0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan75 halaman

Kontrol Safety Boiler dengan REX C100

Skripsi ini membahas perancangan sistem kontrol safety untuk water tube pada burner boiler menggunakan thermostat digital REX C100. Sistem ini dirancang untuk mengatur suhu dan level air secara otomatis agar tidak terjadi overheating yang dapat merusak boiler. Dengan menggunakan modul REX C100, sistem dapat mengontrol operasi mesin boiler secara efisien saat suhu melebihi batas yang ditentukan.

Diunggah oleh

Gusti Adji Sentono
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan75 halaman

Kontrol Safety Boiler dengan REX C100

Skripsi ini membahas perancangan sistem kontrol safety untuk water tube pada burner boiler menggunakan thermostat digital REX C100. Sistem ini dirancang untuk mengatur suhu dan level air secara otomatis agar tidak terjadi overheating yang dapat merusak boiler. Dengan menggunakan modul REX C100, sistem dapat mengontrol operasi mesin boiler secara efisien saat suhu melebihi batas yang ditentukan.

Diunggah oleh

Gusti Adji Sentono
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERANCANGAN SISTEM KONTROL SAFETY WATER TUBE PADA

BURNER BOILER MENGGUNAKAN THERMOSTAT


DIGITAL REX C100

SKRIPSI

MUHAMMAD RIFA’AN
NPM 17650048

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2024
PERANCANGAN SISTEM KONTROL SAFETY WATER TUBE PADA
BURNER BOILER MENGGUNAKAN THERMOSTAT
DIGITAL REX C100

SKRPSI

Diajukan kepada Fakultas Teknik dan Informatika


Universitas PGRI Semarang Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

MUHAMMAD RIFA’AN
17650048

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2024

ii
HALAMAN PERSETUJUAN

SKRIPSI

PERANCANGAN SISTEM KONTROL SAFETY WATER TUBE PADA


BURNER BOILER MENGGUNAKAN THERMOSTAT
DIGITAL REX C100

Disusun dan diajukan oleh


MUHAMMAD RIFA’AN
17650048

“Telah disetujui oleh pembimbing untuk dilanjutkan dihadapan Dewan Penguji”


Pada tanggal: 10 Juni 2024

Menyetujui,

Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,

Aan Burhanuddin, S.T., M.T. Yuris Setyoadi, [Link]., M.T


NIP/NPP. 148301458 NIP/NPP. 138201417

iii
HALAMAN PENGESAHAN

PERANCANGAN SISTEM KONTROL SAFETY WATER TUBE PADA


BURNER BOILER MENGGUNAKAN THERMOSTAT
DIGITAL REX C100

Disusun dan diajukan oleh


MUHAMMAD RIFA’AN
17650048

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 10 Juni 2024


dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Ketua, Sekretaris,

Ibnu Toto Husodo, S.T., M.T. Yuris Setyoadi, [Link]., M.T


NIP. 136901387 NIP. 138201417

Penguji I, Penguji II,

Aan Burhanuddin, S.T., M.T. Agus Mukhtar, [Link]., M.T.


NIP. 148301458 NIP. 0622088101

Penguji III,

Rifki Hermana, S.T., M.T.


NIP. 208001557
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto:

“Menuntut ilmu adalah takwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-


ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad.” – Abu Hamid Al Ghazali

“Hiduplah seakan-akan kamu akan mati hari esok dan belajarlah seolah kamu
akan hidup selamanya.” – Mahatma Gandhi

Persembahan:
Karya Tulis Ilmiah ini saya persembahkan kepada diri saya sendiri yang
sudah berjuang dan bertahan sampai titik ini, segala keluh dan kesah yang pernah
disampaikan akhirnya terbayarkan, namun ini bukan akhir tapi awal bagi saya untuk
memasuki masa kehidupan yang sebenarnya.

v
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama : Muhammad Rifa’an
NPM : 17650048
Program Studi : Teknik Mesin
Judul Skripsi : Perancangan Sistem Kontrol Safety Water Tube Pada Burner
Boiler Menggunakan Thermostat Digital Rex C100

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya serahkan ini benar-
benar merupakan hasil karya sendiri, kecuali kutipan-kutipan dari ringkasan yang
semuanya telah saya jelaskan sumbernya. Apabila dikemudian hari saya terbukti
atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, maka sanksi apapun yang diberikan
saya akan terima.

Semarang, Juni 2024


Yang Membuat Pernyataan

Muhammad Rifa’an
NPM : 17650048
ABSTRAK

Boiler merupakan bagian penting dalam dunia industri. Uap panas yang
dihasilkan boiler biasa digunakan untuk berbagai proses produksi industri. Boiler
dalam proses kerjanya akan mengubah air menjadi uap dengan menambahkan
panas. Dilihat dari segi pemanasan oleh burner, suhu hasil pemanasan tidak boleh
terlalu tinggi (over heating). Suhu yang terlalu tinggi akan menyebabkan tekanan
di dalam boiler menjadi tinggi juga. Tekanan yang terlalu tinggi akan menyebabkan
kerusakan pada boiler karena dalam pembuatannya, boiler memiliki batas tekanan
yang diijinkan. Maka dari itu, diperlukan sebuah sistem pengaturan yang bekerja
secara otomatis dalam mengendalikan kerja motor pompa air dan alat pemanas
untuk menghasilkan level air dan kondisi suhu yang konstan sesuai dengan nilai
parameter yang telah ditentukan. Dari hasil hasil pengolahan dan analisis data yang
telah didapatkan alat kontrol safety pada mesin boiler dapat menggunakan modul
REX C100 karena dapat bekerja sesuai dengan fungsinya dan penggunaan
perangkat komponen REX C100 pada sistem ini dapat melakukan pembacaan
sensor dan dapat mengontrol pengoprasian mesin bolier secara otomatis ketika suhu
melebihi batas yang tidak di inginkan sebesar 200°C.

Kata kunci: Sistem Kontrol Safety, Burner Boiler, Thermostat

vii
PRAKATA

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan terhadap kehadirat Allat SWT, yang


telah melimpahkan rahmat hidayah dan karunia-Nya pada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Judul penulis pilih dalam penulisan
skripsi ini adalah : “Perancangan Sistem Kontrol Safety Water Tube Pada
Burner Boiler Menggunakan Thermostat Digital Rex C100”
Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis ingin
mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua baik pihak yang telah
banyak membantu dalam penulisan skripsi ini, terutama kepada:
1. Ibu Dr. Sri Suciati, [Link], selaku Rektor Universitas PGRI Semarang yang
telah memberikan kesempatan, untuk menyelesaikan studi di Universitas PGRI
Semarang.
2. Bapak Ibnu Toto Husodo, S.T., M.T., selaku Dekan FTI yang telah
memberikan izin penelitian dalam rangka penyusunan skripsi.
3. Yuris Setyoadi, [Link]., M.T., selaku Kepala program studi Teknik Mesin dan
selaku pembimbing II yang telah saran dan masukan dalam penyusunan
penulisan ini.
4. Aan Burhanuddin, S.T., M.T. selaku Pembimbing I dengan penuh ketelitian
memberikan bimbingan dan arahan dalam merancang pembuatan alat.
5. Bapak dan Ibu Dosen Teknik Mesin Universitas PGRI Semarang yang telah
mendidik dan membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan studi S1 di
program studi Teknik Mesin.
6. Orang tua yang senantiasa memberikan dukungan dan doa dalam menyelesaikan
skripsi
7. Istri tercinta Alis Shofiyani terimakasih telah memberi semangat dan segala
dukungan dalam tersusunnya Skripsi ini. Terimakasih juga telah menemani dan
berjuang bersama selama ini dalam meraih hal-hal yang ingin dicapai bersama.
8. Bagi seluruh teman-teman lainnya yang telah membantu penulis dalam
pembuatan dan penyelesaian skripsi ini.

viii
9. Semua pihak yang membantu dalam penulisan skripsi ini yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat


kekurangan untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran. Akhir kata, penulis
berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak demi
perkembangan dan kemajuan akademik.

Semarang, Juni 2024


Penulis

Muhammad Rifa’an
17650048

ix
DAFTAR ISI

SAMPUL LUAR .................................................................................................... i


SAMPUL DALAM ................................................................................................ ii
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................ iii
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................................ v
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ........................................................... vi
ABSTRAK ........................................................................................................... vii
PRAKATA .......................................................................................................... viii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xiii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................ 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................................... 3
C. Pembatasan Masalah ................................................................................... 3
D. Perumusan Masalah ..................................................................................... 3
E. Tujuan Penelitian......................................................................................... 4
F. Manfaat Penelitian....................................................................................... 4
G. Penegasan Istilah ......................................................................................... 4
H. Sistematika Penulisan Skripsi ..................................................................... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA ................................................................................ 7
A. Tinjauan Pustaka ......................................................................................... 7
B. Landasan Teori ............................................................................................ 8
C. Kerangka Berpikir ..................................................................................... 22
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 24
A. Pendekatan Penelitian ............................................................................... 24
B. Lokasi/Fokus Penelitian ............................................................................ 24
C. Variabel Penelitian .................................................................................... 25
D. Desain Penelitian ....................................................................................... 25

x
E. Proses Eksperimen .................................................................................... 27
F. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................ 31
G. Teknik Analisa Data .................................................................................. 32
H. Jadwal ........................................................................................................ 33
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 34
A. Implementasi Sistem Produk ..................................................................... 34
B. Hasil Penelitian ......................................................................................... 38
B. Pembahasan ............................................................................................... 45
BAB V PENUTUP ............................................................................................... 50
A. Kesimpulan................................................................................................ 50
B. Saran .......................................................................................................... 50
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 52
LAMPIRAN ......................................................................................................... 54

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Ketel Uap Pipa Api ............................................................................10


Gambar 2.2 Prinsi Sirkulasi Alami ........................................................................12
Gambar 2.3 Prinsip Sirkulasi Paksa .......................................................................13
Gambar 2.4 Thermostat Digital REX C100 ...........................................................17
Gambar 2.5 SSR (Solid State Relay) ......................................................................18
Gambar 2.6 Prinsip Thermocouple (Sensor suhu) .................................................21
Gambar 2.7 Thermocouple (Sensor suhu) .............................................................22
Gambar 2.8 Skema Kerangka Berpikir ..................................................................24
Gambar 3.1 Diagram Alur Penelitian ................................................................ 30
Gambar 3.2 Blok Diagram Alat Pemanas Otomatis ..............................................32
Gambar 3.3 Wiring Alat Pemanas Otomatis ..........................................................34
Gambar 4.1 Diagram Blok Alur Kerja Alat ...........................................................38
Gambar 4.2 Modul REX C-100 .............................................................................39
Gambar 4.3 Rangkaian Thermostat........................................................................40
Gambar 4.4 Rangkaian Lampu Indikator ...............................................................41
Gambar 4.5 Rangkaian Keseluruhan Kontrol Boiler .............................................41
Gambar 4.6 Tampilan LCD (Display) ...................................................................44
Gambar 4.7 Proses Pengujian Sensor.....................................................................44
Gambar 4.8 Grafik Pengujian Kelayakan Sistem ..................................................51

xii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perbandingan Metode Langsung Dan Tidak Langsung .........................16


Tabel 2.2 Spesifikasi Thermostat Digital REX C100 ............................................21
Tabel 3.1 Hasil Pengukuran Suhu Dengan Alat Ukur Standart. ...........................35
Tabel 3.2 Hasil Pengujian Durasi Waktu Berdasarkan Variasi Volume ........... 36
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian....................................................................................37
Tabel 4.1 Hasil Pengujian Rangkaian Catu Daya ..................................................43
Tabel 4.2 Hasil Pengujian Sensor ..........................................................................46
Tabel 4.3 Hasil Pengujian Sistem Pertama Kapasitas 50Kg ..................................47
Tabel 4.4 Hasil Pengujian Sistem Pertama Kapasitas 100Kg ................................47
Tabel 4.5 Hasil Pengujian Sistem Kedua Kapasitas 50Kg ....................................48
Tabel 4.6 Hasil Pengujian Sistem Kedua Kapasitas 100Kg ..................................48
Tabel 4.7 Margin of Error .....................................................................................51

xiii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemakaian uap pada proses produksi dipengaruhi faktor melimpahnya air
sebagai bahan baku penghasil uap. Untuk mendidihkan air tersebut diperlukan
energi yang diperoleh dari sumber panas, misalnya dari pembakaran bahan bakar
(padat, cair dan gas), tenaga listrik, gas panas sebagai sisa proses kimia serta
tenaga nuklir. Pemanfaatan boiler sebagai penghasil uap ditujukan untuk proses
produksi dan penghasil energi. Secara umum dalam dunia industri membutuhkan
sarana pemanas dalam proses produksinya. Sarana yang dipakai terutama untuk
industri pengolahan kecil dan menengah memanfaatkan panas dari uap yang
dihasilkan oleh suatu boiler. (Daya, 2020)
Boiler merupakan bagian penting dalam dunia industri. Uap panas yang
dihasilkan boiler biasa digunakan untuk berbagai proses produksi industri.
Secara umum boiler terdiri dari beberapa sistem diantaranya adalah sistem feed
water, sistem steam dan sistem pembakaran yang terintergrasi menjadi satu
kesatuan. Ruang pembakaran adalah salah satu komponen penting pada boiler,
yang berfungsi sebagai penampil panas yang diperoleh melalui proses
pembakaran. Temperature steam pada ruang bakar sering sekali mengalami
perubahan suhu secara drastis dikarenakan penggunaan bahan bakar tidak stabil
sehingga berpengaruh terhadap temperature steam tersebut. (Suprianto, 2015)
Boiler dalam proses kerjanya akan mengubah air menjadi uap dengan
menambahkan panas. Dalam menghasilkan proses pemanasan yang stabil dan
sempurna, maka hal yang perlu diperhitungkan adalah kapasitas motor pompa
air burner atau alat pemanas, level air, level suhu atau tekanan, dan sistem
pengaman. (Priyanto & Wilastari, 2022)
Dilihat dari sisi pengisian air pada boiler, motor pompa air harus mampu
menyediakan air sesuai dengan kebutuhan boiler. Level air tidak boleh terlalu
penuh untuk menghindari adanya carrie over yang dapat menurunkan kualitas

1
2

steam yang dihasilkan, misalnya steam menjadi terlalu basah, terjadi


pengendapan dan kondensasi di sepanjang pipa distribusi steam, bahkan dapat
menyebabkan kerusakan pada mesin yang berhubungan langsung dengan steam
selama pengoperasiannya. Selain itu, level air di dalam boiler juga tidak boleh
terlalu rendah supaya burner (pemanas) tidak memanaskan ruangan yang tidak
ada airnya. Apabila pemanas atau heater menyala padahal tidak ada air yang
dipanaskan akan dapat menyebabkan material heater mengalami pemanasan
maksimal sehingga akan menyebabkan penurunan kualitas atau umur material
penyusun heater bahkan dapat menyebabkan kerusakan heater. (Anonim, 2022)
Dilihat dari segi pemanasan oleh burner, suhu hasil pemanasan tidak boleh
terlalu tinggi (over heating). Suhu yang terlalu tinggi akan menyebabkan tekanan
di dalam boiler menjadi tinggi juga. Tekanan yang terlalu tinggi akan
menyebabkan kerusakan pada boiler karena dalam pembuatannya, boiler
memiliki batas tekanan yang diijinkan. Di samping itu, jika suhu yang dihasilkan
terlalu rendah maka rendah juga tekanan di dalam boiler. Hal ini dapat
menyebabkan kapasitas uap yang dihasilkan akan turun dan suhu steam yang
diharapkan tidak dapat tercapai. (Adnyana, 2007)
Maka dari itu, diperlukan sebuah sistem pengaturan yang bekerja secara
otomatis dalam mengendalikan kerja motor pompa air dan alat pemanas untuk
menghasilkan level air dan kondisi suhu yang konstan sesuai dengan nilai
parameter yang telah ditentukan.
Salah satu model pengaturan yang banyak digunakan dalam dunia
industri dewasa ini adalah dengan menggunakan alat pengontrol atau mengatur
suhu yaitu yang dapat secara otomatis menghidupkan dan mematikan sistem
pemanas sehingga kondisi atau level suhu tetap terjaga atau stabil sesuai dengan
keinginan dengan menggunakan Thermostat Digital REX C100. Thermostat
Digital REX C100 adalah sebuah rangkaian input – output yang terintegrasi
dalam sebuah modul yang bekerja berdasarkan program yang dibuat. Dengan
menggunakan sensor suhu sebagai input maka alat ini dapat mengatur hidup
atau mati alat pemanas sesuai dengan parameter yang telah didefinisikan.
Alasan yang mendasari penggunaan Thermostat Digital REX C100 sebagai alat
3

kendali diantaranya adalah mempunyai fleksibilitas yang tinggi sebagai alat


kendali. Instalasinya mudah dan cepat karena sistem pengkabelan yang ringkas
dibandingkan jika menggunakan relay, troubleshooting yang mudah dengan
fasilitas monitoring saat sistem yang dikendalikan sedang berjalan.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar beakang diatas, identifikasi masalah yang akan dijadikan bahan
penelitian adalah sebagai berikut:
1. Perlunya sistem keamanan pada Burner Boiler untuk mengatasi suhu yang
berlebih.
2. Sistem kemanan pada Boiler menggunakan sistem mekanik dan tidak dapat
dikontrol secara digital sesuai suhu target yang diinginkan

C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian lebih mengarah pada sasaran dan tidak menyimpang dari
berbagai masalah yang timbul, maka dari itu perlu dibatasi pada:
1. Fokus skripsi ini membahas tentang pengendalian temperatur ruang bakar
burner boiler berbahan bakar solar di industri
2. Direncanakan menggunakan Thermostat Digital REX C100 sebagai kontroler
dan sensor temperatur
3. Proses pemanasan air dilakukan untuk setiap satu jam dan kenaikan suhu
dicatat untuk setiap lima menit terhitung dari waktu sebelumnya.
4. Kenaikan suhu yang dicatat adalah kenaikan suhu yang berasal dari proses
pemanasan air oleh alat pemanas yang berbeda-beda dan volume air
ditetapkan sebagai variabel input yang nilainya dapat diubah.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan Identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang dapat
dibuat sebagai perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana menentukan sistem kontrol yang tepat agar alat dapat di rancang
seusai dengan kebutuhan?
4

2. Bagaimana merancang sistem kontrol keamaan yang dapat beroprasi secara


otomatis agar suhu tidak melebihi ambang batas?

E. Tujuan Penelitian
Sistem kendali yang dirancang adalah suatu sistem pengendalian suhu
hasil pemanasan pada burner boiler. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian
mengenai perancangan sistem kendali otomatis adalah:
1. Menentukan perangkat dan komponen sistem kontrol yang tepat agar alat
dapat di rancang seusai dengan kebutuhan.
2. Merancang sistem kontrol keamaan yang dapat beroprasi secara otomatis agar
suhu tidak melebihi ambang batas sebesar 200°C.

F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin dicapai dari penelitian mengenai perancangan sistem
kendali otomatis pada burner boiler, yaitu:
1. Dapat merancang alat yang dapat mengontrol suhu uap pemanasan di dalam
boiler secara otomatis.
2. Memberikan kemudahan dalam cara kerja untuk mengatasi kondisi-kondisi
yang terjadi di dalam proses pemanasan air menjadi uap.
3. Menghasilkan rujukan dalam mengaplikasikan sistem kendali pada boiler di
dunia industri.
4. Menghasilkan produl implementasi bagi Jurusan Teknik mesin untuk sistem
pengaturan yang menggunakan Thermostat Digital, agar dapat digunakan
sebagai modul penelitian dan percobaaan ataupun simulasi penggunaan alat
atau produk lainnya.

G. Penegasan Istilah
1. Perencanaan
Perencanaan secara umum merupakan suatu upaya dalam menentukan
berbagai hal yang hendak dicapai atau tujuan di masa depan dan juga untuk
menentukan beragam tahapan yang memang dibutuhkan demi mencapai
5

tujuan tersebut. Perencanaan juga sebagai suatu bentuk kegiatan yang sudah
terkoordinasi demi mencapai suatu tujuan tertentu dan juga dalam jangka
waktu tertentu. Sehingga, dalam perencanaan akan terdapat berbagai kegiatan
pengujian pada beberapa arah pencapaian, menganalisa seluruh
ketidakpastian, menilai kapasitas, menentukan tujuan pencapaian, dan juga
menentukan langkah dalam pencapaiannya. (Ibnu, 2021)
2. Otomatis
Otomatis memiliki arti dalam kelas adjektiva atau kata sifat sehingga
otomatis dapat mengubah kata benda atau kata ganti, biasanya dengan
menjelaskannya atau membuatnya menjadi lebih spesifik salah satunya dapat
bekerja sendiri atau beroprasi sendiri.
3. Burner Boiler
Burner adalah sebuah komponen dari boiler yang berfungsi
mengkabutkan bahan bakar minyak yang dibantu oleh tekanan udara yang
diberikan oleh blower dan dibantu oleh elektroda supaya terjadi pembakaran
di ruang bakar. Burner sendiri sangatlah penting pada boiler dikarenakan jika
burner itu sendiri tidak bisa mengkabutkan bahan bakar maka boiler tidak
akan bekerja dengan maksimal. (Syaiful, 2019)
4. Industri
Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan
baku, barang setengah jadi atau barang jadi, menjadi barang yang bermutu
tinggi dalam penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan
perekayasaan industri. Industri merupakan bagian dari proses produksi.
Bahan-bahan industri diambil secara langsung maupun tidak langsung,
kemudian diolah, sehingga menghasilkan barang yang bernilai lebih bagi
masyarakat.
5. Thermostat Digital REX C100
Digital Temperature Controller ini adalah alat yang bisa mengontrol
suhu untuk mengendalikan cooler / heater sesuai dengan settingan yang
diinginkan. Sama seperti prinsip kerja Digital Counter relay, Digital
6

Thermostat ini mempunyai kontak-kontak NO NC pada output settingnya,


serta membutuhkan input power supply dalam kerjanya.

H. Sistematika Penulisan Skripsi


Sistematika penulisan dari penelitian ini dibagi dalam beberapa bab yaitu
sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Pendahuluan terdiri dari latar belakang, identifikasi masalah,
pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat penelitian dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
Kajian pustaka berisikan tentang penunjang teori untuk melakukan
analisis dari hasil penelitian (analisis data).
BAB III : METODE PENELITIAN
Dalam bab ini berisikan tentang hal-hal yang berhubungan dengan
pelaksanaan penelitian, yang terdiri dari uraian dan proses
pengerjaan dari awal hingga akhir penelitian, serta peralatan dan
bahan yang digunakan ketika penelitian
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
Berisikan mengenai data-data hasil penelitian dan pembahasan
untuk menganalisis data yang telah diperoleh seusai penelitian.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini berisikan tentang kesimpulan dari hasil penelitian yang
dilakukan dan juga berisikan saran bagi penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Daftar pustaka terdiri dari dasar pemikiran atau referensi yang
digunakan peneliti untuk menyelesaikan tugas akhir ini.
LAMPIRAN
Lampiran berisikan mengenai perlengkapan data penelitian
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka merupakan proses peninjauan kembali beberapa
penelitian terdahulu tentang topik tertentu. Dalam hal bertujuan agar penelitian
ini mempunyai perbandingan terhadap penelitian sebelumnya.
Pada penelitian pertama dilakukan oleh M. Usemahu Taher (2018) yang
berjudul “Optimalisasi Pengoperasian Boiler dalam Memproduksi Uap untuk
Menunjang Pengoperasian Kapal MV. Sinar Kutai” merupakan penelitan yang
mengkaji tentang Apa yang menyebabkan kualitas air boiler tidak baik dan
penyebab pembakaran pada boiler tidak sempurna. Kejadian ini menunjukan
adanya masalah antara perawatan dengan officer yang bertanggung jawab dalam
menangani permesinan tersebut. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa
kurangnya manajemen perawatan yang dilakukan oleh masinis menjadi faktor
utama permasalahan bisa terjadi. Hal hal yang seharusnya dilaksanakannya
perawatan sesuai jadwal tidak mencapai tujuan yang di inginkan, kendala pun
terjadi. (M. Usemahu Taher, 2018)
Pada penelitian kedua dilakukan oleh Herry Setyawan, Aji Brahma
Nugroho, dan Sumarsono (2020) yang berjudul “Perancangan Prototype Mesin
Boiler Otomatis Pengering Jagung Berbasis PLC (Programmable Logic
Control)” merupakan sebuah perancngan prototype mesin boiler otomatis
berbasis PLC menggunakan Barico Dryer. Dengan menggunakan alat ini, hanya
dibutuhkan waktu 24.95 jam untuk mengeringkan jagung dengan berat 1 kg
memiliki tingkat kadar air pada biji 13– 14 %. Penggunaan mesin boiler dalam
proses pengeringan jagung lebih efektif daripada menggunakan sinar matahari.
Penggunaan daya dengan mesin boiler berbasis PLC lebih hemat di bandingan
tanpa menggunakan PLC. (Setyawan & Nugroho, 2020)
Pada penelitian ketiga dilakukan oleh Mawardi Silaban (2007) yang
berjudul “Penghematan Energi dan Perhitungan Sederhana Menaksir Efisiensi
Boiler” merupakan sebuah analisa perhitungan efisiensi boiler dengan metode

7
8

tidak langsung, efisiensi harian selama satu bulan berkisar 56,4% sampai 72,5%
dan langkah penghematan energi dapat dilakukan pada ekonomiser untuk
preheting boiler feed water , air pre-heater untuk memanasi udara pembakaran,
mengontrol jumlah udara pembakaran masuk burner, isolator boiler dan pipa
serta kontrol otomatis blowe down. (Mawardi Silaban, 2007)

B. Landasan Teori
1. Boiler
Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air
sampai terbentuk air panas atau uap. Komponen penting pada boiler adalah
burner, ruang bakar, penukar panas dan sistem kontrol. Komposisi yang tepat
dalam pencampuran antara bahan bakar dan udara di ruang bakar akan
menghasilkan pembakaran yang sempurna. Panas yang dihasilkan ditransfer ke
air melalui penukar panas. Air panas atau uap pada tekanan tertentu kemudian
digunakan untuk proses produksi. Dalam proses produksi dari air menjadi uap,
dapat terjadi kehilangan panas atau rugi seperti kehilangan panas berupa udara
berlebih dan temperatur yang tinggi pada gas buang dicerobong. Kehilangan
karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam cerobong dan abu. Kehilangan
dari blowdown dan kondensat. Kehilangan konveksi, radiasi dan penguapan air
yang terbentuk karena H2 dalam bahan bakar. (Einstein et al., 2001)
Boiler merupakan salah satu sistem peralatan yang berperan penting dalam
penyempurnaan proses produksi di industri manufaktur. Pertumbuhan industri
boiler dalam negeri akan terjadi dengan improvisasi teknologi yang digunakan
pada boiler. Salah satu pengendalian proses pada boiler adalah level ketinggian
air. Level ketinggian air di dalam drum boiler mengindikasikan volume air yang
terisi pada drum. Permasalahan dalam penelitian pada rancang bangun cross
section water tube boiler adalah ingin mengetahui pengaruh level ketinggian air
di dalam steam drum terhadap saturated steam yang dihasilkan serta
menentukan level ketinggian air yang optimal untuk pengoperasian boiler
mengguanakan bahan bakar solar dan gas. ketel uap berfungsi sebagai sarana
untuk mengubah air menjadi uap bertekanan. Ketel uap diartikan sebagai alat
9

untuk membentukan uap yang mampu mengkonversi energi kimia dari bahan
bakar (padat cair dan gas) yang menjadi energi panas. Uap yang dihasilkan dari
ketel uap merupakan gas yang timbul akibat perubahan fase cair menjadi uap
atau gas melalui cara pemanasan yang memerlukan sejumlah energi dalam
prosesnya. Air yang berdekatan dengan bidang pemanas akan memiliki
temperature yang lebih tinggi (berat jenis yang lebih rendah) di bandingkan
dengan air yang bertemperatur rendah, sehingga air yang bertemperatur tinggi
akan naik kepermukaan danair yang bertemperatur rendah akan turun. Peristiwa
ini terjadi secara terus menerus (sirkulasi) hingga berbentuk uap. Penelitian
tentang boiler dengan pipa longitudinal sebagai superheater untuk menghasilkan
superheated steam dan sistem hanya terdiri dari satu buah drum yang berfungsi
sebagai water drum dan steam drum. Dari penelitian mengenai Longitudinal
Water Tube Boiler tersebut dapat diketahui bahwa masih banyak kekurangan,
salah satunya yaitu sistem longitudinal tube yang artinya susunan tube sejajar
dengan steam drum sehingga mempersempit luas area pada tube dan
memperkecil perpindahan panas yang terjadi pada boiler. (Aswan et al., 2007)

2. Tipe-tipe boiler
a. Ketel Uap Pipa Api (fire tube boiler)

Gambar 2.1 Ketel Uap Pipa Api


(Sumber: Ryan, 2022)
10

Boiler terdapat beberapa klasifikasi. Salah satunya adalah Fire tube


boiler atau ketel uap pipa api. Penamaan ketel uap pipa api karena fluida yang
mengalir pada pipa adalah uap panas hasil pembakaran pada tungku
pembakar. Uap bergerak melalui pipa dan mengalirkan panas secara konduksi
dari permukaan dalam pipa ke bagian luar pipa. Hal ini menyebabkan
penyebaran panas pada air di dalam tabung boiler sehingga air mencapai titik
didih dan berubah menjadi uap.
Pada boiler pipa api, fluida yang mengalir dalam pipa adalah gas nyala,
yang membawa energi panas, yang segera mentransfer ke air melalui bidang
pemanas. Tujuan pipa-pipa api ini adalah untuk memudahkan distribusi panas
kepada air. Pada boiler pipa air ini, fluida yang mengalir dalam pipa adalah
air, energi panas ditransfer dari luar pipa (yaitu dari ruang bakar) ke air.
Panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dan udara, yang
kemudian dipindahkan ke air melalui bidang didalam pipa yang dipanaskan
pada instalasi ketel uap atau boiler. (Ryan, 2022)

b. Water Tube Boiler


Water tube boiler adalah jenis boiler di mana air dipanaskan di dalam
tabung dan gas panas mengelilinginya. Ini adalah definisi dasar boiler tabung
air. Sebenarnya boiler ini merupakan kebalikan dari fire tube boiler dimana
gas panas dilewatkan melalui pipa-pipa yang dikelilingi oleh air. Water tube
boiler diklasifikasikan menurut cara sirkulasi air/uap: sirkulasi alami,
sirkulasi paksa atau terbantu, sekali melalui dan tipe sirkulasi gabungan
boiler. Semua boiler pembangkit listrik saat ini adalah water tube boiler.
Pada water tube boiler terdapat sirkulasi alami, Sirkulasi alami adalah
salah satu prinsip tertua untuk sirkulasi uap/air di boiler. Penggunaannya telah
menurun selama dekade terakhir karena kemajuan teknologi dalam jenis
sirkulasi lainnya. Prinsip sirkulasi alami biasanya diterapkan pada boiler
berukuran kecil dan menengah. Penurunan tekanan untuk boiler sirkulasi
alami sekitar 5-10% dari tekanan uap di dalam uap drum dan suhu uap
maksimum bervariasi dari 540 hingga 560 °C.
11

Sirkulasi air/uap dimulai dari tangki feed water, dimana umpan air
dipompa. Pompa feed water meningkatkan tekanan air umpan ke tekanan
boiler yang diinginkan. Dalam praktiknya, tekanan uap akhir harus di bawah
170 bar agar sirkulasi alami untuk bekerja dengan baik.
Air umpan kemudian dipanaskan terlebih dahulu di economizer pada
titik suhu air hampir mendidih. Untuk mencegah air umpan dari mendidih
dalam pipa economizer, suhu air keluar dari economizer suhu sengaja
disimpan sekitar 10 derajat di bawah suhu didih. Dengan kata lain,
pendekatan suhu 10 K. Dari economizer air umpan mengalir ke steam drum
boiler. Di steam drum airnya tercampur rata dengan air yang ada di steam
drum. Hal ini mengurangi tekanan termal di dalam drum uap. Jenis sirkulasi
ini disebut sirkulasi alami, karena tidak ada pompa sirkulasi air di sirkuit.
Sirkulasi terjadi dengan sendirinya karena perbedaan massa jenis air/uap
antara downcomer dan riser.

Gambar 2.2 Prinsi Sirkulasi Alami


(Sumber: Wiratama, 2022)

Berbeda dengan boiler sirkulasi alami, sirkulasi paksa didasarkan pada


sistem sirkulasi internal yang dibantu pompa sirkulasi air/uap. Pompa
sirkulasi adalah pembeda utama antara sirkulasi alami dan paksa. Dalam jenis
boiler sirkulasi paksa yang paling umum, boiler La Mont, prinsip sirkulasi
paksa pada dasarnya sama dengan sirkulasi alami, kecuali untuk pompa
sirkulasi. Tingkat tekanan operasi boiler sirkulasi paksa dapat sedikit lebih
tinggi dari boiler sirkulasi alami, tetapi karena pemisahan uap/air dalam uap
12

drum didasarkan pada perbedaan massa jenis antara uap dan air, boiler ini
juga tidak cocok untuk tekanan superkritis (>221 bar). Tekanan operasi
maksimum untuk boiler sirkulasi paksa adalah 190 bar dan penurunan
tekanan dalam boiler sekitar 2-3 bar.
Sirkulasi air/uap dimulai dari tangki air umpan, dimana air umpan
dipompa. Pompa air umpan menaikkan tekanan dari air umpan ke tekanan
boiler yang diinginkan. Dalam praktiknya, tekanan uap akhir di bawah 190
bar untuk menjaga uap tetap masuk daerah subkritis. Air umpan kemudian
dipanaskan di economizer hampir sampai titik tekanan didih air. Dalam
sirkulasi paksa, pompa sirkulasi memberikan gaya pendorong untuk sirkulasi
uap/air. Karena pompa memaksa sirkulasi, tabung evaporator dapat dibangun
di hampir semua posisi. Kehilangan tekanan yang lebih besar dapat
ditoleransi dan oleh karena itu tabung evaporator masuk boiler sirkulasi paksa
lebih murah dan memiliki diameter lebih kecil (dibandingkan dengan
sirkulasi alami).
Air jenuh mengalir selanjutnya dari steam drum melalui tabung
downcomer ke mud drum. Biasanya ada beberapa tabung downcomer, yang
tidak dipanaskan dan terletak di luar boiler. Header yang mendistribusikan air
ke tabung evaporator dilengkapi dengan choker (pembatas aliran) untuk
setiap tabung dinding untuk mendistribusikan air secara merata. Air berlanjut
ke tabung riser, di mana ia menguap. Uap dipisahkan di dalam drum uap dan
diteruskan melalui superheater, seperti di sirkulasi alami. (Wiratama, 2022)

Gambar 2.3 Prinsi Sirkulasi Paksa


(Sumber: Wiratama, 2022)
13

3. Perpindahan Panas
Perpindahan panas adalah ilmu yang mempelajari tentang laju
perpindahan panas di antara material/benda karena adanya perbedaan suhu
(panas dan dingin). Perpindahan kalor tidak akan terjadi pada sistem yang
memiliki temperatur sama. Perbedaan temperatur menjadi daya penggerak
untuk terjadinya perpindahan kalor, sama dengan perbedaan tegangan sebagai
penggerak arus listrik. (Buchori, 2011)
Proses perpindahan kalor terjadi dari suatu system yang memiliki
temperatur lebih tinggi ke temperatur yang lebih rendah. Keseimbangan pada
masing – masing sistem terjadi ketika system memiliki temperatur yang sama.
Perpindahan kalor dapat berlangsung dengan 3 (tiga) cara, yaitu:
a. Perpindahan kalor konduksi
b. Perpindahan kalor konveksi (Alami dan Paksa)
c. Perpindahan kalor radiasi
Perpindahan panas konduksi adalah proses perpindahan panas jika
panas mengalir dari tempat yang suhunya tinggi ke tempat yang suhunya
lebih rendah, tetapi media untuk perpindahan panas tetap. Laju aliran panas
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain luas permukaan benda
yang saling bersentuhan, perbedaan suhu awal antara kedua benda, dan
konduktivitas panas dari kedua benda tersebut. Konduktivitas panas ialah
tingkat kemudahan untuk mengalirkan panas yang dimiliki suatu benda.
(Holman, 1981)
Konveksi adalah pengangkutan kalor oleh gerak dari zat yang
dipanaskan. Proses perpindahan kalor secara aliran/konveksi merupakan satu
fenomena permukaan. Proses konveksi hanya terjadi di permukaan bahan.
Jadi dalam proses ini struktur bagian dalam bahan kurang penting. Keadaan
permukaan dan keadaan sekelilingnya serta kedudukan permukaan itu adalah
yang utama. Lazimnya, keadaan keseirnbangan termodinamik di dalam bahan
akibat proses konduksi, suhu permukaan bahan akan berbeda dari suhu
sekelilingnya (Kern, 1950).
14

Perpindahan panas secara konveksi terjad melalui 2 cara yaitu:


a. Konveksi bebas/ konveksi alamiah Konveksi bebas ialah perpindahan
panas yang disebabkan oleh beda suhu dan beda rapat saja dan tidak ada
tenaga dari luar yang mendorongnya. Contoh: plat panas dibiarkan berada
di uadara sekitar tanpa ada sumber gerakan dari luar.
b. Konveksi paksaan Konveksi paksaan ialah perpindahan panas yang aliran
gas atau cairannya disebabkan adanya tenaga dari luar. Contoh: plat panas
dihembus udara dengan kipas/blower.
Perpindahan panas radiasi adalah perpindahan panas yang terjadi
karena pancaran/sinaran/radiasi gelombang elektromagnetik. Perpindahan
panas radiasi berlangsung dengan panjang gelombang pada interval tertentu.
Jadi perpindahan panas radiasi tidak memerlukan media, sehingga
perpindahan panas dapat berlangsung dalam ruangan hampa udara.
Contohnya ialah panas matahari yang sampai ke bumi. (Buchori, 2011)

4. Efisiensi Boiler
Efisiensi adalah level kemampuan dari kerja suatu alat. Jadi efisiensi
pada boiler adalah tingkatan atau level kemampuan kerja yang terjadi pada
boiler atau ketel uap yang didapat dari perbandingan antar energi yang
dipindahkan oleh fluida kerja didalam ketel dengan masukan energi kimia
dari bahan bakar. Sedangkan pengertian dari efisiensi secara bahasa adalah
suatu ukuran keberhasilan sebuah kegiatan yang dinilai berdasarkan besarnya
biaya atau sumber daya yang digunakan untuk mencapai hasil yang
diinginkan. Dalam hal ini, semakin sedikit sumber daya yang digunakan
untuk mencapai hasil yang diharapkan maka prosesnya dapat dikatakan
semakin efisien. Suatu kegiatan dapat dikatakan efisien jika ada perbaikan
pada prosesnya, misalnya menjadi lebih cepat atau lebih murah.
ASME Standard PTC 4 – 2008 merupakan standar untuk melakukan
performance test boiler (fuel fired steam generator). Tingkat akurasi tes
tertentu dipengaruhi oleh factor bahan bakar yang digunakan dan faktor
operasi. Pedoman berdasarkan ASME PTC 4. 1998, ada dua metode yang
15

sering digunakan guna menghitung rumusan efisiensi boiler, yaitu Direct


Method / Input Output dan Indirect Method / Heat Loss Method.

Tabel 2.1 Perbandingan Metode Langsung Dan Tidak Langsung


Kelebihan Kekurangan
Metode Langsung (input-output) 1. Flow bahan bakar dan heating
1. Parameter utama dari efisiensi value bahan bakar, flow uap dan
(input-output) didapatkan dari propertis uap harus diukur secara
pengukuran langsung akurat untuk meminimalkan error
2. Membutuhkan perhitungan yang 2. Tidak bisa menentukan sumber
lebih sedikit inefisiensi
3. Tidak memerlukan estimasi dari 3. Membutuhkan metodologi
losses yang tidak terhitung perhitungan energi seimbang
untuk mengkoreksi hasil tes
Metode Tidak Langsung 1. Membutuhkan pengukuran yang
1. Pengukuran utama (analisis gas lebih baik
buang dan suhu gas buang) dapat 2. Tidak secara otomatis
dilakukan dengan sangat akurat menghasilkan kapasitas dan data
2. Memungkinkan melakukan output
koreksi hasil pengujian 3. Beberapa losses tidak dapat
3. Efisiensi hasil pengujian dihitung dan nilainya harus
mempunyai tingkat diestimasi
ketidakpastian yang lebih rendah
karena jumlah kerugian yang
terukur hanya mewakili sebagian
kecil dari total energi
4. Efek dar kesalahan pada
pengukuran sekunder dan nilai
estimasi sangatlah kecil
16

5. Sumber dari losses dapat


diketahui.

5. Thermostat Digital REX C100

Gambar 2.4 Thermostat Digital REX C100


(Sumber: [Link])

Thermostat Digital REX C100 merupakan alat yang berfungsi untuk


mengontrol atau mengatur suhu sampai dengan 400 derajat celcius. Alat ini
banyak digunakan sebagai pemanas, pendingin, penetas telur dan sebagainya.
Output alat ini dihubungkan ke relay SSR sebagai switch penghubung dan
pemutusnya
Tabel 2.2 Spesifikasi Thermostat Digital REX C100
No. Nama Keterangan
1. Measuring accuracy 0.5%FS
Cold-end compensation 2 (can be modified by software in
2.
tolerance 0~50
3. Resolution 14 bit
4. Sampling cycle 0.5 Sec
5. Power AC 220V 50/60HZ
Output, alarm and self-
6. LED
tuning can be indicated by
17

(including ON/OFF, step-type PID


7. PIN control
and continuous PID)
contact capacity 250V AC 3A
8. Relay output
(resistive load)
9. Alarm function output 2 way
0~full range (ON/OFF control when
10. Proportional band (P)
set to 0)
11. Detective temperature range 0 to 400
12. Insulation resistance >50M ohm(500V DC)
13. Insulation resistance 1500V AC/min
14. Insulation resistance Power Consumption < 10 VA
15. Service environment 0~50
environment with no
16. 30~85% RH
corrosive gas
17. Dimensions 48 x 48 x 110 (mm) 0.2mm
K Thermocouple Probe
18. 1M
Cable Length
19. Sensor diameter 4.5mm
20. Internal Insulation Fiberglass
21. External Shielding Insulated Shielding

6. SSR (Solid State Relay)

Gambar 2.5 SSR (Solid State Relay)


(Sumber: Kho, 2020a)
18

Solid State Relay atau yang sering disingkat SSR merupakan sebuah
saklar elektromekanik yang memiliki sifat semi konduktor. Komponen satu
ini biasanya banyak diaplikasikan pada industri-industri sebagai device
pengendali. Solid State Relay (SSR) merupakan tipe terbaru saklar elektronik
non kontak yang memiliki performa dan teknologi serta peralatan asing yang
canggih. Sedikit berbeda dangan fungsi relay pada umumnya, cara kerja Solid
State Relay sederhana saja. Ujung input hanya membutuhkan arus dengan
kontrol yang kecil serta kompatibilitas yang lebih baik dengan TTL, HTL,
CMOS Integrated Circuit.
SSR juga menggunakan sirkuit keluaran yang mengadopsi thyristor dan
transistor berdaya tinggi yang berfungsi untuk menyambung dan memutuskan
arus beban. Solid State Relay sangat banyak digunakan pada berbagai macam
peralatan elektronik yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti diantaranya adalah berbagai peralatan seperti periferal komputer,
termostat pemanas listrik, mesin CNC, remote control maupun peralatan
otomatis industri. Kelebihan dan kekurangan Solid State Relay dibandingkan
dengan relay konvensional antara lain dapat dibedakan dengan beberapa hal.
Salah satunya adalah pada sistem pengoperasiannya serta reformasinya.
(Agung, n.d.)

Kelebihan Solid State Relay


a. Kelebihan yang pertama adalah minimnya suara yang dihasilkan oleh alat
ini ketika kontraktor mengalami perubahan keadaan.
b. Memiliki umur pemakaian yang lebih panjang dibandingkan dengan relay
mekanik.
c. Tidak menimbulkan percikan bunga api pada saat kontaktor mengalami
perpindahan keadaan.
d. Memiliki sifat yang tahan korosi sehingga umur pemakaian pun menjadi
lebih panjang.
19

e. Tidak seperti relay konvensional. Solid state relay sangat kebal dengan
getaran atau goncangan.
Kekurangan Solid State Relay
a. Tegangan yang dikontrol oleh SSR ini benar-benar tidak murni sehingga
dapat berimbas ada komponen-komponen SSR yang lainnya.
b. Terbuat dari bahan silikon, maka pada alat ini akan terdapat tegangan jatuh
antara tegangan input dan output. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya
tegangan drop.
c. Dapat terjadi arus bocor (Leakage current). Dimana pada Solid Relay State
yang dalam keadaan on atau off maka dalam kondisi yang ideal seharusnya
tidak ada arus yang mengalir pada SSR. Namun tidak demikian pada
komponen yang sebenarnya.
d. Susah untuk diimplementasikan pada aplikasi multi fasa.
e. Harganya jauh lebih mahal dari relay konvensional.

7. Thermocouple
(Thermocouple) adalah jenis sensor suhu yang digunakan untuk
mendeteksi atau mengukur suhu melalui dua jenis logam konduktor berbeda
yang digabung pada ujungnya sehingga menimbulkan efek “Thermo-
electric”. Efek Thermo-electric pada Termokopel ini ditemukan oleh seorang
fisikawan Estonia bernama Thomas Johann Seebeck pada Tahun 1821,
dimana sebuah logam konduktor yang diberi perbedaan panas secara gradient
akan menghasilkan tegangan listrik. Perbedaan Tegangan listrik diantara dua
persimpangan (junction) ini dinamakan dengan Efek “Seeback”.
Termokopel merupakan salah satu jenis sensor suhu yang paling
populer dan sering digunakan dalam berbagai rangkaian ataupun peralatan
listrik dan Elektronika yang berkaitan dengan Suhu (Temperature). Beberapa
kelebihan Termokopel yang membuatnya menjadi populer adalah responnya
yang cepat terhadap perubahaan suhu dan juga rentang suhu operasionalnya
yang luas yaitu berkisar diantara -200˚C hingga 2000˚C. Selain respon yang
20

cepat dan rentang suhu yang luas, Termokopel juga tahan terhadap
goncangan/getaran dan mudah digunakan. (Kho, 2020b)

a. Prinsip Kerja Termokopel (Thermocouple)


Prinsip kerja Termokopel cukup mudah dan sederhana. Pada
dasarnya Termokopel hanya terdiri dari dua kawat logam konduktor yang
berbeda jenis dan digabungkan ujungnya. Satu jenis logam konduktor
yang terdapat pada Termokopel akan berfungsi sebagai referensi dengan
suhu konstan (tetap) sedangkan yang satunya lagi sebagai logam
konduktor yang mendeteksi suhu panas. (Kho, 2020b)
Untuk lebih jelas mengenai Prinsip Kerja Termokopel, mari kita melihat
gambar dibawah ini :

Gambar 2.6 Prinsip Thermocouple (Sensor suhu)


(Sumber: [Link])

Berdasarkan Gambar diatas, ketika kedua persimpangan atau


Junction memiliki suhu yang sama, maka beda potensial atau tegangan
listrik yang melalui dua persimpangan tersebut adalah “NOL” atau V1 =
V2. Akan tetapi, ketika persimpangan yang terhubung dalam rangkaian
diberikan suhu panas atau dihubungkan ke obyek pengukuran, maka akan
terjadi perbedaan suhu diantara dua persimpangan tersebut yang kemudian
menghasilkan tegangan listrik yang nilainya sebanding dengan suhu panas
yang diterimanya atau V1 – V2. Tegangan Listrik yang ditimbulkan ini
pada umumnya sekitar 1 µV – 70µV pada tiap derajat Celcius. Tegangan
21

tersebut kemudian dikonversikan sesuai dengan Tabel referensi yang telah


ditetapkan sehingga menghasilkan pengukuran yang dapat dimengerti oleh
kita.

b. Jenis-jenis Termokopel (Thermocouple)


Termokopel tersedia dalam berbagai ragam rentang suhu dan jenis bahan.
Pada dasarnya, gabungan jenis-jenis logam konduktor yang berbeda akan
menghasilkan rentang suhu operasional yang berbeda pula. Berikut ini
adalah Jenis-jenis atau tipe Termokopel yang umum digunakan
berdasarkan Standar Internasional. (Kho, 2020b)

Gambar 2.7 Thermocouple (Sensor suhu)


(Sumber: [Link])

1) Termokopel Tipe E
Bahan Logam Konduktor Positif : Nickel-Chromium
Bahan Logam Konduktor Negatif : Constantan
Rentang Suhu : -200˚C – 900˚C
2) Termokopel Tipe J
Bahan Logam Konduktor Positif : Iron (Besi)
Bahan Logam Konduktor Negatif : Constantan
Rentang Suhu : 0˚C – 750˚C
3) Termokopel Tipe K
Bahan Logam Konduktor Positif : Nickel-Chromium
Bahan Logam Konduktor Negatif : Nickel-Aluminium
22

Rentang Suhu : -200˚C – 1250˚C


4) Termokopel Tipe N
Bahan Logam Konduktor Positif : Nicrosil
Bahan Logam Konduktor Negatif : Nisil
Rentang Suhu : 0˚C – 1250˚C
5) Termokopel Tipe T
Bahan Logam Konduktor Positif : Copper (Tembaga)
Bahan Logam Konduktor Negatif : Constantan
Rentang Suhu : -200˚C – 350˚C
6) Termokopel Tipe U (kompensasi Tipe S dan Tipe R)
Bahan Logam Konduktor Positif : Copper (Tembaga)
Bahan Logam Konduktor Negatif : Copper-Nickel
Rentang Suhu : 0˚C – 1450˚C

C. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan model konseptual yaitu tentang bagaimana
teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai
masalah yang penting. Berikut adalah kerangka berpikir dalam penelitian ini,
disajikan dalam gambar dibawah ini:
23

Mulai

Identifikasi
Masalah

Studi Literatur

Perancangan Produk

Pengaplikasian Produk
pada mesin burner boiler TIDAK

Pengujian

YA

Hasil

Selesai

Gambar 2.8 Skema Kerangka Berpikir


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan alat Burner Boiler pada
skala industri menggunakan Thermostat Digital REX C100. Untuk mendapatkan
kebenaran ilmiah maka penelitian ini menggunakan metode R&D (Research and
Development). Adapun yang dimaksud dengan R&D adalah metode penelitian
yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan untuk
menyempurnakan suatu produk yang sesuai dengan acuan dan kriteria dari
produk yang dibuat sehingga menghasilkan produk yang baru melalui berbagai
tahapan dan validasi. Untuk dapat menghasilkan produk digunakan yang bersifat
analisis kebutuhan (digunakan metode survei dan kualitatif) dan untuk menguji
keefektifan produk tersebut supaya dapat berfungsi di suatu industri, maka
diperlukan penelitian untuk menguji keefektifan tersebut (digunakan metode
eksperimen). (Sugiyono, 2011)

B. Lokasi/Fokus Penelitian
1. Lokasi
Lokasi penelitian dalam pengambilan data dan perancangan dilakukan
di DIV LINEN CRYSTAL CLEAN yang beralamtkan Jl. Delta Mas VI
No.28, Kuningan, Kec. Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah
50176.
2. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah merencanakan burner boiler pada skala
industri dengan menggunakan Thermostat Digital REX C100 agar dapat
mengontrol kinerja burner boiler secara otomatis. Karena dari beberapa
penelitian yang sudah dilakukan burnel boiler menggunakan sistem manual
untuk menyalakan dan mematikannya.

24
25

C. Variabel Penelitian
Sugiyono, (2015: 60-61) Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang
berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga
diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditariknya kesimpulan.
1. Variabel Independen (bebas)
Variabel yang mempengaruhiatau yang menyebabkan perubahan
sehingga mengakibatkan timbulnya variabel terikat (dependen). Pada
penelitian ini yang menjadi variabel bebas (Independen) adalah Variasi suhu
target mesin pemanas.
2. Variabel Depende (terikat)
Pada penelitian ini yang menjadi variabel dependen (terikat) adalah
keakuratan kontrol otomatis mesin pemanas terhadap suhu target.

D. Desain Penelitian
Desain penelitian adalah rangkaian prosedur dan metode yang dipakai
untuk menganalisis dan menghimpun data untuk menentukan variabel yang
akan menjadi topik penelitian. Atau bisa didefinisikan sebagai strategi yang
dilakukan peneliti untuk menghubungkan setiap elemen penelitian dengan
sistematis sehingga dalam menganalisis dan menentukan fokus penelitian
menjadi lebih efektif dan efisien.
Desain penelitian ini dilakukan berdasarkan diagram alir pembuatan alat
berikut ini:
26

Mulai

Pengumpuln
Data

Perancangan Sistem

Perakitan Sistem

Pengujian
Sistem

Analisa
Sistem

Hasil dan Pembahasan

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alur Penelitian


(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2023)

Penjelasan diagram alur penelitian:


1. Pengumpulan Data
Mencari referensi dari berbagai sumber seperti halaman situs, jurnal,
buku, dan lain sebagainya yang terkait dengan penelitian yang akan
27

dilakukan, guna untuk menambah pengetahuan penelitian dan informasi yang


dapat digunakan, serta untuk membantu proses pelaksanaan penelitian
“Perencanaan Otomatis Pada Burner Boiler Skala Industri Menggunakan
Thermostat Digital Rex C100”. Pengumpulan Data ini juga di peroleh dari
survei lokasi dan wawancara yang dilakukan pada pemilik perusahaan DIV
LINEN CRYSTAL CLEAN.
2. Perancangan Sistem
Perancangan sistem berisi dari menentukan alat, bahan yang akan
digunakan sampai merancangan dan simulasi dari setiap komponen yang
digunakan, dalam penelitian ini. Perancangan terbagi menjadi 2 macam, yaitu
perancangan perangkat keras dan perancangan perangkat lunak.
3. Perakitan Sistem
Perakitan pada tahap ini, semua perancangan yang telah di buat
kemudian dirakit dan di-compile ke dalam sistem yang utuh dengan sumber
tegangan, sensor, aktuator, dan mikrokontroler-nya.
4. Pengujian Sistem
Setelah perakitan selesai, penulis melakukan pengujian sistem untuk
menguji apakah sistem telah berjalan dengan baik dan sesuai tujuan awal
sistem, serta untuk menetapkan hasil dan menemukan kesalahan-kesalahan
yang mengganggu sistem untuk mencapai tujuan penelitian.
5. Penerapan
Tahapan ini berisi tentang implementasi atau penerapan dari sistem
yang telah dirancang, Sistem ini akan dibawa ke lokasi penelitian untuk
dilakukan pembahasan dan pengambilan data berdasarkan hasil penerapan
yang telah dilakukan.

E. Proses Eksperimen
1. Persiapan Eksperimen
Sebelum memasuki tahap pembuatan alat, terlebih dahulu dilakukan
persiapan dengan membuat blok diagram. Blok diagram rangkaian
merupakan salah satu bagian terpenting dalam perancangan alat untuk
28

mempermudah konfigurasi yang diperlukan, hal ini akan sangat membantu


dalam mengetahui kesalahan serta kelemahan jika terjadi kegagalan dalam
perancangan sistem tersebut. Selain itu blok diagram juga akan membantu
untuk memahami sistem yang dilakukan.
Perancangan blok diagram dimaksudkan untuk memberika kemudahan
dan gambaran mengenai alat yang akan dirancang mulai dari sumber
tegangan kemudian sensor ke mikrokontroler dan aktuator (Pemanas) sebagai
output. Berikut ini merupakan bagan blok diagram dari alat tangan bionik
dalam penelitian ini:

Power Supply
220V

SSR-40 DA
Thermostat
Thermocouple
Digital REX
(Sensor Suhu)
C100
Pemanas

Gambar 3.2 Blok Diagram Alat Pemanas Otomatis


(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2023)

Keterangan blok diagram diatas sebagai berikut:


a. Thermostat Digital REX C100
Merupakan komponen utama dalam rangkaian ini yang berfungsi untuk
mengontrol atau mengatur target suhu yang ingin di capai hingga 400°C.
b. Thermocouple (Sensor Suhu)
Merupakan alat ukur atau sensor untuk mengukur suhu melalui dua
jenis logam konduktor yang berbeda yang digabungkan dengan bagian
ujungnya hingga dapat menimbulkan efek “thermo electric”.
29

c. SSR-40 DA (Relay)
Merupakan saklar elektronik yang menggunakan semikonduktor yang
bisa mengendalikan aliran arus listrik lebih besar dengan kontrol hanya
menggunakanarus kecil.
d. Pemanas
Merupakan sebuah komponen perpindahan panas yang
menggabungkan konduksi dan transisi fase fluida untuk menghasilkan panas
yang efektif.
e. Power Supply 220V
Merupakan sebuah perangkat keras yang berfungsi memberikan suplai
tegangan listrik ke sistem agar dapat beroprasi.

2. Pelaksanaan Eksperimen
Pembuatan alat pemanas otomatis pada mesin burner boiler ini terdapat
beberapa tahap yaitu:
a. Persiapan Alat dan Bahan
Persiapan alat dan bahan adalah mempersiapkan kebutuhan yang
akan digunakan dalam proses eksperimen pembuatan alat pemanas
otomatis pada mesin burner boiler.
1) Alat
a) Alat Ukur/Digital Voltmeter
b) Toolset atau perkakas listrik
c) Alat ukur temperatur digital
2) Bahan
a) Mesin Burner Boiler
b) Thermometer Digital REX C100
c) Thermocouple (Sensor Suhu)
d) SSR-40 DA (Relay)
e) Healting Pipe (Pemanas)
f) Kabel Powe Supply
g) Box Panel
30

b. Pembuatan rangkaian alat secara keseluruhan


Pembuatan rangkaian alat mesin pemanas otomatis pada mesin
burner boiler memerlukan beberapa komponen diantaranya sudah
sebutkan di atas. Berikut rangkaian Alat Otomatis Pada Burner Boiler
Skala Industri Menggunakan Thermostat Digital Rex C100.

Gambar 3.3 Wiring Alat Pemanas Otomatis


(Sumber: Shenlin, 2022)

Berikut merupakan keterangan pengkabelan komponen yang digunakan :


• Power Supply 220V
Kabel Merah = Pin 1 Thermometer
Kabel Hitam = Pin 2 Thermometer
• Thermocouple
Kabel Tanda Biru = Pin 9 Thermometer
Kabel Tanda Merah = Pin 10 Thermometer
• SSR-40 DA
Pin 3 SSR = Pin 6 Thermometer
Pin 4 SSR = Pin 7 Thermometer
Pin 1 SSR = Terminal Healting Pipe
Pin 2 SSR = Terminal Power Supply 220V
31

• Healting pipe
Terminal Healting Pipe = Terminal Power Supply 220V

c. Pengoprasian Alat
Pengoprasian alat ini bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Pastikan terlebih dahulu alat sudah terhubung dengan sumber tegangan
220V.
2) Tempelkan atau masukan Thermocouple (Sensor Suhu) di bagian mesin
Burner Boiler agar sensor dapat membaca nilai suhu boiler.
3) Hasil dari nalai sensor akan di tampilkan di Digital REX C100
4) Setting target suhu pada Digital REX C100 (contoh setting target di
suhu 200°C)
5) Dengan target yang sudah di setting ketika suhu sudah mencapai target
pemanas akan otomatis mati dan ketika suhu menurun pemanas akan
kembali menyala.

F. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data merupakan teknik atau metode yang
digunakan untuk mengumpulkan data yang akan diteliti. Artinya, teknik
pengumpulan data memerlukan langkah yang strategis dan juga sistematis
untuk mendapatkan data yang valid dan juga sesuai dengan kenyataannya.
Adapun data yang diperoleh dari hasil pengujian alat kontrol otomatis
Burner Boiler menggunakan Thermostat Digital REX C100 akan disajikan
dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Tabel 3.1 Hasil Pengukuran Suhu Dengan Alat Ukur Standart.


Pengukuran Suhu Hasil Pembacaan
No. Error Error (%)
Termometer Sensor (°C)
1
2
32

3
4
5

Tabel 3.2 Hasil Pengujian Durasi Waktu Berdasarkan Variasi Volume Boiler
Suhu Mesin Boiler Kondisi Mesin
No. Waktu (Menit
(°C) Boiler
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

G. Teknik Analisa Data


Teknik analisa data yang digunakan menggunakan Metode Analisis
Deskriptif. Analisis Deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk
mengetahui keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau
lebih (variabel yang berdiri sendiri) tanpa membuat perbandingan dan mencari
hubungan variabel itu dengan variabel yang lain (Sugiyono, 2009). Dari
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode deskriptif analisis dengan
pendekatan kuantitatif merupakan metode yang bertujuan menggambarkan
secara sistematis dan faktual tentang fakta-fakta serta hubungan antar variabel
yang diselidiki dengan cara mengumpulkan data, mengolah, menganalisis, dan
menginterpretasi data dalam pengujian hipotesis statistik. Beberapa cara yang
termasuk didalam teknik Analisis Deskriptif adalah dengan menyajikan data ke
dalam bentuk:
33

1. Grafik
2. Tabel
3. Presentasi
4. Diagram
H. Jadwal
Jadwal penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
Bulan
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Studi Literature
Pembuatan
2
Proposal

3 Seminar Proposal

4 Pembuatan Alat

Pembuatan
5
Program

6 Pengujian Alat

Pengumpulan
7
Data
8 Analisa Data
Implementasi
9
Data
Penulisan
10
Laporan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dan pembahasan pada bab ini merupakan hasil proses perancangan dan
pengujian alat yang telah dikerjakan oleh peneliti. Setelah dilakukan pengujian
dapat diketahui bahwa apakah alat yang telah dirancang sesuai dengan tujuan
penelitian atau masih mengalami kesalahan atau perlu diadakan perbaikan. Dalam
setiap pengujian dilakukan dengan pengukuran yang nantinya akan digunakan
untuk menganalisa apakah alat ini bekerja sesuai dengan yang diharapkan oleh
peneliti.

A. Implementasi Sistem Produk


1. Rangkaian Alat Kontrol Burner Boiler
Hal pertama yang dilakukan dalam bab 4 ini adalah menjabarkan
tentang rangkaian alat kontrol burner boiler. Adapun tujuan pada bagian ini
adalah untuk menjelaskan perancangan alat yang dilakukan oleh peneliti
dalam rangka mewujudkan penelitian perancangan alat kontrol pengaman
terakhir pada mesin burner boiler. Pada alat kontrol pengaman ini
menggunakan rangkaian elektronika yang dapat mengontrol panas boiler
sehingga tidak melebihi batas dari mesin tersebut. di bawah ini merupakan
gambaran blok diagram kerja alat.

Modul REX
Power Supply Indikator
C-100

Thermostat Boiler

= Aliran suplai arus listrik


= Data hasil pembacaan Sensor
Gambar 4.1 Diagram Blok Alur Kerja Alat

34
35

Sensor yang digunakan agar dapat mengetahui nilai temperatur atau


suhu pada mesin boiler adalah thermocouple tipe K. Output dari dari sensor
atau nilai suhu yang diterima oleh sensor yang ditempatkan pada mesin boiler
akan diteruskan ke modul rex c100 lalu diolah dan ditampilan pada display
yang terdapat pada modul rex c100 dalam bentuk LED digital. Selanjutnya
ketika suhu target atau settingan suhu sudah mencapai keinginan modul rec
c100 akan mengirimkan data atau perintah ke indikator sebagai peringatan
suhu mencapai ambang batas. Serta memberikan perintah pada mesin boiler
untuk menonaktifkan agar kondisi mesin menjadi mati dan suhu tidak
mingingkat.
Dari gambar keseluruhan diatas dapat diketahui bahwa rancang bangun
kontrol safety atau kontrol pengaman terakhir menggunakan modul REX
C100 dan sensor suhu mempunyai keluaran yaitu data hasil perhitungan nilai
suhu mesin boiler dan dapat memberikan notifikasi pada lampu indikator
serta mengontrol mati/hidup mesin. Sumber tegangan pada sistem ini adalah
dengan tegangan 220V.
Pada dasarnya sistem suatu boiler itu bekerja atau mesin menyala
berdasarkan dengan besaran tekanan antara 1Bar hingga 3Bar. Sehingga
ketika boiler tersebut sudah mencapai tekanan 3Bar maka boiler akan
berhenti bekerja dan sebaliknya ketika tekanan turun di angka 1Bar mesin
kembali menyala. Akan tetapi dalam rangkain suatu permesinan setiap
komponen memiliki usia atau suatu saat akan terjadi kerusakan sehingga
peneliti merancang alat tersebut yaitu sistem kontrol safety sebagai pengaman
ketika control valve pada tekanan tidak berfungsi, boiler akan tetap menyala
dan boiler bekerja secara terus menerus membuat suhu akan semakin
meningkat. Untuk mencegah hal tersebut sistem kontrol ini bekerja
berdasarkan suhu sehingga ketika suhu boiler mencapai 200°C otomatis
boiler akan berhenti bekerja dan mematikan keseluruhan sistem.
36

2. Modul REX C-100


Modul REX C-100 pada perancangan alat sistem kontrol ini merupakan
sebuah pusat dari sistem kendali masukan sensor suhu dan keluaran berupa
indikator lampu dan kontrol on/off mesin boiler yang terhubung ke modul.

Gambar 4.2 Modul REX C-100

Pada gambar diatas terlihat bahwa pada modul terdapat display untuk
menampilkan nilai suhu dan target dari suhu yang akan dicapait serta tombol
untuk mengatur target suhu sesuai dengan penelitian yang akan dilaksanakan.
Pada bagian belakang modul memiliki beberapa terminal atau pin sebagai
fungsi untuk menghubungkan komponen-komponen pendukung lainnya. Dan
pada terminal atau pin terdapat kabel penghubung antara Modul dan
komponen lainnya. Untuk pin 9 dan 10 pada modul terhubung dari masukan
sensor yaitu kabel biru dan merah. Untuk pin 1 dan 6 untuk keluaran ke
indikator lampu dan pin 4 dan 5 terhubung ke SSR atau relay yang terhubung
ke mesin boiler yang akan mengontrol kondisi mesin.

3. Rangkaian Thermostat
Rangkaian Termostat adalah rangkaian elektronika yang bisa mengatur
suhu dalam sebuah ruangan. Termostat ini merupakan alat untuk mengatur
suhu secara otomatis yang bekerja karena adanya perubahan suhu. Termostat
berfungsi sebagai pengatur suhu agar temperatur dalam sebuah ruangan selalu
konstan/stabil sesuai kebutuhan. Pada rangkaian sensor suhu terdapat 2 warna
37

pada ujung kabel yaitu merah yang terhubung ke 10 pada modul dan biru yang
terhubung ke pin 9.

Gambar 4.3 Rangkaian Thermostat

4. Rangkaian Lampu Indikator


Lampu-lampu indikator merupakan komponen yang digunakan sebagai
lampu tanda. Lampu-lampu tersebut digunakan untuk berbagai keperluan
misalnya untuk lampu indikator pada panel. Selain itu juga lampu indikator
digunakan sebagai indikasi bekerjanya suatu sistem kontrol misalnya lampu
indikator merah menyala motor bekerja dan lampu indikator hijau menyala
motor berhenti. Pada fungsi ini lampu indikator berfungsi sebagai indikator
ketika suhu mesin boiler mencapai target. Rangkaian lampu indikaotor
terdapat dua terminal yaitu pin pada lampu indikator masuk ke pin 1 dan pin
6 pada modul rex c100.

Gambar 4.4 Rangkaian Lampu Indikator


38

5. Rancangan Keseluruhan Kontrol Burner Boiler


Rancangan keseluruhan alat merupakan gambaran secara utuh tentang
alat yang akan dibuat. Adapun rancangan dari keseluruhan mesin sebagai
berikut:

Gambar 4.5 Rangkaian Keseluruhan Kontrol Boiler

B. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ialah proses pengaturan dan pengelompokan baik tentang
informasi suatu kegiatan berdasarkan fakta melalui usaha pikiran peneliti dalam
mengolah dan menganalisa objek atau topik penelitian secara sistematis dan
objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis
sehingga terbentuk sebuah prinsip-prinsip umum atau teori. Adapun isi pada
tahap ini adalah pengujian hasil sebuah komponen maupun sistem alat.
Pengujian komponen maupun sistem merupakan sebuah tahapan
pengujian yang dilakukan untuk mengetahui apakah kinerja setiap komponen
penyusun sistem telah sesuai dengan perancangan yang diharapkan. Pengujian
ini terdiri dari lima bagian, yaitu yang pertama pengujian sumber tegangan pada
rangkaian elektrikal yang bertujuan untuk mengetahui rangkaian elektrikal dapat
hidup atau bekerja. Kedua pengujian Display yang bertujuan untuk
menampilkan hasil pembacaan sensor maupun perintah penampilan karakter
oleh pusat data. Ketiga pengujian aktifasi sensor yang bertujuan untuk
mengetahui apakah sensor dapat membaca perubahan nilai suhu. Keempat
39

pengujian akurasi sensor yang bertujuan untuk membandingkan dengan alat uji
yang berstandar untuk melihat selisih. Dan terakhir adalah pengujian sistem
keseluruhan yaitu komponen pada rangkaian kontrol sistem safety pada mesin
burner boiler dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan tujuan penelitian.
1. Pengujian Catu Daya
Pengujian catu daya bertujuan untuk mengetahui bahwa catu daya
memberikan supply dengan baik atau sesuai kepada sistem alat agar alat
tersebut bekerja dengan baik. Sumber tegangan yang digunakan pada alat ini
adalah sumber tegangan dengan daya 220V. Tabel hasil pengujian catu daya
ditunjukan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil Pengujian Rangkaian Catu Daya
Bagian yang Kriteria
No. Hasil Pengukuran
diukur Pengujian

Tegangan
1. 220V
Catu Daya 1
40

Tegangan
2.
Catu Daya 2

2. Pengujian LCD (Display)


Pengujian LCD (Display) bertujuan untuk mengetahui apakah LCD
dapat menampilkan data-data program yang nantinya akan tampil di layar
LCD. Berikut gambar tampilan pengujian LCD.

Gambar 4.6 Tampilan LCD (Display)

3. Pengujian Aktifasi Sensor


Pengujian aktifasi sensor bertujuan untuk mengetahui bahwa sensor
suhu dapat melakukan pengukuran suhu dengan baik. Sebelum melakukan
pengukuran suhu, diperlukan kalibrasi terlebih dahulu agar suhu yang terukur
ketika suhu yang diterima oleh sensor dan menunjukan nilai yang sesuai dan
41

dapat mengirimkan data tersebut ke LCD pada modul rex c100. Adapun
proses pengujian sensor suhu ini dapat diperlihatkan pada Gambar 4.7 dan
tabel hasil pengujian yang ditunjukan pada Tabel 4.2.

Gambar 4.7 Proses Pengujian Sensor

4. Pengujian Akurasi Sensor


Pengujian akurasi sensor bertujuan untuk mengetahui tingkat akurasi
dan error dari data hasil pengukuran sensor suhu. Pengukuran dilakukan
dengan membanding termogun dan sensor Thermocouple tipe K dengan
perlakuan yang sama. Pengukuran dilakukan didalam ruangan agar tidak
terpengaruh oleh suhu dari luar. sensor suhu dan termogun diletakan pada
suatu tempat dengan pengaruh suhu berupa lampu pijar dan korek api sebagai
sumber pemanas. Pengamatan suhu dengan sensor akan tertampil pada layar
LCD. Hasil pembacaan sensor suhu dicatat pada tabel. Pengujian sensor
bertujuan menghitung tingkat error atau kesalahan.
Ragam ralat dari pengukuran atau pengamatan dibagi menjadi 3
macam, yaitu: ralat sistematis (systematic error), ralat rambang (random
error), dan ralat kekeliruan tindakan. Ralat sistematis adalah ralat pengukuran
yang akan memberikan efek tetap terhadap hasil ukur (Panduan Praktikum
Fisika Dasar, 2016). Rumus perhitungan nilai error:
Error = X – Xi
𝑋−𝑋𝑖
%Error = 𝑥 100%
𝑋𝑖

Keterangan:
X = Data Sebenarnya
42

Xi = Data Terukur
% Error = Ralat Systematic

Selanjutnya dapat dijabarkan untuk mencari error dan menghitung %


error yaitu:
Error = suhu sebenarnya – suhu terukur
suhu sebenarnnya − suhu terukur
% 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟 = 𝑥 100%
suhu sebenarnnya

Tabel 4.2 Hasil Pengujian Sensor


Pengukuran Suhu Hasil Pembacaan
No. Error Error (%)
Termometer Sensor (°C)
1. 30 30 0 0
2. 50 50 0 0
3. 100 100 0 0
4. 150 151 1 0,00667
5. 200 202 2 0,01
6. 250 251 1 0,004
7. 300 303 3 0,01
8. 350 352 2 0,00571
9. 400 403 3 0,0075

5. Pengujian Kelayakan Sistem


Pengujian kelayakan sistem adalah pengujian tahap akhir yang
bertujuan untuk mengetahui bahwa alat kontrol safety pada mesin burner
boiler berdasarkan dengan variasi suhu yang dihasilkan oleh boiler dan
dibaca oleh sensor suhu dapat berfungsi dengan baik. Pengujian dilakukan
dengan cara memberikan troubleshooting atau pemberian suhu berlebih dan
dengan pengujian pengoprasian mesin boiler dengan waktu tertentu apakah
sistem yang akan dilakukan dengan tiga kali percobaan. Ketiga percobaan
tersebut akan menjadi sampel data yang akan di analisis. Data yang diambil
43

pada setiap percobaan adalah suhu alat yang ditunjukan pada LCD dan
kondisi mesin boiler. Pada analisis data penelitian akan dicatat dan
ditunjutkan pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Hasil Pengujian Sistem Pertama Kapasitas 50Kg


Suhu Mesin Boiler Kondisi Mesin
No. Waktu (Menit
(°C) Boiler
1. 5 52 Hidup
2. 10 77 Hidup
3. 15 69 Hidup
4. 20 72 Hidup
5. 25 65 Hidup
6. 30 58 Hidup
7. 35 69 Hidup
8. 40 95 Hidup
9. 45 79 Hidup
10. 50 79 Hidup
11. 55 75 Hidup
12. 60 69 Hidup
13. Troubleshooting (200°C) Mati

Tabel 4.4 Hasil Pengujian Sistem Pertama Kapasitas 100Kg


Suhu Mesin Boiler Kondisi Mesin
No. Waktu (Menit
(°C) Boiler
1. 5 51 Hidup
2. 10 75 Hidup
3. 15 68 Hidup
4. 20 73 Hidup
5. 25 68 Hidup
6. 30 62 Hidup
44

7. 35 68 Hidup
8. 40 80 Hidup
9. 45 76 Hidup
10. 50 79 Hidup
11. 55 70 Hidup
12. 60 68 Hidup
13. Troubleshooting (200°C) Mati

Tabel 4.5 Hasil Pengujian Sistem Kedua Kapasitas 50Kg


Suhu Mesin Boiler Kondisi Mesin
No. Waktu (Menit
(°C) Boiler
1. 5 53 Hidup
2. 10 77 Hidup
3. 15 72 Hidup
4. 20 73 Hidup
5. 25 68 Hidup
6. 30 56 Hidup
7. 35 72 Hidup
8. 40 80 Hidup
9. 45 82 Hidup
10. 50 79 Hidup
11. 55 76 Hidup
12. 60 68 Hidup
13. Troubleshooting (200°C) Mati

Tabel 4.6 Hasil Pengujian Sistem Kedua Kapasitas 100Kg


Suhu Mesin Boiler Kondisi Mesin
No. Waktu (Menit
(°C) Boiler
1. 5 51 Hidup
2. 10 71 Hidup
45

3. 15 67 Hidup
4. 20 73 Hidup
5. 25 67 Hidup
6. 30 63 Hidup
7. 35 67 Hidup
8. 40 79 Hidup
9. 45 78 Hidup
10. 50 79 Hidup
11. 55 72 Hidup
12. 60 72 Hidup
13. Troubleshooting (200°C) Mati

C. Pembahasan
Dari hasil pengujian komponen sistem yang telah dilaksanakan dari mulai
pengujian catu daya hingga pengujian kelayakan sistem didapat, pada pengujian
pertama yaitu pengujian catu daya. Dapat dilihat pada tabel 4.1 pengujian
sumber tegangan yang bertujuan untuk mengatahui bahwa catu daya
memberikan supply yang baik atau sesuai dengan sistem alat yang telah
dirancangan dapat bekerja dengan baik. Adapun hasil dari pengujian ini yaitu
sebesar 221,5V dan 219,8V. Pengujian ini menggunakan multimeter yang
berbeda walaupun memiliki selisih hal ini tidak menjadikan masalah atau efek
terhadap rangkaian elektrikal dan dapat dijadikan toleransi.
Pada pengujian kedua pengujian LCD atau tampilan yang terdapat pada
alat sistem kontrol keamanan terakhir pada mesin boiler. Dapat dilihat pada
gambar 4.6 menunjukan bahwa hasil pengujian telah memenuhi kriteria
pengujian yakni dapat menampilkan nilai daripada sensor suhu. Pada pengujian
ketiga merupakan pengujian aktifasi sensor hal ini agar ketika kontrol suhu pada
mesin boiler sesuai dengan suhu semestinya. Berdasarkan hasil yang
dilaksanakan dapat dilihat pada gambar 4.6 hasil pengujian aktifasi sensor dapat
membaca nilai suhu dengan menampilkan pada LCD (Display).
46

Berdasarkan tabel 4.2 dengan pengujian akurasi sensor menyatakan bahwa


sensor dapat bekerja dengan baik. Adapun pengujian ini dilakukan dengan cara
membandingkan hasil pembacaan sensor suhu yang ditampilkan pada LCD
dengan alat berstandar SNI atau termogun dapat dilihat dengan variasi pengujian
30° hingga 400°C memiliki rata-rata error 0.01%. Error menurut Moore, D. S.
and McCabe G. P. Introduction to the Practice of Statistics. Margin of Error
atau ambang batas kesalahan yaitusuatu statistik yang menunjukan
besarnya galat atau "kesalahan" yang dapat diterima atas suatu nilai-
duga (estimate) sebagai konsekuensi dari ukuran cuplikan (sample) acak yang
diiambil dalam suatu survei. Batas kesalahan dapat pula dikatakan sebagai "jari-
jari" (radius) suatu nilai duga. Sehingga nilai besaran error yang didapatkan
masih dapat dijadikan toleransi pada sistem kontrol ini.
Tabel 4.5 Margin of Error
No. Servey Sample Size Margin of Error Percent
1. 2000 2
2. 1500 3
3. 1000 3
4. 900 3
5. 800 3
6. 700 4
7. 600 4
8. 500 4
9. 400 5
10. 300 6

Pada pengujian yang terakhir yaitu pengujian kelayakan sistem yang


bertujuan untuk mengetahui bahwa alat kontrol safety pada mesin burner boiler
dapat bekerja dengan baik. adapun proses pengujian ini dilakukan dengan cara
menyalakan mesin burner boiler dengan kapasitas 50Kg dan 100Kg dengan
rentan waktu 5menit hingga 60menit. Pengujian dilakukan dua kali hal ini
dilakukan karena dalam proses pengambilan data diperlukan pembanding
47

dengan melakukan beberapa percobaan. Serta mengetahui kondisi mesin apakah


dalam kondisi menyala atau mati.

Pengujian Kelayakan Sistem


120

100 95

75 80 79 79
68 73 73 80 79 79 8278 79 79
77 77 68 67 76 75 76
80 68
71 69 72 72 73 69 72
70 72 69 6872
Temperatur (°C)

67 68 68 67
65
51 62 63
51 58 56
60
52 53

40

20

0
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
Waktu (Menit)

Percobaan Ke-1 Kap.50Kg Percobaan Ke-1 Kap.100Kg


Percobaan Ke-2 Kap.50Kg Percobaan Ke-2 Kap.100Kg

Gambar 4.8 Grafik Pengujian Kelayakan Sistem

Pada pembahasan pengujian kelayakan suhu awal pada pengujian adalah


30°C atau kondisi mesin mati. Pada percobaan pertama dengan kapasitas 50Kg
didapatkan pada menit ke 5 suhu mencapai 52°C, pada menit ke 10 suhu
mencapai 72°C, pada menit ke 15 suhu mencapai 69°C, pada menit ke 20 suhu
mencapai 72°C, pada menit ke 25 suhu mencapai 65°C, pada menit ke 30 suhu
mencapai 58°C, pada menit ke 35 suhu mencapai 69°C, pada menit ke 40 suhu
mencapai 95°C, pada menit ke 45 suhu mencapai 79°C, pada menit ke 50 suhu
mencapai 79°C, pada menit ke 55 suhu mencapai 75°C, dan pada menit ke 60
suhu mencapai 69°C.
48

Pada pengujian selanjutnya yaitu percobaan kedua dengan kapasitas 50Kg


didapatkan pada menit ke 5 suhu mencapai 51°C, pada menit ke 10 suhu
mencapai 75°C, pada menit ke 15 suhu mencapai 68°C, pada menit ke 20 suhu
mencapai 73°C, pada menit ke 25 suhu mencapai 68°C, pada menit ke 30 suhu
mencapai 62°C, pada menit ke 35 suhu mencapai 68°C, pada menit ke 40 suhu
mencapai 80°C, pada menit ke 45 suhu mencapai 76°C, pada menit ke 50 suhu
mencapai 79°C, pada menit ke 55 suhu mencapai 70°C, dan pada menit ke 60
suhu mencapai 68°C.
Pada pengujian selanjutnya yaitu percobaan pertama dengan kapasitas
100Kg didapatkan pada menit ke 5 suhu mencapai 53°C, pada menit ke 10 suhu
mencapai 77°C, pada menit ke 15 suhu mencapai 72°C, pada menit ke 20 suhu
mencapai 73°C, pada menit ke 25 suhu mencapai 68°C, pada menit ke 30 suhu
mencapai 56°C, pada menit ke 35 suhu mencapai 72°C, pada menit ke 40 suhu
mencapai 80°C, pada menit ke 45 suhu mencapai 82°C, pada menit ke 50 suhu
mencapai 79°C, pada menit ke 55 suhu mencapai 70°C, dan pada menit ke 60
suhu mencapai 68°C.
Pada pengujian selanjutnya yaitu percobaan kedua dengan kapasitas
100Kg didapatkan pada menit ke 5 suhu mencapai 51°C, pada menit ke 10 suhu
mencapai 71°C, pada menit ke 15 suhu mencapai 67°C, pada menit ke 20 suhu
mencapai 73°C, pada menit ke 25 suhu mencapai 67°C, pada menit ke 30 suhu
mencapai 63°C, pada menit ke 35 suhu mencapai 67°C, pada menit ke 40 suhu
mencapai 79°C, pada menit ke 45 suhu mencapai 78°C, pada menit ke 50 suhu
mencapai 79°C, pada menit ke 55 suhu mencapai 72°C, dan pada menit ke 60
suhu mencapai 72°C.
Pada tabel 4.3 hingga 4.6 pengujian kelayakan sistem terdapat keterangan
Troubleshooting hal ini merupakan kesengajaan oleh peneliti agar sensor suhu
membaca nilai hingga 200°C yang bertujuan untuk mengetahui bahwa ketika
suhu mencapai target kondisi mesin burner boiler akan dalam kondisi mati atau
tidak menyala dan sebaliknya ketika suhu dibawah 200°C maka mesin akan
beroprasi secara normal. Hal ini menandakan bahwa alat sistem kontrol safety
pada mesin burner boiler dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan tujuan
49

penelitian yaitu dapat mengontrol suhu serta menjaga keamanan pada mesin agar
tidak terjadi gangguan khusunya pada temperatur atau suhu.
BAB V
PENUTUP

Pada bagian akhir dari skripsi ini, peneliti akan mengemukakan beberapa
kesimpulan dan saran yang didasarkan pada temuan hasil penelitian dan uraian pada
bab-bab sebelumnya mengenai masalah yang diteliti, yaitu merancang suatu sistem
kontrol safety pada burner boiler sebagai pencegahan keamaanan pada skala
industri menggunakan thermostat digital REX C100.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data, peneliti menarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Alat kontrol safety pada mesin boiler dapat menggunakan modul REX C100
dikarenakan modul REX C100 memeliki akurasi pembacaan suhu dengan
error tidak lebih dari 1% (0,001%). Suhu terendah yang dibaca oleh sensor
adalah 52°C dan suhu tertinggi yang dibaca oleh sensor adalah 200°C.
2. Penggunaan perangkat komponen modul REX C100 dapat mengontrol
pengoprasian mesin bolier secara otomatis ketika suhu melebihi ambang
batas sebesar 200°C boiler akan berhenti bekerja.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperlukan dari data-data dilapangan,
pada dasarnya peneliti ini berjalan baik. Namun bukan suatu kekeliruan apabila
peneliti ingin mengemukakan beberapa saran yang mudah-mudahan
bermanfaaat bagi kemajuan pendidikan pada umumnya. Adapun saran peneliti
ajukan adalah sebagai berikut:
1. Pada alat sistem kontrol agar tidak hanya mengontrol suhu boiler tetapi dapat
mengontrol tekanan boiler sesuai dengan kebutuhan kinerja boiler.
2. Pemberian peringatan bisa ditambahkan berupa sirine suara agar ketika dalam
pabrik atau ruangan yang terdapat tempat yang berisik dapat terderdengar jika
suhu boiler melebihi ambang batas.

50
51

3. Dapat menambahkan dengan berbasis online sehingga kontrol dan monitoring


dapat dilakukan melalui smartphone.
DAFTAR PUSTAKA

Adnyana, D. N. (2007). Penelitian Kerusakan Pada Sebuah Pipa Ketel Uap. 9(2),
63–70.
Agung. (n.d.). Pengertian SSR (Solid State Relay). [Link].
[Link]
Anonim. (2022). 10 Persoalan Boiler Yang Lumrah. [Link].
[Link]
Aswan, A., Susilowati, E., & Juriwon. (2007). ANALISIS ENERGI BOILER PIPA
AIR MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR SOLAR.
Buchori, L. (2011). Buku Ajar Perpindahan Panas. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang.
Daya, A. T. (2020). Mengetahui Kegunaan Boiler untuk Industri.
[Link]. [Link]
boiler-untuk-industri/
Einstein, D., Worrell, E., & Khrushch, M. (2001). Steam Systems in Industry:
Energy Use and Energy Efficiency Improvement Potentials. University of
California.
Holman, J. P. (1981). Heat Transfer. McGRAW-HILL INTERNATIONAL BOOK
COMPANY, New York.
Ibnu. (2021). Pengertian Perencanaan: Karakteristik, Tujuan, dan Jenis-jenisnya.
Accurate. [Link]
Kho, D. (2020a). Pengertian Solid State Relay (SSR) dan Cara Kerjanya.
Teknikelektronika.Com2. [Link]
state-relay-ssr-cara-kerja-ssr/
Kho, D. (2020b). Pengertian Termokopel (Thermocouple) dan Prinsip Kerjanya.
Teknik Elektro. [Link]
thermocouple-dan-prinsip-kerjanya/
M. Usemahu Taher. (2018). Optimalisasi Pengoperasian Boiler dalam
Memproduksi Uap untuk Menunjang Pengoperasian Kapal MV. Sinar Kutai.
11(2), 16–21.

52
53

Mawardi Silaban. (2007). Boiler, Penghematan Energi dan Perhitungan Sederhana


Menaksir Efisiensi.
Priyanto, & Wilastari, S. (2022). Faktor-faktor penyebab menurunnya kinerja
boiler di pt. papertech indonesia 12. 24(1), 60–66.
prof. dr. sugiyono. (2011). prof. dr. sugiyono, metode penelitian kuantitatif
kualitatif dan r&d. intro ( PDFDrive ).pdf. In Bandung Alf (p. 143).
Ryan, A. (2022). Perancangan Pipa Api Pada Ketel Uap Pipa Api atau Fire Tube
Boiler. [Link].
[Link]
pada-ketel-uap-pipa-api-atau-fire-tube-boiler
Setyawan, H., & Nugroho, A. B. (2020). Perancangan Prototype Mesin Boiler
Otomatis Pengering Jagung Berbasis PLC ( Programmable Logic Control ).
1814, 122–133.
Shenlin, X. (2022). Rex-C100 Temperature Controller. [Link].
[Link]
Suprianto. (2015). PENGERTIAN BOILER (KETEL UAP). [Link].
[Link]
Wiratama, C. (2022). Water Tuber Boiler. [Link].
[Link]
[Link]
[Link]
LAMPIRAN

54
55
56
57
58
59
60
61
62

Anda mungkin juga menyukai