100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
7 tayangan19 halaman

Perbedaan Epidemiologi Deskriptif dan Analitik

Dokumen ini membahas perbedaan antara studi epidemiologi deskriptif dan analitik, serta tujuan dan jenis penelitian epidemiologi. Epidemiologi deskriptif menggambarkan distribusi penyakit berdasarkan orang, tempat, dan waktu, sementara epidemiologi analitik menjelaskan faktor penyebab penyakit. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan konsep skrining, validitas skrining, dan kriteria untuk program skrining.

Diunggah oleh

luthfidermawan782
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
7 tayangan19 halaman

Perbedaan Epidemiologi Deskriptif dan Analitik

Dokumen ini membahas perbedaan antara studi epidemiologi deskriptif dan analitik, serta tujuan dan jenis penelitian epidemiologi. Epidemiologi deskriptif menggambarkan distribusi penyakit berdasarkan orang, tempat, dan waktu, sementara epidemiologi analitik menjelaskan faktor penyebab penyakit. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan konsep skrining, validitas skrining, dan kriteria untuk program skrining.

Diunggah oleh

luthfidermawan782
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

T8 PERBEDAAN DESKRIPTIF DAN ANALITIK G. Perbedaan Studi Epidemiologi deskriptif dan analitik
A. Studi Epidemiologi
Epidemiologi merupakan ilmu yang mempelajari
distribusi dan determinan (faktor yang menentukan)
dari keadaan atau peristiwa terkait kesehatan pada
populasi tertentu, dan aplikasi dari ilmu tersebut untuk
mengendalikan masalah-masalah kesehatan” (Center
for Disease Control and Prevention, 2004)
B. Tujuan Studi Epidemiologi
1. Menggambarkan status kesehatan suatu populasi
2. Menggambarkan distribusi suatu penyakit
3. Menentukan distribusi suatu penyakit
4. Menentukan penyebab dari suatu penyakit
5. Menetapkan jenis atau upaya pencegahan atau
pengobatan untuk mengintrol terjadinya suatu H. Epidemiologi Deskriptif
penyakit 1. Berdasarkan unit pengamatan
C. Studi Epidemiologi
1. Pendekatan Deskriptif
Epidemiologi mempelajari distribusi frekuensi dan
pola dari penyakit/masalah kesehatan berdasarkan
tempat, orang, dan waktu.
2. Pendekatan Analitik
Epidemiologi mempelajari determinan penyakit a. Orang
pada populasi tertentu. Bila subjeknya orang, maka terdapat beberapa
Determinan mencakup faktor risiko dan penyebab karakteristik/variabel dari orang, yang bisa
penyakit. dipelajari berkaitan dengan distribusi kejadian
Faktor risiko : factor yang meningkatkan peluang penyakit, yaitu :
untuk terjadinya penyakit atau masalah kesehatan. 1) Umur
D. Jenis Penelitian Epidemiologi 2) Jenis kelamin
3) Jenis pekerjaan
4) Tingkat penghasilan
5) Status perkawinan, dll
Contoh :
Distribusi Penyakit campakpada anak balita
berdasarkan kelompok umur

E. Jenis Studi Epidemiologi


1. Penelitian eksperimental
2. Penelitian observasional,
a. penelitian deskriptif (Epidemiologi Deskriptif) Penyakit campak pada anak balita sebagian
b. penelitian analitik (Epidemiologi Analitik) besar terjadi pada usia 1-2 th
F. Jenis Epidemiologi Distribusi penyakit Ca paru berdasarkan jenis
1. Epidemiologi Deskriptif : untuk mendeskripsikan kelamin
distribusi frekuensi penyakit menurut orang,
tempat dan waktu
a. Studi korelasi penyakit
b. Laporan kasus
c. Laporan seri kasus b. Tempat
2. Epidemiologi Analitik : untuk menjelaskan Pola penyakit seringkali dibandingkan dengan
mengenai factor factor penyebab penyakit atau sifat-sifat tempat geografis :
masalah kesehatan 1) Batas daerah-daerah pemerintahan
a. Cross Sectional 2) Kota dan pedesaan
b. Studi kasus kontrol 3) Daerah atau tempat berdasarkan batas-batas
c. Studi kohor alam (pegunungan, sungai, laut
d. Studi eksperimen atau padang pasir)
4) Negara-negara
5) Regional
Contoh :
Penyakit gondok endemik, lebih banyak terjadi
di daerah pegunungan, karena .. ?
2

c. Waktu I. Studi Korelasi Populasi


Aspek waktu dalam investigasi epidemiologi 1. Adalah studi epidemiologi dengan unit analisisnya
berkisar mulai dari jam, minggu, bulan, tahun yaitu populasi, yang bertujuan mendeskripsikan
sampai dekade. hubungan korelasi antara penyakit dan faktor-
faktor yang diminati penelitian.
2. Faktor-faktor : umur, penggunaan pelayanan
kesehatan, konsumsi jenis makanan, obat-obatan,
dll
3. Unit observasi dan unit analisis : kelompok
(agregat) atau komunitas
4. Contoh : Hubungan korelasi kematian karena
kanker paru dan konsumsi sigaret
a. Data dari Departemen kesehatan dan Biro
Pusat Statistik yang secara teratur
mengumpulkan data, yaitu data konsumsi
Ada 4 (empat) faktor waktu yang digunakan
sigaret dan data kematian akibat Ca paru
dalam pengkajian peristiwa epidemiologis.
b. Semakin besar konsumsi sigaret per kapita
Keempat faktor waktu tersebut untuk
maka akan semakin besar pula laju kematian
membantu di dalam studi dan memahami
karena Ca paru
variasi yang berkaitan dengan penyakit, yaitu :
c. Penelitian tersebut tidak menunjukkan
1) Tren Sekular (Jangka Panjang)
hubungan bahwa populasi yang mengalami
Tren sekular atau tren temporal merupakan
kanker paru adalah populasi yang
perubahan penyakit atau mortalitas yang
menggunakan sigaret
terjadi secara perlahan dalam periode
d. Hasil penelitian ini dapat membentuk hipotesis
waktu yang panjang beberapa tahun bahkan
yang dapat dilanjutkan dengan penelitian
puluhan tahun
analitik
Contoh :
J. Rangkaian Berkala / Time Series
Penyakit cacar dengan infeksi, terjadi
1. Adalah rancangan epidemiologi yang bertujuan
selama 10 sp 15 tahun
menggambarkan penyakit dengan gambaran
2) Tren Jangka Pendek
frekuensi penyakit/status kesehatan dari beberapa
Tren jangka pendek / interval jangka
populasi berdasarkan pengamatan dari beberapa
pendek / kerangka waktu terbatas
sekuens waktu
merupakan pola perubahan penyakit
2. Atau diartikan sebagai data frekuensi penyakit
dengan durasi sangat pendek dengan batas
dalam bentuk rangkaian frekuensi penyakit dari
jam, hari, minggu dan bulan
waktu ke waktu
Ciri ciri :
3. Kegunaan rangkaian berkala :
Penderita-penderita terserang penyakit
a. Meramalkan kejadian penyakit di masa akan
yang sama dalam waktu bersamaan atau
datang berdasarkan data sebelumnya
hampir bersamaan
b. Mengevaluasi efektivitas intervensi kesehatan
Masa inkubasi rata-rata pendek
masyarakat
Contoh :
K. Laporan Kasus
Keracunan makanan (beberapa jam)
1. Yaitu mendeskripsikan karakteristik-karakteristik
Influensa (beberapa hari atau minggu)
dari sejumlah penderita yang menderita sebuah
Cacar (beberapa bulan).
penyakit tertentu, tetapi hasil dari studi ini tidak
3) Tren Siklus
dibandingkan dengan populasi yang dijadikan
Tren siklus merupakan perubahan siklus
sebagai acuan
dengan mengacu pada pengubahan rekuren
2. Hasil laporan kasus :
(berulang) dalam kejadian atau interval
Tidak dapat menggambarkan kondisi populasi,
Contoh :
hanya dapat menggambarkan kasus yang diamati
Penyakit diare terjadi pada beberapa daerah
saja, namun dapat digunakan sebagai dasar
setiap bulan maret dan september
penelitian lebih lanjut (dengan melihat kelompok
4) Variasi dan tren musiman
yang berisiko tinggi) dengan membuktikan
Pola pada beberapa penyakit terjadi
hipotesis yang dibangun
peningkatan dengan variasi siklus bulanan
3. Contoh laporan kasus
atau tahunan dan beberapa penyakit
a. pneumonia yang langka
meningkat dengan tren musiman
b. Hasil studi ini dapat membuka jalan pada
Contoh :
berbagai penelitian epidemiologi
Penyakit diare terjadi pada beberapa daerah
c. Dan kemudian dari hasil laporan kasus ini,
setiap bulan maret dan september, karena
dapat ditentukan menjadi suatu penyakit yang
pada bulan tersebut, terjadi musim
dikenal dengan AIDS
penghujan.
3

4. Case report (laporan kasus) 3. Untuk mendidik dan membiasakan masyarakat


a. Case report (laporan kasus) merupakan studi untuk memeriksakan diri sedini mungkin
kasus yang bertujuan mendeskripsikan C. Kriteria penyakit yang tepat untuk program skrining
manifestasi klinis, perjalanan klinis, dan Kriteria menurut Wilson (1965) :
prognosis kasus. Case report mendeskripsikan 1. The disease (suatu masalah yang penting, dikenali
cara klinisi mendiagnosis dan memberi terapi pada stadium laten atau awal)
kepada kasus, dan hasil klinis yang diperoleh. 2. The screen (cara pemeriksaan screening memiliki
b. Selain tidak terdapat kasus pembanding, hasil sensitivitas dan spesifisitas yang baik)
klinis yang diperoleh mencerminkan variasi 3. Follow-up (Fasilitas kesehatan memiliki upaya
biologis yang lebar dari sebuah kasus, untuk melakukan assesment dan pengobatan,
sehingga case report kurang andal (reliabel) bentuk pengobatan dapat diterima penderita,
untuk memberikan bukti empiris tentang terdapat kebijakan yang mendukung untuk
gambaran klinis penyakit. pengobatan)
L. Laporan Seri Kasus 4. Economy (harus bersifat ekonomis)
1. Adalah laporan dari sekelompok kasus dengan 5. Penyakit yang akan dideteksi memiliki sufficiently
diagnosis yang sama prevalent
2. Data dari laporan tersebut dapat digambarkan 6. Penyakit dapat dilakukan uji diagnosis yang akurat
berdasarkan variable umur, jenis kelamin, status 7. Penyakit ini berpeluang tidak muncul gejala
perkawinan, gambaran klinis, dll. sehingga tidak dapat didiagnosis dengan cepat
3. Contoh : 8. Terdapat manfaat ketika penyakit tersebut
a. Laporan dari 5 kasus flu burung pada tahun terdiagnosis lebih awal baik dalam hal pengobatan
2013. penyakit atau pencegahan komplikasi
b. Dari kasus tersebut awalnya ditemukan kasus 9. Harus ada tes skrining yang memiliki sensitivitas
1 menderita pneumonia berat, menyusul kasus dan spesifisitas yang baik
ke 2 dst dengan gejala yang sama. Penyakit D. Contoh Penyakit Yang Sering Dilakukan Skrining
dengan gejala tersebut sebelumnya tidak ada 1. Mammografi untuk mendeteksi ca mammae
di Indonesia. Dari laporan sekelompok kasus 2. Pap smear / IVA test untuk mendeteksi ca cervix
(laporan seri kasus), akhirnya dapat diketahui 3. Pemeriksaan Tekanan darah untuk mendeteksi
bahwa ke 5 kasus tersebut menderita penyakit hipertensi
flu burung 4. Pemeriksaan reduksi untuk mendeteksi diabetes
c. Laporan kasus AIDS, hasil identifikasi dari mellitus
laporan seri kasus dapat dijelaskan sebagian 5. Pemeriksaan urine untuk mendeteksi kehamilan
besar kasus AIDS banyak terjadi pada laki laki 6. Pemeriksaan EKG untuk mendeteksi Penyakit
homoseksual Jantung Koroner
7. Dan lain lain ..
T9 SCREENING EPID
E. Langkah skrining
A. Konsep skrining 1. Tahap 1 : pemeriksaan terhadap kelompok
1. Epidemiologi merupakan ilmu yang mempelajari penduduk yang dianggap mempunyai risiko tinggi
tentang frekuensi dan distribusi penyakit menderita penyakit
2. Untuk mengurangi penyebaran penyakit, maka a. Apabila hasil negatif, dianggap orang tersebut
perlu dilakukan upaya pencegahan penyakit tidak menderita penyakit
3. Pencegahan primer merupakan cara terbaik untuk b. Apabila hasil positif dilakukan pemeriksaan
mencegah penyakit tahap 2
4. Mendeteksi tanda dan gejala penyakit secara dini, 2. Tahap 2 : pemeriksaan diagnostik
dengan screening atau uji tapis a. Hasilnya positif maka dianggap sakit dan
B. Pengertian dan tujuan skrining mendapat pengobatan.
Pengertian b. Hasilnya negatif maka dianggap tidak sakit
1. Screening atau penyaringan kasus (Uji Tapis) (dilakukan pemeriksaan ulang secara
Adalah cara untuk mengidentifikasi penyakit yang periodik).
belum tampak, melalui suatu tes atau pemeriksaan
atau prosedur lain, yang dapat dengan cepat
memisahkan antara orang yang mungkin
menderita penyakit dengan orang yang mungkin
tidak menderita
2. Merupakan suatu upaya untuk menyeleksi orang-
orang yang tampak sehat, tidak menderita penyakit
tertentu dari suatu populasi tertentu
Tujuan
1. Untuk mendapatkan penderita suatu penyakit
sedini mungkin sehingga dapat dengan segera
memperoleh pengobatan
2. Untuk mencegah meluasnya penyakit dalam
masyarakat
4

F. Validitas skrining
1. Screening merupakan tes awal yang baik untuk G. Contoh Soal :
memberikan indikasi individu mana yang benar
benar sakit dan mana yang tidak sakit
2. Validitas merupakan kemampuan dari suatu test
untuk menentukan individu yang memang benar
benar sakit dan individu yang benar benar tidak
sakit
3. Contoh :
a. Pemeriksaan Hb sahli, apakah hasil Tentukan : false positive, false negative, true positive,
pemeriksaan tersebut dapat menunjukkan true negative, sensitivitas dan spesitifitas!
individu yang memang benar benar anemia
dan benar benar tidak anemia Jawab :
b. Misalnya hasil pemeriksaan menunjukkan di
suatu wilayah prevalensi anemia 85%
c. Ternyata hasil pemeriksaan dengan
menggunakan alat lainnya misalnya easy
touch prevalensi anemia 55%
d. Maka dapat disimpulkan pemeriksaan hb sahli
mempunyai validitas yang rendah
4. Tes dikatakan valid 1. false positive : individu tidak sakit, namun hasil
a. Bila test dapat memprediksi secara benar screening menunjukkan positif (50)
b. Bila hasil screening positif dan benar benar 2. false negative : individu sakit, namun hasil
sakit screening menunjukkan negative (40)
c. Bila hasil screening negative dan benar benar 3. true positive : individu sakit dan hasil screening
tidak sakit menunjukkan positif (10)
5. Unsur unsur validitas 4. true negative : individu tidak sakit dan hasil
a. Sensitivitas screening menunjukkan negative (900)
Sensitivitas yaitu kemampuan suatu test untuk 5. Sensitivitas = a/(a+c) x 100%
mengidentifikasi individu dengan tepat, = 10/50 X 100%
dengan hasil test positif dan benar benar sakit = 20%
b. Spesitifitas Pemeriksaan tekanan darah mempunyai
Spesitifitas yaitu kemampuan suatu test untuk sensitivitas 20%
mengidentifikasi individu dengan tepat, 6. Spesitifitas = d/(b+d) x 100%
dengan hasil test negatif dan benar benar tidak = 900/950 X 100%
sakit = 94,7%
Sensitivitas dan spesitifitas dapat ditentukan Pemeriksaan tekanan darah mempunyai spesitifitas
dengan membandingkan hasil uji screening dengan 94,7%
hasil diagnosis pasti T10 KONSEP PENYEBAB PENYAKIT
6. A. Introduksi
1. Sakit merupakan kondisi dimana terjadi
perubahan-perubahan struktural dan fungsional
dari jaringan tubuh, dari kondisi normal  kondisi
abnormal
2. Manifestasi penyakit dapat berupa :
gejala-gejala (symptom)
a. a : positif benar atau true positive (individu tanda-tanda (sign)
sakit dan hasil screening positif) abnormalitas dari hasil tes laboratorium yang
b. b : positif semu atau false positive (individu diambil dari jaringan tubuh
tidak sakit dan hasil screening positif) 3. Symptom  merupakan gejala-gejala yang
c. c : negatif semu atau false negative (individu dirasakan oleh pasien
sakit dan hasil screening negatif) 4. Sign  merupakan tanda-tanda yang terdapat pada
d. d : negative benar atau true negative (individu pasien (hasil pemeriksaan yang didapat pada
tidak sakit dan hasil screening negatif) pasien)
e. Sensitivitas : a/(a+c) 5. Salah satu tujuan epidemiologi adalah membantu
f. Spesitifitas : d/(b+d) pencegahan dan pengendalian penyakit  dengan
cara menemukan penyebab (kausa)
6. Bila didefinisikan penyebab penyakit adalah
berupa :
Kejadian, kondisi, karakter
7. yang berperan dalam terjadinya penyakit, Secara
logika : sebab mendahului akibat
5

B. Peristiwa Terjadinya Penyakit empedu kuning dan empedu hitam. Pada zaman ini
Hippocrates telah menghubungkan antara kejadian
sakit dengan faktor-faktor lingkungan
3. Zaman Galen (129-199 Setelah Masehi)
Menurut Galen, penyakit terjadi oleh karena
interaksi 3 kumpulan faktor yaitu : tubuh, sikap
hidup, atmosfer
Dapat dikatakan pada masa Galen ini telah ada
pemikiran bahwa penyakit terjadi karena
dipengaruhi oleh lingkungan dan sikap hidup
4. Konsep contagion
C. Jenis-Jenis Hubungan Sebab-Akibat Konsep kontagion muncul pada abad ke XVI oleh
1. Tidak berhubungan secara statistik Fracastorius (1478-1553). Menurut konsep ini
2. Berhubungan secara statistik sakit terjadi karena adanya proses kontak
kausal langsung /bersinggungan dengan sumber penyakit.
kausal tidak langsung Dapat dikatakan pada masa ini telah ada pemikiran
D. Pedoman Untuk Menunjukan Hub. Sebab-Akibat adanya konsep penularan
1. Hubungan temporal  sebab mendahului akibat 5. Konsep infeksi dan imunitas
2. Plausibilitas  apakah hubungan yang ada a. Konsep ini muncul pada abad XVIII
konsisten dengan ilmu pengetahuan yang ada pertengahan
3. Konsistensi  apakah terdapat hasil yang sama b. Konsep mengenai penularan atau kontak
ditemukan pada penelitian yang lain dengan
4. Kekuatan hubungan  apakah hubungan sebab c. sumber penyakit mulai diterima di AS
akibat berhubungan secara statistik yang kuat d. Pada masa tersebut terjadi peristiwa dimana
5. Dose-respons relationship  apakah ada selimut bekas penderita-penderita cacar,
peningkatan dampak dengan peningkatan dibagi-bagikan kepada orang-orang Indian 
eksposure sehingga orang-orang Indian tertular
6. Reversibilitas  apakah eliminasi exposure akan e. Bersamaan dengan itu muncul juga konsep
menurunkan resiko dampak tentang adanya imunitas /kekebalan terhadap
7. Disain studi  apakah hasil dari studi sebab-akibat penyakit  orang-orang yang pernah tertular
berasal dari studi dengan disain yang kuat penyakit cacar menjadi kebal terhadap
penyakit tersebut dikemudian hari.
f. Pada abad ke XVIII itu juga mulai dikenal
penyakit-penyakit infeksi yang bersifat
menular lainnya seperti : penyakit cacar,
penyakit rabies, penyakit kolera
g. Pada masa itu Jhon Snow (1813-1858),
melakukan observasi mengenai riwayat
alamiah penyakit kolera dan bagaimana model
transmisi/penularannya
E. SEKILAS SEJARAH PERKEMBANGAN DARI h. Snow mengamati bahwa :
KONSEP PENYEBAB PENYAKIT kolera ditularkan dari manusia ke manusia
1. Pengertian mengenai penyebab penyakit pada penyebabnya adalah sel hidup yang tidak
zaman prasejarah : terlihat tapi dapat memperbanyak diri secara
sakit disebabkan oleh adanya kekuatan –kekuatan cepat transmisi melalui pencernaan dan atau
supranatural air, sumber penularan berasal dari faeces yang
pada zaman tersebut meningkatnya prevalens infeksius.
rabies dianggap terjadi akibat munculnya bintang 6. Teori jasad renik/germ theory
Sirius (anjing) dilangit . demikian juga a. Walaupun Snow telah memunculkan teori
meningkatnya kasus dysenteri pada penduduk mengenai penyebab kolera adalah
disekitar sungai Nil akibat adanya perubahan pada mikroorganisme tertentu tapi teori tersebut
aliran sungai Nil yang terjadi karena adanya belum diterima sepenuhnya
kekuatan supra natural b. Louis Pasteur (1822-1895) menemukan
2. Zaman Hippocrates (460-377 Sebelum Masehi) mikroorganisme pada proses fermentasi
Pada zaman ini, Hipocrates berpendapat bahwa disamping itu mikroorganisme tersebut
sakit bukan disebabkan hal-hal yang bersifat terdapat pula pada udara atmosfer
supranatural. c. Penemuan Pasteur menarik perhatian Lord
Terjadinya penyakit ada kaitannya dengan Lister (1865) seorang ahli bedah, sehingga
elemen-elemen bumi, api, udara dan air, elemen- kemudian ia memakai antiseptik (karbol)
elemen tersebut menyebabkan kondisi, dingin, untuk membersihkan luka-luka pasiennya
kering, panas dan lembab. banyak yang terhindar infeksi
Kondisi dingin, panas, lembab dan kering dari d. Pada masa itu Pasteur dapat mengisolasi
bumi berpengaruh pada cairan tubuh, darah, cairan kuman/bakteri anthrax kemudian dibuat kultur
6

dan dilemahkan, kemudian disuntikkan pada 2. Contoh : mycobacterium tbc merupakan


ternak terjadi kekebalan pada ternak dan penyebab yang dibutuhkan agara dapat timbul
timbullah konsep imunisasi/vaksinasi penyakit tbc
e. Pasteur juga menemukan “virus”  istilah 3. Diterminan lain yang memberi kontribusi adalah
yang dipakai untuk mikroorganisme yang kondisi “host” dan kondisi lingkungan
bersifat pathogen tapi tidak dapat
dikultur/ditanam
f. Patric Manson (1844-1922), dapat
menemukan/menunjukkan peran dari
arthropoda sebagai vektor untuk penyakit-
penyakit infeksi tropikal seperti filariasis dan
malaria
F. KONSEP “SINGLE CAUSATION”
1. Pembuktian dari penyebab penyakit
2. Robert Koch (1843-1910), merupakan orang
pertama yang dapat mengisolasi agen penyebab H. Konsep “Triad Epidemiologi”
penyakit TBC dan kolera di Asia, Koch dapat Terjadinya penyakit disebabkan adanya interaksi
membuktikan adanya kausa primer dari suatu antara : agent, host (human), environment, dan vector
penyakit bertindak sebagai perantara
3. Postulate Koch :
a. kuman harus ada pada setiap kasus penyakit
dan dapat dibuktikan melalui kultur
b. kuman-kuman tersebut tidak ditemukan pada
kasus-kasus yang disebabkan oleh penyakit I. Konsep Ekologis (Ecological Concept)
lain Konsep ini berdasarkan keseimbangan 3 prinsip
c. kuman tersebut harus menimbulkan penyakit hukum biologis yaitu :
yang sama pada binatang percobaan dari 1. penyakit terjadi oleh karena adanya ketidak
binatang percobaan yang telah sakit, dapat seimbangan antara “agent” dan “host”
ditemukan kuman yang sama dengan kuman 2. ketidak seimbangan yang terjadi tergantung
penyebab penyakit kepada karakteristik dari “agent” dan “host”
4. Kelemahan dari postulate Koch ialah tidak dapat 3. karakteristik dari “agent” dan “host” dan interaksi
diterapkan pada semua penyakit. diantara keduanya secara langsung tergantung
a. pada penyakit-penyakit akibat virus (virus kepada kondisi “environment” seperti
belum dapat di kultur) a. kondisi fisik, sosial, ekonomi,
b. pada penyakit-penyakit tertentu seperti b. lingkungan biologis dan lingkungan psikis
campak  penyakit ini dapat menyebabkan
sakit pada manusia, tapi tidak dapat
menyerang semua binatang percobaan kecuali
hanya pada anjing-anjing kecil
c. penyakit-penyakit canine distemper, dapat
menyerang anjing tapi tidak dapat menyerang
manusia  sehingga harus ada host yang
spesifik untuk kuman-kuman tertentu
d. ada kuman-kuman pathogen yang menginfeksi
manusia tapi tidak menimbulkan sakit  orang
sehat terinfeksi virus sering tidak
menimbulkan sakit J. Macam-macam / Tipe Hubungan Kausal
6. Dari penemuan Koch dan kelemahan- 1. HUBUNGAN LANGSUNG (DIRECT)
kelemahannya timbul pemikiran-pemikiran bahwa: Faktor A secara langsung menyebabkan penyakit
a. Selain faktor /kausa primer selalu ada faktor- B (Direct : Faktor A->Penyakit B)
faktor lain yang memberikan kontribusi untuk 2. HUBUNGAN TIDAK LANGSUNG (INDIRECT)
menyebabkan timbulnya suatu penyakit
b. Penyakit disebabkan multiple-causes yaitu :
kausa primer  agent penyakit
faktor-faktor lain yang memberikan kontribusi
yaitu : “host” dan “environment”
G. BEBERAPA CONTOH MODEL DARI KONSEP
“MULTIPLE CAUSATION”
1. ”Konsep “Web of Causation”
penyakit tidak disebabkan oleh “single cause”
a. penyakit disebabkan oleh “multiple cause”
b. harus ada kausa utama dalam rangkaian
komponen penyebab penyakit (determinan)
7

K. JIKA HUBUNGAN MERUPAKAN HUBUNGAN T11 CROSSECTIONAL STUDY


KAUSAL
A. Pengantar Epidemiologi
Ada 4 tipe kemungkinan hubungan antara faktor
1. Epidemiologi
dengan kejadian penyakit ;
Adalah ilmu tentang distribusi dan determinan-
1. Necessary and sufficient
determinan dari keadaan atau kejadian yang
berhubungan dengan kesehatan di dalam populasi
Faktor A tertentu
Dibutuhkan > necessary 2. Riset epidemiologi :
sudah cukup > sufficient 3. Epidemiologi Deskriptif
Tanpa faktor A > tdk terjadi penyakit Untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi
Dengan faktor A > penyakit selalu terjadi penyakit menurut orang, tempat dan waktu
2. Necessary but not sufficient a. Studi korelasi penyakit
b. Laporan kasus
c. Laporan seri kasus
4. Epidemiologi Analitik
untuk menjelaskan mengenai factor factor
penyebab penyakit atau masalah kesehatan
a. Cross Sectional
Setiap faktor (A, B, C) dibutuhkan untuk b. Studi kasus kontrol
terjadinya penyakit c. Studi kohor
Biasanya dibutuhkan dalam sekuens waktu yang d. Studi eksperimen
spesifik B. Study Crossectional Atau Penelitian Potong Lintang
Contoh : penyakit TBC 1. Studi cross sectional ditujukan untuk mencari
a. basil TBC dibutuhkan untuk terjadinya prevalensi suatu penyakit atau mendeskripsikan
penyakit TBC, tapi tdk cukup (not sufficient) ciri ciri penduduk yang mengalami masalah
hanya kehadirannnya saja untuk menimbulkan kesehatan di suatu daerah
sakit pada seseorang 2. Dalam kondisi tertentu study crossectional
b. dibutuhkan faktor lain, seperti misalnya faktor digunakan untuk memperkirakan adanya
gizi dan daya tahan tubuh yg menurun hubungan sebab akibat dan menghasilkan hipotesis
3. Sufficient but not necessary 3. Maka crossectional study sering dikatakan sebagai
penelitian peralihan antara study deskriptif dan
study analitik
4. Adalah rancangan studi epidemiologi yang
mempelajari hubungan penyakit dan paparan
(faktor penelitian)
a. masing-masing faktor dapat menimbulkan 5. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati
penyakit yang sama status paparan dan penyakit pada individu pada
b. Setiap faktor dapat bertindak sendiri-sendiri satu saat tertentu dan dilakukan satu kali
sebagai penyebab pengamatan saja
c. penyakit 6. Sampel yang digunakan harus representatif yaitu
d. Contoh : sampel yang diambil harus dapat mewakili
1) Terpapar dengan radiasi  leukemia populasi sasaran. Sampel diambil dengan cara
2) Terpapar dengan benzena  leukemia dilakukan randomisasi
3) masing-masig faktor jika ada cukup untuk 7. Selanjutnya sampel diperiksa atau diamati atau
menimbulkan sakit diwawancarai tentang status penyakit, paparan dan
4) (sufficient) variabel lainnya yang relevan
5) tidak dibutuhkan harus ada kedua faktor C. Langkah Penelitian
untuk menimbulkan 1. Identifikasi dan perumusan masalah
6) penyakit (not necessary) 2. Menentukan tujuan penelitian
4. Neither sufficient nor necessary 3. Menentukan lokasi dan populasi penelitian
4. Menentukan cara dan besar sampel
5. Menyusun definisi operasional
6. Mengidentifikasi variable independent dan
variable dependen
7. Menyusun instrument penelitian
8. Melaksanakan pengukuran
Merupakan hubungan yang kompleks 9. Melakukan analisa
Representative untuk menggambarkan hubungan D. Rancangan Penelitian Potong Lintang
kausal penyakit-penyakit kronis
8

Epidemiologi Deskriptif : untuk mendeskripsikan


distribusi frekuensi penyakit menurut orang,
tempat dan waktu
a. Studi korelasi penyakit
b. Laporan kasus
c. Laporan seri kasus
d. Cross sectional Survei
2. Epidemiologi Analitik
Epidemiologi Analitik : untuk menjelaskan
mengenai factor factor penyebab penyakit atau
masalah kesehatan
E. Dummy hasil penelitian desain potong lintang a. Crossectional Study
Observasi dan pengukuran variabel bebas dan b. Studi case control /kasus kontrol
tergantung dilakukan dalam waktu yang sama (satu c. Studi kohor
kali) d. Studi eksperimen

L. Analisis hasil penelitian potong lintang


Rasio Prevalens (Rp) = Perbandingan Antara Jumlah
Subjek Dengan Penyakit (Lama Dan Baru) Pada Satu
Saat Dengan Seluruh Subjek Yang Ada

1. A/(A+b) =
Proporsi (Prevalens) Subjek Yang Mempunyai
Faktor Risiko Yang Mengalami Efek B. Epidemiologi Analitik
2. C/(C+d) = 1. adalah riset epidemiologi yang bertujuan untuk
Proporsi (Prevalens) Subjek Tanpa Faktor Risiko menjelaskan tentang faktor-faktor risiko dan
Yang Mengalami Efek penyebab penyakit.
3. Rasio Prevalens : 2. Studi epidemiologi analitik ini menguji data dan
> 1 : Faktor Risiko informasi yang diperoleh dari studi epidemiologi
= 1 : Bukan Faktor Risiko deskriptif
< 1 : Faktor Protektif 3. Studi observasional
M. Contoh Kasus a. Crossectional Study
Hubungan sumber air minum dengan kejadian diare b. Studi case control
Variabel independent : sumber air minum (pdam dan c. Studi kohort
bukan pdam) 4. Studi eksperimental
Variabel dependen : diare (diare dan tidak diare) a. Eksperimen murni
Pdam ( 10 diare, 15 orang tidak diare) b. Eksperimen semu
Bukan pdam (21 diare, 6 tidak diare) C. Studi Observasional
A = 21 1. Langkah yang dilakukan
B=6 a. Peneliti hanya mengamati (melakukan
C = 10 observasi) perjalanan alamiah peristiwa
D = 15 b. Peneliti mengumpulkan data dengan cara
Rp atau rasio prevalens = 1,94 1) membuat catatan siapa yang terpapar dan
Sumber air yang bukan dari pdam merupakan factor siapa yang tidak terpapar faktor penelitian
risiko (nilai rp > 1) 2) menentukan siapa yang mengalami dan
tidak mengalami penyakit yang diteliti
T12 EPIDEMIOLOGI ANALITIK c. Peneliti mengolah data yang telah
Case Control Dan Kohor dikumpulkan
d. Peneliti menyajikan data yang sudah diolah
A. Pengantar Epidemiologi
e. Peneliti menginterpretasikan hasil pengolahan
Epidemiologi adalah ilmu tentang distribusi dan
data sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
determinan-determinan dari keadaan atau kejadian
f. Rasio Pravalens
yang berhubungan dengan kesehatan di dalam populasi
1) > 1 : Faktor Risiko
tertentu.
2) = 1 : Bukan Faktor Risiko
Riset Epidemiologi :
3) < 1 : Faktor Protektif
1. Epidemiologi Deskriptif
2. Study Case Control
9

a. Adalah rancangan studi epidemiologi yang 3) Mengobservasi dan mencatat segala


mempelajari hubungan factor paparan dan keterangan yang diperoleh
penyakit, dengan cara membandingkan 4) Hasil observasi :
kelompok kasus dan kelompok kontrol
b. Ciri studi kasus kontrol :
Mengawali pengamatan dari mulai status
penyakit, untuk kemudian dilakukan
pengamatan mengenai riwayat paparan
c. Nama lain studi kasus kontrol yaitu studi
retrospektif, 5) Menginterpretasikan data yang
d. Artinya arah pengamatan dari rancangan diperoleh
tersebut bergerak dari akibat (penyakit) a) Menilai apakah benar faktor tersebut
menuju sebab (paparan) merupakan penyebab timbulnya
e. Pada prinsipnya studi kasus kontrol penyakit. Salah satu cara menilainya
merupakan dengan dilakukan tes kemaknaan
f. penelitian yang membandingkan antara dengan mempergunakan uji
sekelompok orang yang menderita penyakit kemaknaan yang sesuai
(kasus) dengan sekelompok lainnya yang tidak b) Menilai besarnya risiko kemungkinan
menderita penyakit tersebut (kontrol), yang terkena penyakit.
kemudian dilihat kebelakang faktor-faktor 6) Dugaan Risiko Dapat Dihitung Dengan
penyebab timbulnya penyakit tersebut. Rumus SBB :
g. Rancangan Studi Kasus Kontrol

a) OR = Odds Ratio, adalah Odds untuk


sakit pada kelompok terpapar
dibandingkan dengan Odds untuk sakit
pada kelompok tidak terpapar
b) Odds adalah istilah menunjukkan rasio
antara dua nilai variabel dikotomi.
c) Odds kasus : rasio antara kasus
h. Studi Kasus Kontrol terpapar dan kasus tak terpapar
Langkah langkah pengamatan dan analisis d) Odds kontrol : ??
pada studi kasus kontrol i. Interpretasi dari OR adalah
1) Menetapkan kelompok-kelompok yang “Orang yang terpapar faktor risiko, memiliki
akan diteliti kemungkinan menderita penyakit OR kali
a) Kelompok yang akan diteliti adalah dibandingkan orang yang tidak terpapar faktor
kelompok yang menderita penyakit risiko”
(kasus) serta kelompok yang tidak j. Contoh
menderita penyakit (kontrol) 1) Hipotesis : Merokok dapat mengakibatkan
b) Pemilihan kelompok kasus ditentukan terjadinya penyakit jantung
oleh tujuan penelitian, dengan cara 2) Kelompok kasus : orang dengan menderita
memilih penderita penyakit yang penyakit jantung
diteliti saja dan tidak disertai penyakit 3) Kelompok control : orang tidak menderita
lain yang mengganggu dalam penyakit jantung
penilaian penyakit tersebut 4) Jika hasil dari pengamatan, seperti yang
c) Pemilihan kelompok kontrol : tertera pada tabel di bawah ini,
responden harus mempunyai sifat 5) Hitung OR dan bagaimana interpretasinya ?
yang sama dengan kelompok kasus,
namun tidak sedang mengidap Jawab :
penyakit yang sedang diteliti
d) Salah satu cara memilih kelompok
kontrol :
 Pengunjung lain yang datang
berobat ke tempat pelayanan
kesehatan (tempat kasus berobat)
 Tetangga dari responden yang 1) Hasil Perhitungan
masuk dalam kelompok kasus
 Keluarga lainnya dari responden
kelompok kasus
2) Menetapkan besarnya sampel
10

 keadaan sosial ekonomi


 dan lain sebagainya yang
mempengaruhi pada hasil
pengamatan
2) Menetapkan besarnya sampel
3) Mengobservasi dan mencatat segala
keterangan yang diperoleh
2) Interpretasi 4) Hasil observasi :
“Perokok berpeluang untuk terkena penyakit
jantung 13,5 kali dibandingkan orang yang
bukan perokok”
3. Study Kohor
a. Adalah penelitian yang membandingkan 5) Menginterpretasikan data yang
antara sekelompok orang yang mempunyai diperoleh
faktor penyebab/paparan dengan sekelompok a) Menilai apakah benar faktor tersebut
lainnya yang tidak mempunyai faktor merupakan penyebab timbulnya
penyebab/paparan timbulnya suatu penyakit penyakit. (Tes kemaknaan : uji
b. Penelitian kohor disebut juga penelitian kemaknaan yang sesuai)
prospektif, karena penelitian ini akan melihat b) Menilai besarnya risiko kemungkinan
akibat yang ditimbulkan faktor terkena penyakit yang dihadapi, oleh
penyebab/paparan di kemudian hari/pada masa orang yang mempunyai faktor
yang akan datang penyebab
c. Penelitian kohor diawali dengan c) Dugaan risiko, dapat dihitung dalam
mengobservasi sekelompok orang sehat dari dua angka yaitu Relative Risk (RR)
kelompok risiko (mempunyai faktor penyebab dan Atributable Risk (AR).
timbulnya penyakit) dan kelompok lainnya 6) Relative Risk (RR)
yang tidak berisiko (tidak mempunyai faktor Resiko Relatif (RR) = perbandingan risiko
penyebab timbulnya penyakit) (peluang) terjadinya penyakit pada
d. Kelompok risiko dan kelompok tidak berisiko kelompok terpapar dibandingkan dengan
memiliki ciri-ciri yang sama kelompok tidak terpapar, dengan rumus
e. Kedua kelompok ini diamati sampai beberapa sbb:
waktu, biasanya cukup lama (waktu sudah
a
ditentukan dalam desain penelitian ( a  b) a (c  d )
sebelumnya) RR   atau  RR 
c c ( a  b)
f. Rancangan Penelitian (c  d )
Interpretasi dari RR :
“RR kali (lebih besar atau lebih kecil)
risiko untuk menderita penyakit pada
orang yang terpapar faktor risiko
dibandingkan orang yang tidak terpapar
faktor risiko”
7) Atributable Risk (AR)
“Risiko Atribut (AR) adalah selisih antara
insiden penyakit yang diderita oleh
kelompok yang terkena penyebeb
g. Langkah langkah pengamatan dan analisis
(terpapar) dengan insiden penyakit yang
pada studi kasus kohor
diderita oleh kelompok yang tidak terkena
1) Menetapkan kelompok-kelompok yang
penyebab (tidak terpapar), dengan rumus
akan diteliti
sbb:
a) Kelompok yang akan diteliti adalah
sekelompok orang sehat yang terpapar a c
faktor penelitian dan sekolompok AR  
orang sehat yang tidak terpapar faktor
penelitian
a b c d
b) Pemilihan kelompok tersebut harus Interpretasi dari perhitungan AR :
sebanding, dalam hal diantaranya “ Dari 1000 orang yang terpapar faktor
 umur penelitian, akan ditemukan AR orang
 jenis kelamin menderita suatu penyakit”
 golongan etnik h. Contoh
 status perkawinan Pada penelitian kohor, mengenai hubungan
 Agama antara kebiasaan merokok dengan kejadian
 tingkat pendidikan kanker paru. Penelitian ini dilaksanakan di
 Pekerjaan Inggris selama 7 tahun
11

1) Menentukan sekelompok orang yang ⮚ Wabah penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya
mempunyai kebiasaan merokok dan suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah
sekelompok orang bukan perokok penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari
2) Kelompok penelitian tersebut diobservasi keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta
selama 7 tahun ke depan dapat menimbulkan malapetaka (UU No 4 th. 1984, Bab I,
3) Kemudian dilakukan test paru (diagnosis Pasal 1)
patologi anatomi) untuk menggambarkan ⮚ Wabah dari Sudut Epidemiologi adalah Suatu peningkatan
apakah sesorang menderita kanker paru kejadian kesakitan dan atau kematian suatu penyakit di
atau tidak suatu tempat tertentu yang melebihi keadaan biasanya
4) Jika hasil dari pengamatan, seperti yang ⮚ Wabah adalah suatu peningkatan kejadian kesakitan atau
tertera pada tabel di bawah ini kematian yang telah meluas secara cepat, baik jumlah
5) Hitung RR dan AR dan bagaimana masing kasusnya maupun daerah terjangkit (Dep Kes DirJen PPM
masing interpretasinya dan PLP th 1981)
APA KLB ?
Jawab :
⮚ “Timbulnya atau meningkatnya kejadian
1) Hasil perhitungan kesakitan/kematian yg bermakna secara epidemiologis
pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan
merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya
wabah” (Peraturan Pemerintah No. 40, th 1991, Bab 1,
Pasal 1).
⮚ Kejadian yang melebihi keadaan biasa, pada satu
/sekelompok masyarakat tertentu. (Mac Mahon and Pugh,
1970; Last, 1983, Benenson, 1990),
⮚ Peningkatan frekuensi penderita penyakit, pada populasi
2) Interpretasi
tertentu, pada tempat dan musim atau tahun yang sama
“Perokok berpeluang untuk menderita
(Last, 1983).
penyakit kanker paru 2,8 kali lebih besar
APA BEDA WABAH DAN KLB ?
dari pada bukan perokok”
Undang-Undang Wabah , 1969:
2,8 kali lebih besar risiko untuk menderita
⮚ Wabah : adalah peningkatan kejadian kesakitan/kematian,
penyakit ca paru pada perokok
yang meluas secara cepat baik dalam jumlah kasus
dibandingkan orang yang bukan perokok
maupun luas daerah penyakit, dan dapat menimbulkan
3) Hasil Perhitungan
malapetaka.
⮚ Kejadian Luar Biasa (KLB) : adalah timbulnya suatu
kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu
kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara
epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam
kurun waktu tertentu (Undang-undang Wabah, 1969).
Peraturan Menteri Kesehatan RI No 949/
4) Interpretasi MENKES/SK/VII/2004 Peraturan Menteri Kesehatan RI
“Dari 1000 Perokok, akan ditemukan 500 No . 949/ MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa
orang diantaranya terkena penyakit kanker (KLB) : timbulnya atau meningkatnya kejadianKesakitan
paru yang disebabkan karena kebiasaan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada
merokok” suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
PERBEDAAN DEFINISI ANTARA WABAH DAN
KLB
Wabah harus mencakup:
- Jumlah kasus yang besar
- Daerah yang luas
- Waktu yang lebih lama
- Dampak yang ditimbulkan lebih berat
APA KRITERIA WABAH ?
⮚ Penyakit menular
⮚ Keadaan lazim
⮚ Peningkatan jumlah penderita
⮚ Menimbulkan malapetaka
PENYAKIT MENULAR
Penyakit yang disebabkan oleh suatu mikroorganisme
atau produk toxinnya yang ditularkan dari penderita atau
reservoirnya kepada manusia lain yang rentan
T13 INVESTIGASI WABAH
APA WABAH ?
KEADAAN LAZIM
12

▪ Jumlah penderita penyakit menular di suatu wilayah 11. Menetapkan sistim penemuan kasus baru atau kasus
diamati dalam suatu kurun waktu tertentu (mingguan, dengan komplikasi,
bulanan, atau tahunan) 12. Melaporkan hasil penyidikan kepada instansi
▪ Apabila angka hasil pengamatan berkisar pada satu nilai di kesehatan setempat dan kepada sistim pelayanan
sekitar nilai rata-rata (mean), maka keadaan yang seperti kesehatan yang lebih tinggi.
ini disebut sebagai suatu keadaan yang lazim. KEGIATAN PENANGGULANGAN WABAH
PENINGKATAN JUMLAH PENDERITA ◦ Menetapkan terjangkitnya keadaan wabah
⮚ Pedoman yang dipakai untuk menentukan keadaan wabah, ◦ Melaksanakan penanganan keadaan wabah
apabila perbedaan jumlah penderita melebihi dua standard ◦ Menetapkan berakhirnya keadaan wabah
deviasi (SD) dari harga rata-ratanya (mean) Menetapkan terjangkitnya keadaan wabah
⮚ Untuk kepentingan praktis di lapangan, pedoman yang ◦ Suatu proses pengumpulan dan penganalisaan data dari
dipakai adalah perbedaan jumlah penderita mencapai 2 kali suatu penyakit di suatu daerah serta menarik
nilai rata-rata kesimpulan sehingga diketahui ada tidaknya keadaan
MENIMBULKAN MALAPETAKA wabah
⮚ Penyakit mempunyai potensi yang besar untuk menular ◦ Memerlukan keterlibatan masyarakat dan petugas
secara cepat kesehatan (petugas Puskesmas)
⮚ Suatu kasus penyakit menular dengan penderita tunggal, Kegiatan yang dilakukan dalam penetapan
tetapi penyakit tersebut sudah lama tidak ditemukan atau terjangkitnya wabah :
sama sekali belum diketahui, keadaan ini mempunyai ⮚ Melakukan pengumpulan data
potensi menimbulkan malapetaka Data rutin (laporan pelayanan berobat jalan)
APA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI Data laporan masyarakat
TIMBULNYA WABAH ? ⮚ Melakukan analisis data
1. Kekebalan masyarakat yang rendah Mengolah dan menyajikan data yg terkumpul
Daya tahan masyarakat terhadap penyebaran penyakit Menghitung jumlah & penyebaran penderita
infeksi ⮚ Menarik kesimpulan
2. Patogenisiti Terjadi wabah (> nilai batas keadaan wabah)
Kemampuan bibit penyakit untuk menimbulkan reaksi Tidak terjadi wabah
pd penjamu sehingga timbul penyakit CONTOH KASUS
3. Lingkungan yang buruk ◦ Pencatatan terhadap penyakit A selama 12 minggu
Perubahan pd lingkungan yg mempengaruhi memperlihatkan jumlah penderita baru dari minggu
perkembangan organisme. Perubahan lingkungan pertama sampai minggu ke 12 berturut-turut 8 orang,
terjadi karena ada perubahan pada ekosistem. 10 orang, 13 orang, 9 orang, 9 orang, 15 orang, 10
APA TUJUAN INVESTIGASI ? orang, 8 orang, 11 orang, 13 orang, 14 orang dan 14
Tujuan Umum : orang. Berapakah nilai rata-rata (mean) dan standar
⮚ Mencegah meluasnya (penanggulangan), penyimpangan (SD) dari penyakit A tersebut untuk 1
⮚ Mencegah terulangnya KLB di masa yang akan datang minggu
(pengendalian).
Tujuan khusus :
• Diagnosis kasus yang terjadi dan mengidentifikasi
penyebab penyakit ,
• Memastikan bahwa keadaan tersebut merupakan KLB,
• Mengidentifikasikan sumber dan cara penularan,
• Mengidentifikasi keadaan yang menyebabkan KLB,
• Mengidentifikasikan populasi yang rentan atau daerah
yang beresiko akan terjadi KLB (CDC, 1981; Bres,
1986).
BAGAIMANA LANGKAH-LANGKAH ◦
INVESTIGASI ? ◦ Menghitung Standar Deviasi
1. Persiapan penelitian lapangan.
2. Menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB.
3. Memastikan Diagnosis Etiologis
4. Mengidentifikasikan dan menghitung kasus atau
paparan
5. Mendeskripsikan kasus berdasarkan orang, waktu dan
tempat.
6. Membuat cara penanggulangan sementara dengan
segera (jika diperlukan)
7. Mengidentifikasi sumber dan cara penyebaran,
8. Mengidentifikasi keadaan penyebab KLB,
9. Merencanakan penelitian lain yang sistimatis,
10. Menetapkan saran cara pencegahan atau ◦ Cara Menghitung Mean
penanggulangan,
13

b. Cara Perhitungan
1) Dihitung perbedaan nilai pengamatan
dengan nilai batas keadaan wabah sebagai
tolak ukur menentukan ada tidaknya
wabah.
2) Hasil yang diperoleh :
a) Nilai negatif artinya tidak terjadi
wabah,
b) Nilai 0 artinya pada batas wabah,
c) Nilai positif artinya telah terjadi
◦ Menghitung Standar Deviasi wabah
c. Contoh

d. Hasil Perhitungan
◦ Menghitung Standar Deviasi

e. Kesimpulan
◦ Hasil Perhitungan 1) Penyakit A
Apabila dalam waktu satu minggu jumlah kasus baru Berada dalam keadaan wabah minggu ke 6
penyakit A mencapai 17 penderita atau lebih maka di dan 8
tempat tersebut terjadi wabah atau kejadian luar biasa 2) Penyakit C
untuk penyakit A Berada dalam keadaan wabah pada
◦ Kesimpulan Terjangkit Tidaknya Keadaan Wabah minggu ke 4,5, dan 6
1. Teknik Grafik 3) Untuk mengetahui siapa yang terkena
Pada teknik ini data ttg batas keadaan wabah (who), dimana tempatnya (Where), dapat
diubah dalam bentuk grafik dilihat pada buku Register Rawat jalan
Penanganan Wabah
1. Upaya mengobati penderita dan mencegah makin
bertambahnya jumlah penderita sedemikian rupa
sehingga masalah wabah dapat diatasi
2. Pengobatan dan pencegahan tidak hanya dalam arti
medis, tetapi juga non medis, seperti aspek sosial
Ket : budaya, sosial ekonomi, dan sosial pendidikan
a. Daerah A : daerah dimana terjadi wabah masyarakat.
b. Daerah B : daerah dimana pengamatan harus Tindakan Penanganan Wabah
lebih intensif 1. Tindakan terhadap kasus
c. Daerah C : daerah dimana keadaan penyakit a. Anamnesa terhadap kasus/keluarga kasus Perlu
normal/lazim keterangan identitas penderita, keluhan utama,
2. Teknik Tabel Penyakit keluhan tambahan, dan riwayat penyakit,
a. perhitungan : Pertanyaan riwayat penyakit dicurahkan
1) Nilai rata-rata jumlah penyakit padaketerangan disekitar dan selama masa
2) Nilai standar deviasi inkubasi, Keterangan tsb diperlukan untuk
3) Nilai batas keadaan wabah untuk setiap menentukan sumber penularan disatu pihak serta
jenis penyakitMelakukan untuk pencarian kasus baru
b. Pemeriksaan Fisik
14

c. Pengambilan sediaan untuk pemeriksaan lab : implementasi, monitoring, dan evaluasi


Darah, Tinja, Contoh makanan program kesehatan;
d. Diagnosa e. Mengevaluasi cakupan dan efektivitas
Dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, & lab program kesehatan;
dapat ditegakkan diagnosa penyakit f. Mengidentifikasi kebutuhan riset
e. Terapi C. Memonitor dan Mendeteksi outbreak
Dilakukan pengobatan dan perawatan Grafik yang menghubungkan periode waktu
f. Isolasi dengan insidensi kasus penyakit dapat digunakan
memisahkan penderita dari orang lain untuk untuk. Kecurigaan outbreak terjadi pada kuartal ke
beberapa waktu. Lama isolasi tergantung masa 4 tahun 2008, ketika insidensi mencapai 3 kali
inkubasi penyakit rata-rata per kuartal.
2. Tindakan terhadap Masyarakat
a. Promosi Kesehatan
Penyuluhan Kesehatan
b. Tindakan Preventif
1) Memberikan kekebalan pd penjamu melalui
imunisasi
2) Memberi obat yang bersifat pencegahan
c. Pencarian Kasus
3. Tindakan terhadap Lingkungan
a. Lingkungan Fisik
1) Perlindungan sumber air
2) Perlindungan makanan dan minuman D. Cakupan Dan Efektifitas Program
3) Abatisasi & pemberantasan sarang nyamuk Perhatikan pula peran penting data time-series
b. Lingkungan Biologik dalam analisis data surveilans yang dikumpulkan
1) Imunisasi dari waktu ke waktu dengan interval sama.
2) Fogging
Menetapkan Berakhirnya Keadaan Wabah
1. Pengambilan kesimpulan tentang berakhirnya keadaan
wabah yang terjangkit di suatu daerah
2. Sama halnya waktu menetapkan timbulnya wabah,
menetapkan akhirnya wabah ada dua hal yang perlu
diketaui yaitu :
a. Keadaan lazim (normal) dari suatu penyakit
b. Keadaan penyakit saat ini

T14 SURVELIANS EPIDEMIOLOGI


A. Survelians Epidemiologi E. Jenis Surveilans
Kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan 1. Surveilans Individu
terus menerus terhadap penyakit dan masalah- mendeteksi dan memonitor individu-individu
masalah kesehatan serta kondisi yang yang mengalami kontak dengan penyakit
memperbesar risikonya melalui proses serius, misalnya pes, cacar, tuberkulosis, tifus,
pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran demam kuning, sifilis.
informasi epidemiologi kepada penyelenggara 2. Surveilans Penyakit
program kesehatan agar dapat melakukan tindakan melakukan pengawasan terus-menerus
penanggulangan secara efektif dan efisien terhadap distribusi dan kecenderungan
B. Tujuan Survelians insidensi penyakit, melalui pengumpulan
1. Surveilans bertujuan memberikan informasi sistematis, konsolidasi, evaluasi terhadap
tepat waktu tentang masalah kesehatan laporan-laporan penyakit dan kematian, serta
populasi, sehingga penyakit dan faktor risiko data relevan lainnya. Jadi fokus perhatian
dapat dideteksi dini dan dapat dilakukan surveilans penyakit adalah penyakit, bukan
respons pelayanan kesehatan dengan lebih individu.
efektif. 3. Surveilans Sindromik
2. Tujuan khusus surveilans: melakukan pengawasan terus-menerus
a. Memonitor kecenderungan (trends) terhadap sindroma (kumpulan gejala)
penyakit; penyakit, bukan masing-masing penyakit.
b. Mendeteksi perubahan mendadak 4. Surveilans Berbasis Laboratorium
insidensi penyakit, untuk mendeteksi dini ; digunakan untuk mendeteksi dan menonitor
c. Memantau kesehatan populasi, menaksir penyakit infeksi.
besarnya beban penyakit pada populasi; 5. Surveilans Terpadu
d. Menentukan kebutuhan kesehatan menata dan memadukan semua kegiatan
prioritas, membantu perencanaan , surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (negara/
15

provinsi/ kabupaten/ kota) sebagai sebuah 6. Membuat rekomendasi dan alternatif tindak
pelayanan publik bersama. lanjut.
6. Surveilans Kesehatan Masyarakat Global 7. Umpan balik.
Perdagangan dan perjalanan internasional di K. Ruang Lingkup Surveilans Epidemiologi (SE)
abad modern, migrasi manusia dan binatang 1. Penyakit menular
serta organisme, memudahkan transmisi 2. Penyakit tidak menular
penyakit infeksi lintas negara. Konsekunsinya, 3. Kesehatan lingkungan
masalah-masalah yang dihadapi negara-negara 4. Perilaku kesehatan
berkembang dan negara maju di dunia makin 5. Masalah kesehatan
kompleks 6. Kesehatan matra
F. Pendekatan Survelians 7. Kesehatan kerja
Pendekatan surveilans dapat dibagi menjadi dua 8. Kecelakaan kerja
jenis: L. Surveilans Kesehatan Lingkungan & Perilaku
1. Surveilans pasif; Surveilans pasif memantau 1. Sarana air bersih
penyakit secara pasif, dengan menggunakan 2. Tempat-tempat umum
data penyakit yang harus dilaporkan 3. Pemukiman dan lingkungan perumahan
(reportable diseases) yang tersedia di fasilitas 4. Limbah industri dan Rumah Sakit
pelayanan kesehatan. 5. Vektor penyakit
2. Surveilans aktif, Surveilans aktif 6. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
menggunakan petugas khusus surveilans untuk 7. Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan
kunjungan berkala ke lapangan, desa-desa,  Infeksi Nosokomial
tempat praktik pribadi dokter dan tenaga M. Surveilans Kesehatan Matra
medis lainnya, puskesmas, klinik, dan rumah 1. Kesehatan Haji
sakit, dengan tujuan mengidentifikasi kasus 2. Kesehatan Pelabuhan dan Lintas Batas
baru penyakit atau kematian, disebut Perbatasan
penemuan kasus (case finding), dan 3. Bencana dan masalah sosial
konfirmasi laporan kasus indeks. 4. Kesehatan matra laut dan udara
G. Karakteristik Survelians 5. Kejadian Luar Biasa Penyakit dan Keracunan
cepat, akurat, reliabel, representatif, N. Komponen Sistem Surveilans
sederhana, fleksibel, akseptabel, digunakan 1. Pengumpulan Data
H. Surelians Efektif a. Tergantung pada tujuan surveilans
Kecepatan surveilans dapat ditingkatkan melalui b. Aktif dan Pasif
sejumlah cara: c. Data rutin yang telah dicatat atau
1. Melakukan analisis sedekat mungkin dengan dilaporkan dalam sistem pencatatan dan
pelapor data primer, untuk mengurangi “lag” pelaporan yang sedang berjalan
(beda waktu) yang terlalu panjang antara d. Tujuan pengumpulan data, misal:
laporan dan tanggapan; 1) Menentukan kelompok berisiko
2. Melembagakan pelaporan wajib untuk (umur, sex, bangsa, pekerjaan dll)
sejumlah penyakit tertentu; 2) Menentukan jenis agen dan
3. Mengikutsertakan sektor swasta melalui karakteristiknya
peraturan perundangan; 3) Menentukan reservoir infeksi
4. Melakukan fasilitasi agar keputusan diambil 4) Memastikan penyebab transmisi
dengan cepat menggunakan hasil surveilans; 5) Mencatat kejadian penyakit
5. Mengimplementasikan sistem umpan balik e. Jenis Data
tunggal, teratur, dua-arah dan segera. Data kesakitan
I. Ruang Lingkup Penyelenggaraan Surveilans Data kematian
Epidemiologi Kesehatan Data demografi
1. Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular Data geografi
2. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Data laboratorium
Menular Data kondisi lingkungan
3. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Data status gizi
Lingkungan dan Perilaku Data kondisi pangan
4. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan Data vektor dan reservoir
J. Mekanisme kegiatan Surveilans epidemiologi Data dan informasi penting lainnya
Kesehatan f. Frekuensi Pengumpulan Data
1. Identifikasi kasus dan masalah kesehatan serta 1) Rutin bulanan  Perencanaan &
informasi terkait lainnya. Evaluasi
2. Perekaman, pelaporan dan pengolahan data Sumber: SP2TP, SPRS
3. Analisis dan intreprestasi data 2) Rutin harian dan mingguan  SKD-
4. Studi epidemiologi KLB
5. Penyebaran informasi kepada unit yang Sumber: Penyakit Potensial wabah
membutuhkannya (W2)
3) Insidentil: Laporan KLB (W1)
16

4) Survey 7. Laporan wabah


g. 8. Laporan Penyelidikan wabah/KLB
9. Laporan hasil penyelidikan kasus perorangan
10. Studi epidemiologi dan hasil penelitian
lainnya
11. Data hewan dan vektor sumber penularan
penyakit yang dapat diperoleh dari unit
pelayanan kesehatan dan masyarakat.
12. Laporan kondisi pangan
13. Data dan informasi penting lainnya.
P15 UKURAN FREKUENSI PENYAKIT
A. Bagaimana cara menyatakan besarnya morbiditas dan
mortalitas akibat penyakit?
1. Hitung (Counts)
2. Proporsi
Berapa bagian dari populasi yang mengalami
peristiwa (penyakit, kematian)?
3. Rates
Seberapa cepat terjadinya peristiwa?
Konsep Dasar Ratio Proporsi Rate
B. Riwayat Alamiah Penyakit
h.
2. Kompilasi Data Dan Pengolahan Data
a. Untuk menghindari duplikasi dan menilai
kelengkapan
Dilakukan secara:
Manual  membuat master table, kartu
pengolah data
Komputer  menggunakan program Epi-
Info
b. Sesuai tujuan dari sistem surveilans dan
karakteristik (ciri khusus) dari masalah
kesehatan
c. Variabel: orang, tempat dan waktu C. Klasifikasi Kasus
3. Analisis Dan Interpretasi Data
a. Univariat  menghitung proporsi atau
menggunakan statistik deskriptif (mean,
modus, Standar Deviasi-SD)

b. Bivariat:
Tabel: menghitung proporsi, distribusi
frekuensi
Grafik: analisis kecenderungan
Peta: analisis menurut tempat dan waktu
c. Analisis sebaiknya oleh tim
4. Informasi Kesehatan
5. Diseminasi Informasi: Laporan Dan D. Hitung (Counts)
Umpan Balik 1. Ukuran frekuensi penyakit paling sederhana
O. Sumber Data Survelians Epidemiologi Frekuensi (=banyaknya) individu yang terkena
1. Data kesakitan yang dapat diperoleh dari unit penyakit
pelayanan kesehatan dan masyarakat. 2. Berguna untuk merencanakan alokasi sumber daya
2. Data kematian yang dapat diperoleh dari unit kesehatan
pelayanan kesehatan serta laporan dari kantor 3. Sebagai contoh: Jumlah kasus DHF
pemerintah dan masyarakat.
3. Data demografi yang dapat diperoleh dari unit
statistik kependudukan dan masyarakat.
4. Data geografi yang dapat diperoleh dari Unit
meteorologi dan Geofisika
5. Data laboratorium yang dapat diperoleh dari
unit pelayanan kesehatan dan masyarakat
6. Data Kondisi lingkungan
17

6. Selalu dua komponen:


Kasus baru
Waktu
E. Rasio 7. RUMUS
1. Suatu fraksi tanpa hubungan tertentu antara
pembilang dan penyebut
2. Rentang: 0 hingga 
3. A/B
4. Ukuran yang membandingkan kuantitas (A) RATE = LAJU
numerator dan kuantitas (B) denominator. yaitu ukuran yang menunjukkan kecepatan
5. Suatu fraksi tanpa hubungan tertentu antara kejadian
pembilang dan penyebut 8. Ukuran Dasar pada Level Populasi
6. RUMUS :
Suatu pecahan dimana numerator tidak termasuk
denominator

7. Contoh : Sex Ratio (L : P)


rasio penderita dibanding bukan penderita
Jumlah lahir mati per seribu kelahiran hidup
a. Jumlah laki-laki dengan HIV/AIDS, 2019 9. Untuk menghitung rate, butuh frekuensi penyakit,
2,412 besar populasi, dan jangka waktu untuk
b. Jumlah perempuan dengan HIV/AIDS, 2019 memperoleh kejadian penyakit
2,314 H. Pravelensi Rate
c. Rasio laki-laki terhadap perempuan 1. Proporsi individu dalam populasi yang mengalami
2,412/2,314 = 1.04 penyakit atau kondisi lainnya pada suatu periode
waktu tertentu
(Pembilang tidak merupakan bagian dari
penyebut)
F. Proporsi
1. Pembilang merupakan bagian dari penyebut
2. Dapat dinyatakan dalam persen 2.
3. Rentang: 0 hingga 1 3. Tanpa dimensi –– bisa dinyatakan dalam persen
4. Ukuran yang membandingkan kuantitas (A) 4. Jangan dianggap sebagai rate
sebagai numerator dan kuantitas lainnya sebagai 5. Tergantung insidensi dan durasi
denominator yang mengandung kuantitas 6. Prevalensi = Insidensi x durasi
numerator (A+B)
5. A/(A+B)
6. RUMUS

7. Contoh
Prevalensi
Cumulative Incidence
a. Proporsi kematian penderita HIV ( 3 kasus) 7. Point prevalence (Prevelansi titik)– proporsi
dari jumlah keseluruhan penderita HIV (15 semua kasus pada suatu titik waktu
orang) 8. Period prevalence (Prevalensi periode)– proporsi
P = 3/15 x K. semua kasus selama suatu periode waktu
= 3/15 x 100 = 20% I. Pravelansi Titik
b. Jumlah sakit diare pada kelompok yang makan Adalah proporsi dari individu dalam populasi yang
sajian pesta terjangkit penyakit pada suatu titik waktu
G. Rate
1. Suatu jenis khusus proporsi
2. Unit waktu di dalam penyebut
3. A/(A+B) per interval waktu
4. Populasi sering digunakan sebagai penyebut
5. Ukuran proporsi yang memasukkan unsur periode
waktu pengamatan dalam denominatornya
18

1. Prevalensi titik merupakan taksiran probabilistik M. Insidensi


(risiko) seorang untuk sakit pada titik waktu 1. Angka terjadinya penyakit selama suatu periode
tersebut waktu
2. Titik waktu ? 2. Tiga elemen kunci:
Satu waktu kalender yang sama a. Hanya kasus baru dimasukkan di dalam
hari ketiga pasca bedah, saat kelahiran pembilang
J. Prevalensi Periodik b. Populasi total berisiko pada penyebut
Adalah probabilitas individu dari populasi yang c. Elemen waktu – periode waktu terjadinya
terkena penyakit pada saat dimulainya pengamatan, kasus baru
atau selama jangka waktu pengamatan (t0, t) 3. Jenis Insidensi
a. Insiden Kumulatif
(cumulative incidence=IC)
1) IC adalah parameter yang menunjukkan
taksiran probabilitas (risiko, risk)
seseorang untuk terkena penyakit (untuk
hidup) dalam suatu jangka waktu
Manfaat 2) IC adalah proporsi orang yang terkena
1. Mendeskripsikan beban penyakit pada populasi penyakit diantara semua orang yang
2. Mendeskripsikan status penyakit pada populasi berisiko terkena penyakit
3. Menaksir frekuensi paparan 3) Nilai CI --------- > 0 – 1
4. Menaksir kebutuhan pelayanan kesehatan untuk 4) Periode waktu --- jam, bulan, tahun,
individu-individu yang terkena penyakit dsb
K. Prevalensi 5) RUMUS
1. Keterbatasan
Semua kasus dengan suatu penyakit pada suatu
titik waktu merupakan hasil dari:
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan penyakit
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kelangsungan hidup (survival) b. Insiden density Insidence density (ID)
c. Identifikasi siapa yang berpenyakit (definisi = Incidence rate = Laju Insidens
kasus) 1) Adalah ukuran yang menunjukkan
d. Cara menemukan kasus (case ascertainment) kecepatan kejadian (baru) penyakit pada
e. Penyebut (populasi berisiko) populasi
f. Prevalensi Virus Hepatitis B:
4.4% dari populasi menunjukkan adanya bukti
sedang atau pernah terinfeksi Virus Hepatitis
B
g. Prevalensi Virus Hepatitis C:
1.0% dari populoasi menunjukkan adanya 2)
bukti sedang atau pernah terinfeksi Virus 3) Person Time (orang-waktu)
Hepatitis C Adalah jumlah orang dalam risiko
L. Populasi Berisiko dikalikan lamanya masing-masing orang
Siapakah populasi risiko dari keracunan makanan dalam risiko
makan siang ? Satuan : orang-hari (person day)
orang- minggu (person week)
orang- jam (person hours)
c. Contoh
1) Soal : Pengamatan pada 6 orang selama 7
tahun terhadap penyakit kanker pada
orang yang bebas kanker, Berapa IC &
ID?
Waktu Pengamatan (tahun) :
19

2) Jawab :

3) Kesimpulan
5.
IC= 0.5 artinya risiko terkena kanker
O. Secondary Attack Rate
selama 7 tahun terpapar adalah 50 persen
1. Jumlah penderita baru suatu penyakit yang
kecepatan insidensi adalah 10 orang
terjangkit pada serangan kedua dibagi dengan
terkena kanker dari 100 orang yang
jumlah penduduk dikurangi penduduk yang
terpapar selama setahun
terkena serangan pertama dalam persen atau
d. Contoh Mencari Orang-Waktu
permil.
Berapa prevalensi penyakit pada 2012?
2. Manfaatnya untuk menghitung suatu penyakit
Berapa insidensi penyakit antara 2012 dan
menular serta untuk suatu populasi yang kecil
2018?
seperti keluargaJumlah penderita baru pada
serangan keduaSecondary Attack Rate = x
KJumlah penduduk –Penduduk yg terkena
serangan pertama
3.

Menghitung Orang-Waktu

P. Faktor Yang Mempengaruhi Prevalensi


1. Meningkatkan
Imigrasi kasus sakit
Emigrasi orang sehat
Terdapat 5 kasus baru selama periode 10 Durasi makin panjang karena pengobatan/
tahun. penyembuhan
Incidence density 10 tahun = 5/376= 0.013298 Peningkatan insidensi
Insidence density 10 tahun = 13.29 per 1000 2. Menurunkan
orang tahun pengamatan Imigrasi orang sehat
Atau bisa dinyatakan 1329.78 per 100,000 Emigrasi kasus sakit
orang tahun Perbaikan angka penyembuhan (penurunan durasi)
N. Attack Rate Peningkatan angka kematian
1. jumlah penderita baru suatu penyakit yang Penurunan insidensi
ditemukan pada suatu saat dibagi dengan jumlah Q. Faktor Yang Mempengaruhi Insidensi
penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut 1. Meningkatkan
pada saat yang sama dalam persen atau permil. Peningkatan risiko
2. Jumlah penderita baru pada satu saat Attack Rate (jumlah orang terpapar bertambah)
= ……x K. Kegagalan program pencegahan penyakit
3. Jumlah penduduk yg mungkin terkena penyakit 2. Menurunkan
tersebut pada saat ituKeterangan :K = Konstanta Perubahan dalam riwayat alamiah penyakit
(100%, 1000‰ ) (misalnya perubahan patogenesitas)
4. Manfaat : Untuk memperkirakan derajat serangan Keberhasilan program pencegahan penyakit
atau penularan suatu penyakit sebab semakin Jumlah orang terpapar berkurang)
tinggi nilai AR, maka semakin tinggi pula
kemampuan Penularan Penyakit tersebut.

Anda mungkin juga menyukai