0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan6 halaman

Fungsi dan Jenis Seni Rupa Modern

Dokumen ini menjelaskan pengertian, jenis, fungsi, dan tujuan seni rupa, yang merupakan ekspresi estetis melalui media visual. Seni rupa dibedakan menjadi dua dimensi, tiga dimensi, dan empat dimensi, serta dibagi berdasarkan fungsi menjadi seni murni dan seni terapan. Selain itu, seni rupa juga memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan manusia, termasuk fungsi individual, sosial, dan fungsional.

Diunggah oleh

Nurul Hidayat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan6 halaman

Fungsi dan Jenis Seni Rupa Modern

Dokumen ini menjelaskan pengertian, jenis, fungsi, dan tujuan seni rupa, yang merupakan ekspresi estetis melalui media visual. Seni rupa dibedakan menjadi dua dimensi, tiga dimensi, dan empat dimensi, serta dibagi berdasarkan fungsi menjadi seni murni dan seni terapan. Selain itu, seni rupa juga memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan manusia, termasuk fungsi individual, sosial, dan fungsional.

Diunggah oleh

Nurul Hidayat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Pengertian Seni Rupa


Seni rupa merupakan ekspresi pribadi yang diwujudkan dalam bentuk karya dua atau tiga dimensi untuk
merespon berbagai emosi, peristiwa, fenomena, dan isu yang terjadi dalam kehidupan seniman perupanya. Seni
rupa diekspresikan melalui media rupa (visual) seperti titik, garis, bentuk, warna, tekstur, volume dan ruang. Seni
rupa dapat didefinisikan sebagai “ekpresi-estetik melalui media titik, garis, bentuk, warna, tekstur, volume dan
ruang.” Media seni rupa tersebut merupakan media standar yang melahirkan karya seni rupa semacam seni
gambar, seni lukis, seni patung, seni cetak, seni kriya, dan sebagainya.1
Karya seni rupa pada mulanya sebagai media atau alat ritual/kepercayaan seperti patung Asmat di Papua,
lukisan dinding di gua Leang-leang Sulawesi Selatan, dan lukisan Kamasan di Bali. Karya seni rupa merupakan
ekspresi adiluhung yang didedikasikan untuk keperluan keagamaan. Seni rupa terus berkembang tidak hanya
untuk kepentingan spiritual, tetapi juga sebagai media mengekspresikan diri yang lebih eksploratif dan
eksperimental baik dari segi tema, alat, bahan, dan tampilan. Seni rupa setelah tahun 1870 disebut sebagai seni
rupa modern.

B. Jenis-Jenis Seni Rupa


Seni rupa yang sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari sangat beragam. Karya seni rupa yang
beragam tersebut dapat diklasifikasikan berdasarkan wujud, fungsi, teknik, dan sikap batin penciptanya.
1. Jenis Seni Rupa Berdasarkan Wujudnya
a. Seni Rupa Dua Dimensi
Karya seni rupa dua dimensi atau dwimatra yaitu karya seni rupa yang hanya dapat dinikmati
dari satu arah, yaitu dari arah depan karena hanya memiliki dimensi panjang dan lebar. Karya seni rupa
yang termasuk golongan ini misalnya lukisan, gambar, foto, tenunan, dan batik.
Contoh karya seni rupa dua dimensi. Kiri: seni ilustrasi yang berjudul Pergulatan karya Salamun

Kaulam; Kanan: seni lukis dengan judul Rajah Putih sebagai ajakan untuk berlaku suci, karya Hajar
Pamadhi.
b. Seni Rupa Tiga Dimensi
Karya seni rupa tiga dimensi atau trimatra yaitu karya seni rupa yang memiliki dimensi panjang,
lebar, dan tinggi, atau dengan kata lain memiliki kedalaman (volume/gempal) di samping panjang dan
lebar, sehingga wujudnya dapat dinikmati dari berbagai arah. Karya seni rupa yang termasuk golongan
ini seperti patung, bangunan, boneka, dan aneka jenis desain produk.

1
Giriluhita Retno Cahyaningsih. Dasar-dasar Seni Rupa. 2022. Jakarta: Pusat Perbukuan Kemendikbud. Hal 4-5
Contoh karya seni rupa tiga dimensi. Kiri: seni patung karya Henry Moore (Wikicommons,
Andrew Dunn); Kanan: desain produk berupa sepatu (Pixabay, Stevepb).
c. Seni Rupa Empat Dimensi
Karya seni rupa empat dimensi atau biasa pula disebut “Seni Rupa Berbasis Waktu (time-based
art)” merupakan fenomena baru dalam dunia seni rupa yang mencakupi: (1) Seni rupa video (karya seni
rupa yang ditampilkan dalam bentuk video yang menghadirkan gerak dan bunyi). Karya tersebut dapat
ditampilkan pada layar monitor tetapi juga dapat diproyeksikan dengan menggunakan media cahaya ke
tembok/dinding), (2) seni rupa pertunjukan/happening yang melibatkan perupa yang sedang beraksi. Aksi
sang perupa direkam dalam foto atau video, tetapi aksi sang perupa tersebut merupakan karya seni rupa
itu sendiri; (3) seni rupa media baru yang bersifat interaktif seperti seni rupa digital, animasi komputer,
robotika, yang dimanfaatkan oleh perupa untuk mengeksplorasi potensi dari teknologi baru tersebut.

Contoh karya seni rupa empat dimensi berupa instalasi video dengan judul Stasion Observasi dari
Pinggir karya David Politzer (Wikicommons, David Politzer).

2. Jenis Seni Rupa Berdasarkan Fungsinya


a. Seni Rupa Murni (Fine Art)
Karya seni rupa murni adalah karya seni rupa yang dibuat semata-mata dengan niat untuk
memenuhi kebutuhan mengekspresikan rasa indah (rasa estetis), tidak dimaksudkan untuk memenuhi
kegunaan atau fungsi yang bersifat praktis. Contoh karya seni rupa yang termasuk golongan ini, adalah
lukisan, patung, tapestri, atau karya seni rupa lainnya yang dihasilkan oleh seniman sematamata
dimaksudkan sebagai ekspresi estetik. Istilah seni rupa murni ini muncul untuk pertama kalinya di Eropa
pada Masa Renaisans yang kemudian identik dengan “seni tinggi” untuk membedakannya dengan “seni
rendah” yang diperuntukkan bagi seni terapan. Contohnya dapat dilihat pada gambar:
b. Seni Rupa Terapan (Applied Art)
Karya seni rupa terapan adalah karya seni rupa yang dibuat dengan maksud untuk memenuhi
fungsi atau kegunaan tertentu yang bersifat praktis. Aspek kegunaan sebagai faktor utama mendasari
pembuatan karya seni jenis ini. Artinya, karya seni rupa ini lahir karena didorong oleh keinginan untuk
memenuhi kebutuhan praktis dalam rangka memudahkan dan memberi kenyamanan bagi manusia dalam
kehidupannya. Di dalam upaya memenuhi kebutuhan yang bersifat praktis tersebut, manusia ingin pula
terpuaskan citarasa estetiknya sehingga proses mewujudkannya diupayakan agar karya tersebut menarik
dipandang. Oleh karena itu, aspek estetik (keindahan) karya tersebut juga menjadi hal penting yang perlu
dipertimbangkan dan dipenuhi dalam proses pembuatannya. Karya seni rupa yang termasuk dalam
golongan ini pada umumnya berupa karya desain atau karya seni kriya. Dalam bentuk dua dimensi,
misalnya poster, spanduk, baliho (billboard), brosur, kulit buku, dan logo. Dalam bentuk tiga dimensi
misalnya perabot, peralatan, kendaraan, dan arsitektur.

3. Jenis Seni Rupa Berdasarkan Teknik Pembuatannya


Berdasarkan teknik pembuatannya, karya seni rupa dapat dibedakan antara lain seni rupa yang dibuat
dengan memberi goresan/sapuan warna, mencetak, mengukir, menganyam/tenun, menyulam, menempel,
membentuk/mengonstruksi, merangkai, menyimpul, dan membatik.

4. Jenis Seni Rupa Berdasarkan Sikap Batin Senimannya


Jenis karya seni rupa berdasarkan sikap batin penciptanya pada dasarnya dapat dikelompokkan atas tiga
yakni: (1) sikap batin pencipta yang cenderung mengikuti aturan/pakem yang telah mentradisi, baik
menyangkut tema maupun teknik penciptaan. Sikap batin seperti ini menghasilkan karya seni rupa yang
dikenal sebagai seni rupa tradisional; dan (2) sikap batin pencipta yang berpijak pada filosofi modernisme
yang sangat mementingkan kebaruan, kebebasan, orientasi masa depan, dan universalisme. Sikap batin ini
menghasilkan karya seni rupa modern, serta (3) sikap batin pencipta yang berpijak pada posmodernisme yang
berupaya untuk memberi penghargaan terhadap hal yang dikesampingkan atau diremehkan oleh modernisme
seperti tradisi, kebiasaan lama, dan kelokalan. Sikap batin yang demikian ini menghasilkan karya seni rupa
posmodern.
a. Karya Seni Rupa Tradisional
Batasan karya seni rupa tradisional dapat dipahami dengan mudah setelah memahami batasan
istilah “seni rupa” dan istilah “tradisional”. Batasan istilah seni rupa telah dikemukakan pada bagian
terdahulu bahwa, “segala bentuk ekspresi pengalaman estetis yang dilakukan secara sadar oleh manusia
melalui media titik, garis, bentuk, warna, tekstur, dan ruang.” Sedangkan istilah “tradisional” adalah kata
sifat yang berasal dari kata dasar“tradisi” yang berarti turun-temurun dari generasi ke generasi hingga
masa kini. Jadi, istilah “seni rupa tradisional” bermakna karya seni rupa yang pembuatannya telah
mentradisi. Pengertian ini memberikan pemahaman bahwa batasan tradisional pada suatu karya seni rupa
melekat pada tradisi/budaya/etnis/bangsa. Dengan demikian, seni rupa tradisional bersifat lokal atau
kedaerahan. Seni rupa tradisional di daerah Bugis misalnya berbeda dengan seni rupa tradisional di
daerah Jawa, Batak, atau Papua. Lebih berbeda lagi dengan seni rupa tradisional di belahan dunia yang
lain seperti seni rupa tradisional Cina, Jepang, Mesir, atau Jerman. Di balik perbedaannya, seni rupa
tradisional memiliki ciri: (1) mengikuti aturan tertentu yang telah mentradisi; (2) memiliki bentuk/wujud
yang telah mentradisi; (3) berupa benda fungsional; dan (4) tidak mementingkan nama penciptanya.

b. Karya Seni Rupa Modern


Istilah modern secara umum sering kali diartikan dalam hubungan dengan masa atau waktu yakni
sesuatu yang baru. Namun, pada bidang seni rupa, istilah modern diartikan tidak berkenaan dengan
masa/waktu, melainkan dalam hubungannya dengan sikap batin yang melatari lahirnya sebuah karya.
Bila pada karya seni rupa tradisional keterikatan pada norma dan bentuk yang mentradisi sebagai ciri
utama, sebaliknya pada karya seni rupa modern ketidakterikatan pada norma dan bentuk yang mentradisi.
Pada seni rupa modern, kebebasan dan kekreatifan sebagai ciri utama. Sikap batin seniman modern
mengutamakan kebebasan yang mendorong kekreatifan dalam berekspresi. Beberapa ciri karya seni rupa
modern adalah: (1) menonjolkan kreativitas gagasan, ide, teknik; (2) berorientasi ke masa depan (bukan
pada masa lalu); (3) bersifat universal; dan (4) menonjolkan individualitas dan karena itu nama
penciptanya menjadi penting. Gerakan seni rupa yang terjadi dalam dunia seni rupa yang mulai marak
pada Abad ke-19 yang kemudian berlanjut pada Abad ke-20 yang melahirkan beragam aliran seni rupa
seperti Ekspresionisme, Impresionisme, Realisme, Surealisme, Kubisme, dan Abstraksionisme.
c. Karya Seni Rupa Posmodern
Sebagai sebuah istilah, “Posmodern” telah dikenal sejak tahun 1930an tetapi barulah mulai
populer pada dekade 1970an. Seni Rupa Posmodern berpijak dari filosofi Posmodernisme yang
berpandangan bahwa Modernisme telah gagal “menciptakan dunia yang lebih baik” sebagaimana yang
dicita-citakannya. Modernisme dipandang sebagai penyebab dari kerusakan lingkungan akibat eksplorasi
yang berlebihan, diciptakannya senjata pemusnah massal yang semakin mengancam kehidupan,
terjadinya kesenjangan yang semakin lebar antara si kaya yang menguasai modal dan teknologi dengan si
miskin yang tidak berdaya karena tidak memiliki akses. Posmodernisme berupaya mengoreksi
Modernisme seraya menawarkan alternatif solusi. Dalam bidang seni rupa, pendukung Posmodernisme
menawarkan ide pluralisme sebagai pengganti universalismenya modernisme. Pendukung
Posmodernisme tidak merasa perlu untuk membedakan lagi antara Seni Murni yang dipandang sebagai
seni tinggi dan seni terapan sebagai seni rendah. Seni rupa yang terpinggirkan oleh seni rupa modern
seperti seni rupa tradisional justru dihargai oleh kaum posmedernis karena dianggap memiliki keaslian
dan keunikan.

Dalam Seni Rupa Posmodern semua ekspresi seni dihargai (termasuk Seni Rupa Modern) dan
diberi tempat yang sama; yang penting adalah ekspresi seni tersebut kontekstual. Dapat dikatakan bahwa
karya Seni Rupa Posmodern memancarkan semangat baru yakni semangat pluralisme, eklektikisme, dan
kontekstualisme. Karena sifatnya yang demikian ini, maka sebuah karya Seni Rupa Posmodern dapat
dikenal setelah membaca deskripsi karya atau penjelasan dari penciptanya. 2

2
Sofyan Salam dkk. Pengetahuan Dasar Seni Rupa. 2020. Makassar: Badan Penerbit UNM.
C. Fungsi Seni Rupa
Fungsi seni rupa sangat beragam, tergantung kepada latar belakang terciptanya karya seni rupa. Misalnya
seni rupa terapan memiliki fungsi untuk memenuhi nilai guna atau fungsi praktis dalam kehidupan sehari-hari,
dan seni murni memiliki fungsi sebagai sarana kepuasan batin akan keindahan. Secara umum, seni memiliki
banyak fungsi seperti merangsang masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya, sebagai proses
pembelajaran masyarakat terhadap segala sesuatu, baik nilai-nilai maupun fenomena alam, sebagai penyadaran
terhadap peristiwa, baik sejarah, sosial, politik dan budaya, seni mampu mengisi dan mempengaruhi zamannya,
dan seni sebagai penjaga nilai keindahan dan kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat.
Keberadaan seni rupa menurut Feldman (1967) memiliki 3 fungsi dalam kehidupan manusia, yaitu:
1. Fungsi Individual, seni digunakan untuk mengungkapan rasa/emosi dengan cara memberi tanggapan dan
penghayatan seseorang terhadap lingkungannya.
2. Fungsi sosial kemasyarakatan, seni digunakan untuk kepentingan masyarakat luas seperti untuk penerangan,
pendidikan, kesehatan, agama dan sebagainya.
A. Fungsi fisik kebendaan, seni digunakan untuk keindahan di berbagai benda keperluan manusia: arsitektur, interior
bangunan, furnitur, serta benda-benda pakai lainnya.3

Secara umum, seni rupa memiliki 5 fungsi utama yakni sebagai sarana untuk memenuhi nilai Seremonial,
artistik, naratif, fungsional, dan persuasif.

1. Fungsi seremonial sendiri lebih untuk tujuan perayaan atau untuk memperingati suatu peristiwa/kejadian/era
tertentu yang berkontribusi terhadap budaya dan aktivitas ritualistic dalam masyarakat.
2. Fungsi naratif sebuah seni berguna untuk menceritakan kembali atau menggambarkan sesuatu yang ingin
disampaikan oleh seniman pembuatnya. Contohnya saja adalah lukisan. Setiap lukisan biasanya memiliki
tema tertentu dan makna yang terkandung di dalamnya. Contohnya saja adalah lukisan Liberty Leading the
People (1830) karya Eugene Delacroix yang menggambarkan revolusi perancis.
3. Fungsi selanjutnya adalah fungsi artistik, dalam fungsi ini karya seni rupa lebih menekankan aspek estetika
atau keindahannya. Produk seni ini biasanya digunakan oleh para seniman sebagai media untuk
mengekspresikan emosi, perasaan, ide, atau pengetahuan yang dimilikinya.
4. Fungsi fungsional, di mana ia memiliki nilai guna. Pengaplikasikan seni dalam benda berdaya guna ini
bermaksud untuk mempercantik tampilan benda tersebut. Contohnya saja adalah furnitur kayu seperti meja,
lemari dan kursi. Benda-benda tersebut dapat kita gunakan untuk menyimpan sesuatu. Mereka dirancang
sedemikian rupa sehingga tidak hanya memiliki nilai guna tapi juga mampu menyenangkan pemiliknya dari
segi keindahan.
5. Fungsi Persuasif dalam karya seni rupa sendiri lebih berguna untuk mempromosikan ide, filosofi atau
produk. Contohnya saja adalah logo, banner dan poster.

D. Tujuan Seni Rupa


Seni rupa bertujuan sebagai pengaplikasian/penunjukan eksistesi si pencipta karya seni untuk
menampilkan seninya untuk sebuah penilaian. Pembelajaran seni rupa bertujuan menjadi wahana yang
menyenangkan bagi siswa untuk mengalami bagaimana kreativitas dapat membantu meningkatkan kualitas
hidupnya. Melalui pengalaman belajar yang menyenangkan, relevan, dan dekat secara emosional dengan
kehidupan siswa sehari-hari. Pendidikan Seni Rupa bertujuan menghasilkan siswa yang antusias untuk terus
belajar (life long learner), kreatif, mampu berani mengekspresikan diri, gigih berusaha, reflektif, bernalar kritis,
3
Monika Irayati dkk. Buku Panduan Guru Seni Rupa. 2021. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
berkontribusi aktif bagi lingkungannya dan selalu membuat keputusan dengan tanggung jawab. Siswa Indonesia
yang berkualitas mampu bekerja secara mandiri maupun bekerjasama dengan orang lain, tanpa memandang
perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan secara efektif dan efisien. Kesadaran atas perbedaan sebagai
sebuah kewajaran dalam hidup dan memandangnya sebagai potensi kekuatan merupakan kualitas lainnya yang
diharapkan terbentuk dalam diri siswa Indonesia. Kemampuan mengapresiasi, peka terhadap keindahan yang ada
di sekitar diri, lingkungan, dan masyarakat yang beragam secara global. Pembelajaran seni rupa juga dapat
mempertajam kemampuan siswa Indonesia dalam melihat, mengenal, merasakan, memahami dan mengalami
nilai-nilai estetik guna menyampaikan maupun merespon sebuah gagasan atau situasi, melihat dan menciptakan
sebuah peluang serta mendayagunakan sumber daya yang dimiliki untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. 4

E. Contoh Pengaplikasian Seni Rupa dalam Kehidupan Sehari-hari


1. Alat transportasi tradisional : alat ini merupakan salah satu contoh seni rupa terapan. Selain memiliki nilai
estetikanya sendiri, alat ini memiliki keutamaan untuk digunakan sebagai alat transportasi yang
mempermudah akses kita ketiga bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Contoh alat transportasi
tradisional ini adalah : becak dan delman.
2. Alat-alat dapur : alat-alat dapur tradisional yang kita gunakan sendiri merupakan salah satu produk karya seni
rupa terapan. Contohnya saja adalah tampah. Tampah yang memiliki bentuk bundar melingkar ini terbuat dari
anyaman bambu dan sering digunakan oleh masyarakat desa untuk mengayak beras (memisahkan beras
dengan kotoran/menirnya).
3. Senjata tradisional : aplikasi Seni Rupa dalam Kehidupan Sehari-Hari juga diterapkan dalam pembuatan
senjata tradisional yang memiliki fungsi utama sebagai alat perlindungan diri. Contoh : clurit. 5

4
Rizki Raindriati. Buku Panduan Guru Seni Rupa. 2021. Jakarta Selatan: Pusat Perbukuan.
5
Muhammad Sholikhan. Fungsi dan Aplikasi Seni Rupa dalam Kehidupan Sehari-hari. 2021. Jawa Tengah: Universitas STEKOM.

Anda mungkin juga menyukai