0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan24 halaman

Pengertian dan Jenis Kosmetik Pelembab

Dokumen ini membahas tentang kosmetik, khususnya pelembab dan lip balm, serta pengertian, tujuan, dan penggolongan kosmetik. Kosmetik berfungsi untuk melindungi dan memperbaiki penampilan kulit, sedangkan lip balm dirancang untuk menjaga kelembaban dan melindungi bibir dari faktor lingkungan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang komponen dan fungsi dari lip balm.

Diunggah oleh

rima melati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan24 halaman

Pengertian dan Jenis Kosmetik Pelembab

Dokumen ini membahas tentang kosmetik, khususnya pelembab dan lip balm, serta pengertian, tujuan, dan penggolongan kosmetik. Kosmetik berfungsi untuk melindungi dan memperbaiki penampilan kulit, sedangkan lip balm dirancang untuk menjaga kelembaban dan melindungi bibir dari faktor lingkungan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang komponen dan fungsi dari lip balm.

Diunggah oleh

rima melati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kosmetik
1. Pengertian Kosmetik
Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan
pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ kelamin
bagian luar), gigi, dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya
tarik, mengubah penampilan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik,
memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau
menyembuhkan suatu penyakit (Rahmawanty dan Sari, 2019:81).
2. Tujuan Penggunaan Kosmetik
Tujuan utama dari penggunaan kosmetik diantaranya yaitu melindungi kulit
dari pengaruh- pengaruh luar yang merusak misalnya sinar matahari, perubahan
cuaca, dan sebagainya, mencegah lapisan terluar kulit dari kekeringan serta
mencegah kulit cepat kering dan keriput karena kosmetik menembus ke bawah
lapisan kulit dan memasukkan bahan-bahan aktif pada kulit bagian dalam,
memperbaiki kondisi kulit dan mengubah rupa atau penampilan dan
memperbaiki kondisi kulit misalnya kulit yang kering, normal dan berminyak (
Rostamailis, 2005 dalam Siregar, 2015:14).
3. Penggolongan Kosmetik
Berdasarkan Tranggono dan Latifah (2007:8), penggolongan kosmetik
menurut kegunaannya bagi kulit yaitu:
a. Kosmetik Perawatan Kulit (Skin-care Cosmetics)
Kosmetik jenis ini diperlukan untuk merawat kebersihan dan kesehatan
kulit. Termasuk didalamnya adalah:
1) Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser): misalnya sabun, cleansing
cream, cleansing milk, dan penyegar kulit (freshener).
2) Kosmetik untuk melembabkan kulit (moisturizer): misalnya, moisturizing
cream, night cream, anti-wrinkle cream, lip balm.
3) Kosmetik pelindung kulit, misalnya sunscreen cream dan sunscreen
foundation, sun block cream / lotion.

6
7

4) Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling), misalnya scrub


cream.
b. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)
Kosmetik jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit
sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik serta menimbulkan
efek psikologis yang baik, seperti percaya diri (self confidence). Dalam
kosmetik riasan, peran zat pewarna dan zat pewangi sangat besar. Berdasarkan
bagian tubuh yang dirias, kosmetik dekoratif dapat dibagi menjadi:
1) Kosmetik rias kulit (wajah) : misalnya alas bedak ( foundation), bedak
(powder) dan perona pipi (blush on)
2) Kosmetik rias bibir : misalnya lipstick, liptint, lipgloss, dan lip primer.
3) Kosmetik rias rambut : misalnya cat rambut.
4) Kosmetik rias mata : misalnya eye shadow, sipat mata (eyeliner), cat bulu mata
(mascara).
5) Kosmetik rias kuku : misalnya cat kuku (nail polish).

B. Kosmetik Pelembab
Pelembab merupakan suatu bahan yang dioleskan ke kulit, yang bertujuan
mencegah, atau mengobati kulit kering. Selain itu, pelembab juga bertujuan
untuk memperbaiki dan memelihara integritas kulit, menjaga sistem barier
(perlindungan kulit) sehingga kulit diharapkan selalu dalam kondisi sehat dan
baik, terutama dalam menyokong fungsi kulit sebagai sistem pertahanan tubuh
dari berbagai macam gangguan dari luar (Sulastomo, 2013:39).
Kosmetik pelembab perlu digunakan terutama pada kulit kering atau kulit
normal yang cenderung kering terutama jika si pemakai akan lama di dalam
lingkungan yang mengeringkan kulit, misalnya di ruangan ber-AC. (Tranggono
dan Latifah, 2007:75). Kosmetika pelembab dibedakan atas dua jenis yaitu:
1. Kosmetik yang didasarkan pada lemak
Kosmetik yang didasarkan pada lemak akan membentuk lapisan lemak di
permukaan kulit untuk mencegah penguapan air kulit dan menyebabkan kulit
menjadi lembab dan lembut.
8

2. Kosmetik yang didasarkan pada gliserol atau sejenisnya


Kosmetik yang didasarkan pada gliserol atau sejenisnya ini akan
membentuk lapisan yang bersifat higroskopis yang akan menyerap uap air dari
udara dan mempertahankannya di permukaan kulit. Preparat ini membuat kulit
tampak lebih halus dan mencegah dehidrasi lapisan stratum korneum kulit.
Sediaan atau senyawa yang dapat digunakan untuk mencegah kekeringan
pada kulit bibir disebut emolien atau moisturizer. Senyawa ini berfungsi untuk
mempertahankan kelembaban dari kulit. Emolien merupakan suatu senyawa
yang dibuat untuk melembutkan kulit. Moisturizer (pelembab) merupakan
senyawa yang biasanya mengandung humektan yang berfungsi untuk
melembabkan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pelembab dan pelembut
memiliki pengaruh baik pada kulit yaitu dapat memperbaiki struktur dan
membentuk barrier function, sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki
kulit yang kasar, bersisik, atau pecah-pecah, serta dapat untuk perawatan kulit
(Elsner dan Maibach, 2000:74)

C. Bibir
1. Pengertian Bibir
Bibir merupakan salah satu bagian wajah yang cukup sensitif, saat udara
terlalu panas atau terlalu dingin bibir bisa menjadi kering dan pecah-pecah
karena bibir tidak memiliki pelindung berbeda dengan kulit yang memiliki
melanin sebagai pelindung dari sinar matahari. Bibir yang pecah-pecah selain
tidak enak dipandang mata juga dapat menimbulkan rasa nyeri dan tidak
nyaman (Muliyawan dan Suriana, 2013:146).
2. Anatomi dan Fisiologi Kulit Bibir
Kulit bibir mengandung sel melanin yang sangat sedikit, melanin
merupakan pigmen yang memberi warna pada kulit, bola mata, rambut, dan
bibir. Pembuluh darah lebih jelas terlihat melalui kulit bibir yang memberi
warna bibir kemerahan yang indah. Lapisan korneum pada kulit biasanya
memiliki 15 sampai 16 lapisan untuk tujuan perlindungan. Lapisan korneum
pada bibir mengandung sekitar 3 sampai 4 lapisan dan sangat tipis dibanding
kulit wajah biasa. Kulit bibir tidak memiliki folikel rambut dan tidak ada
9

kelenjar keringat yang berfungsi untuk melindungi bibir dari lingkungan luar
(Kadu, Vishwasrao, Singh, 2014:1-2).

Sumber: Satheesh dan Abhay, 2011:1


Gambar 2.1 Struktur kulit bibir.

3. Bibir Kering
Gangguan umum yang sering terjadi pada bibir yaitu bibir kering dan
pecah-pecah. Kerusakan sel keratin karena sinar matahari dan dehidrasi
menjadi penyebab umum bibir kering dan pecah-pecah. Sel keratin merupakan
sel yang melindungi lapisan luar pada bibir. Paparan sinar matahari
menyebabkan pecahnya lapisan pembuluh sel keratin. Sel keratin yang pecah
akan rusak. Sel yang rusak akan terjadi terus menerus sampai sel tersebut
terkelupas dan tumbuh sel yang baru (Jacobsen; At All, 2011:14).
Bibir dan atau sudut bibir kering, pecah-pecah, dapat dijumpai pada
beberapa keadaan; apakah itu suatu peradangan ringan sampai berat, akibat
kontak atau iritasi oleh bahan-bahan seperti makanan, pasta gigi, getah buah-
buahan, lipstik, cat rambut dan sebagainya (Sulastomo, 2013:101).
Kemungkinan yang lain adalah akibat defisiensi atau kurangnya vitamin
B2 (riboflavin) dalam asupan makanan atau juga karena faktor gizi yang tidak
berimbang, dimana asupan karbohidrat dan lemak berlebih, disertai defisiensi
relatif protein. Demikian pula pada defisiensi B6 (piridoksin), niasin, seng, dan
asam lemak esensial. Semua keadaan defisiensi diatas, dapat menimbulkan
dermatitis periorifisial (peradangan kulit di sekitar bibir) (Sulastomo,
2013:101)
10

Bibir kering
Bibir kering dan pecah-
dan pecah- pecah hingga
pecah berdarah

Sumber:[Link]
pecah-sembuhkan-dengan-cara-mudah-berikut-ini
Gambar 2.2 Bibir kering dan pecah-pecah

Selain itu, penyebab bibir kering dan pecah-pecah adalah dehidrasi. Air
merupakan material yang sangat penting terhadap kelembaban kulit. Dehidrasi
terjadi karena asupan cairan yang tidak cukup atau kehilangan cairan yang
berlebihan disebabkan oleh pengaruh lingkungan (Jacobsen, Dkk 2011:15).

Gambar 2.3 Stratum corneum Gambar 2.4 Stratum corneum


yang rusak sehingga meningkatkan yang normal sehingga menurunkan
Transepidermal Water Loss Transepidermal Water Loss

Kandungan air di dalam stratum corneum, meskipun sedikit (hanya 10%),


sangat penting. Air yang terkandung dalam stratum corneum sangat
berpengaruh pada kelembutan dan elastisitas stratum corneum. Jika kandungan
air dari stratum corneum semakin sedikit, maka semakin rendah elastisitas
jaringan stratum corneum. Kulit akan kering dan pecah-pecah, membentuk
retak-retak mendalam. Disinilah perlunya kosmetika pelembab kulit untuk
mencegah dehidrasi kulit yang menyebabkan kekeringan dan retak-retak pada
kulit serta akibat-akibat buruknya (Tranggono dan Latifah, 2007:76).
Secara ilmiah kulit bibir akan melindungi dirinya dari kemungkinan
mudah kering dan pecah-pecah karena suhu yang terlalu dingin atau terlalu
11

panas, yaitu dengan adanya kelenjar ludah (saliva) pada bibir sebelah dalam
sehingga bibir dapat selalu dibasahi. Namun pada bibir tidak terdapat kelenjar
keringat dan kelenjar lemak pun sangat jarang, sehingga hal ini menyebabkan
bibir hampir bebas dari lemak. Dalam cuaca yang dingin dan kering, lapisan
jangat bibir akan cenderung mengering, pecah-pecah, dan memungkinkan zat
yang melekat padanya dapat berpenetrasi ke stratum germinativum. Dalam
suatu kondisi tertentu faktor perlindungan alamia pada kulit bibir tidak
mencukupi, karena itu dibutuhkan perlindungan tambahan non alamiah yaitu
misalnya dengan menggunakan kosmetika pelembab kulit bibir (lip balm)
(Wasitaadmadja, 1997:64).

D. Lip Balm
1. Pengertian Lip Balm
Lip balm adalah sediaan yang diaplikasikan ke bibir yang digunakan untuk
mencegah pengeringan dan melindungi bibir terhadap faktor lingkungan yang
dapat merugikan. Lipstik dan lip balm memiliki kemiripan, bahan utama lipstik
adalah asam lemak seperti lilin, minyak dan mentega yang memberikan
konsistensi dan bekerja sebagai emolien dalam formulasi. Namun ada
perbedaan yang signifikan beberapa di antara lipstik dan lip balm, terutama
mengenai fungsi dimana lipstik digunakan untuk memberikan warna pada bibir
sedangkan lip balm memberikan perlindungan (Fernandes; At All, 2013:294).
2. Tujuan Penggunaan Lip Balm
Tujuan penggunaan lip balm lebih kepada perawatan bibir daripada untuk
tujuan riasan. Lip balm memang dirancang untuk melindungi serta menjaga
kelembaban bibir. Kandungan yang terdapat dalam lip balm adalah zat
pelembab dan vitamin untuk bibir (Muliyawan dan Suriana, 2013).
3. Fungsi dan Manfaat Lip Balm
Berdasarkan Muliyawan dan Suriana (2013) lip balm memiliki fungsi
untuk melindungi dan melembabkan bibir serta memberikan nutrisi yang
dibutuhkan agar bibir lembut dan sehat. Dan lip balm bermanfaat agar bibir
terhindar dari dehidrasi dan tampak lebih sehat dan menjadikan bibir menjadi
lebih halus dan lembut.
12

4. Komponen Lip Balm


a. Lilin
Secara kimia, wax (lilin) adalah campuran hidrokarbon dan asam lemak
yang kompleks dikombinasikan dengan ester. Lilin lebih keras, kurang
berminyak dan lebih rapuh daripada lemak. Lilin sangat tahan terhadap
kelembaban, oksidasi dan bakteri. Ada empat kategori dari lilin sebagai
berikut:
1) Lilin hewani, contohnya yaitu lilin lebah, lanolin, spermaceti.
2) Lilin nabati, contohnya yaitu carnauba, candelilla, jojoba.
3) Lilin mineral, contohnya yaitu ozokerite, parafin, mikrokristalin, ceresin.
4) Lilin sintetis, contohnya yaitu polyethylene, carbowax, acrawax, stearin.
Lilin yang paling banyak digunakan adalah beeswax yang merupakan
emolien yang bagus dan pengental. Dua wax alami lainnya sering digunakan
dalam kosmetik adalah lilin carnauba dan candelilla. Keduanya lebih keras dan
memiliki titik leleh yang lebih tinggi membuat mereka lebih stabil (Kadu,
Vishwasrao, Singh, 2014:3).
b. Lemak
Lemak yang biasa digunakan adalah campuran lemak padat yang
berfungsi untuk membentuk lapisan film pada bibir, memberi tekstur yang
lembut, mengurangi efek berkeringat dan pecah pada lip balm. Fungsi yang
lain dalam proses pembuatan lip balm adalah sebagai pengikat dalam basis
antara fase minyak dan fase lilin dan sebagai bahan pendispersi untuk pigmen.
Lemak padat yang biasa digunakan dalam basis lip balm adalah lemak coklat,
lanolin, lesitin, minyak terhidrogenasi dan lain-lain (Kadu, Vishwasrao, Singh,
2014:4). Lemak coklat memiliki kelebihan yakni lunak, lebih mudah diserap,
dapat memberikan aroma bau yang menyenangkan, sehingga tidak perlu
penambahan pengharum (Chilson, 1934 dalam Delvia,2018:17)
c. Minyak
Asam lemak dapat berupa asam lemak jenuh atau tidak jenuh yang
menentukan stabilitas dari minyak. Minyak dengan asam lemak jenuh tingkat
tinggi (laurat, miristat, palmitat dan asam stearat). Minyak dengan tingkat asam
lemak tak jenuh yang tinggi (asam oleat, arakidonat, linoleat) misalnya minyak
13

canola, minyak zaitun, minyak jagung, minyak almond, minyak jarak dan
minyak alpukat. Minyak dengan asam lemak jenuh lebih stabil dan tidak
menjadi anyir secepat minyak tak jenuh. Namun, minyak dengan asam lemak
tidak jenuh lebih halus, lebih mahal, kurang berminyak, dan mudah diserap
oleh kulit (Kadu, Vishwasrao, Singh, 2014:4).
5. Zat Tambahan Dalam Lip Balm
Zat tambahan dalam lip balm adalah zat yang ditambahkan dalam formula
lip balm untuk menghasilkan lip balm yang baik, yaitu dengan cara menutupi
kekurangan yang ada tetapi dengan syarat zat tersebut harus inert, tidak toksik,
tidak menimbulkan alergi, stabil dan dapat bercampur dengan bahan lain dalam
formula lip balm. Zat tambahan yang digunakan yaitu pengawet, humektan dan
antioksidan.
1) Pengawet
Kosmetika yang terdiri atas berbagai macam lemak dan minyak
merupakan bahan yang mudah ditumbuhi mikroorganisme bakteri, amuba, dan
jamur yang akan merusak bahan sehingga terjadi perubahan bau (tengik) dan
warna. Untuk menanggulangi hal ini, diperlukan zat pengawet (preservatif).
Bahan pengawet adalah bahan pencegah dekomposisi preparat dengan cara
menghambat pertumbuhan mikroorganisme (Putri, 2012:14).
Kemungkinan bakteri atau jamur untuk tumbuh didalam sediaan lip balm
sebenarnya sangat kecil karena lip balm tidak mengandung air. Akan tetapi
ketika lip balm diaplikasikan pada bibir kemungkinan terjadi kontaminasi pada
permukaan lip balm sehingga terjadi pertumbuhan mikroorganisme. Oleh
karena itu perlu ditambahkan pengawet di dalam formula lip balm. Pengawet
yang sering digunakan yaitu metil paraben dan propil paraben (Butler, 2000
dalam Primastuti, 2020:12-13). Metil paraben digunakan sebagai pengawet
dalam sediaan topikal dalam jumlah 0,02-0,3% (Rowe, Sheskey, Quinn,
2009:442)
2) Humektan
Humektan adalah mekanisme kerja pelembab dengan cara menarik atau
menyerap air. Humektan dapat membantu menjerat air dari udara untuk
kemudian berpenetrasi ke dalam kulit bila kelembaban relatif rendah. Tetapi,
14

humektan dapat juga menarik air dari bagian epidermis dan dermis yang dapat
menyebabkan kulit menjadi kering. Maka sebaiknya penggunaan humektan
dikombinasikan dengan bahan oklusif. Mekanisme humektan yang menarik air
dan berpenetrasi ke dalam kulit, akan mengakibatkan pengembangan stratum
korneum yang memberikan persepsi kulit halus dan sedikit kerut. Contoh
bahan yang bersifat humektan adalah gliserin, sorbitol, natrium hialuronat,
urea, propilen glikol, asam α-hidroksi, dan gula (Baumann, 2009 dalam Delvia,
2018:14).
3) Antioksidan
Butil hidroksi toluen (BHT) merupakan salah satu antioksidan yang paling
banyak digunakan pada kosmetik, produk makanan dan sediaan farmasi
[Link] penggunaannya adalah untuk mencegah kerusakan oksidatif dari
lemak dan minyak agar tidak tengik dan mencegah hilangnya aktivitas vitamin
yang terlarut dalam minyak (Rowe, Sheskey, Quinn, 2009:75).
BHT berbentuk serbuk Kristal putih dengan bau fenol yang khas,praktis
tidak larut dalam air, gliserin, propilen glikol,larutan alkali hidroksida, asam
mineral encer,namun larut dalam aseton, benzena, etanol 95%, eter, metanol,
toluena, minyak mineral, BHT harus disimpan di tempat yang tertutup
baik,terlindung dari cahaya,lembab dan panas (Rowe, Sheskey, Quinn,
2009:75).

E. Formulasi Sediaan Lip Balm


Beberapa formulasi dari sediaan lip balm diantaranya sebagai berikut :
1. Formula pelembab bibir
Lanolin, besswax, Jojoba oil 95,0
Benzofenon 0,10
Parfum, antioksidan secukupnya
(Wasitaatmadja, 1997:126).
2. Formula pelembab bibir
Gliserin 5%
Cera Alba 8%
Nipagin 0, 2 %
15

BHT 0,05 %
Carnauba wax 10 %
Oleum cacao ad 100
(Primastuti dan Hannisa, 2020:19)
3. Formula pelembab bibir
Gliserin 5%
Cera alba 5%
Cocoa butter 10 %
Lanolin 6%
Nipagin 0,2 %
BHT 0,05 %
Oleum cacao ad 100
(Siregar dan Trinada, 2018:25)
4. Formula pelembab bibir
Gliserin 5%
Cera flava 10%
Nipagin 0,18%
Lanolin 15%
Oleum cacao ad 100
(Syakdiah, 2018:17)
5. Formula pelembab bibir

Cetyl Alcohol 8%
Adeps lanae 10,5%
Cera alba 16%
Phenoxyethanol 0,5%
Oleum Rosae 0,2%
α- tokoferol 0,1%
Parafin Cair ad 100
(Yusuf; Dkk, 2019:117)
16

F. Formula Lip Balm yang digunakan


1. Formula yang dipilih pada pembuatan lip balm dalam penelitian ini dengan
komposisi sebagai berikut:
Gliserin 5%
Cera flava 10%
Nipagin 0,18%
Lanolin 15%
Oleum cacao ad 100
(Syakdiah, 2018:17)

Tabel 2.1 Komposisi dan fungsi pada formulasi lip balm


No Komposisi Fungsi
1 Gliserin Sebagai Humektan
2 Cera flava Sebagai Pengeras
3 Nipagin Sebagai Zat Pengawet
4 Lanolin Sebagai Pengikat
5 Oleum Cacao Sebagai Basis

2. Pemerian Formula Lip Balm


a. Gliserin
Pemeriannya yaitu cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna, rasa manis,
hanya boleh berbau khas lemah (tajam atau tidak enak), higroskopis dan netral
terhadap lakmus. Kelarutannya yaitu dapat bercampur dengan air dan etanol,
praktis tidak larut dalam kloroform, eter, minyak lemak dan minyak menguap
(Depkes, 1995:413).
Gliserin digunakan secara luas pada formulasi farmasetika meliputi
sediaan oral, telinga, mata, topikal dan parenteral. Pada sediaan topikal dan
kosmetik, gliserin digunakan sebagai humektan dan emolien (Wade dan
Weller, 1994:204).
b. Cera Flava
Cera flava atau lilin kuning adalah hasil pemurnian malam dari sarang madu
lebah Apis mellifera L. Pemeriannya berbentuk padatan berwarna kuning
sampai coklat keabuan, berbau enak seperti madu, agak rapuh bila dingin dan
patah membentuk granul, patahan non-hablur, menjadi lunak oleh suhu tangan
(Depkes, 1995:186).
17

Cera flava digunakan pada produk makanan dan kosmetik. Cera flava
umumnya digunakan pada sediaan topikal dengan konsentrasi 5-20% sebagai
bahan pengeras. Cera flava dianggap sebagai bahan yang tidak toksik dan tidak
mengiritasi baik pada sediaan topikal maupun sediaan oral (Wade dan Weller,
1994:560).
c. Nipagin
Nipagin atau metil paraben memiliki pemerian yaitu hablur kecil, tidak
berwarna, tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa
terbakar. Kelarutannya yaitu sukar larut dalam air dan benzen, mudah larut
dalam etanol dan dalam eter, larut dalam minyak, propilen glikol, dan dalam
gliserol. Suhu leburnya antara 125-128°C. Khasiatnya adalah sebagai zat
tambahan (zat pengawet) (Depkes, 1995:551)
d. Lanolin
Lanolin atau lemak bulu domba adalah zat serupa lemak yang dimurnikan,
diperoleh dari bulu domba Ovis aries L yang dibersihkan dan dihilangkan
warna dan baunya. Pemeriannya yaitu massa seperti lemak, lengket, warna
kuning dan bau khas (Depkes, 1995:57).
e. Oleum cacao
Oleum cacao atau lemak coklat merupakan lemak coklat padat yang
diperoleh dengan pemerasan panas biji Theobroma cacao L yang telah dikupas
dan dipanggang. Pemeriannya yaitu lemak padat, putih kekuningan, bau khas
aromatik, rasa khas lemak dan agak rapuh. Suhu leburnya yaitu 31-34°C
(Depkes, 1979:453).
3. Proses Pembuatan Sediaan
Prosedur pembuatan yaitu basis sediaan dalam penelitian ini lemak coklat
dilelehkan di atas penangas air pada suhu lelehnya yaitu sekitar 31-34°C.
Lemak coklat dimasukkan ke cawan penguap sambil diaduk sampai seluruh
lemak coklat meleleh sempurna. Cera flava dilelehkan pada suhu lelehnya
yaitu sekitar 62- 64°C, kemudian dimasukkan ke dalam lelehan basis tersebut.
Nipagin, lanolin dan gliserin dimasukan ke dalam lelehan basis sambil terus
diaduk. Minyak buah merah dimasukkan terakhir sambil diaduk. Setelah itu
dimasukkan ke dalam wadah lip balm lalu dibiarkan pada suhu ruangan sampai
18

membeku (Ratih; Dkk, 2014:2).

E. Tanaman Kayu Secang

Sumber Foto : [Link]


Gambar 2.5 Kulit Kayu Secang

1. Klasifikasi tanaman secang (Caesalpinia sappan L.)


Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rosales
Famili : Caesalpinaceae
Genus : Caesalpinia
Spesies : Caesalpinia sappan L.
(Fatmawati, 2019:99)
2. Morfologi Tumbuhan
Secang (Caesalpinia sappan L.) adalah tumbuhan yang sejak lama tumbuh
liar dan biasanya digunakan masyarakat untuk tanaman pagar pembatas dan
merupakan perdu yang umumnya tumbuh di tempat terbuka sampai ketinggian
1000 m di atas permukaan laut seperti di daerah pegunungan yang berbatu
tetapi tidak terlalu dingin. Tingginya 5 – 10 m. Batangnya berkayu, bulat dan
berwarna hijau kecoklatan. Pada batang dan percabangannya terdapat duri-duri
tempel yang bentuknya bengkok dan letaknya tersebar. Daun secang
merupakan daun majemuk menyirip ganda, jumlah anak daunnya 10 - 20
19

pasang yang letaknya berhadapan. Anak daun tidak bertangkai berbentuk


lonjong, pangkal rompang, ujung bulat, tepi daun rata dan hampir sejajar.
Bunga secang adalah bunga majemuk berbentuk malai, mahkota bunga
berbentuk tabung berwarna kuning. Akar secang adalah akar tunggang
berwarna coklat kotor. Pemanenan kayu dapat dilakukan mulai umur 1-2 tahun
(Azmi, 2017:10)
3. Kandungan Kimia Tumbuhan Kayu Secang
Zat yang terkandung dalam kayu secang antara lain mengandung
flavonoid dan kandungan kimia berupa asam galat, tanin, resin, resorsin,
brazilin, brazilein, d-α-phellandrene, oscimene, minyak atsiri (Shafwatunida,
2009 dalam Sufiana dan Harlia, 2014:50). Berdasarkan hasil isolasi yang
dilakukan terhadap ekstrak kayu secang menunjukkan bahwa komponen utama
yang terkandung di dalamnya adalah brazilin (C16H14O5). Brazilin
merupakan kristal berwarna kuning, akan tetapi jika teroksidasi akan
menghasilkan senyawa brazilein (C16H12O5) yang berwarna merah. Brazilin
termasuk ke dalam golongan flavonoid sebagai isoflavonoid. Brazilin
merupakan senyawa yang sedikit larut dalam air dingin, mudah larut dalam air
panas, larut dalam alkohol dan eter, dan larut dalam alkali hidroksi (Holinesti,
2007 dalam Raviana,2019:19).
Brazilin merupakan senyawa antioksidan yang mempunyai katekol dalam
struktur kimianya, brazilin memiliki efek sebagai anti radikal kimia. Brazilin
diketahui memiliki banyak kegunaan, diantaranya antipoliferasi, agregasi,
antiplatelet, anti diabetes, memperlancar sirkulasi darah, antiinflamasi, brazilin
diketahui memiliki aktivitas anti kanker serta sebagai antioksidan
(Azmi,2017:11). Antioksidan merupakan senyawa pemberi elektron dan dapat
menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat radikal bebas sehingga dapat
mecegah proses aktivitas oksidasi yang menyebabkan bibir menjadi kering dan
pecah-pecah.
Berdasarkan hasil penelitian Lim; At All, 1997 dalam Sugiyanto, 2011
kayu secang memiliki daya antioksidan yang andal dengan indeks antioksidatif
ekstrak air kayu secang lebih tinggi daripada antioksidan komersial (BHT dan
BHA) sehingga potensial sebagai agen penangkal radikal bebas.
20

Gambar 2.6 Struktur


Kimia Brazilin

Sumber : Fatmawati, 2019:103

c. Antioksidan
Selain memperbaiki sel kulit yang rusak, antioksidan juga dapat menangkal
radikal bebas. Antioksidan dalam dunia kosmetik ditujukan untuk memberikan
efek melembabkan dan mencerahkan kulit. Dengan demikian, kulit akan
terjaga kelembabannya (Fauzi, 2012:72).
Antioksidan merupakan zat yang mampu memperlambat atau mencegah
proses oksidasi dengan mengikat radikal bebas sehingga dapat mencegah
proses oksidasi. Zat ini secara nyata mampu memperlambat atau menghambat
oksidasi zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah
(Lalage, 2013:20). Antioksidan juga sebagai senyawa yang melindungi sel dari
efek berbahaya radikal bebas oksigen reaktif. Radikal bebas adalah spesi yang
tidak stabil karena memiliki elektron yang tidak berpasangan dan mencari
pasangan elektron dalam makromolekul biologi. Kondisi oksidasi dapat
menyebabkan kerusakan struktur DNA, memicu terjadinya kanker, penuaan
dan penyakit degenaratif lainnya (Lalage, 2013:20). Radikal bebas juga
merusak protein yang menjaga kelembaban, kehalusan dan keelastisan kulit
(Wei Y-H, 2002 dalam Winarsi, 2013:141)

F. Ekstraksi
1. Pengertian Ekstraksi
Ekstraksi merupakan suatu cara untuk menarik satu atau lebih komponen
zat aktif dari bagian tanaman obat. Umumnya zat berkhasiat tersebut dapat
ditarik namun khasiatnya tidak berubah (Syamsuni, 2007:242-243).
21

2. Tujuan Ekstraksi
Tujuan dari suatu proses ekstraksi adalah untuk memperoleh suatu bahan
aktif yang tidak diketahui, memperoleh suatu bahan aktif yang sudah diketahui,
memperoleh sekelompok senyawa yang struktur sejenis, memperoleh semua
metabolit sekunder dari suatu bagian tanaman dengan spesies tertentu,
mengidentifikasi semua metabolit sekunder yang terdapat dalam suatu makhluk
hidup sebagai penanda kimia atau kajian metabolisme (Endarini, 2016 : 145).
3. Jenis-Jenis Ekstraksi
a. Berdasarkan bentuk substansi dalam campuran
1) Ekstraksi padat-cair
Proses ekstraksi padat-cair ini merupakan proses ekstraksi yang paling
banyak ditemukan dalam mengisolasi suatu substansi yang terkandung di
dalam suatu bahan alam. Proses ini melibatkan substan yang berbentuk padat
didalam campurannya dan memerlukan kontak yang sangat lama antara pelarut
dan zat padat. Kesempurnaan proses ekstraksi sangat ditentukan oleh sifat dari
bahan alam dan sifat dari bahan alam yang di ekstraksi (Marjoni, 2016:19).
2) Ekstraksi cair-cair
Ekstraksi ini dilakukan apabila substansi yang akan diekstraksi berbentuk
cairan di dalam campurannya (Marjoni, 2016:20)
b. Berdasarkan penggunaan panas
1) Ekstraksi secara dingin
Menurut Marjoni (2016:20) metode ekstraksi secara digin bertujuan untuk
mengekstrak senyawa-senyawa yang terdapat dalam simplisia yang tidak tahan
terhadap pemanasan. Ekstraksi secara dingin dapat dilakukan dengan beberapa
cara berikut ini:
a) Maserasi
Maserasi merupakan proses ekstraksi sederhana yang dilakukan hanya
dengan cara merendam simplisia dalam satu atau campuran pelarut selama
waktu tertentu pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya. Keuntungan
dari maserasi adalah pengerjaanya mudah dan peralatanya murah dan
sederhana. Sedangkan kekurangannya antara lain waktu yang diperlukan untuk
mengekstraksi baham cukup lama, penyari kurang sempurna, pelarut yang
22

digunakan jumlahnya banyak jika harus dilakukan remaserasi.


b) Perkolasi
Perkolasi merupakan proses penyarian zat aktif secara dingin dengan cara
mengalirkan pelarut secara kontinu pada simplisia selama waktu tertentu.
Dibandingkan dengan metode maserasi, metode ini tidak memerlukan tahapan
penyaringan perkolat, hanya kerugiannya adalah waktu yang dibutuhkan lebih
lama dan jumlah penyari yang digunakan lebih banyak.
2. Ekstraksi secara panas
Metode panas digunakan apabila senyawa-senyawa yang terkandung dalam
simplisia sudah dipastikan tahan panas. Metode ekstraksi yang membutuhkan
panas diantaranya:
a) Seduhan
Merupakan metode ekstraksi paling sederhana hanya dengan merendam
simplisia dengan air panas selama waktu tertentu (5-10 menit)
b) Coque (penggodokan)
Merupakan proses penyarian dengan cara menggodok simplisia
menggunakan api langsung dan hasilnya dapat langsung digunakan sebagai
obat baik secara keseluruhan termasuk ampasnya atau hanya hasil godokan saja
tanpa ampas.
c) Infusa
Infusa merupakan sediaan cair yang dibuat dengan cara menyari simplisia
nabati dengan air pada suhu 90°C se- lama 15 menit. Kecuali dinyatakan lain,
infusa dilakukan dengan cara sebagai berikut :
"Simplisia dengan derajat kehalusan tertentu dimasukkan ke dalam panci
infusa, kemudian ditambahkan air secukupnya. Panaskan campuran di atas
penangas air selama 15 menit, dihitung mulai suhu 90°C sambil sekak-sekali
diaduk. Sekai selagi panas menggunakan kain flanel, tambahkan air panas
secukupnya melalui ampas sehingga diperoleh volume infus yang dikehendaki.
d) Digesti
Digesti adalah proses ekstraksi yang cara kerjanya hampir sama dengan
maserasi, hanya saja digesti menggunakan pemanasan rendah pada suhu 30-
40°C. Metoda ini biasanya digunakan untuk sirmplisia yang tersari baik pada
23

suhu biasa.
e) Dekokta
Proses penyarian secara dekokta hampir sama dengan infusa., perbedaannya
hanya terletak pada lamanya waktu pemanasan, Waktu pemanasan pada
dekokta lebih lama dibanding metoda infusa, yaitu 30 menit dihitung setelah
suhu mencapai 90°C.
f) Refluks
Refluks merupakan proses ekstraksi dengan pelarut pada titik didih pelarut
selama waktu dan jumlah pelarut tertentu dengan adanya pendingin balik
(kondensor). Proses ini umumnya dilakukan 3-5 kali pengulangan pada residu
pertama. sehingga termasuk proses ekstraksi yang cukup sempurna.
g) Soxhletasi
Proses soxhletasi merupakan proses ekstraksi panas menggunakan alat
khusus berupa ekstraktor soxhlet. Suhu yang digunakan lebih rendah
dibandingkan dengan suhu pada metoda refluks.
4. Ekstraksi Kulit Kayu Secang
Ekstrak kental kulit kayu secang adalah adalah ekstrak yang dibuat dari
kulit kayu secang dengan pemerian ekstrak kental warna kuning kecoklatan,
bau khas, rasa agak pahit dan kelat. Ekstraksi kulit kayu secang dapat
dilakukan dengan metode maserasi dengan memasukan satu bagian serbuk
simplisia kulit kayu secang ke dalam maserator dan tambahkan sepuluh bagian
pelarut etanol 96% rendam selama minimal 24 jam sambil sesekali diaduk,
lakukan filtrasi lalu simpan maserat pertama, lalu ampas di rendam lagi dengan
pelarut etanol 96% sebanyak setengah volume pelarut pada perendaman
pertama, kumpulkan semua maserat kemudian diuapkan hingga mendapatkan
ekstrak kental (Kemenkes RI, 2017:531).

G. Evaluasi
1. Organoleptik
Menurut Setyaningsih, Anton, Maya (2010:8) Indra manusia adalah
instrumen yang digunakan dalam analisis sensor, terdiri dari indra penglihatan ,
penciuman, perabaan, dan pendengaran.
24

a. Warna
Penilaian kualitas sensorik dengan penglihatan dapat dilakukan dengan
melihat warna , kejernihan, ukuran, dan sifat-sifat permukaan (Styaningsih,
Anton, Maya, 2010:8).
b. Bau
Bau atau aroma merupakan sifat sensori yang paling sulit untuk
diklasifikasikan dan dijelaskan karena ragamnya yang begitu besar. Penciuman
dapat dilakukan terhadap produk secara langsung, menggunakan kertas
penyerap (untuk parfum), atau uap dari botol yang dikibaskan ke hidung (untuk
minyak atsiri, essence), atau aroma yang keluar pada saat produk berada dalam
mulut (untuk permen, obat batuk) melalui celah retronasal (Styaningsih, Anton,
Maya, 2010:9).
c. Tekstur
Untuk menilai tekstur produk dapat dilakukan perabaan menggunakan
ujung jari tangan. Penilaian dilakukan dengan menggosok-gosokan jari ke
sediaan yang diamati di antara kedua jari (Setyaningsih, Anton, Maya,
2010:11).
2. Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan dengan mengoleskan sejumlah tertentu sediaan
menggunakan objek gelas, sekeping kaca atau bahan transparan lain uang
cocok. Sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat
adanya butiran kasar (Depkes RI, 1979:33).
3. Uji pH
Hendaknya pH sediaan kosmetik diusahakan sama atau sedekat mungkin
dengan pH fisiologi "mantel asam" kulit, yaitu antara 4,5-6,5. Kosmetik
demikian disebut kosmetik dengan "pH-balanced". Semakin alkalis atau
semakin asam bahan yang mengenai kulit, semakin sulit untuk menetralisirnya
dan kulit akan menjadi lelah karenanya. Kulit dapat menjadi kering, pecah-
pecah, sensitif dan mudah terkena infeksi (Tranggono dan Latifah, 2007:21).
Penentuan pH dilakukan dengan menggunakan alat pH meter pH-02
dengan range pengukuran : 0.00 – 14.00 pH dengan cara: Alat terlebih dahulu
dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar standar netral (pH 7,01) dan
25

larutan dapar asam (pH 4,01) hingga alat menunjukkan harga pH tersebut.
Kemudian elektroda dicuci dengan akuades, lalu dikeringkan dengan tisu.
Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% yaitu ditimbang 1 g sediaan dan
dilarutkan dalam 100 ml aquades, lalu dipanaskan. Setelah suhu larutan
normal, elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut. Dibiarkan alat
menunjukkan harga pH sampai konstan. Angka yang ditunjukkan pH meter
merupakan pH sediaan (Rawlins, 2003 dalam Linda, 2012:41).
4. Uji Stabilitas
Sediaan lip balm yang telah dibuat, dievaluasi selama 14 hari yang
meliputi pengamatan organoleptis (warna, bau, tekstur), homogenitas, dan pH
melihat apakah terjadi perubahan selama penyimpanan pada suhu kamar
(Syamsul, Supomo, Jubaidah, 2020)
5. Uji Kesukaan
Uji kesukaan disebut juga uji hedonik, dilakukan apabila uji didesain
untuk memilih satu produk diantara produk lain secara langsung. Uji ini dapat
diaplikasikan pada saat pengembangan produk atau pembanding produk
dengan produk pesaing. Panelis memberikan tanggapan pribadinya tentang
kesukaan atau sebaliknya (Setyaningsih, Anton, Maya, 2010:59)
26

H. Kerangka Teori

Sediaan Kosmetik

Perawatan / Dekoratif /
skincare riasan

Pelembab /
Moisturizer

Bibir

Lip balm

Bahan Aktif Formula pelembab bibir lip balm (Syakdiah,


2018:17)
Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan L) Gliserin 5%
Cera Flava 10%
Nipagin 0, 18%
Lanolin 15%
Oleum cacao ad 100

Evaluasi Sediaan

Organoleptik (SNI 16-4769-1998)


Uji homogenitas (Depkes RI, 1979)
Uji pH (Tranggono dan Latifa, 2007:21)
Uji stabilitas (Syamsul, Supomo, Jubaidah, 2020)
Uji kesukaan (Setyaningsih, Anton, Maya, 2010:59)

Gambar 2.7 Kerangka Teori


27

I. Kerangka Konsep

Formulasi sediaan lip balm denga bahan alam ekstrak


kulit kayu secang dengan variasi konsentrasi
F0 : Ekstrak kulit kayu secang 0%
F1 : Ekstrak kulit kayu secang 0,0006%
F2 : Ekstrak kulit kayu secang 0,0012%
F3 : Ekstrak kulit kayu secang 0,0025%
F4 : Ekstrak kulit kayu secang 0,0050%
F5 : Ekstrak kulit kayu secang 0,0100%

Evaluasi Sediaan

Organoleptik (SNI 16-4769-1998)


Uji homogenitas (Depkes RI, 1979)
Uji pH (Tranggono dan Latifa, 2007:21)
Uji stabilitas (Syamsul, Supomo, Jubaidah, 2020)
Uji kesukaan (Setyaningsih, Anton, Maya, 2010:59)

Gambar 2.7 Kerangka Konsep


28

J. Definisi Operasional
Tabel 2.2 Definisi Operasional Penelitian
Variabel Definisi Cara ukur Alat Hasil ukur Skala
No Penelitian ukur
1 Formulasi Sediaan lip balm menggunakan Menimbang Neraca Formula Ratio
ekstrak kayu ekstrak kulit kayu secang komponen Analitik sediaan lip
secang dengan variasi konsentrasi bahan balm ekstrak
(Caesalpinia (0%, 0,0006%, 0,0012%, termasuk kayu secang
sappan L.) 0,0025%, 0,0050%, 0,0100%) ekstrak kulit dengan
dalam sediaan sebagai pelembab bibir kayu secang variasi
sediaan lipbalm konsetrasi

2 Organoleptik
a. Warna Penilaian visual peneliti terhadap Observasi Checklist 1= putih Nominal
lip balm ekstrak kulit kayu kekuningan
secang (Caesalpinia sappan L.) 2= Merah
dalam hari ke-1, hari ke-7, dan 3= Merah
hari ke-14 kehitaman
4= Kuning
kecoklatan

b. Bau Penilaian dengan indera Observasi Checklist


1= bau
penciuman peneliti terhadap bau Ordinal
khas
khas atau tidak adanya bau lip
2= tidak
balm ekstrak kulit kayu secang
berbau
(Caesalpinia sappan L.) dalam
hari ke-1, hari ke-7, hari ke-14,
dan hari ke-14

c. Tekstur Penilaian indera peraba peneliti Observasi Checklist 1=Setengah Ordinal


terhadap lip balm ekstrak kulit Padat
kayu secang (Caesalpinia cenderung
sappan L) dalam hari ke-1, hari keras
ke-7, dan hari ke-14. 2=setengah
padat
cenderung
Lunak
3 Uji Penampilan susunan partikel Observasi. Checklist 1=Homogen Ordinal
Homogenitas dan dispersi warna sediaan lip 2=Tidak
balm dengan ekstrak kulit kayu homogen
secang diamati pada kaca objek
terdapat butiran kasar atau tidak
, dan diamati secara visual ada
atau tidak bintik- bintik warna
dalam hari ke-1, hari ke-7, dan
hari ke-14
29

4 Uji pH Besarnya nilai keasaman- Pengukuran pH Nilai pH Ratio


basaan sediaan lip blam meter meter (dalam
dalam hari ke-1, hari ke-7, angka)
dan hari ke-14.

5 Uji Penilaian visual peneliti Observasi Checklist 1= tidak Ordinal


Stabilitas terhadap warna,bau, tekstur, terjadi
homogenitas dan pH pada perubahan
sediaan lip balm selama 2 2 = terjadi
minggu perubahan

6 Uji Kesukaan Penilaian terhadap tingkatan Observasi Checklist 1= sangat suka Ordinal
suka atau tidak nya sediaan lip yang 2= suka
balm ekstrak kulit kayu secang dilakukan 3= agak suka
yang memenuhi persyaratan oleh panelis 4= biasa saja
umum sediaan. untuk 5= agak tidak
memelihih suka
sediaan yang 6= tidak suka
paling 7=sangat tidak
disukai suka

Anda mungkin juga menyukai