BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Post Partum
1. Pengertian
Masa nifas atau post partum merupakan masa pemulihan dari
9 bulan kehamilan, masa diawali setelah ari-ari keluar dan
plasenta lahir hingga kembalinya organ-organ reproduksi ke dalam
keadaan normal atau sebelum hamil. Masa nifas atau disebut juga
puerperium berlangsung sejak satu jam setelah kelahiran plasenta
sampai 6 minggu (40) hari dan masa pembersihan rahim, sama
halnya seperti masa haid (Vijayanti, 2022).
Masa setelah melahirkan merupakan tahap khusus dalam
kehidupan ibu dan bayi, untuk ibu yang pertama kali melahirkan,
terdapat adanya perubahan yang sangat berarti dalam hidupnya,
ditandai dengan pergantian emosional, pergantian fisik secara
drastis, ikatan keluarga dan aturan yang baru, termasuk perubahan
dari seorang perempuan menjadi seorang ibu (Elyasari et al., 2023).
2. Periode Masa Nifas
Masa nifas terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu sebagai berikut :
(Elyasari et al., 2023)
a. Periode Immediate Post Partum
Masa Immediate post partum adalah masa setelah plasenta
lahir sampai 24 jam. Pada masa ini sering terjadi banyak
11
12
masalah seperti perdarahan atonia uteri. Oleh sebab itu, harus
dilakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lokea,
tekanan darah dan suhu secara teratur.
b. Periode Early Post Partum
Periode early post partum adalah periode 24 jam sampai
satu minggu bayi lahir. Pada fase ini memastikan involusi
uteri dalam keadaan normal tidak ada perdarahan, lokea tidak
berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan
dan cairan, dan ibu dapat menyusui dengan baik.
c. Periode Late Post Partum
Periode late post partum adalaah masa satu minggu
sampai lima minggu post partum. Pada periode ini tetap
dilakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta
konseling KB.
3. Perubahan Fisiologis
Perubahan fisiologis pada ibu post partum menurut
(Wahyuningsih S. , 2018) yaitu :
a. Sistem Reproduksi dan Struktur Terkait
1) Uterus
Setelah plasenta lahir, uterus akan mulai mengeras
karena kontraksi dan retraksi otot-ototnya. Uterus berangsur-
angsur mengecil sampai keadaan sebelum hamil.
13
2) Lokhea
Lokhea merupakan kotoran yang keluar dari vagina
yang terdiri dari jaringan mati dan lender yang berasal
dari rahim dan vagina. Pada awal post partum, peluruhan
jaringan desidua menyebabkan pengeluaran rabas vagina
dengan jumlah bervariasi. Berikut beberapa jenis lokhea
yaitu :
a) Lokhea Rubra
Berwarna merah karena berisi darah segar dan
sisa-sisa selaput ketuban, desidu, verniks kaseosa,
lanugo, meconium berlangsung 2 hari pasca post
partum.
b) Lokhea Sanguilenta
Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir
berlangsung 3-7 hari pasca post partum
c) Lokhea Serosa
Berwarna kuning karena mengandung serum,
jaringan desidua, leukosit dan eritrosit berlangsung 7-
14 hari pasca post partum
d) Lokhea Alba
Berwarna putih terdiri atas leukosit dan sel-sel
desidua berlangsung 14 hari-2 minggu berikutnya.
14
3) Endometrium
Perubahan terjadi dengan timbulnya thrombosis,
degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi plasenta.
Bekas implantasi plasenta karena kontraksi sehingga
menonjol ke kavum uteri, hari ke 1 endometrium tebal 2,5
mm, endometrium akan rata setelah hari ke 3.
4) Serviks
Segera setelah melahirkan, serviks mendatar dan
sedikit tonus, tampak lunak dan edema serta mengalami
banyak laserasi kecil. Ukuran serviks dapat mencapai dua
jari dan ketebalannya sekitar 1 cm dalam waktu 24 jam,
serviks dengan cepat memendek dan menjadi lebih keras
serta tebal. Mulut serviks secara bertahap menutup,
ukurannya 2 sampai 3 cm setelah beberapa hari dan 1 cm
dalam waktu 1 minggu. Pemeriksaan kolposkopik serviks
menunjukan adanya ulserasi, laserasi, memar, dan area
kuning dalam beberapa hari setelah persalinan. Pemeriksaan
ulang dalan 6-12 minggu kemudian biasanya menunjukan
penyembuhan yang sempurna.
5) Vagina
Setelah melahirkan vagina tetap terbuka lebar,
mungkin mengalami beberapa derajat edema dan memar,
dan celah pada introitus. Vagina secara berangsur-angsur
15
luasnya berkurang tetapi jarang sekali kembali seperti
ukuran nullipara, hymen tampak sebagai tonjolan jaringan
yang kecil dan berubah menjadi karunkula mitiformis.
Sekitar minggu ketiga post partum, ukuran vagina menurun
kembali dengan kembalinya rugae vagina.
6) Perineum
Perineum merupakan daerah vulva dan anus. Setelah
melahirkan perineum sedikit bengkak dan terdapat luka
jahitan bekas robekan atau episitomy, yaitu sayatan untuk
memperluas pengeluaran bayi. Proses penyembuhannya
biasanya selama 2-3 minggu post partum
7) Payudara
Pada saat masa nifas terjadi pembesaran payudara
karena pengaruh peningkatan hormon estrogen, untuk
mempersiapkan produksi ASI dan laktasi. Ukuran
payudara menjadi besar bisa mencapai 800 gr, keras dan
menghitam pada areola mammae di sekitar puting susu,
ini menandakan dimulainya proses menyusui. Segera
menyusui bayi segerai setelah melahirkan melalui proses
inisial menyusui dini (IMD), walaupun ASI belum keluar
lancar, namun sudah ada pengeluaran kolostrum. Proses
IMD ini dapat mencegah perdarahan dan merangsang
produksi ASI. Pada hari ke 2-3 post partum sudah mulai
16
diproduksi ASI matur yaitu ASI berwarna. Pada semua
ibu yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara
alami. Fisiologi menyusui mempunyai dua mekanisme
yaitu : produksi ASI dan sekresi ASI atau let down
reflex. Selama kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan
menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi
bayi baru lahir (Wahyuningsih E. D., 2018).
b. Sistem Endokrin
Menurut (Wahyuningsih S. , 2018) sistem endokrin terdiri dari :
1) Oksitosin
Hormon yang berperan dalam kontraksi uterus mencegah
perdarahan, isapan bayi dapat merangsang produksi ASI
dan sekresi oksitosin sehingga membantu uterus kembali
ke bentuk semula
2) Prolaktin
Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya
kelenjar pituitary bagian belakang untuk mengeluarkan
prolaktin untuk memproduksi ASI. Pada ibu yang tidak
menyusui bayinya dalam 14-21 hari setelah persalinan
sehingga merangsang kelenjar bawah otak yang
mengontrol ovarium kearah permulaan produksi estrogen
dan progesterone yang normal, pertumbuhan folikel,
ovulasi dan menstruasi.
17
3) Estrogen dan Progesteron
Selama kehamilan, volume darah normal meningkat yang
diperkirakan akibat tingginya tingkat estrogen sehingga
hormon antidiuretik meningkat volume darah. Hormon
progesterone mempengaruhi otot halus yang mengurangi
c. Tanda Vital Post Partum
Perubahan tanda-tanda vital ibu post partum menurut
(Hakim, 2020) yaitu :
1) Suhu
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2
celcius. Sesudah partus dapat naik kurang 0,5℃ dari
keadaan normal, namun tidak akan melebihi 8℃.
Sesudah 2 jam pertama melahirkan umumnya suhu
badan akan kembali normal. Bila suhu lebih dari
38℃, kemungkinan terjadi infeksi pada pasien.
2) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80
kali permenit. Setelah partus, denyut nadi dapat
menjadi bradikardi maupun lebih cepat. Denyut nadi
yang melebihi 100 permenit, harus waspada karena
bisa terjadi infeksi atau perdarahan post partum.
18
3) Tekanan Darah
Tekanan darah pasca melahirkan pada kasus
normal itu tekanan darah tidak berubah. Perubahan
tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan
dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan
darah tinggi pada ibu post partum itu merupakan
tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Tetapi hal
tersebut jarang terjadi.
4) Pernafasan
Pada ibu post partum umumnya pernafasannya
lambat atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam
keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat.
Keadaan bernafas selalu terhubung dengan keadaan
suhu dan denyut nadi. Respirasi pada ibu post partum
biasanya yaitu 16-24 kali permenit.
d. Perubahan Psikologis
Menurut (Sulistyawati, 2009) dalam perubahan psikologis
pada ibu post partum akan mengalami 3 fase, yaitu :
1) Fase Taking In
Gangguan psikologi yang dialami oleh ibu pada fase
ini adalah:
(a) Rasa tidak nyaman karena perubahan fisik
(b) Kekecewaan pada bayinya
19
(c) Merasa tidak bersalah karena belum bisa menyusui
bayinya
(d) Kritikan suami atau keluarga tentang perawatan
bayinya
2) Fase Taking Hold
(a) Periode ini berlangsung pada hari ke 2-4 post partum
(b) Ibu memperhatikan kemampuan menjadi orang tua dan
meningkatkan tanggung jawab terhadap bayi
(c) Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya
(d) Ibu berusaha untuk menguasai tentang perawatan
bayinya
(e) Pada masa ini, ibu biasanya agak sensitive dan merasa
tidak mahir dalam melakukan hal-hal tersebut
3) Fase Letting Go
(a) Terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan sangat
berpengruh terhadap waktu dan perhatian yang
diberikan oleh keluarga.
(b) Ibu mengambil tanggung jawab pada perawatan bayi,
ibu harus beradaptasi dengan kebutuhan bayi yang
menyebabkan kebebasan dan berhubungan sosial
berkurang.
(c) Fase ini berlangsung selama 10 hari setelah
melahirkan.
20
e. Penatalaksanaan
Menurut (Septiani & Sartika, 2023) penatalaksanaan pada
ibu post partum yaitu :
1) Observasi pada 2 jam setelah persalinan (untuk
mengetahui adanya komplikasi perdarahan)
2) Pada jam 6-8 jam setelah persalinan : istirahat dan tidur
tenang, usahakan miring kanan, miring kiri
3) Hari ke 1-2 : Memberikan pendidikan kesehatan mengenai
cara menyusui yang benar serta perawatan payudara,
perubahan-perubahan yang terjadi saat masa nifas.
4) Hari ke 2 : Mulai latihan duduk
5) Hari ke 3 : Dilatih untuk berdiri dan berjalan
B. Konsep Sectio Caesarea
1. Pengertian
Sectio caesarea (SC) Menurut Haryani, 2021 dalam (Wathina,
2023) adalah tindakan pembedahan dengan membuka dinding perut
dan dinding rahim untuk melahirkan janin dari dalam rahim.
Sectio caesarea yaitu suatu persalinan yang dibuat dimana janin
yang dilahirkan dengan cara melalui suatu insisi pada dinding
perut dan dinding rahim serta berat janin diatas 500 gram. Sectio
caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat
sayatan pada dinding uterus melalui depan perut atau vagina atau
disebut juga histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam
21
rahim. Tindakan operasi sectio caesarea dilakukan untuk
mencegah kamatian janin maupun ibu karena bahaya atau
komplikasi yang akan terjadi apabila ibu melahirkan secara
pervaginam
2. Penyebab Sectio Caesarea
Menurut (Manuaba, 2002) penyebab sectio caesarea sebagai beriku:
a. CPD (Chepalo Pelvik Disproportion)
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran
lingkar panggul ibu tidak sesuai terdapat ukuran lingkar
kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat
melahirkan secara normal. Tulang-tulang panggul merupakan
susunan beberapa tulang yang membentuk rongga panggul
yang merupakan jalann yang harus dilalui oleh janin ketika
akan lahir secara alami.
b. Peb (Pre-Eklamsi Barat)
Pre-klamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung
disebabkan oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum
jelas. Setelah perdarahan dan infeksi, pre-eklamsi dan eklamsi
merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal paling
penting. Karena diagnosa dini amatlah penting, yaitu mampu
mengenali dan mengobati agar tidak berkelanjutan menjadi
eklamsi.
22
c. KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum
terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi
inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah hamil aterm
diatas usi 37 minggu.
d. Bayi kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar.
Hal ini karena kelahiran kembar memiliki resiko terjadi
komplikasi yang lebih tinggi dari pada kelahiran satu bayi.
Selain itu bayi kembar dapat mengalami sungsang atau salah
letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal.
e. Faktor hambatan jalan lahir
Adanya gangguan jalan lahir, misalnya jalan lahir yang
tidak memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor, dan
kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu
sulit bernafas.
f. Kelainan letak janin
1. Kelainan pada letak kepala
1) Letak kepala tengadah
Bagian bawah adalah puncak kepala, pada pemeriksaan
dalam teraba UUB yang paling rendah. Etiologinya
kelainan panggul, kepala bentuknya bundar, anaknya
kecil atau mati, kerusakan dasar panggul.
23
2) Presentasi muka
Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian
kepala yang terletak paling rendah ialah muka. Hal ini
jarang terjadi, kira-kira 0,27-0,5%.
3) Presentasi dahi
Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada
pada posisi terendah dan tetap paling depan. Pada
penempatan dagu, biasanya dengan sendirinya akan
berubah menjadi letak muka atau letak belakang
kepala.
2. Letak sungsang
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak
memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong
berada dibagian bawah cavum uteri.
3. Jenis-jenis Sectio Caesarea menurut (Sugito, 2023) yaitu :
a. Sectio Caesarea Kalsik
Sectio caesarea dengan insisi vertical sehingga
memungkinkan ruangan yang lebih besar untuk jalan
dikeluarkannya janin. Jenis insisi ini sudah jarang dilakukan
karena sangat berisiko terjadinya komplikasi pasca operasi.
24
b. Sectio Caesarea Dengan Insisi Mendatar Di Atas Regio
Vesica Urinaria
Metode insisi ini sangat umum dilakukan karena risiko
perdarahan di area sayatan yang bisa diminimalisir dan proses
penyembuhan luka operasi relatif jauh lebih cepat.
c. Histerektomi Caesarea
Metode bedah caesarea sekaligus dengan pengangkatan
uterus dikarenakan terjadinya komplikasi perdarahan yang sulit
dihentikan atau ketika plasenta tidak dapat dipisahkan dari
dinding uterus.
d. Sectio Caesarea Ismika Ekstaperitoneal
Metode dengan insisi pada dinding dan fasia abdomen
dimana musculus rectus abdominalis dipisahkan secara tumpul.
Kandung kemih diretraksi ke bawah untuk memaparkan SBR
(segmen bawah rahim). Metode ini dilakukan untuk
mengurangi risiko infeksi puerperalis.
e. Sectio Caesarea Berulang
Metode bedah caesar yang dilakukan pada pasien
dengan riwayat operasi sectio caesarea sebelumnya.
4. Indikasi dan kontra indikasi sectio caesarea
Keadaan ini di mana proses persalinan tidak dapat dilakukan
melalui jalan lahir merupakan indikasi mutlak untuk dilakukan
operasi sectio caesarea yang antara lain disebabkan karena karena
25
terjadinya disproporsi kepala-panggul, presentasi dahi-muka,
difungsi uterus, distosia serviks, plasenta previa, janin besar,
partus lama atau tidak ada kemajuan, fetal distress, pre-ekamsia,
malpresentasi janin dengan indikasi panggul sempit, gemelli
dengan kondisi interlock, dan ruptura uteri yang mengancam.
Kontra indikasi untuk dilakukan persalinan sectio caesarea antara
lain karena kondisi janin mati, syok, anemia berat, dan kelainan
kongenital berat (Sugito, 2023).
5. Komplikasi Sectio Caesarea
Komplikasi menurut (Sugito, 2023) yaitu :
a. Infeksi puerperial : kenaikann suhu selama beberapa hari
dalam masa nifas
b. Perdarahan : perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat
pembedahan cabang-cabang arteri uterine ikut terbuka atau
karena atonia uteri.
c. Komplikasi-komplikasi lainnya antara lain luka kandung
kencing, embolisme paru yang sangat jarang terjadi.
d. Kurang kuatnya perut pada dinding uterus, sehingga pada
kehamilan berikutnya bisa terjadi rupture uteri.
C. Konsep Menyusui Tidak Efektif
1. Pengertian
Menyusui tidak efektif merupakan kondisi dimana ibu dan bayi
mengalami ketidakpuasan atau kesukaran pada proses menyusui
26
(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016). Menurut Fauzi, dkk (2019)
dalam (Haryani, 2023) kondisi menyusui tidak efektif ini membuat
pemberian ASI menjadi rendah sehingga dapat menjadi ancaman
bagi bayi khususnya bagi kelangsungan hidup pada saat
pertumbuhan dan perkembangan bayi. Menyusui tidak efektif juga
menyebabkan ketiakadekuatan suplai ASI yang akan menimbulkan
bayi kekurangan nutrisi sehingga bisa menyebabkan penurunan
daya tahan tubuh dan bayi sangat rentan terkena penyakit.
2. Etiologi
Etiologi menyusui tidak efektif menurut (Tim Pokja SDKI
DPP PPNI, 2016) adalah :
a. Ketidakadekuatan suplai ASI
b. Hambatan pada neonatus (misalnya, prematuritas, sumbing)
c. Anomali payudara ibu (misalnya, putting masuk ke dalam)
d. Ketidakadekuatan refleks oksitosin
e. Ketidakadekuatan refleks menghisap bayi
f. Payudara bengkak
g. Riwayat operasi payudara
h. Kelahiran kembar
3. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis menurut (Tim Pokja SDKI DPP PPNI,
2016) adalah :
27
a. Tanda Gejala Mayor :
1) Bayi tidak mampu melekat pada payudara ibu
2) ASI tidak menetes/ memancar
3) BAK bayi kurang dari 8 kali dalam 24 jam
4) Nyeri dan/ atau lecet terus menerus setelah minggu kedua
b. Tanda Gejala Minor :
1) Intake bayi tidak adekuat
2) Bayi menghisap tidak terus menerus
3) Bayi menangis saat disusui
4. Fisiologis
Menurut Depkes RI, 2007 dalam (Sulaeman, 2019) fisiologis
menyusui tidak yaitu :
a. Refleks Prolaktin
Setelah partus berhubung lepasnya plasenta dan kurang
berfungsinya corpus luteum maka estrogen dan progesteron
sangat berkurang, ditambah dengan adanya isapan bayi yang
merangsang puting susu dan kalang payudara, akan
merangsang ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai
reseptor mekanik. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang
berfungsi untuk memproduksi ASI. Kadar prolaktin pada ibu
yang menyusui akan menjadi normal setelah 3 bulan
melahirkan sampai penyapihan anak, pada saat tidak ada
peningkatan prolaktin walaupun ada isapan bayi, namun
28
pengeluaran ASI tetap berlangsung. Pada ibu yang melahirkan
tetapi tidak menyusui bayinya, kadar prolaktin akan normal
pada minggu ke 2-3. Pada ibu yang menyusui, prolaktin akan
meningkat dalam keadaan seperti :
1) Stress atau pengaruh psikis
2) Anastesi
3) Operasi
4) Rangsang puting susu
5) Hubungan kelamin
Sedangkan keadaan-keadaan yang menghambat pengeluaran
prolaktin yaitu :
1) Gizi yang jelek
2) Obat-obatan seperti ergot, i-dopa
b. Refleks Let Down
Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh
adenohipofise, rangsangan yang berasal dari isapan bayi ada
yang dilanjurkan ke neurohipofise yang kemudian dikeluarkan
oksitosin.
Faktor-faktor yang meningkatkan refleks let down yaitu :
1) Melihat bayi
2) Mendengarkan suara bayi
3) Mencium bayi
4) Memikirkan untuk menyusui bayi
29
Faktor-faktor yang menghambat refleks let down yaitu :
1) Keadaan bingung/ pikiran kacau
2) Takut
3) Cemas
5. Pentalaksanaan
Penatalaksanaan dari menyusui tidak efektif menurut Rustam
(2009) dalam (Zubaidah, 2021) yaitu :
a. Cara mengatasi bila puting susu tenggelam
Lakukan gerakan menggunakan kedua ibu jari dengan
menekan kedua sisi putting dan setelah putting tampak
menonjol keluar lakukan tarikan pada puting menggunakan ibu
jari dan telunjuk lalu lanjutkan dengan gerakan memutar
putting ke satu arah. Ulangi sampai beberapa kali dan lakukan
secara rutin.
b. Jika ASI belum keluar
Ibu harus tetap menyusui walaupun ASI belum keluar.
Mulailah segera menyusui sejak bayi lahir, yakni dengan
inisiasi menyusui dini, dengan teratur menyusui bayi maka
hisapan bayi pada saat menyusu ke ibu akan merangsang
produksi hormon oksitosin dan prolaktin yang akan membantu
kelancaran keluarnya ASI.
c. Penanganan pada payudara yang terasa keras sekali, nyeri dan
menetes pelan dan badan terasa demam
30
Pada hari ke empat masa nifas kadang payudara terasa
penuh dan keras, juga sedikit nyeri. Tetapi merupakan pertanda
baik, karena kelenjar susu ibu mulai berproduksi. Dengan
adanya reaksi alamiah tubuh seorang ibu dalam masa
menyusui untuk meningkatkan produksi ASI, makan tubuh
memerlukan cairan lebih banyak. Pentingnya minum air putih
8 gelas sehari.
6. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) (Tim Pokja SLKI
DPP PPNI, 2018).
Status Menyusui (L.03029)
Definisi : Kemampuan memberikan ASI secara langsung dari
payudara kepada bayi dan anak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
Ekspektasi : Membaik
Kriteria Hasil :
a. Pelekatan bayi pada payudara ibu
b. Kemampuan ibu memposisikan bayi dengan benar
c. Miksi bayi lebih dari 8 kali/ 24 jam
d. Berat badan bayi
e. Tetesan/ pancaran ASI
f. Suplai ASI adekuat
g. Puting tidak lecet setelah 2 minggu melahirkan
h. Kepercayaan diri ibu
i. Bayi tidur setelah menyusu
31
j. Payudara ibu kosong setelah menyusui
k. Intake bayi
l. Hisapan bayi
m. Lecet pada puting
n. Kelelahan mental
o. Kecemasan mental
p. Bayi rewel
q. Bayi nangis setelah menyusu
7. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) (Tim Pokja SIKI
DPP PPNI, 2018).
Eduksi Menyusui (L.12393)
Definisi : Memberikan informasi dan saran tentang menyusui yang
dimulai dari antepartum, intrapartum dan post partum.
Tindakan :
Observasi
a. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
b. Identifikasi tujuan atau keinginan menyusui
Terapeutik
a. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
b. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
c. Berikan kesempatan untuk bertanya
d. Dukung ibu meningkatkan kepercayaan diri dalam menyusui
32
e. Libatkan sistem pendukung : suami, keluarga, tenaga kesehatan
dan masyarakat
Edukasi
a. Berikan konseling menyusui
b. Jelaskan manfaat menyusui bagi ibu dan bayi
c. Ajarkan empat posisi menyusui dan perlekatan (lacth on)
dengan benar
d. Ajarkan perawatan payudara post partum (misal. Memerah
ASI, pijat payudara, pijat oksitosin)
D. Konsep Teknik Breast Care
1. Pengertian Breast Care
Breast care atau perawatan payudara post partum adalah
perawatan payudara pada ibu setelah melahirkan sedini atau
secepat mungkin. Perawatan payudara yang dilakukan secara sadar
dan teratur untuk memelihara kesehatan payudara. Perawatan
payudara ini dilakukan pada saat masa nifas untuk memproduksi
ASI, untuk kebersihan payudara, bentuk puting susu yang masuk
ke dalam, menghindari kesulitan pada saat menyusui dengan
melakukan pemijatan, selain itu juga menjaga kebersihan payudara
agar tidak mudah infeksi (Wahyuni, 2022).
Perawatan payudara bisa dilakukan oleh ibu post partum
maupaun dibantu oleh orang lain biasanya dilakukan mulai dari
hari ke-1 atau hari ke-2 pasca melahirkan. Perawatan payudara
33
bertujuan untuk melancarkan sirkulasi dan mencegah tersumbatnya
aliran ASI sehingga memperlancar pengeluaran ASI serta
menghindari terjadinya pembengkakan dan kesulitan menyusui
(Wahyuni, 2022).
2. Manfaat Breast Care
Manfaat breast care adalah untuk memperlancar sirkulasi
darah serta mencegah sumbatan pada saluran susu, sehingga
memperlancar pengeluara ASI. Produksi ASI dan pengeluaran ASI
dipengaruhi oleh dua hormon yaitu, prolaktin dan oksitosin.
Prolaktin mempengaruhi jumlah produksi ASI, sedangkan oksitosin
mempengaruhi proses pengeluaran ASI (Wahyuni, 2022).
3. Tujuan Breast Care
Menurut (Wahyuni, 2022), perawatan payudara pada ibu post
partum merupaan kelanjutan perawatan payudara semasa hamil
dengan tujuan antara lain :
a. Untuk menjaga kebersihan payudara sehingga terhindar dari
infeksi
b. Untuk mengenyalkan puting susu, supaya tidak mudah lecet
c. Untuk menonjolkan puting susu
d. Menjaga bentuk buah dada tetap bagus
e. Untuk mencegah terjadinya penyumbatan
f. Untuk memperbanyak memproduksi ASI
g. Untuk mengetahui adanya kelainan
34
4. Prosedur Tindakan Teknik Breast Care
Menurut (Nurfitriani, 2023) tindakan teknik breast care yang
benar yaitu :
a. Ambil kapas secukupnya dan beri minyak/ baby oil kemudian
tempelkan di kedua putting susu ibu. Biarkan selama 3-5
menit agar epitel yang lepas kemudian kapas diangkat sambil
membersihkan putting dan ditarik-tarik. Ulangi sampai bersih
kanan dan kiri.
b. Lakukan pengurutan pertama. Tuang minyak/ baby oil pada
kedua telapak tangan. Letakan kedua telapak tangan diantara
kedua payudara. Urutlah dari tangan ke atas sambil
mengangkat kedua payudara dan lepaskan keduanya perlahan.
Ulangi gerakan memutar ini dari bawah keatas. Lakukan
gerakan ini 20-30 kali.
Gambar 2.1 Prosedur Tindakan Teknik Breast Care
35
c. Sangga payudara dengan satu tangan dan tangan lainnya
mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah pangkal
payudara kearah puting susu. Ulangi gerakan ini ke semua sisi
payudara dan lakukan sebanyak 20-30 kali. Lakukan juga pada
payudara yang lainnya.
d. Sangga payudara kembali dengan satu tangan dan tangan
lainnya mengetuk payudara secara memutar kearah puting.
Lakukan juga pada payudara yang lainnya.
e. Lakukan pengompresan pada kedua payudara dengan air hangat
dan air dingin secara bergantian menggunakan 2 buah waslap
untuk merangsang payudara. Lakukan secara selang seling
mulai dari hangat kemudian dingin, hangat kemudian dingin
dan diakhiri kompres hangat 5 kali.
E. Hubungan Atau Mekanisme Teknik Breast Care Dengan Status
Menyusui
Teknik breast care bertujuan untuk memperlancar sirkulasi darah
dan juga mencegah tersumbatnya saluran susu sehingga dapat
memperlancar pengeluaran. Perawatan payudara (breast care) selama
masa menyusui sangat bermanfaat dalam mencegah dan mengelola
kemungkinan risiko pada masalah payudara. Dengan dilakukannya
perawatan payudara yang baik, kegiatan menyusui menjadi sangat
menyenangkan bagi ibu maupun si buah hati (Fatrin, 2022). Pemijatan
di daerah tulang belakang membuat saraf neurotransmiter merangsang
36
medulla oblongata dalam mengirim rangsangan ke hipotalamus melalui
hipofise posterior untuk mengeluarkan oksigen sehingga mengebabkan
payudara mengeluarkan air susu, selain itu pemijatan di daerah tulang
belakang juga merelaksasikan ketegangan dan menghilangkan stress
dengan begitu hormon oksitosin keluar membuat ASI ibu keluar dari
payudara dengan dibantu oleh isapan bayi pada puting susu ibu stelah
bayi dilahirkan dalam keadaan normal (Marsilia, 2019).
F. Potensi Kasus Mengalami Ketidakefektifan Menyusui
Menurut (Nurfitriani, 2023) Jika teknik breast care keliru terdapat
beberapa sebab yaitu :
1. Bendungan ASI
Terjadinya pembengkakan payudara karena terjadinya
peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan
bendungan ASI dan rasa nyeri dan kadang-kadang disertai
kenaikan suhu tubuh. Bendungan ASI ini biasanya terlihat 24
sampai 48 jam setelah persalinan yang biasa disebut caked breast.
Pembengkakan payudara terjadi karena hambatan aliran darah vena
atau saluran kelenjar getah bening akibat ASI terkumpul dalam
payudara.
Cara mengatasi : melakukan pemijatan breast care pada
payudara menggunakan minyak kelapa dari arah pangkal payudara
menuju puting. Kemudian kompres payudara menggunakan
37
washlap yang telah direndam dalam air hangat dan air dingin
secara bergantian.
2. Puting susu lecet
Penyebab : Kesalahan teknik melepaskan puting dari mulut
bayi
Cara mengatasi : Melepaskan puting dengan cara memasukan
jari kelingking ibu ke mulut bayi atau menekan dagu bayi ke
bawah.
3. Abses payudara/ Mestitis
Mastitis adalah peradangan pada payudara dengan gejala
payudara menjadi merah, bengkak, diikuti rasa nyeri dan panas,
suhu tubuh meningkat dan dapat terjadi pada masa nifas 1-3
minggu setelah persalinan.
Cara mengatasi : kompres hangat dan pemijatan. Rangsang
oxytocin dimulai dari payudara yang tidak sakit dulu, simulasi
puting, pijat leher dan punggung, berikan antibiotic selama 7-10
hari, istirahatkan payudara dan berikan analgetik.
38
G. Kerangka Pemikiran/ Pathways
Post Partum
Perubahan Fisiologis Perubahan Psikologi
Perubahan Sistem Laktasi Taking In
Reproduksi
Uterus Ketidakadekuatan Taking Hold
suplasi ASI
Lokhea Oksitosin Meningkat Taking Go
Endometrium Putting Susu Lecet Defisit Pengetahuan
Serviks Breast Care
Vagina Menyusui Tidak
Efektif
Perineum
Nyeri Akut
Bagan 2. 1 Kerangka Pemikiran/ Pathways
39