0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan59 halaman

Pengaruh Massage Payudara pada ASI Ibu Post Partum

Dokumen ini membahas tentang pentingnya massage payudara untuk meningkatkan kelancaran ASI pada ibu post partum, serta dampak dari ketidaklancaran ASI terhadap kesehatan ibu dan bayi. Data menunjukkan bahwa cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih rendah, dan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh massage payudara terhadap kelancaran ASI di Puskesmas Kayangan. Penelitian diharapkan dapat memberikan informasi dan meningkatkan pengetahuan tentang perawatan payudara bagi ibu post partum.

Diunggah oleh

anindya06089
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan59 halaman

Pengaruh Massage Payudara pada ASI Ibu Post Partum

Dokumen ini membahas tentang pentingnya massage payudara untuk meningkatkan kelancaran ASI pada ibu post partum, serta dampak dari ketidaklancaran ASI terhadap kesehatan ibu dan bayi. Data menunjukkan bahwa cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih rendah, dan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh massage payudara terhadap kelancaran ASI di Puskesmas Kayangan. Penelitian diharapkan dapat memberikan informasi dan meningkatkan pengetahuan tentang perawatan payudara bagi ibu post partum.

Diunggah oleh

anindya06089
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Post Partum adalah masa yang dimulai setelah lahirnya plasenta dan

berakhir ketika rahim kembali ke keadaan sebelum hamil, yang berlangsung

selama 6 minggu atau 42 hari. Selama masa pemulihan, ibu akan mengalami

banyak perubahan fisik dan psikis yang bersifat fisiologis dan menimbulkan

banyak ketidaknyamanan pada masa awal nifas. Sebagian besar perubahan

yang dialami ibu post partum merupakan perubahan yang fisiologis, salah

satunya adalah kelancaran ASI (Yuliana & Hakim, 2020).

Menurut data WHO, Cakupan ASI eksklusif di seluruh dunia hanya

sekitar 48% selama periode 2020-2024. Kecilnya angka cakupan pemberian

ASI dikarenakan masih banyak ibu post partum yang mengalami masalah

dengan kelancaran ASI yang disebabkan karena masih banyak ibu post partum

yang belum paham tentang manfaat perawatan payudara seperti message

payudara untuk kelancaran ASI (WHO, 2024).

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target cakupan ASI

diangka 80%. Hal ini menunjukkan perlunya dukungan yang lebih intensif

untuk meningkatkan pemberian ASI secara eksklusif dengan cara membantu

ibu post partum meningkatkan kelancaran ASI melalui message payudara.

Cakupan ASI eksklusif di Indonesia pada tahun 2022 adalah 67,96%. Angka

ini turun dari tahun 2021 yang sebesar 69,7% (Kemenkes RI, 2024).
2

Kemudian menurut Dinas Kesehatan Provinsi NTB tahun 2024,

kelancaran ASI pada ibu post partum menjadi salah satu indikator tercapainya

pemberian ASI secara eksklusif. Pada tahun 2024, cakupan pemberian ASI

eksklusif di Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 82,45%. Angka ini

menempatkan NTB sebagai provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif

tertinggi di Indonesia (Dinas Kesehatan Provinsi NTB).

Sedangkan dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur

menunjukkan bahwa pada tahun 2024 memiliki cakupan pemberian ASI

eksklusif sebanyak 22,181 bayi dengan persentase 81,4% dari 30,910 yang

berusia 0 – 6 bulan. Untuk meningkatkan persentase pemberian ASI pada ibu

post partum maka perlu dilakukan upaya non farmakologi seperti message

payudara untuk meningkatkan kelancaran ASI (Dikes Lombok Timur, 2024).

Masalah yang sering terjadi pada ibu post partum yaitu ketidaklancaran

produksi ASI yang menyebabkan ASI tidak keluar dan sering terjadi pada saat

pertama setelah kelahiran. Hal yang dapat mempengaruhi kelancaran produksi

dan pengeluaran ASI yaitu perawatan payudara, frekuensi menyusui, stress,

riwayat penyakit, faktor psikologis, dukungan suami dan keluarga, faktor

makanan ibu, faktor isapan bayi, konsumsi rokok atau alkohol. Kurangnya

rangsangan hormon oksitosin menyebakan terjadinya perubahan fisik dan

psikologis yang juga dapat mempengaruhi proses laktasi (Mardjun et al.,

2019).

ASI yang tidak lancar dapat menyebabkan peradangan di payudara dan

mengganggu kesehatan bayi. Dampak yang ditimbulkan pada bayi antara lain :
3

berat badan bayi sulit bertambah, pertumbuhan otak terhambat, pertumbuhan

jasmani terhambat, bayi menjadi lemah dan mudah sakit, kurangnya ikatan

emosional dengan ibu, rentan mengalami infeksi, berisiko tinggi mengalami

penyakit non infeksi dan gangguan kesehatan pencernaan sedangkan dampak

yang ditimbulkan pada ibu yaitu : demam, nyeri, bengkak, menggigil, serta

sensasi tidak nyaman lainnya, peradangan jaringan payudara yang disebut

mastitis tanpa infeksi, dan bila telah terinfeksi bakteri disebut mastitis

terinfeksi (Kemenkes RI, 2020)

Untuk menangani ASI yang tidak lancar, maka frekuensi menyusui pada

bayi perlu ditingkatkan lagi dan hindari stres berlebih. Selain itu, disarankan

untuk mengonsumsi makanan bergizi dan memenuhi kebutuhan cairan dengan

minum air. Pijatan lembut pada payudara juga dapat membantu merangsang

produksi dan memperlancar aliran ASI (Hartini, 2022).

Pada ibu post partum perawatan payudara merupakan tindakan yang

sangat penting untuk merawat payudara terutama untuk memperlancarkan

produksi pengeluaran ASI (air susu ibu). Air susu ibu (ASI) eksklusif adalah

asi yang diberikan kepada bayi dari bayi lahir sampai 6 bulan pertama tanpa

makanan tambahan (pisang, bubur, nasi, dan lainnya) cukup dengan ASI saja

(Kemenkes RI, 2021).

Ada beberapa dari ibu postpartum mengalami kesulitan dalam

memberikan ASI pada bayinya, baik ASI yang belum keluar maupun puting

yang kurang menonjol atau masuk ke dalam yang membuat bayi tidak mau

menghisap, Maka dari itu massage payudara sangat penting dilakukan yaitu
4

selama masa kehamilan (dari usia > 36 minggu) sampai postpartum

(menyusui). Hal ini karena payudara adalah salah satu penghasil ASI yang

merupakan makanan pokok bayi sehingga harus dilakukan segera mungkin

dimana tujuan perawatan payudara setelah melahirkan untuk memperlancar

produksi ASI dengan merangsang kelenjar-kelenjar air susu melalui massage

payudara (Rukiyah, 2020).

Massage dapat mengurangi kuatnya ketegangan pada otot payudara ibu,

sehingga dapat mendorong relaksasi dan meredakan rasa sakit saat proses

melahirkan. Sedangkan Massage payudara atau yang di sebut juga perawatan

payudara merupakan teknik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk

memperbanyak ASI agar Frekuensi menyusui ibu lebih sering (Ari

Sulistiyawati, 2019).

Produksi ASI yang kurang lancar bisa menyebabkan ibu akan

mengalami kesulitan terutama diawal selesainya kelahiran, keluhan yang

dialaminya yakni minimnya ASI yang diproduksi dihari pertama kelahiran

sehingga mengakibatkan mereka berhenti menyusui bahkan memilih

menggunakan susu formula. Selain itu menyusui tidak selamanya bisa berjalan

dengan normal tidak sedikit ibu akan mengeluh seperti adanya dampak bila

pengeluaran ASI tidak lancar yaitu seperti ibu mengalami kesakitan karena

payudara bengkak, mastitis dan bahkan abses pada payudara yang dapat

menyebabkan infeksi dan masalah lainnya (Ardi Lestari et al.,2022)

Kelancaran produksi ASI bagi ibu menyusui yang memberikan ASI

secara ekslusif pada bayinya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sedikitnya
5

jumlah ASI yang di produksi, kesehatan ibu, makanan, istirahat ibu,

kecemasan ibu. Kurangnya pengetahuan ibu tentang proses menyusui dan cara

merawat payudara untuk menghasilkan produksi ASI yang lebih banyak serta

merangsang otot-otot payudara diperlukan untuk memperbanyak ASI dengan

mengaktivasi kelenjar- kelenjarnya dengan cara melakukan massage payudara

atau mengkompres payudara dengan air hangat secara bergantian (Bahiyatun,

2019).

Dengan melakukan massage payudara dapat meningkatkan aliran ASI

pada ibu menyusui. Ibu menggunakan tangannya untuk menekan atau

melakukan massage payudara saat bayi tidak menghisap. Teknik ini berguna

khususnya pada bayi yang menghisap beberapa kali kemudian berhenti

mengisap sementara dalam waktu lama (Kemenkes RI, 2021).

Berdasarkan data di Puskesmas Kayangan jumlah ibu nifas diperoleh

sebanyak 72 orang ibu post partum dari bulan Desember 2024 sampai dengan

Januari 2025 dan yang mengalami masalah ASI sebanyak 25 orang ibu post

partum. Kemudian dari hasil wawancara terhadap 15 ibu post partum

diketahui bahwa 9 orang ibu post partum mengeluh ASI belum keluar dan

tidak lancar, sedangkan 6 ibu post partum lainnya produksi ASI dalam

keadaan normal. Ibu post partum yang memiliki keluhan ASI belum keluar

dan tidak lancar mengambil tindakan memberikan susu formula kepada

bayainya. Ibu post partum tersebut belum mengetahui mengenai penanganan

non farmakologis untuk meningkatkan produksi ASI yaitu salah satunya

dengan massage payudara (Puskesmas Kayangan, 2025).


6

Berdasarkan data di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

tentang pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI pada ibu post

partum di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis merumuskan masalah

dalam penelitian ini adalah : “Apakah ada pengaruh message payudara

terhadap kelancaran ASI pada ibu post partum di Ruang Nifas Puskesmas

Kayangan?".

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh message payudara terhadap kelancaran

ASI pada ibu post partum di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.

2. Tujuan khusus

a. Mengidentifikasi kelancaran ASI pada ibu post partum sebelum

diberikan message payudara di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.

b. Mengidentifikasi kelancaran ASI pada ibu post partum setelah

diberikan message payudara di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan

c. Menganalisis pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI

pada ibu post partum di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai tambahan

informasi dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan menambah


7

wawasan ibu post partum tentang pengaruh message payudara terhadap

kelancaran ASI pada ibu post partum. Selain itu, diharapkan penelitian ini

dapat dijadikan sebagai refrensi di perpustakaan Program Studi S1

Pendidikan Bidan dan Profesi Bidan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

(STIKES) Hamzar Lombok Timur.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Puskesmas Kayangan

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan

sebagai bahan pertimbangan bagi Puskesmas Kayangan dalam upaya

meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan ibu post partum

tentang kelancaran ASI dengan cara memberikan informasi melalui

bimbingan konseling dan penyuluhan.

b. Bagi Peneliti

Diharapkan dengan adanya penelitian dapat menambah

wawasan peneliti mengenai pengaruh message payudara terhadap

kelancaran ASI pada ibu post partum agar bisa diterapkan dalam

kehidupan sehari-hari.

c. Untuk Institusi Pendidikan

Diharapkan dengan adanya penelitian ini bisa dijadikan

sebagai bahan masukan dan referensi untuk mengembangkan ilmu

pengetahuan para mahasiswa khususnya mahasiswa Sekolah Tinggi

Ilmu Kesehatan (STIKES) Hamzar Lombok Timur.


8

d. Bagi Ibu Post Partum

Diharapkan dengan adanya penelitian dapat meningkatkan

pengetahuan dan menambah wawasan ibu post partum tentang

pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI pada ibu post

partum.

e. Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan dengan adanya hasil penelitian ini dapat dijadikan

sebagai literatur atau refrensi serta acuan dalam melakukan penelitian

lebih lanjut tentang pengaruh message payudara terhadap kelancaran

ASI pada ibu post partum.

E. Keaslian Penelitian

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Judul Metode
Peneliti Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan
Penelitian Penelitian
Tri Endah Pengaruh Pijat Penelitian Hasil penelitian Persamaannya Perbedaannya
Widi Lestari Oketani seperti ini menunjukkan yaitu terletak pada yaitu : variabel
(2024) Terhadap termasuk dalam bahwa dari hasil variabel dependent independent yang
Kelancaran ASI satu kelompok. analisis Wilcoxon tentang kelancaran diteliti berbeda.
Pada Ibu dua desain pra menunjukkan nilai ASI pada ibu post Peneliti meneliti
Postpartum dan pasca tes sig sebesar 0,004 < partum. Selain itu, tentang message
Sectio Caesarea untuk satu a (0,05), artinya metode penelitian payudara
Di RSUD kelompok aliran ASI pada ibu yang digunakan sedangkan
Cilacap postpartum caesar juga sama yaitu : penelitian
mengalami pra eksperimental terdahulu meneliti
perubahan dengan desain one tentang pijat
signifikan pada group pretest dan oksitosin. Selain
hari kedua dan posttes. Disamping itu, analisis data
ketiga setelah itu, teknik yang digunakan
dilakukan pijat pengambilan juga berbeda.
oketani pada salah sampel yang Peneliti
satu payudara digunakan juga menggunakan uji
selama sepuluh sama yaitu wilcoxon
hingga lima belas accidental sedangkan
menit sekali sehari sampling. penelitian
selama tiga hari terdahulu
menggunakan uji t-
test.
9

Tinneke Pengaruh Metode Hasil penelitian Persamaannya Perbedaannya


(2023) perawatan penelitian menunjukkan yaitu variabel yaitu : variabel
payudara dan adalah quasy bahwa ada dependent yang independent yang
pijat oksitosin experiment pre- pengaruh yang diteliti sama yaitu diteliti berbeda.
terhadap post test control signifikan tentang kelancaran Peneliti melakukan
kelancaran group design pengaruh antara ASI. Selain itu, penelitian tentang
produksi asi perawatan analisis data yang message payudara
pada ibu nifas payudara dan pijat digunakan juga sedangkan
di Rumah Sakit oksitosin terhadap sama yaitu uji penelitian
Kota Tomohon kelancaran wilcoxon. terdahulu tentang
Produksi ASI perawatan
dengan uji payudara dan pijat
Wilcoxon oksitosin. Selain
didapatkan hasil itu, metode
Z=-3,317 dengan penelitian yang
signifikan 0.001 < digunakan juga
= 0.05 berbeda. Peneliti
menggunakan pra
eksperimental
sedangkan
penelitian
terdahulu
menggunakan
quasi
eksperimental.
Disamping itu,
teknik pengambil
sampel yang
digunakan juga
berbeda. Peneliti
menggunakan
accidental
sampling
sedangkan
penelitian
terdahulu
menggunakan
purposive
sampling.
10

Ema Nur Pengaruh pijat Metode Hasil analisis uji Persamaannya Perbedaannya
Azizah laktasi terhadap penelitian yang Paired Samples T- yaitu variabel yaitu : variabel
(2023) kelancaran digunakan test menunjukkan dependent yang independent yang
pengeluaran asi adalah Pre- Sig.(2- tailed) diteliti sama yaitu diteliti berbeda.
pada ibu post Eksperiment 0.000 < α 0.05, tentang kelancaran Peneliti melakukan
partum di dengan desain sehingga terdapat ASI. Selain itu, penelitian tentang
Wilayah Kerja penelitian one pengaruh pijat metode penelitian message payudara
Puskesmas group pretest- laktasi terhadap yang digunakan sedangkan
Baqa Kota posttest kelancaran juga sama yaitu : penelitian
Samarinda pengeluaran ASI pra eksperimental terdahulu tentang
pada ibu dengandesain one laktasi. Selain itu,
postpartum di group pretest dan analisis data yang
wilayah kerja posttest. digunakan juga
puskesmas Baqa berbeda. Peneliti
kota Samarinda menggunakan uji
wilcoxon
sedangkan
penelitian
terdahulu
menggunakan uji t-
test. Kemudian
teknik pengambil
sampel yang
digunakan juga
berbeda. Peneliti
menggunakan
accidental
sampling
sedangkan
penelitian
terdahulu
menggunakan
purposive
sampling.

Siti Pengaruh Jenis penelitian Hasil penelitian Persamaannya Perbedaannya


Mukaramah perawatan ini adalah menunjukkan yaitu variabel yaitu : variabel
(2021) payudara “Quasy bahwa terdapat dependent yang independent yang
terhadap Eksperimental” perbedaan diteliti sama yaitu diteliti berbeda.
kelancaran dengan produksi ASI yang tentang kelancaran Peneliti melakukan
produksi asi rancangan “Non signifikan antara ASI. Selain itu, penelitian tentang
pada ibu randomized kelompok teknik pengambilan message payudara
postpartum di Control perlakuan dengan sampel yang sedangkan
Puskesmas Group, pretest- kelompok kontrol digunakan sama. penelitian
Kassi-Kassi, posttest Design dengan nilai t terdahulu tentang
Makassar hitung sebesar perawatan
10,512 lebih besar payudara. Selain
dari t tabel sebesar itu, metode
2,000 dan nilai ρ = penelitian dan
0,000 < 0,05 analisis data yang
digunakan juga
berbeda. Peneliti
menggunakan uji
wilcoxon
sedangkan
11

penelitian
terdahulu
menggunakan uji t-
test.

Kurnia Pengaruh pijat Metode Hasil penelitian Persamaannya Perbedaannya


(2022) oksitosin penelitian didapat nilai p yaitu variabel yaitu : variabel
terhadap menggunakan sebesar 0.000 dependent yang independent yang
kelancaran asi desain Pre yang artinya < diteliti sama yaitu diteliti berbeda.
tentang kelancaran Peneliti melakukan
pada ibu post Eksperimen (0,05) maka
ASI. Selain itu, penelitian tentang
partum dengan dinyatakan metode penelitian message payudara
primipara di rancangan adanya yang digunakan sedangkan
Moty Care penelitian one perubahan yang juga sama yaitu : penelitian
Baby, Kids & group pre-test signifikan pra eksperimental terdahulu tentang
Mom and post-test dimana dengandesain one pijat oksitosini.
Ciangsana kelancaran ASI group pretest dan Selain itu, analisis
Tahun 2022 meningkat posttest. data yang
setelah dilakukan digunakan juga
perlakuan pijat berbeda. Peneliti
menggunakan uji
wilcoxon
sedangkan
penelitian
terdahulu
menggunakan uji t-
test. Kemudian
teknik pengambil
sampel yang
digunakan juga
berbeda. Peneliti
menggunakan
accidental
sampling
sedangkan
penelitian
terdahulu
menggunakan
purposive
sampling.
12

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Konsep Dasar Message Payudara

a. Pengertian Message Payudara

Message payudara adalah praktik yang melibatkan penggunaan

teknik pijat atau tekanan ringan pada payudara. Praktik ini dapat

dilakukan dengan tangan kosong atau menggunakan alat bantu

tertentu, seperti roller atau bola pijat. Tujuan dari message payudara

bisa bervariasi tergantung pada konteksnya. Dalam konteks kebugaran

dan kesehatan, message payudara dapat dilakukan untuk meredakan

ketegangan otot di sekitar area payudara, meningkatkan sirkulasi

darah, dan merangsang kelenjar mamaria (Lelo, et, al, 2021).

Message payudara juga merupakan tindakan memijat atau

memberikan tekanan pada payudara dengan tangan atau alat tertentu.

Tujuannya bisa bermacam-macam, mulai dari meredakan ketegangan

otot, meningkatkan sirkulasi darah, merangsang produksi ASI (air susu

ibu) pada ibu menyusui, hingga memperbaiki bentuk atau ukuran

payudara. Message payudara juga dapat digunakan sebagai bagian dari

perawatan kesehatan payudara, seperti dalam deteksi dini kanker

payudara atau untuk mengurangi ketidaknyamanan seputar payudara

(Haryono dan Setianingsih, 2019).


13

Di samping itu, dalam konteks kesehatan reproduksi, message

payudara dapat digunakan untuk merangsang produksi air susu ibu

(ASI) pada ibu menyusui. Teknik message yang tepat dapat membantu

melancarkan aliran ASI dan mencegah penyumbatan saluran susu.

Selain itu, message payudara juga dapat dianggap sebagai bagian dari

perawatan payudara yang menyeluruh, karena dapat membantu dalam

mendeteksi dini perubahan atau benjolan yang mencurigakan yang

dapat menjadi tanda awal kanker payudara (Mufdlilah, 2020).

b. Tujuan Message Payudara

Menurut Wahyuni et al (2022), message payudara pasca

persalinan merupakan kelanjutan perawatan payudara semasa hamil,

mempunyai tujuan:

1) Merangsang Produksi ASI

Salah satu tujuan utama dari message payudara untuk ibu

nifas adalah merangsang produksi ASI. Message secara lembut

dapat membantu merangsang kelenjar mamaria untuk

meningkatkan produksi ASI.

2) Membantu Kelancaran Aliran ASI

Message payudara dapat membantu melancarkan aliran ASI,

membantu mengurangi risiko tersumbatnya saluran susu. Dengan

merangsang payudara dan memijat secara lembut, ibu nifas dapat

membantu mengurangi kemungkinan terjadinya penyumbatan

saluran susu yang dapat mengganggu aliran ASI.


14

3) Mengatasi Masalah Susu yang Tidak Lancar

Message payudara juga dapat membantu mengatasi masalah

susu yang tidak lancar atau pembengkakan payudara yang dapat

terjadi pada masa awal menyusui. Message yang tepat dapat

membantu mengurangi pembengkakan dan memudahkan aliran

ASI.

4) Meningkatkan Kenyamanan

Message payudara juga dapat membantu meningkatkan

kenyamanan ibu nifas. Dengan meredakan ketegangan atau rasa

tidak nyaman di sekitar payudara, message dapat membantu ibu

merasa lebih rileks dan nyaman selama proses menyusui. 5.

Mencegah Mastitis: Mastitis adalah infeksi pada payudara yang

umum terjadi pada ibu menyusui. Message payudara yang tepat

dapat membantu mencegah mastitis dengan membantu menjaga

aliran ASI dan mencegah penyumbatan saluran susu.

c. Cara Message Payudara

Menurut Kartini et al (2023), alat-alat yang digunakan untuk

message payudara antara lain : minyak kelapa/baby oil, handuk bersih

dua buah, baskom dua buah (satu di isi air hangat, satunya berisi air

dingin), kapas, bengkokdan waslap dua buah. Teknik

pengurutan/massage meliputi :

1) Tempelkan kapas yang sudah diberi minyak kelapa selama + 5

menit, kemudian puting susu dibersihkan


15

Gambar 2.1

2) Tempelkan kedua telapak tangan diantara kedua payudara.

Gambar 2.2

3) Pengurutan dimulai kearah atas, kesamping, telapak tangan kiri

kearah sisi kiri, telapak tangan kanan kearah sisi kanan.

Gambar 2.3

4) Pengurutan diteruskan kebawah, selanjutnya melintang, telapak

tangan mengurut kedepan kemudian dilepaskan dari payudara,

gunakan diulangan 30 kali.

Gambar 2.4
16

5) Telapak tangan kiri menopang payudara kiri dan jari-jari tangan

sisi kelingking mengurut payudara kearah putting susu, gerakan

diulang sebanyak 30 kali untuk tiap payudara.

Gambar 2.5

6) Telapak tangan kiri menopang payudara, tangan kanan

menggenggam dan mengurut payudara dari pangkal menuju

keputing susu, gerakan ini diulang sebanyak 30 kali untuk setiap

payudara.

Gambar 2.6

7) Selesai pengurutan, payudara disiram atau dikompres dengan air

hangat dan dingin bergantian selama ± 5 menit, kemudian gunakan

BH yang bersih dan menopang.

Gambar 2.7
17

2. Konsep Dasar ASI

a. Pengertian ASI

Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan

protein, laktosa dan garam – garam anorganik yang disekresi oleh

kelenjar mamae ibu sebagai makanan alamiah pertama dan utama

untuk anak (Rismauli, 2023).

ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan yang

terformulasikan secara unik di dalam tubuh ibu untuk menjamin

proses pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. Selain

menyediakan nutrisi lengkap untuk seorang anak, ASI juga

memberikan perlindungan pada anak atas infeksi dan penyakit lainnya.

ASI dalam jumlah yang cukup merupakan makanan terbaik bagi bayi

dan dapat memenuhi kebutuhan bayi sampai dengan 6 bulan pertama

(Lelo et al., 2021).

b. Jenis dan Kandungan Gizi ASI

Menurut Mufdlilah (2017), nutrisi yang terkandung di dalam

ASI cukup banyak dan bersifat spesifik pada tiap ibu. Komposisi ASI

dapat berubah dan berbeda dari waktu ke waktu disesuaikan dengan

kebutuhan bayi sesuai usianya. Berdasarkan waktunya, ASI dibedakan

menjadi tiga stadium, yaitu :

1) Kolostrum

Kolostrum merupakan cairan agak kental yang pertama kali

keluar berwarna kekuning-kuningan yang diproduksi dari hari ke-1


18

sampai hari ke-3 setelah kelahiran. Kolostrum mengandung protein

tinggi 8,5% sedikit karbohidrat 3,5%, lemak 2,5%, garam dan

mineral 0,4%, air 85,1%, dan vitamin larut lemak. Kandungan

protein kolostrum lebih tinggi, sedangkan kandungan laktosanya

lebih rendah dibandingkan ASI matang. Selain itu, kolostrum juga

tinggi imunoglobulin A (IgA) sekretorik, laktoferin, leukosit, serta

faktor perkembangan seperti faktor pertumbuhan epidermal.

Kolostrum juga dapat berfungsi sebagai pencahar yang dapat

membersihkan saluran pencernaan bayi baru lahir. Jumlah

kolostrum yang diproduksi ibu hanya sekitar 7,4 sendok teh atau

36,23 mL per hari. Pada hari pertama bayi, kapasitas perut bayi ≈

5-7 mL (atau sebesar kelereng kecil), pada hari kedua ≈ 12-13 mL,

dan pada hari ketiga ≈ 22-27 mL (atau sebesar kelereng

besar/gundu). Karenanya, meskipun jumlah kolostrum sedikit

tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi baru lahir.

2) ASI transisi/peralihan

ASI transisi atau peralihan merupakan transisi dari

kolostrum ke ASI matur yang dihasilkan mulai hari ke-4 sampai

hari ke-10. Kandungan protein makin menurun, namun kandungan

lemak, laktosa, vitamin larut air, dan volume ASI akan makin

meningkat. Peningkatan volume ASI dipengaruhi oleh lamanya

menyusui yang kemudian akan digantikan oleh ASI matur.


19

3) ASI matur

ASI matur merupakan ASI yang disekresi dari hari ke-10

sampai seterusnya dan komposisinya relatif konstan. Dalam air

susu matur, terdapat anti mikrobakterial faktor, yaitu antibodi

terhadap bakteri dan virus. Volume air susu matur antara 300 –

850 ml/24 jam.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI

Menurut Haryono & Setianingsih, (2019), ketersediaan ASI

yang lancar pada ibu menyusui akan membantu kesuksesan pemberian

ASI Eksklusif selama 6 bulan, sehingga membantu bayi tumbuh dan

berkembang dengan baik. Kelancaran produksi ASI dipengaruhi oleh

banyak faktor yaitu :

1) Frekuensi Pemberian ASI

Frekuensi pemberian ASI direkomendasikan 8 kali perhari

pada periode awal setelah melahirkan. Semakin sering ibu

menyusui semakin banyak produksi ASI. Frekuensi menyusui

berkaitan dengan kemampuan stimulasi hormon dalam kelenjar

payudara.

2) Berat Bayi Saat Lahir

Berat bayi saat lahir berkaitan dengan kekuatan untuk

mengisap, frekuensi dan lamanya penyusuan yang kemudian akan

mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam

memproduksi ASI
20

3) Usia Kehamilan Saat Bayi Lahir

Bayi yang lahir prematur (umur kehamilan kurang dari 34

minggu) sangat lemah dan tidak mampu mengisap secara efektif

sehingga produksi ASI lebih rendah daripada bayi yang lahir tidak

prematur. Lemahnya kemampuan mengisap pada bayi prematur

disebabkan berat badan yang rendah dan belum sempurnanya

fungsi organ

4) Usia Ibu Dan Paritas

Ibu yang melahirkan bayi lebih dari satu kali, produksi ASI

pada hari keempat setelah melahirkan lebih tinggi dibanding ibu

yang melahirkan pertama kali

5) Stres Dan Penyakit Akut

Pengeluaran ASI akan berlangsung baik apabila ibu merasa

rileks dan nyaman. Keadaan ibu yang cemas dan stres akan

mengganggu proses laktasi karena produksi ASI terhambat.

Penyakit infeksi kronik dan akut dapat mempengaruhi produksi

ASI

6) Inisiasi Menyusu Dini

Inisiasi menyusu dini adalah proses untuk memberikan ASI

segera setelah bayi dilahirkan yang biasanya dilakukan dalam

kurun waktu 30 menit sampai 1 jam pascapersalinan. Inisiasi

menyusui dini tidak hanya memudahkan proses pemberian ASI,

tapi juga menjadi momen ‘perkenalan’ yang dapat memperkuat


21

ikatan antara Anda dan bayi, karena saat melakukan proses

tersebut, ada sentuhan langsung antara Anda dan bayi (skin to skin

contact).

7) Konsumsi Rokok

Merokok akan menstimulasi pelepasan adrenalin sehingga

menghambat pelepasan oksitosin. Dengan demikian volume ASI

akan berkurang karena kerja hormon prolaktin dan hormon

oksitosin terganggu

8) Konsumsi Alkohol

Meskipun minuman alkohol dosis rendah disatu sisi dapat

membuat ibu rileks sehingga membantu pengeluaran ASI namun

disisi lain etanol dapat menghambat produksi oksitosin

9) Perawatan Payudara

Perawatan payudara dapat dimulai ketika kehamilan masuk

7-8 bulan. Payudara yang terawat baik akan mempengaruhi

produksi ASI lebih banyak sehingga cukup untuk memenuhi

kebutuhan bayi. Perawatan payudara yang baik juga akan

membuat putting tidak mudah lecet ketika diisap bayi. Pada masa

enam minggu terakhir masa kehamilan perlu dilakukan pengurutan

payudara. Pengurutan payudara akan menghambat terjadinya

penyumbatan pada duktus laktiferus sehingga ASI akan keluar

dengan lancar
22

10) Penggunaan Kontrasepsi

Pil kontrasepsi kombinasi estrogen dan progestin apabila

dikonsumsi oleh ibu menyusui akan menurunkan volume dan

durasi ASI, namun apabila pil kontrasepsi hanya mengandung

progestin saja makan tidak akan mengganggu volume ASI

11) Makanan Ibu

Pemberian gizi pada ibu hamil dengan baik dan seimbang

dengan mengonsumsi nutrisi lengkap dengan cukup kalori dan

cukup air. Makanan yang dikonsumsi ibu menyusui sangat

berpengaruh terhadap produksi ASI. Apabila makanan yang ibu

makan cukup akan gizi dan pola makan yang teratur, maka

produksi ASI akan lancar. Dalam tubuh terdapat berbagai

cadangan zat gizi yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu

diperlukan. Akan tetapi jika makanan ibu terus-menerus tidak

mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya

kelenjar-kelenjar pembuat susu dalam payudara ibu tidak akan

dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh

terhadap produksi ASI.

Ibu mengonsumsi makanan yang bergizi khususnya yang

dapat meningkatkan produksi ASI seperti daun katuk, sayur

pepaya, jantung pisang dan yang lainnya yang mengandung

Laktagogum. Laktagogum memiliki peran dalam meningkatkan


23

produksi ASI pada ibu menyusui yaitu membantu dalam

peningkatan hormon prolaktin dan oksitosin.

3. Konsep Dasar Kelancaran ASI

a. Kelancaran ASI

Kelancaran ASI merupakan pengeluaran ASI yang dikatakan

lancar bila produksi ASI berlebihan yang ditandai dengan ASI akan

menetes dan akan memancar deras saat dihisap bayi. Air Susu Ibu

(ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan

garam-garam anorganik yang disekresikan oleh kelenjar mamae ibu,

dan berguna sebagai makanan bayi (Marmi, 2019).

b. Faktor Yang Mempengaruhi Kelancaran ASI

Pada dasarnya, kebutuhan bayi terhadap ASI dan Produksi ASI

sangat bervariasi. Oleh karena itu, ibu sulit memprediksi tercukupinya

kebutuhan ASI pada bayi. Terkait hal ini, ibu perlu memperhatikan

tanda-tanda kelaparan atau kepuasan yang ditunjukkan oleh bayi, serta

pertambahan berat badan bayi sebagai indikator kecukupan bayi

terhadap ASI (Prasetyono, 20179).

Menurut Nugroho (20211), faktor-faktor yang mempengaruhi

kelancaran ASI adalah:

1) Faktor internal

a) Usia dan Paritas

Umur ibu yang lebih muda atau umurnya kurang dari 35

tahun lebih banyak memproduksi ASI daripada ibu yang lebih


24

tua sedangkan ibu yang berumur 19-23 tahun pada umumnya

dapat menghasilkan cukup ASI dibandingkan yang berumur

tiga puluhan. Ibu yang melahirkan anak kedua dan seterusnya

memiliki produksi ASI lebih banyak dibandingkan dengan

kelahiran anak pertama. Ibu multipara menunjukkan produksi

ASI yang lebih banyak dibandingkan dengan primipara pada

hari keempat pos partum.

b) Bentuk dan kondisi puting susu

Kelainan bentuk puting seperti puting yang datar dan

masuk akan membuat bayi kesulitan untuk menyusui sehingga

menghambat produksi ASL Puting susu lecet juga akan

mempengaruhi pemberian ASI kepada bayi, karena para ibu

akan menghentikan menyusui karena putingnya lecet.

c) Asupan Nutrisi dan Asupan Cairan

Jumlah dan kualitas ASI dipengaruhi oleh nutrisi dan

masukan cairan pada ibu. Ibu menyusui membutuhkan

karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Jumlah kalori

yang dibutuhkan ibu menyusui pada enam bulan pertama yaitu

+ 700 kalori per hari. Sedangkan cairan yang dibutuhkan ibu

sebanyak 8-12 gelas per hari. ketika menyusui, Salah satu

nutrisi yang dibutuhkan adalah protein kebutuhan protein yang

diperlukan ibu menyusui sebanyak 76-80 gram per hari.


25

Nutrisi ini merupakan makronutrien penting untuk diet

sehat bagi ibu menyusui. mengonsumsi protein dalam jumlah

yang cukup dapat memberikan nutrisi yang optimal untuk

menjaga jaringan tubuh, memastikan suplai ASI, serta

menyediakan protein untuk jaringan tubuh bayi yang sedang

tumbuh. Selama menyusui, tubuh menggunakan protein untuk

memproduksi ASI dan menopang pertumbuhan bayi. Nutrisi

ini membantu bayi menumbuhkan sel-sel baru di organ, otot,

dan otaknya. Terdapat dua jenis protein yaitu protein hewani

dan nabati. Protein hewani bisa diperoleh dari daging, ikan,

dan telur. Sedangkan, protein nabati bisa diperoleh dari

kacang-kacangan.

d) Kondisi Psikologis Ibu

Kondisi psikologisi ibu berpengaruh terhadap kelancaran

ASI, Kondisi kecemasan ibu dengan post seksio sesarea lebih

tinggi ibandingan ibu dengan melahirkan normal. Hal itu

dikarenakan ibu post seksio sesarea mengalami masa

pemulihan yang lebih lama sehinga ibu akan merasa kesusahan

dalam mengurus bayinya. Kondisi tersebut dapat memicu

pelepasan adrenalin yang menyebabkan vasokontriksi di dalam

darah. Akibatnya, terjadi hambatan let down refleks sehingga

air susu tidak mengalir dan dapat memicu terjadinya

bendungan ASI. Keinginan dan motivasi yang kuat untuk


26

menyusui bayinya merupakan faktor utama dalam kesuksesan

pemberian ASI Eksklusif. Motivasi yang kuat akan membuat

ibu selalu bersemangat dalam memberikan ASI sehingga

rangasangan pada payudara akan mempengaruhi pengeluaran

let down refleks dan aliran ASI lancar.

e) Pengetahuan Teknik Menyusui

Teknik menyusui adalah suatu cara pemberian ASI yang

dilakukan oleh seorang ibu kepada bayinya, demi mencukupi

kebutuhan nutrisi bayi tersebut. Ada beberapa macam posisi

menyusui. Posisi yang tergolong dilakukan adalah dengan

duduk atau berbaring. Bila duduk, lebih baik menggunakan

kursi yang rendah agar kaki ibu tidak tergantung dan punggung

ibu dapat bersandar pada sandaran kursi (Astuti S, 2021).

Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat

menyebabkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar

optimal, sehingga mempengaruhi kelancaran produksi ASI

selanjutnya, atau bayi enggan menyusu. Oleh karena itu,

langkah menyusui yang benar yaitu (Astuti S, 2021):

a) Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir.

b) Perah sedikit ASI dan oleskan ke puting dan areola

sekitarnya. Manfaatnya adalah sebagai desinfektan dan

menjaga kelembaban puting susu.

c) Ibu duduk dengan santai kaki tidak boleh menggantung.


27

d) Posisikan bayi dengan benar, ialah :

(1) Bayi dipegang dengan satu lengan. Kepala bayi

diletakkan dekat lengkungan siku ibu, bokong bayi

ditahan dengan telapak tangan ibu.

(2) Perut bayi menempel ke tubuh ibu.

(3) Mulut bayi berada di depan puting ibu.

(4) Lengan yang di bawah merangkul tubuh ibu, jangan

berada di antara tubuh ibu dan bayi. Tangan yang di

atas boleh dipegang ibu atau diletakkan di atas dada

ibu.

(5) Telinga dan lengan yang di atas berada dalam satu garis

lurus.

(6) Bibir bayi dirangsang dengan puting ibu dan akan

membuka lebar, kemudian dengan cepat kepala bayi

didekatkan ke payudara ibu dan putting serta areola

dimasukkan ke dalam mulut bayi.

e) Cek apakah perlekatan sudah benar, ialah :

(1) Dagu menempel ke payudara ibu.

(2) Mulut terbuka lebar.

(3) Sebagian besar areola terutama yang berada di bawah,

masuk ke dalam mulut bayi.

(4) Bibir bayi terlipat keluar.


28

(5) Pipi bayi tidak boleh kempot (karena tidak menghisap,

tetapi memerah ASI).

(6) Tidak boleh terdengar bunyi decak, hanya boleh

terdengar bunyi menelan.

(7) Ibu tidak kesakitan

(8) Puting tidak terasa nyeri.

(9) Bayi tenang.

f) Melepas isapan bayi

Menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong,

sebaiknya ganti menyusui pada payudara yang lain. Cara

melepas isapan bayi yaitu dengan jari kelingking

dimasukan kemulut bayi melalui sudut mulut atau dagu

bayi ditekan kebawah.

g) Menyendawakan bayi

Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan

udara dari lam bung supaya bayi tidak muntah (gumoh)

setelah menyusu. Cara menyendawakan bayi yaitu sebagai

berikut : bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu

ibu, kemudian punggungnya ditepuk perlahan atau dengan

bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu, kemudian

punggungnya ditepuk perlahan. Gerakan dilakukan secara

lembut dan tekanan juga diberikan secara lembut pada

bagian perut bayi.


29

2) Faktor eksternal

a) Dukungan Keluarga

Dukungan dari keluarga termasuk suami, orang tua atau

saudara lainnya sangat menentukan keberhasilan menyusui.

Kerena pengaruh keluarga berdampak pada kondisi emosi ibu

sehingga secara tidak langsung mempengaruhi kelancaran

produksi ASI. Pengaliran ASI dikendalikan oleh hormon

oksitosin atau disebut juga hormon cinta, jika seorang ibu

kurang mendapatkan dukungan dari keluarganya perasaan

sedih, cemas, dan khawatir yang timbul dapat mengurangi

hormon oksitosin hal inilah yang menyebabkan ASI menjadi

tidak lancar. Seorang ibu yang mendapatkan dukungan dari

suami dan anggota keluarga lainnya akan meningkatkan

pemberian ASI pada bayinya. Sebaliknya dukungan yang

kurang maka pemberian ASI menurun. Berikut ini merupakan

beberapa peran yang bisa dilakukan keluarga atau suami untuk

mendukung sukses menyusui :

(1) Sedapat mungkin selalu berada disamping ibu dan menjadi

orang pertama yang memberikan dorongan ketika ibu

sedang dalam proses persalinan, pasca persalinan, maupun

saat menyusui.
30

(2) Menemani saat ibu menyusui, atau memompa ASI saat

tengah malam, atau memberikan ASI saat bayi terjaga dan

membiarkan ibu tetap tidur/istirahat.

(3) Memberi dukungan pada ibu untuk memberikan ASI

Eksklusif pada bayi. ASI merupakan makanan terbaik bagi

bayi. ASI mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk

pertumbuhan bayi.

(4) Memanjakan ibu. Jika ibu menyusui bahagia, maka ASI

akan lancar. Memanjakan ibu dapat dilakukan dengan cara

yang paling sederhana seperti memijatnya, membelikan

makanannya, atau dengan membelikan barang- barang

kesenangannya.

(5) Keluarga memberikan kontribusi yang besar terhadap

keinginan ibu untuk menyusui bayi selain memberikan

pengaruh yang kuat untuk pengambilan keputusan untuk

tetap menyusui.

Ada beberapa bagian yang terdapat dalam Dukungan

Keluarga yaitu :

(1) Dukungan informasional

Pemberian informasi terkait dengan hal yang di

butuhkan individu. Sebagai manusia sosial, manusia tidak

bsa menghindar dari berhubungan dengan orang lain.

Dalam berhubungan dengan orang lain, manusia mengikuti


31

sistem komunikasi dan informasi mencakup pemberian

nasihat, saran serta umpan balik mengenai keadaan

individu. Jenis informasi yang dapat di berikan seperti

menolong individu untuk untuk mengenali dan mengatasi

masalah yang sedang di hadapi. Contohnya adalah keluarga

memberikan informasi kepada ibu mengenai pentingnya

memberikan ASI kepada bayi dan keluarga mencari

informasi dari luar seperti dari buku, majalah, iklan,

internet, dan lainnya tentang cara memperbanyak ASI agar

tetap lancar.

(2) Dukungan Penghargaan

Bertindak sebagai penengah dalam pemecahan

masalah dan juga sebagai fasilitator dalam pemecahan

masalah yang sedang di hadapi. Dukungan dan perhatian

dari keluarga merupakan bentuk penghargaan positif yang

di berikan kepada individu. Contohnya adalah keluarga

memberikan tanggapan postif ketika ibu memberikan ASI

dan keluarga memotivasi ibu untuk tetap memberikan ASI.

(3) Dukungan instrumental

Merupakan bentuk dukungan langsung dan nyata.

Dukungan yang di berikan dapat berupa penyediaan materi

yang dapat memberikan pertolongan langsung. Dukungan

ini dapat membantu individu mengurangi tekanan karena


32

dapat langsung di gunakan untuk memecahkan masalah

yang berhubungan dengan materi. Contohnya adalah

keluarga menyediakan makanan yang bergizi untuk

kelancaran ASI ibu, keluarga membantu ibu apabila

memerlukan sesuatu saat ibu menyusui seperti

mengambikan pakaian bayi dan mengambilkan ibu minum

serta keluarga membantu ibu dalam mengerjakan tugas

rumah.

(4) Dukungan emosional

Dukungan yang dapat di berikan seperti ekspresi

empati dan perhatian terhadap individu. Dukungan tersebut

dapat memberikan rasa aman, dan di cintai agar agar

individu dapat menghadapi masalah dengan baik.

Dukungan ini sangat penting di berikan pada individu

dalam menghadapi keadaan yangdi anggap tidak dapat di

kontrol. Sumber terdekat dukungan emosional adalah

keluarga. Contohnya adalah keluarga memperlakukan ibu

dengan nyaman saat ibu menyusui serta memberikan penuh

perhatian kepada ibu.

b) Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Inisiasi menyusu dini mempunyai arti permulaan kegiatan

menyusu dalam satu jam pertama setelah bayi lahir. Bayi

menyusu pada ibunya, kontak kulit- ke-kulit dengan diletakkan


33

di atas perut ibu atau dada ibu, bukan disusui ibunya ketika

bayi baru saja lahir, yang dapat diartikan juga sebagai cara bayi

menyusu satu jam pertama setelah lahir dengan usaha sendiri

(bayi mencari sendiri puting susu ibunya) bukan disusui. Cara

bayi melakukan inisiasi menyusu dini ini dinamakan “the

breast crawl” atau merangkak mencari payudara (kemampuan

alami yang ajaib) (Astuti S, 2021).

Teori yang menyatakan bahwa inisiasi menyusui dini

dapat memengaruhi kelancaran pengeluaran ASI, yaitu

menurut buku Monika tahun 2019, yang berjudul “Buku Pintar

ASI dan Menyusui”, menyatakan bahwa didalam proses

pembentukan ASI terdapat hormon oksitosin. Hormon

oksitosin diproduksi di hipotalamus dan disimpan di kelenjar

pituitary belakang di otak. Saat bayi menghisap di puting susu

ibu, rangsangan tersebut dikirim ke otak sehingga hormon

oksitosin dikeluarkan dan mengalir ke dalam darah, kemudian

masuk ke payudara menyebabkan otot-otot di sekitar alveoli

berkontraksi dan membuat ASI mengalir di saluran ASI.

Hormon oksitosin juga membuat saluran ASI lebih lebar

sehingga merangsang ASI mengalir lebihmudah (Monica F,

2019).

Inisiasi Menyusu Dini yang telah memiliki banyak

manfaat, salah satunya kelangsungan pemberian ASI untuk


34

tumbuh kembang anak, dan upaya untuk memperlancar

keluarnya ASI. Agar proses menyusui berhasil maka harus

dilatih dan membutuhkan perlekatan alami antara bayi dengan

ibunya (Maryunani, 2021)

c) Frekuensi Menyusui

Rentang yang optimal adalah antara 8 hingga 12 kali

setiap hari. Meskipun mudah untuk membagi 24 jam menjadi 8

hingga 12 kali menyusui dan menghasilkan perkiraan jadwal,

cara ini bukan merupakan cara makan sebagian besar bayi.

Banyak baik. dalam rentang beberapa jam menyusu sebagai

respon isyarat bayi dan berhenti menyusui bila bayi tampak

kenyang (isyarat kenyang meliputi relaksasi seluruh tubuh,

tidur saat menyusu dan melepaskan putting (Nina, Siti 2020).

Pada bayi menyusu lebih sering, rata-rata adalah 10-12

kali menyusu tiap 24 jam atau bahkan 18 kali. Bayi yang sehat

dapat mengosongkan satu payudara sekitar lima sampai tujuh

menit, sedangkan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam

waktu dua jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang

teratur dalam meyusui dan akan mempunyai pola tertentu

setelah 1-2 minggu kemudian (Reni Yuli, 2020).

Sehingga semakin sering bayi menyusu ASI, rata-rata 12-

15 kali dalam 24 jam dan semakin lama waktunya, maka akan

semakin banyak produksi ASI dan pengeluaranASI berjalan


35

dengan lancar. Jika seorang ibu memilki kepercayaan diri yang

tinggi, dia akan berusaha untuk menyusukan payudaranya

sedini mungkin, sesering mungkin dan selama mungkin pada

bayinya sehingga produksi ASInya berlimpah dan

pengeluarannya lancar. Sebaliknya jika ibu memiliki presepsi

bahwa ASInya tidak banyak atau tidak cukup, maka ASI yang

keluar juga sedikit (Dwi Sartika, 2019).

d) Perawatan Payudara

Perawatan payudara yang dilakukan selama kehamilan

bertujuan agar pada produksi ASI pada proses menyusui

tercukupi. Perawatan payudara meliputi: pemakaian bra yang

tepat, latihan otot-otot yang menopang payudara dan hygiene

payudara. Breat care dapat membuat ibu lebih nyaman akan

payudaranya dan siap untuk menyusui bayinya.

4. Konsep Dasar Post Partum

a. Pengertian Post Partum

Post partum merupakan masa pemulihan dari 9 bulan kehamilan,

masa diawali setelah ari-ari keluar dan plasenta lahir hingga

kembalinya organ-organ reproduksi ke dalam keadaan normal atau

sebelum hamil. Masa nifas atau disebut juga puerperium berlangsung

sejak satu jam setelah kelahiran plasenta sampai 6 minggu (40) hari

dan masa pembersihan rahim, sama halnya seperti masa haid

(Vijayanti, 2022).
36

Masa setelah melahirkan merupakan tahap khusus dalam

kehidupan ibu dan bayi, untuk ibu yang pertama kali melahirkan,

terdapat adanya perubahan yang sangat berarti dalam hidupnya,

ditandai dengan pergantian emosional, pergantian fisik secara drastis,

ikatan keluarga dan aturan yang baru, termasuk perubahan dari

seorang perempuan menjadi seorang ibu (Elyasari et al., 2023).

b. Periode Post Partum

Post partum terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu sebagai berikut :

(Elyasari et al., 2023)

a. Periode Immediate Post Partum

Masa Immediate post partum adalah masa setelah plasenta

lahir sampai 24 jam. Pada masa ini sering terjadi banyak masalah

seperti perdarahan atonia uteri. Oleh sebab itu, harus dilakukan

pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lokea, tekanan darah

dan suhu secara teratur.

b. Periode Early Post Partum

Periode early post partum adalah periode 24 jam sampai satu

minggu bayi lahir. Pada fase ini memastikan involusi uteri dalam

keadaan normal tidak ada perdarahan, lokea tidak berbau busuk,

tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, dan ibu

dapat menyusui dengan baik.


37

c. Periode Late Post Partum

Periode late post partum adalaah masa satu minggu sampai

lima minggu post partum. Pada periode ini tetap dilakukan

perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling KB.

c. Perubahan Fisiologis

Menurut Wahyuningsih (2018), perubahan fisiologis pada ibu

post partum yaitu :

1) Sistem Reproduksi dan Struktur Terkait

a) Uterus

Setelah plasenta lahir, uterus akan mulai mengeras

karena kontraksi dan retraksi otot-ototnya. Uterus berangsur-

angsur mengecil sampai keadaan sebelum hamil.

b) Lokhea

Lokhea merupakan kotoran yang keluar dari vagina yang

terdiri dari jaringan mati dan lender yang berasal dari rahim

dan vagina. Pada awal post partum, peluruhan jaringan desidua

menyebabkan pengeluaran rabas vagina dengan jumlah

bervariasi. Berikut beberapa jenis lokhea yaitu :

(1) Lokhea Rubra Berwarna merah karena berisi darah segar

dan sisa-sisa selaput ketuban, desidu, verniks kaseosa,

lanugo, meconium berlangsung 2 hari pasca post partum.

(2) Lokhea Sanguilenta Berwarna merah kuning berisi darah

dan lendir berlangsung 3-7 hari pasca post partum


38

(3) Lokhea Serosa Berwarna kuning karena mengandung

serum, jaringan desidua, leukosit dan eritrosit berlangsung

7- 14 hari pasca post partum

(4) Lokhea Alba Berwarna putih terdiri atas leukosit dan sel-

sel desidua berlangsung 14 hari-2 minggu berikutnya.

c) Endometrium

Perubahan terjadi dengan timbulnya thrombosis,

degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi plasenta. Bekas

implantasi plasenta karena kontraksi sehingga menonjol ke

kavum uteri, hari ke 1 endometrium tebal 2,5 mm,

endometrium akan rata setelah hari ke 3.

d) Serviks

Segera setelah melahirkan, serviks mendatar dan sedikit

tonus, tampak lunak dan edema serta mengalami banyak

laserasi kecil. Ukuran serviks dapat mencapai dua jari dan

ketebalannya sekitar 1 cm dalam waktu 24 jam, serviks dengan

cepat memendek dan menjadi lebih keras serta tebal. Mulut

serviks secara bertahap menutup, ukurannya 2 sampai 3 cm

setelah beberapa hari dan 1 cm dalam waktu 1 minggu.

Pemeriksaan kolposkopik serviks menunjukan adanya ulserasi,

laserasi, memar, dan area kuning dalam beberapa hari setelah

persalinan. Pemeriksaan ulang dalan 6-12 minggu kemudian

biasanya menunjukan penyembuhan yang sempurna.


39

e) Vagina

Setelah melahirkan vagina tetap terbuka lebar, mungkin

mengalami beberapa derajat edema dan memar, dan celah pada

introitus. Vagina secara berangsur-angsur luasnya berkurang

tetapi jarang sekali kembali seperti ukuran nullipara, hymen

tampak sebagai tonjolan jaringan yang kecil dan berubah

menjadi karunkula mitiformis. Sekitar minggu ketiga post

partum, ukuran vagina menurun kembali dengan kembalinya

rugae vagina.

f) Perineum

Perineum merupakan daerah vulva dan anus. Setelah

melahirkan perineum sedikit bengkak dan terdapat luka jahitan

bekas robekan atau episitomy, yaitu sayatan untuk memperluas

pengeluaran bayi. Proses penyembuhannya biasanya selama 2-

3 minggu post partum

g) Payudara

Pada saat masa nifas terjadi pembesaran payudara karena

pengaruh peningkatan hormon estrogen, untuk mempersiapkan

produksi ASI dan laktasi. Ukuran payudara menjadi besar bisa

mencapai 800 gr, keras dan menghitam pada areola mammae

di sekitar puting susu ini menandakan dimulainya proses

menyusui. Segera menyusui bayi segerai setelah melahirkan

melalui proses inisial menyusui dini (IMD), walaupun ASI


40

belum keluar lancar, namun sudah ada pengeluaran kolostrum.

Proses IMD ini dapat mencegah perdarahan dan merangsang

produksi ASI. Pada hari ke 2-3 post partum sudah mulai

diproduksi ASI matur yaitu ASI berwarna. Pada semua ibu

yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami.

Fisiologi menyusui mempunyai dua mekanisme yaitu :

produksi ASI dan sekresi ASI atau let down reflex. Selama

kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan

fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru lahir

(Wahyuningsih E. D., 2018).

2) Sistem Endokrin

Menurut Wahyuningsih (2018), sistem endokrin terdiri dari :

a) Oksitosin

Hormon yang berperan dalam kontraksi uterus mencegah

perdarahan, isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan

sekresi oksitosin sehingga membantu uterus kembali ke bentuk

semula.

b) Prolaktin

Menurunnya kadar estrogen menimbulkan

terangsangnya kelenjar pituitary bagian belakang untuk

mengeluarkan prolaktin untuk memproduksi ASI. Pada ibu

yang tidak menyusui bayinya dalam 14-21 hari setelah

persalinan sehingga merangsang kelenjar bawah otak yang


41

mengontrol ovarium kearah permulaan produksi estrogen dan

progesterone yang normal, pertumbuhan folikel, ovulasi dan

menstruasi.

c) Estrogen dan Progesteron

Selama kehamilan, volume darah normal meningkat

yang diperkirakan akibat tingginya tingkat estrogen sehingga

hormon antidiuretik meningkat volume darah. Hormon

progesterone mempengaruhi otot halus yang mengurangi

3) Tanda Vital Post Partum

Menurut Hakim (2020), perubahan tanda-tanda vital ibu

post partum yaitu :

a) Suhu

Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 celcius.

Sesudah partus dapat naik kurang 0,5℃ dari keadaan normal,

namun tidak akan melebihi 8℃. Sesudah 2 jam pertama

melahirkan umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila

suhu lebih dari 38℃, kemungkinan terjadi infeksi pada pasien.

b) Nadi

Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali

permenit. Setelah partus, denyut nadi dapat menjadi bradikardi

maupun lebih cepat. Denyut nadi yang melebihi 100 permenit,

harus waspada karena bisa terjadi infeksi atau perdarahan post

partum
42

c) Tekanan Darah

Tekanan darah pasca melahirkan pada kasus normal itu

tekanan darah tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi

lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh

perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada ibu post

partum itu merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post

partum. Tetapi hal tersebut jarang terjadi.

d) Pernafasan

Pada ibu post partum umumnya pernafasannya lambat

atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam keadaan pemulihan

atau dalam kondisi istirahat. Keadaan bernafas selalu

terhubung dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Respirasi

pada ibu post partum biasanya yaitu 16-24 kali permenit.

d. Perubahan Psikologis

Menurut Sulistyawati (2019), dalam perubahan psikologis

pada ibu post partum akan mengalami 3 fase, yaitu :

1) Fase Taking In

Gangguan psikologi yang dialami oleh ibu pada fase ini

adalah:

a) Rasa tidak nyaman karena perubahan fisik

b) Kekecewaan pada bayinya

c) Merasa tidak bersalah karena belum bisa menyusui bayinya

d) Kritikan suami atau keluarga tentang perawatan bayinya


43

2) Fase Taking Hold

a) Periode ini berlangsung pada hari ke 2-4 post partum

b) Ibu memperhatikan kemampuan menjadi orang tua dan

meningkatkan tanggung jawab terhadap bayi

c) Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya

d) Ibu berusaha untuk menguasai tentang perawatan bayinya

e) Pada masa ini, ibu biasanya agak sensitive dan merasa tidak

mahir dalam melakukan hal-hal tersebut

3) Fase Letting Go

a) Terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan sangat berpengruh

terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga.

b) Ibu mengambil tanggung jawab pada perawatan bayi, ibu harus

beradaptasi dengan kebutuhan bayi yang menyebabkan

kebebasan dan berhubungan sosial berkurang.

c) Fase ini berlangsung selama 10 hari setelah melahirkan

e. Penatalaksanaan

Menurut Septiani & Sartika (2023), penatalaksanaan pada ibu

post partum yaitu :

1) Observasi pada 2 jam setelah persalinan (untuk mengetahui adanya

komplikasi perdarahan)

2) Pada jam 6-8 jam setelah persalinan : istirahat dan tidur tenang,

usahakan miring kanan, miring kiri


44

3) Hari ke 1-2 : Memberikan pendidikan kesehatan mengenai cara

menyusui yang benar serta perawatan payudara, perubahan-

perubahan yang terjadi saat masa nifas.

4) Hari ke 2 : Mulai latihan duduk

5) Hari ke 3 : Dilatih untuk berdiri dan berjalan


45

B. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah merupakan abstraksi yang terbentuk oleh

generalisasi dari hal-hal yang khusus. Sedangkan kerangka konsep penelitian

pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin di

amati atau di ukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmojo,

2018).

Variabel Independen Variabel Dependen

Message Payudara Kelancaran ASI Pada Ibu Post


Partum

Faktor-faktor yang mempengaruhi


kelancaran ASI pada ibu post
partum antara lain :
1. Faktor internal
a. Usia dan paritas
b. Bentuk dan kondisi putting
susu
c. Asupan nutrisi dan asupan
cairan
d. Kondisi psikologis ibu
e. Pengetahuan tentang teknik
menyusui
2. Faktor eksternal
a. Dukungan keluarga
b. Inisiasi menyusui dini
c. Frekuensi menyusui
d. Perawatan payudara

Keterangan :

: Variabel Yang Diteliti

: Variabel yang tidak diteliti

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian


Sumber : (Modifikasi Lelo, 2021 dan Nugroho, 2021)
46

C. Hipotesis
Hipotesis adalah suatu pendapat atau kesimpulan yang belum final,

yang harus diuji kebenarannya (Notoatmodjo, 2018). Sedangkan menurut

Sugiyono (2018), hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang

masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ha : Ada pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI pada ibu post

partum di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.

H0 : Tidak ada pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI pada

ibu post partum di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.


47

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yaitu

penelitian yang dilakukan untuk mencari berbagai variabel dan menganalisis

setiap variabel yang menjadi objek penelitian. Penelitian ini juga digunakan

untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data

menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau

statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan

(Sugiyono, 2018).

Penelitian ini menggunakan rancangan praexperimental one group

pretest dan posttest design dalam satu kelompok, tidak ada kelompok kontrol,

peneliti memberikan perlakuan pada responden tetapi sebelumnya dilakukan

pengumpulan data dan pengamatan terhadap responden tersebut, dan kembali

dilakukan pengamatan dan pengumpulan data akhir setelah diberikan

perlakuan.

Adapun gambaran rancangan penelitian sebagai berikut :


Pre-test Perlakuan Post-test
O1 X O2

Keterangan :
O1 = Pre-test kelancaran ASI pada ibu post partum.
X = Perlakuan (message payudara)
O2 = Post-test kelancaran ASI pada ibu post partum.

45
48

B. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau

subyek yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya

(Sugiyono, 2018). Adapun populasi yang diambil dalam penelitian ini

adalah semua ibu post partum yang ada di Ruang Nifas Puskesmas

Kayangan dari bulan Desember 2024 sampai dengan Januari 2025

sebanyak 73 orang.

2. Sampel

Sampel penelitian adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang

dimiliki oleh populasi tersebut sampel yang diambil dari populasi tersebut

harus betul-betul representative (mewakili). Ukuran sampel merupakan

banyaknya sampel yang akan diambil dari suatu populasi (Sugiyono,

2018).

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua ibu post

partum yang ada di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan dari bulan

Desember 2024 sampai dengan Januari 2025 sebanyak 73 orang.

Kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini dibagi

menjadi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi sebagai berikut :

a. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi

oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel


49

(Notoadmodjo, 2018). Kriteria inklusi yang akan dijadikan sampel

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Ibu post partum yang ada di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.

2) Ibu post partum yang bersedia dijadikan sebagai responden

3) Ibu post partum yang bisa berkomunikasi dengan baik (tidak

terbata-bata)

4) Ibu post partum yang bisa membaca dan menulis

b. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak

dapat diambil sebagai sampel (Notoadmodjo, 2018). Kriteria eksklusi

dalam penelitian ini adalah :

d. Ibu post partum yang ada di luar Ruangan Nifas Puskesmas

Kayangan.

e. Ibu post partum yang tidak bersedia dijadikan sebagai

responden

f. Ibu post partum yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik

(tidak terbata-bata)

g. Ibu post partum yang tidak bisa membaca dan menulis

3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini

adalah total sampling yaitu teknik pengambilan sampel dimana jumlah

populasi dijadikan sebagai sampel (Sugiyono, 2018).


50

C. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Kayangan.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Maret 2025.

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel Penelitian

a. Variabel Independent

Variabel independent adalah variabel yang mempengaruhi atau

menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent

(Sugiyono, 2018). Variabel independent dalam penelitian ini yaitu :

message payudara.

b. Variabel Dependent

Variabel dependent adalah variabel yang dipengaruhi atau yang

menjadi akibat karena adanya variabel independent (Sugiyono, 2018).

Variabel dependent dalam penelitian ini yaitu : kelancaran ASI pada

ibu post partum.

2. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah variabel penelitian dimaksudkan untuk

memahami arti setiap variabel penelitian sebelum dilakukan analisis

(Sugiyono, 2018).
51

Tabel 2.1 Definisi Operasional


Variabel Definisi Parameter/ Alat Ukur Hasil Skala
Operasional Indikator Ukur Data
Variabel
independent:
Message Praktik yang Cara melakukan message SOP - -
payudara melibatkan payudara meliputi:
penggunaan teknik 1. Tempelkan kapas
pijat atau tekanan yang sudah diberi
ringan pada minyak kelapa selama
payudara ibu post + 5 menit, kemudian
partum selama ± 15 puting susu
menit dibersihkan
2. Tempelkan kedua
telapak tangan
diantara kedua
payudara.
3. Pengurutan dimulai
kearah atas,
kesamping, telapak
tangan kiri kearah sisi
kiri, telapak tangan
kanan kearah sisi
kanan.
4. Pengurutan diteruskan
kebawah, selanjutnya
melintang, telapak
tangan mengurut
kedepan kemudian
dilepaskan dari
payudara, gunakan
diulangan 30 kali.
5. Telapak tangan kiri
menopang payudara
kiri dan jari-jari
tangan sisi kelingking
mengurut payudara
kearah putting susu,
gerakan diulang
sebanyak 30 kali
untuk tiap payudara.
6. Telapak tangan kiri
menopang payudara,
tangan kanan
menggenggam dan
mengurut payudara
dari pangkal menuju
keputing susu, gerakan
ini diulang sebanyak
30 kali untuk setiap
payudara.
7. Selesai pengurutan,
payudara disiram atau
dikompres dengan air
52

hangat dan dingin


bergantian selama ± 5
menit, kemudian
gunakan BH yang
bersih dan menopang
Variabel
Dependent:
Kelancaran Pengeluaran ASI Indikator kelancaran ASI Lembar 1. Lancar Nominal
ASI pada yang dikatakan pada ibu post partum observasi 2. Tidak Lancar
ibu post lancar bila produksi antara lain :
partum ASI berlebihan 1. Payudara tegang dan
yang ditandai penuh ASI
dengan ASI akan 2. Ibu rileks
menetes dan akan 3. Let down refleks baik
memancar deras 4. Frekuensi menyusui
saat dihisap bayi lebih dari 8 kali sehari
5. Ibu menggunakan
kedua payudara secara
bergantian
6. Posisi perlekatan
benar
7. Puting tidak lecet
8. Payudara kosong
setelah bayi menyusu
sampai kenyang

E. Instrumen Penelitian dan Metode Pengumpulan Data

1. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan

peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan

hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis

sehingga lebih mudah diolah. Variasi jenis instrumen penelitian adalah

angket, check-list, atau daftar centang, pedoman wawancara, pedoman

pengamatan (Sugiyono, 2018).

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai

kelancaran ASI pada ibu post partum baik sebelum dan setelah diberikan

message payudara adalah lembar observasi.


53

2. Metode Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini terdiri dari :

a. Data Primer

Data primer yaitu sumber data yang langsung memberikan data

kepada pengumpul data (Sugiyono, 2018). Data dikumpulkan sendiri

oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek

penelitian dilakukan. Peneliti menggunakan hasil wawancara yang

didapatkan dari informan mengenai topik penelitian sebagai data

primer. Data primer dalam penelitian ini terdiri dari :

1) Data kelancaran ASI pada ibu post partum sebelum diberikan

message payudara diperoleh dengan menggunakan alat bantu

lembar observasi.

2) Data kelancaran ASI pada ibu post partum setelah diberikan

message payudara diperoleh dengan menggunakan alat bantu

lembar observasi.

b. Data Sekunder

Data sekunder yaitu sumber data yang tidak langsung

memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain

atau lewat dokumen. Data sekunder dalam penelitian ini terdiri dari

data:

1) Data tentang jumlah ibu post partum diperoleh dari register

Puskesmas Kayangan.
54

2) Data tentang gambaran umum Puskesmas Kayangan diperoleh dari

buku profil.

F. Metode Pengolahan Data

Pengolahan data dalam penelitian ini terdiri dari beberapa tahap yaitu :

1. Editing

Editing yaitu kegiatan mempersiapkan data yang sudah diperoleh

sebelum dilakukan pengolahan data lebih lanjut. Dimana peneliti harus

mengecek kembali kelengkapan data.

2. Coding

Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi

data berbentuk angka/ bilangan. Data mengenai kelancaran Asi pada ibu

post partum dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu:

a. Lancar Baik : diberi kode 2

b. Tidak Lancar : diberi kode 1

3. Tabulating

Tabulating merupakan kegiatan menggambarkan jawaban responden

dengan cara tertentu. Tabulasi juga dapat digunakan untuk menciptakan

statistik deskriptif variabel-variabel yang diteliti atau yang variabel yang

akan di tabulasi silang.

4. Entri

Entri data yaitu kegiatan memasukkan data ke dalam computer untuk

selanjutnya dapat dilakukan analisis data.


55

G. Analisis Data

Analisis data diartikan sebagai upaya data yang sudah tersedia

kemudian diolah dengan statistik dan dapat digunakan untuk menjawab

rumusan masalah dalam penelitian. Dengan demikian teknik analisis terhadap

data, dengan tujuan mengolah data tersebut untuk menjawab rumusan

masalah (Sugiyono, 2018).

1. Analisa Univariat

Analisa data dalam penelitian ini adalah analisis univariat yaitu

analisis yang digunakan untuk mendeskripsikan setiap variabel yang

diteliti, diagnosis asumsi statistik lanjut deteksi nilai ekstrim/outlier

(Amran, 2018).

Analisa univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil

penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan

distribusi dan persentase dari tiap variabel yaitu kelancaran ASI pada ibu

post partum baik sebelum dan setelah diberikan message payudara.

Analisis univariat dilakukan menggunakan rumus berikut : (Notoatmodjo,

2018)

X
P= x 100 %
N

Keterangan :

P : Presentase

X : Jumlah kejadian pada responden

N : Jumlah seluruh responden


56

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga

berhubungan atau berkorelasi. Adapun analisis bivariat dalam penelitian

ini meliputi satu variabel independen (message payudara) dan variabel

dependen (kelancaran ASI pada ibu post partum). Pada penelitian ini

menggunakan uji wilcoxon yaitu prosedur yang digunakan untuk meguji

beda rata-rata dari 2 kelompok yang berhubungan atau berpasangan.

Kesimpulan yang didapat yaitu apabila nilai kepercyaan 95% jika p-

value<0,05, maka terdapat pengaruh dari perlakuan tersebut dengan

kesimpulan Ho ditolak dan Ha diterima. Analisis ini yang digunakan untuk

mengetahui pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI pada ibu

post partum dengan pengambilan keputusan sebagai berikut:

a. Bila p value< α (0,05) berarti ada pengaruh message payudara terhadap

kelancaran ASI pada ibu post partum di Ruang Nifas Puskesmas

Kayangan.

b. Bila p value > α (0,05) berarti tidak ada pengaruh message payudara

terhadap kelancaran ASI pada ibu post partum di Ruang Nifas

Puskesmas Kayangan.

H. Etika Penelitian

Masalah etika penelitian merupakan masalah yang sangat penting dalam

penelitian, mengingat penelitian kebidanan berhubungan langsung dengan

manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan (Hidayat, 2020).


57

Ada beberapa etika yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu :

1. Lembar Persetujuan Responden (Informed Consent)

Lembar persetujuan akan diberikan kepada responden atau subjek

sebelum penelitian dilaksanakan dengan maksud supaya responden

mengetahui tujuan penelitian, jika subjek bersedia diteliti harus

menandatangani lembar persetujuan tersebut, tetapi jika tidak bersedia

maka `peneliti harus tetap menghormati hak responden (Notoadmodjo,

2018).

2. Tanpa Nama (Anonymity)

Peneliti tidak mencantumkan nama responden yang akan dijadikan

sebagai subyek penelitian untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek,

tetapi peneliti akan memberi tanda atau kode secara khusus (Notoadmodjo,

2018).

3. Kerahasiaan (Confidentiality)

Peneliti senantiasa akan menjaga kerahasiaan dari data yang

diperoleh, dan hanya akan disajikan kepada kelompok tertentu yang

berhubungan dengan penelitian, sehingga rahasia subyek penelitian benar-

benar terjamin. Metode penelitian merupakan suatu cara dalam melakukan

penelitian, metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur, alat,

serta desain penelitian yang digunakan (Notoadmodjo, 2018).


58

I. Alur Penelitian
Kepala Puskesmas
Surat Pengantar dari Bappeda Dinas
Kesehatan Kayangan
Kampus

Penelitian Populasi Pengambilan Data


dan Sampel Awal

Penyusunan Ujian Proposal Revisi Proposal


Proposal Penelitian Penelitian Penelitian

Gambar 3.1 Alur penelitian pengaruh message payudara terhadap kelancaran ASI
pada ibu post partum di Ruang Nifas Puskesmas Kayangan.
59

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, 2019. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Dinas Kesehatan Provinsi NTB, 2023. Jumlah Ibu Nifas. Mataram : NTB.

Deborah, 2020. Keperawatan. Komunitas. Jakarta: Yayasan Kita Menulis.

Efendi, 2019. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan. Praktek dalam


Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Field, A. 2018. Discovering Statistics Using IBM SPSS Statistics.5th Edition.


London: SAGE Publications.

Notoatmodjo, 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam, 2020. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (4th ed). Jakarta :


Salemba Medika.

Nurhayati,2019. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Yogyakarta : CV. Andi


Offset.

SDKI, 2023. Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI). Jakarta : Kemenkes


RI.

Sugiyono, 2018. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT


Alfabet

Sujarweni, 2021. Statistika Untuk Penelitian. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Anda mungkin juga menyukai