Mari Belajar al-Qur’ān Surat at-Tiin
Orang Islam yang membaca al-Qur’ān tergolong manusia beruntung dan istimewa. Karena al- Qur’ān adalah mu’jizat
terbesar dan teristimewa di antara mu’jizat yang diterima Nabi Muhammad saw. Dari sekian banyak mukjizat yang
diturunkan Allah Swt. kepada para Rasul-Nya, al-Qur’ān inilah yang sampai kepada kita bahkan hingga hari kiamat
nanti.
A. Membaca Surat at-Tiin
Tata cara membaca al-Qur’ān dimulai dengan isti’adzah dan basmalah. Kemudian cermati dengan baik al-Qur’ān Surat
at-Tiin berikut ini. Bagi yang sudah lancar membaca, langsung saja membaca dengan tartil. Tartil artinya membaca sesuai
dengan kata, tanda dan barisnya. Dibaca dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.
. Menulis Surat at-Tiin
Aku harus dapat menulis huruf al-Qur’ān dengan baik. Karena menulis huruf al-Qur’ān akan memperoleh ilmu dan
keterampilan serta pahala dari Allah Swt. Menulis huruf al- Qur’ān tidaklah sulit, asalkan rajin dan teliti, serta penuh
kesabaran. Dalam menulis huruf-huruf al-Qur’ān sebaiknya memperhatikan letak huruf-hurufnya. Ada huruf yang ditulis
letaknya di atas garis buku, ada pula huruf yang ditulis memotong garis buku.
Mengapa Dinamakan Surat at-Tiin?
Surat ini dinamakan at-Tiin diambil dari kata at-T³n yang terdapat pada ayat pertama yang artinya buah Tin. Surat at-Tiin
adalah surat ke-95 dalam al-Qur’ān yang berjumlah 8 ayat dan termasuk golongan surat yang turun di Mekah atau
disebut juga surat Makkiyyah.
Kandungan Surat at-Tiin
Ayat Pertama
Tin adalah buah yang enak dan lembut serta cepat dicerna. Ia menjadi obat yang banyak manfaatnya, memperhalus fisik,
mengencerkan dahak, membersihkan ginjal, menghancurkan batu pada saluran air seni, menggemukkan badan dan dapat
melonggarkan rongga hati dan limpa. Zaitun adalah buah yang memiliki keistimewaan karena kandungan minyaknya
yang berlimpah sehingga dapat dipergunakan di daerah yang kurang memiliki minyak.
Ayat Kedua
Gunung Sinai terletak di Semenanjung Sinai, lintasan antara Tanah Mesir ke Israil, Arab, dan Mesopotamia. Gunung
setinggi 2,285 meter ini juga dikenal dengan nama Jabal Musa (Gunung Nabi Musa), karena di tempat ini, Nabi Musa
menerima wahyu pertama dan diangkat menjadi Rasul. Pada malam mi’rāj, Rasulullah saw. berhenti sebentar di tempat
ini dan melaksanakan salat sebagai penghormatan beliau pada kesucian
tempat tersebut.
Ayat Ketiga
Kota yang aman adalah kota Mekah. Kota ini disebut dengan kota yang aman karena siapa pun yang memasukinya
terjaga keamanan dan keselamatannya. Kota Mekah juga disebut sebagai Ummul Qurā’ dan Tanah yang Aman. Kota ini
banyak menyimpan sejarah sejak zaman Nabi Ibrahim a.s.
Ayat Keempat
Allah Swt. menjadikan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Proses kejadian manusia tidak sama dengan kejadian
makhluk-makhluk lain. Manusia memiliki akal, jasmani, rohani, dan nafsu. Anggota tubuh manusia serasi dan seimbang
sehingga tampak indah, cantik, dan memudahkan untuk melakukan kegiatan. Sedangkan hewan hanya memiliki jasmani
dan nafsu saja. Manusia harus mampu menjaga keseimbangan yang dimilikinya agar supaya menjadi mulia. Apabila
manusia mengutamakan nafsunya, maka ia turun derajatnya seperti hewan. Selain rohani, manusia dibekali dengan akal
pikiran agar supaya dapat membedakan yang baik dan yang buruk.
Ayat Kelima
Allah Swt. mengingatkan manusia, sekali pun mereka sempurna, tetapi dapat turun derajatnya menjadi hina karena
pengetahuan, sikap, dan perilakunya apabila telah keluar dari aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. melalui rasul-
Nya.
Ayat Keenam
Orang-orang yang tidak pernah hina adalah mereka yang beriman dan melaksanakan amal sālih. Orang yang demikian itu
akan selamat dari kehinaan dunia dan akhirat.
Ayat Ketujuh
Pada hari kiamat nanti ada hari pembalasan terhadap perbuatan manusia yang baik dan buruk. Manusia seharusnya tidak
meragukan adanya hari pembalasan, karena Allah Swt. sudah menunjukkan bukti-buktinya. Allah Swt. memberikan akal
kepada manusia untuk berpikir tentang ciptaan-Nya, dan hati untuk merasakan iman. Pertanyaan Allah Swt. itu untuk
mengingatkan adanya hari kiamat agar manusia tidak lupa dan lalai
sehingga terjerumus dalam dosa dan kehinaan.
Ayat Kedelapan
Allah Swt. adalah Yang Maha Mengetahui, sebagus-bagus pencipta dan pengatur segala urusan. Allah Swt. yang
memberi keputusan atas segala persoalan. Tiada perbuatan walau sekecil atom pun yang dapat terlepas dari pengadilan-
Nya. Pengadilan Allah Swt. adalah sebaik-baik pembuat keputusan. Allah Swt. Maha Pengasih kepada hamba-Nya. Ia
senantiasa mengingatkan agar manusia tidak lupa diri. Jika ternyata manusia masih melakukan dosa, maka karena
keadilan-Nya, manusia akan menanggung akibat dan pembalasan atas dosanya itu. Allah Swt. juga telah menyiapkan
kenikmatan bagi orang yang menjalankan syari’atnya.