0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan7 halaman

Pengukuran dan Pemetaan Tanah 1997

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 mengatur tentang pendaftaran tanah, termasuk penetapan batas bidang tanah dan prosedur pengukuran. Jika tidak ada kesepakatan antara pemegang hak, pengukuran sementara dilakukan dan dicatat dalam berita acara. Gambar ukur yang dihasilkan harus mencakup data pengukuran dan dapat dibuat dalam bentuk dokumen elektronik atau analog.

Diunggah oleh

Muhammad Luthfi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan7 halaman

Pengukuran dan Pemetaan Tanah 1997

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 mengatur tentang pendaftaran tanah, termasuk penetapan batas bidang tanah dan prosedur pengukuran. Jika tidak ada kesepakatan antara pemegang hak, pengukuran sementara dilakukan dan dicatat dalam berita acara. Gambar ukur yang dihasilkan harus mencakup data pengukuran dan dapat dibuat dalam bentuk dokumen elektronik atau analog.

Diunggah oleh

Muhammad Luthfi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997 TENTANG

PENDAFTARAN TANAH.

Paragraf 3
Penetapan Batas Bidang-bidang Tanah

Pasal 19
(1) Jika dalam penetapan batas bidang tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1)
tidak diperoleh kesepakatan antara pemegang hak atas tanah yang bersangkutan dengan
pemegang hak atas tanah yang berbatasan, pengukuran bidang tanahnya diupayakan
untuk sementara dilakukan berdasarkan batas-batas yang menurut kenyataannya
merupakan batas-batas bidang-bidang tanah yang bersangkutan.
(2) Jika pada waktu yang telah ditentukan pemegang hak atas tanah yang bersangkutan atau
para pemegang hak atas tanah yang berbatasan tidak hadir setelah dilakukan
pemanggilan, pengukuran bidang tanahnya, untuk sementara dilakukan sesuai ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Ketua Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik atau oleh Kepala
Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik membuat berita acara
mengenai dilakukannya pengukuran sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2), termasuk mengenai belum diperolehnya kesepakatan batas atau ketidakhadiran
pemegang hak atas tanah yang bersangkutan.
(4) Dalam gambar ukur sebagai hasil pengukuran sementara sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) dibubuhkan catatan atau tanda yang menunjukkan bahwa batas-batas bidang
tanah tersebut baru merupakan batas-batas sementara.
(5) Dalam hal telah diperoleh kesepakatan melalui musyawarah mengenai batas-batas yang
dimaksudkan atau diperoleh kepastiannya berdasarkan putusan Pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap, diadakan penyesuaian terhadap data yang ada pada
peta pendaftaran yang bersangkutan.

PENJELASAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1997
TENTANG
PENDAFTARAN TANAH

Pasal 19
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan gambar ukur adalah hasil pengukuran dan pemetaan di lapangan
berupa peta batas bidang atau bidang-bidang tanah secara kasar.
Catatan pada gambar ukur didasarkan pada berita acara pengukuran sementara.
PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN
NASIONAL TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN
PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Gambar ukur adalah dokumen tempat mencantumkan gambar suatu bidang tanah atau lebih
dan situasi sekitarnya serta data hasil pengukuran bidang tanah baik berupa jarak, sudut,
azimuth ataupun sudut jurusan.

BAB II
PENGUKURAN DAN PEMETAAN

Bagian Ketiga
Penetapan dan Pemasangan Tanda-tanda Batas Bidang Tanah

Pasal 20
(1) Dalam hal terjadi sengketa mengenai batas bidang-bidang tanah yang berbatasan,
Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik atau Kepala Kantor
Pertanahan/petugas pengukuran yang ditunjuk dalam pendaftaran tanah secara sporadik
berusaha menyelesaikannya secara damai melalui musyawarah antara pemegang hak dan
pemegang hak atas tanah yang berbatasan, yang, apabila berhasil, penetapan batas yang
dihasilkannya dituangkan dalam Risalah Penyelesaian Sengketa Batas (daftar isian 200).
(2) Apabila sampai saat akan dilakukannya penetapan batas dan pengukuran bidang tanah
usaha penyelesaian secara damai melalui musyawarah tidak berhasil, maka ditetapkan
batas sementara berdasarkan batas-batas yang menurut kenyataannya merupakan batas-
batas bidang tanah yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, dan kepada pihak yang merasa
berkeberatan, diberitahukan secara tertulis untuk mengajukan gugatan ke Pengadilan.
(3) Hal dilakukannya penetapan dan pengukuran batas sementara sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dicantumkan di dalam daftar isian 201 dan dicatat di gambar ukur.
Bagian Keempat
Pengukuran Bidang Tanah

Pasal 30
(1) Setiap pengukuran bidang tanah harus dibuatkan gambar ukurnya.
(2) Gambar ukur dapat menggambarkan satu bidang tanah atau lebih.
(3) Gambar ukur dapat dibuat pada formulir daftar isian, peta foto/peta garis, blow-up foto
udara atau citra lainnya.
(4) Seluruh data hasil ukuran batas bidang tanah dicatat pada gambar ukur dan harus dapat
digunakan untuk pengembalian batas bidang-bidang tanah yang bersangkutan apabila
diperlukan.
(5) Setiap gambar ukur dibuatkan nomor gambar ukurnya dengan nomor urut dalam daftar
isian 302.
(6) Bangunan yang terdapat pada suatu bidang tanah digambarkan pada gambar ukur.
(7) Dalam gambar ukur dicantumkan Nomor Identifikasi Bidang Tanah (NIB) dan apabila
diperlukan simbol-simbol kartografi.
PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/KEPALA BADAN
PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2021
TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA
AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 3 TAHUN 1997
TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR
24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH

Pasal 30A
(1) Gambar Ukur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 dapat dibuat dalam bentuk
Dokumen Elektronik.
(2) Dalam hal pembuatan Dokumen Elektronik belum dapat dilaksanakan maka Gambar
Ukur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibuat dalam bentuk Dokumen
Analog.
(3) Gambar Ukur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling kurang memuat:
a. penunjukan batas oleh pihak pemohon/kuasanya;
b. deklarasi penetapan batas oleh petugas ukur;
c. catatan koreksi atau hasil kontrol kualitas oleh pejabat yang ditunjuk; dan
d. pencantuman metadata seperti peralatan pengukuran yang digunakan, metode
pengukuran, data dan hasil pengukuran, penyelesaian sengketa batas dan data teknis
lainnya.
(4) Selain menggambarkan bidang tanah, Gambar Ukur juga menggambarkan bangunan,
areal penyangga, sempadan badan air seperti sempadan sungai, sempadan pantai dan
sempadan jalan, lahan konservasi, Hak Atas Tanah yang dilepaskan atau fungsi
sosial/kepentingan publik lainnya sesuai rencana tata ruang wilayah pada lokasi bidang
tanah yang diukur.
(5) Gambar Ukur dibuat sesuai format sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
PETUNJUK TEKNIS PENGUKURAN DAN PEMETAAN BERBASIS MITIGASI
RISIKO 2021 NOMOR 399/[Link]/XII/2021

C. Pembuatan Gambar Ukur


Gambar Ukur atau Daftar Isian 107/107A adalah dokumen tempat mencantumkan
gambar suatu bidang tanah atau lebih dan situasi sekitarnya serta data hasil pengukuran
bidang tanah baik berupa jarak, sudut, asimut ataupun sudut jurusan. Selain dari data tersebut,
dicantumkan juga keterangan-keterangan lain yang mendukung/memudahkan dalam
penatausahaan Gambar Ukur.

Secara teknis gambar ukur yang dibuat di lapangan sewaktu pengukuran bidang tanah
merupakan dokumen otentik yang menerangkan objek hak, yaitu meliputi dimensi, orientasi,
batas-batas bidang, dan letak bidang tanah, baik relatif maupun absolut.
Gambar Ukur dapat dibuat dalam bentuk Dokumen Elektronik. Dalam hal pembuatan
Dokumen Elektronik belum dapat dilaksanakan maka Gambar Ukur dibuat dalam bentuk
Dokumen Analog. Gambar Ukur dokumen analog dipindai dalam format *.pdf dan diunggah
ke Aplikasi Komputerisasi Kegiatan Pertanahan yang selanjutnya disingkat Aplikasi KKP.
Gambar Ukur paling sedikit memuat:
1. Penunjukan batas oleh pihak pemohon/ kuasanya;
2. Deklarasi penetapan batas oleh petugas ukur;
3. Catatan koreksi atau hasil kontrol kualitas oleh pejabat yang ditunjuk; dan
4. Pencantuman metadata seperti peralatan pengukuran yang digunakan, metode
pengukuran, data dan hasil pengukuran, penyelesaian sengketa batas dan data teknis
lainnya.

Gambar Ukur dapat berbentuk analog dan juga berbentuk digital/elektronik dengan tidak
menghilangkan substansi dari Gambar Ukur yaitu:
1. Menggambarkan suatu bidang tanah atau lebih dan situasi sekitarnya serta data hasil
pengukuran bidang tanah baik berupa jarak, sudut, azimut ataupun sudut jurusan;
2. Menggambarkan data pendukung lainnya;
3. Sebagai data untuk menghitung luas bidang tanah;
4. Dapat digunakan untuk kegiatan data pemeliharaan data pendaftaran tanah di kemudian
hari, seperti pemecahan dan/atau pemisahan bidang tanah; dan
5. Sebagai data pengembalian batas bidang tanah jika sewaktu-waktu diperlukan.
E. Format Gambar Ukur
Gambar Ukur Pendaftaran Tanah Pertama Kali Penerimaan Negara Bukan Pajak
Ketentuan pengisian Gambar Ukur Sporadis dalam DI 107A yang terdiri dari 4 (empat)
halaman adalah sebagai berikut:

Halaman 1 (satu):
1. Nomor Gambar Ukur;
2. Lokasi (Desa/Kelurahan, Kecamatan dan Kabupaten/Kotamadya), Nomor Peta
Pendaftaran;
3. Keterangan Pemohon, diisi data-data pemohon dan tanda tangan pemohon serta
keterangan telah menunjukkan tanda batas pada setiap batas bidang tanah sesuai dengan
kesepakatan para pihak yang berbatasan;
4. Tanda Tangan Pemohon;
5. Keterangan Pengukur, diisi nama petugas lapangan, nama KJSB, NIP/No. Lisensi, Nomor
dan tanggal Surat Tugas serta alat ukur yang digunakan;
6. Penetapan Batas Bidang Tanah, diisi deklarasi penetapan batas oleh petugas ukur yang
dibacakan di hadapan pemohon/yang berkepentingan di lokasi pengukuran dan
ditandatangani oleh Petugas Ukur; dan
7. Sket Lokasi, gambaran posisi relatif bidang tanah untuk memperoleh orientasi terhadap
situasi yang lebih umum dikenal di sekitar lokasi, seperti jalan utama, masjid, sungai,
jembatan, pasar, dan lain sebagainya.

Halaman 2 (dua):
1. Halaman ini digunakan untuk penggambaran bidang tanah dan denah Lokasi bidang tanah;
2. Pada masing-masing bidang tanah dicantumkan Nomor Bidang Tanah;
3. Situasi keliling bidang tanah seperti jalan, sungai, unsur geografis lainnya, bidang tanah
yang bersebelahan, dan titik ikat (KDKN/CORS/witness marks) yang digunakan harus
digambarkan;
4. Tidak diperkenankan untuk menggambarkan dua atau beberapa bidang tanah yang
letaknya berjauhan (saling terpisah) dalam satu gambar ukur;
5. Catatan ukuran lapangan dicantumkan pada gambar ukur seperti jarak sisi bidang tanah,
sudut ataupun azimut;
6. Tanda panah arah utara menjelaskan posisi gambar terhadap arah mata angin dan
ditempatkan pada ruang kosong pada bidang gambar;
7. Ukuran/ketebalan penulisan angka, paling kecil adalah 1,5 mm/0,2 mm; dan
8. Data koordinat fix dari tugu base yang digunakan sebagai pengikatan detil pengukuran
yang di dapat dari pengolahan processing base line (pengikatan) pada KDKN/jaringan
CORS atau titik obyek tetap yang dapat diidentifikasi pada foto udara/citra satelit yang
teleh dikoreksi agar dapat direkonstruksi kembali batas-batasnya.

Halaman 3 (tiga):
1. Arah Utara disisi atas dengan skala;
2. Grid beserta koordinat TM-3 disesuaikan dengan lokasi bidang-bidang tanah yang
terpetakan;
3. Koordinat TM-3 pada satu-dua titik batas-batas bidang;
4. Angka hitung hasil pengkartiran tercetak pada sisi-sisi bidang dengan warna biru (jika
diperoleh dari deliniasi peta foto) atau warna hitam (jika dari pengukuran lapangan); dan
5. Pada setiap bidang tanah tercantum Nama Pemilik dan luas (m2), sedangkan bidang
bersertipikat disertakan juga Nomor Hak.

Halaman 4 (empat):
Lampiran gambar ukur dapat berupa foto udara atau peta foto yang merupakan copy peta
foto/blow up foto udara pada ukuran. Lampiran gambar ukur bagi pengukuran bidang tanah
yang menggunakan peralatan-peralatan yang data ukurannya dalam bentuk hitungan digital
(seperti Total Station, GNSS, dan lain-lain) terdiri dari print out data-data ukuran, hasil
hitungan dan hasil plotting bidang tanah. Jika tidak dimungkinkan, print out tersebut dapat
dibuat dalam beberapa halaman. Lampiran gambar ukur ditandatangani oleh juru ukur yang
melaksanakan pengukuran untuk setiap halamannya (jika lebih dari satu halaman).

Anda mungkin juga menyukai