0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan29 halaman

Pemulihan Ibu Pasca Melahirkan: Tinjauan Nifas

Dokumen ini membahas konsep post partum, termasuk pengertian, periode masa nifas, perubahan fisiologis, tanda vital, dan perubahan psikologis yang dialami ibu setelah melahirkan. Selain itu, juga dijelaskan tentang sectio caesarea, penyebab, dan indikasi tindakan pembedahan tersebut. Penatalaksanaan pasca melahirkan dan perawatan ibu juga menjadi fokus dalam dokumen ini.

Diunggah oleh

wahyuusaputraa887
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan29 halaman

Pemulihan Ibu Pasca Melahirkan: Tinjauan Nifas

Dokumen ini membahas konsep post partum, termasuk pengertian, periode masa nifas, perubahan fisiologis, tanda vital, dan perubahan psikologis yang dialami ibu setelah melahirkan. Selain itu, juga dijelaskan tentang sectio caesarea, penyebab, dan indikasi tindakan pembedahan tersebut. Penatalaksanaan pasca melahirkan dan perawatan ibu juga menjadi fokus dalam dokumen ini.

Diunggah oleh

wahyuusaputraa887
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Post Partum

1. Pengertian

Masa nifas atau post partum merupakan masa pemulihan dari

9 bulan kehamilan, masa diawali setelah ari-ari keluar dan

plasenta lahir hingga kembalinya organ-organ reproduksi ke dalam

keadaan normal atau sebelum hamil. Masa nifas atau disebut juga

puerperium berlangsung sejak satu jam setelah kelahiran plasenta

sampai 6 minggu (40) hari dan masa pembersihan rahim, sama

halnya seperti masa haid (Vijayanti, 2022).

Masa setelah melahirkan merupakan tahap khusus dalam

kehidupan ibu dan bayi, untuk ibu yang pertama kali melahirkan,

terdapat adanya perubahan yang sangat berarti dalam hidupnya,

ditandai dengan pergantian emosional, pergantian fisik secara

drastis, ikatan keluarga dan aturan yang baru, termasuk perubahan

dari seorang perempuan menjadi seorang ibu (Elyasari et al., 2023).

2. Periode Masa Nifas

Masa nifas terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu sebagai berikut :

(Elyasari et al., 2023)

a. Periode Immediate Post Partum

Masa Immediate post partum adalah masa setelah plasenta

lahir sampai 24 jam. Pada masa ini sering terjadi banyak

11
12

masalah seperti perdarahan atonia uteri. Oleh sebab itu, harus

dilakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lokea,

tekanan darah dan suhu secara teratur.

b. Periode Early Post Partum

Periode early post partum adalah periode 24 jam sampai

satu minggu bayi lahir. Pada fase ini memastikan involusi

uteri dalam keadaan normal tidak ada perdarahan, lokea tidak

berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan

dan cairan, dan ibu dapat menyusui dengan baik.

c. Periode Late Post Partum

Periode late post partum adalaah masa satu minggu

sampai lima minggu post partum. Pada periode ini tetap

dilakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta

konseling KB.

3. Perubahan Fisiologis

Perubahan fisiologis pada ibu post partum menurut

(Wahyuningsih S. , 2018) yaitu :

a. Sistem Reproduksi dan Struktur Terkait

1) Uterus

Setelah plasenta lahir, uterus akan mulai mengeras

karena kontraksi dan retraksi otot-ototnya. Uterus berangsur-

angsur mengecil sampai keadaan sebelum hamil.


13

2) Lokhea

Lokhea merupakan kotoran yang keluar dari vagina

yang terdiri dari jaringan mati dan lender yang berasal

dari rahim dan vagina. Pada awal post partum, peluruhan

jaringan desidua menyebabkan pengeluaran rabas vagina

dengan jumlah bervariasi. Berikut beberapa jenis lokhea

yaitu :

a) Lokhea Rubra

Berwarna merah karena berisi darah segar dan

sisa-sisa selaput ketuban, desidu, verniks kaseosa,

lanugo, meconium berlangsung 2 hari pasca post

partum.

b) Lokhea Sanguilenta

Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir

berlangsung 3-7 hari pasca post partum

c) Lokhea Serosa

Berwarna kuning karena mengandung serum,

jaringan desidua, leukosit dan eritrosit berlangsung 7-

14 hari pasca post partum

d) Lokhea Alba

Berwarna putih terdiri atas leukosit dan sel-sel

desidua berlangsung 14 hari-2 minggu berikutnya.


14

3) Endometrium

Perubahan terjadi dengan timbulnya thrombosis,

degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi plasenta.

Bekas implantasi plasenta karena kontraksi sehingga

menonjol ke kavum uteri, hari ke 1 endometrium tebal 2,5

mm, endometrium akan rata setelah hari ke 3.

4) Serviks

Segera setelah melahirkan, serviks mendatar dan

sedikit tonus, tampak lunak dan edema serta mengalami

banyak laserasi kecil. Ukuran serviks dapat mencapai dua

jari dan ketebalannya sekitar 1 cm dalam waktu 24 jam,

serviks dengan cepat memendek dan menjadi lebih keras

serta tebal. Mulut serviks secara bertahap menutup,

ukurannya 2 sampai 3 cm setelah beberapa hari dan 1 cm

dalam waktu 1 minggu. Pemeriksaan kolposkopik serviks

menunjukan adanya ulserasi, laserasi, memar, dan area

kuning dalam beberapa hari setelah persalinan. Pemeriksaan

ulang dalan 6-12 minggu kemudian biasanya menunjukan

penyembuhan yang sempurna.

5) Vagina

Setelah melahirkan vagina tetap terbuka lebar,

mungkin mengalami beberapa derajat edema dan memar,

dan celah pada introitus. Vagina secara berangsur-angsur


15

luasnya berkurang tetapi jarang sekali kembali seperti

ukuran nullipara, hymen tampak sebagai tonjolan jaringan

yang kecil dan berubah menjadi karunkula mitiformis.

Sekitar minggu ketiga post partum, ukuran vagina menurun

kembali dengan kembalinya rugae vagina.

6) Perineum

Perineum merupakan daerah vulva dan anus. Setelah

melahirkan perineum sedikit bengkak dan terdapat luka

jahitan bekas robekan atau episitomy, yaitu sayatan untuk

memperluas pengeluaran bayi. Proses penyembuhannya

biasanya selama 2-3 minggu post partum

7) Payudara

Pada saat masa nifas terjadi pembesaran payudara

karena pengaruh peningkatan hormon estrogen, untuk

mempersiapkan produksi ASI dan laktasi. Ukuran

payudara menjadi besar bisa mencapai 800 gr, keras dan

menghitam pada areola mammae di sekitar puting susu,

ini menandakan dimulainya proses menyusui. Segera

menyusui bayi segerai setelah melahirkan melalui proses

inisial menyusui dini (IMD), walaupun ASI belum keluar

lancar, namun sudah ada pengeluaran kolostrum. Proses

IMD ini dapat mencegah perdarahan dan merangsang

produksi ASI. Pada hari ke 2-3 post partum sudah mulai


16

diproduksi ASI matur yaitu ASI berwarna. Pada semua

ibu yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara

alami. Fisiologi menyusui mempunyai dua mekanisme

yaitu : produksi ASI dan sekresi ASI atau let down

reflex. Selama kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan

menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi

bayi baru lahir (Wahyuningsih E. D., 2018).

b. Sistem Endokrin

Menurut (Wahyuningsih S. , 2018) sistem endokrin terdiri dari :

1) Oksitosin

Hormon yang berperan dalam kontraksi uterus mencegah

perdarahan, isapan bayi dapat merangsang produksi ASI

dan sekresi oksitosin sehingga membantu uterus kembali

ke bentuk semula

2) Prolaktin

Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya

kelenjar pituitary bagian belakang untuk mengeluarkan

prolaktin untuk memproduksi ASI. Pada ibu yang tidak

menyusui bayinya dalam 14-21 hari setelah persalinan

sehingga merangsang kelenjar bawah otak yang

mengontrol ovarium kearah permulaan produksi estrogen

dan progesterone yang normal, pertumbuhan folikel,

ovulasi dan menstruasi.


17

3) Estrogen dan Progesteron

Selama kehamilan, volume darah normal meningkat yang

diperkirakan akibat tingginya tingkat estrogen sehingga

hormon antidiuretik meningkat volume darah. Hormon

progesterone mempengaruhi otot halus yang mengurangi

c. Tanda Vital Post Partum

Perubahan tanda-tanda vital ibu post partum menurut

(Hakim, 2020) yaitu :

1) Suhu

Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2

celcius. Sesudah partus dapat naik kurang 0,5℃ dari

keadaan normal, namun tidak akan melebihi 8℃.

Sesudah 2 jam pertama melahirkan umumnya suhu

badan akan kembali normal. Bila suhu lebih dari

38℃, kemungkinan terjadi infeksi pada pasien.

2) Nadi

Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80

kali permenit. Setelah partus, denyut nadi dapat

menjadi bradikardi maupun lebih cepat. Denyut nadi

yang melebihi 100 permenit, harus waspada karena

bisa terjadi infeksi atau perdarahan post partum.


18

3) Tekanan Darah

Tekanan darah pasca melahirkan pada kasus

normal itu tekanan darah tidak berubah. Perubahan

tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan

dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan

darah tinggi pada ibu post partum itu merupakan

tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Tetapi hal

tersebut jarang terjadi.

4) Pernafasan

Pada ibu post partum umumnya pernafasannya

lambat atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam

keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat.

Keadaan bernafas selalu terhubung dengan keadaan

suhu dan denyut nadi. Respirasi pada ibu post partum

biasanya yaitu 16-24 kali permenit.

d. Perubahan Psikologis

Menurut (Sulistyawati, 2009) dalam perubahan psikologis

pada ibu post partum akan mengalami 3 fase, yaitu :

1) Fase Taking In

Gangguan psikologi yang dialami oleh ibu pada fase

ini adalah:

(a) Rasa tidak nyaman karena perubahan fisik

(b) Kekecewaan pada bayinya


19

(c) Merasa tidak bersalah karena belum bisa menyusui

bayinya

(d) Kritikan suami atau keluarga tentang perawatan

bayinya

2) Fase Taking Hold

(a) Periode ini berlangsung pada hari ke 2-4 post partum

(b) Ibu memperhatikan kemampuan menjadi orang tua dan

meningkatkan tanggung jawab terhadap bayi

(c) Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya

(d) Ibu berusaha untuk menguasai tentang perawatan

bayinya

(e) Pada masa ini, ibu biasanya agak sensitive dan merasa

tidak mahir dalam melakukan hal-hal tersebut

3) Fase Letting Go

(a) Terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan sangat

berpengruh terhadap waktu dan perhatian yang

diberikan oleh keluarga.

(b) Ibu mengambil tanggung jawab pada perawatan bayi,

ibu harus beradaptasi dengan kebutuhan bayi yang

menyebabkan kebebasan dan berhubungan sosial

berkurang.

(c) Fase ini berlangsung selama 10 hari setelah

melahirkan.
20

e. Penatalaksanaan

Menurut (Septiani & Sartika, 2023) penatalaksanaan pada

ibu post partum yaitu :

1) Observasi pada 2 jam setelah persalinan (untuk

mengetahui adanya komplikasi perdarahan)

2) Pada jam 6-8 jam setelah persalinan : istirahat dan tidur

tenang, usahakan miring kanan, miring kiri

3) Hari ke 1-2 : Memberikan pendidikan kesehatan mengenai

cara menyusui yang benar serta perawatan payudara,

perubahan-perubahan yang terjadi saat masa nifas.

4) Hari ke 2 : Mulai latihan duduk

5) Hari ke 3 : Dilatih untuk berdiri dan berjalan

B. Konsep Sectio Caesarea

1. Pengertian

Sectio caesarea (SC) Menurut Haryani, 2021 dalam (Wathina,

2023) adalah tindakan pembedahan dengan membuka dinding perut

dan dinding rahim untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

Sectio caesarea yaitu suatu persalinan yang dibuat dimana janin

yang dilahirkan dengan cara melalui suatu insisi pada dinding

perut dan dinding rahim serta berat janin diatas 500 gram. Sectio

caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat

sayatan pada dinding uterus melalui depan perut atau vagina atau

disebut juga histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam


21

rahim. Tindakan operasi sectio caesarea dilakukan untuk

mencegah kamatian janin maupun ibu karena bahaya atau

komplikasi yang akan terjadi apabila ibu melahirkan secara

pervaginam

2. Penyebab Sectio Caesarea

Menurut (Manuaba, 2002) penyebab sectio caesarea sebagai beriku:

a. CPD (Chepalo Pelvik Disproportion)

Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran

lingkar panggul ibu tidak sesuai terdapat ukuran lingkar

kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat

melahirkan secara normal. Tulang-tulang panggul merupakan

susunan beberapa tulang yang membentuk rongga panggul

yang merupakan jalann yang harus dilalui oleh janin ketika

akan lahir secara alami.

b. Peb (Pre-Eklamsi Barat)

Pre-klamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung

disebabkan oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum

jelas. Setelah perdarahan dan infeksi, pre-eklamsi dan eklamsi

merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal paling

penting. Karena diagnosa dini amatlah penting, yaitu mampu

mengenali dan mengobati agar tidak berkelanjutan menjadi

eklamsi.
22

c. KPD (Ketuban Pecah Dini)

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum

terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi

inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah hamil aterm

diatas usi 37 minggu.

d. Bayi kembar

Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar.

Hal ini karena kelahiran kembar memiliki resiko terjadi

komplikasi yang lebih tinggi dari pada kelahiran satu bayi.

Selain itu bayi kembar dapat mengalami sungsang atau salah

letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal.

e. Faktor hambatan jalan lahir

Adanya gangguan jalan lahir, misalnya jalan lahir yang

tidak memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor, dan

kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu

sulit bernafas.

f. Kelainan letak janin

1. Kelainan pada letak kepala

1) Letak kepala tengadah

Bagian bawah adalah puncak kepala, pada pemeriksaan

dalam teraba UUB yang paling rendah. Etiologinya

kelainan panggul, kepala bentuknya bundar, anaknya

kecil atau mati, kerusakan dasar panggul.


23

2) Presentasi muka

Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian

kepala yang terletak paling rendah ialah muka. Hal ini

jarang terjadi, kira-kira 0,27-0,5%.

3) Presentasi dahi

Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada

pada posisi terendah dan tetap paling depan. Pada

penempatan dagu, biasanya dengan sendirinya akan

berubah menjadi letak muka atau letak belakang

kepala.

2. Letak sungsang

Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak

memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong

berada dibagian bawah cavum uteri.

3. Jenis-jenis Sectio Caesarea menurut (Sugito, 2023) yaitu :

a. Sectio Caesarea Kalsik

Sectio caesarea dengan insisi vertical sehingga

memungkinkan ruangan yang lebih besar untuk jalan

dikeluarkannya janin. Jenis insisi ini sudah jarang dilakukan

karena sangat berisiko terjadinya komplikasi pasca operasi.


24

b. Sectio Caesarea Dengan Insisi Mendatar Di Atas Regio

Vesica Urinaria

Metode insisi ini sangat umum dilakukan karena risiko

perdarahan di area sayatan yang bisa diminimalisir dan proses

penyembuhan luka operasi relatif jauh lebih cepat.

c. Histerektomi Caesarea

Metode bedah caesarea sekaligus dengan pengangkatan

uterus dikarenakan terjadinya komplikasi perdarahan yang sulit

dihentikan atau ketika plasenta tidak dapat dipisahkan dari

dinding uterus.

d. Sectio Caesarea Ismika Ekstaperitoneal

Metode dengan insisi pada dinding dan fasia abdomen

dimana musculus rectus abdominalis dipisahkan secara tumpul.

Kandung kemih diretraksi ke bawah untuk memaparkan SBR

(segmen bawah rahim). Metode ini dilakukan untuk

mengurangi risiko infeksi puerperalis.

e. Sectio Caesarea Berulang

Metode bedah caesar yang dilakukan pada pasien

dengan riwayat operasi sectio caesarea sebelumnya.

4. Indikasi dan kontra indikasi sectio caesarea

Keadaan ini di mana proses persalinan tidak dapat dilakukan

melalui jalan lahir merupakan indikasi mutlak untuk dilakukan

operasi sectio caesarea yang antara lain disebabkan karena karena


25

terjadinya disproporsi kepala-panggul, presentasi dahi-muka,

difungsi uterus, distosia serviks, plasenta previa, janin besar,

partus lama atau tidak ada kemajuan, fetal distress, pre-ekamsia,

malpresentasi janin dengan indikasi panggul sempit, gemelli

dengan kondisi interlock, dan ruptura uteri yang mengancam.

Kontra indikasi untuk dilakukan persalinan sectio caesarea antara

lain karena kondisi janin mati, syok, anemia berat, dan kelainan

kongenital berat (Sugito, 2023).

5. Komplikasi Sectio Caesarea

Komplikasi menurut (Sugito, 2023) yaitu :

a. Infeksi puerperial : kenaikann suhu selama beberapa hari

dalam masa nifas

b. Perdarahan : perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat

pembedahan cabang-cabang arteri uterine ikut terbuka atau

karena atonia uteri.

c. Komplikasi-komplikasi lainnya antara lain luka kandung

kencing, embolisme paru yang sangat jarang terjadi.

d. Kurang kuatnya perut pada dinding uterus, sehingga pada

kehamilan berikutnya bisa terjadi rupture uteri.

C. Konsep Menyusui Tidak Efektif

1. Pengertian

Menyusui tidak efektif merupakan kondisi dimana ibu dan bayi

mengalami ketidakpuasan atau kesukaran pada proses menyusui


26

(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016). Menurut Fauzi, dkk (2019)

dalam (Haryani, 2023) kondisi menyusui tidak efektif ini membuat

pemberian ASI menjadi rendah sehingga dapat menjadi ancaman

bagi bayi khususnya bagi kelangsungan hidup pada saat

pertumbuhan dan perkembangan bayi. Menyusui tidak efektif juga

menyebabkan ketiakadekuatan suplai ASI yang akan menimbulkan

bayi kekurangan nutrisi sehingga bisa menyebabkan penurunan

daya tahan tubuh dan bayi sangat rentan terkena penyakit.

2. Etiologi

Etiologi menyusui tidak efektif menurut (Tim Pokja SDKI

DPP PPNI, 2016) adalah :

a. Ketidakadekuatan suplai ASI

b. Hambatan pada neonatus (misalnya, prematuritas, sumbing)

c. Anomali payudara ibu (misalnya, putting masuk ke dalam)

d. Ketidakadekuatan refleks oksitosin

e. Ketidakadekuatan refleks menghisap bayi

f. Payudara bengkak

g. Riwayat operasi payudara

h. Kelahiran kembar

3. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis menurut (Tim Pokja SDKI DPP PPNI,

2016) adalah :
27

a. Tanda Gejala Mayor :

1) Bayi tidak mampu melekat pada payudara ibu

2) ASI tidak menetes/ memancar

3) BAK bayi kurang dari 8 kali dalam 24 jam

4) Nyeri dan/ atau lecet terus menerus setelah minggu kedua

b. Tanda Gejala Minor :

1) Intake bayi tidak adekuat

2) Bayi menghisap tidak terus menerus

3) Bayi menangis saat disusui

4. Fisiologis

Menurut Depkes RI, 2007 dalam (Sulaeman, 2019) fisiologis

menyusui tidak yaitu :

a. Refleks Prolaktin

Setelah partus berhubung lepasnya plasenta dan kurang

berfungsinya corpus luteum maka estrogen dan progesteron

sangat berkurang, ditambah dengan adanya isapan bayi yang

merangsang puting susu dan kalang payudara, akan

merangsang ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai

reseptor mekanik. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang

berfungsi untuk memproduksi ASI. Kadar prolaktin pada ibu

yang menyusui akan menjadi normal setelah 3 bulan

melahirkan sampai penyapihan anak, pada saat tidak ada

peningkatan prolaktin walaupun ada isapan bayi, namun


28

pengeluaran ASI tetap berlangsung. Pada ibu yang melahirkan

tetapi tidak menyusui bayinya, kadar prolaktin akan normal

pada minggu ke 2-3. Pada ibu yang menyusui, prolaktin akan

meningkat dalam keadaan seperti :

1) Stress atau pengaruh psikis

2) Anastesi

3) Operasi

4) Rangsang puting susu

5) Hubungan kelamin

Sedangkan keadaan-keadaan yang menghambat pengeluaran

prolaktin yaitu :

1) Gizi yang jelek

2) Obat-obatan seperti ergot, i-dopa

b. Refleks Let Down

Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh

adenohipofise, rangsangan yang berasal dari isapan bayi ada

yang dilanjurkan ke neurohipofise yang kemudian dikeluarkan

oksitosin.

Faktor-faktor yang meningkatkan refleks let down yaitu :

1) Melihat bayi

2) Mendengarkan suara bayi

3) Mencium bayi

4) Memikirkan untuk menyusui bayi


29

Faktor-faktor yang menghambat refleks let down yaitu :

1) Keadaan bingung/ pikiran kacau

2) Takut

3) Cemas

5. Pentalaksanaan

Penatalaksanaan dari menyusui tidak efektif menurut Rustam

(2009) dalam (Zubaidah, 2021) yaitu :

a. Cara mengatasi bila puting susu tenggelam

Lakukan gerakan menggunakan kedua ibu jari dengan

menekan kedua sisi putting dan setelah putting tampak

menonjol keluar lakukan tarikan pada puting menggunakan ibu

jari dan telunjuk lalu lanjutkan dengan gerakan memutar

putting ke satu arah. Ulangi sampai beberapa kali dan lakukan

secara rutin.

b. Jika ASI belum keluar

Ibu harus tetap menyusui walaupun ASI belum keluar.

Mulailah segera menyusui sejak bayi lahir, yakni dengan

inisiasi menyusui dini, dengan teratur menyusui bayi maka

hisapan bayi pada saat menyusu ke ibu akan merangsang

produksi hormon oksitosin dan prolaktin yang akan membantu

kelancaran keluarnya ASI.

c. Penanganan pada payudara yang terasa keras sekali, nyeri dan

menetes pelan dan badan terasa demam


30

Pada hari ke empat masa nifas kadang payudara terasa

penuh dan keras, juga sedikit nyeri. Tetapi merupakan pertanda

baik, karena kelenjar susu ibu mulai berproduksi. Dengan

adanya reaksi alamiah tubuh seorang ibu dalam masa

menyusui untuk meningkatkan produksi ASI, makan tubuh

memerlukan cairan lebih banyak. Pentingnya minum air putih

8 gelas sehari.

6. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) (Tim Pokja SLKI

DPP PPNI, 2018).

Status Menyusui (L.03029)

Definisi : Kemampuan memberikan ASI secara langsung dari

payudara kepada bayi dan anak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.

Ekspektasi : Membaik

Kriteria Hasil :

a. Pelekatan bayi pada payudara ibu

b. Kemampuan ibu memposisikan bayi dengan benar

c. Miksi bayi lebih dari 8 kali/ 24 jam

d. Berat badan bayi

e. Tetesan/ pancaran ASI

f. Suplai ASI adekuat

g. Puting tidak lecet setelah 2 minggu melahirkan

h. Kepercayaan diri ibu

i. Bayi tidur setelah menyusu


31

j. Payudara ibu kosong setelah menyusui

k. Intake bayi

l. Hisapan bayi

m. Lecet pada puting

n. Kelelahan mental

o. Kecemasan mental

p. Bayi rewel

q. Bayi nangis setelah menyusu

7. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) (Tim Pokja SIKI

DPP PPNI, 2018).

Eduksi Menyusui (L.12393)

Definisi : Memberikan informasi dan saran tentang menyusui yang

dimulai dari antepartum, intrapartum dan post partum.

Tindakan :

Observasi

a. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi

b. Identifikasi tujuan atau keinginan menyusui

Terapeutik

a. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan

b. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan

c. Berikan kesempatan untuk bertanya

d. Dukung ibu meningkatkan kepercayaan diri dalam menyusui


32

e. Libatkan sistem pendukung : suami, keluarga, tenaga kesehatan

dan masyarakat

Edukasi

a. Berikan konseling menyusui

b. Jelaskan manfaat menyusui bagi ibu dan bayi

c. Ajarkan empat posisi menyusui dan perlekatan (lacth on)

dengan benar

d. Ajarkan perawatan payudara post partum (misal. Memerah

ASI, pijat payudara, pijat oksitosin)

D. Konsep Teknik Breast Care

1. Pengertian Breast Care

Breast care atau perawatan payudara post partum adalah

perawatan payudara pada ibu setelah melahirkan sedini atau

secepat mungkin. Perawatan payudara yang dilakukan secara sadar

dan teratur untuk memelihara kesehatan payudara. Perawatan

payudara ini dilakukan pada saat masa nifas untuk memproduksi

ASI, untuk kebersihan payudara, bentuk puting susu yang masuk

ke dalam, menghindari kesulitan pada saat menyusui dengan

melakukan pemijatan, selain itu juga menjaga kebersihan payudara

agar tidak mudah infeksi (Wahyuni, 2022).

Perawatan payudara bisa dilakukan oleh ibu post partum

maupaun dibantu oleh orang lain biasanya dilakukan mulai dari

hari ke-1 atau hari ke-2 pasca melahirkan. Perawatan payudara


33

bertujuan untuk melancarkan sirkulasi dan mencegah tersumbatnya

aliran ASI sehingga memperlancar pengeluaran ASI serta

menghindari terjadinya pembengkakan dan kesulitan menyusui

(Wahyuni, 2022).

2. Manfaat Breast Care

Manfaat breast care adalah untuk memperlancar sirkulasi

darah serta mencegah sumbatan pada saluran susu, sehingga

memperlancar pengeluara ASI. Produksi ASI dan pengeluaran ASI

dipengaruhi oleh dua hormon yaitu, prolaktin dan oksitosin.

Prolaktin mempengaruhi jumlah produksi ASI, sedangkan oksitosin

mempengaruhi proses pengeluaran ASI (Wahyuni, 2022).

3. Tujuan Breast Care

Menurut (Wahyuni, 2022), perawatan payudara pada ibu post

partum merupaan kelanjutan perawatan payudara semasa hamil

dengan tujuan antara lain :

a. Untuk menjaga kebersihan payudara sehingga terhindar dari

infeksi

b. Untuk mengenyalkan puting susu, supaya tidak mudah lecet

c. Untuk menonjolkan puting susu

d. Menjaga bentuk buah dada tetap bagus

e. Untuk mencegah terjadinya penyumbatan

f. Untuk memperbanyak memproduksi ASI

g. Untuk mengetahui adanya kelainan


34

4. Prosedur Tindakan Teknik Breast Care

Menurut (Nurfitriani, 2023) tindakan teknik breast care yang

benar yaitu :

a. Ambil kapas secukupnya dan beri minyak/ baby oil kemudian

tempelkan di kedua putting susu ibu. Biarkan selama 3-5

menit agar epitel yang lepas kemudian kapas diangkat sambil

membersihkan putting dan ditarik-tarik. Ulangi sampai bersih

kanan dan kiri.

b. Lakukan pengurutan pertama. Tuang minyak/ baby oil pada

kedua telapak tangan. Letakan kedua telapak tangan diantara

kedua payudara. Urutlah dari tangan ke atas sambil

mengangkat kedua payudara dan lepaskan keduanya perlahan.

Ulangi gerakan memutar ini dari bawah keatas. Lakukan

gerakan ini 20-30 kali.

Gambar 2.1 Prosedur Tindakan Teknik Breast Care


35

c. Sangga payudara dengan satu tangan dan tangan lainnya

mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah pangkal

payudara kearah puting susu. Ulangi gerakan ini ke semua sisi

payudara dan lakukan sebanyak 20-30 kali. Lakukan juga pada

payudara yang lainnya.

d. Sangga payudara kembali dengan satu tangan dan tangan

lainnya mengetuk payudara secara memutar kearah puting.

Lakukan juga pada payudara yang lainnya.

e. Lakukan pengompresan pada kedua payudara dengan air hangat

dan air dingin secara bergantian menggunakan 2 buah waslap

untuk merangsang payudara. Lakukan secara selang seling

mulai dari hangat kemudian dingin, hangat kemudian dingin

dan diakhiri kompres hangat 5 kali.

E. Hubungan Atau Mekanisme Teknik Breast Care Dengan Status

Menyusui

Teknik breast care bertujuan untuk memperlancar sirkulasi darah

dan juga mencegah tersumbatnya saluran susu sehingga dapat

memperlancar pengeluaran. Perawatan payudara (breast care) selama

masa menyusui sangat bermanfaat dalam mencegah dan mengelola

kemungkinan risiko pada masalah payudara. Dengan dilakukannya

perawatan payudara yang baik, kegiatan menyusui menjadi sangat

menyenangkan bagi ibu maupun si buah hati (Fatrin, 2022). Pemijatan

di daerah tulang belakang membuat saraf neurotransmiter merangsang


36

medulla oblongata dalam mengirim rangsangan ke hipotalamus melalui

hipofise posterior untuk mengeluarkan oksigen sehingga mengebabkan

payudara mengeluarkan air susu, selain itu pemijatan di daerah tulang

belakang juga merelaksasikan ketegangan dan menghilangkan stress

dengan begitu hormon oksitosin keluar membuat ASI ibu keluar dari

payudara dengan dibantu oleh isapan bayi pada puting susu ibu stelah

bayi dilahirkan dalam keadaan normal (Marsilia, 2019).

F. Potensi Kasus Mengalami Ketidakefektifan Menyusui

Menurut (Nurfitriani, 2023) Jika teknik breast care keliru terdapat

beberapa sebab yaitu :

1. Bendungan ASI

Terjadinya pembengkakan payudara karena terjadinya

peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan

bendungan ASI dan rasa nyeri dan kadang-kadang disertai

kenaikan suhu tubuh. Bendungan ASI ini biasanya terlihat 24

sampai 48 jam setelah persalinan yang biasa disebut caked breast.

Pembengkakan payudara terjadi karena hambatan aliran darah vena

atau saluran kelenjar getah bening akibat ASI terkumpul dalam

payudara.

Cara mengatasi : melakukan pemijatan breast care pada

payudara menggunakan minyak kelapa dari arah pangkal payudara

menuju puting. Kemudian kompres payudara menggunakan


37

washlap yang telah direndam dalam air hangat dan air dingin

secara bergantian.

2. Puting susu lecet

Penyebab : Kesalahan teknik melepaskan puting dari mulut

bayi

Cara mengatasi : Melepaskan puting dengan cara memasukan

jari kelingking ibu ke mulut bayi atau menekan dagu bayi ke

bawah.

3. Abses payudara/ Mestitis

Mastitis adalah peradangan pada payudara dengan gejala

payudara menjadi merah, bengkak, diikuti rasa nyeri dan panas,

suhu tubuh meningkat dan dapat terjadi pada masa nifas 1-3

minggu setelah persalinan.

Cara mengatasi : kompres hangat dan pemijatan. Rangsang

oxytocin dimulai dari payudara yang tidak sakit dulu, simulasi

puting, pijat leher dan punggung, berikan antibiotic selama 7-10

hari, istirahatkan payudara dan berikan analgetik.


38

G. Kerangka Pemikiran/ Pathways

Post Partum

Perubahan Fisiologis Perubahan Psikologi

Perubahan Sistem Laktasi Taking In


Reproduksi

Uterus Ketidakadekuatan Taking Hold


suplasi ASI

Lokhea Oksitosin Meningkat Taking Go

Endometrium Putting Susu Lecet Defisit Pengetahuan

Serviks Breast Care

Vagina Menyusui Tidak


Efektif

Perineum

Nyeri Akut

Bagan 2. 1 Kerangka Pemikiran/ Pathways


39

Anda mungkin juga menyukai