BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Alpukat
Alpukat berasal dari Amerika Tengah yang beriklim tropis dan
hampir menyebar ke seluruh negara sub tropis dan tropis termasuk
Indonesia. Hampir semua orang mengenal dan menyukai buah
alpukat, buah alpukat mempunyai kandungan gizi tinggi
(Prasetyowati, 2010).
Gambar 2.1 Buah Alpukat
(Chandra, et al, 2013)
Berdasarkan klasifikasi, buah alpukat termasuk varietas Persea
americana Mill. Berikut ini merupakan klasifikasi buah alpukat :
Divisi : Spermathophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Ranales
Famili : Lauraceae
Marga : Persea
Varietas : Persea americana Mill
a) Kandungan Buah Alpukat
Berdasarkan skrining fitokimia, biji buah alpukat diketahui
mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder, yaitu alkaloid,
terpenoid, tannin, flavonoid dan saponin (Marlinda et al, 2012)
sedangkan hasil penelitian menurut Arukwe et al, 2012 dihasilkan
bahwa sampel yang diteliti mengandung saponin, fenol dan
flavonoid dalam jumlah yang cukup. Buah alpukat mengandung
lebih banyak lemak dan energi. Bijinya lebih banyak mengandung
lemak, protein dan energi sedangkan pada daunnya mengandung
lebih banyak protein, serat dan abu. Kandungan sampel yang
diteliti mengikuti urutan daun, buah, biji dalam hal konsentrasi.
Kandungan lain yang terdapat dalam buah alpukat adalah
lemak, karbohidrat, asam folat, dan protein. Buah alpukat
mempunyai potensi besar dimanfaatkan untuk kulit agar dapat
menjaga kelembapan kulit, mengurangi kerut dan kekeringan,
menghaluskan dan melunakkan kulit (dengan penambahan
humektan) serta untuk mengantarkan zat lain seperti tabir surya
yang bermanfaat untuk kulit (Iskandar et al, 2021).
Tabel 2.1 Kandungan Buah Alpukat
Komposisi Daun Buah Biji
(mg/100g) (mg/100g) (mg/100g
Saponin 1,29±0,08 0,14±0,01 19,21±2,81
Tannin
Flavonoid
Sianogenik 0,68±0,06 0,12±0,03 0,24±0,12
glikosida
Alkaloid 8,11±0,14 4,25±0,16 1,90±0,07
Fenol ND ND 0,06±0,02
Steroids
0,51±0,21 0,14±0,00 0.72±0,12
3,41±0,64 2,94±0,13 6,14±1,28
1.21±0.14 1.88±0.19 0.09±0.00
Sumber : Marlinda et al., 2012
b) Manfaat Buah Alpukat
Bagian tanaman alpukat yang banyak dimanfaatkan adalah
buahnya, salah satunya sebagai bahan dasar kosmetik. Buah alpukat
dimanfaatkan sebagai penghalus kulit, menghilangkan kerutan, membuat
kulit kenyal, terlihat lebih muda dan segar karena alpukat mengandung
vitamin yang lengkap diantaranya A, B, C, dan E. Manfaat vitamin A
adalah salah satu vitamin yang sangat berperan dalam pembentukan sel-
sel kulit dan mampu melembabkan kulit. Manfaat vitamin B2 adalah
membantu mencegah kerusakan kulit yang disebabkan oleh radikal bebas
dan menjaga kulit, kuku, serta rambut agar tetap sehat. Manfaat vitamin
B3 (niasin) adalah dapat melindungi dan menjaga kulit agar tetap sehat
dan vitamin ini juga memiliki sejumlah sifat antioksidan. Manfaat
vitamin C adalah berperan penting dalam mempertahankan kekebalan
tubuh, agar menjaga keseimbangan kadar minyak agar kulit tidak kering
dan dapat meningkatkan produksi kolagen pada kulit (Achroni, 2012).
Buah alpukat juga dimanfaatkan untuk mengatasi sariawan dan
antibakteri karena mengandung zat antibakteri seperti flavonoid, saponin,
alkanoid dan tanin (Leny, 2016). Flavonoid merupakan golongan
terbesar dari senyawa fenol yang efektif menghambat pertumbuhan virus,
bakteri, dan jamur (Kurniawan, et al. 2014).
Tanin memiliki kemampuan sebagai antibakteri yang dapat
merusak membrane pada sel bakteri. Tanin menyebabkan sel bakteri
mengkerut sehingga menyebabkan permeabilitas sel bakteri. Akibatnya,
metabolisme bakteri terganggu dan akhirnya lisi dan mati (Damayanti,
2014).
Alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri yang dapat
mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada bakteri sehingga
lapisan dinding sel tidak terbentuk utuh dan menyebabkan kematian sel.
Mekanisme kerja alkaloid yaitu melalui penghambatan sistem dinding sel
yang akan menyebabkan lisis pada sel sehingga sel akan mati (Husna,
2014).
Saponin memiliki sifat sebagai antibakteri yang dapat
meningkatkan permeabilitas membrane sel bakteri sehingga dapat
mengubah struktur, fungsi, dan menyebabkan membrane sel bakteri
rusak dan lisi (Rahmawati, 2014).
2. Bibir
a) Anatomi dan Fisiologi Kulit Bibir
Kulit bibir mengandung sel melanin yang sangat sedikit, pembuluh
darah lebih jelas terlihat melalui kulit bibir yang memberi warna bibir
kemerahan yang indah. Lapisan korneum pada kulit biasanya 15 sampai
16 lapisan untuk tujuan perlindungan. Lapisan korneum bibir
mengandung 3 sampai 4 lapisan dan sangat tipis disbanding dengan kulit
wajah biasa. Kulit bibir tidak memiliki folikel rambut dan tidak ada
kelenjar keringat yang berfungsi untuk melindungi bibir dari lingkungan
luar (Kadu, et al 2014).
Gambar 2.2 Struktur Kulit Bibir
Sumber : Satheesh dan Yadav, 2011
b) Bibir Kering
Bibir kering dan pecah-pecah merupakan gangguan yang umum
terjadi. Penyebab umum terjadinya bibir kering dan pecah-pecah yaitu
kerusakan sel keratin karena sinar matahari dan dehidrasi. Sel keratin
merupakan sel yang melindungi lapisan luar bibir. Paparan sinar matahari
menyebabkamn pecahnya sel keratin dan menjadi rusak. Sel yang rusak
akan terjadi terus menerus sampai sel tersebut terkelupas dan tumbuh sel
yang baru (Jacobsen, 2011).
Selain itu, yang menjadi penyebab bibir kering dan pecah-pecah
adalah dehidrasi. Air merupakan mineral yang sangat penting terhadap
kelembapan kulit. Dehidrasi yang terjadi karena asupan cairan yang tidak
cukup atau kehilangan cairan yang berlebihan disebabkan oleh pengaruh
dari lingkungan (Jacobsen, 2011).
3. Kosmetik Pelembab
a) Pengertian Kosmetik Pelembab
Kosmetika pelembab perlu dikenakan terutama pada kulit kering atau
kulit normal yang cenderung kering terutama jika si pemakai akan lama di
dalam lingkungan yang mengeringkan kulit, misalnya ruangan ber-AC.
Menurut (Tranggono dan Latifah, 2017) kosmetika pelembab dibedakan
atas dua tipe yaitu :
1) Kosmetika pelembab yang didasarkan pada lemak
Kosmetika yang didasarkan pada lemak akan membentuk lapisan
lemak di permukaan kulit untuk mencegah penguapan air kulit dan
menyebabkan kulit menjadi lembab dan lembut. Kosmetika pelembab
yang didasarkan pada lemak biasanya digunakan untuk produk
pelembab yang mengatasi infeksi kulit. Bahan yang bersifat lemak
yaitu asam lemak (asam linoleate, asam stearate, dan asam palmitat,
kolesterol dan ceramides (Maria dan Anis, 2020).
2) Kosmetika pelembab yang didasarkan pada gliserol
Kosmetika yang didasarkan pada gliserol atau humektan sejenis akan
membentuk lapisan yang bersifat higroskopis yang akan menyerap
uap air dari udara dan mempertahankannya di permukaan kulit.
Preparat ini membuat kulit nampak lebih halus dan mencegah
dehidrasi lapisan stratum corneum kulit. Bahan yang bersifat
humektan dan dapat menarik air ke kulit, diantaranya gliserin,
sorbitol, propilen glikol, hyaluronic acid, sodium, dan protein (Maria
dan Anis, 2020).
b) Bahan Dasar Kosmetika Pelembab
Bahan utama dalam kosmetika pelembab adalah lemak (lanolin, lemak
wool, fatty alcohol tinggi, lanette wax, glycerol monosteareate, dan lain-
lain) yang semuanya merupakan bahan pengemulsi tipe W/O. Sebagai
tambahan adalah campuran minyak seperti minyak tumbuhan, yang lebih
baik daripada mineral oils karena lebih muda bercampur dengan lemak
kulit, lebih mampu menembus sel-sel stratum corneum, dan memiliki
daya adhesi yang kuat (Retno dan Fatma, 2007).
4. Lipbalm
a) Pengertian Lip balm
Lip balm merupakan sediaan kosmetik dengan komponen utama
seperti lilin, lemak dan minyak dari ekstraksi alami atau yang disintesis
dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kekeringan dengan
meningkatkan kelembapan bibir dan melindungi pengaruh buruk
lingkungan pada bibir (Kwunsiriwong, 2016).
Aplikasi lip balm tidak memberikan efek warna seperti lipstick.
Lip balm hanya memberikan sedikit kesan basah dan cerah pada bibir.
Lip balm memang dirancang untuk melindungi dan menjaga
kelembapan bibir. Kandungan yang terdapat dalam lip balm adalah zat
pelembab dan vitamin untuk bibir (Muliyawan dan Suriana, 2013).
Saat lip balm dioleskan ke bibir, ia bertindak sebagai sealant
mencegah hilangnya kelembapan melalui penguapan. Perlindungan ini
memungkinkan bibir untuk rehidrasi melalui akumulasi kelembapan
pada antarmuka lip balm stratum corneum (Madans et al, 2012).
Manfaat penggunaan lip balm :
1) Lip balm memberikan nutrisi yang dibutuhkan agar bibir tetap
lembut dan sehat
2) Lip balm dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan
3) Produk lip balm membantu melindungi bibir dari keadaan luka,
kering, pecah-pecah dan cuaca dingin dan kering
4) Kontak produk dengan kulit tidak akan menyebabkan gesekan atau
kekeringan dan harus memungkinkan pembentukan lapisan
homogen di atas bibir untuk melindungi lendir labial yang rentan
terhadap faktor lingkungan seperti radiasi UV, kekeringan dan
polusi
5) Penggunaan kosmetik bibir alami untuk memperbaiki penampilan
wajah dan kondisi kulit bibir
b) Komponen Lip Balm
Lip balm merupakan pelembab bibir yang dikemas dalam bentuk semi
padat (semi solid) yang dibentuk dari bahan utama minyak, lemak, dan
lilin (Kadu, 2014). Adapun komponen utama dalam lip balm terdiri
dari:
1) Lilin
Secara kimia, wax (lilin) adalah campuran hidrokarbon dan asam
lemak yang kompleks dikombinasikan dengan ester. Lilin lebih
keras, kurang berminyak dan lebih rapuh dari pada lemak. Lilin
sangat tahan terhadap kelembapan, oksidasi, dan bakteri.
2) Lemak
Lemak yang biasa digunakam adalah campuran lemak padat yang
berfungsi untuk membentuk lapisan film pada bibir, memberi
tekstur yang lembut, mengurangi efek berkeringat dan pecah pada
lip balm. Fungsi yang lain dalam proses pembuatan lip balm adalah
sebagai pengikat dalam basis antara fase minyak dan fase lilin dan
sebagai bahan pendispersi untuk pigmen. Lemak padat yang biasa
digunakan dalam basis lip balm adalah lemak coklat, lanolin, lesitin,
minyak terhidrogenisasi dan lain-lain (Kadu et al, 2014).
3) Minyak
Asam lemak dapat berupa asam lemak jenuh atau tidak jenuh yang
menentukan stabilitas dari minyak. Minyak dengan asam lemak
jenuh tingkat tinggi (laurat, miristat, palmitat dan asam stearat)
termasuk minyak kelapa, minyak biji kapas, dan minyak kelapa
sawit. Minyak dengan tingkat asam lemak tak jenuh yang tinggi
(asam oleat, arakidonat, linoleat) misalnya minyak canola, minyak
zaitun, minyak jagung, minyak almond, minyak jarak dan minyak
alpukat. Minyak dengan asam lemak jenuh lebih stabil dan tidak
menjadi anyir secepat minyak tak jenuh. Namun, minyak dengan
asam lemak tidak jenuh lebih halus, lebih mahal, kurang berminyak,
dan mudah diserap oleh kulit (Kadu et al, 2014).
c) Pembuatan Lip Balm
Metode pembuatan lip balm secara umum sama dengan metode
pembuatan lipstick mengingat lip balm adalah salah satu jenis kosmetik
bibir, yang serupa denga lipstick. Perbedaan antara cara pembuatan lip
balm dengan lipstick terhadap pada tahap Colour-Grinding atau
penggilingan atau pencampuran bahan pewarna. Hal ini karena lip balm
jarang sekali mengandung pewarna karena tujuan sediaan sebagai
produk perawatan bibir bukan dekoratif. Pembuatan lip balm terbagi
menjadi 3 tahapan, yaitu :
1. Mixing / Pencampuran
Proses pencampuran bahan lip balm dilakukan dengan memastikan
seluruh bahan meleleh dan homogen dengan sempurna. Pemanasan
yang dilakukan tidak berlebihan, pengadukan bahan dilakukan
secara perlahan agar didapatkan campuran massa minyak yang
homogen. Massa minyak yang ingin disimpan dalam jangka waktu
lama dapat disimpan dalam wadah yang inert, tertutup rapat,
terhindar dari cahaya dan disimpan pada suhu rendah (Octaviani,
2014).
2. Molding / Pencetakan
Sebelum memasukkan lip balm ke dalam kemasan, terlebih dahulu
dibuat dalam bentuk stik (peluru), proses pengisian ke dalam
cetakan hanya dilakukan dengan menuangkan campuran/ massa
minyak yang telah dilebur dan homogen dalam keadaan panas
cetakan logam. Setelah formulasi didinginkan dan kompak, lip
balm yang telah dibentuk dikeluarkan dari cetakan (Mallon et al,
2014).
3. Flaming/ Pengkilapan
Pada langkah pembuatan lip balm sangat jarang dilakukan flaming.
Terkadang flaming hanya dilakukan pada ujung lip balm untuk
menghilangkan lubang-lubang kecil yang mungkin terbentuk
setelah molding sehingga akan terbentuk lip balm yang memiliki
permukaan mengkilap di seluruh bagian lip balm (Baki et al, 2015).
5. Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan
mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia hewani menggunakan pelarut
yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan
massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi
baku yang telah ditetapkan. Ekstrak cair (Extractum Liquidum) adalah
sediaan dari simplisia nabati yang mengandung etanol sebagai pelarut atau
sebagai pengawet. Ekstraksi atau penyaringan merupakan proses
pemisahan senyawa dari simplisia dengan menggunakan pelarut yang
sesuai (Farmakope Indonesia Edisi IV).
Ekstraksi secara umum dapat digolongkan menjadi dua yaitu
ekstraksi padat cair dan ektraksi cair-cair. Pada ekstraksi cair-cair,
senyawa yang dipisahkan terdapat dalam campuran yang berupa cairan
sedangkan ekstraksi padat-cair adalah suatu metode pemisahan senyawa
dari campuran yang berupa padatan (Anonim, 2012).
a) Metode Ekstraksi Padat Cair
Metode ekstraksi berdasarkan ada tidaknya proses pemanasan dapat
dibagi menjadi dua macam yaitu ekstraksi cara dingin dan ekstraksi
cara panas (Hamdani, 2009) :
1. Ekstraksi Cara Dingin
Pada metode ini tidak dilakukan pemanasan selama proses
ekstraksi berlangsung dengan tujuan agar senyawa yang diinginkan
tidak menjadi rusak. Beberapa jenis metode ekstraksi cara dingin
yaitu :
a) Maserasi atau dispersi
Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan menggunakan
pelarut diam atau dengan adanya pengadukan beberapa kali
pada suhu ruangan. Metode ini dapat dilakukan dengan cara
merendam bahan dengan sekali-sekali dilakukan pengadukan.
Pada umumnya perendaman dilakukan selama 24 jam
kemudian pelarut diganti dengan pelarut baru. Maserasi juga
dapat dilakukan dengan pengadukan secara sinambung
(maserasi kinetik). Kelebihan dari metode ini yaitu efektif
untuk senyawa yang tidak tahan panas (terdegradasi karena
panas), peralatan yang digunakan relative sederhana, murah,
dan mudah didapat. Namun, metode ini juga memiliki beberapa
kelemahan yaitu waktu ekstraksi yang lama, membutuhkan
pelarut dalam jumlah yang banyak, dan adanya kemungkinan
bahwa senyawa tertentu tidak dapat diesktrak karena
kelarutannya yang rendah pada suhu ruang (Sarker et al, 2006).
b) Perkolasi
Perkolasi merupakan metode ekstraksi dengan bahan yang
disusun secara unggul dengan menggunakan pelarut yang
selalu baru sampai prosesnya sempurna dan umumnya
dilakukan pada suhu ruangan. Prosedur metode ini yaitu bahan
direndam dengan pelarut kemudian pelarut baru dialirkan
secara terus-menerus sampai warna pelarut tidak lagi berwarna
atau tetap bening yang artinya sudah tidak ada lagi senyawa
yang terlarut (Sarker et al, 2006).
2. Ekstraksi Cara Panas
Pada metode ini melibatkan pemanasan selama proses ekstraksi
berlangsung. Adanya panas secara otomatis akan mempercepat
proses ekstraksi dibandingkan dengan cara dingin. Beberapa jenis
metode ekstraksi panas yaitu :
a) Ekstraksi refluks
Ekstraksi refluks merupakan metode ekstraksi yang dilakukan
pada titik didih pelarut tersebut, selama waktu dan sejumlah
pelarut tertentu dengan adanya pendingin baik (kondensor).
Pada umumnya dilakukan tiga sampai lima kali pengulangan
proses pada rafinat pertama. Kelebihan metode refluks adalah
padatan yang memiliki tekstur kasar dan tahan terhadap
pemanasan langsung dapat diesktrak dengan metode ini.
Kelemahan metode ini adalah membutuhkam jumlah pelarut
yang banyak (Irawan, 2010).
b) Ekstrak dengan Alat Soxhlet
Ekstraksi dengan alat Soxhlet merupakan ekstraksi dengan
pelarut yang selalu baru, umumnya dilakukan menggunakan
alat khusus sehingga balik (kondensor). Pada metode ini,
padatan disimpan dalam alat Soxhlet dan dipanaskan
sedangkan yang dipanaskan hanyalah pelarutnya. Pelarut
terdinginkan dalam kondensor kemudian mengekstraksi
padatan. Kelebihan metode Soxhlet adalah proses ekstraksi
berlangsung secara kontinu, memerlukan waktu ekstraksi yang
lebih sebentar dan jumlah pelarut yang lebih sedikit bila
dibandingkan dengan metode maserasi atau perkolasi.
Kelemahan dari metode ini adalah dapat menyebabkan
rusaknya solute atau komponen lainnya yang tidak tahan panas
karena pemanasan ekstrak yang dilakukan secara terus menerus
(Sarker et al, 2006 ; Prashant Tiwari et al, 2011).
b) Metode Ekstraksi Cair-Cair
Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu
campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair
terutama digunakan apabila pemisahan campuran dengan cara destilasi
tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan azeotrope
atau karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis (Indra
Wibawa, 2012).
6. Metode Maserasi
Maserasi merupakan salah satu metode ekstraksi yang dilakukan
dengan cara merendam simplisia nabati menggunakan pelarut tertentu selama
waktu tertentu dengan sesekali dilakukan pengadukan atau penggojokan
(Nurhasnawati, H et al, 2017).
a) Prinsip Kerja Maserasi
Prinsip kerja dari maserasi adalah proses melarutnya zat aktif
berdasarkan sifat kelarutannya dalam suatu pelarut (like dissolved like).
Ekstraksi zat aktif dilakukan dengan cara merendam simplisia nabati
dalam pelarut yang sesuai selama beberapa hari pada suhu kamar dan
terlindung dari cahaya. Pelarut digunakan akan menembus dinding sel dan
kemudian masuk ke dalam sel tanaman yang penuh dengan zat aktif.
Pertemuan antara zat aktif dan pelarut akan mengakibatkan terjadinya
proses pelarutan dimana zat aktif akan terlarut dalam pelarut. Pelarut yang
berada di dalam sel mengandung zat aktif sementara pelarut yang berada
di luar sel belum terisi zat aktif sehingga terjadi ketidak seimbangan antara
konsentrasi zat aktif di dalam dengan konsentrasi zat aktif yang berada di
luar sel.
Perbedaan konsentrasi ini akan mengakibatkan terjadinya proses
difusi, dimana larutan dengan konsentrasi tinggi akan terdesak keluar sel
dan digantikan oleh pelarut dengan konsentrasi rendah. Peristiwa ini
terjadi berulang-ulang sampai didapat suatu keseimbangan konsentrasi
larutan antara di dalam sel dengan konsentrasi larutan di luar sel
(Nurhasnawati H et al, 2017).
b) Pengerjaan Maserasi
Maserasi biasanya dilakukan pada suhu antara 15°C-20°C dalam
waktu selama 3 hari sampai zat aktif yang dikehendaki larut. Kecuali
dinyatakan lain, maserasi dilakukan dengan cara merendam 10 bagian
simplisia atau campuran simplisia dengan derajat kehalusan tertentu,
dimasukkan ke dalam bejana kemudian dituangi dengan 70 bagian cairan
penyari, ditutup dan dibiarkan selama 3-5 hari pada tempat yang
terlindung dari cahaya.
Diaduk berulang-ulang, disekai dan diperas. Ampas dari maserasi
dicuci menggunakan cairan penyari secukupnya sampai diperoleh 100
bagian sari. Bejana ditutup dan dibiarkan selama 2 hari di tempat sejuk
dan terlindung dari cahaya matahari kemudian pisahkan endapan yang
diperoleh. Maserasi merupakan metode sederhana dan paling banyak
digunakan karena metode ini sesuai dan baik untuk skala kecil maupun
skala industri. Langkah-langkah pengerjaan maserasi adalah sebagai
berikut :
1) Simplisia dimasukkan ke dalam wadah yang bersifat inert dan tertutup
rapat pada suhu kamar
2) Simplisia kemudian direndam dengan pelarut yang cocok selama
beberapa hari sambal sesekali diaduk
3) Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dipisahkan dari sampel dengan
cara penyaringan
c) Pelarut yang Digunakan dalam Maserasi
Pelarut yang digunakan pada maserasi adalah air, etanol, etanol-air atau eter.
Pilihan utama untuk pelarut pada maserasi adalah etanol karena etanol
memiliki beberapa keunggulan sebagai pelarut diantaranya yaitu :
1) Etanol bersifat lebih selektif
2) Dapat menghambat pertumbuhan kapang dan kuman
3) Bersifat non toksik (tidak beracun)
4) Etanol bersifat netral
5) Memiliki daya absorbs yang baik
6) Dapat bercampur dengan air pada berbagai perbandingan
7) Panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit
d) Kelebihan dan Kekurangan Ekstraksi Secara Maserasi
Ekstraksi secara maserasi tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang
dimiliki. Berikut ini adalah kelebihan dan kekurangan metode maserasi yaitu:
a) Kelebihan metode maserasi
1) Teknik pengerjaan relative sederhana dan mudah dilakukan
2) Biaya operasionalnya relative rendah
3) Dapat digunakan untuk mengekstraksi senyawa yang bersifat
termolabil karena maserasi dilakukan tanpa pemanasan
4) Proses ekstraksi lebih hemat penyari
b) Kekurangan metode maserasi
1) Proses penyariannya tidak sempurna karena zat aktif hanya mampu
terkestraksi sebesar 50%
2) Pelarut yang digunakan cukup banyak
3) Kemungkinan besar ada beberapa senyawa yang hilang saat ekstraksi
4) Beberapa senyawa sulit diesktraksi pada suhu kamar
5) Penggunaan pelarut air akan membutuhkan bahan tambahan seperti
pengawet yang diberikan pada awal ekstraksi
7. Uji Efektivitas Sediaan Lipbalm
a) Uji Organoleptis
Uji organoleptis adalah uji indera atau uji sensori sendiri merupakan cara
pengujian dengan menggunakan indera manusia sebagai alat utama untuk
pengukuran daya penerimaan terhadap produk (Shfali dan Sudesh, 2007).
b) Uji Homogenitas
Masing- masing sediaan diperiksa homogenitasnya dengan cara
mengoleskan 0,1 gram sampel sediaan pada kaca transparan. Sediaan
harud menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya
butir-butir kasar (DepKes RI, 2014).
c) Uji pH
Uji pH dilakukan dengan menggunakan indikator pH Universal dan
masing-masing formula direplikasi 3 kali. Universal indikator pH
dicelupkan ke dalam sediaan lip balm dan dibiarkan beberapa detik, lalu
warna pada kertas dibandingkan dengan pembanding pada kemasan.
Pemeriksaan suhu pH sediaan dilakukan dari masing-masing sediaan
selama penyimpanan pada suhu kamar 14 hari.
d) Uji Suhu Lebur Sediaan
Metode pengamatan suhu lebur lip balm yang digunakan dalam penelitian
adalah dengan cara memasukkan lip balm ke dalam oven dengan suhu
awal 50°C selama 15 menit, diamati apakah melebur atau tidak. Setelah
itu, suhu dinaikkan 1°C setiap 15 menit dan diamati pada suhu berapa lip
balm mulai melebur (Tranggono dan Latifah, 2007).
B. Kerangka Teori
Buah Alpukat (Persea americana
Mill)
Ekstrak Buah Alpukat
Vitamin E
Kosmetik
Lip balm
Gambar 2.3 Kerangka Teori
C. Kerangka Konsep
Variabel Variabel Terikat Parameter
Homogenitas Sediaan harus
menunjukkan susunan yang
homogen dan tidak terlihat
adanya butir- butir kasar
Lipbalm dari ekstrak Sediaan lip balm yang baik
buah alpukat (Persea Organoleptik menghasilkam warna dan
americana Mill) warna dan bau yang khas
Sediaan lip balm yang baik
memiliki pH fisiologis kulit
Penentuan pH 4,5-6,5
Sediaan lip balm yang baik
memiliki suhu bibir
Suhu Lebur bervariasi 36-38 °C
Sediaan
Gambar 2.4. Kerangka Konsep
D. Hipotesis
Formulasi lip balm ekstrak buah alpukat (Persea americana Mill) memiliki
stabilitas fisik lip balm yang baik serta efektif dalam melembabkan bibir.