0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan19 halaman

Prinsip Pembelajaran Efektif Siswa

Dokumen ini membahas tentang proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, termasuk metode, teknik, dan bahan ajar. Hasil belajar diukur melalui berbagai indikator dan dapat dibedakan menjadi ranah afektif, kognitif, dan psikomotor. Aktivitas belajar siswa sangat penting untuk mencapai hasil yang baik, dan pemilihan serta penyajian bahan ajar harus sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan.

Diunggah oleh

estiranita897
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan19 halaman

Prinsip Pembelajaran Efektif Siswa

Dokumen ini membahas tentang proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, termasuk metode, teknik, dan bahan ajar. Hasil belajar diukur melalui berbagai indikator dan dapat dibedakan menjadi ranah afektif, kognitif, dan psikomotor. Aktivitas belajar siswa sangat penting untuk mencapai hasil yang baik, dan pemilihan serta penyajian bahan ajar harus sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan.

Diunggah oleh

estiranita897
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

9

BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN

2.1 Kajian Teori

Proses belajar mengajar pada hakekatnya adalah perubahan pada tingkah

laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah menerima atau menempuh

pengalaman belajar. Dengan penggunaan metode, teknik, dan model pembelajaran

yang sesuai dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar. Modifikasi

merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh para guru agar proses

pembelajaran dapat berjalan lancar. Dalam proses pembelajaran materi ajar yang

disampaikan ke peserta didik harus memperhatikan perubahan kemampuan atau

kondisi peserta didik.

2.1.1 Hasil Belajar

Hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena belajar

merupakan suatu proses, sedangkan hasil belajar adalah hasil dari proses

pembelajaran tersebut. Bagi siswa belajar merupakan suatu kewajiban. Berhasil

atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana

proses yang dialami siswa sebagai peserta didik. Maka kegiatan belajar sering

dikatakan sebagai suatu proses psikologi yang terjadi didalam diri seseorang.

Menurut Abdurrahman (2003:3) Hasil belajar adalah kemampuan anak yang

diperoleh setelah melalui kegiatan belajar. Berhasil atau tidaknya proses


10

pembelajaran yang dilakukan dapat dilihat pada akhir proses pembelajaran yang

dilakukan dengan tes.

Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat

adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk

penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai

aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku

secara kuantitatif ([Link] diakses tanggal 04 juni 2011).

Menurut Sardiman (2007:38) belajar adalah kegiatan yang aktif. Subjek belajar

juga mencari sendiri makna dari suatu yang mereka pelajari. Subjek belajar harus

aktif, tanpa aktivitas maka proses belajar tidak akan terjadi.

Lebih lanjut Mujiono (2006:04) mengatakan bahwa hasil belajar dapat

dibedakan menjadi dampak pengiring dan dampak pengajaran. Dampak pengiring

adalah terapan pengetahuan dan kemampuan dibidang lain yang merupakan suatu

transfer belajar. Dampak pengajaran adalah hasil yang diukur, seperti tertuang

dalam angka raport, angka dalam ijazah, atau kemampuan meloncat setelah

latihan, yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap

berhasil adalah.

- Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi

tinggi, baik secara individual maupun kelompok.

- Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/intruksional khusus

(TIK) telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.
11

Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar.

Keberhasilan proses mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf.

Sedangkan menurut Kustini (2005:12) penilaian hasil belajar merupakan proses

pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa.

Menurut Djamarah dan Zain (2006:107) tingkatan keberhasilan adalah

sebagai berikut.

1. Istimewa/maksimal, apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan


itu dapat dikuasai oleh siswa.
2. Baik sekali/optimal, apabila sebagian besar (76%-99%) bahan
pelajaran yaang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
3. Baik/minimal, apabila bahan yang diajarkan hanya (60%-70%) saja
dikuasai oleh siswa.
4. Kurang, apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60%
dikuasai oleh siswa.

Reigeluth dalam Yusuf (2006:26) mengatakan bahwa hasil pembelajaran secara

umum dapat dibagi menjadi tiga indikator yaitu.

1. Efektifitas pembelajaran, yang biasanya diukur dari tingkat


keberhasilan (prestasi) siswa dari berbagai sudut;
2. Efesiensi pembelajaran, yang biasanya diukur dari waktu belajar dan
biaya pembelajaran;
3. Daya tarik pembelajaran, yang selalu diukur dari tendensi siswa ingin
belajar secara terus menerus.

Yusuf (2006:27) mengemukakan bahwa tingkat keberhasilan siswa dalam

mempelajari materi pelajaran matematika di Sekolah dapat diukur dalam bentuk

skor yang diperoleh dari hasil tes, yang nantinya dapat digunakan untuk menilai

hasil proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa

hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa melalui kegiatan belajar

mengajar. Hasil belajar tersebut dapat ditulis dengan menggunakan simbol-simbol

atau angka yang telah diperoleh melalui hasil tes yang diberikan setiap akhir
12

siklus atau setelah pembelajaran serta mutu proses belajar mengajar yang telah

dilaksanakan, perlu dilakukan suatu penilaian atau evaluasi terhadap hasil belajar

siswa.

Dalam proses belajar mengajar terdapat jenis perilaku hasil belajar yang

memiliki sasaran berupa ranah-ranah, yaitu afektif (nilai atau sikap), kognitif

(proses berfikir), psikomotor (keterampilan). Menurut Krathwohl dan Bloom, dkk

dalam Mujiono (2006:27) bahwa ranah afektif terdiri dari lima jenis perilaku,

meliputi penerimaan, partisipasi, penilaian dan penentuan sikap, organisasi, dan

pembentukan pola hidup. Menurut Bloom, dkk dalam Mujiono (2006:26) bahwa

ranah kognitif terdiri dari enam jenis perilaku meliputi pengetahuan, pemahaman,

penerapan, analisis, dan evaluasi. Selanjutnya menurut Simpson dalam Mujiono

(2006:29) ranah psikomotor terdiri dari jenis perilaku, meliputi persepsi, kesiapan,

gerakan terbimbing, gerakan yang terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola

gerakan, dan kreativitas.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dapat

dibedakan menjadi tiga ranah yaitu ranah afektif, kognitif, dan psikomotor. Jika

hasil belajar yang diperoleh siswa berada di atas SKM maka keberhasilan dalam

mengajar sudah dianggap baik.

2.1.2 Aktivitas Belajar

Melakukan kegiatan belajar diperlukan aktivitas. Seperti yang di

kemukakan oleh Hamalik (2003:154) belajar adalah sebagai perubahan tingkah

laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. Menurut Gagne dalam

Mujiono (2006:10) merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar merupakan


13

kapabilitas atau kemampuan. Dari pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa,

belajar merupakan suatu proses membangun makna atau pemahaman terhadap

informasi atau pengalaman yang melibatkan interaksi antara subjek dengan

lingkungannya.

Sebagai suatu proses dalam belajar dituntut adanya aktivitas yang di

lakukan oleh siswa sebagai usaha untuk meningkatkan hasil belajarnya. Seorang

siswa tidak akan mendapatkan hasil belajar yang lebih baik bila tidak melakukan

aktivitas belajar. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar aktivitas

merupakan prinsip dan azas yang sangat penting. Menurut Sadirman (2010:95)

tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas karena aktivitas merupakan prinsip dan

azas yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar. Aktivitas sangat

diperlukan dalam proses belajar agar proses belajar mengajar menjadi efektif.

Menurut Paul B. Diedrich dalam Sadirman (2010:101) aktivitas dalam belajar di

bagi menjadi 8 bagian yaitu.

1. Visual activities, seperti membaca, mengamati, demonstrasi, melihat


gambar-gambar dan bermain;
2. Oral activites, seperti mengajukan pertanyaan, wawancara, diskusi,
dan memberi saran;
3. Llistening activitie, seperti diskusi kelompok, mendengarkan
penyajian bahan, dan mendengarkan radio;
4. Writing activities, seperti menulis cerita, menulis laporan, membuat
rangkuman;
5. Drawing activities, seperti gambar, membuat grafik, diagram;
6. Motoric activites, seperti melakukan percobaan, memilih alat-alat,
membuat model, dan menyelenggarakan permainan;
7. Mental activites, seperti merenung, mengingat, memecahkan masalah,
meng-analisis;
8. Emitional activities, seperti minat, membedakan, berani, tenang.

Siswa dapat melakukan berbagai aktivitas didalam kegiatan belajar

mengajar aktivitas dalam proses belajar mengajar merupakan rangkaian kegiatan

yang meliputi keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran, bertanya hal yang
14

belum dimengerti, mencatat, mendengarkan, berfikir, membaca, dan segala

kegiatan yang dilakukan sehingga dapat menunjang hasil belajar. Aktivitas belajar

dapat menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,

keterampilan, nilai-nilai sikap yang bersifat konstan dan menetap. aktivitas dapat

berupa aktivitas mental dan emosional siswa.

Dari uraian di atas indikator aktivitas yang hendak diukur dalam penelitian ini

yaitu:

1. keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dengan memodifikasi bahan


ajar;
2. pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran dengan memodifikasi bahan
ajar;
3. aktivitas emosional siswa;
4. mengerjakan LKS;
5. mempresentasikan jawaban di depan kelas.

2.1.3 Bahan Ajar

Keberhasilan pembelajaran dipengaruhi banyak faktor, antara lain model

pembelajaran, strategi pembelajaran, media pembelajaran dan juga bahan ajar atau

materi pelajaran. Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials)

adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam

rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci

jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip,

prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai. ([Link]

diakses tanggal 17 mei 2011). Sedangkan menurut Abdul Majid (2007:174)

Bahan ajar adalah segala bentuk bahan, informasi, alat, dan teks yang digunakan

untuk membantu guru atau instructor dalam melaksanakan kegiatan belajar


15

mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak

tertulis. Dalam proses pembelajaran agar pembelajaran berjalan lancar harus

memperhatikan bahan atau materi yang akan disampaikan ke peserta didik, media

serta sarana ajar ([Link] diakses tanggal 20 juni 2011).

Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi.

1. Prinsip relevansi, artinya materi pembelajaran hendaknya relevan memiliki

keterkaitan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar.

2. Prinsip konsistensi, artinya adanya keajegan antara bahan ajar dengan

kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Misalnya, kompetensi dasar

yang harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus

diajarkan juga harus meliputi empat macam.

3. Prinsip kecukupan, artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup

memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang

diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu

banyak.

Materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru dan harus

dipelajari siswa hendaknya berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar

menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Menurut

Ahmadi dkk (2011:194) materi pembelajaran yang diambil dari disiplin ilmu

dimodifikasi sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk

mendukung penguasaan suatu kompetensi kemudian materi pembelajaran atau

kompetensi yang lebih luas dirinci menjadi bagian-bagian atau sub-sub

kompetensi yang lebih kecil dan objektif.


16

Langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi.

1. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan

kompetensi dasar, artinya sebelum menentukan materi pembelajaran

terlebih dahulu mengidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan

kompetensi dasar yang harus dipelajari atau dikuasai siswa.

2. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan

kompetensi dasar, artinya Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi

apakah termasuk jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau

gabungan lebih daripada satu jenis materi. Sebab, setiap jenis materi

pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan

sistem evaluasi/penilaian yang berbeda-beda.

3. Memilih sumber bahan ajar, artinya materi pembelajaran atau bahan ajar

dapat ditemukan dari berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah,

jurnal, koran, internet, media audiovisual, dan sebagainya. (Wawan-

[Link] diakses 17 Mei 2011)

Menurut Nana Syaodih Sukamadinata dalam Ahmadi, dkk (2011:197)

penyajian (sequencing) bahan ajar sangat penting dalam menentukan urutan

untuk mempelajari atau mengajarkan pada siswa. Tanpa urutan yang tepat, jika

diantara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat

prasyarat (prequisite) akan menyulitkan siswa dalam mempelajarinya. Misalnya

materi operasi bilangan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

Siswa akan mengalami kesulitan mempelajari perkalian jika materi penjumlahan

belum dipelajari dan akan mengalami kesulitan membagi jika materi pengurangan

belum dipelajari.
17

Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta

kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok yaitu: pendekatan

prosedural, dan hierarkis. Menurut Nana Syaodih Sukamadinata dalam Ahmadi,

dkk (2011:198) pendekatan prosedural yaitu urutan materi pembelajaran secara

prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan langkah-

langkah melaksanakan suatu tugas. Pendekatan hierarkis menggambarkan urutan

yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi

sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi

berikutnya.

Strategi penyampaian bahan ajar oleh guru antara lain:

1. strategi urutan penyampaian simultan yaitu jika guru harus


menyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka
menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi secara
keseluruhan disajikan secara serentak, baru kemudian diperdalam
satu demi satu (Metode global);
2. strategi urutan penyampaian suksesif, jika guru harus manyampaikan
materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi
urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan
secara mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi
berikutnya secara mendalam pula;
3. strategi penyampaian fakta, jika guru harus manyajikan materi
pembelajaran termasuk jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat,
peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dsb);
4. strategi penyampaian konsep, materi pembelajaran jenis konsep
adalah materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari
konsep adalah agar siswa paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur,
membedakan, membandingkan, menggeneralisasi, dan sebagainya.
Langkah-langkah mengajarkan konsep: Pertama sajikan konsep,
kedua berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan
bukan contoh), ketiga berikan latihan (exercise) misalnya berupa
tugas untuk mencari contoh lain, keempat berikan umpan balik, dan
kelima berikan tes;
5. strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip, termasuk materi
pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus, hukum (law),
postulat, teorema, dan sebagainya;
18

6. strategi penyampaian prosedur, tujuan mempelajari prosedur adalah


agar siswa dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut,
bukan sekedar paham atau hafal. Termasuk materi pembelajaran
jenis prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu tugas
secara urut.
([Link] diakses tanggal 08 Juli 2011).

Penerapan pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar dimaksudkan

bukan hanya untuk menarik minat siswa, menghindari kebosanan, tetapi juga

membantu siswa memperdalam pengertian dan pemahaman, menambah

keterampilan hitung serta keterampilan menyelesaikan masalah. Didalam proses

pembelajaran siswa ikut berperan atau berpartisipasi dalam proses penyimpulan.

Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika pada umumnya, yaitu

melatih siswa untuk berfikir secara sistematis, logis, kreatif dan konsisten.

Menurut Cockroft Report dalam Rumiati (2004:5) pembelajaran

matematika mencakup:

1. penjelasan oleh guru;


2. diskusi antara guru dan siswa, serta diskusi diantara siswa-siswa itu
sendiri;
3. suatu struktur dasar dan urutan materi ajar;
4. penguasaan praktik keterampilan dasar;
5. pemecahan masalah, termasuk penerapaan matematika ke dalam
masalah sehari-hari;
6. penyelidikan/investigasi.

Menurut Yulaelawati (2004:144) peran guru dalam pembelajaran

matematika adalah:

1. membelajarkan matematika dengan tujuan memberikan pemahaman


dan perspektif pemecahan masalah;
2. membangun interaksi antara peserta didik dengan guru dalam belajar;
3. membantu peserta didik mengungkapkan bagaimana proses yang
berjalan dalam pemikiranya ketika memecahkan masalah (soal);
4. menggunakan kesalahan yang dibuat peserta didik sebagai bahan
sumber informasi belajar dan pemahaman bagi peserta didik;
19

Tujuan Pengembangan bahan ajar:

1. menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan

mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang sesuai

dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik;

2. membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar

disamping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh;

3. memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Prinsip Pengembangan Bahan ajar.

1. Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang
kongkret untuk memahami yang abstrak.
2. Pengulangan akan memperkuat pemahaman.
3. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap
pemahaman peserta didik.
4. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu
keberhasilan belajar.
5. Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya
akan mencapai ketinggian tertentu.
6. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong peserta didik
untuk terus mencapai tujuan.
( [Link] diakses tanggal 08 Juli 2011).

Manfaat Pengembangan bahan ajar bagi guru.

1. Diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai


dengan kebutuhan belajar peserta didik.
2. Tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk
diperoleh.
3. Memperkaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai
referensi.
4. Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam
menulis bahan ajar.
5. Membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru
dengan peserta didik karena peserta didik akan merasa lebih percaya
kepada gurunya.
6. Menambah angka kredit jika dikumpulkan menjadi buku dan
diterbitkan.([Link] diakses tanggal 08 juli 2011)
20

Manfaat bagi Peserta Didik.

1. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.

2. Kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan

terhadap kehadiran guru.

3. Mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang

harus dikuasainya.

Dengan memperhatikan pendapat-pendapat diatas, dapat diartikan bahwa

dalam proses pembelajaran strategi penyampaian bahan ajar yang baik dapat

memudahkan siswa dalam memahami konsep dan menyelesaikan permasalahan-

permasalahan matematika.

2.1.4 Modifikasi Bahan Ajar

Metode pembelajaran adalah cara untuk mempermudah peserta didik

mencapai kompetensi tertentu. Hal ini berlaku bagi guru dalam memilih metode,

strategi, teknik, dan taktik dalam mengajar. Seperti yang dikemukakan oleh

Winarno Surahmad dalam Ahmadi (2011:101) bahwa makin baik metode,

strategi, teknik, dan taktik akan makin efektif pula pencapaian tujuan belajar.

Modifikasi adalah cara merubah bentuk sesuatu dari yang kurang menarik

menjadi lebih menarik tanpa menghilangkan fungsi aslinya, serta menampilkan

bentuk yang lebih bagus dari aslinya. Menurut Taba dalam Yulaelawati (2004:31)

Modifikasi Pengembangan kurikulum dipusatkan pada guru, guru berperan aktif

serta terlibat penuh dalam pengembangan utama kurikulum.


21

Dalam pengembangan kegiatan pembelajaran pengembangan berpusat

pada mata pelajaran. Pengembangan yang berpusat pada mata pelajaran biasanya

mencerminkan kegiatan pembelajaran yang didikte oleh karakteristik, prosedur,

dan konseptual mata pelajaran, serta keterkaitanya dengan disiplin ilmu.

Pendekatan yang inovatif dalam strategi pembelajaran sangatlah penting untuk

menyukseskan pembelajaran modern. Dalam pembelajaran modern ini yang lebih

dipentingkan adalah bagaimana mengaktifkan keterlibatan peserta didik dalam

proses pembelajaran secara mandiri.

Menurut Ahmadi, dkk (2011:06) metode pembelajaran dijabarkan ke

dalam teknik dan gaya pembelajaran, teknik pembelajaran diartikan sebagai cara

yang dilakukan seorang guru dalam mengimplementasikan suatu metode secara

spesifik. Sedangkan taktik merupakan gaya seorang guru dalam melaksanakan

metode atau teknik pembelajaran tertentu secara individual.

Modifikasi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh para

guru agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar. Dalam proses pembelajaran

materi ajar yang disampaikan kepeserta didik harus memperhatikan perubahan

kemampuan atau kondisi peserta didik ([Link] diakses tanggal 17

mei 2011). Modifikasi bahan ajar dilakukan untuk mengembangkan materi

pelajaran dengan cara meruntunkanya dalam bentuk aktivitas belajar yang

potensial sehingga dapat memperlancar siswa dalam belajarnya. Cara ini

dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan, dan membelajarkan siswa agar

dapat memahami apa yang telah dipelajari. Cara guru dalam memodifikasi bahan

ajar akan tercermin ketika guru melakukan aktivitas pembelajaran di kelas mulai
22

dari awal hingga akhir pembelajaran. ([Link] di akses tanggal 17 Mei

2011).

Menurut Suyanto (2007), modifikasi berarti modus, ukuran, cara atau

membuat dalam suatu organisasi yang bukan dari keturunan. Pengembangan

dimaksudkan sebagai kegiatan melakukan penyesuaian dari bahan ajar dasar yang

terumuskan dalam standar isi pada sekolah. Bahan ajar merupakan bagian integral

dalam kurikulum yang telah ditentukan standar isinya oleh pemerintah melalui

Permandiknas nomor 22 dan nomor 23 tahun 2006. Pada hakekatnya isi

kurikulum itu sendiri mengacu pada usaha pencapaian tujuan-tujuan intraksional

bidang studi. ([Link] diakses tanggal 17 mei 2011)

Berdasarkan uraian diatas, model pengembangan atau modifikasi bahan

ajar yang dimaksud adalah memberikan bahan ajar yang tepat dalam pendidikan

sesuai dengan kemampuan individu siswa. Terdapat Tiga kegiatan utama dalam

pengembangan atau modifikasi bahan ajar yaitu: menyeleksi bahan ajar,

mengorganisasi bahan ajar, dan mensintesa bahan ajar.

Kegiatan menyeleksi merupakan kegiatan memilih, menetapkan bahan ajar

yang tepat bagi peserta didik. Pemilihan dan penetapan bahan ajar dilakukan oleh

guru atas bahan ajar yang telah ada pada silabus sekolah. Apabila bahan ajar dari

sekolah tidak tersedia, maka guru wajib untuk mengusahakannya dengan langsung

merinci dari SK dan KD mata pelajaran yang terkait. Sedangkan kegiatan

mengordinasi bahan ajar dimaksudkan sebagai kegiatan guru menyusun dan

membuat urutan susunan bahan ajar dengan tata urutan tertentu. Tata urutan bahan

ajar ada yang berdasarkan kronologis, prosedural, logis, maupun herarchis.

Pertimbangan pengurutan dapat menggunakan dasar tuntunan SK dan KD atau


23

dapat pula menggunakan dasar karakter mata pelajar. Kegitan mensintesa bahan

ajar adalah kegiatan agar guru yang melaksanakan kegiatan pembelajaran

melakukan upaya agar bahan ajar yang telah tersusun dapat dipadukan dalam

keseluruhan proses pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran kelas.

Keuntungan pembelajaran matematika melalui modifikasi bahan ajar adalah.

1. Siswa terdorong dan berminat untuk mempelajari matematika.

2. Siswa terdorong untuk memusatkan perhatian pada penjelasan guru.

3. Jika siswa terlibat dan aktif pada kegiatan pembelajaran, dapat mengerjakan

sendiri serta dapat memecahkan masalah sendiri, mereka akan betul-betul

memahami dan mengerti apa yang sedang dipelajari.

4. Mengurangi ketegangan-ketegangan dalam pikiran siswa dalam belajar

matematika.

Adapun kelebihan dan kelemahan modifikasi bahan ajar matematika adalah

sebagai berikut.

1. Kelebihan modifikasi dalam pelajaran matematika.

a. Modifikasi adalah salah satu model pengembangan bahan ajar dengan

mengembangkan bahan ajar yang kurang menarik bagi siswa menjadi

lebih menarik dan diminati siswa.

b. Modifikasi bahan ajar atau materi ajar dapat digunakan pada metode

pembelajaran manapun.

c. Pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar dapat memperlancar proses

belajar mengajar.
24

d. Pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar dapat mengarahkan siswa dan

membelajarkan siswa yang tadinya kurang terampil menjadi terampil,

yang kurang mengerti menjadi lebih mengerti.

e. Menepis anggapan siswa selama ini bahwa belajar matematika itu

menjenuhkan.

2. Kelemahan modifikasi dalam pelajaran matematika.

a. Tidak semua materi atau bahan ajar dapat di modifikasi.

b. Guru harus dapat memilih bahan ajar atau materi ajar mana yang dapat

dimodifikasi.

c. Perlu memiliki resensi buku atau sumber materi ajar atau bahan ajar yang

lebih dari satu.

2.2 Kerangka Berpikir

Salah satu upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa

adalah pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar. Bahan ajar yang akan

disampaikan ke siswa di kelas terlebih dahulu dimodifikasi agar siswa lebih

tertarik mempelajari matematika tanpa menghilangkan fungsi aslinya, karena

pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar bertujuan agar bahan ajar yang

dipelajari dapat dipahami dan dikuasai oleh siswa. Diharapkan siswa dapat

menguasai pembelajaran dengan baik, bermakna dan tahan lama.

Seorang guru harus dapat mengembangkan berbagai kemampuan siswa

dalam proses pembelajaran. Dengan menerapkan proses belajar bersama dengan

teman sebaya, guru hanya berperan sebagai fasilitator yang dapat mengkondisikan

suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Penerapan pembelajaran


25

melalui modifikasi bahan ajar siswa secara aktif terlibat dalam proses

pembelajaran. Siswa belajar dari teman melalui diskusi kelompok kecil dan saling

mengoreksi. Ketentuan dalam kelompok kecil pada penelitian ini yaitu:

a. anggota kelompok yang pandai diharapkan untuk dapat memberi

bimbingan temanya yang tidak mengerti atau sulit untuk menerima materi,

sedangkan anggota kelompok yang belum mengerti hendaknya bertanya

kepada teman yang mengerti;

b. setiap siswa harus memperhatikan baik-baik pada saat guru

menyampaikan materi pembelajaran;

c. pada saat pembelajaran, setiap anggota duduk saling berhadapan;

d. setiap anggota kelompok harus berani menyampaikan pendapat, gagasan,

dan pertanyaan serta mendengarkan dengan baik penjelasan temanya pada

saat belajar dalam kelompok;

e. seluruh anggota kelompok harus mengusahakan agar terjadi diskusi aktif;

f. guru memberikan penjelasan pada awal pembelajaran;

g. guru membimbing siswa dalam diskusi kelompok dan jika siswa kesulitan

dalam mengerjakan soal;

h. guru mengarahkan siswa agar terjadi diskusi kelompok yang aktif;

i. guru mengawasi dan menilai pada saat diskusi kelompok.

Dengan pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar, materi yang

dipelajari secara penuh akan dapat diterima dengan baik oleh siswa, terlihat pada

aktivitas dan hasil belajar siswa yang berupa nilai yang diperoleh. Pembelajaran

melalui modifikasi bahan ajar merupakan sebuah sistem belajar yang diterapkan

dengan teknik dan gaya belajar yang disajikan secara khas oleh guru sehingga
26

siswa dapat menguasai secara tuntas kopetensi dasar yang dipelajari.

Pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar dapat berhasil karena adanya

kerjasama antara siswa dan guru dalam memberikan informasi baru dengan

pengetahuan yang sudah ada melalui ”mengalami” bukan “menghafal” sehingga

dapat merespon lingkungan sekitarnya.

Pembelajaran merupakan suatu proses belajar, dan dalam suatu proses

pasti dibutuhkan input dan menghasilkan output. Proses belajar membutuhkan

input berupa siswa, guru, materi, kurikulum, dan fasilitas. Proses belajar dapat

dijabarkan menjadi pembelajaran, bimbingan dan metode belajar, baik mandiri

maupun kelompok. Output dari proses belajar menghasilkan nilai hasil belajar,

aktivitas, dan lulusan. Oleh karena itu dilakukan berbagai inovasi dalam metode

pembelajaran sebagai upaya memperoleh lulusan, nilai hasil belajar, dan aktivitas

siswa yang memuaskan.

Dengan demikian diduga bahwa pendekatan melalui modifikasi bahan

ajar atau materi ajar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Karena

kelebihan dari pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar yaitu siswa menjadi

lebih tertarik dan berminat dalam mengikuti proses pembelajaran, modifikasi

dapat memperlancar proses belajar mengajar, pembelajaran melalui modifikasi

dapat mengarahkan dan membelajarkan siswa menjadi lebih paham dan terampil,

sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Kerangka pikir sistem pembelajaran pada penelitian ini dapat digambarkan pada

bagan sebagai berikut:


27

INPUT PROSES OUTPUT

[Link] [Link] [Link]


[Link] [Link] [Link] belajar
[Link] [Link] mandiri [Link]
[Link] [Link] kelompok
[Link]
Inovasi pembelajaran melalui
Modifikasi bahan ajar atau
materi ajar

GAMBAR 1
Gambar Kerangka Berpikir

2.3 Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran

melalui modifikasi bahan ajar dapat meningkatakan aktivitas dan hasil belajar

matematika siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 6 Kelapa tujuh Kotabumi Tahun

Pelajaran 2012/2013.

Anda mungkin juga menyukai