0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan12 halaman

Panduan Lengkap Benign Prostate Hyperplasia

Laporan ini membahas tentang Benign Prostate Hyperplasia (BPH), yang merupakan pembesaran jinak kelenjar prostat yang dapat mengganggu aliran urine. Penyebab BPH meliputi faktor hormonal, interaksi sel, dan berkurangnya kematian sel prostat, dengan manifestasi klinis seperti frekuensi berkemih yang meningkat dan kesulitan memulai buang air kecil. Penatalaksanaan BPH dapat dilakukan melalui observasi, medikamentosa, terapi bedah, dan terapi invasif minimal.

Diunggah oleh

sal827812
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan12 halaman

Panduan Lengkap Benign Prostate Hyperplasia

Laporan ini membahas tentang Benign Prostate Hyperplasia (BPH), yang merupakan pembesaran jinak kelenjar prostat yang dapat mengganggu aliran urine. Penyebab BPH meliputi faktor hormonal, interaksi sel, dan berkurangnya kematian sel prostat, dengan manifestasi klinis seperti frekuensi berkemih yang meningkat dan kesulitan memulai buang air kecil. Penatalaksanaan BPH dapat dilakukan melalui observasi, medikamentosa, terapi bedah, dan terapi invasif minimal.

Diunggah oleh

sal827812
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA (BPH)

DISUSUN OLEH :
SABILA RISNUL KHOTIMAH HS
P07120123036

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MATARAM
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI [Link] KEPERAWATAN MATARAM
TAHUN 2025
[Link] TEORI
[Link]
Benign Prostatic Hyperlansia (BPH) atau pembesaran prostat jinak merupakan
satu keadaan terjadinya proliferasi sel stroma prostat yang akan menyebabkan
pembesaran dari kelenjar prottat (Aljamil et al.,2018)
Benign Prostatic Hyperplasia adalah suatu keadaan dimana kelenjar prostat
mengalami pembesaran memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan
menyumbat aliran urine dengan cara menutupi orifisium uretra (Rahman, 2019).
Berdasarkan pengertian di atas Benign Prostate Hyperplasia (BPH) adalah suatu
keadaan terjadinya proliferasi sel stroma prostat yang menyebabkan pembesaran
kelenjar prostat dan bermanifestasi pada tersumbatnya aliran urine.
[Link]
Beberapa hipotesis menurut Rahman, (2019) yang diduga sebagai penyebab
timbulnya BPH adalah:
[Link] Dihidrotestosteron
Dihidrotestosteron adalah metabolit androgen yang sangat penting pada
pertumbuhan selsel kelenjarprostat. DHT-RA pada inti sel adalah pemicu sintesis
protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat.
2. Ketidakseimbangan antara Estrogen-Testosteron
Telah diketahui bahwa estrogen pada kelenjar prostat berperan untuk terjadinya
proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan jumlah reseptor
androgen dan menurunkan jumlah kematian sel-sel kelenjar prostat (apoptosis).
Hasil akhir dari semua keadaan ini adalah, meskipun rangsangan terbentuknya sel-
sel baru akibat rangsangan testosteron menurun, tetapi sel-sel prostat yang telah ada
mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa kelenjar prostat menjadi lebih
besar.
3. Interaksi Stroma -Epitel
Diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel kelenjar prostat secara tidak langsung
dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor) tertentu.
Setelah sel-sel stroma mendapatkan stimulasi dari dihidrotestosteron dan estradiol,
sel-sel stroma mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya mempengaruhi
sel stroma itu sendiri secara intrakin atau autokrin, serta mempengaruhi sel-sel
epitel secara parakrin. Stimulasi itu menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel
epitel maupun sel stroma.
[Link] Kematian Sel Prostat
Pada jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan
kamatian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan kelenjar prostat sampai pada kelenjar
prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel kelenjar prostat baru dengan yang mati
dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel kelenjar prostat yang
mengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel kelenjar prostat secara
keseluruhan menjadi meningkat sehingga menyebabkan pertambahan massa
kelenjar prostat.
[Link]
Berdasarkan perkembangan penyakitnya menurut Sjamsuhidajat & Jong, (2019)
secara klinis penyakit BPH dibagi menjadi 4 gradiasi :
1. Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada colok dubur
ditemukan penonjolan prostat, batas atas mudah teraba dan sisa urin kurang dari
50 ml
2. Derajat 2 : Ditemukan penonjolan prostat lebih jelas pada colok dubur dan batas
atas dapat dicapai, sedangkan sisa volum urin 50- 100 ml.
3. Derajat 3 : Pada saat dilakukan pemeriksaan colok dubur batas atas prostat tidak
dapat diraba dan sisa volum urin lebih dari 100ml.
4. Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi urine total

[Link] Klinis
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (2018)
menjelaskan bahwa manifestasi klinis BPH meliputi:
1. Frekuensi berkemih dx atau lebih dalam 24 jam
2. Ketidakmampuan menunda buang air kecil
3. Kesulitan memulai berkemih
4. Nocturia (sering berkemih pada malam hari)
5. Retensi urin
6. Inkontinensia urin
7. Nyeri pada saat ejakulasi maupun buang air kecil
8. Urin memiliki warna atau bau yang tidak biasa
[Link]
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra dan akan
menghambat aliran urin. Kondisi ini menyebabkan peningkatan tekanan di dalam
vesika urinaria Untuk dapat mengeluarkan urin, kandung kemih harus berkontraksi
lebih kuat dengan tujuan untuk melawan tahanan itu (Belleza, 2016).Kontraksi yang
terus-menerus ini menyebabkan perubahan anatomis dari vesica urinaria berupa
hipertrofi otot, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel vesica urinaria. Fase
penebalan otot detrusor ini disebut fase kompensasi. Perubahan struktur pada vesica
urinaria dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih bawah atau lower
urinary tract symptom (LUTS). Semakin meningkatnya resistensi uretra, oto tidak
mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Tekanan intravesika
urinaria yang semakin tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian vesica
urinariatermasuk ke dalam muara ureter. Tekanan pada muara ureter ini dapat
menimbulkan aliran balik atau refluk urin dari vesica urinaria ke ureter atau terjadi
refluks vesicoureter. Apabila kondisi ini berlangsung terus, maka akan
mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis,bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam
gagal ginjal (Foo, 2017).
Penyakit BPH terdiri dari dua komponen yang berpengaruh untuk terjadinya gejala
yaitu komponen mekanik dan komponen dinamik. Komponen mekanik ini
berhubungan dengan adanya pembesaran kelenjar periuretra yang akan mendesak
uretra pars prostatika sehingga terjadi gangguan aliran urin (obstruksi infra vesika
urinaria), sedangkan komponen dinamik meliputi tonus otot polos prostat
dankapsulnya, yang merupakan alpha adrenergik reseptor. Stimulasi pada alpha
adrenergik reseptor akan menghasilkan kontraksi otot polos prostat ataupun kenaikan
tonus. Komponen dinamik ini tergantung dari stimulasi syaraf simpatis, yang juga
tergantung dari beratnya obstruksi oleh komponen mekanik (Mayo Clinic. 2018).
[Link]

[Link] Penunjang
Menurut Haryono (2018) pemeriksaan penunjang BPH meliputi :
1. Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan kesan keadaan tonus sfinger anus
mukosa rectum kelainan lain seperti benjolan dalam rectum dan prostat
[Link] (USG) Digunakan untuk memeriksa konsistensi volume dan besar
prostat juga keadaan buli-buli termasuk residual urine.
[Link] dan kultur urine Pemeriksaan ini untuk menganalisa ada tidaknya infeksi
dan RBC (Red Blood Cell) dalam urine yang memanifestasikan adanya pendarahan
atau hematuria.
[Link] (Deep Peritoneal Lavage) Pemeriksaan pendukung ini untuk melihat ada
tidaknya perdarahan internal dalam abdomen. Sampel yang di ambil adalah cairan
abdomen dan diperiksa jumlah sel darah merahnya.
[Link], Elektrolit, dan serum kreatinin Pemeriksaan ini untuk menentukan status
fungsi ginjal. Hal ini sebagai data pendukung untuk mengetahui penyakit
komplikasi dari BPH.
[Link](Patologi Anatomi) Pemeriksaan ini dilakukan dengan sampel jaringan pasca
operasi. Sampel jaringan akan dilakukan pemeriksaan mikroskopis untuk
mengetahui apakah hanya bersifat benigna atau maligna sehingga akan menjadi
landasan untuk treatment selanjutnya.
[Link]
Menurut Rahman (2018) penatalaksanaan medis BPH adalah sebagai berikut :
1. Observasi
Kurangi minum setelah makan malam, hindari obat dekongestan, kurangi kopi,
hindari alkohol, tiap 3 bulan kontrol keluhan, sisa kencing dan colok dubur.
2. Medikamentosa
[Link] adrenoreseptor α
b,Obat anti androgen
[Link] enzim α -2 reduktase
[Link]
3. Terapi Bedah
Indikasinya adalah bila retensi urin berulang, hematuria, penurunan
fungsi ginjal, infeksi saluran kemih berulang, divertikel batu saluran kemih,
hidroureter, hidronefrosis jenis pembedahan:
[Link] (Trans Uretral Resection Prostatectomy)
Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat melalui sitoskopi
atau resektoskop yang dimasukkan malalui uretra.
[Link] Suprapubis
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat pada kandung
kemih.
[Link] retropubis
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada abdomen bagian bawah
melalui fosa prostat anterior tanpa memasuki kandung kemih.
[Link] Peritoneal
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah insisi diantara
skrotum dan rektum.
[Link] retropubis radikal
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula, vesikula seminalis dan
jaringan yang berdekatan melalui sebuah insisi pada abdomen bagian bawah, uretra
dianastomosiskan ke leher kandung kemih pada kanker prostat.
4. Terapi Invasif Minimal
[Link] Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT)
Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang disalurkan ke kelenjar
prostat melalui antena yang dipasang melalui/pada ujung kateter.
[Link] Uretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy (TULIP)
[Link] Uretral Ballon Dilatation (TUBD)
DAFTAR PUSTAKA

Al Jamil, A. P., Pertiwi, D., & Elvira, D. (2018). Gambaran Hasil Pemeriksaan Urine
pada Pasien dengan Pembesaran Prostat Jinak di RSUP DR. M. Djamil Padang.
Jurnal Kesehatan Andalas, 7(1), 137. [Link]
Bachtiar, S. M. (2019). Pengaruh PMR (Progressive Muscle Relaxation) terhadap
Penurunan Intensitas Nyeri pada Pasien Post Op Bph (Benign Prostate Hiperplasia.
Jurnal Media Keperawatan: Politeknik Kesehatan Makassar, 10(2), 92–96.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (1st ed.). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (2nd ed.). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (2nd ed.). DPP PPNI.
Rahman, S. (2019). Pengobatan Hipertrofi Prostat Non Operatif. September, 12.
Sjamsuhidajat, R., & Jong, W. De. (2019). Buku Ajar Ilmu Bedah (2nd ed.). Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.
Sutysna, H. (2018). Tinjauan Anatomi Klinik Pada Pembesaran Kelenjar Prostat. Jurnal
UMSU, 1(September), 4–8.

Anda mungkin juga menyukai