EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE TAHSIN DALAM BIMBINGAN
BELAJAR BAGI PESERTA DIDIK YANG KESULITAN MEMBACA
AL-QUR’AN DI MTsS BADAN AMAL UJUNG LOE
PROPOSAL
Diajukan untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana
Pendidikan ([Link]) Jurusan Pendidikan Agama Islam
Pada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
Al-Gazali Bulukumba
Oleh:
RISDAWATI
NIM : 208.21.028
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
AL - GAZALI BULUKUMBA
2025
PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI
Bulukumba, 2025 M.
1446 H.
Diketahui Oleh :
Ketua jurusan Program Studi PAI Penyusun,
Dr. Andi Muhammad Asbar, [Link].I., [Link].I Risdawati
NIM. 208.21.028
Pembimbing I Pembimbing II
H. Andi Asnawi, S.S., [Link] Sutra Awaliyah Darfin, [Link]., [Link].
Disahkan Oleh:
KETUA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
(STAI) AL-GAZALI BULUKUMBA,
Dr. H. IRMAN SYAH, [Link]., [Link].I
2
KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
Syukur alhamdulillah, penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt., Tuhan Yang
Maha Bijaksana dan Maha Segala-galanya, karena atas izin dan kuasa-Nyalah,
tesis yang berjudul “Efektivitas Penerapan Metode Tahsin dalam Bimbingan
Belajar Bagi Peserta Didik yang Kesulitan Membaca Al-Qur’an di MTsS
Badan Amal Ujung Loe.” Penulis menyadari bahwa di dalam usaha penyusunan
proposal ini, penulis senantiasa mengalami berbagai hambatan dan rintangan,
akan tetapi berkat ketekunan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya proposal
ini dapat diselesaikan namun masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu pada
kesempatan ini, sewajarnyalah penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya utamanya kepada:
1. Drs. H. Tjamiruddin, [Link].I., selaku ketua Yayasan STAI Al-Gazali
Bulukumba.
2. Dr. H. Irman Syah, [Link]., [Link].I, selaku ketua STAI Al-Gazali Bulukumba.
3. Bapak Dr. Andi Muhammad Asbar, [Link].I., [Link].I sebagai Ketua Program
studi Pendidikan Agama Islam.
4. Bapak H. Andi Asnawi, S.S., [Link] dan ibu Sutra Awaliyah Darfin, [Link].,
[Link]. masing-masing selaku pembimbing yang telah banyak membantu
penulis dalam penyusunan skripsi ini.
5. Kedua orang tua yang telah membesarkan dengan penuh kasih sayang dan
pengorbanan yang tak terhitung banyaknya.
6. Para dosen yang telah membina penulis dalam menyelesaikan studi.
3
7. Kakak–Kakak saya dan saudari-saudari yang telah banyak membantu dalam
proses panjang ini, baik itu bantuan berupa material maupun moral, maka
penulis hanya mampu berdo’a semoga Allah subhana wata’ala membalas
semua kebaikannya.
Dan akhirnya penulis berharap semoga proposal ini dapat bermanfaat untuk
kita semua dan dapat dilanjutkan ke penelitian.
Bulukumba 2025 M
1445 H
Penulis,
Risdawati
NIM. 208.21.028
4
DAFTAR ISI
PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI..........................................................................ii
KATA PENGANTAR......................................................................................................iii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................v
BAB I...................................................................................................................................1
PENDAHULUAN...............................................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah.......................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................................7
C. Tujuan Penelitian.................................................................................................7
D. Manfaat Penelitian...............................................................................................7
BAB II.................................................................................................................................9
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR...............................................................9
A. TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................9
1. Penelitian Terdahulu........................................................................................9
2. Landasan Teori...............................................................................................11
b. Metode Pembelajaran Tahsin.................................................................................13
1. Pengertian Metode Tahsin.............................................................................13
2. Tujuan Penerapan Tahsin.......................................................................................16
3. Kelebihan dan Kekurangan dalam menggunakan Penerapan Tahsin....................17
4. Metode Iqro’..........................................................................................................17
5. Tajwid....................................................................................................................18
6. Kemampuan Membaca Al-Qur’an.........................................................................18
7. Bimbingan Belajar dalam Membaca Al-Qur’an....................................................19
BAB III..............................................................................................................................28
PENDEKATAN PENELITIAN......................................................................................28
A. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN..................................................28
1. Jenis Penelitian.......................................................................................................28
B. Subjek Penelitian................................................................................................29
C. Teknik Pengumpulan Data.................................................................................29
D. Teknik Pengolahan dan Analisis Data...............................................................30
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................31
5
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an mempunyai kedudukan yang tertinggi di dalam hukum
Islam. Al-Qur’an adalah firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad Saw. Melalui perantara malaikat Jibril, dan ketika
membacanya termasuk ibadah, tertulis dalam satu mushaf dari awal surah
Al-Fatihah sampai akhir surah An-Nas yang disampaikan dari generasi ke
generasi secara berturut-turut.
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt yang bertujuan untuk dijadikan
sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi semua kalangan manusia
(hudan lin-nas), terutama bagi umat Islam tanpa adanya perbedaan satu
sama lain. Apabila mereka menginginkan petunjuk dari Al-Qur’an untuk
semua persoalan di kehidupan dunia dan akhirat maka mereka harus bisa
mengimani, membaca, mempelajari, memahami, menafsirkan,
mengamalkan dan dijadikan sandaran hukum ataupun dijadikan sebagai
rujukan dan pedoman atas segala penyakit yang berada pada pada
manusia, dengan begitu maka kemungkinan mereka akan mendapatkan
petunjuk dari Al-Qur’an tersebut sebagaimana berdasarkan dari firman
Allah Swt dalam Q.S Al-Isra: 9
6
Terjemahnya :
“sungguh, Al-Qur’an ini memberikan petunjuk ke (jalan) yang paling
lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang
mengajarkan kebajikan, bahawa mereka akan mendapat pahala yang
besar”. (Qs. Al-Isra: 9)1
Salah satu cinta manusia terhadap Al-Qur’an yaitu dengan membaca,
memahami, menafsirkan dan mengamalkan isi kandungannya akan
membantu manusia menemukan nilai-nilai yang dapat dijadikan
pedoman untuk menyelesaikan masalah hidup. Agama Islam sangat
menganjurkan umat islam dalam membaca al-Qur’an dan memahami,
dikarenakan akan menjadi syafaat di akhirat kelak. Salah satu cara
membaca dan mempelajari al-Qur’an secara baik dan benar ialah dengan
cara mempelajari dan memahami ilmu tajwid.
Era modern ini, banyak sekali pergeseran nilai kehidupan
dikarenakan generasi muda masih banyak yang belum mampu untuk
membaca al-Qur’an secara baik dan benar, dan mereka tetap saja tidak
berusaha untuk membacanya, bahkan banyak dari orang tua yang buta
huruf hijaiyah juga membiarkan anaknya hidup dalam kondisi sama.
Padahal generasi muda merupakan ujung tombak para pendiri agama di
Indonesia akan datang, jadi batas membaca al-Qur’an menjadi muda
sangat disayangkan.
Banyaknya peserta didik yang tidak bisa membaca al-Qur’an atau
lainnya buta huruf Al-Qur’an disebabkan belum ditemukannya metode
yang tepat dan mudah untuk belajar membaca al-Qur’an sehingga belajar
1
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Al Karim, (Quran Kemenag Online, 2020, Qs. Al-Isra:
9)
7
tidak mungkin sangat menyerap. Seharusnya pada usia sekolah dasar dan
sekolah menengah pertama, peserta didik sudah mulai diberi
pembelajaran al-Qur’an dengan baik dan benar, karena pada usia ini,
merupakan usia emas yang mana pembelajarannya akan mudah
tersampaikan dengan baik, dan mudah diingat selamanya.
Seorang pendidik hendaknya mampu mengetahui perkembangan
pertumbuhan peserta didik yang berbeda-beda. Perkembangan peserta
didik dapat terhalang dalam menerima suatu pembelajaran apabila minat
belajar, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan dalam belajar serta
pergaulannya. Ketika seorang pendidik mampu mengetahui implikasi
tersebut, maka ia akan mengetahui fungsi dan cara yag tepat untuk
mengajar2.
Dalam proses pembelajaran, diperlukan unsur-unsur yang dapat
membantu mencapai tujuan. Guru adalah salah satu komponen manusia
dalam proses belajar mengajar yang berperan penting dalam
pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pendidikan.
Oleh karena itu, guru harus berperan aktif dan menempatkan
kedudukannya sebagai tenaga prosfesional3.
Pendidik ataupun pembimbing dalam mengajarkan membaca al-
Qur’an hendaknya senantiasa mencari metode pembelajaran yang
2
NovanArdyWiyana, Etika Profesi Keguruan, (Yogyakarta: Gava Media, 2015), hal.131
3
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2004), hal. 125
8
dikiranya efektif untuk diterapkan dalam bimbingan belajar membaca al-
Qur’an. Oleh sebab itu penggunaan pendekatan dan juga metode sangat
berpengaruh dalam menarik perhatian generasii muda dalam belajar
membaca al-Qur’an.
Kemajuan di bidang teknologi kini telah memungkinkan pendidik
untuk menyaksikan peserta didik yang sedang bekerja sewaktu ia belajar,
maka para pendidik mampu untuk menyesuaikan kemampuan peserta
didik dengan menentukan cara atau metode yang paling efektif dalam
mengajar4.
Sehingga penulisan dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan metode adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh oleh seorang
pendidik dalam menyampaikan bahan ajar kepada peserta didik, agar
lebih mengerti. Dan juga pengetahuan tentang metode-metode mengajar
sangat diperlukan oleh pendidik, sebab berhasil atau tidaknya peserta
didik belajar sangat bergantung tepat atau tidaknya metode mengajar
yang digunakan oleh guru. Oleh sebab itu, agar memperoleh metode
yang tepat diperlukan strategi di dalam memilihnya.
Seorang pendidik tidak hanya harus pandai dalam memilih metode
perlu diperhatikan juga di dalam penerapan metode. Karena meskipun
metode yang dipilih telah sesuai, namun apabila dalam penerapan kurang
benar maka tidak akan didapatkan efektifitas di dalam menerapkan
4
Judy Wilis, Metode Pengajaran dan Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak,
(Yogyakarta: Mitra Media, 2011), hal. 1
9
metode mampu meciptakan suasana belajar menjadi suasana yang
menyenangkan, karena dengan suasana tersebut belajar akan lebih efektif
untuk menyelesaikan masalah kesulitan membaca al-Qur’an adalah
dengan penerapan tahsin.
Metode tahsin adalah metode yang bertujuan untuk memperbaiki
atau memperindah bacaan al-Qur’an sehingga bacaan kita sesuai dengan
bacaan Rasulullah Saw, yakni mengeluarkan huruf dari makhrajnya,
memenuhi sifatnya dan selalu memperthatikan hukum bacaannya. Atau
dengan kata lain memperindah bacaan al-Qur’an sesuai kaidah-kaidah
dalam ilmu tajwid. Sistem pendidikan dan pengajaran metode tahsin ini
melalui sistem yang berpusat pada murid dan guru yang dilaksanakan
secara klasikal maupun individual.
Metode tahsin, yang berfokus pada perbaikan dan peningkatan
kemampuan membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar, sangat
penting untuk diterapkan di sekolah-sekolah, khususnya di sekolah-
sekolah Islam. Namun, kondisi siswa di sekolah terkait penerapan
metode ini sering kali bervariasi. Beberapa siswa mengalami kesulitan
dalam memahami dan melafalkan huruf-huruf Arab dengan benar, yang
disebabkan oleh faktor kurangnya pemahaman tentang tajwid atau
kurangnya latihan intensif. Di sisi lain, ada juga siswa yang mampu
menguasai tajwid dengan baik namun kurang dalam kelancaran
membaca. Hal ini menunjukkan perlunya metode yang lebih efektif dan
terstruktur dalam pengajaran tahsin di sekolah, dengan menggabungkan
10
teori dan praktik yang berkelanjutan. Menurut penelitian oleh Aisyah,
siswa yang mengikuti pelajaran tahsin secara rutin menunjukkan
peningkatan yang signifikan dalam kemampuan membaca Al-Qur'an
dengan tajwid yang benar, meskipun masih ada tantangan dalam
keterlibatan aktif siswa dalam setiap sesi pembelajaran. Oleh karena itu,
penting untuk menciptakan suasana belajar yang mendukung dan
melibatkan siswa secara langsung dalam praktek tahsin untuk mencapai
hasil yang optimal.5
Berdasarkan latar belakang yang sudah dijabarkan, maka penulis
tertarik untuk meneliti secara mendalam mengenai bagaimana
impelementasi dan keefektifan penerapan tahsin dalam bimbingan
belajar bagi peserta didik yang kesulitan membaca al-Qur’an di MTsS
Badan Amal Ujung Loe. Maka dari itu peneliti mengambil judul tentang
“Efektivitas Penerapan Metode Tahsin dalam Bimbingan Belajar
Bagi Peserta Didik yang Kesulitan Membaca Al-Qur’an di MTsS
Badan Amal Ujung Loe.”
B. Rumusan Masalah
5
Aisyah, Nurul. "Penerapan Metode Tahsin dalam Meningkatkan Kemampuan
Membaca Al-Qur'an di Sekolah Islam." Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 12, No. 2,
11
Berdasarkan uraian dan penjelasan pada latar belakang masalah diatas
maka penulis paparkan rumusan masalah penelitian ini yaitu: Bagaimana
efektivitas penerapan tahsin dalam bimbingan belajar peserta didik yang
kesulitan membaca al-Qur’an di MTsS Badan Amal Ujung Loe ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas mengenai
implementasi penerapan tahsin dalam bimbingan belajar bagi peserta
didik yang kesulitan membaca al-Qur’an di MTsS Badan Amal Ujung
Loe.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat teoritis dan praktis, sebagai berikut
1. Secara teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman keilmuwan
mengenai meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an di MTsS
Badan Amal Ujung Loe.
2. Secara praktis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak
diantaranya:
a. Bagi pendidik
Penelitian ini bisa menjadi rujukan bagi pendidik untuk
mempermudah jalannya menjadi pendidik yang professional.
b. Bagi peserta didik
12
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu peserta didik
dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca
al-Qur’an.
c. Bagi penulis
Penelitian ini diharapkan sebagai tambahan wawasan dan
pengetahuan serta pengalama, kemampuan, keterampilan, serta
bekal dalam menyampaikan sebuah materi kepada peserta didik.
d. Bagi MTsS Badan Amal Ujung Loe
Penelitian ini diharapkan dapat sebagai alat serta masukan untuk
mencapai tujuan sekolah, dan dapat memotivasi serta
meningkatkan kemampuan peserta didik yang kesulitan dalam
membaca Al-Qur,an.
13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR
A. TINJAUAN PUSTAKA
1. Penelitian Terdahulu
Adapun beberapa penelitian sebelumnya untuk menggali teori atau
pernyataan dari para ahli yang berhubungan untuk dikaji penulis dalam
hal ini adalah sebagai berikut:
a. Fakhrurroji Batubara, Tuty Alawiyah, Zulkarnaen Guchi Fakultas
Agama Islam Universitas Sumatera Utara, dalam Jurnal
Pendidikan Agama Islam dan riset yang berjudul : Pengaruh
metode tahsin tilawah dalam meningkatkan kemampuan membaca
al-Qur’an pada siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah swadaya
Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi metode
resitasi di Madrasah Swadaya, khususnya mengenai pengaruh
metode tajwid yang meningkatkan kemampuan siswa dalam
membaca Al-Qur’an. penelitian ini menggunakan pengumpulan
data dalam hal ini penelitian kuantitatif dengan menggunakan
angket yang di bagikan kepada seluruh siswa kelas VIII Madrasah
Tsanawiyah Swadaya sebagai populasi sekaligus sampel.
Sehubungan dengan jumlah populasi kurang dari 100 orang,
sampel penelitian ini melibatkan seluruh populasi sehingga
penelitian ini disebut juga sebagai penelitian populasi. Jadi siswa
9
hanya diminta untuk memilih alternatif jawaban yang akan
diberikan tentang pengaruh metode tilawah tahsin dengan
memberikan tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang dipilih.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode tajwid
tahsin di kelas VIII MTs Swadaya berjalan dengan baik dan sangat
berpegaruh.
b. Afni Nurfatwa Wardhani, Annisa Nurul Astriani, Fakultas
Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
(Desember 2021) dalam Jurnal Studi Agama-Agama yang berjudul :
Penerapan Metode Tahsin dan Tajwid Dalam Meningkatkan Bacaan
Al-Qur’an di Madrasah Al-Qadr Pangalengan. Berdasarkan
penelitian yang sudah dilakukan tentang penerapan metode tahsin
dan tajwid dalam meningkatkan bacaan Al-Qur’an di Madrasah Al-
Qadr Pangalengan maka dapat disimpulkan pembelajaran AL-
Qur’an menggunakan metode tahsin dan tajwid. Pemilihan metode
tahsin dan tajwid, digunakan karena metode ini dilihat lebih praktis
untuk mempelajari Al-Qur’an. Penerapan metode ini dirasa efektif
dibuktikan dengan dari 80 orang jumlah seluruh anak di Madrasah
Al-Qadr dan tajwid yang jika di presentasikan terdapat 90% anak
mengalami masalah dalam bacaan Al-Qur’an dan tajwid, terjadi
penurunan 75%. Adapun beberapa faktor penunjang saat proses
pembelajaran berlangsung yaitu meliputi tempat yang tetap dan
strategis. Kemudian terdapat faktor penghambat dalam pembelajaran
di Madrasah Al-Qadr, yaitu pekerjaan serta pendidikan orang tua,
media pembelajaran dan tenaga pendidik.
c. Implementasi Metode Asy-syafi’I Pada Program Tahsin Al-Qur’an di
MTs Al-Husna Kampung Salak Bagan Sinembah Raya (2022),
Miftahul Zannah, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Dari
hasil penelitian tersebut diperoleh data berupa implementasi metode
Asy-syafi’i dalam program tahsin Al-Qur’an. implementasi metode
Asy-Syafi’i dalam program tahsin bertujuan agar peserta didik lebih
memahami kaidah-kaidah dalam ilmu tajwid dan mampu
mengucapkan huruf dengan makhorijul yang baik dan benar serta
siswa dapat memahami pembelajaran tahsin yang disampaikan dengan
mudah, dan bacaan Al-Qur’an peserta didik semakin membaik secara
berkala, seiring berjalannya waktu.
2. Landasan Teori
a. Teori Efektivitas
Efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh
mana dapat tercapai. Semakin banyak rencana yang dapat dicapai,
semakin efektif pula kegiatan tersebut, sehingga kata efektivitas
dapat juga diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang dapat dicapai
dari suatu cara atau usaha tertentu sesuai dengan tujuan yang hendak
dicapai.
Efektivitas pembelajaran sendiri menurut para ahli diantaranya:6
1) Miarso mengatakan bahwa efektivitas pembelajaran merupakan
salah satu standar mutu pendidikan dan sering kali diukur
dengan tercapainya tujuan atau dapat juga diartikan sebagai
kecepatan dalam mengelola suatu, “doing the right things.”
2) Supardi berpendapat bahwa pembelajaran efektif adalah
kombinasi yang tersusun meliputi manusiawi, material, fasilitas,
perlengkapan dan prosedur diarahkan untuk mengubah perilaku
peserta didik ke arah yang positif dan lebih baik sesuai dengan
potensi dan perbedaan yang dimiliki peserta didik untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
3) Vigotsky juga berpendapat bahwa pengalaman interaksi sosial
merupakan hal penting bagi perkembangan keterampilan
berfikir (thinking skill).
Adanya efektivitas dapat menjadi tolak ukur kesesuaian antara yang
melaksanakan tugas dengan sasaran yang [Link] yang
efektif berdasarkan pada prinsip dasar yang tepat. Seorang pendidik
akan berhasil dalam tugasnya manakala dia efektif dalam
menggunakan semua sumber tenaga dan fasilitas yang ada.7
John Carroll yang termasyhur dalam bidang pendidikan
psikolgi, dan dalam bukunya yang berjudul “A of School Learning”,
6
Afifatu Rohmawati, Efektivitas Pembelajaran, Jurnal Pendidikan Usia Dini, hal 16-17.
7
Fauzan, Pengantar Sistem Administrasi Pendidikan: Teori dan Praktik,(Yogyakarta: UII
Press, 2016), hal 3-4.
menyatakan bahwa Instructional Effectiveness tergantung pada lima
faktor Attitude, Ability to Understand Instruction, Persenverance,
Opportunity, Qual of Instruction8.
Mengetahui beberapa indikator tersebut menunjukkan bahwa suatu
pembelajaran dapat berjalan efektif apabila terdapat sikap dan
kemauan dalam diri anak untuk belajar, kesiapan diri anak dan guru
dalam kegiatan pembelajaran, serta mutu dari materi yang
disampaikan. Apabila indikator tersebut tidak ada maka kegiatan
belajar mengajar anak tidak akan berjalan dengan baik.
b. Metode Pembelajaran Tahsin
1. Pengertian Metode Tahsin
Metode berasal dari Bahasa Yunani. Secara etimologi, kata metode
berasal dari dua kata, yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui dan
hodos berarti jalan atau cara. Menurut Ahmad Husain al-liqany metode
adalah langkah-langkah yang diambil seorang pendidik guna membantu
peserta didik merealisasikan tujuan tertentu. Dalam Bahasa Arab
metode dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah
strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan9.
Dalam pendapat lain juga dijelaskan bahwa metode adalah cara atau
prosedur yang dipergunakan oleh fasilitator dalam interaksi belajar
dengan memperhatikan keseluruhan sistem untuk mencapai suatu
8
Afifatu Rohmawati, Efektivitas Pembelajaran…, hal.17
9
Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, “Studi Ilmu Pendidikan Islam”, (Jakarta:
ar-Ruzz Media 2022), hal. 210.
tujuan. Sedangkan kata “mengajar” sendiri berarti memberikan
pelajaran10.
Karena itu, setiap guru dituntut menguasai berbagai metode dalam
rangka memproses pembelajaran yang ditargetkan. Secara implementasi
metode pembelajaran dilaksanakan sebagai teknik, yaitu pelaksanaan apa
yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan.
Metode sendiri menurut para ahli diantaranya:11
a. Fred Percival dan Henry Ellington mengatakan bahwa metode
adalah cara yang umum untuk menyampaikan pelajaran kepada
peserta didik atau mempraktikkan teori yang telah dipelajari dalam
rangka mencapai tujuan belajar.
b. Jerome Brunner (dalam Conny Semiawan) dengan menyebut metode
pembelajaran induktif atau berfikir induktif. Kemudian [Link]
menggunakannya untuk mengelompokkan pola mengajar dan
belajar, yaitu klasikal,mandiri dan interaksi guru-peserta didik atau
pengajaran kelompok.
Berbagai pendapat diatas, menunjukkan bahwa metode berhubungan
dengan cara yang memungkinkan peserta didik memperoleh kemudahan
dalam rangka mempelajari bahan ajar yang disampaikan oleh guru.
Ketepatgunaan dalam memilih metode sangat berpeluang bagi
terciptanya kondisi pembelajaran yang kondusif, menyenangkan,
10
Sifa Siti Mukrimah, ”Metode Belajar dan Pembelajaran Plus Implikasinya”, ( Bandung:
Bumi Siliwangi, 2014), hal. 45.
11
Milan Rianto, “Pendekatan Strategi, dan Metode Pembelajaran”, (Malang: Dapartemen
Pendidikan Nasional, 2006), hal. 4-6.
sehingga kegiatan pembelajaran dapat meraih hasil belajar sesuai yang
diharapkan. Dengan demikian metode merupakan suatu komponen yang
sangat menentukan terciptanya kondisi selama berlangsungnya kegiatan
pembelajaran.
Tahsin berasal dari kata bahasa arab yakni hasana-yahsunu maksudnya
membetulkan, menghiasi, membaguskan dari lebih dulu jadi lebih baik.
Sebaliknya tahsin ataupun tajwid bagi sebutan merupakan memperbagus
teks Al-Qur’an supaya cocok dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah.
Penggunaan metode tahsin dapat dipilih sebagai metode untuk
membelajarkan membaca al-Qur’an pada mata pelajaran BTA (Baca
Tulis Al-Qur’an). metode tahsin adalah salah satu cara untuk tilawah al-
Qur’an yang menitikberatkan pada makhroj (tempat keluarnya huruf) dan
ilmu tajwid. Metode ini dalam mempelajari al-Qur’an melalui seorang
guru secara langsung atau berhadapan.12
Jadi bisa disimpulkan kalau tata cara tahsin merupakan membaca Al-
Qur’an dengan metode membaguskan, menghiasi membaguskan dari
dahulu jadi lebih baik. Sebaliknya tahsin ataupun tajwid bagi sebutan
memperbagus teks Al-Qur’an supaya cocok dengan dicontohkan oleh
Rasulullah Saw.
2. Tujuan Penerapan Tahsin
12
Dr.K.H. Ahmad Fathoni, Lc.,M.A, Petunjuk Praktis Tartil Al-Qur’an (Edisi x,Syawal
1438H/Juli 2017) hal.5
Secara umum tujuan pembelajaran Al-Qur’an adalah untuk menanamkan
nilai-nilai keutuhan kepada anak sejak dini sekaligus sebagai dasar dalam
menghadapi problema kehidupan selaras dengan yang disampaikan oleh
amjad Qosim dalam mengajarkan ilmu membaca Al-Qur’an, penerapan
tahsin mempunyai tujuan agar dalam pengajarannya dapat berjalan
dengan baik sesuai dengan tuntutan ibadah sebagaimana yang dihendaki
oleh Allah Swt, dan Rasul-Nya. Tujuan penerapan tahsin adalah sebagai
berikut :13
1) Menjaga dan memelihara kehormatan, kesucian dan kemurnian al-
Qur’an dari cara membaca yang benar, sesuai kaidah tajwid
sebagaimana bacaannya.
2) Menyebarkan ilmu baca al-Qur’an yang benar dengan cara yang
benar. Agar selaras dengan tujuan di atas dapat direalisasikan secara
nyata, maka penerapan tahsin berusaha agar dalam mengajarkan ilmu
baca al-Qur’an dengan cara yang benar.
3) Mengingatkan kepada guru-guru al-Qur’an agar dalam mengajarkan
al-Qur’an harus berhati-hati jangan sembarangan. Membaca al-Qur’an
mempunyai kaidah tertentu agar ketika membacanya tidak mengalami
kekeliruan makna yang akan berakibat dosa bagi para pembacanya,
untuk itu para guru al-Qur’an harus berhati-hati dalam membaca al-
Qur’an.
Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari
13
Annuri,Ahmad, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an dan Tajwid. Jakarta:Pustaka Al-
Kautsar hal.231
pembelajaran membaca al-Qur’an dengan penerapan tahsin adalah
untuk memberikan pendidikan atau pengajaran al-Qur’an dengan ilmu
membaca al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid
yang ada.14
3. Kelebihan dan Kekurangan dalam menggunakan Penerapan Tahsin
a) Kelebihan
1. Dapat lebih mengerti bagaimana pengucapan huruf-huruf
hijaiyah
2. Dalam menggunakan metode ini agar dalam membaca al-Qur’an
lebih dengan indah dan tertata pengucapannya
3. Dapat menyempurnakan setiap ayat-ayat al-Qur’an yang keluar
dari lisan.
b) Kekurangan
Tidak memakai atau mempelajari metode tahsin ini maka setiap
membaca al-Qur’an bisa merusak keindahannya, oleh sebab itu
sangat perlu mempelajari tahsin itu bukan hanya membacanya saja
tetapi keseluruhannya seperti mengenal tajwid dan panjang
pendeknya.15
4. Metode Iqro’
Metode iqra’ adalah suatu metode Al-Qur’an yang menekankan langsung
pada latihan membaca. Metode iqra’ ini dalam prakteknya tidak
membutuhkan alat yang bermacam-macam, karena ditekankan pada
14
Abdurohim, Acep.2003. Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap. Bandung:CV Penerbit
Diponegoro hal.453
15
Abdurohim, Acep.2003. Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap. Bandung;CV Penerbit
Diponegoro hal.453
bacaannya (membaca Al-Qur’an dengan fasih). Bacaan langsung tanpa di
eja. Artinya diperkenalkan nama-nama huruf hijaiyah dengan cara belajar
siswa yang aktif dan lebih bersifat invidual. Metode iqra’ ini termasuk
salah satu metode yang cukup dikenal masyarakat, karena metode ini
sudah umum digunakan ditengah-tengah masyarakat indonesia.16
5. Tajwid
Pengertian ilmu tajwid adalah ilmu yang dipergunakan untuk mengetahui
tempat keluarnya huruf (makhraj) dan sifat-sifatnya serta bacaan-
bacaannya. Para ulama mendefinisikan tajwid yakni memperbaiki bacaan
huruf pada makhraj dan asalnya serta menghaluskan pengucapannya
dengan cara yang sempurna tanpa berlebihan, kasar, tergesa-gesa, dan
dipaksakan. Al-Qur’an merupakan firman Allah yang agung, yang
dijadikan pedoman hidup oleh seluruh kaum muslimin. Membacanya
bernilai ibadah dan mengamalkannya merupakan kewajiban yang
diperintahkan dalam agama. Seorang muslim harus mampu membaca ayat-
ayat Al-Qur’an dengan baik sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah
Saw. Inilah salah satu tujuan mempelajari ilmu tajwid.17
6. Kemampuan Membaca Al-Qur’an
1. Tingkatan-tingkatan (Tempo) Bacan Al-Qur’an
Di dalam membaca Al-Qur’an terdapat suatu untuk
menanamkan tingkatan atau tempo suatu bacaan Al-Qur’an tersebut.
16
Widya Puspitasari, Pelaksanaan Metode Tahsin dalam Meningkatkan Kualitas
Membaca Al-Qur’an di Mahhad Rabbani Kota Bengkulu, skripsi S1: Fakultas Tarbiyah
Pendidikan Agama Islam Bengkulu.
17
Heru Juadin Sada, Pendidikan Perspektif Islam. Jurnal Pendidikan Islam. Vol 6 Mei
2015
Adapun tingkatan tempo yang telah disepakati oleh ahli tajwid, yaitu :
a) At-Tartil Yaitu membaca dengan pelan dan tenang, mengeluarkan
setiap huruf dari makhrajnya dengan memberikan sifat-sifat yang
dimilikinya, baik asli maupun baru datang (hukum-hukumnya) serta
memberikan makna (ayat).
b) Al-Hadr Yaitu membaca dengan cepat tetapi masih menjaga hukum-
hukumnya.
c) At-Tadwir Yaitu tingkatan pertengahan antara tartil dan hadr
d) At-Talaqiq Yaitu membaca sama halnya denga tartil tetapi lebih
tenang dan perlahan-lahan.18
7. Bimbingan Belajar dalam Membaca Al-Qur’an
1. Definisi Bimbingan Belajar
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu sebagai
hasil dari pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungan.
Belajar bukan hanya sekadar menghafal, melainkan suatu proses
mental yang terjadi dalam diri seseorang. Peristiwa belajar tidak selalu
terjadi atas inisiatif individu, melainkan individu memerlukan bantuan
mengembangkan potensi yang ada pada dirinya pada umumnya
diperlukan lingkungan yang kondusif agar dapat dicapai
perkembangan individu secara [Link] efektif tidak
terlepas dari peranan guru, peserta didik dan sumber belajar19.
18
Annuru, Ahmad 2016, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an dan Tajwid, Jakarta:ciputat press,
hal.76
19
Humaidah Br. Hasibuan, dkk, “Penerapan Metode Sorongan dalam Pembelajaran Kitab Kuning
Kelas VIII di Pondok Pesantren Modern Ta’dib Al-Syakirin Titi Kuning Kecamatan Medan
Johor”…, hal. 8-9.
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi
antara guru dengan siswa, baik interaksi secara lansung seperti
kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan
menggunakan berbagai media pembelajaran.
Sedangkan bimbingan belajar sendiri merupakan pembelajaran
atapun penambahan materi yang diberikan kepada peserta didik diluar
kegiatan belajar mengajar (KBM). Bimbingan belajar sangat
menolong dan bermanfaat sangat besar bagi peserta didik. Dengan
bimbingan belajar peserta didik mendapatkan manfaat belajar yang
berbeda dan tidak ditemukannya di sekolah. Metode yang digunakan
dalam bimbingan belajar berbeda dengan metode pembelajaran yang
ada di sekolah pada umumnya. Biasanya, metode yang digunakan
lebih simple dan tetap sasaran. Peserta didik pun lebih fokus karena
jumlah peserta didik yang terkadang lebih sedikit dari sebagaimana
yang ada pada sekolah umumnya20.
Dengan kata lain bimbingan belajar bagi penulis dapat menjadi
solusi untuk masalah yang dialami peserta didik dalam pembelajaran
yang dihadapinya di sekolah. Adanya bimbingan belajar menjadi
sebuah alternative pendidikan sebagai sarana pembelajaran tambahan.
Dalam bimbingan belajar sendiri metode yang digunakan hendaknya
memudahkan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran
berdasarkan kurikulukm yang ada.
20
Priyatna, Yulia Nursetyawathie, Rupiah Meriah dari Bisnis Bimbingan Belajar dan Les Privat,
(Jakarta: Penerbit PPM, 2011), hl.2.
Sebagai inti dari kegiatan bimbingan belajar dalam pendidikaan
adalah pemberian bantuan kepada peserta didik dalam rangka
mencapai kedewasaan dalam berbagai hal. Implikasinya dalam hal ini
adalah:
a) Bahwa yang dibantu seseorang yang sama sekali dapat berbuat,
melainkan makhluk yang dapat beraksi terhadap rangsangan yang
ditujukan kepadanya. Ia memiliki aktivitas dan kebebasan
bertindak. Aktivitas direalisasikan tidak akan bertentangan dengan
proses kegiatan yang bersangkutan.
b) Bahwa pencapaian kemandirian harus dimulai dengan menerima
realita tentang ketergantungan anak yang mencakup kemampuan
untuk mengidentifikasi, bekerja sama dan meniru pendidiknya21.
2. Bimbingan Belajar dalam Membaca Al-Qur’an
Seperti manusia pada umumnya, sudah tentu peserta didik merupakan
individu yang unik. Dikatakan unik karena antar peserta didik memiliki
laju pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda. Pertumbuhan
dan perkembangan pada masing-masing peserta didik yang berbeda
tersebut menimbulkan berbagai implikasi. Misalnya berimplikasi
terhadap perlakuan pendidik terhadapnya, bakat dan minatnya, motivasi
belajarnya, prestasi belajarnya gaya belajarnya, kemampuannya dalam
belajar, dan berprilaku serta pergaulannya dan sebagainya.
Al-Qur’an sebagai wahyu dan mukjizat terbesar Rasulullah Saw.
21
Priyatna, Nursetyawathie, Rupiah MeriahdariBisnisBimbinganBelajar dan Les Privat, (Jakarta:
Penerbit PPM, 2011), Hl. 2.
Mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian secara Etimologi (bahasa)
dan pengertian menurut terminology (istilah). Al-Qur’an menurut
Etimologi (bahasa) yaitu bacaan atau yang dibaca. Kata al-Qur’an
adalah bentuk mashdar dari fi’il qara’a yang diartikan dengan arti isim
maf’ul, yaitu (yang dibaca atau bacaan). Beberapa diantara hadis
mengenai keutamaan belajar dan membaca al-Qur’an adalah:
قاَل رسوُل الَّلِه: عن عثماَن بن عفاَن رضَي الَّله عنُه قال
» « َخيرُكم َمْن َتَعَّلَم الُقْر آَن َوعَّلمُه: َصّلى اللُه َعَلْيِه وَس َّلم
رواه البخاري
Dari Usman Bin Affan ra, Rasulullah saw. Bersabda, “Sebaik-baik kalian
adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Pada dasarnya metode dalam belajar membaca al-Qur’an itu ada
banyak, diantaranya yaitu :
a) Klasikal Individual
Dalam metode ini pendidik akan menggunakan sebagian waktu
pembelajaran untuk menerangkan pokok-pokok pelajran secara
klasikal sekadar 2 hingga 3 halaman, dan sebagian lagi untuk
sorongan atau individual.
b) Klasikal baca simak
Metode ini digunakan dengan cara membaca al-Qur’an secara
bersama-sama dan peserta didik bergantian untuk membaca secara
individual maupun kelompok, sedangkan yang lainnya menyimak.
Dengan metode ini diharapkan peserta didik akan lebih tahu benar
salahnya dalam suatu bacaan.
c) Individual atau privat sorongan
Metode ini mengharuskan peserta didik bergantian satu persatu
untuk menghadap guru pengampu agar disimak bacaan al-
Qur’annya dan dikoreksi secara langsung apabila terdapat
keselahan dalam membaca al-Qur’an22.
Metode ini lebih banyak digunakan oleh pesantren salaf
karena dianggap lebih efektif dan memiliki banyak kelebihan,
diantaranya:
1) Banyak perbedaan setiap peserta didik lebih dipertimbangkan
2) Peserta didik lebih terkontrol tentang pengetahuan yang
merekapelajari
3) Merupakan pembelajaran yang bersifat aktif.
Meski kita ketahui bahwa membaca dan mengajarkan al-Qur’an
adalah tugas yang mulai. Masih banyak peserta didik yang
mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an baik dari mereka
yang belum hafal huruf hijaiyah ataupun dari segi tajwid yang
belum mumpuni. Kesulitan membaca al-Qur’an ini sendiri
merupakan suatu kondisi dimana peserta didik belum bisa
mengikuti pelajran tersebut dengan baik, sehingga terjadi
hambatan. Hambatan ini bisa terjadi karena beberapa faktor. Di
antaranya adalah:
a. Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor dari luar diri individu. Faktor
22
EtyKustiwi, Skripsi: “Penerapan Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an dalam
Meningkatkan Pemahaman Baca Al-Qur’an pada Anak”, (Malang: UIN Malang, 2008), hal. 57.
eksternalmeliputi lingkungan di sekitar, termasuk orang-orang
terdekat. Faktor eksternal yang dimaksud, antara lain sebagai berikut:
1) Lingkungan Keluarga
Lingkunagn keluarga memiliki peranan yang penting dalam
pencapaian potensi belajar peserta [Link] merupakan institusi
pendidikan yang utama dan pertama bagi pesrta didik (anak). Faktor
keluarga yang mempengaruhi prestasi belajar peserta didik, antara lain
berupa perhatian orang tua yang hendaknya diwujudkan dengan
memberikan dukungan, motivasi, semangat, fasilitas dan sebagainya.
Selain itu sebaliknya peserta didik hidup di tengah keluarga yang
harmonis, hatinya lebih tenang dan damai, sehingga memudahkan
langkah peserta didik untuk [Link] perekonomian keluarga
juga dapat mempengaruhi prestasi belajar peserta [Link] didik
yang mengalami keterbatasan ekonomi, tidak jarang merasa minder
dalam pergaulan. Ada pula yang beberapa fasilitas belajarnya juga
tidak terpenuhi.
2) Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah sangat memengaruhi prestasi belajar
peserta didik. Lingkungan sekolah yang dimaksud, mencakup beberapa
hal sebagai berikut:
a) Faktor kecakapan pendidik dalam menyampaikan materi
b) Faktor fasilitas-fasilitas yang menyampaikan materi
c) Faktor warga sekolah yang memberi dukungan23.
23
R. Raudlatul Nikmah, Bimbingan Konseling Berbasis Evaluasi dan Supervisi Trik Cerdas
Faktor Internal, yaitu faktor-faktor dari dalam diri individu. Faktor
internal biasanya berupa sikap dan sifat yang melekat pada diri
seseorang. Faktor internal yang dimaksud antara lain:
1) Faktor Fisiologis
Faktor fisiologias merupakan faktor-faktor yang berhubungan
dengan kondisi fisik individu. Faktor fisiologis yang memengaruhi
kemampuan belajar, yaitu seperti kondisi fisik sakit, kondisi fisik tidak fit,
ataupun kondisi fisik yang cacat.
2) Faktor kesehatan mental
Faktor kesehatan mental dapat didefinisikan sebagai
terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi kejiwaan
dengan terciptanya keserasian diri antara individu dengan diri sendiri dan
lingkungan berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta untuk mencapai
kebahagiaan di dunia dan akhirat. Menurut pendapat tokoh psikologi lain
kesehatan mental berarti identik dengan kata sakinah dan tuma’minah,
kedua-duanya merupakan puncak dan kebaikan yang dapat menenangkan
hati24.
Seperti yang terdapat dalam firman Allah swt dalam QS. Ra’ad: 28
“orang-orang yang beriman dan ahli mereka menjadi tentram dengan
mengingat Allah, ingatlah Allah bahwa hanya dengan mengingat Allah
Merubah Sifat dan kebiasaan Siswa Menjadi Berprestasi, (Yogyakarta: Araska,2018), hl. 87-92.
24
Imam Malik, Pengantar Psikologi Umum (Yogyakarta: Kalimedia, 2016), hal 274-276.
hati menjadi tenang”25.
Peserta didik yang memiliki kesehatan mental yang baik
dicirikan dengan kondisi batinnya dalam keadaan tentram dan tenang,
sehingga memungkinkan untuk selalu menikmati kehidupan sehari-hari
dan menghargai orang lain di sekitar. Dalam kegiatan belajar, tidak hanya
menyangkut segi intelektual saja, namun juga menyangkut segi kesehatan
mental, dan emosional. Peserta didik yang mengalami stress dalam
menerima pembelajaran juga akan mengganggu perkembangan sel otak.
Ketika ia berada dalam bagian otak selama mengalami stress, akan
menjadi gangguan pada memori jangka pendek dan efesiensi belajarnya.
Meskipun peserta didik yang mengalami stress tampaknya belajar lebih
keras, tetapi kualitas belajarnya akan menurun26.
Peserta didik yang memiliki kesehatan mental yang baik dan
ketengangan emosi yang stabil, akan memulai kegiatan mental yang baik
dan ketenangan emosi yang stabil, akan memulai kegiatan belajar dengan
optimal, sehingga mudah dalam menyerap pembelajaran.
3) Faktor Psikologis
Faktor psikologis merupakan kondisi peserta didik yang dapat
memengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama
memengaruhi proses belajar yaitu intelegensi, bakat, minat, dan
motivasi. Intelegensi berarti kapasitas umum dari seorang individu
yang dapat dilihat dari kesanggupan pikirannya dalam mengatasi
25
Al-Qur’an Terjemahan…, hal. 252.
26
Judy Wilis, Metode Pengajaran dan Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak, (Yogyakarta:
Mitra Media, 2011), hal. 83.
tuntutan kebutuhan-kebutuhan baru, keadaan rohaniah secara umum
yang dapat disesuaikan dengan problem-problem dan kondisi-kondisi
yang baru di dalam hidupnya. Sedangkan motivasi berarti pemasok
daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah. Dalam
kaitannya usaha memotivasi peserta didik dalam belajar, seseorang
pendidik biasanya menggunakan teknik seperti kenaikan tingkat,
penghargaan, pemberian kehormatan, dan celaan telah dipergunakan
untuk mendorong mau belajar. Selain pendidik, orang tua atau kelurga
pun hendaknya berusaha memotivasi anak-anaknya dalam belajar27.
B. Kerangka Pikir
Manfaat dari kerangka berfikir adalah memberikan arahan dan tujuan dari
proses penelitian dan terbentuknya persepsi yang sama antara peneliti dan
orang lain karena kerangka berfikir merupakan tingkat keberhasian dalam
mencapai tujuan suatu kegiatan tergantung bagaimana pelaksanaan kegiatan
tersebut.
Serupa dengan pemikiran diatas, kerangka berfikir dalam suatu penelitian
perlu dikemukakan apabila penelitian tersebut berkenan atau berkaitan
dengan variabel atau fokus penelitian tersebut berkenaan atau berkaitan
dengan variabel atau fokus penelitian. Maksud dari kerangka berfikir sendiri
ialah upaya terbentuknya suatu alur penelitian.
27
Imam Malik, Pengantar Psikologi Umum …, hal. 94-101.
BAB III
PENDEKATAN PENELITIAN
A. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian merupakan usaha secara sistematik terkait kegiatan
mengembangkan serta menemukan. Jika dilihat dari tempatnya, jenis
penelitian yang digunakan penulis merupakan penelitian lapangan (field
research), yang bertujuan untuk mengetahui dan memecahkan suatu
permasalahan yang ada di lapangan. Dengan demikian, metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian yang
berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti
pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagian
instrument [Link] yang diteliti oleh penulis yaitu MTsS Badan
Amal Ujung Loe, disebut kualitatif karena sumber data utama berupa
kata-kata dan tindakan dari orang-orang yang diwawancarai, pengamatan
atau observasi, serta pemanfaatan dokumentasi.
Dilihat dari tarafnya, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
yaitu suatu penelitian dengan uraian tentang teori (bukan sekadar
pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan
dengan variable yang teliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu
dikemukakan atau mendeskripsikan, tergantung luasnya permasalahan
28
Sugiyono, MetodePenelitian Pendidikan PendekatanKuantitatif, Kualitatif, dan R & D,
(Bandung: Alfabeta, 2015), hl. 15.
dan secara teknis tergantung pada jumlah variable-variabel yang teliti,
melalui pendefinisian dan uraian yang lengkap dan mendalam dari
berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi
terhadap hubungan antar variable yang akan diteliti menjadi lebih jelas
dan terarah29.
Jadi, dalam penelitian ini, penulis hanya menjelaskan atau
menggambarkan variable yang ada yaitu dengan melukiskan keadaan
objek atau peristiwa tanpa membuat suatu perbandingan dengan variable
yang lain.
B. Subjek Penelitian
Adapun subjek penelitian yang dikenai tindakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
a. Kepala MTsS Badan Amal Ujung Loe.
b. Guru bimbingan belajar membaca Al-Qur’ an MTsS Badan Amal
Ujungloe
c. Peserta didik MTsS Badan Amal Ujung Loe.
C. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data
antara lain sebagai berikut:
a. Observasi adalah suatu kegiatan yang penulis lakukan untuk
mengetahui gejala-gejala awal pada penelitian.
29
Sugiyono, MetodePenelitian Pendidikan PendekatanKuantitatif, Kualitatif, dan R & D,
(Bandung: Alfabeta, 2015), hl. 89.
b. Wawancara adalah yang dilakukan oleh peneliti terhadap respon
untuk memperoleh informasi mengenai keadaan atau data yang
sedang diteliti antara dua orang lebih secara langsung dengan
mengajukan pertanyaan30.
c. Dokumentasi adalah kegiatan yang penulis lakukan untuk
mendapatkan data tertulis mengenai keadaan di MTsS Badan Amal
Ujungloe.
D. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
1. Teknik pengolahan data
Dalam penelitian ini yakni peneliti langsung berkomonikasi dengan
informan dilapangan untuk mendapatkan data akurat sesuai yang akan
diteliti.
2. Teknik analisis data
Dalam teknik analisa data, penulis menggunakan analisa deskriptif
kualitatif, yang dipertegas dengan persentase. Data yang diperoleh
melalui wawancara dapat dipaparkan dengan teknik deskriptif, yaitu
teknikmenggambarkan fenomena yang diperoleh apa adanya, kemudian
diklarifkasikan dan digambarkan dengan kalimat.
30
Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial, (Jakarta:
Salemba Humanika, 2010), hal. 118.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Al Karim, (Quran Kemenag Online, 2020, Qs.
Al-Isra: 9)
NovanArdyWiyana, Etika Profesi Keguruan, (Yogyakarta: Gava Media, 2015),
hal.131
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2004), hal. 125
Judy Wilis, Metode Pengajaran dan Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak,
(Yogyakarta: Mitra Media, 2011), hal. 1
Aisyah, Nurul. "Penerapan Metode Tahsin dalam Meningkatkan Kemampuan
Membaca Al-Qur'an di Sekolah Islam." Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 12,
No. 2,
Afifatu Rohmawati, Efektivitas Pembelajaran, Jurnal Pendidikan Usia Dini, hal
16-17.
Fauzan, Pengantar Sistem Administrasi Pendidikan: Teori dan Praktik,
(Yogyakarta: UII Press, 2016), hal 3-4
Afifatu Rohmawati, Efektivitas Pembelajaran…, hal.17
Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, “Studi Ilmu Pendidikan Islam”,
(Jakarta: ar-Ruzz Media 2022), hal. 210.
Sifa Siti Mukrimah, ”Metode Belajar dan Pembelajaran Plus Implikasinya”,
( Bandung: Bumi Siliwangi, 2014), hal. 45.
Milan Rianto, “Pendekatan Strategi, dan Metode Pembelajaran”, (Malang:
Dapartemen Pendidikan Nasional, 2006), hal. 4-6.
Dr.K.H. Ahmad Fathoni, Lc.,M.A, Petunjuk Praktis Tartil Al-Qur’an (Edisi
x,Syawal 1438H/Juli 2017) hal.5
Annuri,Ahmad, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an dan Tajwid. Jakarta:Pustaka
Al-Kautsar hal.231
Abdurohim, Acep.2003. Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap. Bandung:CV Penerbit
Diponegoro hal.453
Abdurohim, Acep.2003. Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap. Bandung;CV Penerbit
Diponegoro hal.453
31
Widya Puspitasari, Pelaksanaan Metode Tahsin dalam Meningkatkan Kualitas
Membaca Al-Qur’an di Mahhad Rabbani Kota Bengkulu, skripsi S1:
Fakultas Tarbiyah Pendidikan Agama Islam Bengkulu.
Heru Juadin Sada, Pendidikan Perspektif Islam. Jurnal Pendidikan Islam. Vol 6
Mei 2015
Annuru, Ahmad 2016, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an dan Tajwid,
Jakarta:ciputat press, hal.76
Humaidah Br. Hasibuan, dkk, “Penerapan Metode Sorongan dalam Pembelajaran
Kitab Kuning Kelas VIII di Pondok Pesantren Modern Ta’dib Al-Syakirin
Titi Kuning Kecamatan Medan Johor”…, hal. 8-9.
Priyatna, Yulia Nursetyawathie, Rupiah Meriah dari Bisnis Bimbingan Belajar
dan Les Privat, (Jakarta: Penerbit PPM, 2011), hl.2.
Priyatna, Nursetyawathie, Rupiah MeriahdariBisnisBimbinganBelajar dan Les
Privat, (Jakarta: Penerbit PPM, 2011), Hl. 2.
EtyKustiwi, Skripsi: “Penerapan Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an
dalam Meningkatkan Pemahaman Baca Al-Qur’an pada Anak”, (Malang:
UIN Malang, 2008), hal. 57.
R. Raudlatul Nikmah, Bimbingan Konseling Berbasis Evaluasi dan Supervisi Trik
Cerdas Merubah Sifat dan kebiasaan Siswa Menjadi Berprestasi,
(Yogyakarta: Araska,2018), hl. 87-92.
Imam Malik, Pengantar Psikologi Umum (Yogyakarta: Kalimedia, 2016), hal
274-276.
Al-Qur’an Terjemahan…, hal. 252.
Judy Wilis, Metode Pengajaran dan Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak,
(Yogyakarta: Mitra Media, 2011), hal. 83.
Imam Malik, Pengantar Psikologi Umum …, hal. 94-101.
Sugiyono, MetodePenelitian Pendidikan PendekatanKuantitatif, Kualitatif, dan R
& D, (Bandung: Alfabeta, 2015), hl. 15.
Sugiyono, MetodePenelitian Pendidikan PendekatanKuantitatif, Kualitatif, dan R
& D, (Bandung: Alfabeta, 2015), hl. 89.
Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial,
(Jakarta: Salemba Humanika, 2010), hal. 118.