0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan6 halaman

Pengertian dan Klasifikasi Tunarungu

Tunarungu adalah kondisi kurangnya pendengaran yang dapat dibedakan menjadi tuli dan kurang dengar, mempengaruhi perkembangan bahasa dan potensi anak. Klasifikasi tunarungu mencakup etiologis, anatomis fisiologis, dan taraf ketunarunguan berdasarkan ukuran audiometer. Identifikasi dan diagnostik anak tunarungu penting untuk memberikan intervensi pendidikan yang sesuai, melibatkan pemeriksaan audiometri dan asesmen psikologis untuk memahami dampak gangguan pendengaran.

Diunggah oleh

tabpatynadela
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan6 halaman

Pengertian dan Klasifikasi Tunarungu

Tunarungu adalah kondisi kurangnya pendengaran yang dapat dibedakan menjadi tuli dan kurang dengar, mempengaruhi perkembangan bahasa dan potensi anak. Klasifikasi tunarungu mencakup etiologis, anatomis fisiologis, dan taraf ketunarunguan berdasarkan ukuran audiometer. Identifikasi dan diagnostik anak tunarungu penting untuk memberikan intervensi pendidikan yang sesuai, melibatkan pemeriksaan audiometri dan asesmen psikologis untuk memahami dampak gangguan pendengaran.

Diunggah oleh

tabpatynadela
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUNARUNGGU

A. PENGERTIAN
Menurut Soemantri (1996) kata tuna rungu terdiri dari 2 kata, yaitu tuna dan rungu, yang
artinya tuna berarti kurang, dan rungu berarti kurang pendengaran. Jadi tuna rungu dapat
diartikan sebagai kurangnya pendengaran. Menurut Soemantri (1996) mengemukakan tuna
rungu adalah mereka yang kehilangan pendengaran baik sebagai maupun seluruhnya yang
menyebabkan pendengarannya tidak memiliki nilai fungsional dalam kehidupan sehari-hari.
Istilah tunarungu digunakan untuk orang yang mengalami gangguan pendengaran yang
mencakup tuli dan kurang dengar. Orang yang tuli adalah orang yang mengalami kehilangan
pendengaran (lebih dari 70 dB) yang mengakibatkan kesulitan dalam memproses informasi
bahasa melalui pendengarannya sehingga ia tidak dapat memahami pembicaraan orang lain
baik dengan memakai maupun tidak memakai alat bantu dengar. Orang yang kurang dengar
adalah orang yang mengalami kehilangan pendengaran (sekitar 27 sampai 69 dB) yang
biasanya dengan menggunakan alat bantu dengar, sisa pendengarannya memungkinkan untuk
memproses informasi
bahasa sehingga dapat memahami pembicaraan orang lain.

Anak tunarungu merupakan anak yang mengalami gangguan pendengaran yang


diklasifikasikan kedalam tuli (deaf) dan kurang pendengaran (hard of hearing).
Ketunarunguan memberikan dampak terhadap perkembangan bahasa dan bicaranya terutama
bagi anak tunarungu sejak lahir (prabahasa). Perkembangan berbahasa dan berbicara mereka
menjadi terhambat, sehingga berakibat juga pada keterhambatan dalam pengembangan
potensinya. Kondisi ketidakmampuan seseorang untuk mendengar sesuatu, baik secara total
maupun sebagian, dapat kita sebut sebagai tunarungu. Masa pemerolehan bahasa anak
tunarungu tidak dapat dilalui seperti halnya anak yang bisa mendengar. Jika anak sehat
mampu menghubungkan pengalaman dan lambang bahasa melalui pendengaran, pada anak
tunarungu tidak. Hal ini disebabkan karena adanya fungsi pada pendengarannya. Jadi, anak
tunarungu memperoleh bahasanya lebih difokuskan melalui fungsi penglihatannya. Namun,
tidak menutup kemungkinan dengan memaksimalkan fungsi pendengarannya, bagi siswa
tunarungu yang kurang dengar. Pemerolehan bahasa anak tunarungu yaitu memahami ujaran
melalui media membaca ujaran dan komunikasi total. Membaca ujaran merupakan sarana
yang berharga dalam program latihan komunikasi bagi anak tunarungu apabila memenuhi
persyaratan seperti keterampilan berbahasa tertentu, pengetahuan tentang topik yang
dibicarakan dan persyaratan teknis lain seperti berhadapan wajah pada jarak yang tak terlalu
jauh dari lawan bicara, penerangan yang cukup dan lain sebagainya. Dalam proses
komunikasi untuk menangkap ekspresi tersebut melalui mendengar, membaca ujaran, dan
membaca isyarat. Jadi, komponen komunikasi total adalah bicara, isyarat, ejaan jari,
mendengar, membaca ujaran, dan membaca isyarat.
[Link]
Anak tuna rungu dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok. Menurut Sastrowinoto
(dalam Suryani, 2009) mengklasifikasikan ketunarunguan sesuai dengan dasar-dasarnya,
yaitu:
a). Klasifikasi Secara Etiologis
1. Tuna rungu endogen atau turunan
2. Tuna rungu eksogen disebabkan penyakit atau kecelakaan

b). Secara Anatomis Fisiologis Tuna Rungu dibagi dalam:


1. Tuna rungu hantaran (konduktif)
2. Tuna rungu perceptive (syarat)
3. Tuna rungu campuran antara tuna rungu konduktif dan perceptive

c). Klasifikasi menurut terjadinya dibedakan menjadi:


1. Tuna rungu yang terjadi saat dala kandungan Ibu (pre natal)
2. Tuna rungu saat dilahirkan (neo natal)
3. Tuna rungu yang terjadi saat setelah dilahirkan (post natal)

d). Klasifikasi menurut Taraf Ketunarunguan atas dasar Ukuran Audiometer dibedakan
menjadi:
1. Tuna rungu taraf ringan antara 5-25 dB
2. Tuna rungu taraf sedang antara 26-50 dB
3. Tuna rungu taraf berat antara 51-75 dB 4. Tuna rungu taraf sangat berat >75 dB

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa klasifikasi anak tuna rungu menurut
taraf ketunarunguan atas dasar ukuran audiometer dibedakan menjadi sangat ringan: 5-25 dB,
sedang: 26-50 dB, taraf berat: 51-75 dB, taraf sangat berat: di atas 75 dB.

[Link]
Anak tuna rungu mempunyai ciri khusus yang membedakan mereka dengan anak normal.
Karakteristik anak tuna rungu yang dikemukakan oleh Soemantri (1996) sebagai berikut:

a). Ciri-ciri dalam segi kognitif


Pada umumnya intelegensi anak tuna rungu secara potensial sama dengan anak normal, tetapi
secara fungsional perkembangannya dipengaruhi oleh perkembangan bahasanya, keterbatasan
informasi dan daya abstraksi anak. Akibat ketunarunguan menghambat proses pencapaian
pengetahuan yang lebih luas. Dengan demikian perkembangan intelegensi secara fungsional
terhambat. Kerendahan tingkat intelegensi anak tuna rungu bukan berasal dari hambatan
intelektualnya yang rendah tetapi umumnya disebabkan karena intelegensinya tidak
mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Aspek intelegensinya yang terhambat adalah
yang bersifat verbal seperti merumuskan pengertian, menarik kesimpulan dan meramalkan
kejadian. Bimbingan yang teratur terutama berbahasa dapat membantu perkembangan
intelegensi anak.

b). Ciri-ciri dalam segi emosi


Kemiskinan akan pemahaman bahasa secara lisan maupun tulis sering menyebabkan anak
tuna rungu menafsirkan sesuatu secara negatif dan salah, dalam hal ini sering memberikan
tekanan pada emosinya yang akan menghambat perkembangan pribadinya dengan
menampilkan sikap menutup diri, bertindak agresif atau sebaliknya menampakkan
kebingungan dan keragu-raguan.

c). Ciri-ciri dalam segi sosial


Manusia sebagai makhluk sosial selalu ingin kebersamaan dengan orang lain, demikian juga
anak tuna rungu. Tetapi anak tuna rungu mempunyai hambatan dalam hubungan sosial
dengan lingkungannya karena kurang lancarnya komunikasi dengan lingkungan. Terkadang
lingkungan dimana anak tuna rungu berada kurang dapat menerima keberadaannya sehingga
tuna rungu merasa dirinya tidak berharga. Dengan demikian lingkunga yang demikian, besar
pengaruhnya terhadap perkembangan sosial anak tuna rungu. Kemiskinan bahasa anak tuna
rungu membuat ia tidak mampu terlibat secara baik dalam situasi sosialnya demikian juga
orang lain yang mengalami kesulitan memahami perasaan dan pikirannya karena tidak bisa
berkomunikasi dengan baik kepada tuna rungu.

d). Ciri-ciri dalam segi kepribadian


Kepribadian pada dasarnya merupakan keseluruhan sifat dan sikap pada seseorang yang
menentukan cara-caranya yang unik dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya.
Untuk mengetahui kepribadian tuna rungu perlu kita perhatikan bagaimana penyesuaian
mereka.
Perkembangan kepribadian terjadi dalam pergaulan dan perluasan pengalaman pada
umumnya dan diarahkan pada faktor anak sendiri. Faktor-faktor dalam diri anak tuna rungu
adalah ketidakmampuan menerima rangsangan pendengaran, kemiskinan bahasa, tidak
tetapnya emosi dan keterbatasan intelegensi dihubungkan dengan sikap lingkungan
terhadapnya maka perkembangan kepribadian tuna rungu akan terhambat.

D. IDENTIFIKASI ATAU DIAGNOSTIK


Identifikasi dan diagnostik anak tunarungu merupakan langkah awal yang sangat penting
dalam upaya memberikan layanan pendidikan dan intervensi yang sesuai. Proses ini bertujuan
untuk mengetahui tingkat, jenis, serta dampak gangguan pendengaran terhadap
perkembangan anak secara menyeluruh.
Menurut Wijaya, Sari, Hikmah, dan Hapidin (2024), identifikasi dini dapat dilakukan melalui
observasi terhadap respons anak terhadap suara di lingkungan sekitar. Anak yang
menunjukkan reaksi minim terhadap rangsangan bunyi, baik suara keras maupun lembut,
perlu dirujuk untuk evaluasi medis lebih lanjut. Mereka menekankan bahwa identifikasi yang
cepat memungkinkan anak memperoleh layanan intervensi lebih awal dan efektif.
Pemeriksaan audiometri merupakan prosedur utama dalam diagnostik medis anak tunarungu.
Tes ini mengukur ambang dengar anak melalui berbagai frekuensi dan volume suara, untuk
menentukan apakah gangguan pendengaran tergolong ringan, sedang, berat, atau sangat berat.
Menurut Azis (2023), pemeriksaan ini juga penting untuk mengetahui jenis gangguan
pendengaran, seperti konduktif, sensorineural, atau campuran, serta menentukan apakah anak
membutuhkan alat bantu dengar.
Selain pemeriksaan medis, asesmen lanjutan juga diperlukan untuk memahami dampak
ketunarunguan terhadap aspek kognitif dan akademik anak. Perwitasari (2018)
mengembangkan tes diagnostik untuk mengidentifikasi kemampuan multirepresentasi siswa
tunarungu, terutama dalam mata pelajaran seperti fisika. Tes ini berguna untuk mengetahui
bagaimana siswa memahami materi melalui representasi visual, verbal, dan simbolik, serta
untuk membantu guru dalam merancang strategi pembelajaran yang tepat.
Jika anak juga menunjukkan hambatan perkembangan intelektual, maka asesmen psikologis
diperlukan. Azis (2023) menyatakan bahwa asesmen ini mencakup pengukuran IQ dan
pengamatan kemampuan adaptif dalam tiga domain, yaitu konseptual, sosial, dan praktis.
Hasil asesmen ini penting untuk menentukan apakah anak memerlukan pendidikan khusus
dengan pendekatan individual.

Secara keseluruhan, proses identifikasi dan diagnostik anak tunarungu harus dilakukan secara
komprehensif, melibatkan kerja sama antara tenaga medis, psikolog, guru pendidikan khusus,
dan keluarga. Dengan pendekatan yang tepat, anak tunarungu dapat tumbuh dan berkembang
secara optimal sesuai dengan potensinya.
DAFTAR PUSTAKA

Soemantri, M. (1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Suryani. (2009). Penggunaan Metode Aisma Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Membaca
Permulaan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Bagi Anak Tunarungu Wicara Kelas II Sekolah
Dasar Luar Biasa di SLB ABCD YPALB Cepogo Boyolali Tahun 2008/2009. Skripsi.
Universitas Sebelas Maret.

Soemantri, M. (1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

Anda mungkin juga menyukai