0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan37 halaman

Efektivitas Metode Tahsin untuk Membaca Al-Qur'an

Dokumen ini adalah proposal penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan metode tahsin dalam bimbingan belajar bagi peserta didik yang kesulitan membaca Al-Qur'an di MTsS Badan Amal Ujung Loe. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an di kalangan siswa. Penulis mencatat pentingnya metode yang tepat dan suasana belajar yang mendukung untuk mencapai hasil yang optimal.

Diunggah oleh

Sutra Darfin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan37 halaman

Efektivitas Metode Tahsin untuk Membaca Al-Qur'an

Dokumen ini adalah proposal penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan metode tahsin dalam bimbingan belajar bagi peserta didik yang kesulitan membaca Al-Qur'an di MTsS Badan Amal Ujung Loe. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an di kalangan siswa. Penulis mencatat pentingnya metode yang tepat dan suasana belajar yang mendukung untuk mencapai hasil yang optimal.

Diunggah oleh

Sutra Darfin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE TAHSIN DALAM BIMBINGAN

BELAJAR BAGI PESERTA DIDIK YANG KESULITAN MEMBACA


AL-QUR’AN DI MTsS BADAN AMAL UJUNG LOE

PROPOSAL

Diajukan untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana


Pendidikan ([Link]) Jurusan Pendidikan Agama Islam
Pada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
Al-Gazali Bulukumba

Oleh:

RISDAWATI
NIM : 208.21.028

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
AL - GAZALI BULUKUMBA
2025
PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI

Bulukumba, 2025 M.
1446 H.

Diketahui Oleh :
Ketua jurusan Program Studi PAI Penyusun,

Dr. Andi Muhammad Asbar, [Link].I., [Link].I Risdawati


NIM. 208.21.028

Pembimbing I Pembimbing II

H. Andi Asnawi, S.S., [Link] Sutra Awaliyah Darfin, [Link]., [Link].

Disahkan Oleh:

KETUA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM


(STAI) AL-GAZALI BULUKUMBA,

Dr. H. IRMAN SYAH, [Link]., [Link].I

2
KATA PENGANTAR
‫بسم الله الرحمن الرحيم‬
Syukur alhamdulillah, penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt., Tuhan Yang

Maha Bijaksana dan Maha Segala-galanya, karena atas izin dan kuasa-Nyalah,

tesis yang berjudul “Efektivitas Penerapan Metode Tahsin dalam Bimbingan

Belajar Bagi Peserta Didik yang Kesulitan Membaca Al-Qur’an di MTsS

Badan Amal Ujung Loe.” Penulis menyadari bahwa di dalam usaha penyusunan

proposal ini, penulis senantiasa mengalami berbagai hambatan dan rintangan,

akan tetapi berkat ketekunan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya proposal

ini dapat diselesaikan namun masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu pada

kesempatan ini, sewajarnyalah penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan

penghargaan yang setinggi-tingginya utamanya kepada:

1. Drs. H. Tjamiruddin, [Link].I., selaku ketua Yayasan STAI Al-Gazali

Bulukumba.

2. Dr. H. Irman Syah, [Link]., [Link].I, selaku ketua STAI Al-Gazali Bulukumba.

3. Bapak Dr. Andi Muhammad Asbar, [Link].I., [Link].I sebagai Ketua Program

studi Pendidikan Agama Islam.

4. Bapak H. Andi Asnawi, S.S., [Link] dan ibu Sutra Awaliyah Darfin, [Link].,

[Link]. masing-masing selaku pembimbing yang telah banyak membantu

penulis dalam penyusunan skripsi ini.

5. Kedua orang tua yang telah membesarkan dengan penuh kasih sayang dan

pengorbanan yang tak terhitung banyaknya.

6. Para dosen yang telah membina penulis dalam menyelesaikan studi.

3
7. Kakak–Kakak saya dan saudari-saudari yang telah banyak membantu dalam

proses panjang ini, baik itu bantuan berupa material maupun moral, maka

penulis hanya mampu berdo’a semoga Allah subhana wata’ala membalas

semua kebaikannya.

Dan akhirnya penulis berharap semoga proposal ini dapat bermanfaat untuk

kita semua dan dapat dilanjutkan ke penelitian.

Bulukumba 2025 M
1445 H

Penulis,

Risdawati
NIM. 208.21.028

4
DAFTAR ISI

PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI..........................................................................ii


KATA PENGANTAR......................................................................................................iii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................v
BAB I...................................................................................................................................1
PENDAHULUAN...............................................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah.......................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................................7
C. Tujuan Penelitian.................................................................................................7
D. Manfaat Penelitian...............................................................................................7
BAB II.................................................................................................................................9
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR...............................................................9
A. TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................9
1. Penelitian Terdahulu........................................................................................9
2. Landasan Teori...............................................................................................11
b. Metode Pembelajaran Tahsin.................................................................................13
1. Pengertian Metode Tahsin.............................................................................13
2. Tujuan Penerapan Tahsin.......................................................................................16
3. Kelebihan dan Kekurangan dalam menggunakan Penerapan Tahsin....................17
4. Metode Iqro’..........................................................................................................17
5. Tajwid....................................................................................................................18
6. Kemampuan Membaca Al-Qur’an.........................................................................18
7. Bimbingan Belajar dalam Membaca Al-Qur’an....................................................19
BAB III..............................................................................................................................28
PENDEKATAN PENELITIAN......................................................................................28
A. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN..................................................28
1. Jenis Penelitian.......................................................................................................28
B. Subjek Penelitian................................................................................................29
C. Teknik Pengumpulan Data.................................................................................29
D. Teknik Pengolahan dan Analisis Data...............................................................30
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................31

5
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an mempunyai kedudukan yang tertinggi di dalam hukum

Islam. Al-Qur’an adalah firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi

Muhammad Saw. Melalui perantara malaikat Jibril, dan ketika

membacanya termasuk ibadah, tertulis dalam satu mushaf dari awal surah

Al-Fatihah sampai akhir surah An-Nas yang disampaikan dari generasi ke

generasi secara berturut-turut.

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt yang bertujuan untuk dijadikan

sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi semua kalangan manusia

(hudan lin-nas), terutama bagi umat Islam tanpa adanya perbedaan satu

sama lain. Apabila mereka menginginkan petunjuk dari Al-Qur’an untuk

semua persoalan di kehidupan dunia dan akhirat maka mereka harus bisa

mengimani, membaca, mempelajari, memahami, menafsirkan,

mengamalkan dan dijadikan sandaran hukum ataupun dijadikan sebagai

rujukan dan pedoman atas segala penyakit yang berada pada pada

manusia, dengan begitu maka kemungkinan mereka akan mendapatkan

petunjuk dari Al-Qur’an tersebut sebagaimana berdasarkan dari firman

Allah Swt dalam Q.S Al-Isra: 9

6
Terjemahnya :
“sungguh, Al-Qur’an ini memberikan petunjuk ke (jalan) yang paling
lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang
mengajarkan kebajikan, bahawa mereka akan mendapat pahala yang
besar”. (Qs. Al-Isra: 9)1
Salah satu cinta manusia terhadap Al-Qur’an yaitu dengan membaca,

memahami, menafsirkan dan mengamalkan isi kandungannya akan

membantu manusia menemukan nilai-nilai yang dapat dijadikan

pedoman untuk menyelesaikan masalah hidup. Agama Islam sangat

menganjurkan umat islam dalam membaca al-Qur’an dan memahami,

dikarenakan akan menjadi syafaat di akhirat kelak. Salah satu cara

membaca dan mempelajari al-Qur’an secara baik dan benar ialah dengan

cara mempelajari dan memahami ilmu tajwid.

Era modern ini, banyak sekali pergeseran nilai kehidupan

dikarenakan generasi muda masih banyak yang belum mampu untuk

membaca al-Qur’an secara baik dan benar, dan mereka tetap saja tidak

berusaha untuk membacanya, bahkan banyak dari orang tua yang buta

huruf hijaiyah juga membiarkan anaknya hidup dalam kondisi sama.

Padahal generasi muda merupakan ujung tombak para pendiri agama di

Indonesia akan datang, jadi batas membaca al-Qur’an menjadi muda

sangat disayangkan.

Banyaknya peserta didik yang tidak bisa membaca al-Qur’an atau

lainnya buta huruf Al-Qur’an disebabkan belum ditemukannya metode

yang tepat dan mudah untuk belajar membaca al-Qur’an sehingga belajar
1
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Al Karim, (Quran Kemenag Online, 2020, Qs. Al-Isra:
9)
7
tidak mungkin sangat menyerap. Seharusnya pada usia sekolah dasar dan

sekolah menengah pertama, peserta didik sudah mulai diberi

pembelajaran al-Qur’an dengan baik dan benar, karena pada usia ini,

merupakan usia emas yang mana pembelajarannya akan mudah

tersampaikan dengan baik, dan mudah diingat selamanya.

Seorang pendidik hendaknya mampu mengetahui perkembangan

pertumbuhan peserta didik yang berbeda-beda. Perkembangan peserta

didik dapat terhalang dalam menerima suatu pembelajaran apabila minat

belajar, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan dalam belajar serta

pergaulannya. Ketika seorang pendidik mampu mengetahui implikasi

tersebut, maka ia akan mengetahui fungsi dan cara yag tepat untuk

mengajar2.

Dalam proses pembelajaran, diperlukan unsur-unsur yang dapat

membantu mencapai tujuan. Guru adalah salah satu komponen manusia

dalam proses belajar mengajar yang berperan penting dalam

pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pendidikan.

Oleh karena itu, guru harus berperan aktif dan menempatkan

kedudukannya sebagai tenaga prosfesional3.

Pendidik ataupun pembimbing dalam mengajarkan membaca al-

Qur’an hendaknya senantiasa mencari metode pembelajaran yang


2
NovanArdyWiyana, Etika Profesi Keguruan, (Yogyakarta: Gava Media, 2015), hal.131
3
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2004), hal. 125
8
dikiranya efektif untuk diterapkan dalam bimbingan belajar membaca al-

Qur’an. Oleh sebab itu penggunaan pendekatan dan juga metode sangat

berpengaruh dalam menarik perhatian generasii muda dalam belajar

membaca al-Qur’an.

Kemajuan di bidang teknologi kini telah memungkinkan pendidik

untuk menyaksikan peserta didik yang sedang bekerja sewaktu ia belajar,

maka para pendidik mampu untuk menyesuaikan kemampuan peserta

didik dengan menentukan cara atau metode yang paling efektif dalam

mengajar4.

Sehingga penulisan dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud

dengan metode adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh oleh seorang

pendidik dalam menyampaikan bahan ajar kepada peserta didik, agar

lebih mengerti. Dan juga pengetahuan tentang metode-metode mengajar

sangat diperlukan oleh pendidik, sebab berhasil atau tidaknya peserta

didik belajar sangat bergantung tepat atau tidaknya metode mengajar

yang digunakan oleh guru. Oleh sebab itu, agar memperoleh metode

yang tepat diperlukan strategi di dalam memilihnya.

Seorang pendidik tidak hanya harus pandai dalam memilih metode

perlu diperhatikan juga di dalam penerapan metode. Karena meskipun

metode yang dipilih telah sesuai, namun apabila dalam penerapan kurang

benar maka tidak akan didapatkan efektifitas di dalam menerapkan

4
Judy Wilis, Metode Pengajaran dan Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak,
(Yogyakarta: Mitra Media, 2011), hal. 1
9
metode mampu meciptakan suasana belajar menjadi suasana yang

menyenangkan, karena dengan suasana tersebut belajar akan lebih efektif

untuk menyelesaikan masalah kesulitan membaca al-Qur’an adalah

dengan penerapan tahsin.

Metode tahsin adalah metode yang bertujuan untuk memperbaiki

atau memperindah bacaan al-Qur’an sehingga bacaan kita sesuai dengan

bacaan Rasulullah Saw, yakni mengeluarkan huruf dari makhrajnya,

memenuhi sifatnya dan selalu memperthatikan hukum bacaannya. Atau

dengan kata lain memperindah bacaan al-Qur’an sesuai kaidah-kaidah

dalam ilmu tajwid. Sistem pendidikan dan pengajaran metode tahsin ini

melalui sistem yang berpusat pada murid dan guru yang dilaksanakan

secara klasikal maupun individual.

Metode tahsin, yang berfokus pada perbaikan dan peningkatan

kemampuan membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar, sangat

penting untuk diterapkan di sekolah-sekolah, khususnya di sekolah-

sekolah Islam. Namun, kondisi siswa di sekolah terkait penerapan

metode ini sering kali bervariasi. Beberapa siswa mengalami kesulitan

dalam memahami dan melafalkan huruf-huruf Arab dengan benar, yang

disebabkan oleh faktor kurangnya pemahaman tentang tajwid atau

kurangnya latihan intensif. Di sisi lain, ada juga siswa yang mampu

menguasai tajwid dengan baik namun kurang dalam kelancaran

membaca. Hal ini menunjukkan perlunya metode yang lebih efektif dan

terstruktur dalam pengajaran tahsin di sekolah, dengan menggabungkan


10
teori dan praktik yang berkelanjutan. Menurut penelitian oleh Aisyah,

siswa yang mengikuti pelajaran tahsin secara rutin menunjukkan

peningkatan yang signifikan dalam kemampuan membaca Al-Qur'an

dengan tajwid yang benar, meskipun masih ada tantangan dalam

keterlibatan aktif siswa dalam setiap sesi pembelajaran. Oleh karena itu,

penting untuk menciptakan suasana belajar yang mendukung dan

melibatkan siswa secara langsung dalam praktek tahsin untuk mencapai

hasil yang optimal.5

Berdasarkan latar belakang yang sudah dijabarkan, maka penulis

tertarik untuk meneliti secara mendalam mengenai bagaimana

impelementasi dan keefektifan penerapan tahsin dalam bimbingan

belajar bagi peserta didik yang kesulitan membaca al-Qur’an di MTsS

Badan Amal Ujung Loe. Maka dari itu peneliti mengambil judul tentang

“Efektivitas Penerapan Metode Tahsin dalam Bimbingan Belajar

Bagi Peserta Didik yang Kesulitan Membaca Al-Qur’an di MTsS

Badan Amal Ujung Loe.”

B. Rumusan Masalah

5
Aisyah, Nurul. "Penerapan Metode Tahsin dalam Meningkatkan Kemampuan

Membaca Al-Qur'an di Sekolah Islam." Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 12, No. 2,

11
Berdasarkan uraian dan penjelasan pada latar belakang masalah diatas

maka penulis paparkan rumusan masalah penelitian ini yaitu: Bagaimana

efektivitas penerapan tahsin dalam bimbingan belajar peserta didik yang

kesulitan membaca al-Qur’an di MTsS Badan Amal Ujung Loe ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas mengenai

implementasi penerapan tahsin dalam bimbingan belajar bagi peserta

didik yang kesulitan membaca al-Qur’an di MTsS Badan Amal Ujung

Loe.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat teoritis dan praktis, sebagai berikut

1. Secara teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman keilmuwan

mengenai meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an di MTsS

Badan Amal Ujung Loe.

2. Secara praktis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak

diantaranya:

a. Bagi pendidik

Penelitian ini bisa menjadi rujukan bagi pendidik untuk

mempermudah jalannya menjadi pendidik yang professional.

b. Bagi peserta didik

12
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu peserta didik

dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca

al-Qur’an.

c. Bagi penulis

Penelitian ini diharapkan sebagai tambahan wawasan dan

pengetahuan serta pengalama, kemampuan, keterampilan, serta

bekal dalam menyampaikan sebuah materi kepada peserta didik.

d. Bagi MTsS Badan Amal Ujung Loe

Penelitian ini diharapkan dapat sebagai alat serta masukan untuk

mencapai tujuan sekolah, dan dapat memotivasi serta

meningkatkan kemampuan peserta didik yang kesulitan dalam

membaca Al-Qur,an.

13
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR

A. TINJAUAN PUSTAKA

1. Penelitian Terdahulu

Adapun beberapa penelitian sebelumnya untuk menggali teori atau

pernyataan dari para ahli yang berhubungan untuk dikaji penulis dalam

hal ini adalah sebagai berikut:

a. Fakhrurroji Batubara, Tuty Alawiyah, Zulkarnaen Guchi Fakultas

Agama Islam Universitas Sumatera Utara, dalam Jurnal

Pendidikan Agama Islam dan riset yang berjudul : Pengaruh

metode tahsin tilawah dalam meningkatkan kemampuan membaca

al-Qur’an pada siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah swadaya

Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat. Tujuan dari

penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi metode

resitasi di Madrasah Swadaya, khususnya mengenai pengaruh

metode tajwid yang meningkatkan kemampuan siswa dalam

membaca Al-Qur’an. penelitian ini menggunakan pengumpulan

data dalam hal ini penelitian kuantitatif dengan menggunakan

angket yang di bagikan kepada seluruh siswa kelas VIII Madrasah

Tsanawiyah Swadaya sebagai populasi sekaligus sampel.

Sehubungan dengan jumlah populasi kurang dari 100 orang,

sampel penelitian ini melibatkan seluruh populasi sehingga

penelitian ini disebut juga sebagai penelitian populasi. Jadi siswa

9
hanya diminta untuk memilih alternatif jawaban yang akan

diberikan tentang pengaruh metode tilawah tahsin dengan

memberikan tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang dipilih.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode tajwid

tahsin di kelas VIII MTs Swadaya berjalan dengan baik dan sangat

berpegaruh.

b. Afni Nurfatwa Wardhani, Annisa Nurul Astriani, Fakultas

Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

(Desember 2021) dalam Jurnal Studi Agama-Agama yang berjudul :

Penerapan Metode Tahsin dan Tajwid Dalam Meningkatkan Bacaan

Al-Qur’an di Madrasah Al-Qadr Pangalengan. Berdasarkan

penelitian yang sudah dilakukan tentang penerapan metode tahsin

dan tajwid dalam meningkatkan bacaan Al-Qur’an di Madrasah Al-

Qadr Pangalengan maka dapat disimpulkan pembelajaran AL-

Qur’an menggunakan metode tahsin dan tajwid. Pemilihan metode

tahsin dan tajwid, digunakan karena metode ini dilihat lebih praktis

untuk mempelajari Al-Qur’an. Penerapan metode ini dirasa efektif

dibuktikan dengan dari 80 orang jumlah seluruh anak di Madrasah

Al-Qadr dan tajwid yang jika di presentasikan terdapat 90% anak

mengalami masalah dalam bacaan Al-Qur’an dan tajwid, terjadi

penurunan 75%. Adapun beberapa faktor penunjang saat proses

pembelajaran berlangsung yaitu meliputi tempat yang tetap dan

strategis. Kemudian terdapat faktor penghambat dalam pembelajaran


di Madrasah Al-Qadr, yaitu pekerjaan serta pendidikan orang tua,

media pembelajaran dan tenaga pendidik.

c. Implementasi Metode Asy-syafi’I Pada Program Tahsin Al-Qur’an di

MTs Al-Husna Kampung Salak Bagan Sinembah Raya (2022),

Miftahul Zannah, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Dari

hasil penelitian tersebut diperoleh data berupa implementasi metode

Asy-syafi’i dalam program tahsin Al-Qur’an. implementasi metode

Asy-Syafi’i dalam program tahsin bertujuan agar peserta didik lebih

memahami kaidah-kaidah dalam ilmu tajwid dan mampu

mengucapkan huruf dengan makhorijul yang baik dan benar serta

siswa dapat memahami pembelajaran tahsin yang disampaikan dengan

mudah, dan bacaan Al-Qur’an peserta didik semakin membaik secara

berkala, seiring berjalannya waktu.

2. Landasan Teori

a. Teori Efektivitas

Efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh

mana dapat tercapai. Semakin banyak rencana yang dapat dicapai,

semakin efektif pula kegiatan tersebut, sehingga kata efektivitas

dapat juga diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang dapat dicapai

dari suatu cara atau usaha tertentu sesuai dengan tujuan yang hendak

dicapai.
Efektivitas pembelajaran sendiri menurut para ahli diantaranya:6

1) Miarso mengatakan bahwa efektivitas pembelajaran merupakan

salah satu standar mutu pendidikan dan sering kali diukur

dengan tercapainya tujuan atau dapat juga diartikan sebagai

kecepatan dalam mengelola suatu, “doing the right things.”

2) Supardi berpendapat bahwa pembelajaran efektif adalah

kombinasi yang tersusun meliputi manusiawi, material, fasilitas,

perlengkapan dan prosedur diarahkan untuk mengubah perilaku

peserta didik ke arah yang positif dan lebih baik sesuai dengan

potensi dan perbedaan yang dimiliki peserta didik untuk

mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

3) Vigotsky juga berpendapat bahwa pengalaman interaksi sosial

merupakan hal penting bagi perkembangan keterampilan

berfikir (thinking skill).

Adanya efektivitas dapat menjadi tolak ukur kesesuaian antara yang

melaksanakan tugas dengan sasaran yang [Link] yang

efektif berdasarkan pada prinsip dasar yang tepat. Seorang pendidik

akan berhasil dalam tugasnya manakala dia efektif dalam

menggunakan semua sumber tenaga dan fasilitas yang ada.7

John Carroll yang termasyhur dalam bidang pendidikan

psikolgi, dan dalam bukunya yang berjudul “A of School Learning”,

6
Afifatu Rohmawati, Efektivitas Pembelajaran, Jurnal Pendidikan Usia Dini, hal 16-17.
7
Fauzan, Pengantar Sistem Administrasi Pendidikan: Teori dan Praktik,(Yogyakarta: UII
Press, 2016), hal 3-4.
menyatakan bahwa Instructional Effectiveness tergantung pada lima

faktor Attitude, Ability to Understand Instruction, Persenverance,

Opportunity, Qual of Instruction8.

Mengetahui beberapa indikator tersebut menunjukkan bahwa suatu

pembelajaran dapat berjalan efektif apabila terdapat sikap dan

kemauan dalam diri anak untuk belajar, kesiapan diri anak dan guru

dalam kegiatan pembelajaran, serta mutu dari materi yang

disampaikan. Apabila indikator tersebut tidak ada maka kegiatan

belajar mengajar anak tidak akan berjalan dengan baik.

b. Metode Pembelajaran Tahsin

1. Pengertian Metode Tahsin

Metode berasal dari Bahasa Yunani. Secara etimologi, kata metode

berasal dari dua kata, yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui dan

hodos berarti jalan atau cara. Menurut Ahmad Husain al-liqany metode

adalah langkah-langkah yang diambil seorang pendidik guna membantu

peserta didik merealisasikan tujuan tertentu. Dalam Bahasa Arab

metode dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah

strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan9.

Dalam pendapat lain juga dijelaskan bahwa metode adalah cara atau

prosedur yang dipergunakan oleh fasilitator dalam interaksi belajar

dengan memperhatikan keseluruhan sistem untuk mencapai suatu

8
Afifatu Rohmawati, Efektivitas Pembelajaran…, hal.17
9
Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, “Studi Ilmu Pendidikan Islam”, (Jakarta:
ar-Ruzz Media 2022), hal. 210.
tujuan. Sedangkan kata “mengajar” sendiri berarti memberikan

pelajaran10.

Karena itu, setiap guru dituntut menguasai berbagai metode dalam

rangka memproses pembelajaran yang ditargetkan. Secara implementasi

metode pembelajaran dilaksanakan sebagai teknik, yaitu pelaksanaan apa

yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan.

Metode sendiri menurut para ahli diantaranya:11

a. Fred Percival dan Henry Ellington mengatakan bahwa metode

adalah cara yang umum untuk menyampaikan pelajaran kepada

peserta didik atau mempraktikkan teori yang telah dipelajari dalam

rangka mencapai tujuan belajar.

b. Jerome Brunner (dalam Conny Semiawan) dengan menyebut metode

pembelajaran induktif atau berfikir induktif. Kemudian [Link]

menggunakannya untuk mengelompokkan pola mengajar dan

belajar, yaitu klasikal,mandiri dan interaksi guru-peserta didik atau

pengajaran kelompok.

Berbagai pendapat diatas, menunjukkan bahwa metode berhubungan

dengan cara yang memungkinkan peserta didik memperoleh kemudahan

dalam rangka mempelajari bahan ajar yang disampaikan oleh guru.

Ketepatgunaan dalam memilih metode sangat berpeluang bagi

terciptanya kondisi pembelajaran yang kondusif, menyenangkan,

10
Sifa Siti Mukrimah, ”Metode Belajar dan Pembelajaran Plus Implikasinya”, ( Bandung:
Bumi Siliwangi, 2014), hal. 45.
11
Milan Rianto, “Pendekatan Strategi, dan Metode Pembelajaran”, (Malang: Dapartemen
Pendidikan Nasional, 2006), hal. 4-6.
sehingga kegiatan pembelajaran dapat meraih hasil belajar sesuai yang

diharapkan. Dengan demikian metode merupakan suatu komponen yang

sangat menentukan terciptanya kondisi selama berlangsungnya kegiatan

pembelajaran.

Tahsin berasal dari kata bahasa arab yakni hasana-yahsunu maksudnya

membetulkan, menghiasi, membaguskan dari lebih dulu jadi lebih baik.

Sebaliknya tahsin ataupun tajwid bagi sebutan merupakan memperbagus

teks Al-Qur’an supaya cocok dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Penggunaan metode tahsin dapat dipilih sebagai metode untuk

membelajarkan membaca al-Qur’an pada mata pelajaran BTA (Baca

Tulis Al-Qur’an). metode tahsin adalah salah satu cara untuk tilawah al-

Qur’an yang menitikberatkan pada makhroj (tempat keluarnya huruf) dan

ilmu tajwid. Metode ini dalam mempelajari al-Qur’an melalui seorang

guru secara langsung atau berhadapan.12

Jadi bisa disimpulkan kalau tata cara tahsin merupakan membaca Al-

Qur’an dengan metode membaguskan, menghiasi membaguskan dari

dahulu jadi lebih baik. Sebaliknya tahsin ataupun tajwid bagi sebutan

memperbagus teks Al-Qur’an supaya cocok dengan dicontohkan oleh

Rasulullah Saw.

2. Tujuan Penerapan Tahsin

12
Dr.K.H. Ahmad Fathoni, Lc.,M.A, Petunjuk Praktis Tartil Al-Qur’an (Edisi x,Syawal
1438H/Juli 2017) hal.5
Secara umum tujuan pembelajaran Al-Qur’an adalah untuk menanamkan

nilai-nilai keutuhan kepada anak sejak dini sekaligus sebagai dasar dalam

menghadapi problema kehidupan selaras dengan yang disampaikan oleh

amjad Qosim dalam mengajarkan ilmu membaca Al-Qur’an, penerapan

tahsin mempunyai tujuan agar dalam pengajarannya dapat berjalan

dengan baik sesuai dengan tuntutan ibadah sebagaimana yang dihendaki

oleh Allah Swt, dan Rasul-Nya. Tujuan penerapan tahsin adalah sebagai

berikut :13

1) Menjaga dan memelihara kehormatan, kesucian dan kemurnian al-

Qur’an dari cara membaca yang benar, sesuai kaidah tajwid

sebagaimana bacaannya.

2) Menyebarkan ilmu baca al-Qur’an yang benar dengan cara yang

benar. Agar selaras dengan tujuan di atas dapat direalisasikan secara

nyata, maka penerapan tahsin berusaha agar dalam mengajarkan ilmu

baca al-Qur’an dengan cara yang benar.

3) Mengingatkan kepada guru-guru al-Qur’an agar dalam mengajarkan

al-Qur’an harus berhati-hati jangan sembarangan. Membaca al-Qur’an

mempunyai kaidah tertentu agar ketika membacanya tidak mengalami

kekeliruan makna yang akan berakibat dosa bagi para pembacanya,

untuk itu para guru al-Qur’an harus berhati-hati dalam membaca al-

Qur’an.

Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari


13
Annuri,Ahmad, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an dan Tajwid. Jakarta:Pustaka Al-
Kautsar hal.231
pembelajaran membaca al-Qur’an dengan penerapan tahsin adalah

untuk memberikan pendidikan atau pengajaran al-Qur’an dengan ilmu

membaca al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid

yang ada.14

3. Kelebihan dan Kekurangan dalam menggunakan Penerapan Tahsin

a) Kelebihan

1. Dapat lebih mengerti bagaimana pengucapan huruf-huruf

hijaiyah

2. Dalam menggunakan metode ini agar dalam membaca al-Qur’an

lebih dengan indah dan tertata pengucapannya

3. Dapat menyempurnakan setiap ayat-ayat al-Qur’an yang keluar

dari lisan.

b) Kekurangan

Tidak memakai atau mempelajari metode tahsin ini maka setiap

membaca al-Qur’an bisa merusak keindahannya, oleh sebab itu

sangat perlu mempelajari tahsin itu bukan hanya membacanya saja

tetapi keseluruhannya seperti mengenal tajwid dan panjang

pendeknya.15

4. Metode Iqro’
Metode iqra’ adalah suatu metode Al-Qur’an yang menekankan langsung

pada latihan membaca. Metode iqra’ ini dalam prakteknya tidak

membutuhkan alat yang bermacam-macam, karena ditekankan pada

14
Abdurohim, Acep.2003. Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap. Bandung:CV Penerbit
Diponegoro hal.453
15
Abdurohim, Acep.2003. Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap. Bandung;CV Penerbit
Diponegoro hal.453
bacaannya (membaca Al-Qur’an dengan fasih). Bacaan langsung tanpa di

eja. Artinya diperkenalkan nama-nama huruf hijaiyah dengan cara belajar

siswa yang aktif dan lebih bersifat invidual. Metode iqra’ ini termasuk

salah satu metode yang cukup dikenal masyarakat, karena metode ini

sudah umum digunakan ditengah-tengah masyarakat indonesia.16

5. Tajwid
Pengertian ilmu tajwid adalah ilmu yang dipergunakan untuk mengetahui

tempat keluarnya huruf (makhraj) dan sifat-sifatnya serta bacaan-

bacaannya. Para ulama mendefinisikan tajwid yakni memperbaiki bacaan

huruf pada makhraj dan asalnya serta menghaluskan pengucapannya

dengan cara yang sempurna tanpa berlebihan, kasar, tergesa-gesa, dan

dipaksakan. Al-Qur’an merupakan firman Allah yang agung, yang

dijadikan pedoman hidup oleh seluruh kaum muslimin. Membacanya

bernilai ibadah dan mengamalkannya merupakan kewajiban yang

diperintahkan dalam agama. Seorang muslim harus mampu membaca ayat-

ayat Al-Qur’an dengan baik sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah

Saw. Inilah salah satu tujuan mempelajari ilmu tajwid.17

6. Kemampuan Membaca Al-Qur’an

1. Tingkatan-tingkatan (Tempo) Bacan Al-Qur’an

Di dalam membaca Al-Qur’an terdapat suatu untuk

menanamkan tingkatan atau tempo suatu bacaan Al-Qur’an tersebut.

16
Widya Puspitasari, Pelaksanaan Metode Tahsin dalam Meningkatkan Kualitas
Membaca Al-Qur’an di Mahhad Rabbani Kota Bengkulu, skripsi S1: Fakultas Tarbiyah
Pendidikan Agama Islam Bengkulu.
17
Heru Juadin Sada, Pendidikan Perspektif Islam. Jurnal Pendidikan Islam. Vol 6 Mei
2015
Adapun tingkatan tempo yang telah disepakati oleh ahli tajwid, yaitu :

a) At-Tartil Yaitu membaca dengan pelan dan tenang, mengeluarkan

setiap huruf dari makhrajnya dengan memberikan sifat-sifat yang

dimilikinya, baik asli maupun baru datang (hukum-hukumnya) serta

memberikan makna (ayat).

b) Al-Hadr Yaitu membaca dengan cepat tetapi masih menjaga hukum-

hukumnya.

c) At-Tadwir Yaitu tingkatan pertengahan antara tartil dan hadr

d) At-Talaqiq Yaitu membaca sama halnya denga tartil tetapi lebih

tenang dan perlahan-lahan.18

7. Bimbingan Belajar dalam Membaca Al-Qur’an

1. Definisi Bimbingan Belajar

Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu sebagai

hasil dari pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Belajar bukan hanya sekadar menghafal, melainkan suatu proses

mental yang terjadi dalam diri seseorang. Peristiwa belajar tidak selalu

terjadi atas inisiatif individu, melainkan individu memerlukan bantuan

mengembangkan potensi yang ada pada dirinya pada umumnya

diperlukan lingkungan yang kondusif agar dapat dicapai

perkembangan individu secara [Link] efektif tidak

terlepas dari peranan guru, peserta didik dan sumber belajar19.

18
Annuru, Ahmad 2016, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an dan Tajwid, Jakarta:ciputat press,
hal.76
19
Humaidah Br. Hasibuan, dkk, “Penerapan Metode Sorongan dalam Pembelajaran Kitab Kuning
Kelas VIII di Pondok Pesantren Modern Ta’dib Al-Syakirin Titi Kuning Kecamatan Medan
Johor”…, hal. 8-9.
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi

antara guru dengan siswa, baik interaksi secara lansung seperti

kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan

menggunakan berbagai media pembelajaran.

Sedangkan bimbingan belajar sendiri merupakan pembelajaran

atapun penambahan materi yang diberikan kepada peserta didik diluar

kegiatan belajar mengajar (KBM). Bimbingan belajar sangat

menolong dan bermanfaat sangat besar bagi peserta didik. Dengan

bimbingan belajar peserta didik mendapatkan manfaat belajar yang

berbeda dan tidak ditemukannya di sekolah. Metode yang digunakan

dalam bimbingan belajar berbeda dengan metode pembelajaran yang

ada di sekolah pada umumnya. Biasanya, metode yang digunakan

lebih simple dan tetap sasaran. Peserta didik pun lebih fokus karena

jumlah peserta didik yang terkadang lebih sedikit dari sebagaimana

yang ada pada sekolah umumnya20.

Dengan kata lain bimbingan belajar bagi penulis dapat menjadi

solusi untuk masalah yang dialami peserta didik dalam pembelajaran

yang dihadapinya di sekolah. Adanya bimbingan belajar menjadi

sebuah alternative pendidikan sebagai sarana pembelajaran tambahan.

Dalam bimbingan belajar sendiri metode yang digunakan hendaknya

memudahkan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran

berdasarkan kurikulukm yang ada.

20
Priyatna, Yulia Nursetyawathie, Rupiah Meriah dari Bisnis Bimbingan Belajar dan Les Privat,
(Jakarta: Penerbit PPM, 2011), hl.2.
Sebagai inti dari kegiatan bimbingan belajar dalam pendidikaan

adalah pemberian bantuan kepada peserta didik dalam rangka

mencapai kedewasaan dalam berbagai hal. Implikasinya dalam hal ini

adalah:

a) Bahwa yang dibantu seseorang yang sama sekali dapat berbuat,

melainkan makhluk yang dapat beraksi terhadap rangsangan yang

ditujukan kepadanya. Ia memiliki aktivitas dan kebebasan

bertindak. Aktivitas direalisasikan tidak akan bertentangan dengan

proses kegiatan yang bersangkutan.

b) Bahwa pencapaian kemandirian harus dimulai dengan menerima

realita tentang ketergantungan anak yang mencakup kemampuan

untuk mengidentifikasi, bekerja sama dan meniru pendidiknya21.

2. Bimbingan Belajar dalam Membaca Al-Qur’an

Seperti manusia pada umumnya, sudah tentu peserta didik merupakan

individu yang unik. Dikatakan unik karena antar peserta didik memiliki

laju pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda. Pertumbuhan

dan perkembangan pada masing-masing peserta didik yang berbeda

tersebut menimbulkan berbagai implikasi. Misalnya berimplikasi

terhadap perlakuan pendidik terhadapnya, bakat dan minatnya, motivasi

belajarnya, prestasi belajarnya gaya belajarnya, kemampuannya dalam

belajar, dan berprilaku serta pergaulannya dan sebagainya.

Al-Qur’an sebagai wahyu dan mukjizat terbesar Rasulullah Saw.

21
Priyatna, Nursetyawathie, Rupiah MeriahdariBisnisBimbinganBelajar dan Les Privat, (Jakarta:
Penerbit PPM, 2011), Hl. 2.
Mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian secara Etimologi (bahasa)

dan pengertian menurut terminology (istilah). Al-Qur’an menurut

Etimologi (bahasa) yaitu bacaan atau yang dibaca. Kata al-Qur’an

adalah bentuk mashdar dari fi’il qara’a yang diartikan dengan arti isim

maf’ul, yaitu (yang dibaca atau bacaan). Beberapa diantara hadis

mengenai keutamaan belajar dan membaca al-Qur’an adalah:

‫ قاَل رسوُل الَّلِه‬: ‫عن عثماَن بن عفاَن رضَي الَّله عنُه قال‬
» ‫ « َخيرُكم َمْن َتَعَّلَم الُقْر آَن َوعَّلمُه‬: ‫َصّلى اللُه َعَلْيِه وَس َّلم‬
‫رواه البخاري‬

Dari Usman Bin Affan ra, Rasulullah saw. Bersabda, “Sebaik-baik kalian
adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Pada dasarnya metode dalam belajar membaca al-Qur’an itu ada

banyak, diantaranya yaitu :

a) Klasikal Individual

Dalam metode ini pendidik akan menggunakan sebagian waktu

pembelajaran untuk menerangkan pokok-pokok pelajran secara

klasikal sekadar 2 hingga 3 halaman, dan sebagian lagi untuk

sorongan atau individual.

b) Klasikal baca simak

Metode ini digunakan dengan cara membaca al-Qur’an secara

bersama-sama dan peserta didik bergantian untuk membaca secara

individual maupun kelompok, sedangkan yang lainnya menyimak.

Dengan metode ini diharapkan peserta didik akan lebih tahu benar

salahnya dalam suatu bacaan.


c) Individual atau privat sorongan

Metode ini mengharuskan peserta didik bergantian satu persatu

untuk menghadap guru pengampu agar disimak bacaan al-

Qur’annya dan dikoreksi secara langsung apabila terdapat

keselahan dalam membaca al-Qur’an22.

Metode ini lebih banyak digunakan oleh pesantren salaf

karena dianggap lebih efektif dan memiliki banyak kelebihan,

diantaranya:

1) Banyak perbedaan setiap peserta didik lebih dipertimbangkan

2) Peserta didik lebih terkontrol tentang pengetahuan yang

merekapelajari

3) Merupakan pembelajaran yang bersifat aktif.

Meski kita ketahui bahwa membaca dan mengajarkan al-Qur’an

adalah tugas yang mulai. Masih banyak peserta didik yang

mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an baik dari mereka

yang belum hafal huruf hijaiyah ataupun dari segi tajwid yang

belum mumpuni. Kesulitan membaca al-Qur’an ini sendiri

merupakan suatu kondisi dimana peserta didik belum bisa

mengikuti pelajran tersebut dengan baik, sehingga terjadi

hambatan. Hambatan ini bisa terjadi karena beberapa faktor. Di

antaranya adalah:

a. Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor dari luar diri individu. Faktor

22
EtyKustiwi, Skripsi: “Penerapan Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an dalam
Meningkatkan Pemahaman Baca Al-Qur’an pada Anak”, (Malang: UIN Malang, 2008), hal. 57.
eksternalmeliputi lingkungan di sekitar, termasuk orang-orang

terdekat. Faktor eksternal yang dimaksud, antara lain sebagai berikut:

1) Lingkungan Keluarga

Lingkunagn keluarga memiliki peranan yang penting dalam

pencapaian potensi belajar peserta [Link] merupakan institusi

pendidikan yang utama dan pertama bagi pesrta didik (anak). Faktor

keluarga yang mempengaruhi prestasi belajar peserta didik, antara lain

berupa perhatian orang tua yang hendaknya diwujudkan dengan

memberikan dukungan, motivasi, semangat, fasilitas dan sebagainya.

Selain itu sebaliknya peserta didik hidup di tengah keluarga yang

harmonis, hatinya lebih tenang dan damai, sehingga memudahkan

langkah peserta didik untuk [Link] perekonomian keluarga

juga dapat mempengaruhi prestasi belajar peserta [Link] didik

yang mengalami keterbatasan ekonomi, tidak jarang merasa minder

dalam pergaulan. Ada pula yang beberapa fasilitas belajarnya juga

tidak terpenuhi.

2) Lingkungan Sekolah

Lingkungan sekolah sangat memengaruhi prestasi belajar

peserta didik. Lingkungan sekolah yang dimaksud, mencakup beberapa

hal sebagai berikut:

a) Faktor kecakapan pendidik dalam menyampaikan materi

b) Faktor fasilitas-fasilitas yang menyampaikan materi

c) Faktor warga sekolah yang memberi dukungan23.


23
R. Raudlatul Nikmah, Bimbingan Konseling Berbasis Evaluasi dan Supervisi Trik Cerdas
Faktor Internal, yaitu faktor-faktor dari dalam diri individu. Faktor

internal biasanya berupa sikap dan sifat yang melekat pada diri

seseorang. Faktor internal yang dimaksud antara lain:

1) Faktor Fisiologis

Faktor fisiologias merupakan faktor-faktor yang berhubungan

dengan kondisi fisik individu. Faktor fisiologis yang memengaruhi

kemampuan belajar, yaitu seperti kondisi fisik sakit, kondisi fisik tidak fit,

ataupun kondisi fisik yang cacat.

2) Faktor kesehatan mental

Faktor kesehatan mental dapat didefinisikan sebagai

terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi kejiwaan

dengan terciptanya keserasian diri antara individu dengan diri sendiri dan

lingkungan berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta untuk mencapai

kebahagiaan di dunia dan akhirat. Menurut pendapat tokoh psikologi lain

kesehatan mental berarti identik dengan kata sakinah dan tuma’minah,

kedua-duanya merupakan puncak dan kebaikan yang dapat menenangkan

hati24.

Seperti yang terdapat dalam firman Allah swt dalam QS. Ra’ad: 28

“orang-orang yang beriman dan ahli mereka menjadi tentram dengan


mengingat Allah, ingatlah Allah bahwa hanya dengan mengingat Allah

Merubah Sifat dan kebiasaan Siswa Menjadi Berprestasi, (Yogyakarta: Araska,2018), hl. 87-92.
24
Imam Malik, Pengantar Psikologi Umum (Yogyakarta: Kalimedia, 2016), hal 274-276.
hati menjadi tenang”25.

Peserta didik yang memiliki kesehatan mental yang baik

dicirikan dengan kondisi batinnya dalam keadaan tentram dan tenang,

sehingga memungkinkan untuk selalu menikmati kehidupan sehari-hari

dan menghargai orang lain di sekitar. Dalam kegiatan belajar, tidak hanya

menyangkut segi intelektual saja, namun juga menyangkut segi kesehatan

mental, dan emosional. Peserta didik yang mengalami stress dalam

menerima pembelajaran juga akan mengganggu perkembangan sel otak.

Ketika ia berada dalam bagian otak selama mengalami stress, akan

menjadi gangguan pada memori jangka pendek dan efesiensi belajarnya.

Meskipun peserta didik yang mengalami stress tampaknya belajar lebih

keras, tetapi kualitas belajarnya akan menurun26.

Peserta didik yang memiliki kesehatan mental yang baik dan

ketengangan emosi yang stabil, akan memulai kegiatan mental yang baik

dan ketenangan emosi yang stabil, akan memulai kegiatan belajar dengan

optimal, sehingga mudah dalam menyerap pembelajaran.

3) Faktor Psikologis

Faktor psikologis merupakan kondisi peserta didik yang dapat

memengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama

memengaruhi proses belajar yaitu intelegensi, bakat, minat, dan

motivasi. Intelegensi berarti kapasitas umum dari seorang individu

yang dapat dilihat dari kesanggupan pikirannya dalam mengatasi


25
Al-Qur’an Terjemahan…, hal. 252.
26
Judy Wilis, Metode Pengajaran dan Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak, (Yogyakarta:
Mitra Media, 2011), hal. 83.
tuntutan kebutuhan-kebutuhan baru, keadaan rohaniah secara umum

yang dapat disesuaikan dengan problem-problem dan kondisi-kondisi

yang baru di dalam hidupnya. Sedangkan motivasi berarti pemasok

daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah. Dalam

kaitannya usaha memotivasi peserta didik dalam belajar, seseorang

pendidik biasanya menggunakan teknik seperti kenaikan tingkat,

penghargaan, pemberian kehormatan, dan celaan telah dipergunakan

untuk mendorong mau belajar. Selain pendidik, orang tua atau kelurga

pun hendaknya berusaha memotivasi anak-anaknya dalam belajar27.

B. Kerangka Pikir

Manfaat dari kerangka berfikir adalah memberikan arahan dan tujuan dari

proses penelitian dan terbentuknya persepsi yang sama antara peneliti dan

orang lain karena kerangka berfikir merupakan tingkat keberhasian dalam

mencapai tujuan suatu kegiatan tergantung bagaimana pelaksanaan kegiatan

tersebut.

Serupa dengan pemikiran diatas, kerangka berfikir dalam suatu penelitian

perlu dikemukakan apabila penelitian tersebut berkenan atau berkaitan

dengan variabel atau fokus penelitian tersebut berkenaan atau berkaitan

dengan variabel atau fokus penelitian. Maksud dari kerangka berfikir sendiri

ialah upaya terbentuknya suatu alur penelitian.

27
Imam Malik, Pengantar Psikologi Umum …, hal. 94-101.
BAB III

PENDEKATAN PENELITIAN

A. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian merupakan usaha secara sistematik terkait kegiatan

mengembangkan serta menemukan. Jika dilihat dari tempatnya, jenis

penelitian yang digunakan penulis merupakan penelitian lapangan (field

research), yang bertujuan untuk mengetahui dan memecahkan suatu

permasalahan yang ada di lapangan. Dengan demikian, metode yang

digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian yang

berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti

pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagian

instrument [Link] yang diteliti oleh penulis yaitu MTsS Badan

Amal Ujung Loe, disebut kualitatif karena sumber data utama berupa

kata-kata dan tindakan dari orang-orang yang diwawancarai, pengamatan

atau observasi, serta pemanfaatan dokumentasi.

Dilihat dari tarafnya, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif

yaitu suatu penelitian dengan uraian tentang teori (bukan sekadar

pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan

dengan variable yang teliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu

dikemukakan atau mendeskripsikan, tergantung luasnya permasalahan

28
Sugiyono, MetodePenelitian Pendidikan PendekatanKuantitatif, Kualitatif, dan R & D,
(Bandung: Alfabeta, 2015), hl. 15.
dan secara teknis tergantung pada jumlah variable-variabel yang teliti,

melalui pendefinisian dan uraian yang lengkap dan mendalam dari

berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi

terhadap hubungan antar variable yang akan diteliti menjadi lebih jelas

dan terarah29.

Jadi, dalam penelitian ini, penulis hanya menjelaskan atau

menggambarkan variable yang ada yaitu dengan melukiskan keadaan

objek atau peristiwa tanpa membuat suatu perbandingan dengan variable

yang lain.

B. Subjek Penelitian

Adapun subjek penelitian yang dikenai tindakan dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

a. Kepala MTsS Badan Amal Ujung Loe.

b. Guru bimbingan belajar membaca Al-Qur’ an MTsS Badan Amal

Ujungloe

c. Peserta didik MTsS Badan Amal Ujung Loe.

C. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data

antara lain sebagai berikut:

a. Observasi adalah suatu kegiatan yang penulis lakukan untuk

mengetahui gejala-gejala awal pada penelitian.

29
Sugiyono, MetodePenelitian Pendidikan PendekatanKuantitatif, Kualitatif, dan R & D,
(Bandung: Alfabeta, 2015), hl. 89.
b. Wawancara adalah yang dilakukan oleh peneliti terhadap respon

untuk memperoleh informasi mengenai keadaan atau data yang

sedang diteliti antara dua orang lebih secara langsung dengan

mengajukan pertanyaan30.

c. Dokumentasi adalah kegiatan yang penulis lakukan untuk

mendapatkan data tertulis mengenai keadaan di MTsS Badan Amal

Ujungloe.

D. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

1. Teknik pengolahan data

Dalam penelitian ini yakni peneliti langsung berkomonikasi dengan

informan dilapangan untuk mendapatkan data akurat sesuai yang akan

diteliti.

2. Teknik analisis data

Dalam teknik analisa data, penulis menggunakan analisa deskriptif

kualitatif, yang dipertegas dengan persentase. Data yang diperoleh

melalui wawancara dapat dipaparkan dengan teknik deskriptif, yaitu

teknikmenggambarkan fenomena yang diperoleh apa adanya, kemudian

diklarifkasikan dan digambarkan dengan kalimat.

30
Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial, (Jakarta:
Salemba Humanika, 2010), hal. 118.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI, Al-Qur’an Al Karim, (Quran Kemenag Online, 2020, Qs.
Al-Isra: 9)

NovanArdyWiyana, Etika Profesi Keguruan, (Yogyakarta: Gava Media, 2015),


hal.131

Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo


Persada, 2004), hal. 125

Judy Wilis, Metode Pengajaran dan Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak,


(Yogyakarta: Mitra Media, 2011), hal. 1

Aisyah, Nurul. "Penerapan Metode Tahsin dalam Meningkatkan Kemampuan


Membaca Al-Qur'an di Sekolah Islam." Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 12,
No. 2,

Afifatu Rohmawati, Efektivitas Pembelajaran, Jurnal Pendidikan Usia Dini, hal


16-17.

Fauzan, Pengantar Sistem Administrasi Pendidikan: Teori dan Praktik,


(Yogyakarta: UII Press, 2016), hal 3-4

Afifatu Rohmawati, Efektivitas Pembelajaran…, hal.17

Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, “Studi Ilmu Pendidikan Islam”,
(Jakarta: ar-Ruzz Media 2022), hal. 210.

Sifa Siti Mukrimah, ”Metode Belajar dan Pembelajaran Plus Implikasinya”,


( Bandung: Bumi Siliwangi, 2014), hal. 45.

Milan Rianto, “Pendekatan Strategi, dan Metode Pembelajaran”, (Malang:


Dapartemen Pendidikan Nasional, 2006), hal. 4-6.

Dr.K.H. Ahmad Fathoni, Lc.,M.A, Petunjuk Praktis Tartil Al-Qur’an (Edisi


x,Syawal 1438H/Juli 2017) hal.5

Annuri,Ahmad, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an dan Tajwid. Jakarta:Pustaka


Al-Kautsar hal.231

Abdurohim, Acep.2003. Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap. Bandung:CV Penerbit


Diponegoro hal.453

Abdurohim, Acep.2003. Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap. Bandung;CV Penerbit


Diponegoro hal.453

31
Widya Puspitasari, Pelaksanaan Metode Tahsin dalam Meningkatkan Kualitas
Membaca Al-Qur’an di Mahhad Rabbani Kota Bengkulu, skripsi S1:
Fakultas Tarbiyah Pendidikan Agama Islam Bengkulu.

Heru Juadin Sada, Pendidikan Perspektif Islam. Jurnal Pendidikan Islam. Vol 6
Mei 2015

Annuru, Ahmad 2016, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an dan Tajwid,


Jakarta:ciputat press, hal.76

Humaidah Br. Hasibuan, dkk, “Penerapan Metode Sorongan dalam Pembelajaran


Kitab Kuning Kelas VIII di Pondok Pesantren Modern Ta’dib Al-Syakirin
Titi Kuning Kecamatan Medan Johor”…, hal. 8-9.

Priyatna, Yulia Nursetyawathie, Rupiah Meriah dari Bisnis Bimbingan Belajar


dan Les Privat, (Jakarta: Penerbit PPM, 2011), hl.2.

Priyatna, Nursetyawathie, Rupiah MeriahdariBisnisBimbinganBelajar dan Les


Privat, (Jakarta: Penerbit PPM, 2011), Hl. 2.

EtyKustiwi, Skripsi: “Penerapan Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an


dalam Meningkatkan Pemahaman Baca Al-Qur’an pada Anak”, (Malang:
UIN Malang, 2008), hal. 57.

R. Raudlatul Nikmah, Bimbingan Konseling Berbasis Evaluasi dan Supervisi Trik


Cerdas Merubah Sifat dan kebiasaan Siswa Menjadi Berprestasi,
(Yogyakarta: Araska,2018), hl. 87-92.

Imam Malik, Pengantar Psikologi Umum (Yogyakarta: Kalimedia, 2016), hal


274-276.

Al-Qur’an Terjemahan…, hal. 252.

Judy Wilis, Metode Pengajaran dan Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak,


(Yogyakarta: Mitra Media, 2011), hal. 83.

Imam Malik, Pengantar Psikologi Umum …, hal. 94-101.

Sugiyono, MetodePenelitian Pendidikan PendekatanKuantitatif, Kualitatif, dan R


& D, (Bandung: Alfabeta, 2015), hl. 15.

Sugiyono, MetodePenelitian Pendidikan PendekatanKuantitatif, Kualitatif, dan R


& D, (Bandung: Alfabeta, 2015), hl. 89.

Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial,


(Jakarta: Salemba Humanika, 2010), hal. 118.

Anda mungkin juga menyukai