BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Post Partum adalah masa yang dimulai setelah lahirnya plasenta dan
berakhir ketika rahim kembali ke keadaan sebelum hamil, yang berlangsung
selama 6 minggu atau 42 hari. Selama masa pemulihan, ibu akan mengalami
banyak perubahan fisik dan psikis yang bersifat fisiologis dan menimbulkan
banyak ketidaknyamanan pada masa awal nifas. Sebagian besar perubahan
yang dialami ibu post partum merupakan perubahan yang fisiologis, salah
satunya adalah kelancaran ASI (Yuliana & Hakim, 2020).
Menurut data WHO, Cakupan ASI eksklusif di seluruh dunia hanya
sekitar 48% selama periode 2020-2024. Kecilnya angka cakupan pemberian
ASI dikarenakan masih banyak ibu post partum yang mengalami masalah
dengan kelancaran ASI yang disebabkan karena masih banyak ibu post partum
yang belum paham tentang manfaat perawatan payudara seperti message
payudara untuk kelancaran ASI (WHO, 2024).
Pemerintah Indonesia telah menetapkan target cakupan ASI
diangka 80%. Hal ini menunjukkan perlunya dukungan yang lebih intensif
untuk meningkatkan pemberian ASI secara eksklusif dengan cara membantu
ibu post partum meningkatkan kelancaran ASI melalui message payudara.
Cakupan ASI eksklusif di Indonesia pada tahun 2022 adalah 67,96%. Angka
ini turun dari tahun 2021 yang sebesar 69,7% (Kemenkes RI, 2024).
2
Kemudian menurut Dinas Kesehatan Provinsi NTB tahun 2024,
kelancaran ASI pada ibu post partum menjadi salah satu indikator tercapainya
pemberian ASI secara eksklusif. Pada tahun 2024, cakupan pemberian ASI
eksklusif di Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 82,45%. Angka ini
menempatkan NTB sebagai provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif
tertinggi di Indonesia (Dinas Kesehatan Provinsi NTB).
Sedangkan dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur
menunjukkan bahwa pada tahun 2024 memiliki cakupan pemberian ASI
eksklusif sebanyak 22,181 bayi dengan persentase 81,4% dari 30,910 yang
berusia 0 – 6 bulan. Untuk meningkatkan persentase pemberian ASI pada ibu
post partum maka perlu dilakukan upaya non farmakologi seperti message
payudara untuk meningkatkan kelancaran ASI (Dikes Lombok Timur, 2024).
Masalah yang sering terjadi pada ibu post partum yaitu ketidaklancaran
produksi ASI yang menyebabkan ASI tidak keluar dan sering terjadi pada saat
pertama setelah kelahiran. Hal yang dapat mempengaruhi kelancaran produksi
dan pengeluaran ASI yaitu perawatan payudara, frekuensi menyusui, stress,
riwayat penyakit, faktor psikologis, dukungan suami dan keluarga, faktor
makanan ibu, faktor isapan bayi, konsumsi rokok atau alkohol. Kurangnya
rangsangan hormon oksitosin menyebakan terjadinya perubahan fisik dan
psikologis yang juga dapat mempengaruhi proses laktasi (Mardjun et al.,
2019).
ASI yang tidak lancar dapat menyebabkan peradangan di payudara dan
mengganggu kesehatan bayi. Dampak yang ditimbulkan pada bayi antara lain :
3
berat badan bayi sulit bertambah, pertumbuhan otak terhambat, pertumbuhan
jasmani terhambat, bayi menjadi lemah dan mudah sakit, kurangnya ikatan
emosional dengan ibu, rentan mengalami infeksi, berisiko tinggi mengalami
penyakit non infeksi dan gangguan kesehatan pencernaan sedangkan dampak
yang ditimbulkan pada ibu yaitu : demam, nyeri, bengkak, menggigil, serta
sensasi tidak nyaman lainnya, peradangan jaringan payudara yang disebut
mastitis tanpa infeksi, dan bila telah terinfeksi bakteri disebut mastitis
terinfeksi (Kemenkes RI, 2020)
Untuk menangani ASI yang tidak lancar, maka frekuensi menyusui pada
bayi perlu ditingkatkan lagi dan hindari stres berlebih. Selain itu, disarankan
untuk mengonsumsi makanan bergizi dan memenuhi kebutuhan cairan dengan
minum air. Pijatan lembut pada payudara juga dapat membantu merangsang
produksi dan memperlancar aliran ASI (Hartini, 2022).
Pada ibu post partum perawatan payudara merupakan tindakan yang
sangat penting untuk merawat payudara terutama untuk memperlancarkan
produksi pengeluaran ASI (air susu ibu). Air susu ibu (ASI) eksklusif adalah
asi yang diberikan kepada bayi dari bayi lahir sampai 6 bulan pertama tanpa
makanan tambahan (pisang, bubur, nasi, dan lainnya) cukup dengan ASI saja
(Kemenkes RI, 2021).
Ada beberapa dari ibu postpartum mengalami kesulitan dalam
memberikan ASI pada bayinya, baik ASI yang belum keluar maupun puting
yang kurang menonjol atau masuk ke dalam yang membuat bayi tidak mau
menghisap, Maka dari itu massage payudara sangat penting dilakukan yaitu
4
selama masa kehamilan (dari usia > 36 minggu) sampai postpartum
(menyusui). Hal ini karena payudara adalah salah satu penghasil ASI yang
merupakan makanan pokok bayi sehingga harus dilakukan segera mungkin
dimana tujuan perawatan payudara setelah melahirkan untuk memperlancar
produksi ASI dengan merangsang kelenjar-kelenjar air susu melalui massage
payudara (Rukiyah, 2020).
Massage dapat mengurangi kuatnya ketegangan pada otot payudara ibu,
sehingga dapat mendorong relaksasi dan meredakan rasa sakit saat proses
melahirkan. Sedangkan Massage payudara atau yang di sebut juga perawatan
payudara merupakan teknik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk
memperbanyak ASI agar Frekuensi menyusui ibu lebih sering (Ari
Sulistiyawati, 2019).
Produksi ASI yang kurang lancar bisa menyebabkan ibu akan
mengalami kesulitan terutama diawal selesainya kelahiran, keluhan yang
dialaminya yakni minimnya ASI yang diproduksi dihari pertama kelahiran
sehingga mengakibatkan mereka berhenti menyusui bahkan memilih
menggunakan susu formula. Selain itu menyusui tidak selamanya bisa berjalan
dengan normal tidak sedikit ibu akan mengeluh seperti adanya dampak bila
pengeluaran ASI tidak lancar yaitu seperti ibu mengalami kesakitan karena
payudara bengkak, mastitis dan bahkan abses pada payudara yang dapat
menyebabkan infeksi dan masalah lainnya (Ardi Lestari et al.,2022)
Kelancaran produksi ASI bagi ibu menyusui yang memberikan ASI
secara ekslusif pada bayinya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sedikitnya
5
jumlah ASI yang di produksi, kesehatan ibu, makanan, istirahat ibu,
kecemasan ibu. Kurangnya pengetahuan ibu tentang proses menyusui dan cara
merawat payudara untuk menghasilkan produksi ASI yang lebih banyak serta
merangsang otot-otot payudara diperlukan untuk memperbanyak ASI dengan
mengaktivasi kelenjar- kelenjarnya dengan cara melakukan massage payudara
atau mengkompres payudara dengan air hangat secara bergantian (Bahiyatun,
2019).
Dengan melakukan massage payudara dapat meningkatkan aliran ASI
pada ibu menyusui. Ibu menggunakan tangannya untuk menekan atau
melakukan massage payudara saat bayi tidak menghisap. Teknik ini berguna
khususnya pada bayi yang menghisap beberapa kali kemudian berhenti
mengisap sementara dalam waktu lama (Kemenkes RI, 2021).
Berdasarkan data di Puskesmas Kayangan jumlah ibu nifas diperoleh
sebanyak 72 orang ibu post partum dari bulan Desember 2024 sampai dengan
Januari 2025 dan yang mengalami masalah ASI sebanyak 25 orang ibu post
partum. Kemudian dari hasil wawancara terhadap 15 ibu post partum
diketahui bahwa 9 orang ibu post partum mengeluh ASI belum keluar dan
tidak lancar, sedangkan 6 ibu post partum lainnya produksi ASI dalam
keadaan normal. Ibu post partum yang memiliki keluhan ASI belum keluar
dan tidak lancar mengambil tindakan memberikan susu formula kepada
bayainya. Ibu post partum tersebut belum mengetahui mengenai penanganan
non farmakologis untuk meningkatkan produksi ASI yaitu salah satunya
dengan massage payudara (Puskesmas Kayangan, 2025).
6
Berdasarkan data di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
tentang pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI pada ibu post
partum di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis merumuskan masalah
dalam penelitian ini adalah : “Apakah ada pengaruh message payudara
terhadap kelancaran ASI pada ibu post partum di Ruang Nifas Puskesmas
Kayangan?".
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh message payudara terhadap kelancaran
ASI pada ibu post partum di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.
2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi kelancaran ASI pada ibu post partum sebelum
diberikan message payudara di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.
b. Mengidentifikasi kelancaran ASI pada ibu post partum setelah
diberikan message payudara di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan
c. Menganalisis pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI
pada ibu post partum di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai tambahan
informasi dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan menambah
7
wawasan ibu post partum tentang pengaruh message payudara terhadap
kelancaran ASI pada ibu post partum. Selain itu, diharapkan penelitian ini
dapat dijadikan sebagai refrensi di perpustakaan Program Studi S1
Pendidikan Bidan dan Profesi Bidan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
(STIKES) Hamzar Lombok Timur.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Puskesmas Kayangan
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan bagi Puskesmas Kayangan dalam upaya
meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan ibu post partum
tentang kelancaran ASI dengan cara memberikan informasi melalui
bimbingan konseling dan penyuluhan.
b. Bagi Peneliti
Diharapkan dengan adanya penelitian dapat menambah
wawasan peneliti mengenai pengaruh message payudara terhadap
kelancaran ASI pada ibu post partum agar bisa diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
c. Untuk Institusi Pendidikan
Diharapkan dengan adanya penelitian ini bisa dijadikan
sebagai bahan masukan dan referensi untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan para mahasiswa khususnya mahasiswa Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan (STIKES) Hamzar Lombok Timur.
8
d. Bagi Ibu Post Partum
Diharapkan dengan adanya penelitian dapat meningkatkan
pengetahuan dan menambah wawasan ibu post partum tentang
pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI pada ibu post
partum.
e. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dengan adanya hasil penelitian ini dapat dijadikan
sebagai literatur atau refrensi serta acuan dalam melakukan penelitian
lebih lanjut tentang pengaruh message payudara terhadap kelancaran
ASI pada ibu post partum.
E. Keaslian Penelitian
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
Judul Metode
Peneliti Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan
Penelitian Penelitian
Tri Endah Pengaruh Pijat Penelitian Hasil penelitian Persamaannya Perbedaannya
Widi Lestari Oketani seperti ini menunjukkan yaitu terletak pada yaitu : variabel
(2024) Terhadap termasuk dalam bahwa dari hasil variabel dependent independent yang
Kelancaran ASI satu kelompok. analisis Wilcoxon tentang kelancaran diteliti berbeda.
Pada Ibu dua desain pra menunjukkan nilai ASI pada ibu post Peneliti meneliti
Postpartum dan pasca tes sig sebesar 0,004 < partum. Selain itu, tentang message
Sectio Caesarea untuk satu a (0,05), artinya metode penelitian payudara
Di RSUD kelompok aliran ASI pada ibu yang digunakan sedangkan
Cilacap postpartum caesar juga sama yaitu : penelitian
mengalami pra eksperimental terdahulu meneliti
perubahan dengan desain one tentang pijat
signifikan pada group pretest dan oksitosin. Selain
hari kedua dan posttes. Disamping itu, analisis data
ketiga setelah itu, teknik yang digunakan
dilakukan pijat pengambilan juga berbeda.
oketani pada salah sampel yang Peneliti
satu payudara digunakan juga menggunakan uji
selama sepuluh sama yaitu wilcoxon
hingga lima belas accidental sedangkan
menit sekali sehari sampling. penelitian
selama tiga hari terdahulu
menggunakan uji t-
test.
9
Tinneke Pengaruh Metode Hasil penelitian Persamaannya Perbedaannya
(2023) perawatan penelitian menunjukkan yaitu variabel yaitu : variabel
payudara dan adalah quasy bahwa ada dependent yang independent yang
pijat oksitosin experiment pre- pengaruh yang diteliti sama yaitu diteliti berbeda.
terhadap post test control signifikan tentang kelancaran Peneliti melakukan
kelancaran group design pengaruh antara ASI. Selain itu, penelitian tentang
produksi asi perawatan analisis data yang message payudara
pada ibu nifas payudara dan pijat digunakan juga sedangkan
di Rumah Sakit oksitosin terhadap sama yaitu uji penelitian
Kota Tomohon kelancaran wilcoxon. terdahulu tentang
Produksi ASI perawatan
dengan uji payudara dan pijat
Wilcoxon oksitosin. Selain
didapatkan hasil itu, metode
Z=-3,317 dengan penelitian yang
signifikan 0.001 < digunakan juga
= 0.05 berbeda. Peneliti
menggunakan pra
eksperimental
sedangkan
penelitian
terdahulu
menggunakan
quasi
eksperimental.
Disamping itu,
teknik pengambil
sampel yang
digunakan juga
berbeda. Peneliti
menggunakan
accidental
sampling
sedangkan
penelitian
terdahulu
menggunakan
purposive
sampling.
10
Ema Nur Pengaruh pijat Metode Hasil analisis uji Persamaannya Perbedaannya
Azizah laktasi terhadap penelitian yang Paired Samples T- yaitu variabel yaitu : variabel
(2023) kelancaran digunakan test menunjukkan dependent yang independent yang
pengeluaran asi adalah Pre- Sig.(2- tailed) diteliti sama yaitu diteliti berbeda.
pada ibu post Eksperiment 0.000 < α 0.05, tentang kelancaran Peneliti melakukan
partum di dengan desain sehingga terdapat ASI. Selain itu, penelitian tentang
Wilayah Kerja penelitian one pengaruh pijat metode penelitian message payudara
Puskesmas group pretest- laktasi terhadap yang digunakan sedangkan
Baqa Kota posttest kelancaran juga sama yaitu : penelitian
Samarinda pengeluaran ASI pra eksperimental terdahulu tentang
pada ibu dengandesain one laktasi. Selain itu,
postpartum di group pretest dan analisis data yang
wilayah kerja posttest. digunakan juga
puskesmas Baqa berbeda. Peneliti
kota Samarinda menggunakan uji
wilcoxon
sedangkan
penelitian
terdahulu
menggunakan uji t-
test. Kemudian
teknik pengambil
sampel yang
digunakan juga
berbeda. Peneliti
menggunakan
accidental
sampling
sedangkan
penelitian
terdahulu
menggunakan
purposive
sampling.
Siti Pengaruh Jenis penelitian Hasil penelitian Persamaannya Perbedaannya
Mukaramah perawatan ini adalah menunjukkan yaitu variabel yaitu : variabel
(2021) payudara “Quasy bahwa terdapat dependent yang independent yang
terhadap Eksperimental” perbedaan diteliti sama yaitu diteliti berbeda.
kelancaran dengan produksi ASI yang tentang kelancaran Peneliti melakukan
produksi asi rancangan “Non signifikan antara ASI. Selain itu, penelitian tentang
pada ibu randomized kelompok teknik pengambilan message payudara
postpartum di Control perlakuan dengan sampel yang sedangkan
Puskesmas Group, pretest- kelompok kontrol digunakan sama. penelitian
Kassi-Kassi, posttest Design dengan nilai t terdahulu tentang
Makassar hitung sebesar perawatan
10,512 lebih besar payudara. Selain
dari t tabel sebesar itu, metode
2,000 dan nilai ρ = penelitian dan
0,000 < 0,05 analisis data yang
digunakan juga
berbeda. Peneliti
menggunakan uji
wilcoxon
sedangkan
11
penelitian
terdahulu
menggunakan uji t-
test.
Kurnia Pengaruh pijat Metode Hasil penelitian Persamaannya Perbedaannya
(2022) oksitosin penelitian didapat nilai p yaitu variabel yaitu : variabel
terhadap menggunakan sebesar 0.000 dependent yang independent yang
kelancaran asi desain Pre yang artinya < diteliti sama yaitu diteliti berbeda.
tentang kelancaran Peneliti melakukan
pada ibu post Eksperimen (0,05) maka
ASI. Selain itu, penelitian tentang
partum dengan dinyatakan metode penelitian message payudara
primipara di rancangan adanya yang digunakan sedangkan
Moty Care penelitian one perubahan yang juga sama yaitu : penelitian
Baby, Kids & group pre-test signifikan pra eksperimental terdahulu tentang
Mom and post-test dimana dengandesain one pijat oksitosini.
Ciangsana kelancaran ASI group pretest dan Selain itu, analisis
Tahun 2022 meningkat posttest. data yang
setelah dilakukan digunakan juga
perlakuan pijat berbeda. Peneliti
menggunakan uji
wilcoxon
sedangkan
penelitian
terdahulu
menggunakan uji t-
test. Kemudian
teknik pengambil
sampel yang
digunakan juga
berbeda. Peneliti
menggunakan
accidental
sampling
sedangkan
penelitian
terdahulu
menggunakan
purposive
sampling.
12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Konsep Dasar Message Payudara
a. Pengertian Message Payudara
Message payudara adalah praktik yang melibatkan penggunaan
teknik pijat atau tekanan ringan pada payudara. Praktik ini dapat
dilakukan dengan tangan kosong atau menggunakan alat bantu
tertentu, seperti roller atau bola pijat. Tujuan dari message payudara
bisa bervariasi tergantung pada konteksnya. Dalam konteks kebugaran
dan kesehatan, message payudara dapat dilakukan untuk meredakan
ketegangan otot di sekitar area payudara, meningkatkan sirkulasi
darah, dan merangsang kelenjar mamaria (Lelo, et, al, 2021).
Message payudara juga merupakan tindakan memijat atau
memberikan tekanan pada payudara dengan tangan atau alat tertentu.
Tujuannya bisa bermacam-macam, mulai dari meredakan ketegangan
otot, meningkatkan sirkulasi darah, merangsang produksi ASI (air susu
ibu) pada ibu menyusui, hingga memperbaiki bentuk atau ukuran
payudara. Message payudara juga dapat digunakan sebagai bagian dari
perawatan kesehatan payudara, seperti dalam deteksi dini kanker
payudara atau untuk mengurangi ketidaknyamanan seputar payudara
(Haryono dan Setianingsih, 2019).
13
Di samping itu, dalam konteks kesehatan reproduksi, message
payudara dapat digunakan untuk merangsang produksi air susu ibu
(ASI) pada ibu menyusui. Teknik message yang tepat dapat membantu
melancarkan aliran ASI dan mencegah penyumbatan saluran susu.
Selain itu, message payudara juga dapat dianggap sebagai bagian dari
perawatan payudara yang menyeluruh, karena dapat membantu dalam
mendeteksi dini perubahan atau benjolan yang mencurigakan yang
dapat menjadi tanda awal kanker payudara (Mufdlilah, 2020).
b. Tujuan Message Payudara
Menurut Wahyuni et al (2022), message payudara pasca
persalinan merupakan kelanjutan perawatan payudara semasa hamil,
mempunyai tujuan:
1) Merangsang Produksi ASI
Salah satu tujuan utama dari message payudara untuk ibu
nifas adalah merangsang produksi ASI. Message secara lembut
dapat membantu merangsang kelenjar mamaria untuk
meningkatkan produksi ASI.
2) Membantu Kelancaran Aliran ASI
Message payudara dapat membantu melancarkan aliran ASI,
membantu mengurangi risiko tersumbatnya saluran susu. Dengan
merangsang payudara dan memijat secara lembut, ibu nifas dapat
membantu mengurangi kemungkinan terjadinya penyumbatan
saluran susu yang dapat mengganggu aliran ASI.
14
3) Mengatasi Masalah Susu yang Tidak Lancar
Message payudara juga dapat membantu mengatasi masalah
susu yang tidak lancar atau pembengkakan payudara yang dapat
terjadi pada masa awal menyusui. Message yang tepat dapat
membantu mengurangi pembengkakan dan memudahkan aliran
ASI.
4) Meningkatkan Kenyamanan
Message payudara juga dapat membantu meningkatkan
kenyamanan ibu nifas. Dengan meredakan ketegangan atau rasa
tidak nyaman di sekitar payudara, message dapat membantu ibu
merasa lebih rileks dan nyaman selama proses menyusui. 5.
Mencegah Mastitis: Mastitis adalah infeksi pada payudara yang
umum terjadi pada ibu menyusui. Message payudara yang tepat
dapat membantu mencegah mastitis dengan membantu menjaga
aliran ASI dan mencegah penyumbatan saluran susu.
c. Cara Message Payudara
Menurut Kartini et al (2023), alat-alat yang digunakan untuk
message payudara antara lain : minyak kelapa/baby oil, handuk bersih
dua buah, baskom dua buah (satu di isi air hangat, satunya berisi air
dingin), kapas, bengkokdan waslap dua buah. Teknik
pengurutan/massage meliputi :
1) Tempelkan kapas yang sudah diberi minyak kelapa selama + 5
menit, kemudian puting susu dibersihkan
15
Gambar 2.1
2) Tempelkan kedua telapak tangan diantara kedua payudara.
Gambar 2.2
3) Pengurutan dimulai kearah atas, kesamping, telapak tangan kiri
kearah sisi kiri, telapak tangan kanan kearah sisi kanan.
Gambar 2.3
4) Pengurutan diteruskan kebawah, selanjutnya melintang, telapak
tangan mengurut kedepan kemudian dilepaskan dari payudara,
gunakan diulangan 30 kali.
Gambar 2.4
16
5) Telapak tangan kiri menopang payudara kiri dan jari-jari tangan
sisi kelingking mengurut payudara kearah putting susu, gerakan
diulang sebanyak 30 kali untuk tiap payudara.
Gambar 2.5
6) Telapak tangan kiri menopang payudara, tangan kanan
menggenggam dan mengurut payudara dari pangkal menuju
keputing susu, gerakan ini diulang sebanyak 30 kali untuk setiap
payudara.
Gambar 2.6
7) Selesai pengurutan, payudara disiram atau dikompres dengan air
hangat dan dingin bergantian selama ± 5 menit, kemudian gunakan
BH yang bersih dan menopang.
Gambar 2.7
17
2. Konsep Dasar ASI
a. Pengertian ASI
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan
protein, laktosa dan garam – garam anorganik yang disekresi oleh
kelenjar mamae ibu sebagai makanan alamiah pertama dan utama
untuk anak (Rismauli, 2023).
ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan yang
terformulasikan secara unik di dalam tubuh ibu untuk menjamin
proses pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. Selain
menyediakan nutrisi lengkap untuk seorang anak, ASI juga
memberikan perlindungan pada anak atas infeksi dan penyakit lainnya.
ASI dalam jumlah yang cukup merupakan makanan terbaik bagi bayi
dan dapat memenuhi kebutuhan bayi sampai dengan 6 bulan pertama
(Lelo et al., 2021).
b. Jenis dan Kandungan Gizi ASI
Menurut Mufdlilah (2017), nutrisi yang terkandung di dalam
ASI cukup banyak dan bersifat spesifik pada tiap ibu. Komposisi ASI
dapat berubah dan berbeda dari waktu ke waktu disesuaikan dengan
kebutuhan bayi sesuai usianya. Berdasarkan waktunya, ASI dibedakan
menjadi tiga stadium, yaitu :
1) Kolostrum
Kolostrum merupakan cairan agak kental yang pertama kali
keluar berwarna kekuning-kuningan yang diproduksi dari hari ke-1
18
sampai hari ke-3 setelah kelahiran. Kolostrum mengandung protein
tinggi 8,5% sedikit karbohidrat 3,5%, lemak 2,5%, garam dan
mineral 0,4%, air 85,1%, dan vitamin larut lemak. Kandungan
protein kolostrum lebih tinggi, sedangkan kandungan laktosanya
lebih rendah dibandingkan ASI matang. Selain itu, kolostrum juga
tinggi imunoglobulin A (IgA) sekretorik, laktoferin, leukosit, serta
faktor perkembangan seperti faktor pertumbuhan epidermal.
Kolostrum juga dapat berfungsi sebagai pencahar yang dapat
membersihkan saluran pencernaan bayi baru lahir. Jumlah
kolostrum yang diproduksi ibu hanya sekitar 7,4 sendok teh atau
36,23 mL per hari. Pada hari pertama bayi, kapasitas perut bayi ≈
5-7 mL (atau sebesar kelereng kecil), pada hari kedua ≈ 12-13 mL,
dan pada hari ketiga ≈ 22-27 mL (atau sebesar kelereng
besar/gundu). Karenanya, meskipun jumlah kolostrum sedikit
tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi baru lahir.
2) ASI transisi/peralihan
ASI transisi atau peralihan merupakan transisi dari
kolostrum ke ASI matur yang dihasilkan mulai hari ke-4 sampai
hari ke-10. Kandungan protein makin menurun, namun kandungan
lemak, laktosa, vitamin larut air, dan volume ASI akan makin
meningkat. Peningkatan volume ASI dipengaruhi oleh lamanya
menyusui yang kemudian akan digantikan oleh ASI matur.
19
3) ASI matur
ASI matur merupakan ASI yang disekresi dari hari ke-10
sampai seterusnya dan komposisinya relatif konstan. Dalam air
susu matur, terdapat anti mikrobakterial faktor, yaitu antibodi
terhadap bakteri dan virus. Volume air susu matur antara 300 –
850 ml/24 jam.
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI
Menurut Haryono & Setianingsih, (2019), ketersediaan ASI
yang lancar pada ibu menyusui akan membantu kesuksesan pemberian
ASI Eksklusif selama 6 bulan, sehingga membantu bayi tumbuh dan
berkembang dengan baik. Kelancaran produksi ASI dipengaruhi oleh
banyak faktor yaitu :
1) Frekuensi Pemberian ASI
Frekuensi pemberian ASI direkomendasikan 8 kali perhari
pada periode awal setelah melahirkan. Semakin sering ibu
menyusui semakin banyak produksi ASI. Frekuensi menyusui
berkaitan dengan kemampuan stimulasi hormon dalam kelenjar
payudara.
2) Berat Bayi Saat Lahir
Berat bayi saat lahir berkaitan dengan kekuatan untuk
mengisap, frekuensi dan lamanya penyusuan yang kemudian akan
mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam
memproduksi ASI
20
3) Usia Kehamilan Saat Bayi Lahir
Bayi yang lahir prematur (umur kehamilan kurang dari 34
minggu) sangat lemah dan tidak mampu mengisap secara efektif
sehingga produksi ASI lebih rendah daripada bayi yang lahir tidak
prematur. Lemahnya kemampuan mengisap pada bayi prematur
disebabkan berat badan yang rendah dan belum sempurnanya
fungsi organ
4) Usia Ibu Dan Paritas
Ibu yang melahirkan bayi lebih dari satu kali, produksi ASI
pada hari keempat setelah melahirkan lebih tinggi dibanding ibu
yang melahirkan pertama kali
5) Stres Dan Penyakit Akut
Pengeluaran ASI akan berlangsung baik apabila ibu merasa
rileks dan nyaman. Keadaan ibu yang cemas dan stres akan
mengganggu proses laktasi karena produksi ASI terhambat.
Penyakit infeksi kronik dan akut dapat mempengaruhi produksi
ASI
6) Inisiasi Menyusu Dini
Inisiasi menyusu dini adalah proses untuk memberikan ASI
segera setelah bayi dilahirkan yang biasanya dilakukan dalam
kurun waktu 30 menit sampai 1 jam pascapersalinan. Inisiasi
menyusui dini tidak hanya memudahkan proses pemberian ASI,
tapi juga menjadi momen ‘perkenalan’ yang dapat memperkuat
21
ikatan antara Anda dan bayi, karena saat melakukan proses
tersebut, ada sentuhan langsung antara Anda dan bayi (skin to skin
contact).
7) Konsumsi Rokok
Merokok akan menstimulasi pelepasan adrenalin sehingga
menghambat pelepasan oksitosin. Dengan demikian volume ASI
akan berkurang karena kerja hormon prolaktin dan hormon
oksitosin terganggu
8) Konsumsi Alkohol
Meskipun minuman alkohol dosis rendah disatu sisi dapat
membuat ibu rileks sehingga membantu pengeluaran ASI namun
disisi lain etanol dapat menghambat produksi oksitosin
9) Perawatan Payudara
Perawatan payudara dapat dimulai ketika kehamilan masuk
7-8 bulan. Payudara yang terawat baik akan mempengaruhi
produksi ASI lebih banyak sehingga cukup untuk memenuhi
kebutuhan bayi. Perawatan payudara yang baik juga akan
membuat putting tidak mudah lecet ketika diisap bayi. Pada masa
enam minggu terakhir masa kehamilan perlu dilakukan pengurutan
payudara. Pengurutan payudara akan menghambat terjadinya
penyumbatan pada duktus laktiferus sehingga ASI akan keluar
dengan lancar
22
10) Penggunaan Kontrasepsi
Pil kontrasepsi kombinasi estrogen dan progestin apabila
dikonsumsi oleh ibu menyusui akan menurunkan volume dan
durasi ASI, namun apabila pil kontrasepsi hanya mengandung
progestin saja makan tidak akan mengganggu volume ASI
11) Makanan Ibu
Pemberian gizi pada ibu hamil dengan baik dan seimbang
dengan mengonsumsi nutrisi lengkap dengan cukup kalori dan
cukup air. Makanan yang dikonsumsi ibu menyusui sangat
berpengaruh terhadap produksi ASI. Apabila makanan yang ibu
makan cukup akan gizi dan pola makan yang teratur, maka
produksi ASI akan lancar. Dalam tubuh terdapat berbagai
cadangan zat gizi yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu
diperlukan. Akan tetapi jika makanan ibu terus-menerus tidak
mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya
kelenjar-kelenjar pembuat susu dalam payudara ibu tidak akan
dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh
terhadap produksi ASI.
Ibu mengonsumsi makanan yang bergizi khususnya yang
dapat meningkatkan produksi ASI seperti daun katuk, sayur
pepaya, jantung pisang dan yang lainnya yang mengandung
Laktagogum. Laktagogum memiliki peran dalam meningkatkan
23
produksi ASI pada ibu menyusui yaitu membantu dalam
peningkatan hormon prolaktin dan oksitosin.
3. Konsep Dasar Kelancaran ASI
a. Kelancaran ASI
Kelancaran ASI merupakan pengeluaran ASI yang dikatakan
lancar bila produksi ASI berlebihan yang ditandai dengan ASI akan
menetes dan akan memancar deras saat dihisap bayi. Air Susu Ibu
(ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan
garam-garam anorganik yang disekresikan oleh kelenjar mamae ibu,
dan berguna sebagai makanan bayi (Marmi, 2019).
b. Faktor Yang Mempengaruhi Kelancaran ASI
Pada dasarnya, kebutuhan bayi terhadap ASI dan Produksi ASI
sangat bervariasi. Oleh karena itu, ibu sulit memprediksi tercukupinya
kebutuhan ASI pada bayi. Terkait hal ini, ibu perlu memperhatikan
tanda-tanda kelaparan atau kepuasan yang ditunjukkan oleh bayi, serta
pertambahan berat badan bayi sebagai indikator kecukupan bayi
terhadap ASI (Prasetyono, 20179).
Menurut Nugroho (20211), faktor-faktor yang mempengaruhi
kelancaran ASI adalah:
1) Faktor internal
a) Usia dan Paritas
Umur ibu yang lebih muda atau umurnya kurang dari 35
tahun lebih banyak memproduksi ASI daripada ibu yang lebih
24
tua sedangkan ibu yang berumur 19-23 tahun pada umumnya
dapat menghasilkan cukup ASI dibandingkan yang berumur
tiga puluhan. Ibu yang melahirkan anak kedua dan seterusnya
memiliki produksi ASI lebih banyak dibandingkan dengan
kelahiran anak pertama. Ibu multipara menunjukkan produksi
ASI yang lebih banyak dibandingkan dengan primipara pada
hari keempat pos partum.
b) Bentuk dan kondisi puting susu
Kelainan bentuk puting seperti puting yang datar dan
masuk akan membuat bayi kesulitan untuk menyusui sehingga
menghambat produksi ASL Puting susu lecet juga akan
mempengaruhi pemberian ASI kepada bayi, karena para ibu
akan menghentikan menyusui karena putingnya lecet.
c) Asupan Nutrisi dan Asupan Cairan
Jumlah dan kualitas ASI dipengaruhi oleh nutrisi dan
masukan cairan pada ibu. Ibu menyusui membutuhkan
karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Jumlah kalori
yang dibutuhkan ibu menyusui pada enam bulan pertama yaitu
+ 700 kalori per hari. Sedangkan cairan yang dibutuhkan ibu
sebanyak 8-12 gelas per hari. ketika menyusui, Salah satu
nutrisi yang dibutuhkan adalah protein kebutuhan protein yang
diperlukan ibu menyusui sebanyak 76-80 gram per hari.
25
Nutrisi ini merupakan makronutrien penting untuk diet
sehat bagi ibu menyusui. mengonsumsi protein dalam jumlah
yang cukup dapat memberikan nutrisi yang optimal untuk
menjaga jaringan tubuh, memastikan suplai ASI, serta
menyediakan protein untuk jaringan tubuh bayi yang sedang
tumbuh. Selama menyusui, tubuh menggunakan protein untuk
memproduksi ASI dan menopang pertumbuhan bayi. Nutrisi
ini membantu bayi menumbuhkan sel-sel baru di organ, otot,
dan otaknya. Terdapat dua jenis protein yaitu protein hewani
dan nabati. Protein hewani bisa diperoleh dari daging, ikan,
dan telur. Sedangkan, protein nabati bisa diperoleh dari
kacang-kacangan.
d) Kondisi Psikologis Ibu
Kondisi psikologisi ibu berpengaruh terhadap kelancaran
ASI, Kondisi kecemasan ibu dengan post seksio sesarea lebih
tinggi ibandingan ibu dengan melahirkan normal. Hal itu
dikarenakan ibu post seksio sesarea mengalami masa
pemulihan yang lebih lama sehinga ibu akan merasa kesusahan
dalam mengurus bayinya. Kondisi tersebut dapat memicu
pelepasan adrenalin yang menyebabkan vasokontriksi di dalam
darah. Akibatnya, terjadi hambatan let down refleks sehingga
air susu tidak mengalir dan dapat memicu terjadinya
bendungan ASI. Keinginan dan motivasi yang kuat untuk
26
menyusui bayinya merupakan faktor utama dalam kesuksesan
pemberian ASI Eksklusif. Motivasi yang kuat akan membuat
ibu selalu bersemangat dalam memberikan ASI sehingga
rangasangan pada payudara akan mempengaruhi pengeluaran
let down refleks dan aliran ASI lancar.
e) Pengetahuan Teknik Menyusui
Teknik menyusui adalah suatu cara pemberian ASI yang
dilakukan oleh seorang ibu kepada bayinya, demi mencukupi
kebutuhan nutrisi bayi tersebut. Ada beberapa macam posisi
menyusui. Posisi yang tergolong dilakukan adalah dengan
duduk atau berbaring. Bila duduk, lebih baik menggunakan
kursi yang rendah agar kaki ibu tidak tergantung dan punggung
ibu dapat bersandar pada sandaran kursi (Astuti S, 2021).
Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat
menyebabkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar
optimal, sehingga mempengaruhi kelancaran produksi ASI
selanjutnya, atau bayi enggan menyusu. Oleh karena itu,
langkah menyusui yang benar yaitu (Astuti S, 2021):
a) Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir.
b) Perah sedikit ASI dan oleskan ke puting dan areola
sekitarnya. Manfaatnya adalah sebagai desinfektan dan
menjaga kelembaban puting susu.
c) Ibu duduk dengan santai kaki tidak boleh menggantung.
27
d) Posisikan bayi dengan benar, ialah :
(1) Bayi dipegang dengan satu lengan. Kepala bayi
diletakkan dekat lengkungan siku ibu, bokong bayi
ditahan dengan telapak tangan ibu.
(2) Perut bayi menempel ke tubuh ibu.
(3) Mulut bayi berada di depan puting ibu.
(4) Lengan yang di bawah merangkul tubuh ibu, jangan
berada di antara tubuh ibu dan bayi. Tangan yang di
atas boleh dipegang ibu atau diletakkan di atas dada
ibu.
(5) Telinga dan lengan yang di atas berada dalam satu garis
lurus.
(6) Bibir bayi dirangsang dengan puting ibu dan akan
membuka lebar, kemudian dengan cepat kepala bayi
didekatkan ke payudara ibu dan putting serta areola
dimasukkan ke dalam mulut bayi.
e) Cek apakah perlekatan sudah benar, ialah :
(1) Dagu menempel ke payudara ibu.
(2) Mulut terbuka lebar.
(3) Sebagian besar areola terutama yang berada di bawah,
masuk ke dalam mulut bayi.
(4) Bibir bayi terlipat keluar.
28
(5) Pipi bayi tidak boleh kempot (karena tidak menghisap,
tetapi memerah ASI).
(6) Tidak boleh terdengar bunyi decak, hanya boleh
terdengar bunyi menelan.
(7) Ibu tidak kesakitan
(8) Puting tidak terasa nyeri.
(9) Bayi tenang.
f) Melepas isapan bayi
Menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong,
sebaiknya ganti menyusui pada payudara yang lain. Cara
melepas isapan bayi yaitu dengan jari kelingking
dimasukan kemulut bayi melalui sudut mulut atau dagu
bayi ditekan kebawah.
g) Menyendawakan bayi
Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan
udara dari lam bung supaya bayi tidak muntah (gumoh)
setelah menyusu. Cara menyendawakan bayi yaitu sebagai
berikut : bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu
ibu, kemudian punggungnya ditepuk perlahan atau dengan
bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu, kemudian
punggungnya ditepuk perlahan. Gerakan dilakukan secara
lembut dan tekanan juga diberikan secara lembut pada
bagian perut bayi.
29
2) Faktor eksternal
a) Dukungan Keluarga
Dukungan dari keluarga termasuk suami, orang tua atau
saudara lainnya sangat menentukan keberhasilan menyusui.
Kerena pengaruh keluarga berdampak pada kondisi emosi ibu
sehingga secara tidak langsung mempengaruhi kelancaran
produksi ASI. Pengaliran ASI dikendalikan oleh hormon
oksitosin atau disebut juga hormon cinta, jika seorang ibu
kurang mendapatkan dukungan dari keluarganya perasaan
sedih, cemas, dan khawatir yang timbul dapat mengurangi
hormon oksitosin hal inilah yang menyebabkan ASI menjadi
tidak lancar. Seorang ibu yang mendapatkan dukungan dari
suami dan anggota keluarga lainnya akan meningkatkan
pemberian ASI pada bayinya. Sebaliknya dukungan yang
kurang maka pemberian ASI menurun. Berikut ini merupakan
beberapa peran yang bisa dilakukan keluarga atau suami untuk
mendukung sukses menyusui :
(1) Sedapat mungkin selalu berada disamping ibu dan menjadi
orang pertama yang memberikan dorongan ketika ibu
sedang dalam proses persalinan, pasca persalinan, maupun
saat menyusui.
30
(2) Menemani saat ibu menyusui, atau memompa ASI saat
tengah malam, atau memberikan ASI saat bayi terjaga dan
membiarkan ibu tetap tidur/istirahat.
(3) Memberi dukungan pada ibu untuk memberikan ASI
Eksklusif pada bayi. ASI merupakan makanan terbaik bagi
bayi. ASI mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan bayi.
(4) Memanjakan ibu. Jika ibu menyusui bahagia, maka ASI
akan lancar. Memanjakan ibu dapat dilakukan dengan cara
yang paling sederhana seperti memijatnya, membelikan
makanannya, atau dengan membelikan barang- barang
kesenangannya.
(5) Keluarga memberikan kontribusi yang besar terhadap
keinginan ibu untuk menyusui bayi selain memberikan
pengaruh yang kuat untuk pengambilan keputusan untuk
tetap menyusui.
Ada beberapa bagian yang terdapat dalam Dukungan
Keluarga yaitu :
(1) Dukungan informasional
Pemberian informasi terkait dengan hal yang di
butuhkan individu. Sebagai manusia sosial, manusia tidak
bsa menghindar dari berhubungan dengan orang lain.
Dalam berhubungan dengan orang lain, manusia mengikuti
31
sistem komunikasi dan informasi mencakup pemberian
nasihat, saran serta umpan balik mengenai keadaan
individu. Jenis informasi yang dapat di berikan seperti
menolong individu untuk untuk mengenali dan mengatasi
masalah yang sedang di hadapi. Contohnya adalah keluarga
memberikan informasi kepada ibu mengenai pentingnya
memberikan ASI kepada bayi dan keluarga mencari
informasi dari luar seperti dari buku, majalah, iklan,
internet, dan lainnya tentang cara memperbanyak ASI agar
tetap lancar.
(2) Dukungan Penghargaan
Bertindak sebagai penengah dalam pemecahan
masalah dan juga sebagai fasilitator dalam pemecahan
masalah yang sedang di hadapi. Dukungan dan perhatian
dari keluarga merupakan bentuk penghargaan positif yang
di berikan kepada individu. Contohnya adalah keluarga
memberikan tanggapan postif ketika ibu memberikan ASI
dan keluarga memotivasi ibu untuk tetap memberikan ASI.
(3) Dukungan instrumental
Merupakan bentuk dukungan langsung dan nyata.
Dukungan yang di berikan dapat berupa penyediaan materi
yang dapat memberikan pertolongan langsung. Dukungan
ini dapat membantu individu mengurangi tekanan karena
32
dapat langsung di gunakan untuk memecahkan masalah
yang berhubungan dengan materi. Contohnya adalah
keluarga menyediakan makanan yang bergizi untuk
kelancaran ASI ibu, keluarga membantu ibu apabila
memerlukan sesuatu saat ibu menyusui seperti
mengambikan pakaian bayi dan mengambilkan ibu minum
serta keluarga membantu ibu dalam mengerjakan tugas
rumah.
(4) Dukungan emosional
Dukungan yang dapat di berikan seperti ekspresi
empati dan perhatian terhadap individu. Dukungan tersebut
dapat memberikan rasa aman, dan di cintai agar agar
individu dapat menghadapi masalah dengan baik.
Dukungan ini sangat penting di berikan pada individu
dalam menghadapi keadaan yangdi anggap tidak dapat di
kontrol. Sumber terdekat dukungan emosional adalah
keluarga. Contohnya adalah keluarga memperlakukan ibu
dengan nyaman saat ibu menyusui serta memberikan penuh
perhatian kepada ibu.
b) Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Inisiasi menyusu dini mempunyai arti permulaan kegiatan
menyusu dalam satu jam pertama setelah bayi lahir. Bayi
menyusu pada ibunya, kontak kulit- ke-kulit dengan diletakkan
33
di atas perut ibu atau dada ibu, bukan disusui ibunya ketika
bayi baru saja lahir, yang dapat diartikan juga sebagai cara bayi
menyusu satu jam pertama setelah lahir dengan usaha sendiri
(bayi mencari sendiri puting susu ibunya) bukan disusui. Cara
bayi melakukan inisiasi menyusu dini ini dinamakan “the
breast crawl” atau merangkak mencari payudara (kemampuan
alami yang ajaib) (Astuti S, 2021).
Teori yang menyatakan bahwa inisiasi menyusui dini
dapat memengaruhi kelancaran pengeluaran ASI, yaitu
menurut buku Monika tahun 2019, yang berjudul “Buku Pintar
ASI dan Menyusui”, menyatakan bahwa didalam proses
pembentukan ASI terdapat hormon oksitosin. Hormon
oksitosin diproduksi di hipotalamus dan disimpan di kelenjar
pituitary belakang di otak. Saat bayi menghisap di puting susu
ibu, rangsangan tersebut dikirim ke otak sehingga hormon
oksitosin dikeluarkan dan mengalir ke dalam darah, kemudian
masuk ke payudara menyebabkan otot-otot di sekitar alveoli
berkontraksi dan membuat ASI mengalir di saluran ASI.
Hormon oksitosin juga membuat saluran ASI lebih lebar
sehingga merangsang ASI mengalir lebihmudah (Monica F,
2019).
Inisiasi Menyusu Dini yang telah memiliki banyak
manfaat, salah satunya kelangsungan pemberian ASI untuk
34
tumbuh kembang anak, dan upaya untuk memperlancar
keluarnya ASI. Agar proses menyusui berhasil maka harus
dilatih dan membutuhkan perlekatan alami antara bayi dengan
ibunya (Maryunani, 2021)
c) Frekuensi Menyusui
Rentang yang optimal adalah antara 8 hingga 12 kali
setiap hari. Meskipun mudah untuk membagi 24 jam menjadi 8
hingga 12 kali menyusui dan menghasilkan perkiraan jadwal,
cara ini bukan merupakan cara makan sebagian besar bayi.
Banyak baik. dalam rentang beberapa jam menyusu sebagai
respon isyarat bayi dan berhenti menyusui bila bayi tampak
kenyang (isyarat kenyang meliputi relaksasi seluruh tubuh,
tidur saat menyusu dan melepaskan putting (Nina, Siti 2020).
Pada bayi menyusu lebih sering, rata-rata adalah 10-12
kali menyusu tiap 24 jam atau bahkan 18 kali. Bayi yang sehat
dapat mengosongkan satu payudara sekitar lima sampai tujuh
menit, sedangkan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam
waktu dua jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang
teratur dalam meyusui dan akan mempunyai pola tertentu
setelah 1-2 minggu kemudian (Reni Yuli, 2020).
Sehingga semakin sering bayi menyusu ASI, rata-rata 12-
15 kali dalam 24 jam dan semakin lama waktunya, maka akan
semakin banyak produksi ASI dan pengeluaranASI berjalan
35
dengan lancar. Jika seorang ibu memilki kepercayaan diri yang
tinggi, dia akan berusaha untuk menyusukan payudaranya
sedini mungkin, sesering mungkin dan selama mungkin pada
bayinya sehingga produksi ASInya berlimpah dan
pengeluarannya lancar. Sebaliknya jika ibu memiliki presepsi
bahwa ASInya tidak banyak atau tidak cukup, maka ASI yang
keluar juga sedikit (Dwi Sartika, 2019).
d) Perawatan Payudara
Perawatan payudara yang dilakukan selama kehamilan
bertujuan agar pada produksi ASI pada proses menyusui
tercukupi. Perawatan payudara meliputi: pemakaian bra yang
tepat, latihan otot-otot yang menopang payudara dan hygiene
payudara. Breat care dapat membuat ibu lebih nyaman akan
payudaranya dan siap untuk menyusui bayinya.
4. Konsep Dasar Post Partum
a. Pengertian Post Partum
Post partum merupakan masa pemulihan dari 9 bulan kehamilan,
masa diawali setelah ari-ari keluar dan plasenta lahir hingga
kembalinya organ-organ reproduksi ke dalam keadaan normal atau
sebelum hamil. Masa nifas atau disebut juga puerperium berlangsung
sejak satu jam setelah kelahiran plasenta sampai 6 minggu (40) hari
dan masa pembersihan rahim, sama halnya seperti masa haid
(Vijayanti, 2022).
36
Masa setelah melahirkan merupakan tahap khusus dalam
kehidupan ibu dan bayi, untuk ibu yang pertama kali melahirkan,
terdapat adanya perubahan yang sangat berarti dalam hidupnya,
ditandai dengan pergantian emosional, pergantian fisik secara drastis,
ikatan keluarga dan aturan yang baru, termasuk perubahan dari
seorang perempuan menjadi seorang ibu (Elyasari et al., 2023).
b. Periode Post Partum
Post partum terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu sebagai berikut :
(Elyasari et al., 2023)
a. Periode Immediate Post Partum
Masa Immediate post partum adalah masa setelah plasenta
lahir sampai 24 jam. Pada masa ini sering terjadi banyak masalah
seperti perdarahan atonia uteri. Oleh sebab itu, harus dilakukan
pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lokea, tekanan darah
dan suhu secara teratur.
b. Periode Early Post Partum
Periode early post partum adalah periode 24 jam sampai satu
minggu bayi lahir. Pada fase ini memastikan involusi uteri dalam
keadaan normal tidak ada perdarahan, lokea tidak berbau busuk,
tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, dan ibu
dapat menyusui dengan baik.
37
c. Periode Late Post Partum
Periode late post partum adalaah masa satu minggu sampai
lima minggu post partum. Pada periode ini tetap dilakukan
perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling KB.
c. Perubahan Fisiologis
Menurut Wahyuningsih (2018), perubahan fisiologis pada ibu
post partum yaitu :
1) Sistem Reproduksi dan Struktur Terkait
a) Uterus
Setelah plasenta lahir, uterus akan mulai mengeras
karena kontraksi dan retraksi otot-ototnya. Uterus berangsur-
angsur mengecil sampai keadaan sebelum hamil.
b) Lokhea
Lokhea merupakan kotoran yang keluar dari vagina yang
terdiri dari jaringan mati dan lender yang berasal dari rahim
dan vagina. Pada awal post partum, peluruhan jaringan desidua
menyebabkan pengeluaran rabas vagina dengan jumlah
bervariasi. Berikut beberapa jenis lokhea yaitu :
(1) Lokhea Rubra Berwarna merah karena berisi darah segar
dan sisa-sisa selaput ketuban, desidu, verniks kaseosa,
lanugo, meconium berlangsung 2 hari pasca post partum.
(2) Lokhea Sanguilenta Berwarna merah kuning berisi darah
dan lendir berlangsung 3-7 hari pasca post partum
38
(3) Lokhea Serosa Berwarna kuning karena mengandung
serum, jaringan desidua, leukosit dan eritrosit berlangsung
7- 14 hari pasca post partum
(4) Lokhea Alba Berwarna putih terdiri atas leukosit dan sel-
sel desidua berlangsung 14 hari-2 minggu berikutnya.
c) Endometrium
Perubahan terjadi dengan timbulnya thrombosis,
degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi plasenta. Bekas
implantasi plasenta karena kontraksi sehingga menonjol ke
kavum uteri, hari ke 1 endometrium tebal 2,5 mm,
endometrium akan rata setelah hari ke 3.
d) Serviks
Segera setelah melahirkan, serviks mendatar dan sedikit
tonus, tampak lunak dan edema serta mengalami banyak
laserasi kecil. Ukuran serviks dapat mencapai dua jari dan
ketebalannya sekitar 1 cm dalam waktu 24 jam, serviks dengan
cepat memendek dan menjadi lebih keras serta tebal. Mulut
serviks secara bertahap menutup, ukurannya 2 sampai 3 cm
setelah beberapa hari dan 1 cm dalam waktu 1 minggu.
Pemeriksaan kolposkopik serviks menunjukan adanya ulserasi,
laserasi, memar, dan area kuning dalam beberapa hari setelah
persalinan. Pemeriksaan ulang dalan 6-12 minggu kemudian
biasanya menunjukan penyembuhan yang sempurna.
39
e) Vagina
Setelah melahirkan vagina tetap terbuka lebar, mungkin
mengalami beberapa derajat edema dan memar, dan celah pada
introitus. Vagina secara berangsur-angsur luasnya berkurang
tetapi jarang sekali kembali seperti ukuran nullipara, hymen
tampak sebagai tonjolan jaringan yang kecil dan berubah
menjadi karunkula mitiformis. Sekitar minggu ketiga post
partum, ukuran vagina menurun kembali dengan kembalinya
rugae vagina.
f) Perineum
Perineum merupakan daerah vulva dan anus. Setelah
melahirkan perineum sedikit bengkak dan terdapat luka jahitan
bekas robekan atau episitomy, yaitu sayatan untuk memperluas
pengeluaran bayi. Proses penyembuhannya biasanya selama 2-
3 minggu post partum
g) Payudara
Pada saat masa nifas terjadi pembesaran payudara karena
pengaruh peningkatan hormon estrogen, untuk mempersiapkan
produksi ASI dan laktasi. Ukuran payudara menjadi besar bisa
mencapai 800 gr, keras dan menghitam pada areola mammae
di sekitar puting susu ini menandakan dimulainya proses
menyusui. Segera menyusui bayi segerai setelah melahirkan
melalui proses inisial menyusui dini (IMD), walaupun ASI
40
belum keluar lancar, namun sudah ada pengeluaran kolostrum.
Proses IMD ini dapat mencegah perdarahan dan merangsang
produksi ASI. Pada hari ke 2-3 post partum sudah mulai
diproduksi ASI matur yaitu ASI berwarna. Pada semua ibu
yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami.
Fisiologi menyusui mempunyai dua mekanisme yaitu :
produksi ASI dan sekresi ASI atau let down reflex. Selama
kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan
fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru lahir
(Wahyuningsih E. D., 2018).
2) Sistem Endokrin
Menurut Wahyuningsih (2018), sistem endokrin terdiri dari :
a) Oksitosin
Hormon yang berperan dalam kontraksi uterus mencegah
perdarahan, isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan
sekresi oksitosin sehingga membantu uterus kembali ke bentuk
semula.
b) Prolaktin
Menurunnya kadar estrogen menimbulkan
terangsangnya kelenjar pituitary bagian belakang untuk
mengeluarkan prolaktin untuk memproduksi ASI. Pada ibu
yang tidak menyusui bayinya dalam 14-21 hari setelah
persalinan sehingga merangsang kelenjar bawah otak yang
41
mengontrol ovarium kearah permulaan produksi estrogen dan
progesterone yang normal, pertumbuhan folikel, ovulasi dan
menstruasi.
c) Estrogen dan Progesteron
Selama kehamilan, volume darah normal meningkat
yang diperkirakan akibat tingginya tingkat estrogen sehingga
hormon antidiuretik meningkat volume darah. Hormon
progesterone mempengaruhi otot halus yang mengurangi
3) Tanda Vital Post Partum
Menurut Hakim (2020), perubahan tanda-tanda vital ibu
post partum yaitu :
a) Suhu
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 celcius.
Sesudah partus dapat naik kurang 0,5℃ dari keadaan normal,
namun tidak akan melebihi 8℃. Sesudah 2 jam pertama
melahirkan umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila
suhu lebih dari 38℃, kemungkinan terjadi infeksi pada pasien.
b) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali
permenit. Setelah partus, denyut nadi dapat menjadi bradikardi
maupun lebih cepat. Denyut nadi yang melebihi 100 permenit,
harus waspada karena bisa terjadi infeksi atau perdarahan post
partum
42
c) Tekanan Darah
Tekanan darah pasca melahirkan pada kasus normal itu
tekanan darah tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi
lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh
perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada ibu post
partum itu merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post
partum. Tetapi hal tersebut jarang terjadi.
d) Pernafasan
Pada ibu post partum umumnya pernafasannya lambat
atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam keadaan pemulihan
atau dalam kondisi istirahat. Keadaan bernafas selalu
terhubung dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Respirasi
pada ibu post partum biasanya yaitu 16-24 kali permenit.
d. Perubahan Psikologis
Menurut Sulistyawati (2019), dalam perubahan psikologis
pada ibu post partum akan mengalami 3 fase, yaitu :
1) Fase Taking In
Gangguan psikologi yang dialami oleh ibu pada fase ini
adalah:
a) Rasa tidak nyaman karena perubahan fisik
b) Kekecewaan pada bayinya
c) Merasa tidak bersalah karena belum bisa menyusui bayinya
d) Kritikan suami atau keluarga tentang perawatan bayinya
43
2) Fase Taking Hold
a) Periode ini berlangsung pada hari ke 2-4 post partum
b) Ibu memperhatikan kemampuan menjadi orang tua dan
meningkatkan tanggung jawab terhadap bayi
c) Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya
d) Ibu berusaha untuk menguasai tentang perawatan bayinya
e) Pada masa ini, ibu biasanya agak sensitive dan merasa tidak
mahir dalam melakukan hal-hal tersebut
3) Fase Letting Go
a) Terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan sangat berpengruh
terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga.
b) Ibu mengambil tanggung jawab pada perawatan bayi, ibu harus
beradaptasi dengan kebutuhan bayi yang menyebabkan
kebebasan dan berhubungan sosial berkurang.
c) Fase ini berlangsung selama 10 hari setelah melahirkan
e. Penatalaksanaan
Menurut Septiani & Sartika (2023), penatalaksanaan pada ibu
post partum yaitu :
1) Observasi pada 2 jam setelah persalinan (untuk mengetahui adanya
komplikasi perdarahan)
2) Pada jam 6-8 jam setelah persalinan : istirahat dan tidur tenang,
usahakan miring kanan, miring kiri
44
3) Hari ke 1-2 : Memberikan pendidikan kesehatan mengenai cara
menyusui yang benar serta perawatan payudara, perubahan-
perubahan yang terjadi saat masa nifas.
4) Hari ke 2 : Mulai latihan duduk
5) Hari ke 3 : Dilatih untuk berdiri dan berjalan
45
B. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah merupakan abstraksi yang terbentuk oleh
generalisasi dari hal-hal yang khusus. Sedangkan kerangka konsep penelitian
pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin di
amati atau di ukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmojo,
2018).
Variabel Independen Variabel Dependen
Message Payudara Kelancaran ASI Pada Ibu Post
Partum
Faktor-faktor yang mempengaruhi
kelancaran ASI pada ibu post
partum antara lain :
1. Faktor internal
a. Usia dan paritas
b. Bentuk dan kondisi putting
susu
c. Asupan nutrisi dan asupan
cairan
d. Kondisi psikologis ibu
e. Pengetahuan tentang teknik
menyusui
2. Faktor eksternal
a. Dukungan keluarga
b. Inisiasi menyusui dini
c. Frekuensi menyusui
d. Perawatan payudara
Keterangan :
: Variabel Yang Diteliti
: Variabel yang tidak diteliti
Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian
Sumber : (Modifikasi Lelo, 2021 dan Nugroho, 2021)
46
C. Hipotesis
Hipotesis adalah suatu pendapat atau kesimpulan yang belum final,
yang harus diuji kebenarannya (Notoatmodjo, 2018). Sedangkan menurut
Sugiyono (2018), hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang
masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ha : Ada pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI pada ibu post
partum di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.
H0 : Tidak ada pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI pada
ibu post partum di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.
47
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yaitu
penelitian yang dilakukan untuk mencari berbagai variabel dan menganalisis
setiap variabel yang menjadi objek penelitian. Penelitian ini juga digunakan
untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data
menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau
statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan
(Sugiyono, 2018).
Penelitian ini menggunakan rancangan praexperimental one group
pretest dan posttest design dalam satu kelompok, tidak ada kelompok kontrol,
peneliti memberikan perlakuan pada responden tetapi sebelumnya dilakukan
pengumpulan data dan pengamatan terhadap responden tersebut, dan kembali
dilakukan pengamatan dan pengumpulan data akhir setelah diberikan
perlakuan.
Adapun gambaran rancangan penelitian sebagai berikut :
Pre-test Perlakuan Post-test
O1 X O2
Keterangan :
O1 = Pre-test kelancaran ASI pada ibu post partum.
X = Perlakuan (message payudara)
O2 = Post-test kelancaran ASI pada ibu post partum.
45
48
B. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau
subyek yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya
(Sugiyono, 2018). Adapun populasi yang diambil dalam penelitian ini
adalah semua ibu post partum yang ada di Ruang Nifas Puskesmas
Kayangan dari bulan Desember 2024 sampai dengan Januari 2025
sebanyak 73 orang.
2. Sampel
Sampel penelitian adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi tersebut sampel yang diambil dari populasi tersebut
harus betul-betul representative (mewakili). Ukuran sampel merupakan
banyaknya sampel yang akan diambil dari suatu populasi (Sugiyono,
2018).
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua ibu post
partum yang ada di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan dari bulan
Desember 2024 sampai dengan Januari 2025 sebanyak 73 orang.
Kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini dibagi
menjadi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi sebagai berikut :
a. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi
oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel
49
(Notoadmodjo, 2018). Kriteria inklusi yang akan dijadikan sampel
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Ibu post partum yang ada di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.
2) Ibu post partum yang bersedia dijadikan sebagai responden
3) Ibu post partum yang bisa berkomunikasi dengan baik (tidak
terbata-bata)
4) Ibu post partum yang bisa membaca dan menulis
b. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak
dapat diambil sebagai sampel (Notoadmodjo, 2018). Kriteria eksklusi
dalam penelitian ini adalah :
d. Ibu post partum yang ada di luar Ruangan Nifas Puskesmas
Kayangan.
e. Ibu post partum yang tidak bersedia dijadikan sebagai
responden
f. Ibu post partum yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik
(tidak terbata-bata)
g. Ibu post partum yang tidak bisa membaca dan menulis
3. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah total sampling yaitu teknik pengambilan sampel dimana jumlah
populasi dijadikan sebagai sampel (Sugiyono, 2018).
50
C. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Kayangan.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Maret 2025.
D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
1. Variabel Penelitian
a. Variabel Independent
Variabel independent adalah variabel yang mempengaruhi atau
menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent
(Sugiyono, 2018). Variabel independent dalam penelitian ini yaitu :
message payudara.
b. Variabel Dependent
Variabel dependent adalah variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat karena adanya variabel independent (Sugiyono, 2018).
Variabel dependent dalam penelitian ini yaitu : kelancaran ASI pada
ibu post partum.
2. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah variabel penelitian dimaksudkan untuk
memahami arti setiap variabel penelitian sebelum dilakukan analisis
(Sugiyono, 2018).
51
Tabel 2.1 Definisi Operasional
Variabel Definisi Parameter/ Alat Ukur Hasil Skala
Operasional Indikator Ukur Data
Variabel
independent:
Message Praktik yang Cara melakukan message SOP - -
payudara melibatkan payudara meliputi:
penggunaan teknik 1. Tempelkan kapas
pijat atau tekanan yang sudah diberi
ringan pada minyak kelapa selama
payudara ibu post + 5 menit, kemudian
partum selama ± 15 puting susu
menit dibersihkan
2. Tempelkan kedua
telapak tangan
diantara kedua
payudara.
3. Pengurutan dimulai
kearah atas,
kesamping, telapak
tangan kiri kearah sisi
kiri, telapak tangan
kanan kearah sisi
kanan.
4. Pengurutan diteruskan
kebawah, selanjutnya
melintang, telapak
tangan mengurut
kedepan kemudian
dilepaskan dari
payudara, gunakan
diulangan 30 kali.
5. Telapak tangan kiri
menopang payudara
kiri dan jari-jari
tangan sisi kelingking
mengurut payudara
kearah putting susu,
gerakan diulang
sebanyak 30 kali
untuk tiap payudara.
6. Telapak tangan kiri
menopang payudara,
tangan kanan
menggenggam dan
mengurut payudara
dari pangkal menuju
keputing susu, gerakan
ini diulang sebanyak
30 kali untuk setiap
payudara.
7. Selesai pengurutan,
payudara disiram atau
dikompres dengan air
52
hangat dan dingin
bergantian selama ± 5
menit, kemudian
gunakan BH yang
bersih dan menopang
Variabel
Dependent:
Kelancaran Pengeluaran ASI Indikator kelancaran ASI Lembar 1. Lancar Nominal
ASI pada yang dikatakan pada ibu post partum observasi 2. Tidak Lancar
ibu post lancar bila produksi antara lain :
partum ASI berlebihan 1. Payudara tegang dan
yang ditandai penuh ASI
dengan ASI akan 2. Ibu rileks
menetes dan akan 3. Let down refleks baik
memancar deras 4. Frekuensi menyusui
saat dihisap bayi lebih dari 8 kali sehari
5. Ibu menggunakan
kedua payudara secara
bergantian
6. Posisi perlekatan
benar
7. Puting tidak lecet
8. Payudara kosong
setelah bayi menyusu
sampai kenyang
E. Instrumen Penelitian dan Metode Pengumpulan Data
1. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan
peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan
hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis
sehingga lebih mudah diolah. Variasi jenis instrumen penelitian adalah
angket, check-list, atau daftar centang, pedoman wawancara, pedoman
pengamatan (Sugiyono, 2018).
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai
kelancaran ASI pada ibu post partum baik sebelum dan setelah diberikan
message payudara adalah lembar observasi.
53
2. Metode Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini terdiri dari :
a. Data Primer
Data primer yaitu sumber data yang langsung memberikan data
kepada pengumpul data (Sugiyono, 2018). Data dikumpulkan sendiri
oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek
penelitian dilakukan. Peneliti menggunakan hasil wawancara yang
didapatkan dari informan mengenai topik penelitian sebagai data
primer. Data primer dalam penelitian ini terdiri dari :
1) Data kelancaran ASI pada ibu post partum sebelum diberikan
message payudara diperoleh dengan menggunakan alat bantu
lembar observasi.
2) Data kelancaran ASI pada ibu post partum setelah diberikan
message payudara diperoleh dengan menggunakan alat bantu
lembar observasi.
b. Data Sekunder
Data sekunder yaitu sumber data yang tidak langsung
memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain
atau lewat dokumen. Data sekunder dalam penelitian ini terdiri dari
data:
1) Data tentang jumlah ibu post partum diperoleh dari register
Puskesmas Kayangan.
54
2) Data tentang gambaran umum Puskesmas Kayangan diperoleh dari
buku profil.
F. Metode Pengolahan Data
Pengolahan data dalam penelitian ini terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1. Editing
Editing yaitu kegiatan mempersiapkan data yang sudah diperoleh
sebelum dilakukan pengolahan data lebih lanjut. Dimana peneliti harus
mengecek kembali kelengkapan data.
2. Coding
Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi
data berbentuk angka/ bilangan. Data mengenai kelancaran Asi pada ibu
post partum dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu:
a. Lancar Baik : diberi kode 2
b. Tidak Lancar : diberi kode 1
3. Tabulating
Tabulating merupakan kegiatan menggambarkan jawaban responden
dengan cara tertentu. Tabulasi juga dapat digunakan untuk menciptakan
statistik deskriptif variabel-variabel yang diteliti atau yang variabel yang
akan di tabulasi silang.
4. Entri
Entri data yaitu kegiatan memasukkan data ke dalam computer untuk
selanjutnya dapat dilakukan analisis data.
55
G. Analisis Data
Analisis data diartikan sebagai upaya data yang sudah tersedia
kemudian diolah dengan statistik dan dapat digunakan untuk menjawab
rumusan masalah dalam penelitian. Dengan demikian teknik analisis terhadap
data, dengan tujuan mengolah data tersebut untuk menjawab rumusan
masalah (Sugiyono, 2018).
1. Analisa Univariat
Analisa data dalam penelitian ini adalah analisis univariat yaitu
analisis yang digunakan untuk mendeskripsikan setiap variabel yang
diteliti, diagnosis asumsi statistik lanjut deteksi nilai ekstrim/outlier
(Amran, 2018).
Analisa univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil
penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan
distribusi dan persentase dari tiap variabel yaitu kelancaran ASI pada ibu
post partum baik sebelum dan setelah diberikan message payudara.
Analisis univariat dilakukan menggunakan rumus berikut : (Notoatmodjo,
2018)
X
P= x 100 %
N
Keterangan :
P : Presentase
X : Jumlah kejadian pada responden
N : Jumlah seluruh responden
56
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga
berhubungan atau berkorelasi. Adapun analisis bivariat dalam penelitian
ini meliputi satu variabel independen (message payudara) dan variabel
dependen (kelancaran ASI pada ibu post partum). Pada penelitian ini
menggunakan uji wilcoxon yaitu prosedur yang digunakan untuk meguji
beda rata-rata dari 2 kelompok yang berhubungan atau berpasangan.
Kesimpulan yang didapat yaitu apabila nilai kepercyaan 95% jika p-
value<0,05, maka terdapat pengaruh dari perlakuan tersebut dengan
kesimpulan Ho ditolak dan Ha diterima. Analisis ini yang digunakan untuk
mengetahui pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI pada ibu
post partum dengan pengambilan keputusan sebagai berikut:
a. Bila p value< α (0,05) berarti ada pengaruh message payudara terhadap
kelancaran ASI pada ibu post partum di Ruang Nifas Puskesmas
Kayangan.
b. Bila p value > α (0,05) berarti tidak ada pengaruh message payudara
terhadap kelancaran ASI pada ibu post partum di Ruang Nifas
Puskesmas Kayangan.
H. Etika Penelitian
Masalah etika penelitian merupakan masalah yang sangat penting dalam
penelitian, mengingat penelitian kebidanan berhubungan langsung dengan
manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan (Hidayat, 2020).
57
Ada beberapa etika yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu :
1. Lembar Persetujuan Responden (Informed Consent)
Lembar persetujuan akan diberikan kepada responden atau subjek
sebelum penelitian dilaksanakan dengan maksud supaya responden
mengetahui tujuan penelitian, jika subjek bersedia diteliti harus
menandatangani lembar persetujuan tersebut, tetapi jika tidak bersedia
maka `peneliti harus tetap menghormati hak responden (Notoadmodjo,
2018).
2. Tanpa Nama (Anonymity)
Peneliti tidak mencantumkan nama responden yang akan dijadikan
sebagai subyek penelitian untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek,
tetapi peneliti akan memberi tanda atau kode secara khusus (Notoadmodjo,
2018).
3. Kerahasiaan (Confidentiality)
Peneliti senantiasa akan menjaga kerahasiaan dari data yang
diperoleh, dan hanya akan disajikan kepada kelompok tertentu yang
berhubungan dengan penelitian, sehingga rahasia subyek penelitian benar-
benar terjamin. Metode penelitian merupakan suatu cara dalam melakukan
penelitian, metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur, alat,
serta desain penelitian yang digunakan (Notoadmodjo, 2018).
58
I. Alur Penelitian
Kepala Puskesmas
Surat Pengantar dari Bappeda Dinas
Kesehatan Kayangan
Kampus
Penelitian Populasi Pengambilan Data
dan Sampel Awal
Penyusunan Ujian Proposal Revisi Proposal
Proposal Penelitian Penelitian Penelitian
Gambar 3.1 Alur penelitian pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI
pada ibu post partum di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.
59
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, 2019. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Dinas Kesehatan Provinsi NTB, 2023. Jumlah Ibu Nifas. Mataram : NTB.
Deborah, 2020. Keperawatan. Komunitas. Jakarta: Yayasan Kita Menulis.
Efendi, 2019. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan. Praktek dalam
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Field, A. 2018. Discovering Statistics Using IBM SPSS Statistics.5th Edition.
London: SAGE Publications.
Notoatmodjo, 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam, 2020. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (4th ed). Jakarta :
Salemba Medika.
Nurhayati,2019. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Yogyakarta : CV. Andi
Offset.
SDKI, 2023. Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI). Jakarta : Kemenkes
RI.
Sugiyono, 2018. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT
Alfabet
Sujarweni, 2021. Statistika Untuk Penelitian. Yogyakarta: Graha Ilmu.