0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan22 halaman

Manfaat dan Kandungan Alpukat untuk Kulit

Dokumen ini membahas tentang alpukat, termasuk klasifikasi, kandungan gizi, dan manfaatnya, terutama dalam kosmetik untuk perawatan kulit dan bibir. Selain itu, dijelaskan juga tentang kosmetik pelembab dan lip balm, termasuk pengertian, komponen, dan proses pembuatannya. Informasi ini memberikan wawasan tentang penggunaan alpukat dan produk kosmetik dalam menjaga kesehatan kulit dan bibir.

Diunggah oleh

rima melati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan22 halaman

Manfaat dan Kandungan Alpukat untuk Kulit

Dokumen ini membahas tentang alpukat, termasuk klasifikasi, kandungan gizi, dan manfaatnya, terutama dalam kosmetik untuk perawatan kulit dan bibir. Selain itu, dijelaskan juga tentang kosmetik pelembab dan lip balm, termasuk pengertian, komponen, dan proses pembuatannya. Informasi ini memberikan wawasan tentang penggunaan alpukat dan produk kosmetik dalam menjaga kesehatan kulit dan bibir.

Diunggah oleh

rima melati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori

1. Alpukat

Alpukat berasal dari Amerika Tengah yang beriklim tropis dan

hampir menyebar ke seluruh negara sub tropis dan tropis termasuk

Indonesia. Hampir semua orang mengenal dan menyukai buah

alpukat, buah alpukat mempunyai kandungan gizi tinggi

(Prasetyowati, 2010).

Gambar 2.1 Buah Alpukat


(Chandra, et al, 2013)

Berdasarkan klasifikasi, buah alpukat termasuk varietas Persea

americana Mill. Berikut ini merupakan klasifikasi buah alpukat :

Divisi : Spermathophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Ranales
Famili : Lauraceae
Marga : Persea
Varietas : Persea americana Mill
a) Kandungan Buah Alpukat

Berdasarkan skrining fitokimia, biji buah alpukat diketahui

mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder, yaitu alkaloid,

terpenoid, tannin, flavonoid dan saponin (Marlinda et al, 2012)

sedangkan hasil penelitian menurut Arukwe et al, 2012 dihasilkan

bahwa sampel yang diteliti mengandung saponin, fenol dan

flavonoid dalam jumlah yang cukup. Buah alpukat mengandung

lebih banyak lemak dan energi. Bijinya lebih banyak mengandung

lemak, protein dan energi sedangkan pada daunnya mengandung

lebih banyak protein, serat dan abu. Kandungan sampel yang

diteliti mengikuti urutan daun, buah, biji dalam hal konsentrasi.

Kandungan lain yang terdapat dalam buah alpukat adalah

lemak, karbohidrat, asam folat, dan protein. Buah alpukat

mempunyai potensi besar dimanfaatkan untuk kulit agar dapat

menjaga kelembapan kulit, mengurangi kerut dan kekeringan,

menghaluskan dan melunakkan kulit (dengan penambahan

humektan) serta untuk mengantarkan zat lain seperti tabir surya

yang bermanfaat untuk kulit (Iskandar et al, 2021).


Tabel 2.1 Kandungan Buah Alpukat

Komposisi Daun Buah Biji


(mg/100g) (mg/100g) (mg/100g

Saponin 1,29±0,08 0,14±0,01 19,21±2,81


Tannin
Flavonoid
Sianogenik 0,68±0,06 0,12±0,03 0,24±0,12
glikosida

Alkaloid 8,11±0,14 4,25±0,16 1,90±0,07

Fenol ND ND 0,06±0,02

Steroids
0,51±0,21 0,14±0,00 0.72±0,12

3,41±0,64 2,94±0,13 6,14±1,28

1.21±0.14 1.88±0.19 0.09±0.00

Sumber : Marlinda et al., 2012

b) Manfaat Buah Alpukat

Bagian tanaman alpukat yang banyak dimanfaatkan adalah

buahnya, salah satunya sebagai bahan dasar kosmetik. Buah alpukat

dimanfaatkan sebagai penghalus kulit, menghilangkan kerutan, membuat

kulit kenyal, terlihat lebih muda dan segar karena alpukat mengandung

vitamin yang lengkap diantaranya A, B, C, dan E. Manfaat vitamin A


adalah salah satu vitamin yang sangat berperan dalam pembentukan sel-

sel kulit dan mampu melembabkan kulit. Manfaat vitamin B2 adalah

membantu mencegah kerusakan kulit yang disebabkan oleh radikal bebas

dan menjaga kulit, kuku, serta rambut agar tetap sehat. Manfaat vitamin

B3 (niasin) adalah dapat melindungi dan menjaga kulit agar tetap sehat

dan vitamin ini juga memiliki sejumlah sifat antioksidan. Manfaat

vitamin C adalah berperan penting dalam mempertahankan kekebalan

tubuh, agar menjaga keseimbangan kadar minyak agar kulit tidak kering

dan dapat meningkatkan produksi kolagen pada kulit (Achroni, 2012).

Buah alpukat juga dimanfaatkan untuk mengatasi sariawan dan

antibakteri karena mengandung zat antibakteri seperti flavonoid, saponin,

alkanoid dan tanin (Leny, 2016). Flavonoid merupakan golongan

terbesar dari senyawa fenol yang efektif menghambat pertumbuhan virus,

bakteri, dan jamur (Kurniawan, et al. 2014).

Tanin memiliki kemampuan sebagai antibakteri yang dapat

merusak membrane pada sel bakteri. Tanin menyebabkan sel bakteri

mengkerut sehingga menyebabkan permeabilitas sel bakteri. Akibatnya,

metabolisme bakteri terganggu dan akhirnya lisi dan mati (Damayanti,

2014).

Alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri yang dapat

mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada bakteri sehingga

lapisan dinding sel tidak terbentuk utuh dan menyebabkan kematian sel.

Mekanisme kerja alkaloid yaitu melalui penghambatan sistem dinding sel


yang akan menyebabkan lisis pada sel sehingga sel akan mati (Husna,

2014).

Saponin memiliki sifat sebagai antibakteri yang dapat

meningkatkan permeabilitas membrane sel bakteri sehingga dapat

mengubah struktur, fungsi, dan menyebabkan membrane sel bakteri

rusak dan lisi (Rahmawati, 2014).

2. Bibir

a) Anatomi dan Fisiologi Kulit Bibir

Kulit bibir mengandung sel melanin yang sangat sedikit, pembuluh

darah lebih jelas terlihat melalui kulit bibir yang memberi warna bibir

kemerahan yang indah. Lapisan korneum pada kulit biasanya 15 sampai

16 lapisan untuk tujuan perlindungan. Lapisan korneum bibir

mengandung 3 sampai 4 lapisan dan sangat tipis disbanding dengan kulit

wajah biasa. Kulit bibir tidak memiliki folikel rambut dan tidak ada

kelenjar keringat yang berfungsi untuk melindungi bibir dari lingkungan

luar (Kadu, et al 2014).

Gambar 2.2 Struktur Kulit Bibir

Sumber : Satheesh dan Yadav, 2011


b) Bibir Kering

Bibir kering dan pecah-pecah merupakan gangguan yang umum

terjadi. Penyebab umum terjadinya bibir kering dan pecah-pecah yaitu

kerusakan sel keratin karena sinar matahari dan dehidrasi. Sel keratin

merupakan sel yang melindungi lapisan luar bibir. Paparan sinar matahari

menyebabkamn pecahnya sel keratin dan menjadi rusak. Sel yang rusak

akan terjadi terus menerus sampai sel tersebut terkelupas dan tumbuh sel

yang baru (Jacobsen, 2011).

Selain itu, yang menjadi penyebab bibir kering dan pecah-pecah

adalah dehidrasi. Air merupakan mineral yang sangat penting terhadap

kelembapan kulit. Dehidrasi yang terjadi karena asupan cairan yang tidak

cukup atau kehilangan cairan yang berlebihan disebabkan oleh pengaruh

dari lingkungan (Jacobsen, 2011).

3. Kosmetik Pelembab

a) Pengertian Kosmetik Pelembab

Kosmetika pelembab perlu dikenakan terutama pada kulit kering atau

kulit normal yang cenderung kering terutama jika si pemakai akan lama di

dalam lingkungan yang mengeringkan kulit, misalnya ruangan ber-AC.

Menurut (Tranggono dan Latifah, 2017) kosmetika pelembab dibedakan

atas dua tipe yaitu :

1) Kosmetika pelembab yang didasarkan pada lemak

Kosmetika yang didasarkan pada lemak akan membentuk lapisan

lemak di permukaan kulit untuk mencegah penguapan air kulit dan


menyebabkan kulit menjadi lembab dan lembut. Kosmetika pelembab

yang didasarkan pada lemak biasanya digunakan untuk produk

pelembab yang mengatasi infeksi kulit. Bahan yang bersifat lemak

yaitu asam lemak (asam linoleate, asam stearate, dan asam palmitat,

kolesterol dan ceramides (Maria dan Anis, 2020).

2) Kosmetika pelembab yang didasarkan pada gliserol

Kosmetika yang didasarkan pada gliserol atau humektan sejenis akan

membentuk lapisan yang bersifat higroskopis yang akan menyerap

uap air dari udara dan mempertahankannya di permukaan kulit.

Preparat ini membuat kulit nampak lebih halus dan mencegah

dehidrasi lapisan stratum corneum kulit. Bahan yang bersifat

humektan dan dapat menarik air ke kulit, diantaranya gliserin,

sorbitol, propilen glikol, hyaluronic acid, sodium, dan protein (Maria

dan Anis, 2020).

b) Bahan Dasar Kosmetika Pelembab

Bahan utama dalam kosmetika pelembab adalah lemak (lanolin, lemak

wool, fatty alcohol tinggi, lanette wax, glycerol monosteareate, dan lain-

lain) yang semuanya merupakan bahan pengemulsi tipe W/O. Sebagai

tambahan adalah campuran minyak seperti minyak tumbuhan, yang lebih

baik daripada mineral oils karena lebih muda bercampur dengan lemak

kulit, lebih mampu menembus sel-sel stratum corneum, dan memiliki

daya adhesi yang kuat (Retno dan Fatma, 2007).

4. Lipbalm
a) Pengertian Lip balm

Lip balm merupakan sediaan kosmetik dengan komponen utama

seperti lilin, lemak dan minyak dari ekstraksi alami atau yang disintesis

dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kekeringan dengan

meningkatkan kelembapan bibir dan melindungi pengaruh buruk

lingkungan pada bibir (Kwunsiriwong, 2016).

Aplikasi lip balm tidak memberikan efek warna seperti lipstick.

Lip balm hanya memberikan sedikit kesan basah dan cerah pada bibir.

Lip balm memang dirancang untuk melindungi dan menjaga

kelembapan bibir. Kandungan yang terdapat dalam lip balm adalah zat

pelembab dan vitamin untuk bibir (Muliyawan dan Suriana, 2013).

Saat lip balm dioleskan ke bibir, ia bertindak sebagai sealant

mencegah hilangnya kelembapan melalui penguapan. Perlindungan ini

memungkinkan bibir untuk rehidrasi melalui akumulasi kelembapan

pada antarmuka lip balm stratum corneum (Madans et al, 2012).

Manfaat penggunaan lip balm :

1) Lip balm memberikan nutrisi yang dibutuhkan agar bibir tetap

lembut dan sehat

2) Lip balm dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan

3) Produk lip balm membantu melindungi bibir dari keadaan luka,

kering, pecah-pecah dan cuaca dingin dan kering

4) Kontak produk dengan kulit tidak akan menyebabkan gesekan atau

kekeringan dan harus memungkinkan pembentukan lapisan


homogen di atas bibir untuk melindungi lendir labial yang rentan

terhadap faktor lingkungan seperti radiasi UV, kekeringan dan

polusi

5) Penggunaan kosmetik bibir alami untuk memperbaiki penampilan

wajah dan kondisi kulit bibir

b) Komponen Lip Balm

Lip balm merupakan pelembab bibir yang dikemas dalam bentuk semi

padat (semi solid) yang dibentuk dari bahan utama minyak, lemak, dan

lilin (Kadu, 2014). Adapun komponen utama dalam lip balm terdiri

dari:

1) Lilin

Secara kimia, wax (lilin) adalah campuran hidrokarbon dan asam

lemak yang kompleks dikombinasikan dengan ester. Lilin lebih

keras, kurang berminyak dan lebih rapuh dari pada lemak. Lilin

sangat tahan terhadap kelembapan, oksidasi, dan bakteri.

2) Lemak

Lemak yang biasa digunakam adalah campuran lemak padat yang

berfungsi untuk membentuk lapisan film pada bibir, memberi

tekstur yang lembut, mengurangi efek berkeringat dan pecah pada

lip balm. Fungsi yang lain dalam proses pembuatan lip balm adalah

sebagai pengikat dalam basis antara fase minyak dan fase lilin dan

sebagai bahan pendispersi untuk pigmen. Lemak padat yang biasa


digunakan dalam basis lip balm adalah lemak coklat, lanolin, lesitin,

minyak terhidrogenisasi dan lain-lain (Kadu et al, 2014).

3) Minyak

Asam lemak dapat berupa asam lemak jenuh atau tidak jenuh yang

menentukan stabilitas dari minyak. Minyak dengan asam lemak

jenuh tingkat tinggi (laurat, miristat, palmitat dan asam stearat)

termasuk minyak kelapa, minyak biji kapas, dan minyak kelapa

sawit. Minyak dengan tingkat asam lemak tak jenuh yang tinggi

(asam oleat, arakidonat, linoleat) misalnya minyak canola, minyak

zaitun, minyak jagung, minyak almond, minyak jarak dan minyak

alpukat. Minyak dengan asam lemak jenuh lebih stabil dan tidak

menjadi anyir secepat minyak tak jenuh. Namun, minyak dengan

asam lemak tidak jenuh lebih halus, lebih mahal, kurang berminyak,

dan mudah diserap oleh kulit (Kadu et al, 2014).

c) Pembuatan Lip Balm

Metode pembuatan lip balm secara umum sama dengan metode

pembuatan lipstick mengingat lip balm adalah salah satu jenis kosmetik

bibir, yang serupa denga lipstick. Perbedaan antara cara pembuatan lip

balm dengan lipstick terhadap pada tahap Colour-Grinding atau

penggilingan atau pencampuran bahan pewarna. Hal ini karena lip balm

jarang sekali mengandung pewarna karena tujuan sediaan sebagai

produk perawatan bibir bukan dekoratif. Pembuatan lip balm terbagi

menjadi 3 tahapan, yaitu :


1. Mixing / Pencampuran

Proses pencampuran bahan lip balm dilakukan dengan memastikan

seluruh bahan meleleh dan homogen dengan sempurna. Pemanasan

yang dilakukan tidak berlebihan, pengadukan bahan dilakukan

secara perlahan agar didapatkan campuran massa minyak yang

homogen. Massa minyak yang ingin disimpan dalam jangka waktu

lama dapat disimpan dalam wadah yang inert, tertutup rapat,

terhindar dari cahaya dan disimpan pada suhu rendah (Octaviani,

2014).

2. Molding / Pencetakan

Sebelum memasukkan lip balm ke dalam kemasan, terlebih dahulu

dibuat dalam bentuk stik (peluru), proses pengisian ke dalam

cetakan hanya dilakukan dengan menuangkan campuran/ massa

minyak yang telah dilebur dan homogen dalam keadaan panas

cetakan logam. Setelah formulasi didinginkan dan kompak, lip

balm yang telah dibentuk dikeluarkan dari cetakan (Mallon et al,

2014).

3. Flaming/ Pengkilapan

Pada langkah pembuatan lip balm sangat jarang dilakukan flaming.

Terkadang flaming hanya dilakukan pada ujung lip balm untuk

menghilangkan lubang-lubang kecil yang mungkin terbentuk

setelah molding sehingga akan terbentuk lip balm yang memiliki

permukaan mengkilap di seluruh bagian lip balm (Baki et al, 2015).


5. Ekstrak

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan

mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia hewani menggunakan pelarut

yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan

massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi

baku yang telah ditetapkan. Ekstrak cair (Extractum Liquidum) adalah

sediaan dari simplisia nabati yang mengandung etanol sebagai pelarut atau

sebagai pengawet. Ekstraksi atau penyaringan merupakan proses

pemisahan senyawa dari simplisia dengan menggunakan pelarut yang

sesuai (Farmakope Indonesia Edisi IV).

Ekstraksi secara umum dapat digolongkan menjadi dua yaitu

ekstraksi padat cair dan ektraksi cair-cair. Pada ekstraksi cair-cair,

senyawa yang dipisahkan terdapat dalam campuran yang berupa cairan

sedangkan ekstraksi padat-cair adalah suatu metode pemisahan senyawa

dari campuran yang berupa padatan (Anonim, 2012).

a) Metode Ekstraksi Padat Cair

Metode ekstraksi berdasarkan ada tidaknya proses pemanasan dapat

dibagi menjadi dua macam yaitu ekstraksi cara dingin dan ekstraksi

cara panas (Hamdani, 2009) :

1. Ekstraksi Cara Dingin

Pada metode ini tidak dilakukan pemanasan selama proses

ekstraksi berlangsung dengan tujuan agar senyawa yang diinginkan


tidak menjadi rusak. Beberapa jenis metode ekstraksi cara dingin

yaitu :

a) Maserasi atau dispersi

Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan menggunakan

pelarut diam atau dengan adanya pengadukan beberapa kali

pada suhu ruangan. Metode ini dapat dilakukan dengan cara

merendam bahan dengan sekali-sekali dilakukan pengadukan.

Pada umumnya perendaman dilakukan selama 24 jam

kemudian pelarut diganti dengan pelarut baru. Maserasi juga

dapat dilakukan dengan pengadukan secara sinambung

(maserasi kinetik). Kelebihan dari metode ini yaitu efektif

untuk senyawa yang tidak tahan panas (terdegradasi karena

panas), peralatan yang digunakan relative sederhana, murah,

dan mudah didapat. Namun, metode ini juga memiliki beberapa

kelemahan yaitu waktu ekstraksi yang lama, membutuhkan

pelarut dalam jumlah yang banyak, dan adanya kemungkinan

bahwa senyawa tertentu tidak dapat diesktrak karena

kelarutannya yang rendah pada suhu ruang (Sarker et al, 2006).

b) Perkolasi

Perkolasi merupakan metode ekstraksi dengan bahan yang

disusun secara unggul dengan menggunakan pelarut yang

selalu baru sampai prosesnya sempurna dan umumnya

dilakukan pada suhu ruangan. Prosedur metode ini yaitu bahan


direndam dengan pelarut kemudian pelarut baru dialirkan

secara terus-menerus sampai warna pelarut tidak lagi berwarna

atau tetap bening yang artinya sudah tidak ada lagi senyawa

yang terlarut (Sarker et al, 2006).

2. Ekstraksi Cara Panas

Pada metode ini melibatkan pemanasan selama proses ekstraksi

berlangsung. Adanya panas secara otomatis akan mempercepat

proses ekstraksi dibandingkan dengan cara dingin. Beberapa jenis

metode ekstraksi panas yaitu :

a) Ekstraksi refluks

Ekstraksi refluks merupakan metode ekstraksi yang dilakukan

pada titik didih pelarut tersebut, selama waktu dan sejumlah

pelarut tertentu dengan adanya pendingin baik (kondensor).

Pada umumnya dilakukan tiga sampai lima kali pengulangan

proses pada rafinat pertama. Kelebihan metode refluks adalah

padatan yang memiliki tekstur kasar dan tahan terhadap

pemanasan langsung dapat diesktrak dengan metode ini.

Kelemahan metode ini adalah membutuhkam jumlah pelarut

yang banyak (Irawan, 2010).

b) Ekstrak dengan Alat Soxhlet

Ekstraksi dengan alat Soxhlet merupakan ekstraksi dengan

pelarut yang selalu baru, umumnya dilakukan menggunakan

alat khusus sehingga balik (kondensor). Pada metode ini,


padatan disimpan dalam alat Soxhlet dan dipanaskan

sedangkan yang dipanaskan hanyalah pelarutnya. Pelarut

terdinginkan dalam kondensor kemudian mengekstraksi

padatan. Kelebihan metode Soxhlet adalah proses ekstraksi

berlangsung secara kontinu, memerlukan waktu ekstraksi yang

lebih sebentar dan jumlah pelarut yang lebih sedikit bila

dibandingkan dengan metode maserasi atau perkolasi.

Kelemahan dari metode ini adalah dapat menyebabkan

rusaknya solute atau komponen lainnya yang tidak tahan panas

karena pemanasan ekstrak yang dilakukan secara terus menerus

(Sarker et al, 2006 ; Prashant Tiwari et al, 2011).

b) Metode Ekstraksi Cair-Cair

Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu

campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair

terutama digunakan apabila pemisahan campuran dengan cara destilasi

tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan azeotrope

atau karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis (Indra

Wibawa, 2012).

6. Metode Maserasi

Maserasi merupakan salah satu metode ekstraksi yang dilakukan

dengan cara merendam simplisia nabati menggunakan pelarut tertentu selama

waktu tertentu dengan sesekali dilakukan pengadukan atau penggojokan

(Nurhasnawati, H et al, 2017).


a) Prinsip Kerja Maserasi

Prinsip kerja dari maserasi adalah proses melarutnya zat aktif

berdasarkan sifat kelarutannya dalam suatu pelarut (like dissolved like).

Ekstraksi zat aktif dilakukan dengan cara merendam simplisia nabati

dalam pelarut yang sesuai selama beberapa hari pada suhu kamar dan

terlindung dari cahaya. Pelarut digunakan akan menembus dinding sel dan

kemudian masuk ke dalam sel tanaman yang penuh dengan zat aktif.

Pertemuan antara zat aktif dan pelarut akan mengakibatkan terjadinya

proses pelarutan dimana zat aktif akan terlarut dalam pelarut. Pelarut yang

berada di dalam sel mengandung zat aktif sementara pelarut yang berada

di luar sel belum terisi zat aktif sehingga terjadi ketidak seimbangan antara

konsentrasi zat aktif di dalam dengan konsentrasi zat aktif yang berada di

luar sel.

Perbedaan konsentrasi ini akan mengakibatkan terjadinya proses

difusi, dimana larutan dengan konsentrasi tinggi akan terdesak keluar sel

dan digantikan oleh pelarut dengan konsentrasi rendah. Peristiwa ini

terjadi berulang-ulang sampai didapat suatu keseimbangan konsentrasi

larutan antara di dalam sel dengan konsentrasi larutan di luar sel

(Nurhasnawati H et al, 2017).

b) Pengerjaan Maserasi

Maserasi biasanya dilakukan pada suhu antara 15°C-20°C dalam

waktu selama 3 hari sampai zat aktif yang dikehendaki larut. Kecuali

dinyatakan lain, maserasi dilakukan dengan cara merendam 10 bagian


simplisia atau campuran simplisia dengan derajat kehalusan tertentu,

dimasukkan ke dalam bejana kemudian dituangi dengan 70 bagian cairan

penyari, ditutup dan dibiarkan selama 3-5 hari pada tempat yang

terlindung dari cahaya.

Diaduk berulang-ulang, disekai dan diperas. Ampas dari maserasi

dicuci menggunakan cairan penyari secukupnya sampai diperoleh 100

bagian sari. Bejana ditutup dan dibiarkan selama 2 hari di tempat sejuk

dan terlindung dari cahaya matahari kemudian pisahkan endapan yang

diperoleh. Maserasi merupakan metode sederhana dan paling banyak

digunakan karena metode ini sesuai dan baik untuk skala kecil maupun

skala industri. Langkah-langkah pengerjaan maserasi adalah sebagai

berikut :

1) Simplisia dimasukkan ke dalam wadah yang bersifat inert dan tertutup

rapat pada suhu kamar

2) Simplisia kemudian direndam dengan pelarut yang cocok selama

beberapa hari sambal sesekali diaduk

3) Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dipisahkan dari sampel dengan

cara penyaringan

c) Pelarut yang Digunakan dalam Maserasi

Pelarut yang digunakan pada maserasi adalah air, etanol, etanol-air atau eter.

Pilihan utama untuk pelarut pada maserasi adalah etanol karena etanol

memiliki beberapa keunggulan sebagai pelarut diantaranya yaitu :

1) Etanol bersifat lebih selektif


2) Dapat menghambat pertumbuhan kapang dan kuman

3) Bersifat non toksik (tidak beracun)

4) Etanol bersifat netral

5) Memiliki daya absorbs yang baik

6) Dapat bercampur dengan air pada berbagai perbandingan

7) Panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit

d) Kelebihan dan Kekurangan Ekstraksi Secara Maserasi

Ekstraksi secara maserasi tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang

dimiliki. Berikut ini adalah kelebihan dan kekurangan metode maserasi yaitu:

a) Kelebihan metode maserasi

1) Teknik pengerjaan relative sederhana dan mudah dilakukan

2) Biaya operasionalnya relative rendah

3) Dapat digunakan untuk mengekstraksi senyawa yang bersifat

termolabil karena maserasi dilakukan tanpa pemanasan

4) Proses ekstraksi lebih hemat penyari

b) Kekurangan metode maserasi

1) Proses penyariannya tidak sempurna karena zat aktif hanya mampu

terkestraksi sebesar 50%

2) Pelarut yang digunakan cukup banyak

3) Kemungkinan besar ada beberapa senyawa yang hilang saat ekstraksi

4) Beberapa senyawa sulit diesktraksi pada suhu kamar

5) Penggunaan pelarut air akan membutuhkan bahan tambahan seperti

pengawet yang diberikan pada awal ekstraksi


7. Uji Efektivitas Sediaan Lipbalm
a) Uji Organoleptis

Uji organoleptis adalah uji indera atau uji sensori sendiri merupakan cara

pengujian dengan menggunakan indera manusia sebagai alat utama untuk

pengukuran daya penerimaan terhadap produk (Shfali dan Sudesh, 2007).

b) Uji Homogenitas

Masing- masing sediaan diperiksa homogenitasnya dengan cara

mengoleskan 0,1 gram sampel sediaan pada kaca transparan. Sediaan

harud menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya

butir-butir kasar (DepKes RI, 2014).

c) Uji pH

Uji pH dilakukan dengan menggunakan indikator pH Universal dan

masing-masing formula direplikasi 3 kali. Universal indikator pH

dicelupkan ke dalam sediaan lip balm dan dibiarkan beberapa detik, lalu

warna pada kertas dibandingkan dengan pembanding pada kemasan.

Pemeriksaan suhu pH sediaan dilakukan dari masing-masing sediaan

selama penyimpanan pada suhu kamar 14 hari.

d) Uji Suhu Lebur Sediaan

Metode pengamatan suhu lebur lip balm yang digunakan dalam penelitian

adalah dengan cara memasukkan lip balm ke dalam oven dengan suhu

awal 50°C selama 15 menit, diamati apakah melebur atau tidak. Setelah

itu, suhu dinaikkan 1°C setiap 15 menit dan diamati pada suhu berapa lip

balm mulai melebur (Tranggono dan Latifah, 2007).


B. Kerangka Teori

Buah Alpukat (Persea americana

Mill)

Ekstrak Buah Alpukat

Vitamin E

Kosmetik
Lip balm

Gambar 2.3 Kerangka Teori

C. Kerangka Konsep

Variabel Variabel Terikat Parameter

Homogenitas Sediaan harus


menunjukkan susunan yang
homogen dan tidak terlihat
adanya butir- butir kasar

Lipbalm dari ekstrak Sediaan lip balm yang baik


buah alpukat (Persea Organoleptik menghasilkam warna dan
americana Mill) warna dan bau yang khas

Sediaan lip balm yang baik


memiliki pH fisiologis kulit
Penentuan pH 4,5-6,5
Sediaan lip balm yang baik
memiliki suhu bibir
Suhu Lebur bervariasi 36-38 °C
Sediaan

Gambar 2.4. Kerangka Konsep

D. Hipotesis

Formulasi lip balm ekstrak buah alpukat (Persea americana Mill) memiliki

stabilitas fisik lip balm yang baik serta efektif dalam melembabkan bibir.

Anda mungkin juga menyukai