BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara penghasil nanas terbesar di dunia, termasuk wilayah Riau
yang memiliki sentra produksi nanas seperti di Kabupaten Kampar. Dalam proses pengolahan
buah nanas, hanya bagian daging buah yang umumnya dimanfaatkan, sedangkan kulitnya yang
menyumbang sekitar 30–42% dari berat total buah dibuang begitu saja. Padahal, kulit nanas
mengandung senyawa bioaktif seperti bromelin, flavonoid, tanin, dan pektin yang dapat diolah
menjadi produk bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.
Menurut penelitian oleh Cahyono (2020), kulit nanas berpotensi dijadikan bahan baku produk
seperti sabun herbal, eco-enzyme, cuka alami, dan pupuk cair organik. Selain itu, studi oleh
Amalia et al. (2021) menunjukkan bahwa pemanfaatan kulit nanas sebagai bahan dasar produk
rumah tangga eco-friendly mampu menurunkan pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan
pendapatan masyarakat. Hal ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular dan zero-waste yang
kini sedang digalakkan oleh pemerintah dan komunitas peduli lingkungan.
Penelitian lain oleh Dewi & Anggraeni (2022) menyatakan bahwa eco-enzyme dari kulit nanas
memiliki kandungan enzim aktif yang berfungsi sebagai pembersih serbaguna alami yang efektif
dan aman bagi lingkungan. Eco-enzyme adalah cairan hasil fermentasi limbah organik dengan
gula dan air, yang dikenal mampu menggantikan bahan kimia berbahaya dalam produk
pembersih rumah tangga. Proses produksinya sederhana, murah, dan bisa dilakukan oleh siapa
saja, sehingga sangat cocok untuk dikembangkan sebagai produk kewirausahaan mahasiswa.
Berikut adalah data produksi nanas dan estimasi limbah kulit nanas dari beberapa wilayah di
Kabupaten Kampar:
Produksi Nanas Estimasi Limbah Kulit Nanas (30%)
Lokasi
(ton/tahun) (ton/tahun)
Kecamatan
13.416,5 4.024,8
Tambang
Desa Rimbo
9.000 2.700
Panjang
Total 22.416,5 6.724,8
Sumber: Jurnal Pengabdian UMRI (2022)
Fakta ini menunjukkan bahwa Kabupaten Kampar memiliki potensi besar untuk dikembangkan
menjadi kawasan pengolahan limbah buah menjadi produk ramah lingkungan bernilai ekonomi.
Oleh karena itu, mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dan ekonomi dapat mengambil peran
strategis dengan mengembangkan produk kreatif dan inovatif berbasis limbah lokal. Program
Kreativitas Mahasiswa ini mengusung usaha "RUPIAH" (Rumah Produksi Inovasi Anak Hebat),
yaitu unit produksi mahasiswa berbasis eco-friendly yang secara khusus berfokus pada
pembuatan eco-enzyme dari kulit nanas.
Melalui pendekatan ini, tim berharap tidak hanya menciptakan produk yang bernilai ekonomi
dan ramah lingkungan, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar serta membangun
kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah. Kegiatan ini menjadi bentuk konkret kontribusi
mahasiswa dalam menjawab tantangan lingkungan sekaligus mendorong kewirausahaan berbasis
potensi lokal.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana potensi pemanfaatan limbah kulit nanas menjadi produk eco-enzyme bernilai
ekonomi? b. Bagaimana strategi produksi dan pemasaran produk eco-enzyme dari kulit nanas
oleh mahasiswa?
1.3 Tujuan
a. Menganalisis potensi ekonomi dari pemanfaatan limbah kulit nanas menjadi produk eco-
enzyme. b. Merancang strategi produksi dan pemasaran produk eco-enzyme berbasis zero-waste
untuk meningkatkan nilai ekonomi dan sosial masyarakat.
1.4 Manfaat
a. Manfaat Teoritis Menambah referensi dan wawasan ilmiah dalam bidang kewirausahaan
berbasis lingkungan dan inovasi produk lokal.
b. Manfaat Praktis
1. Mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam membangun usaha sosial berbasis
lingkungan.
2. Masyarakat memperoleh pengetahuan dan manfaat ekonomi dari pengolahan limbah
nanas.
3. Menumbuhkan budaya kewirausahaan berkelanjutan di kalangan pemuda daerah.
1.5 Luaran Kegiatan
a. Laporan pelaksanaan kegiatan PKM-K b. Produk eco-enzyme dari kulit nanas dengan varian
aroma c. Artikel ilmiah populer untuk publikasi d. Dokumentasi video kegiatan e. Draft usaha
rintisan mahasiswa
Tambahan Inovasi: Produk eco-enzyme ini juga akan dikembangkan dalam beberapa varian
aroma alami seperti lavender, lemon, dan serai wangi dengan menambahkan kulit buah atau
essential oil saat fermentasi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan daya tarik konsumen dan
membedakan produk dari kompetitor.
BAB II
GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
2.1 Kondisi Umum Lingkungan Kabupaten Kampar merupakan daerah dengan sektor pertanian
dan perkebunan yang cukup maju, terutama dalam produksi nanas. Sayangnya, belum ada usaha
skala mikro yang mengolah limbah kulit nanas secara sistematis. Ini membuka peluang bagi
mahasiswa untuk membangun unit usaha berbasis pemberdayaan lokal yang mendukung
program pemerintah tentang pengelolaan limbah dan wirausaha hijau.
2.2 Gambaran Umum Produk Produk utama dari program "RUPIAH" adalah eco-enzyme dari
kulit nanas, yaitu cairan hasil fermentasi dari limbah kulit nanas, gula, dan air yang dapat
digunakan sebagai:
Pembersih rumah tangga alami (lantai, kaca, dapur)
Pupuk cair organik untuk tanaman
Penghilang bau pada tempat sampah atau toilet
Cairan antiseptik alami untuk lingkungan
Pembersih pestisida pada sayur dan buah
Inovasi produk ini juga mencakup penambahan varian aroma alami seperti lavender,
lemon, dan serai wangi, yang ditambahkan saat proses fermentasi untuk memberikan sensasi
penggunaan yang lebih menyenangkan dan meningkatkan minat pasar.
Produk dikemas dalam botol ramah lingkungan dengan label edukatif yang menjelaskan manfaat
dan cara penggunaannya.
2.3 Analisis SWOT
Aspek Analisis
- Bahan baku melimpah dan murah- Produk ramah lingkungan dan aman
Strengths
digunakan- Proses produksi sederhana dan efisien- Potensi varian aroma
(Kekuatan)
sebagai pembeda pasar
Weaknesses - Waktu fermentasi cukup lama- Minimnya kesadaran masyarakat terhadap
(Kelemahan) produk alami- Pengemasan perlu menarik agar bersaing di pasar
Opportunities - Meningkatnya kesadaran lingkungan- Tren produk natural & eco-friendly-
(Peluang) Dukungan kebijakan pemerintah terhadap UMKM dan zero-waste
Threats - Persaingan dengan produk pembersih kimia- Perubahan harga bahan
(Ancaman) pendukung seperti gula & botol- Ketidakpastian penerimaan pasar baru
2.4 Analisis Ekonomi Usaha
Analisis ekonomi ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan usaha produksi eco-enzyme dari
limbah kulit nanas secara finansial:
a. Biaya Produksi Biaya Produksi = Biaya Tetap + Biaya Variabel + Biaya Lain-lain
= Rp 3.000.000 + Rp 2.000.000 + Rp 2.000.000
= Rp 7.000.000
b. BEP Harga BEP Harga = Biaya Produksi / Total Produksi
= Rp 7.000.000 / 200 botol
= Rp 35.000/botol
c. Harga Jual yang Ditetapkan Harga jual per botol (250 ml) = Rp 40.000
d. Pendapatan Pendapatan = Harga jual × Jumlah produk
= Rp 40.000 × 200 botol
= Rp 8.000.000
e. Keuntungan Keuntungan = Pendapatan – Biaya produksi
= Rp 8.000.000 – Rp 7.000.000
= Rp 1.000.000
f. BEP Produksi BEP Produksi = Biaya produksi / Harga jual
= Rp 7.000.000 / Rp 40.000
= 175 botol
g. BEP Tingkat Pengembalian BEP Tingkat Pengembalian = Biaya Produksi / Keuntungan
= Rp 7.000.000 / Rp 1.000.000
= 7 bulan
h. Cashflow 2 Tahun ke Depan
No Uraian Nilai
1 Modal Awal Rp 7.000.000
2 Target Laba/Botol Rp 5.000
3 Harga Jual Rp 40.000
4 Penjualan Rata-rata/Hari 7 botol
5 Pendapatan/Bulan Rp 8.400.000
6 Total Biaya/Bulan Rp 7.000.000
7 Laba/Bulan Rp 1.400.000
8 Laba/Tahun Rp 16.800.000
9 Laba dalam 2 Tahun Rp 33.600.000
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Tahap Persiapan
Survei lokasi dan mitra penyedia kulit nanas
Pengadaan alat fermentasi dan bahan tambahan
Pelatihan tim pengolah produk
3.2 Tahap Produksi dan Cara Pembuatan Eco-Enzyme Berikut adalah langkah-langkah
pembuatan eco-enzyme dari limbah kulit nanas:
1. Persiapan bahan: Siapkan kulit nanas yang telah dicuci bersih, gula merah atau molase,
dan air bersih.
2. Penyesuaian rasio: Gunakan perbandingan 3:1:10, yaitu 3 bagian kulit nanas, 1 bagian
gula merah, dan 10 bagian air.
3. Pencampuran: Masukkan semua bahan ke dalam wadah plastik bertutup (sebaiknya
tidak kedap udara). Aduk rata hingga semua bahan tercampur.
4. Fermentasi: Simpan wadah di tempat teduh selama 30–90 hari. Setiap minggu, buka
tutup wadah sebentar untuk melepaskan gas hasil fermentasi, lalu tutup kembali.
5. Penyaringan: Setelah fermentasi selesai, saring larutan menggunakan kain bersih atau
saringan halus.
6. Pengemasan: Masukkan cairan hasil fermentasi ke dalam botol berlabel ramah
lingkungan.
7. Penyimpanan: Simpan produk pada suhu ruang dan hindari sinar matahari langsung.
Penambahan Varian Aroma: Pada hari ke-15 hingga ke-30 fermentasi, tambahkan bahan-
bahan alami seperti kulit jeruk, lavender kering, daun pandan, atau serai wangi untuk
memberikan aroma khas. Ini juga membantu menetralkan bau fermentasi tajam dan memperkaya
karakteristik produk.
3.3 Tahap Promosi dan Pemasaran
Media sosial (Instagram, TikTok, WhatsApp Business)
Booth di kampus dan acara komunitas
Kemitraan dengan warung, toko organik, koperasi, dan sekolah-sekolah
BAB IV
RENCANA ANGGARAN DAN JADWAL KEGIATAN
4.1 Rencana Anggaran Kegiatan
Sumber Jumlah Dana
No Jenis Pengeluaran
Dana (Rp)
Bahan habis pakai (kulit nanas, gula merah/molase,
1 Belmawa Rp2.200.000
aroma tambahan, kemasan, dll)
2 Sewa dan jasa (alat fermentasi & kemasan) Belmawa Rp500.000
Transportasi lokal (pengambilan bahan dan distribusi
3 Belmawa Rp500.000
produk)
Lain-lain (komunikasi, promosi online, listrik,
4 Belmawa Rp300.000
publikasi)
TOTAL Rp3.500.000
Rekapitulasi Sumber Dana:
Belmawa: Rp3.500.000
Perguruan Tinggi: Rp0
Instansi Lain: Rp0
4.2 Jadwal Kegiatan
No Jenis Kegiatan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Penanggung Jawab
1 Persiapan program ✔️ Ketua Tim
2 Pengadaan alat dan bahan ✔️ ✔️ Anggota 1
3 Produksi eco-enzyme ✔️ ✔️ Anggota 2
4 Promosi produk ✔️ ✔️ Ketua & Anggota 1
5 Pemasaran ✔️ ✔️ Ketua Tim
6 Penyusunan laporan kemajuan ✔️ Ketua Tim
7 Publikasi karya ilmiah ✔️ Anggota 2
8 Penyusunan laporan akhir ✔️ Anggota 1