Salah satu dalam tahap perkembangan manusia adalah tahap dewasa awal.
Tahap dewasa awal
merupakan tahap individu yang sudah melewati fase peralihan dari remaja ke dewasa awal, dimana
pada masa remaja merupakan transisi yang penuh gejolak pencarian identitas diri (Sunarti dkk.,
2017). Masa peralihan dari remaja menuju dewasa atau yang sering dikenal sebagai emerging
adulthood dialami ketika individu berusia 18-25 tahun. Terlepas dari usia awal tersebut,
tidak menutup kemungkinan individu masih merasakan krisis peralihan tersebut di akhir
20-an sehingga usia 18-29 tahun sering dipertimbangkan sebagai usia peralihan (Arnett, 2014
dalam Artiningsih dan Savira 2021). Dalam prosesnya, masa peralihan dapat memberikan efek
tersendiri bagi setiap individu. Tidak sedikit individu yang merasa antusias dalam memasuki
tahapan kehidupan baru (Nash & Murray, 2010).
Pada fase dewasa awal, individu mulai dituntut untuk melepaskan ketergantungannya
terhadap orang tua dan berusaha untuk dapat menjadi mandiri baik secara mental, finansial,
maupun karir (Jahja, 2011). Dewasa awal yang menjadi pengangguran akan memiliki perasaan
tidak berguna, kurang percaya diri, mudah tersinggung, dan tertekan karena mendapatkan
tuntutan dari orang tua dan lingkungan sosial (Sabiq dan Apsari, 2021). Pada masa dewasa
awal, individu mulai diharapkan untuk bertanggung jawab atas diri mereka sendiri. Saat
individu mencapai usia dewasa, individu melewati fase eksplorasi identitas yang sering kali
membawa serta masalah, emosi, isolasi sosial, dan perubahan nilai-nilai yang harus sesuaikan.
Pada masa dewasa ini, individu mengalami banyak perubahan termasuk perubahan fisik,
kognitif, maupun psikososial dan emosional (Syifa'ussurur dkk., 2021).
Dalam kondisi peralihan tersebut, individu melakukan eksplorasi dikarenakan tuntutan
yang berbeda dan semakin besar dibandingkan dengan tahapan sebelumnya (King, 2014).
Namun, setiap individu memiliki tantangan dan kebutuhan perkembangan yang berbeda.
Mereka yang sepenuhnya menerima perubahan ini merasa siap dan mampu mengatasinya.
Berbeda dengan individu yang merasa cemas dan kesulitan menghadapi tantangan dan
perubahan tersebut, individu tersebut mungkin mengalami Quarter-Life Crisis (Afnan dkk.,
2020).
Istilah Quarter-Life Crisis pertama kali dicetuskan oleh Alexander Robbins dan Willner
(2001) berdasarkan teori perkembangan dewasa Jeffrey Arnett (2000). Robbins dan Wilner
menggunakan istilah ini utuk mengambarkan kaum muda yang baru saja keluar dari masa
remaja dan memulai menjalani fase kehidupan dewasa. Menurut Robbins dan Wilner
(Masluchah, 2022), quarter life crisis adalah masa ketidak-pastian dan ketidak-stabilan serta
kecemasan akan perubahan besar yang terjadi pada kehidupan. Pada masa ini individu dapat
mengalami gejala yang bervariasi mulai dari kecemasan, serangan panik, depresi, kebingungan
identitas, ketidak-stabilan, serta kehilangan diri sendiri. Quarter life crisis terjadi ketika
seseorang berada pada masa dewasa awal, mulai meragukan tentang masa depan, dan merasa
terjebak dengan pilihan hidup yang akan di jalani.
Menurut Thorspecken (dalam Riyanto 2005) quarter life crisis adalah kebingungan
terhadap diri mulai mempertanyakan pilihan karir dan identitas diri, sebagian individu
merespon permasalahan ini dengan berhenti dari pekerjaan, menunda keputusan karir,
mengalami depresi atau mengembangkan gangguan kecemasan. Menurut sujudi dan ginting
(2020), Quarter life crisis merupakan reaksi intens yang terjjadi saat orang berusia diatas 20
tahun dihadapkan pada kenyataan hidup dan perubahan konstan yang menyertainya. Quarter
life crisis menunjukkan gejala-gejala seperti perasaan tidak berdaya, isolasi, keraguan terhadap
dirinya, dan takut akan kegagalan di masa depan seperti pekerjaan, hubungan, kebidupan sosial
dan lain-lain.
Krisis kehidupan ini merupakan sebuah keadaan yang tidak dapat dipungkiri lagi dan
hampir semua orang pernah atau akan mengalaminya. Ketika mengalami quarter life crisis,
individu akan meragukan diri sendiri, tidak percaya diri, merasa tidak berdaya, stres, memiliki
emosi yang tidak stabil, takut mengalami kegagalan, serta merasa diasingkan oleh lingkungan
sekitar. Seseorang yang mengalami quarter life crisis akan merasakan kegalauan akan
hidupnya, ia akan merasa bahwa hidupnya yang terasa monoton dan jalan ditempat, selain itu
individu akan merasa khawatir yang berlebih terhadap masa depan yang akan datang karena ia
takut kehidupan yang akan datang tidak sesuai dengan kehidupan yang telah ia bayangkan dan
rencanakan sebelumnya (permatasari, 2021).
One Poll dalam First direct melakukan survei terhadap 2000 milenial di Inggris pada tahun
2017. Dimana survei menunjukkan 56% generasi milenial di Inggris mengalami Quarter-Life
Crisis. Hampir 60% melaporkan bahwa individu mempertanyakan situasi kehidupan mereka
dikarenakan adanya tekanan-tekanan dari lingkungan. (Putri, 2020). Sujudi (2020) melakukan
wawancara kepada 30 orang. Banyak dari mereka yang menuturkan kekhawatiran terhadap
masa depan yang tidak pasti tersebut. Ada yang mengku stress akibat tugas kuliah, ada yang
mengaku sering merasa khawatir, panik dan pesimis, ada yang mengaku sering membandikan
pencapaian dirinya dengan orang lain
Penelitian yang dilakukan oleh oleh Artiningsih (2021) kepada 330 individu dewasa awal
di Surabaya menemukan bahwa rata-rata skor 9 QLC pada perempuan lebih tinggi daripada
laki-laki meskipun sama-sama dalam kategori sedang. Rata-rata skor QLC perempuan dan
laki-laki sebesar 48,71% dan 44,88%. Mereka ditemukan lebih tinggi mengalami cemas,
terterkan akan tuntutan sekitar, serta khawatir terhadap status hubungan yang dimiliki. Dari
penelitian tersebut didukung oleh teori Dickerson (dalam Rosalinda, 2019) menyatakan bahwa
QLC lebih banyak dialami oleh wanita daripada laki-laki karena adanya tuntutan wanita saat
ini tidak hanya sebatas menikah dan merawat keluarga saja, tetapi dapat bekerja, memiliki
karier dan kondisi finansial yang baik serta membangun kehidupan sosial.
Black (dalam maslakha 2022) mengemukakan bahwa quarter life crisis dipengaruhi oleh
dua faktor yaiyu internal dan ekssternal. Salah satu faktor internal adalah hope. Menurut
Sumartha (2020) harapan merupakan keadaan kognisi da emosi yang positif pada individu.
Harapan dapat menggambarkan sejauh mana individu memandang kemampuan pribadinya
dalam mengonseptualisasikan tujuan yang akan dicapai, dengan memperhatikan strategi dalam
mencapai tujuan dan kemampuan mempertahankan motivasi dalam pelaksanaan strategi
tersebut. Ketika dalam kondisi sulit, harapan dapan menjadi dorongan dan kekuatan bagi
individu untuk tetap berfokus pada pencapaian tujuan.
Hope adalah bagaimana seseorang mampu untuk merencanakan jalan keluar dalam upaya
mencapai tujuan walaupun adanya rintangan maupun hambatan, dan memiliki motivasi untuk
mencapai tujuan (Snyder, 2002). menurut Carr (dalam maslakha 2022) hope ialah keadaan
mental atau emosi positif individu dimana ia yakin dengan kemampuan yang dimilikinya untuk
mencapai tujuannya di masa depan
Hope (harapan) adalah set kognitif yang dapat berperan sebagai kontrol diri keberhargaan
diri, kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan coping yang berpengaruh terhadap
kesehatan mental. Harapan memiliki korelasi yang negatif terhadap depresi, kecemasan dan
keputusan (Margaletta & Oliver, 1999). harapan juga memiliki keterkaitan dengan periode
quarter life crisis, yang mana ketika individu mengalami berbagai tahapan-tahapan sulit dalam
hidupnya, sementara respon yang diberikan adalah kebingungan, kecemasan hingga putus asa
dan tidak memiliki harapan, maka sangat mungkin individutersebut akan mengalami periode
emosional berbahaya, yang mengarah pada permasalahan emosional dan mental atau quarter
life crisis (Murphy, 2011).
Peneitian yang dilakukan oleh adharina dkk (2022) mengemukakan bahwa hasil penelitian
menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara hope dengan quarter life crisis
pada dewasa awal. Semakit tinggi harapan pada individu, semakin rendah tingkat quarter life
krisis yang dialami, begitupun sebaliknya semakin rendah harapan maka semakin tinggi
quarter life crisis yang dialami individu hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
setiawan dan milati (2022) dalam penelitiannya menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan
negatif yang signifikan antara harapan dan quarter life crisis. Sumartha (2020) dimana
menunjukkan hasil bahwa hope dapat menjadi kekuatan untuk menghadapi Quarter-Life
Crisis. Hope membuat diri disiplin dalam memecahkan masalah individu dan dapat
mengurangi kemungkinan terjadinya Quarter-Life Crisis. Hal ini menunjukkan bahwa harapan
sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi bagaimana individu mengatasi krisis kehidupann
seperti quarter life crisis.
Selain faktor internal, Black (dalam maslakha 2022) juga mengungkapkan beberapa faktor
eksternal, salah satu faktor eksternalnya adalah teman, hubungan romantis dan hubungan
keluarga. hubungan sosial yang terkait dengan quarter life crisis adalah tekanan teman sebaya
atau peer pressure.
Menurut brown (dalam lailatuzzahro, 2024) tekanan teman sebaya atau peer pressure
merupakan dorongan atau tekanan untuk mengikuti teman sebaya yang berpengaruh. Salah
satunya berupa tekanan, baik tekanann sosial maupun tekanan psikologis. Dalam teori
perkembangan santrock (2009) berpendapat bahwa peer pressure adalah tekanan sosial dari
suatu kelompok, dimana memaksa seseorang untuk bertindak dan memiliki pola pikir yang
sama agar dapat diterima oleh kelompok tersebut.
Menurut khadafi (2014) peer pressure atau biasanya disebut tekanan teman sebaya adalah
beban umum dari sebuah pertemuan, yang mengharapkan seseorang untuk bertindak umum
dan berpikir dengan tujuan tertentu dalam pikiran, untuk diakui oleh pertemuan tersebut.
Menurut Lailatuzzahro (2024) peer pressure adalah tekanan sosial dari teman sebaya yang akan
menimbilkan perasaan tertekan karena paksaan dari orang lain untuk melakukan kegiatan atau
aktivitas yang sama dan memenuhi harapan dari orang lain.
Penelitian terdahulu terkait peer pressure dan quarter life crisis. Penelitian Maslakha (2022)
menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan positif antara peer pressure dan quarter life crisis.
Semakit tinggi peer pressure individu maka semakin tinggi pula quarter life crisis. Penelitian
Lailatuzzahro (2024) menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara
quarter life crisis dan peer pressure Dimana semakin tinggi peeer pressure maka semakin tinggi
pula quarter life crisis yang dialami seseorang.