sisa hasil konsepsi yang masih tertinggal.
Menentukan ukuran sondase uterus juga penting dilakukan untuk menentukan
jenis tindakan yang sesuai.
I. Diagnosis Banding

Diagnosis Gejala Pemeriksaan fisik Pemeriksaan


banding penunjang
Abortus - perdarahan dari - TFU sesuai dengan - tes kehamilan urin
iminens uterus pada umur kehamilan masih positif
kehamilan - Dilatasi serviks (-) - USG : gestasional
sebelum 20 sac (+), fetal plate
minggu berupa (+), fetal
flek-flek movement (+),
- nyeri perut ringan fetal heart
- keluar jaringan movement (+)
(-)
Abortus - perdarahan - TFU sesuai dengan - tes kehamilan urin
insipient banyak dari umur kehamilan masih positif
uterus pada - Dilatasi serviks (+) - USG : gestasional
kehamilan sac (+), fetal plate
sebelum 20 (+), fetal
minggu movement (+/-),
- nyeri perut berat fetal heart
- keluar jaringan (-) movement (+/-)
Abortus - perdarahan - TFU kurang dari - tes kehamilan urin
inkompli banyak / sedang umur kehamilan masih positif
t dari uterus pada - Dilatasi serviks (+) - USG : terdapat sisa
kehamilan - teraba jaringan dari hasil konsepsi (+)
sebelum 20 cavum uteri atau
minggu masih menonjol
- nyeri perut ringan pada osteum uteri
- keluar jaringan eksternum
sebagian (+)
Abortus - perdarahan (-) - TFU kurang dari - tes kehamilan urin
komplit - nyeri perut (-) umur kehamilan masih positif
- keluar jaringan - Dilatasi serviks (-) bila terjadi 7-10 hari
(+) setelah abortus.
USG : sisa hasil
konsepsi (-)
Missed - perdarahan (-) - TFU kurang dari - tes kehamilan urin
19

abortion - nyeri perut (-) umur kehamilan negatif setelah 1


- biasanya tidak - Dilatasi serviks (-) minggu dari
merasakan terhentinya
keluhan apapun pertumbuhan
kecuali kehamilan.
merasakan - USG : gestasional
pertumbuhan sac (+), fetal plate
kehamilannya (+), fetal
tidak seperti yang movement (-), fetal
diharapkan. Bila heart movement (-)
kehamilannya >
14 minggu
sampai 20
minggu penderita
merasakan
rahimnya
semakin
mengecil, tanda-
tanda kehamilan
sekunder pada
payudara mulai
menghilang.
Mola - Tanda kehamilan - TFU lebih dari - tes kehamilan urin
hidatidos (+) umur kehamilan masih positif
a - Terdapat banyak - Terdapat banyak (Kadar HCG lebih
atau sedikit atau sedikit dari 100,000
gelembung mola gelembung mola mIU/mL)
- Perdarahan - DJJ (-) - USG : adanya
banyak / sedikit pola badai salju
- Nyeri perut (+) (Snowstorm).
ringan
- Mual - muntah
(+)
Blighted - Perdarahan - TFU kurang dari - tes kehamilan urin
ovum berupa flek-flek usia kehamilan positif
- Nyeri perut - OUE menutup - USG : gestasional
ringan sac (+), namun
- Tanda kehamilan kosong (tidak terisi
(+) janin).
KET - Nyeri abdomen - Nyeri abdomen (+) - Lab darah : Hb
(+) - Tanda-tanda syok rendah, eritrosit
- Tanda kehamilan (+/-) : hipotensi, dapat meningkat,
(+) pucat, ekstremitas leukosit dapat
- Perdarahan dingin. meningkat.
pervaginam (+/-) - Tanda-tanda akut - Tes kehamilan
abdomen (+) : positif
20

perut tegang - USG : gestasional


bagian bawah, sac diluar cavum
nyeri tekan dan uteri.
nyeri lepas
dinding abdomen.
- Rasa nyeri pada
pergerakan
servik.
- Uterus dapat teraba
agak membesar
dan teraba
benjolan
disamping uterus
yang batasnya
sukar ditentukan.
- Cavum douglas
menonjol berisi
darah dan nyeri
bila diraba

J. Penatalaksanaan

Terlebih dahulu dilakukan penilaian mengenai keadaan pasien dan


diperiksa apakah ada tanda-tanda syok. Penatalaksanaan abortus spontan dapat
dilakukan dengan menggunakan teknik pembedahan maupun medis. Teknik
pembedahan dapat dilakukan dengan pengosongan isi uterus baik dengan cara
kuretase maupun aspirasi vakum. Induksi abortus dengan tindakan medis
menggunakan preparat antara lain : oksitosin intravenus, larutan hiperosmotik
intraamnion seperti larutan salin 20% atau urea 30%, prostaglandin E2, F2a
dan analog prostaglandin yang dapat berupa injeksi intraamnion, injeksi
ekstraokuler, insersi vagina, injeksi parenteral maupun per oral,
antiprogesteron - RU 486 (mefepriston), atau berbagai kombinasi tindakan
tersebut diatas.
Pada kasus-kasus abortus inkomplit, dilatasi serviks sebelum tindakan
kuretase sering tidak diperlukan. Pada banyak kasus, jaringan plasenta yang
tertinggal terletak secara longgar dalam kanalis servikalis dan dapat diangkat
dari ostium eksterna yang sudah terbuka dengan memakai forsep ovum atau
forsep cincin. Bila plasenta seluruhnya atau sebagian tetap tertinggal di dalam
21

uterus, induksi medis ataupun tindakan kuretase untuk mengevakuasi jaringan


tersebut diperlukan untuk mencegah terjadinya perdarahan lanjut. Perdarahan
pada abortus inkomplit kadang-kadang cukup berat, tetapi jarang berakibat
fatal. Evakuasi jaringan sisa di dalam uterus untuk menghentikan perdarahan
dilakukan dengan cara:

1. Evakuasi dapat dilakukan secara digital atau cunam ovum untuk


mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika pendarahan
berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskular atau misoprostol 400 mcg
per oral.
2. Evakuasi hasil konsepsi dengan:
a. Aspirasi Vakum merupakan metode evakuasi yang terpilih. Evakuasi
dengan kuret tajam sebaiknya dilakukan jika aspirasi vakum manual
tidak tersedia.
b. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2 mg
intramuskular (diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprostol
400 mcg per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu).
K. Prognosis
Abortus inkomplit yang di evakuasi lebih dini tanpa disertai infeksi
memberikan prognosis yang baik terhadap ibu.
BAB IV
ANALISA KASUS

Pada hasil autoanamnesa diketahui bahwa pasien adalah seorang perempuan


berusia 30 tahun dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak 8 jam sebelum
masuk rumah sakit. keluhan disertai nyeri perut bagian bawah dan perut terasa
keram. Nyeri dirasa seperti mules dan tidak membaik saat minum obat. Keluhan
mual dan muntah disangkal. Keluhan demam, BAB dan BAK tidak ada. HPHT:
6/11/2025. pasien rutin ANC dengan Sp. OG selama kehamilan. Terakhir USG
tanggal 26/1/2025 dengan hasil janin tidak berkembang. Dokter Sp. OG saat itu
menyarankan untuk kuretase tetapi pasien menolak dengan alasan ingin
menunggu jikalau janin bisa berkembang kembali. Pasien mengaku perdarahan
yang keluar berupa gumpalan darah dan tampak jaringan.

Saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di IGD dengan kesadaran


compos mentis, Tekanan darah 121/75 mmhg, nadi 87x/menit regular, RR 20
x/menit, suhu 36,8 oc, saturasi 99%. Saat pemeriksaan fisik didapatkan dalam
batas normal. Pemeriksaan fisik menunjukkan vital sign dalam batal normal.

Pemeriksaan inspekulo: vulva/uretra tenang, dinding vagina dalam batas


normal, portio utuh, OUE terbuka, darah (+) dari OUE, discharge (-). Pemeriksaan
VT: vulva / uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal, portio lunak, OUE
terbuka, cavum uteri sebesar telur bebek, darah (+), discharge (-). Pemeriksaan
USG: V/U terisi cukup, tampak uterus membesar, tampak massa amorf
intrauterine, kesan sisa hasil konsepsi.

Pada pasien dilakukan pamantauan di rawat inap karna perdarahan


pervaginam ec. Suspek Abortus Inkomplit. Pasien dirawat selama 2 hari. Selama
perawatan dilakukan observasi Mengenai keluhan nyeri pasien, perdarahan dan
tanda-tanda [Link] dilakukan pemeriksaan USG didapat kan hasil uterus
AF, tampak massa hipohiperekoik 4 x 3 cm. Tatalaksana yang diberikan
melibatkan pendekatan medikamentosa dan teknik pembedahan. Pada pasien
dilakukan kuretasi untuk evakuasi sisa janin yang tertinggal dan diberikan

22
medikamentosa berupa antinyeri, antibiotic dan anti perdarahan. Perencanaan
follow-up disusun untuk evaluasi dan penyesuaian pengobatan. Konsultasi
lanjutan dengan spesialis kandungan direkomendasikan untuk manajemen jangka
panjang dan pencegahan abortus berulang. Pemberian obat dan tindakan
disesuaikan dengan tingkat keparahan serangan asma pada pasien.

23
DAFTAR PUSTAKA
1. Wibowo B. Wiknjosastro GH. Kelainan dalam Lamanya Kehamilan. Dalam :
Wiknjosastro GH, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, editor. Hmu
[Link] 5. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo ;
2002 : hal.302 – 312
2. Abortion. In : Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Bilstrap
LC, Wenstrom KD, editors. William Obsetrics. 22nd ed. USA : The
McGraw-Hills Companies, Inc ; 2005 : p. 231-247.
3. Pedoman Diagnosis – Terapi Dan Bagian Alir Pelayanan Pasien, Lab/SMF
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RS
Sanglah Denpasar. 2003
4. Abortion. In: Leveno KJ, et all. Williams Manual of Obstetrics.
USA:McGraw-Hill Companies, 2003 : p. 45 – 55
5. Stovall TG. Early Pregnancy Loss and Ectopic Pregnancy. In : Berek JS, et
all. Novak's Gynaecology. 13th ed. Philadelphia; 2002 : p. 507 - 9.
6. Mansjoer, A. Dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 270-273.
7. Saifudin AB, Wiknjosastro GH, Affandi B, Waspodo D. Buku Panduan
Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2002.
8. Wiknjosastro GH, Saifflidin AB, Rachimadhi T. Ilmu Bedah Kebidanan.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirorahardjo, 2000.
9. Tien JC & Tan TYT. Non surgical intervensions for threatened and recurrent
miscarriages. Singapore Med J, 2007; 48(12): 1074.

24

Anda mungkin juga menyukai