9
BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN
2.1 Kajian Teori
Proses belajar mengajar pada hakekatnya adalah perubahan pada tingkah
laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah menerima atau menempuh
pengalaman belajar. Dengan penggunaan metode, teknik, dan model pembelajaran
yang sesuai dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar. Modifikasi
merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh para guru agar proses
pembelajaran dapat berjalan lancar. Dalam proses pembelajaran materi ajar yang
disampaikan ke peserta didik harus memperhatikan perubahan kemampuan atau
kondisi peserta didik.
2.1.1 Hasil Belajar
Hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena belajar
merupakan suatu proses, sedangkan hasil belajar adalah hasil dari proses
pembelajaran tersebut. Bagi siswa belajar merupakan suatu kewajiban. Berhasil
atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana
proses yang dialami siswa sebagai peserta didik. Maka kegiatan belajar sering
dikatakan sebagai suatu proses psikologi yang terjadi didalam diri seseorang.
Menurut Abdurrahman (2003:3) Hasil belajar adalah kemampuan anak yang
diperoleh setelah melalui kegiatan belajar. Berhasil atau tidaknya proses
10
pembelajaran yang dilakukan dapat dilihat pada akhir proses pembelajaran yang
dilakukan dengan tes.
Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat
adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk
penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai
aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku
secara kuantitatif ([Link] diakses tanggal 04 juni 2011).
Menurut Sardiman (2007:38) belajar adalah kegiatan yang aktif. Subjek belajar
juga mencari sendiri makna dari suatu yang mereka pelajari. Subjek belajar harus
aktif, tanpa aktivitas maka proses belajar tidak akan terjadi.
Lebih lanjut Mujiono (2006:04) mengatakan bahwa hasil belajar dapat
dibedakan menjadi dampak pengiring dan dampak pengajaran. Dampak pengiring
adalah terapan pengetahuan dan kemampuan dibidang lain yang merupakan suatu
transfer belajar. Dampak pengajaran adalah hasil yang diukur, seperti tertuang
dalam angka raport, angka dalam ijazah, atau kemampuan meloncat setelah
latihan, yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap
berhasil adalah.
- Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi
tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
- Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/intruksional khusus
(TIK) telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.
11
Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar.
Keberhasilan proses mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf.
Sedangkan menurut Kustini (2005:12) penilaian hasil belajar merupakan proses
pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa.
Menurut Djamarah dan Zain (2006:107) tingkatan keberhasilan adalah
sebagai berikut.
1. Istimewa/maksimal, apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan
itu dapat dikuasai oleh siswa.
2. Baik sekali/optimal, apabila sebagian besar (76%-99%) bahan
pelajaran yaang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
3. Baik/minimal, apabila bahan yang diajarkan hanya (60%-70%) saja
dikuasai oleh siswa.
4. Kurang, apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60%
dikuasai oleh siswa.
Reigeluth dalam Yusuf (2006:26) mengatakan bahwa hasil pembelajaran secara
umum dapat dibagi menjadi tiga indikator yaitu.
1. Efektifitas pembelajaran, yang biasanya diukur dari tingkat
keberhasilan (prestasi) siswa dari berbagai sudut;
2. Efesiensi pembelajaran, yang biasanya diukur dari waktu belajar dan
biaya pembelajaran;
3. Daya tarik pembelajaran, yang selalu diukur dari tendensi siswa ingin
belajar secara terus menerus.
Yusuf (2006:27) mengemukakan bahwa tingkat keberhasilan siswa dalam
mempelajari materi pelajaran matematika di Sekolah dapat diukur dalam bentuk
skor yang diperoleh dari hasil tes, yang nantinya dapat digunakan untuk menilai
hasil proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa
hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa melalui kegiatan belajar
mengajar. Hasil belajar tersebut dapat ditulis dengan menggunakan simbol-simbol
atau angka yang telah diperoleh melalui hasil tes yang diberikan setiap akhir
12
siklus atau setelah pembelajaran serta mutu proses belajar mengajar yang telah
dilaksanakan, perlu dilakukan suatu penilaian atau evaluasi terhadap hasil belajar
siswa.
Dalam proses belajar mengajar terdapat jenis perilaku hasil belajar yang
memiliki sasaran berupa ranah-ranah, yaitu afektif (nilai atau sikap), kognitif
(proses berfikir), psikomotor (keterampilan). Menurut Krathwohl dan Bloom, dkk
dalam Mujiono (2006:27) bahwa ranah afektif terdiri dari lima jenis perilaku,
meliputi penerimaan, partisipasi, penilaian dan penentuan sikap, organisasi, dan
pembentukan pola hidup. Menurut Bloom, dkk dalam Mujiono (2006:26) bahwa
ranah kognitif terdiri dari enam jenis perilaku meliputi pengetahuan, pemahaman,
penerapan, analisis, dan evaluasi. Selanjutnya menurut Simpson dalam Mujiono
(2006:29) ranah psikomotor terdiri dari jenis perilaku, meliputi persepsi, kesiapan,
gerakan terbimbing, gerakan yang terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola
gerakan, dan kreativitas.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dapat
dibedakan menjadi tiga ranah yaitu ranah afektif, kognitif, dan psikomotor. Jika
hasil belajar yang diperoleh siswa berada di atas SKM maka keberhasilan dalam
mengajar sudah dianggap baik.
2.1.2 Aktivitas Belajar
Melakukan kegiatan belajar diperlukan aktivitas. Seperti yang di
kemukakan oleh Hamalik (2003:154) belajar adalah sebagai perubahan tingkah
laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. Menurut Gagne dalam
Mujiono (2006:10) merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar merupakan
13
kapabilitas atau kemampuan. Dari pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa,
belajar merupakan suatu proses membangun makna atau pemahaman terhadap
informasi atau pengalaman yang melibatkan interaksi antara subjek dengan
lingkungannya.
Sebagai suatu proses dalam belajar dituntut adanya aktivitas yang di
lakukan oleh siswa sebagai usaha untuk meningkatkan hasil belajarnya. Seorang
siswa tidak akan mendapatkan hasil belajar yang lebih baik bila tidak melakukan
aktivitas belajar. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar aktivitas
merupakan prinsip dan azas yang sangat penting. Menurut Sadirman (2010:95)
tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas karena aktivitas merupakan prinsip dan
azas yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar. Aktivitas sangat
diperlukan dalam proses belajar agar proses belajar mengajar menjadi efektif.
Menurut Paul B. Diedrich dalam Sadirman (2010:101) aktivitas dalam belajar di
bagi menjadi 8 bagian yaitu.
1. Visual activities, seperti membaca, mengamati, demonstrasi, melihat
gambar-gambar dan bermain;
2. Oral activites, seperti mengajukan pertanyaan, wawancara, diskusi,
dan memberi saran;
3. Llistening activitie, seperti diskusi kelompok, mendengarkan
penyajian bahan, dan mendengarkan radio;
4. Writing activities, seperti menulis cerita, menulis laporan, membuat
rangkuman;
5. Drawing activities, seperti gambar, membuat grafik, diagram;
6. Motoric activites, seperti melakukan percobaan, memilih alat-alat,
membuat model, dan menyelenggarakan permainan;
7. Mental activites, seperti merenung, mengingat, memecahkan masalah,
meng-analisis;
8. Emitional activities, seperti minat, membedakan, berani, tenang.
Siswa dapat melakukan berbagai aktivitas didalam kegiatan belajar
mengajar aktivitas dalam proses belajar mengajar merupakan rangkaian kegiatan
yang meliputi keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran, bertanya hal yang
14
belum dimengerti, mencatat, mendengarkan, berfikir, membaca, dan segala
kegiatan yang dilakukan sehingga dapat menunjang hasil belajar. Aktivitas belajar
dapat menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,
keterampilan, nilai-nilai sikap yang bersifat konstan dan menetap. aktivitas dapat
berupa aktivitas mental dan emosional siswa.
Dari uraian di atas indikator aktivitas yang hendak diukur dalam penelitian ini
yaitu:
1. keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dengan memodifikasi bahan
ajar;
2. pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran dengan memodifikasi bahan
ajar;
3. aktivitas emosional siswa;
4. mengerjakan LKS;
5. mempresentasikan jawaban di depan kelas.
2.1.3 Bahan Ajar
Keberhasilan pembelajaran dipengaruhi banyak faktor, antara lain model
pembelajaran, strategi pembelajaran, media pembelajaran dan juga bahan ajar atau
materi pelajaran. Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials)
adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam
rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci
jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip,
prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai. ([Link]
diakses tanggal 17 mei 2011). Sedangkan menurut Abdul Majid (2007:174)
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan, informasi, alat, dan teks yang digunakan
untuk membantu guru atau instructor dalam melaksanakan kegiatan belajar
15
mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak
tertulis. Dalam proses pembelajaran agar pembelajaran berjalan lancar harus
memperhatikan bahan atau materi yang akan disampaikan ke peserta didik, media
serta sarana ajar ([Link] diakses tanggal 20 juni 2011).
Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi.
1. Prinsip relevansi, artinya materi pembelajaran hendaknya relevan memiliki
keterkaitan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar.
2. Prinsip konsistensi, artinya adanya keajegan antara bahan ajar dengan
kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Misalnya, kompetensi dasar
yang harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus
diajarkan juga harus meliputi empat macam.
3. Prinsip kecukupan, artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup
memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang
diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu
banyak.
Materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru dan harus
dipelajari siswa hendaknya berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar
menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Menurut
Ahmadi dkk (2011:194) materi pembelajaran yang diambil dari disiplin ilmu
dimodifikasi sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk
mendukung penguasaan suatu kompetensi kemudian materi pembelajaran atau
kompetensi yang lebih luas dirinci menjadi bagian-bagian atau sub-sub
kompetensi yang lebih kecil dan objektif.
16
Langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi.
1. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan
kompetensi dasar, artinya sebelum menentukan materi pembelajaran
terlebih dahulu mengidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang harus dipelajari atau dikuasai siswa.
2. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar, artinya Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi
apakah termasuk jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau
gabungan lebih daripada satu jenis materi. Sebab, setiap jenis materi
pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan
sistem evaluasi/penilaian yang berbeda-beda.
3. Memilih sumber bahan ajar, artinya materi pembelajaran atau bahan ajar
dapat ditemukan dari berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah,
jurnal, koran, internet, media audiovisual, dan sebagainya. (Wawan-
[Link] diakses 17 Mei 2011)
Menurut Nana Syaodih Sukamadinata dalam Ahmadi, dkk (2011:197)
penyajian (sequencing) bahan ajar sangat penting dalam menentukan urutan
untuk mempelajari atau mengajarkan pada siswa. Tanpa urutan yang tepat, jika
diantara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat
prasyarat (prequisite) akan menyulitkan siswa dalam mempelajarinya. Misalnya
materi operasi bilangan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Siswa akan mengalami kesulitan mempelajari perkalian jika materi penjumlahan
belum dipelajari dan akan mengalami kesulitan membagi jika materi pengurangan
belum dipelajari.
17
Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta
kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok yaitu: pendekatan
prosedural, dan hierarkis. Menurut Nana Syaodih Sukamadinata dalam Ahmadi,
dkk (2011:198) pendekatan prosedural yaitu urutan materi pembelajaran secara
prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan langkah-
langkah melaksanakan suatu tugas. Pendekatan hierarkis menggambarkan urutan
yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi
sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi
berikutnya.
Strategi penyampaian bahan ajar oleh guru antara lain:
1. strategi urutan penyampaian simultan yaitu jika guru harus
menyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka
menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi secara
keseluruhan disajikan secara serentak, baru kemudian diperdalam
satu demi satu (Metode global);
2. strategi urutan penyampaian suksesif, jika guru harus manyampaikan
materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi
urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan
secara mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi
berikutnya secara mendalam pula;
3. strategi penyampaian fakta, jika guru harus manyajikan materi
pembelajaran termasuk jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat,
peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dsb);
4. strategi penyampaian konsep, materi pembelajaran jenis konsep
adalah materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari
konsep adalah agar siswa paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur,
membedakan, membandingkan, menggeneralisasi, dan sebagainya.
Langkah-langkah mengajarkan konsep: Pertama sajikan konsep,
kedua berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan
bukan contoh), ketiga berikan latihan (exercise) misalnya berupa
tugas untuk mencari contoh lain, keempat berikan umpan balik, dan
kelima berikan tes;
5. strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip, termasuk materi
pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus, hukum (law),
postulat, teorema, dan sebagainya;
18
6. strategi penyampaian prosedur, tujuan mempelajari prosedur adalah
agar siswa dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut,
bukan sekedar paham atau hafal. Termasuk materi pembelajaran
jenis prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu tugas
secara urut.
([Link] diakses tanggal 08 Juli 2011).
Penerapan pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar dimaksudkan
bukan hanya untuk menarik minat siswa, menghindari kebosanan, tetapi juga
membantu siswa memperdalam pengertian dan pemahaman, menambah
keterampilan hitung serta keterampilan menyelesaikan masalah. Didalam proses
pembelajaran siswa ikut berperan atau berpartisipasi dalam proses penyimpulan.
Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika pada umumnya, yaitu
melatih siswa untuk berfikir secara sistematis, logis, kreatif dan konsisten.
Menurut Cockroft Report dalam Rumiati (2004:5) pembelajaran
matematika mencakup:
1. penjelasan oleh guru;
2. diskusi antara guru dan siswa, serta diskusi diantara siswa-siswa itu
sendiri;
3. suatu struktur dasar dan urutan materi ajar;
4. penguasaan praktik keterampilan dasar;
5. pemecahan masalah, termasuk penerapaan matematika ke dalam
masalah sehari-hari;
6. penyelidikan/investigasi.
Menurut Yulaelawati (2004:144) peran guru dalam pembelajaran
matematika adalah:
1. membelajarkan matematika dengan tujuan memberikan pemahaman
dan perspektif pemecahan masalah;
2. membangun interaksi antara peserta didik dengan guru dalam belajar;
3. membantu peserta didik mengungkapkan bagaimana proses yang
berjalan dalam pemikiranya ketika memecahkan masalah (soal);
4. menggunakan kesalahan yang dibuat peserta didik sebagai bahan
sumber informasi belajar dan pemahaman bagi peserta didik;
19
Tujuan Pengembangan bahan ajar:
1. menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan
mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang sesuai
dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik;
2. membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar
disamping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh;
3. memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Prinsip Pengembangan Bahan ajar.
1. Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang
kongkret untuk memahami yang abstrak.
2. Pengulangan akan memperkuat pemahaman.
3. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap
pemahaman peserta didik.
4. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu
keberhasilan belajar.
5. Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya
akan mencapai ketinggian tertentu.
6. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong peserta didik
untuk terus mencapai tujuan.
( [Link] diakses tanggal 08 Juli 2011).
Manfaat Pengembangan bahan ajar bagi guru.
1. Diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai
dengan kebutuhan belajar peserta didik.
2. Tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk
diperoleh.
3. Memperkaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai
referensi.
4. Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam
menulis bahan ajar.
5. Membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru
dengan peserta didik karena peserta didik akan merasa lebih percaya
kepada gurunya.
6. Menambah angka kredit jika dikumpulkan menjadi buku dan
diterbitkan.([Link] diakses tanggal 08 juli 2011)
20
Manfaat bagi Peserta Didik.
1. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
2. Kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan
terhadap kehadiran guru.
3. Mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang
harus dikuasainya.
Dengan memperhatikan pendapat-pendapat diatas, dapat diartikan bahwa
dalam proses pembelajaran strategi penyampaian bahan ajar yang baik dapat
memudahkan siswa dalam memahami konsep dan menyelesaikan permasalahan-
permasalahan matematika.
2.1.4 Modifikasi Bahan Ajar
Metode pembelajaran adalah cara untuk mempermudah peserta didik
mencapai kompetensi tertentu. Hal ini berlaku bagi guru dalam memilih metode,
strategi, teknik, dan taktik dalam mengajar. Seperti yang dikemukakan oleh
Winarno Surahmad dalam Ahmadi (2011:101) bahwa makin baik metode,
strategi, teknik, dan taktik akan makin efektif pula pencapaian tujuan belajar.
Modifikasi adalah cara merubah bentuk sesuatu dari yang kurang menarik
menjadi lebih menarik tanpa menghilangkan fungsi aslinya, serta menampilkan
bentuk yang lebih bagus dari aslinya. Menurut Taba dalam Yulaelawati (2004:31)
Modifikasi Pengembangan kurikulum dipusatkan pada guru, guru berperan aktif
serta terlibat penuh dalam pengembangan utama kurikulum.
21
Dalam pengembangan kegiatan pembelajaran pengembangan berpusat
pada mata pelajaran. Pengembangan yang berpusat pada mata pelajaran biasanya
mencerminkan kegiatan pembelajaran yang didikte oleh karakteristik, prosedur,
dan konseptual mata pelajaran, serta keterkaitanya dengan disiplin ilmu.
Pendekatan yang inovatif dalam strategi pembelajaran sangatlah penting untuk
menyukseskan pembelajaran modern. Dalam pembelajaran modern ini yang lebih
dipentingkan adalah bagaimana mengaktifkan keterlibatan peserta didik dalam
proses pembelajaran secara mandiri.
Menurut Ahmadi, dkk (2011:06) metode pembelajaran dijabarkan ke
dalam teknik dan gaya pembelajaran, teknik pembelajaran diartikan sebagai cara
yang dilakukan seorang guru dalam mengimplementasikan suatu metode secara
spesifik. Sedangkan taktik merupakan gaya seorang guru dalam melaksanakan
metode atau teknik pembelajaran tertentu secara individual.
Modifikasi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh para
guru agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar. Dalam proses pembelajaran
materi ajar yang disampaikan kepeserta didik harus memperhatikan perubahan
kemampuan atau kondisi peserta didik ([Link] diakses tanggal 17
mei 2011). Modifikasi bahan ajar dilakukan untuk mengembangkan materi
pelajaran dengan cara meruntunkanya dalam bentuk aktivitas belajar yang
potensial sehingga dapat memperlancar siswa dalam belajarnya. Cara ini
dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan, dan membelajarkan siswa agar
dapat memahami apa yang telah dipelajari. Cara guru dalam memodifikasi bahan
ajar akan tercermin ketika guru melakukan aktivitas pembelajaran di kelas mulai
22
dari awal hingga akhir pembelajaran. ([Link] di akses tanggal 17 Mei
2011).
Menurut Suyanto (2007), modifikasi berarti modus, ukuran, cara atau
membuat dalam suatu organisasi yang bukan dari keturunan. Pengembangan
dimaksudkan sebagai kegiatan melakukan penyesuaian dari bahan ajar dasar yang
terumuskan dalam standar isi pada sekolah. Bahan ajar merupakan bagian integral
dalam kurikulum yang telah ditentukan standar isinya oleh pemerintah melalui
Permandiknas nomor 22 dan nomor 23 tahun 2006. Pada hakekatnya isi
kurikulum itu sendiri mengacu pada usaha pencapaian tujuan-tujuan intraksional
bidang studi. ([Link] diakses tanggal 17 mei 2011)
Berdasarkan uraian diatas, model pengembangan atau modifikasi bahan
ajar yang dimaksud adalah memberikan bahan ajar yang tepat dalam pendidikan
sesuai dengan kemampuan individu siswa. Terdapat Tiga kegiatan utama dalam
pengembangan atau modifikasi bahan ajar yaitu: menyeleksi bahan ajar,
mengorganisasi bahan ajar, dan mensintesa bahan ajar.
Kegiatan menyeleksi merupakan kegiatan memilih, menetapkan bahan ajar
yang tepat bagi peserta didik. Pemilihan dan penetapan bahan ajar dilakukan oleh
guru atas bahan ajar yang telah ada pada silabus sekolah. Apabila bahan ajar dari
sekolah tidak tersedia, maka guru wajib untuk mengusahakannya dengan langsung
merinci dari SK dan KD mata pelajaran yang terkait. Sedangkan kegiatan
mengordinasi bahan ajar dimaksudkan sebagai kegiatan guru menyusun dan
membuat urutan susunan bahan ajar dengan tata urutan tertentu. Tata urutan bahan
ajar ada yang berdasarkan kronologis, prosedural, logis, maupun herarchis.
Pertimbangan pengurutan dapat menggunakan dasar tuntunan SK dan KD atau
23
dapat pula menggunakan dasar karakter mata pelajar. Kegitan mensintesa bahan
ajar adalah kegiatan agar guru yang melaksanakan kegiatan pembelajaran
melakukan upaya agar bahan ajar yang telah tersusun dapat dipadukan dalam
keseluruhan proses pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran kelas.
Keuntungan pembelajaran matematika melalui modifikasi bahan ajar adalah.
1. Siswa terdorong dan berminat untuk mempelajari matematika.
2. Siswa terdorong untuk memusatkan perhatian pada penjelasan guru.
3. Jika siswa terlibat dan aktif pada kegiatan pembelajaran, dapat mengerjakan
sendiri serta dapat memecahkan masalah sendiri, mereka akan betul-betul
memahami dan mengerti apa yang sedang dipelajari.
4. Mengurangi ketegangan-ketegangan dalam pikiran siswa dalam belajar
matematika.
Adapun kelebihan dan kelemahan modifikasi bahan ajar matematika adalah
sebagai berikut.
1. Kelebihan modifikasi dalam pelajaran matematika.
a. Modifikasi adalah salah satu model pengembangan bahan ajar dengan
mengembangkan bahan ajar yang kurang menarik bagi siswa menjadi
lebih menarik dan diminati siswa.
b. Modifikasi bahan ajar atau materi ajar dapat digunakan pada metode
pembelajaran manapun.
c. Pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar dapat memperlancar proses
belajar mengajar.
24
d. Pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar dapat mengarahkan siswa dan
membelajarkan siswa yang tadinya kurang terampil menjadi terampil,
yang kurang mengerti menjadi lebih mengerti.
e. Menepis anggapan siswa selama ini bahwa belajar matematika itu
menjenuhkan.
2. Kelemahan modifikasi dalam pelajaran matematika.
a. Tidak semua materi atau bahan ajar dapat di modifikasi.
b. Guru harus dapat memilih bahan ajar atau materi ajar mana yang dapat
dimodifikasi.
c. Perlu memiliki resensi buku atau sumber materi ajar atau bahan ajar yang
lebih dari satu.
2.2 Kerangka Berpikir
Salah satu upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa
adalah pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar. Bahan ajar yang akan
disampaikan ke siswa di kelas terlebih dahulu dimodifikasi agar siswa lebih
tertarik mempelajari matematika tanpa menghilangkan fungsi aslinya, karena
pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar bertujuan agar bahan ajar yang
dipelajari dapat dipahami dan dikuasai oleh siswa. Diharapkan siswa dapat
menguasai pembelajaran dengan baik, bermakna dan tahan lama.
Seorang guru harus dapat mengembangkan berbagai kemampuan siswa
dalam proses pembelajaran. Dengan menerapkan proses belajar bersama dengan
teman sebaya, guru hanya berperan sebagai fasilitator yang dapat mengkondisikan
suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Penerapan pembelajaran
25
melalui modifikasi bahan ajar siswa secara aktif terlibat dalam proses
pembelajaran. Siswa belajar dari teman melalui diskusi kelompok kecil dan saling
mengoreksi. Ketentuan dalam kelompok kecil pada penelitian ini yaitu:
a. anggota kelompok yang pandai diharapkan untuk dapat memberi
bimbingan temanya yang tidak mengerti atau sulit untuk menerima materi,
sedangkan anggota kelompok yang belum mengerti hendaknya bertanya
kepada teman yang mengerti;
b. setiap siswa harus memperhatikan baik-baik pada saat guru
menyampaikan materi pembelajaran;
c. pada saat pembelajaran, setiap anggota duduk saling berhadapan;
d. setiap anggota kelompok harus berani menyampaikan pendapat, gagasan,
dan pertanyaan serta mendengarkan dengan baik penjelasan temanya pada
saat belajar dalam kelompok;
e. seluruh anggota kelompok harus mengusahakan agar terjadi diskusi aktif;
f. guru memberikan penjelasan pada awal pembelajaran;
g. guru membimbing siswa dalam diskusi kelompok dan jika siswa kesulitan
dalam mengerjakan soal;
h. guru mengarahkan siswa agar terjadi diskusi kelompok yang aktif;
i. guru mengawasi dan menilai pada saat diskusi kelompok.
Dengan pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar, materi yang
dipelajari secara penuh akan dapat diterima dengan baik oleh siswa, terlihat pada
aktivitas dan hasil belajar siswa yang berupa nilai yang diperoleh. Pembelajaran
melalui modifikasi bahan ajar merupakan sebuah sistem belajar yang diterapkan
dengan teknik dan gaya belajar yang disajikan secara khas oleh guru sehingga
26
siswa dapat menguasai secara tuntas kopetensi dasar yang dipelajari.
Pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar dapat berhasil karena adanya
kerjasama antara siswa dan guru dalam memberikan informasi baru dengan
pengetahuan yang sudah ada melalui ”mengalami” bukan “menghafal” sehingga
dapat merespon lingkungan sekitarnya.
Pembelajaran merupakan suatu proses belajar, dan dalam suatu proses
pasti dibutuhkan input dan menghasilkan output. Proses belajar membutuhkan
input berupa siswa, guru, materi, kurikulum, dan fasilitas. Proses belajar dapat
dijabarkan menjadi pembelajaran, bimbingan dan metode belajar, baik mandiri
maupun kelompok. Output dari proses belajar menghasilkan nilai hasil belajar,
aktivitas, dan lulusan. Oleh karena itu dilakukan berbagai inovasi dalam metode
pembelajaran sebagai upaya memperoleh lulusan, nilai hasil belajar, dan aktivitas
siswa yang memuaskan.
Dengan demikian diduga bahwa pendekatan melalui modifikasi bahan
ajar atau materi ajar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Karena
kelebihan dari pembelajaran melalui modifikasi bahan ajar yaitu siswa menjadi
lebih tertarik dan berminat dalam mengikuti proses pembelajaran, modifikasi
dapat memperlancar proses belajar mengajar, pembelajaran melalui modifikasi
dapat mengarahkan dan membelajarkan siswa menjadi lebih paham dan terampil,
sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Kerangka pikir sistem pembelajaran pada penelitian ini dapat digambarkan pada
bagan sebagai berikut:
27
INPUT PROSES OUTPUT
[Link] [Link] [Link]
[Link] [Link] [Link] belajar
[Link] [Link] mandiri [Link]
[Link] [Link] kelompok
[Link]
Inovasi pembelajaran melalui
Modifikasi bahan ajar atau
materi ajar
GAMBAR 1
Gambar Kerangka Berpikir
2.3 Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran
melalui modifikasi bahan ajar dapat meningkatakan aktivitas dan hasil belajar
matematika siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 6 Kelapa tujuh Kotabumi Tahun
Pelajaran 2012/2013.