Kontrol Safety Boiler dengan REX C100
Kontrol Safety Boiler dengan REX C100
SKRIPSI
MUHAMMAD RIFA’AN
NPM 17650048
SKRPSI
MUHAMMAD RIFA’AN
17650048
ii
HALAMAN PERSETUJUAN
SKRIPSI
Menyetujui,
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Ketua, Sekretaris,
Penguji III,
Motto:
“Hiduplah seakan-akan kamu akan mati hari esok dan belajarlah seolah kamu
akan hidup selamanya.” – Mahatma Gandhi
Persembahan:
Karya Tulis Ilmiah ini saya persembahkan kepada diri saya sendiri yang
sudah berjuang dan bertahan sampai titik ini, segala keluh dan kesah yang pernah
disampaikan akhirnya terbayarkan, namun ini bukan akhir tapi awal bagi saya untuk
memasuki masa kehidupan yang sebenarnya.
v
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya serahkan ini benar-
benar merupakan hasil karya sendiri, kecuali kutipan-kutipan dari ringkasan yang
semuanya telah saya jelaskan sumbernya. Apabila dikemudian hari saya terbukti
atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, maka sanksi apapun yang diberikan
saya akan terima.
Muhammad Rifa’an
NPM : 17650048
ABSTRAK
Boiler merupakan bagian penting dalam dunia industri. Uap panas yang
dihasilkan boiler biasa digunakan untuk berbagai proses produksi industri. Boiler
dalam proses kerjanya akan mengubah air menjadi uap dengan menambahkan
panas. Dilihat dari segi pemanasan oleh burner, suhu hasil pemanasan tidak boleh
terlalu tinggi (over heating). Suhu yang terlalu tinggi akan menyebabkan tekanan
di dalam boiler menjadi tinggi juga. Tekanan yang terlalu tinggi akan menyebabkan
kerusakan pada boiler karena dalam pembuatannya, boiler memiliki batas tekanan
yang diijinkan. Maka dari itu, diperlukan sebuah sistem pengaturan yang bekerja
secara otomatis dalam mengendalikan kerja motor pompa air dan alat pemanas
untuk menghasilkan level air dan kondisi suhu yang konstan sesuai dengan nilai
parameter yang telah ditentukan. Dari hasil hasil pengolahan dan analisis data yang
telah didapatkan alat kontrol safety pada mesin boiler dapat menggunakan modul
REX C100 karena dapat bekerja sesuai dengan fungsinya dan penggunaan
perangkat komponen REX C100 pada sistem ini dapat melakukan pembacaan
sensor dan dapat mengontrol pengoprasian mesin bolier secara otomatis ketika suhu
melebihi batas yang tidak di inginkan sebesar 200°C.
vii
PRAKATA
viii
9. Semua pihak yang membantu dalam penulisan skripsi ini yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu
Muhammad Rifa’an
17650048
ix
DAFTAR ISI
x
E. Proses Eksperimen .................................................................................... 27
F. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................ 31
G. Teknik Analisa Data .................................................................................. 32
H. Jadwal ........................................................................................................ 33
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 34
A. Implementasi Sistem Produk ..................................................................... 34
B. Hasil Penelitian ......................................................................................... 38
B. Pembahasan ............................................................................................... 45
BAB V PENUTUP ............................................................................................... 50
A. Kesimpulan................................................................................................ 50
B. Saran .......................................................................................................... 50
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 52
LAMPIRAN ......................................................................................................... 54
xi
DAFTAR GAMBAR
xii
DAFTAR TABEL
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemakaian uap pada proses produksi dipengaruhi faktor melimpahnya air
sebagai bahan baku penghasil uap. Untuk mendidihkan air tersebut diperlukan
energi yang diperoleh dari sumber panas, misalnya dari pembakaran bahan bakar
(padat, cair dan gas), tenaga listrik, gas panas sebagai sisa proses kimia serta
tenaga nuklir. Pemanfaatan boiler sebagai penghasil uap ditujukan untuk proses
produksi dan penghasil energi. Secara umum dalam dunia industri membutuhkan
sarana pemanas dalam proses produksinya. Sarana yang dipakai terutama untuk
industri pengolahan kecil dan menengah memanfaatkan panas dari uap yang
dihasilkan oleh suatu boiler. (Daya, 2020)
Boiler merupakan bagian penting dalam dunia industri. Uap panas yang
dihasilkan boiler biasa digunakan untuk berbagai proses produksi industri.
Secara umum boiler terdiri dari beberapa sistem diantaranya adalah sistem feed
water, sistem steam dan sistem pembakaran yang terintergrasi menjadi satu
kesatuan. Ruang pembakaran adalah salah satu komponen penting pada boiler,
yang berfungsi sebagai penampil panas yang diperoleh melalui proses
pembakaran. Temperature steam pada ruang bakar sering sekali mengalami
perubahan suhu secara drastis dikarenakan penggunaan bahan bakar tidak stabil
sehingga berpengaruh terhadap temperature steam tersebut. (Suprianto, 2015)
Boiler dalam proses kerjanya akan mengubah air menjadi uap dengan
menambahkan panas. Dalam menghasilkan proses pemanasan yang stabil dan
sempurna, maka hal yang perlu diperhitungkan adalah kapasitas motor pompa
air burner atau alat pemanas, level air, level suhu atau tekanan, dan sistem
pengaman. (Priyanto & Wilastari, 2022)
Dilihat dari sisi pengisian air pada boiler, motor pompa air harus mampu
menyediakan air sesuai dengan kebutuhan boiler. Level air tidak boleh terlalu
penuh untuk menghindari adanya carrie over yang dapat menurunkan kualitas
1
2
B. Identifikasi Masalah
Dari latar beakang diatas, identifikasi masalah yang akan dijadikan bahan
penelitian adalah sebagai berikut:
1. Perlunya sistem keamanan pada Burner Boiler untuk mengatasi suhu yang
berlebih.
2. Sistem kemanan pada Boiler menggunakan sistem mekanik dan tidak dapat
dikontrol secara digital sesuai suhu target yang diinginkan
C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian lebih mengarah pada sasaran dan tidak menyimpang dari
berbagai masalah yang timbul, maka dari itu perlu dibatasi pada:
1. Fokus skripsi ini membahas tentang pengendalian temperatur ruang bakar
burner boiler berbahan bakar solar di industri
2. Direncanakan menggunakan Thermostat Digital REX C100 sebagai kontroler
dan sensor temperatur
3. Proses pemanasan air dilakukan untuk setiap satu jam dan kenaikan suhu
dicatat untuk setiap lima menit terhitung dari waktu sebelumnya.
4. Kenaikan suhu yang dicatat adalah kenaikan suhu yang berasal dari proses
pemanasan air oleh alat pemanas yang berbeda-beda dan volume air
ditetapkan sebagai variabel input yang nilainya dapat diubah.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan Identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang dapat
dibuat sebagai perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana menentukan sistem kontrol yang tepat agar alat dapat di rancang
seusai dengan kebutuhan?
4
E. Tujuan Penelitian
Sistem kendali yang dirancang adalah suatu sistem pengendalian suhu
hasil pemanasan pada burner boiler. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian
mengenai perancangan sistem kendali otomatis adalah:
1. Menentukan perangkat dan komponen sistem kontrol yang tepat agar alat
dapat di rancang seusai dengan kebutuhan.
2. Merancang sistem kontrol keamaan yang dapat beroprasi secara otomatis agar
suhu tidak melebihi ambang batas sebesar 200°C.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin dicapai dari penelitian mengenai perancangan sistem
kendali otomatis pada burner boiler, yaitu:
1. Dapat merancang alat yang dapat mengontrol suhu uap pemanasan di dalam
boiler secara otomatis.
2. Memberikan kemudahan dalam cara kerja untuk mengatasi kondisi-kondisi
yang terjadi di dalam proses pemanasan air menjadi uap.
3. Menghasilkan rujukan dalam mengaplikasikan sistem kendali pada boiler di
dunia industri.
4. Menghasilkan produl implementasi bagi Jurusan Teknik mesin untuk sistem
pengaturan yang menggunakan Thermostat Digital, agar dapat digunakan
sebagai modul penelitian dan percobaaan ataupun simulasi penggunaan alat
atau produk lainnya.
G. Penegasan Istilah
1. Perencanaan
Perencanaan secara umum merupakan suatu upaya dalam menentukan
berbagai hal yang hendak dicapai atau tujuan di masa depan dan juga untuk
menentukan beragam tahapan yang memang dibutuhkan demi mencapai
5
tujuan tersebut. Perencanaan juga sebagai suatu bentuk kegiatan yang sudah
terkoordinasi demi mencapai suatu tujuan tertentu dan juga dalam jangka
waktu tertentu. Sehingga, dalam perencanaan akan terdapat berbagai kegiatan
pengujian pada beberapa arah pencapaian, menganalisa seluruh
ketidakpastian, menilai kapasitas, menentukan tujuan pencapaian, dan juga
menentukan langkah dalam pencapaiannya. (Ibnu, 2021)
2. Otomatis
Otomatis memiliki arti dalam kelas adjektiva atau kata sifat sehingga
otomatis dapat mengubah kata benda atau kata ganti, biasanya dengan
menjelaskannya atau membuatnya menjadi lebih spesifik salah satunya dapat
bekerja sendiri atau beroprasi sendiri.
3. Burner Boiler
Burner adalah sebuah komponen dari boiler yang berfungsi
mengkabutkan bahan bakar minyak yang dibantu oleh tekanan udara yang
diberikan oleh blower dan dibantu oleh elektroda supaya terjadi pembakaran
di ruang bakar. Burner sendiri sangatlah penting pada boiler dikarenakan jika
burner itu sendiri tidak bisa mengkabutkan bahan bakar maka boiler tidak
akan bekerja dengan maksimal. (Syaiful, 2019)
4. Industri
Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan
baku, barang setengah jadi atau barang jadi, menjadi barang yang bermutu
tinggi dalam penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan
perekayasaan industri. Industri merupakan bagian dari proses produksi.
Bahan-bahan industri diambil secara langsung maupun tidak langsung,
kemudian diolah, sehingga menghasilkan barang yang bernilai lebih bagi
masyarakat.
5. Thermostat Digital REX C100
Digital Temperature Controller ini adalah alat yang bisa mengontrol
suhu untuk mengendalikan cooler / heater sesuai dengan settingan yang
diinginkan. Sama seperti prinsip kerja Digital Counter relay, Digital
6
A. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka merupakan proses peninjauan kembali beberapa
penelitian terdahulu tentang topik tertentu. Dalam hal bertujuan agar penelitian
ini mempunyai perbandingan terhadap penelitian sebelumnya.
Pada penelitian pertama dilakukan oleh M. Usemahu Taher (2018) yang
berjudul “Optimalisasi Pengoperasian Boiler dalam Memproduksi Uap untuk
Menunjang Pengoperasian Kapal MV. Sinar Kutai” merupakan penelitan yang
mengkaji tentang Apa yang menyebabkan kualitas air boiler tidak baik dan
penyebab pembakaran pada boiler tidak sempurna. Kejadian ini menunjukan
adanya masalah antara perawatan dengan officer yang bertanggung jawab dalam
menangani permesinan tersebut. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa
kurangnya manajemen perawatan yang dilakukan oleh masinis menjadi faktor
utama permasalahan bisa terjadi. Hal hal yang seharusnya dilaksanakannya
perawatan sesuai jadwal tidak mencapai tujuan yang di inginkan, kendala pun
terjadi. (M. Usemahu Taher, 2018)
Pada penelitian kedua dilakukan oleh Herry Setyawan, Aji Brahma
Nugroho, dan Sumarsono (2020) yang berjudul “Perancangan Prototype Mesin
Boiler Otomatis Pengering Jagung Berbasis PLC (Programmable Logic
Control)” merupakan sebuah perancngan prototype mesin boiler otomatis
berbasis PLC menggunakan Barico Dryer. Dengan menggunakan alat ini, hanya
dibutuhkan waktu 24.95 jam untuk mengeringkan jagung dengan berat 1 kg
memiliki tingkat kadar air pada biji 13– 14 %. Penggunaan mesin boiler dalam
proses pengeringan jagung lebih efektif daripada menggunakan sinar matahari.
Penggunaan daya dengan mesin boiler berbasis PLC lebih hemat di bandingan
tanpa menggunakan PLC. (Setyawan & Nugroho, 2020)
Pada penelitian ketiga dilakukan oleh Mawardi Silaban (2007) yang
berjudul “Penghematan Energi dan Perhitungan Sederhana Menaksir Efisiensi
Boiler” merupakan sebuah analisa perhitungan efisiensi boiler dengan metode
7
8
tidak langsung, efisiensi harian selama satu bulan berkisar 56,4% sampai 72,5%
dan langkah penghematan energi dapat dilakukan pada ekonomiser untuk
preheting boiler feed water , air pre-heater untuk memanasi udara pembakaran,
mengontrol jumlah udara pembakaran masuk burner, isolator boiler dan pipa
serta kontrol otomatis blowe down. (Mawardi Silaban, 2007)
B. Landasan Teori
1. Boiler
Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air
sampai terbentuk air panas atau uap. Komponen penting pada boiler adalah
burner, ruang bakar, penukar panas dan sistem kontrol. Komposisi yang tepat
dalam pencampuran antara bahan bakar dan udara di ruang bakar akan
menghasilkan pembakaran yang sempurna. Panas yang dihasilkan ditransfer ke
air melalui penukar panas. Air panas atau uap pada tekanan tertentu kemudian
digunakan untuk proses produksi. Dalam proses produksi dari air menjadi uap,
dapat terjadi kehilangan panas atau rugi seperti kehilangan panas berupa udara
berlebih dan temperatur yang tinggi pada gas buang dicerobong. Kehilangan
karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam cerobong dan abu. Kehilangan
dari blowdown dan kondensat. Kehilangan konveksi, radiasi dan penguapan air
yang terbentuk karena H2 dalam bahan bakar. (Einstein et al., 2001)
Boiler merupakan salah satu sistem peralatan yang berperan penting dalam
penyempurnaan proses produksi di industri manufaktur. Pertumbuhan industri
boiler dalam negeri akan terjadi dengan improvisasi teknologi yang digunakan
pada boiler. Salah satu pengendalian proses pada boiler adalah level ketinggian
air. Level ketinggian air di dalam drum boiler mengindikasikan volume air yang
terisi pada drum. Permasalahan dalam penelitian pada rancang bangun cross
section water tube boiler adalah ingin mengetahui pengaruh level ketinggian air
di dalam steam drum terhadap saturated steam yang dihasilkan serta
menentukan level ketinggian air yang optimal untuk pengoperasian boiler
mengguanakan bahan bakar solar dan gas. ketel uap berfungsi sebagai sarana
untuk mengubah air menjadi uap bertekanan. Ketel uap diartikan sebagai alat
9
untuk membentukan uap yang mampu mengkonversi energi kimia dari bahan
bakar (padat cair dan gas) yang menjadi energi panas. Uap yang dihasilkan dari
ketel uap merupakan gas yang timbul akibat perubahan fase cair menjadi uap
atau gas melalui cara pemanasan yang memerlukan sejumlah energi dalam
prosesnya. Air yang berdekatan dengan bidang pemanas akan memiliki
temperature yang lebih tinggi (berat jenis yang lebih rendah) di bandingkan
dengan air yang bertemperatur rendah, sehingga air yang bertemperatur tinggi
akan naik kepermukaan danair yang bertemperatur rendah akan turun. Peristiwa
ini terjadi secara terus menerus (sirkulasi) hingga berbentuk uap. Penelitian
tentang boiler dengan pipa longitudinal sebagai superheater untuk menghasilkan
superheated steam dan sistem hanya terdiri dari satu buah drum yang berfungsi
sebagai water drum dan steam drum. Dari penelitian mengenai Longitudinal
Water Tube Boiler tersebut dapat diketahui bahwa masih banyak kekurangan,
salah satunya yaitu sistem longitudinal tube yang artinya susunan tube sejajar
dengan steam drum sehingga mempersempit luas area pada tube dan
memperkecil perpindahan panas yang terjadi pada boiler. (Aswan et al., 2007)
2. Tipe-tipe boiler
a. Ketel Uap Pipa Api (fire tube boiler)
Sirkulasi air/uap dimulai dari tangki feed water, dimana umpan air
dipompa. Pompa feed water meningkatkan tekanan air umpan ke tekanan
boiler yang diinginkan. Dalam praktiknya, tekanan uap akhir harus di bawah
170 bar agar sirkulasi alami untuk bekerja dengan baik.
Air umpan kemudian dipanaskan terlebih dahulu di economizer pada
titik suhu air hampir mendidih. Untuk mencegah air umpan dari mendidih
dalam pipa economizer, suhu air keluar dari economizer suhu sengaja
disimpan sekitar 10 derajat di bawah suhu didih. Dengan kata lain,
pendekatan suhu 10 K. Dari economizer air umpan mengalir ke steam drum
boiler. Di steam drum airnya tercampur rata dengan air yang ada di steam
drum. Hal ini mengurangi tekanan termal di dalam drum uap. Jenis sirkulasi
ini disebut sirkulasi alami, karena tidak ada pompa sirkulasi air di sirkuit.
Sirkulasi terjadi dengan sendirinya karena perbedaan massa jenis air/uap
antara downcomer dan riser.
drum didasarkan pada perbedaan massa jenis antara uap dan air, boiler ini
juga tidak cocok untuk tekanan superkritis (>221 bar). Tekanan operasi
maksimum untuk boiler sirkulasi paksa adalah 190 bar dan penurunan
tekanan dalam boiler sekitar 2-3 bar.
Sirkulasi air/uap dimulai dari tangki air umpan, dimana air umpan
dipompa. Pompa air umpan menaikkan tekanan dari air umpan ke tekanan
boiler yang diinginkan. Dalam praktiknya, tekanan uap akhir di bawah 190
bar untuk menjaga uap tetap masuk daerah subkritis. Air umpan kemudian
dipanaskan di economizer hampir sampai titik tekanan didih air. Dalam
sirkulasi paksa, pompa sirkulasi memberikan gaya pendorong untuk sirkulasi
uap/air. Karena pompa memaksa sirkulasi, tabung evaporator dapat dibangun
di hampir semua posisi. Kehilangan tekanan yang lebih besar dapat
ditoleransi dan oleh karena itu tabung evaporator masuk boiler sirkulasi paksa
lebih murah dan memiliki diameter lebih kecil (dibandingkan dengan
sirkulasi alami).
Air jenuh mengalir selanjutnya dari steam drum melalui tabung
downcomer ke mud drum. Biasanya ada beberapa tabung downcomer, yang
tidak dipanaskan dan terletak di luar boiler. Header yang mendistribusikan air
ke tabung evaporator dilengkapi dengan choker (pembatas aliran) untuk
setiap tabung dinding untuk mendistribusikan air secara merata. Air berlanjut
ke tabung riser, di mana ia menguap. Uap dipisahkan di dalam drum uap dan
diteruskan melalui superheater, seperti di sirkulasi alami. (Wiratama, 2022)
3. Perpindahan Panas
Perpindahan panas adalah ilmu yang mempelajari tentang laju
perpindahan panas di antara material/benda karena adanya perbedaan suhu
(panas dan dingin). Perpindahan kalor tidak akan terjadi pada sistem yang
memiliki temperatur sama. Perbedaan temperatur menjadi daya penggerak
untuk terjadinya perpindahan kalor, sama dengan perbedaan tegangan sebagai
penggerak arus listrik. (Buchori, 2011)
Proses perpindahan kalor terjadi dari suatu system yang memiliki
temperatur lebih tinggi ke temperatur yang lebih rendah. Keseimbangan pada
masing – masing sistem terjadi ketika system memiliki temperatur yang sama.
Perpindahan kalor dapat berlangsung dengan 3 (tiga) cara, yaitu:
a. Perpindahan kalor konduksi
b. Perpindahan kalor konveksi (Alami dan Paksa)
c. Perpindahan kalor radiasi
Perpindahan panas konduksi adalah proses perpindahan panas jika
panas mengalir dari tempat yang suhunya tinggi ke tempat yang suhunya
lebih rendah, tetapi media untuk perpindahan panas tetap. Laju aliran panas
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain luas permukaan benda
yang saling bersentuhan, perbedaan suhu awal antara kedua benda, dan
konduktivitas panas dari kedua benda tersebut. Konduktivitas panas ialah
tingkat kemudahan untuk mengalirkan panas yang dimiliki suatu benda.
(Holman, 1981)
Konveksi adalah pengangkutan kalor oleh gerak dari zat yang
dipanaskan. Proses perpindahan kalor secara aliran/konveksi merupakan satu
fenomena permukaan. Proses konveksi hanya terjadi di permukaan bahan.
Jadi dalam proses ini struktur bagian dalam bahan kurang penting. Keadaan
permukaan dan keadaan sekelilingnya serta kedudukan permukaan itu adalah
yang utama. Lazimnya, keadaan keseirnbangan termodinamik di dalam bahan
akibat proses konduksi, suhu permukaan bahan akan berbeda dari suhu
sekelilingnya (Kern, 1950).
14
4. Efisiensi Boiler
Efisiensi adalah level kemampuan dari kerja suatu alat. Jadi efisiensi
pada boiler adalah tingkatan atau level kemampuan kerja yang terjadi pada
boiler atau ketel uap yang didapat dari perbandingan antar energi yang
dipindahkan oleh fluida kerja didalam ketel dengan masukan energi kimia
dari bahan bakar. Sedangkan pengertian dari efisiensi secara bahasa adalah
suatu ukuran keberhasilan sebuah kegiatan yang dinilai berdasarkan besarnya
biaya atau sumber daya yang digunakan untuk mencapai hasil yang
diinginkan. Dalam hal ini, semakin sedikit sumber daya yang digunakan
untuk mencapai hasil yang diharapkan maka prosesnya dapat dikatakan
semakin efisien. Suatu kegiatan dapat dikatakan efisien jika ada perbaikan
pada prosesnya, misalnya menjadi lebih cepat atau lebih murah.
ASME Standard PTC 4 – 2008 merupakan standar untuk melakukan
performance test boiler (fuel fired steam generator). Tingkat akurasi tes
tertentu dipengaruhi oleh factor bahan bakar yang digunakan dan faktor
operasi. Pedoman berdasarkan ASME PTC 4. 1998, ada dua metode yang
15
Solid State Relay atau yang sering disingkat SSR merupakan sebuah
saklar elektromekanik yang memiliki sifat semi konduktor. Komponen satu
ini biasanya banyak diaplikasikan pada industri-industri sebagai device
pengendali. Solid State Relay (SSR) merupakan tipe terbaru saklar elektronik
non kontak yang memiliki performa dan teknologi serta peralatan asing yang
canggih. Sedikit berbeda dangan fungsi relay pada umumnya, cara kerja Solid
State Relay sederhana saja. Ujung input hanya membutuhkan arus dengan
kontrol yang kecil serta kompatibilitas yang lebih baik dengan TTL, HTL,
CMOS Integrated Circuit.
SSR juga menggunakan sirkuit keluaran yang mengadopsi thyristor dan
transistor berdaya tinggi yang berfungsi untuk menyambung dan memutuskan
arus beban. Solid State Relay sangat banyak digunakan pada berbagai macam
peralatan elektronik yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti diantaranya adalah berbagai peralatan seperti periferal komputer,
termostat pemanas listrik, mesin CNC, remote control maupun peralatan
otomatis industri. Kelebihan dan kekurangan Solid State Relay dibandingkan
dengan relay konvensional antara lain dapat dibedakan dengan beberapa hal.
Salah satunya adalah pada sistem pengoperasiannya serta reformasinya.
(Agung, n.d.)
e. Tidak seperti relay konvensional. Solid state relay sangat kebal dengan
getaran atau goncangan.
Kekurangan Solid State Relay
a. Tegangan yang dikontrol oleh SSR ini benar-benar tidak murni sehingga
dapat berimbas ada komponen-komponen SSR yang lainnya.
b. Terbuat dari bahan silikon, maka pada alat ini akan terdapat tegangan jatuh
antara tegangan input dan output. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya
tegangan drop.
c. Dapat terjadi arus bocor (Leakage current). Dimana pada Solid Relay State
yang dalam keadaan on atau off maka dalam kondisi yang ideal seharusnya
tidak ada arus yang mengalir pada SSR. Namun tidak demikian pada
komponen yang sebenarnya.
d. Susah untuk diimplementasikan pada aplikasi multi fasa.
e. Harganya jauh lebih mahal dari relay konvensional.
7. Thermocouple
(Thermocouple) adalah jenis sensor suhu yang digunakan untuk
mendeteksi atau mengukur suhu melalui dua jenis logam konduktor berbeda
yang digabung pada ujungnya sehingga menimbulkan efek “Thermo-
electric”. Efek Thermo-electric pada Termokopel ini ditemukan oleh seorang
fisikawan Estonia bernama Thomas Johann Seebeck pada Tahun 1821,
dimana sebuah logam konduktor yang diberi perbedaan panas secara gradient
akan menghasilkan tegangan listrik. Perbedaan Tegangan listrik diantara dua
persimpangan (junction) ini dinamakan dengan Efek “Seeback”.
Termokopel merupakan salah satu jenis sensor suhu yang paling
populer dan sering digunakan dalam berbagai rangkaian ataupun peralatan
listrik dan Elektronika yang berkaitan dengan Suhu (Temperature). Beberapa
kelebihan Termokopel yang membuatnya menjadi populer adalah responnya
yang cepat terhadap perubahaan suhu dan juga rentang suhu operasionalnya
yang luas yaitu berkisar diantara -200˚C hingga 2000˚C. Selain respon yang
20
cepat dan rentang suhu yang luas, Termokopel juga tahan terhadap
goncangan/getaran dan mudah digunakan. (Kho, 2020b)
1) Termokopel Tipe E
Bahan Logam Konduktor Positif : Nickel-Chromium
Bahan Logam Konduktor Negatif : Constantan
Rentang Suhu : -200˚C – 900˚C
2) Termokopel Tipe J
Bahan Logam Konduktor Positif : Iron (Besi)
Bahan Logam Konduktor Negatif : Constantan
Rentang Suhu : 0˚C – 750˚C
3) Termokopel Tipe K
Bahan Logam Konduktor Positif : Nickel-Chromium
Bahan Logam Konduktor Negatif : Nickel-Aluminium
22
C. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan model konseptual yaitu tentang bagaimana
teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai
masalah yang penting. Berikut adalah kerangka berpikir dalam penelitian ini,
disajikan dalam gambar dibawah ini:
23
Mulai
Identifikasi
Masalah
Studi Literatur
Perancangan Produk
Pengaplikasian Produk
pada mesin burner boiler TIDAK
Pengujian
YA
Hasil
Selesai
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan alat Burner Boiler pada
skala industri menggunakan Thermostat Digital REX C100. Untuk mendapatkan
kebenaran ilmiah maka penelitian ini menggunakan metode R&D (Research and
Development). Adapun yang dimaksud dengan R&D adalah metode penelitian
yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan untuk
menyempurnakan suatu produk yang sesuai dengan acuan dan kriteria dari
produk yang dibuat sehingga menghasilkan produk yang baru melalui berbagai
tahapan dan validasi. Untuk dapat menghasilkan produk digunakan yang bersifat
analisis kebutuhan (digunakan metode survei dan kualitatif) dan untuk menguji
keefektifan produk tersebut supaya dapat berfungsi di suatu industri, maka
diperlukan penelitian untuk menguji keefektifan tersebut (digunakan metode
eksperimen). (Sugiyono, 2011)
B. Lokasi/Fokus Penelitian
1. Lokasi
Lokasi penelitian dalam pengambilan data dan perancangan dilakukan
di DIV LINEN CRYSTAL CLEAN yang beralamtkan Jl. Delta Mas VI
No.28, Kuningan, Kec. Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah
50176.
2. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah merencanakan burner boiler pada skala
industri dengan menggunakan Thermostat Digital REX C100 agar dapat
mengontrol kinerja burner boiler secara otomatis. Karena dari beberapa
penelitian yang sudah dilakukan burnel boiler menggunakan sistem manual
untuk menyalakan dan mematikannya.
24
25
C. Variabel Penelitian
Sugiyono, (2015: 60-61) Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang
berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga
diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditariknya kesimpulan.
1. Variabel Independen (bebas)
Variabel yang mempengaruhiatau yang menyebabkan perubahan
sehingga mengakibatkan timbulnya variabel terikat (dependen). Pada
penelitian ini yang menjadi variabel bebas (Independen) adalah Variasi suhu
target mesin pemanas.
2. Variabel Depende (terikat)
Pada penelitian ini yang menjadi variabel dependen (terikat) adalah
keakuratan kontrol otomatis mesin pemanas terhadap suhu target.
D. Desain Penelitian
Desain penelitian adalah rangkaian prosedur dan metode yang dipakai
untuk menganalisis dan menghimpun data untuk menentukan variabel yang
akan menjadi topik penelitian. Atau bisa didefinisikan sebagai strategi yang
dilakukan peneliti untuk menghubungkan setiap elemen penelitian dengan
sistematis sehingga dalam menganalisis dan menentukan fokus penelitian
menjadi lebih efektif dan efisien.
Desain penelitian ini dilakukan berdasarkan diagram alir pembuatan alat
berikut ini:
26
Mulai
Pengumpuln
Data
Perancangan Sistem
Perakitan Sistem
Pengujian
Sistem
Analisa
Sistem
Selesai
E. Proses Eksperimen
1. Persiapan Eksperimen
Sebelum memasuki tahap pembuatan alat, terlebih dahulu dilakukan
persiapan dengan membuat blok diagram. Blok diagram rangkaian
merupakan salah satu bagian terpenting dalam perancangan alat untuk
28
Power Supply
220V
SSR-40 DA
Thermostat
Thermocouple
Digital REX
(Sensor Suhu)
C100
Pemanas
c. SSR-40 DA (Relay)
Merupakan saklar elektronik yang menggunakan semikonduktor yang
bisa mengendalikan aliran arus listrik lebih besar dengan kontrol hanya
menggunakanarus kecil.
d. Pemanas
Merupakan sebuah komponen perpindahan panas yang
menggabungkan konduksi dan transisi fase fluida untuk menghasilkan panas
yang efektif.
e. Power Supply 220V
Merupakan sebuah perangkat keras yang berfungsi memberikan suplai
tegangan listrik ke sistem agar dapat beroprasi.
2. Pelaksanaan Eksperimen
Pembuatan alat pemanas otomatis pada mesin burner boiler ini terdapat
beberapa tahap yaitu:
a. Persiapan Alat dan Bahan
Persiapan alat dan bahan adalah mempersiapkan kebutuhan yang
akan digunakan dalam proses eksperimen pembuatan alat pemanas
otomatis pada mesin burner boiler.
1) Alat
a) Alat Ukur/Digital Voltmeter
b) Toolset atau perkakas listrik
c) Alat ukur temperatur digital
2) Bahan
a) Mesin Burner Boiler
b) Thermometer Digital REX C100
c) Thermocouple (Sensor Suhu)
d) SSR-40 DA (Relay)
e) Healting Pipe (Pemanas)
f) Kabel Powe Supply
g) Box Panel
30
• Healting pipe
Terminal Healting Pipe = Terminal Power Supply 220V
c. Pengoprasian Alat
Pengoprasian alat ini bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Pastikan terlebih dahulu alat sudah terhubung dengan sumber tegangan
220V.
2) Tempelkan atau masukan Thermocouple (Sensor Suhu) di bagian mesin
Burner Boiler agar sensor dapat membaca nilai suhu boiler.
3) Hasil dari nalai sensor akan di tampilkan di Digital REX C100
4) Setting target suhu pada Digital REX C100 (contoh setting target di
suhu 200°C)
5) Dengan target yang sudah di setting ketika suhu sudah mencapai target
pemanas akan otomatis mati dan ketika suhu menurun pemanas akan
kembali menyala.
3
4
5
Tabel 3.2 Hasil Pengujian Durasi Waktu Berdasarkan Variasi Volume Boiler
Suhu Mesin Boiler Kondisi Mesin
No. Waktu (Menit
(°C) Boiler
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
1. Grafik
2. Tabel
3. Presentasi
4. Diagram
H. Jadwal
Jadwal penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
Bulan
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Studi Literature
Pembuatan
2
Proposal
3 Seminar Proposal
4 Pembuatan Alat
Pembuatan
5
Program
6 Pengujian Alat
Pengumpulan
7
Data
8 Analisa Data
Implementasi
9
Data
Penulisan
10
Laporan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dan pembahasan pada bab ini merupakan hasil proses perancangan dan
pengujian alat yang telah dikerjakan oleh peneliti. Setelah dilakukan pengujian
dapat diketahui bahwa apakah alat yang telah dirancang sesuai dengan tujuan
penelitian atau masih mengalami kesalahan atau perlu diadakan perbaikan. Dalam
setiap pengujian dilakukan dengan pengukuran yang nantinya akan digunakan
untuk menganalisa apakah alat ini bekerja sesuai dengan yang diharapkan oleh
peneliti.
Modul REX
Power Supply Indikator
C-100
Thermostat Boiler
34
35
Pada gambar diatas terlihat bahwa pada modul terdapat display untuk
menampilkan nilai suhu dan target dari suhu yang akan dicapait serta tombol
untuk mengatur target suhu sesuai dengan penelitian yang akan dilaksanakan.
Pada bagian belakang modul memiliki beberapa terminal atau pin sebagai
fungsi untuk menghubungkan komponen-komponen pendukung lainnya. Dan
pada terminal atau pin terdapat kabel penghubung antara Modul dan
komponen lainnya. Untuk pin 9 dan 10 pada modul terhubung dari masukan
sensor yaitu kabel biru dan merah. Untuk pin 1 dan 6 untuk keluaran ke
indikator lampu dan pin 4 dan 5 terhubung ke SSR atau relay yang terhubung
ke mesin boiler yang akan mengontrol kondisi mesin.
3. Rangkaian Thermostat
Rangkaian Termostat adalah rangkaian elektronika yang bisa mengatur
suhu dalam sebuah ruangan. Termostat ini merupakan alat untuk mengatur
suhu secara otomatis yang bekerja karena adanya perubahan suhu. Termostat
berfungsi sebagai pengatur suhu agar temperatur dalam sebuah ruangan selalu
konstan/stabil sesuai kebutuhan. Pada rangkaian sensor suhu terdapat 2 warna
37
pada ujung kabel yaitu merah yang terhubung ke 10 pada modul dan biru yang
terhubung ke pin 9.
B. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ialah proses pengaturan dan pengelompokan baik tentang
informasi suatu kegiatan berdasarkan fakta melalui usaha pikiran peneliti dalam
mengolah dan menganalisa objek atau topik penelitian secara sistematis dan
objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis
sehingga terbentuk sebuah prinsip-prinsip umum atau teori. Adapun isi pada
tahap ini adalah pengujian hasil sebuah komponen maupun sistem alat.
Pengujian komponen maupun sistem merupakan sebuah tahapan
pengujian yang dilakukan untuk mengetahui apakah kinerja setiap komponen
penyusun sistem telah sesuai dengan perancangan yang diharapkan. Pengujian
ini terdiri dari lima bagian, yaitu yang pertama pengujian sumber tegangan pada
rangkaian elektrikal yang bertujuan untuk mengetahui rangkaian elektrikal dapat
hidup atau bekerja. Kedua pengujian Display yang bertujuan untuk
menampilkan hasil pembacaan sensor maupun perintah penampilan karakter
oleh pusat data. Ketiga pengujian aktifasi sensor yang bertujuan untuk
mengetahui apakah sensor dapat membaca perubahan nilai suhu. Keempat
39
pengujian akurasi sensor yang bertujuan untuk membandingkan dengan alat uji
yang berstandar untuk melihat selisih. Dan terakhir adalah pengujian sistem
keseluruhan yaitu komponen pada rangkaian kontrol sistem safety pada mesin
burner boiler dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan tujuan penelitian.
1. Pengujian Catu Daya
Pengujian catu daya bertujuan untuk mengetahui bahwa catu daya
memberikan supply dengan baik atau sesuai kepada sistem alat agar alat
tersebut bekerja dengan baik. Sumber tegangan yang digunakan pada alat ini
adalah sumber tegangan dengan daya 220V. Tabel hasil pengujian catu daya
ditunjukan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil Pengujian Rangkaian Catu Daya
Bagian yang Kriteria
No. Hasil Pengukuran
diukur Pengujian
Tegangan
1. 220V
Catu Daya 1
40
Tegangan
2.
Catu Daya 2
dapat mengirimkan data tersebut ke LCD pada modul rex c100. Adapun
proses pengujian sensor suhu ini dapat diperlihatkan pada Gambar 4.7 dan
tabel hasil pengujian yang ditunjukan pada Tabel 4.2.
Keterangan:
X = Data Sebenarnya
42
Xi = Data Terukur
% Error = Ralat Systematic
pada setiap percobaan adalah suhu alat yang ditunjukan pada LCD dan
kondisi mesin boiler. Pada analisis data penelitian akan dicatat dan
ditunjutkan pada Tabel 4.3.
7. 35 68 Hidup
8. 40 80 Hidup
9. 45 76 Hidup
10. 50 79 Hidup
11. 55 70 Hidup
12. 60 68 Hidup
13. Troubleshooting (200°C) Mati
3. 15 67 Hidup
4. 20 73 Hidup
5. 25 67 Hidup
6. 30 63 Hidup
7. 35 67 Hidup
8. 40 79 Hidup
9. 45 78 Hidup
10. 50 79 Hidup
11. 55 72 Hidup
12. 60 72 Hidup
13. Troubleshooting (200°C) Mati
C. Pembahasan
Dari hasil pengujian komponen sistem yang telah dilaksanakan dari mulai
pengujian catu daya hingga pengujian kelayakan sistem didapat, pada pengujian
pertama yaitu pengujian catu daya. Dapat dilihat pada tabel 4.1 pengujian
sumber tegangan yang bertujuan untuk mengatahui bahwa catu daya
memberikan supply yang baik atau sesuai dengan sistem alat yang telah
dirancangan dapat bekerja dengan baik. Adapun hasil dari pengujian ini yaitu
sebesar 221,5V dan 219,8V. Pengujian ini menggunakan multimeter yang
berbeda walaupun memiliki selisih hal ini tidak menjadikan masalah atau efek
terhadap rangkaian elektrikal dan dapat dijadikan toleransi.
Pada pengujian kedua pengujian LCD atau tampilan yang terdapat pada
alat sistem kontrol keamanan terakhir pada mesin boiler. Dapat dilihat pada
gambar 4.6 menunjukan bahwa hasil pengujian telah memenuhi kriteria
pengujian yakni dapat menampilkan nilai daripada sensor suhu. Pada pengujian
ketiga merupakan pengujian aktifasi sensor hal ini agar ketika kontrol suhu pada
mesin boiler sesuai dengan suhu semestinya. Berdasarkan hasil yang
dilaksanakan dapat dilihat pada gambar 4.6 hasil pengujian aktifasi sensor dapat
membaca nilai suhu dengan menampilkan pada LCD (Display).
46
100 95
75 80 79 79
68 73 73 80 79 79 8278 79 79
77 77 68 67 76 75 76
80 68
71 69 72 72 73 69 72
70 72 69 6872
Temperatur (°C)
67 68 68 67
65
51 62 63
51 58 56
60
52 53
40
20
0
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
Waktu (Menit)
penelitian yaitu dapat mengontrol suhu serta menjaga keamanan pada mesin agar
tidak terjadi gangguan khusunya pada temperatur atau suhu.
BAB V
PENUTUP
Pada bagian akhir dari skripsi ini, peneliti akan mengemukakan beberapa
kesimpulan dan saran yang didasarkan pada temuan hasil penelitian dan uraian pada
bab-bab sebelumnya mengenai masalah yang diteliti, yaitu merancang suatu sistem
kontrol safety pada burner boiler sebagai pencegahan keamaanan pada skala
industri menggunakan thermostat digital REX C100.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data, peneliti menarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Alat kontrol safety pada mesin boiler dapat menggunakan modul REX C100
dikarenakan modul REX C100 memeliki akurasi pembacaan suhu dengan
error tidak lebih dari 1% (0,001%). Suhu terendah yang dibaca oleh sensor
adalah 52°C dan suhu tertinggi yang dibaca oleh sensor adalah 200°C.
2. Penggunaan perangkat komponen modul REX C100 dapat mengontrol
pengoprasian mesin bolier secara otomatis ketika suhu melebihi ambang
batas sebesar 200°C boiler akan berhenti bekerja.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperlukan dari data-data dilapangan,
pada dasarnya peneliti ini berjalan baik. Namun bukan suatu kekeliruan apabila
peneliti ingin mengemukakan beberapa saran yang mudah-mudahan
bermanfaaat bagi kemajuan pendidikan pada umumnya. Adapun saran peneliti
ajukan adalah sebagai berikut:
1. Pada alat sistem kontrol agar tidak hanya mengontrol suhu boiler tetapi dapat
mengontrol tekanan boiler sesuai dengan kebutuhan kinerja boiler.
2. Pemberian peringatan bisa ditambahkan berupa sirine suara agar ketika dalam
pabrik atau ruangan yang terdapat tempat yang berisik dapat terderdengar jika
suhu boiler melebihi ambang batas.
50
51
Adnyana, D. N. (2007). Penelitian Kerusakan Pada Sebuah Pipa Ketel Uap. 9(2),
63–70.
Agung. (n.d.). Pengertian SSR (Solid State Relay). [Link].
[Link]
Anonim. (2022). 10 Persoalan Boiler Yang Lumrah. [Link].
[Link]
Aswan, A., Susilowati, E., & Juriwon. (2007). ANALISIS ENERGI BOILER PIPA
AIR MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR SOLAR.
Buchori, L. (2011). Buku Ajar Perpindahan Panas. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang.
Daya, A. T. (2020). Mengetahui Kegunaan Boiler untuk Industri.
[Link]. [Link]
boiler-untuk-industri/
Einstein, D., Worrell, E., & Khrushch, M. (2001). Steam Systems in Industry:
Energy Use and Energy Efficiency Improvement Potentials. University of
California.
Holman, J. P. (1981). Heat Transfer. McGRAW-HILL INTERNATIONAL BOOK
COMPANY, New York.
Ibnu. (2021). Pengertian Perencanaan: Karakteristik, Tujuan, dan Jenis-jenisnya.
Accurate. [Link]
Kho, D. (2020a). Pengertian Solid State Relay (SSR) dan Cara Kerjanya.
Teknikelektronika.Com2. [Link]
state-relay-ssr-cara-kerja-ssr/
Kho, D. (2020b). Pengertian Termokopel (Thermocouple) dan Prinsip Kerjanya.
Teknik Elektro. [Link]
thermocouple-dan-prinsip-kerjanya/
M. Usemahu Taher. (2018). Optimalisasi Pengoperasian Boiler dalam
Memproduksi Uap untuk Menunjang Pengoperasian Kapal MV. Sinar Kutai.
11(2), 16–21.
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62