0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan9 halaman

Faktor Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi

Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif pada anak usia 7-12 bulan di Puskesmas Abab, dengan fokus pada pengetahuan, dukungan keluarga, dan pekerjaan ibu. Hasil menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara ketiga faktor tersebut dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif, di mana 64,2% responden memberikan ASI eksklusif. Pengetahuan ibu yang baik berhubungan positif dengan pemberian ASI eksklusif, serta dukungan keluarga dan pekerjaan ibu juga berpengaruh signifikan.

Diunggah oleh

Falisa Naura
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan9 halaman

Faktor Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi

Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif pada anak usia 7-12 bulan di Puskesmas Abab, dengan fokus pada pengetahuan, dukungan keluarga, dan pekerjaan ibu. Hasil menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara ketiga faktor tersebut dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif, di mana 64,2% responden memberikan ASI eksklusif. Pengetahuan ibu yang baik berhubungan positif dengan pemberian ASI eksklusif, serta dukungan keluarga dan pekerjaan ibu juga berpengaruh signifikan.

Diunggah oleh

Falisa Naura
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bulletin of Community Engagement

Vol. 4, No. 2, August 2024


[Link]

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian Asi Esklusif pada


Anak Usia 7-12 Bulan di Puskesmas

Risma Eka Putri1, Eka Afrika1*, Putu Lusita Nati Indriani1


1 Universitas Kader Bangsa Palembang, Indonesia

rismaeka.p35@[Link]
Abstract
Providing proper nutrition in the first six months of a baby's life is by
providing breast milk exclusively. Increasing the rate of breastfeeding mothers
globally has the potential to save the lives of more than 820,000 children
under five. Optimal breastfeeding can save the lives of more than 820,000
children under 5 years old every year. However, only around 36% of babies
aged 0-6 months worldwide are exclusively breastfed. The aim of this research
is to determine the relationship between knowledge, work and family support
with the success of providing exclusive breastfeeding in the Abab Community
ARTICLE INFO Health Center Work Area in 2024. Type and Design of the Research is
Article history: quantitative using an analytical survey method with a cross sectional
Received approach. The research was carried out in June-July 2024 at the Abab
June 18, 2024 Community Health Center with a population of all mothers with babies aged
Revised 7–12 months in the Abab Community Health Center working area of 95
August 12, people. The sample used was a total population of 95 respondents, using
2024 primary data obtained by filling in a questionnaire that had been prepared by
Accepted the researcher and carrying out univariate and bivariate analysis using the che
August 30, square test. The results of the univariate analysis of 95 respondents who did
2024 not exclusively breastfeed were 34 respondents (35.8%) and those who
exclusively breastfed were 61 respondents (64.2%). The results of the chi-
square statistical test showed that the mother's knowledge variable was found
to be ρ value = 0.005, the mother's employment variable was ρ value = 0.028
and the family support variable was found to be ρ value = 0.023, which is
smaller than α=0.05, indicating that there is a significant relationship between
knowledge, work and support. families with exclusive breastfeeding in the
Abab Community Health Center Working Area.

Keywords: Exclusive Breastfeeding, Knowledge, Work and Family Support


Published by CV. Creative Tugu Pena
ISSN 2774-7077
Website [Link]
This is an open access article under the CC BY SA license
[Link]

PENDAHULUAN
Pemberian nutrisi yang tepat pada enam bulan pertama kehidupan bayi adalah
dengan memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif (Arinda, G., & Lubis, 2022;
Nurrizka, R. H., & Wenny, D. M. 2022). Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber dengan
komposisi seimbang untuk kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi. Selain dari
pada itu ASI juga menjadi sumber utama kehidupan, sehingga diupayakan bayi hanya
meminum ASI tanpa ada tambahan lainnya seperti susu formula, air teh, madu, air putih
dan tanpa makanan pendamping atau sering disebut sebagai ASI Eksklusif (Habibah,
2022).
United Nation Childers Fund (UNICEF) dan Organisasi Kesehatan Dunia Word
Health Organization (WHO) menyerukan pemerintah dan semua pemangku kepentingan
untuk mempertahankan dan mempromosikan pemberian ASI esklusif, Inisiasi Menyusu
Dini (IMD) dan menyusui secara eksklusif membantu anak-anak bertahan hidup dan
membangun antibodi yang mereka butuhkan agar terlindung dari berbagai penyakit yang
sering terjadi pada masa kanak-kanak, seperti diare dan pneumonia, Peningkatan angka
ibu menyusui secara global berpotensi menyelamatkan nyawa lebih dari 820.000 anak
usia balita dan dapat mencegah penambahan 20.000 kasus kanker payudara pada
perempuan setiap tahunnya (WHO, 2020). Sesuai tujuan Pembangunan Berkelanjutan
2030 atau Suitainable Development Goals (SDG’s), Pemberian ASI yang optimal dapat
menyelamatkan nyawa anak di bawah 5 tahun lebih dari 820.000 setiap tahun sekitar
36% bayi usia 0 sampai 6 bulan di seluruh dunia yang disusui secara ekslusif selama
periode 2007-2014. Word Health Organization (WHO) menargetkan angka pemberian ASI
Ekslusif pada tahun 2025 setidaknya 50% (WHO, 2018). Berdasarkan data yang didapat
dari Kemenkes RI 2022. cakupan bayi mendapat ASI eksklusif tahun 2020 yaitu sebesar
66,06% dan terjadi penurunan pada tahun 2021 yaitu sebesar 56,9%. Angka tersebut
sudah melampaui target program tahun 2021 yaitu 40%. Pada tahun 2021 terdapat lima
provinsi yang belum mencapai target program tahun 2021, yaitu Maluku, Papua,
Gorontalo, Papua Barat, dan Sulawesi Utara. (Kemenkes RI, 2022)
Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di
Provinsi Sumatera Selatan tiga tahun terakhir, pada tahun 2021 cakupan pemberian ASI
ekslusif sebesar 69,93%, pada tahun 2022 cakupan pemberian ASI ekslusif sebesar
70,46% dan pada tahun pada tahun 2023 cakupan pemberian ASI ekslusif sebesar 75,59%
(Badan Pusat Statistik/BPS, 2023). Hasil capaian ini memang memenuhi target nasional,
namun cakupan pemberian ASI eksklusif untuk tingkat Kabupaten, khususnya di
Kabupaten PALI. Jika berpedoman dari data beberapa tahun terakhir, pemberian ASI
eksklusif masih mengalami naik turun, tahun 2016 sebesar 51,2%, dan tahun 2017
sebesar 48,5%, tahun 2018 sebesar 44,1%, tahun 2019 sebesar 43,9%, serta tahun 2020
sebesar 52,6% (Dinas Kesehatan Kabupaten PALI, 2021) Pemberian ASI eksklusif
dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi
pemberian ASI eksklusif yaitu pendidikan, pengetahuan, sikap/perilaku, psikologis, dan
emosional. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif yaitu
dukungan suami, pekerjaan, umur, petugas kesehatan, promosi susu formula dan inisiasi
menyusui dini (IMD) (Lakoro, 2024).
Berdasarkan hasil penelitian Jemmy (2023) di Puskesmas Menteng Palang Karaya
dengan jenis penelitian bersifat survey analitik menggunakan desain cross sectional.
Populasi penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak usia 0-12 bulan dan jumlah sampel
62 orang. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Analisa data menggunakan
Chi-Square. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan pengetahuan ibu dengan
pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Menteng Kota Palangka Raya (p value
: 0,000 < α : 0,05). Dukungan keluarga sangat berperan dalam pemberian ASI eksklusif.
Dukungan keluarga yang baik akan membantu keberhasilan dalam pemberian ASI.
Dukungan ini akan membuat ibu merasa lebih tenang sehingga ASI yang diproduksi
lancar (Mahadewi & Heryana, 2020).
Berdasarkan hasil penelitian Rezeki, (2024) dengan judul hubungan dukungan
keluarga dan dukungan bidan dalam pemberian asi eksklusif di desa kampung tengah,
aceh barat daya hasil penelitian diketahui keluarga yang tidak mendukung sebanyak 16
orang ada 3 orang (18,8%) yang memberikan ASI eksklusif dan 13 orang tidak
memberikan ASI eksklusif. Hasil uji che square menunjukkan bahwa ada hubungan
dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif dengan nilai p value =0,011.
Pekerjaan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif, banyak
ibu khawatir terpaksa memberikan bayinya susu formula karena ASI perah tidak cukup.

659
Seringkali alasan pekerjaan membuat seorang ibu berhenti menyusui. Sebaiknya ibu
yang bekerja menabung ASI perah sebelum masuk kerja. Semakin banyak “tabungan”
ASI perah ibu di freezer, semakin besar peluang menyelesaikan program ASI Eksklusif
(Wiji, 2018)
Berdasarkan hasil penelitian Fauzi (2024) dengan judul hubungan dukungan suami
dan pekerjaan ibu dengan pemberian asi eksklusif di rumah sakit umum daerah kaur.
Hasil diketahui bahwa dari 30 orang ibu yang bekerja terdapat 20 orang (66,7%) tidak
memberikan ASI eksklusif dan 10 orang (33,3%) memberikan ASI eksklusif. Hasil uji Chi-
square hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI eksklusif diperoleh nilai p
sebesar 0,043 (p<0,05) artinya ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu
dengan pemberian ASI eksklusif di Rumah Sakit Umum Daerah Kaur. Berdasarkan data
yang di peroleh dari Puskemas Abab cakupan pemberian ASI eksklusif pada tahun 2023
sebesar 54,8%, mengalami penurunan pada tahun 2022 yakni sebesar 58,2%, begitu juga
dengan cakupan pemberian ASI eksklusif pada tahun 2021 yakni sebesar 54,6%). (Profil
Puskesmas Abab, 2023). Berdasarkan data diatas maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian yang berjudul“Faktor-fakator yang berhubungan dengan pemberian ASI
esklusif pada anak usia 7-12 bulan di Puskesmas Abab tahun 2024.

METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu penelitian kuantitatif
dengan menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian survei
analitik adalah sebuah penelitian yang menganalisis dinamika hubungan antara suatu
fenomena. Penelitian survei analitik dapat mengetahui sejauh mana keterlibatan dari
suatu faktor terhadap terjadinya suatu kejadian dari analisis korelasi. Pendekatan yang
digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan cross sectional, yaitu penelitian yang
dimana mendekatkan waktu pengukuran atau observasi data variabel dependen
(Pemberian ASI eksklusif) dan variabel independent (Pengetahuan ibu, dukungan
Keluarga dan Pekerjaan ibu) dihitung sekaligus dalam waktu yang sama atau satu kali
(Notoadmodjo, 2018).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel berikut ini menjelaskan hasil analisa hubungan antara penegtahuan dengan
pemberian ASI eksklusif Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 5.5 dibawa ini.

Hubungan Pengetahuan dengan Pemberian ASI Eksklsuif di Wilayah Kerja


Puskesmas Abab tahun 2024
Pemberian ASI
Eksklusif ρ
No Pengetahuan value OR
Tidak Ya
Jumlah 95%
CI
N % n % N %
1. Kurang Baik 22 52,4 20 47,6 42 100 0.005 3,7
2. Baik 12 22,6 41 77,4 53 100 (1,5-9,0)
Jumlah 34 61 95 100
Pada tabel di atas, dari 42 responden dengan kategori pengetahuan kurang baik dan
tidak memberikan ASI eksklusif berjumlah 22 responden (52,4%) dan yang memberikan
ASI esklusif berjumlah 20 responden (47,6%). Dan dari 53 responden kategori
pengetahuan baik dan tidak memberikan ASI esklusif berjumlah 12 responden (22,6%)
dan yang memberikan ASI eksklusif berjumlah 41 responden (77,4%). Hasil uji statistik
chi-square didapatkan ρ value = 0,005 lebih kecil dari α=0,05 menunjukkan ada hubungan

660
yang bermakna pengetahuan dengan pemberian ASI esklusif di Wilayah Kerja Puskesmas
Abab. Hasil analisa diperoleh nilai OR= 3,7 artinya responden dengan kategori
pengetahuan yang kurang baik berpeluang 3 kali tidak memberikan ASI esklusif
dibandingkan responden dengan kategori pengetahuan baik.
Berdasarkan hasil analisa bivariat dari 42 responden dengan kategori pengetahuan
kurang baik dan tidak memberikan ASI eksklusif berjumlah 22 responden (52,4%) dan
yang memberikan ASI esklusif berjumlah 20 responden (47,6%). Dan dari 53 responden
kategori pengetahuan baik dan tidak memberikan ASI esklusif berjumlag 12 responden
(22,6%) dan yang memberikan ASI eksklusif berjumlah 41 responden (77,4%).
Hasil uji statistik chi-square didapatkan ρ value = 0,005 lebih kecil dari α=0,05
menunjukkan ada hubungan yang bermakna pengetahuan dengan pemberian ASI esklusif
di Wilayah Kerja Puskesmas Abab. Hasil analisa diperoleh nilai OR= 3,7 artinya responden
dengan kategori pengetahuan yang kurang baik berpeluang 3 kali tidak memberikan ASI
esklusif dibandingkan responden dengan kategori pengetahuan baik. Menurut teori
Lawrence Green (1991) dalam (Erviana, 2022) yaitu perilaku kesehatan seseorang atau
masyarakat dipengaruhi oleh pengetahuan sebagai predisposisi untuk menentukan
tindakan atau perilaku seseorang secara nyata, Kurangnya pengetahuan ibu tentang
pemberian ASI, manfaat ASI yang menyebabkan ibu-ibu mudah terpengaruh dan beralih
ke susu formula. Tingkat pengetahuan yang tinggi menentukan mudah tidaknya ibu untuk
memahami dan menyerap informasi tentang ASI eksklusif. Semakin tingginya tingkat
pengetahuan ibu, maka makin tinggi pula ibu dalam menyerap informasi tentang ASI
Eksklusif (Fatimah & Oktavianis, 2019).
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Fariningsih (2022) yang dilakukan di
Puskesmas Tanjung Uncang penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif survei analitik
dengan pendekatan cross sectional yang diambil menggunakan teknik jugdement
sampling. Yang berjumlah 40 responden. Hasil dari peneliti yaitu Sebagian besar
responden memiliki pengetahuan yang baik tentang ASI Eksklusif sebanyak 37 responden
(92,5%). Dari hasil analisis data dengan uji Fisher’s Exact didapatkan nilai P Value< 0,05
(0.004).Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu ada hubungan pengetahuan ibu dengan
pemberian air susu ibu eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Uncang. Begitu juga
dengan hasil penelitian Jemmy (2023) di Puskesmas Menteng Palang Karaya dengan jenis
penelitian bersifat survey analitik menggunakan desain cross sectional. Populasi
penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak usia 0-12 bulan dan jumlah sampel 62 orang.
Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Analisa data menggunakan Chi-
Square. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan pengetahuan ibu dengan
pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Menteng Kota Palangka Raya (p value
: 0,000 < α : 0,05).
Peneliti berasumsi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif tidak hanya memengaruhi
keputusan awal untuk menyusui, tetapi juga berhubungan langsung dengan perilaku dan
praktik menyusui mereka. pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif sangat mempengaruhi
bagaimana mereka berperilaku dalam menyusui dari persiapan awal hingga perawatan
dan pemeliharaan ASI eksklusif. Pengetahuan yang lebih baik menentukan seberapa
mudah ibu memahami dan menyerap informasi tentang ASI eksklusif. Sehingga ibu mau
memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya selama 6 bulan pertama. Tabel berikut
ini menjelaskan hasil analisa hubungan antara penkerjaan dengan pemberian ASI
eksklusif Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 5.6 dibawa ini.

661
Hubungan Pekerjaan dengan Pemberian ASI Eksklsuif di Wilayah Kerja Puskesmas
Abab tahun 2024
Pemberian ASI
Eksklusif ρ
No Pekerjaan value OR
Tidak Ya
Jumlah 95%
CI

N % n % N %
1. Tidak Bekerja 22 47,8 24 52,2 46 100 0.031 2,8
2. Bekerja 12 24,5 37 75,5 49 100 (1,1-6,7)

Jumlah 34 61 95 100
Pada tabei di atas, dari 46 responden yang tidak bekerja dan tidak memberikan ASI
eksklusif berjumlah 22 responden (47,8%) dan yang memberikan ASI eksklusif berjumlah
24 responden (52,2%). Dan dari 49 responden yang bekerja dan tidak memberikan ASI
eksklusif berjumlah 12 responden (24,5%) dan yang memberikan ASI esklusif berjumlah
37 responden (75,5%). Hasil uji statistik chi-square didapatkan ρ value = 0,031 lebih kecil
dari α=0,05 menunjukkan ada hubungan yang bermakna pekerjaan dengan pemberian
ASI esklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Abab. Hasil analisa diperoleh nilai OR= 2,8
artinya responden yang bekerja berpeluang 2 kali tidak memberikan ASI esklusif
dibandingkan responden yang tidak bekerja.
Berdasarkan hasil analisa bivariat dari 46 responden yang tidak bekerja dan tidak
memberikan ASI eksklusif berjumlah 22 responden (47,8%) dan yang memberikan ASI
eksklusif berjumlah 24 responden (52,2%). Dan dari 49 responden yang bekerja dan tidak
memberikan ASI eksklusif berjumlah 12 responden (24,5%) dan yang memberikan ASI
esklusif berjumlah 37 responden (75,5%) Hasil uji statistik chi-square didapatkan ρ value =
0,031 lebih kecil dari α=0,05 menunjukkan ada hubungan yang bermakna pekerjaan
dengan pemberian ASI esklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Abab. Hasil analisa diperoleh
nilai OR= 2,8 artinya responden yang bekerja berpeluang 2 kali tidak memberikan ASI
esklusif dibandingkan responden yang tidak bekerja. Pekerjaan ialah aktivitas utama yang
dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas
atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah
ini sering dianggap sinonim dengan profesi (Irawati, 2017)
Pekerjaan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif,
banyak ibu khawatir terpaksa memberikan bayinya susu formula karena ASI perah tidak
cukup. Seringkali alasan pekerjaan membuat seorang ibu berhenti menyusui. Sebaiknya
ibu yang bekerja menabung ASI perah sebelum masuk kerja. Semakin banyak
“tabungan” ASI perah ibu di freezer, semakin besar peluang menyelesaikan program ASI
Eksklusif (Wiji, 2018).
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Fauzi (2024) dengan judul hubungan
dukungan suami dan pekerjaan ibu dengan pemberian asi eksklusif di rumah sakit umum
daerah kaur. Hasil diketahui bahwa dari 30 orang ibu yang bekerja terdapat 20 orang
(66,7%) tidak memberikan ASI eksklusif dan 10 orang (33,3%) memberikan ASI eksklusif.
Hasil uji Chi-square hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI eksklusif
diperoleh nilai p sebesar 0,043 (p<0,05) artinya ada hubungan yang signifikan antara
pekerjaan ibu dengan pemberian ASI eksklusif, ibu yang bekerja, menyusui tidak harus
dihentikan. Jika memungkinkan, bayi bisa dibawa ke tempat kerja atau ibu bisa pulang
untuk menyusui. Namun, banyak tempat kerja tidak menyediakan fasilitas seperti tempat

662
penitipan bayi atau ruang laktasi, sehingga hal ini sering sulit dilakukan. Alternatifnya, ibu
bisa memompa ASI sebelum bekerja, menyimpannya di freezer, dan memberikannya
kepada bayi saat bayi lapar. Meski begitu, banyak ibu enggan memompa ASI karena
merasa tidak nyaman atau sakit saat menggunakan pompa ASI.
Begitu juga dengan hasil penelitian Wahyuni (2023) dengan judul hubungan
pendidikan dan status pekerjaan dengan pemberian asi eksklusif penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif. Rancangan penelitian yang
digunakan dalam pendekatan kuantitatif adalah cross sectional. Hasil penelitian
menunjukkan ada hubungan status pekerjaan dengan pemberian ASI Eksklusif dengan
hasil uji statistik diperoleh p value 0,003 < alpha (0,05), OR 9,208.
Peneliti berasumsi Pekerjaan sangat memengaruhi keberhasilan pemberian ASI
eksklusif; banyak ibu khawatir memberikan susu formula kepada bayi mereka karena
ketidak cukupan stok ASI perah. Sangat penting bagi ibu yang bekerja untuk menyimpan
ASI perah mereka sebelum mereka mulai bekerja. pada penelitian ini ibu yang bekerja
cenderung banyak yang memberikan ASI esklsuif, hal ini dapat terjadi karena pekerjaan
yang di jalani responden sebagian besar petani dimana waktu kerja relatif singkat dan
banyak juga ibu yang membawa anak saat bekerja. Tabel berikut ini menjelaskan hasil
analisa hubungan antara dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif untuk lebih
jelas dapat dilihat pada tabel 5.7 dibawa ini.
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI Eksklsuif di Wilayah Kerja
Puskesmas Abab tahun 2024
Pemberian ASI
Eksklusif ρ
No Dukungan Keluarga value OR
Tidak Ya
Jumlah 95%
CI
N % N % N %
1. Tidak Mendukung 23 47,9 25 52,1 48 100 0.023 3,0
2. Mendukung 11 23,4 36 76,6 47 100 (1,2-
7,2)
Jumlah 34 61 95 100

Pada tabel di atas, dari 48 responden yang tidak mendapatkan dukungan keluarga
dan tidak memberikan ASI eksklusif berjumlah 23 responden (47,9%) dan yang
memberikan ASI eksklusif berjumlah 25 responden (52,1%). Dan dari 47 responden yang
mendapatkan dukungan keluarga dan tidak memberikan ASI eksklusif berjumlah 11
responden (23,4%) dan yang memberikan ASI eksklusif berjumlah 36 responden (76,6%).
Hasil uji statistik chi-square didapatkan ρ value = 0,023 lebih kecil dari α=0,05
menunjukkan ada hubungan yang bermakna dukungan keluarga dengan pemberian ASI
esklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Abab. Hasil analisa diperoleh nilai OR= 3,0 artinya
responden yang tidak mendapatkan dukungan keluarga berpeluang 3 kali tidak
memberikan ASI esklusif dibandingkan responden yang mendapatkan dukungan keluarga.
Berdasarkan hasil analisa bivariat dari 48 responden yang tidak mendapatkan
dukungan keluarga dan tidak memberikan ASI eksklusif berjumlah 23 responden (47,9%)
dan yang memberikan ASI eksklusif berjumlah 25 responden (52,1%). Dan dari 47
responden yang mendapatkan dukungan keluarga dan tidak memberikan ASI eksklusif
berjumlah 11 responden (23,4%) dan yang memberikan ASI eksklusif berjumlah 36
responden (76,6%).
Hasil uji statistik chi-square didapatkan ρ value = 0,023 lebih kecil dari α=0,05
menunjukkan ada hubungan yang bermakna dukungan keluarga dengan pemberian ASI
esklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Abab. Hasil analisa diperoleh nilai OR= 3,0 artinya

663
responden yang tidak mendapatkan dukungan keluarga berpeluang 3 kali tidak
memberikan ASI esklusif dibandingkan responden yang mendapatkan dukungan keluarga.
Dukungan keluarga adalah bantuan yang dapat diberikan kepada anggota keluarga
lain berupa barang, jasa, informasi dan nasihat yang mampu membuat penerima
dukungan akan merasa disayang, dihargai, dan tenteram. Dukungan ini merupakan sikap,
tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Anggota keluarga
memandang bahwa orang yang bersifat mendukung akan selalu siap memberi
pertolongan dan bantuan yang diperlukan. Dukungan keluarga yang diterima salah satu
anggota keluarga dari anggota keluarga yang lainnya dalam rangka menjalankan fungsi-
fungsi yang terdapat dalam sebuah keluarga. Bentuk dukungan keluarga terhadap anggota
keluarga adalah secara moral atau material. Adanya dukungan keluarga akan berdampak
pada peningkatan rasa percaya diri pada penderita dalam menghadapi proses pengobatan
penyakitnya (Misgiyanto dalam Krisha, 2019).
Bentuk dan Fungsi Dukungan Keluarga (Friedman, 2014 dalam Willis, 2018)
membagi bentuk dan fungsi dukungan keluarga menjadi 4 dimensi yaitu:
1. Dukungan Emosional Dukungan emosional adalah keluarga sebagai tempat yang
aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap
emosi. Aspek-aspek dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam
bentuk afeksi, adanya kepercayaan, perhatian, mendengarkan dan didengarkan. Dukungan
emosional melibatkan ekspresi empati, perhatian, pemberian semangat, kehangatan
pribadi, cinta, atau bantuan emosional (Willis, 2018; Bintoro, S., & Sudjono, 2020).
2. Dukungan Instrumental Dukungan instrumental adalah keluarga merupakan
sumber pertolongan praktis dan konkrit, diantaranya adalah dalam hal kebutuhan
keuangan, makan, minum, dan istirahat (Willis, 2018).
3. Dukungan Informasional Dukungan informasional adalah keluarga berfungsi
sebagai pemberi informasi, dimana keluarga menjelaskan tentang pemberian saran,
sugesti, informasi yang dapat digunakan mengungkapkan suatu masalah. Aspek-aspek
dalam dukungan ini adalah nasehat, usulan, saran, petunjuk dan pemberian informasi
(Willis, 2018).
4. Dukungan Penilaian atau Penghargaan Dukungan penghargaan atau penilaian adalah
keluarga bertindak membimbing dan menengahi pemecahan masalah, sebagai sumber dan
validator identitas anggota keluarga diantaranya memberikan support, penghargaan, dan
perhatian (Willis, 2018)
Keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala
keluarga dan anggota keluarga lainnya yang bertempat tinggal di dalam satu rumah
karena adanya hubungan darah maupun ikatan pernikahan, sehingga terdapat tinteraksi
antara anggota keluarga satu dengan anggota keluarga lainnya, apabila salah satu dari
anggota keluarga memperoleh masalah kesehatan, maka akan dapat berpengaruh kepada
anggota keluarga lainnya. Sehingga keluarga merupakan focus pelayanan kesehatan yang
strategis karena keluarga mempunyai peran utama dalam pemeliharaan kesehatan
seluruh anggota keluarga, dan masalah keluarga saling berkaitan, keluarga juga dapat
sebagai tempat pengambil keputusan (decision making) dalam perawatan kesehatan
(Krisha, 2019)
Dukungan keluarga sangat berperan dalam pemberian ASI eksklusif. Dukungan
keluarga yang baik akan membantu keberhasilan dalam pemberian ASI. Dukungan ini
akan membuat ibu merasa lebih tenang sehingga ASI yang diproduksi lancar (Mahadewi &
Heryana, 2020). Contoh dukungan keluarga yang dapat dilakukan adalah dengan
memperhatikan makanan yang dikonsumsi ibu demi terciptanya nutrisi yang baik ke
bayi melalui ASI. Jika dukungan keluarga tidak dilaksanakan dengan baik, dapat
menjadikan penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif pada bayi (Nuraini, 2022)
Dukungan keluarga dapat berupa dukungan dari suami,orang tua, dan saudara.
Dukungan dapat diberikan dalam bentuk informasi, penghargaan, pujian, dan dukungan

664
emosional. Dukungan keluarga akan menimbulkan motivasi ibu dalam memberika ASI
eksklusif sampai bayi usia 6 bulan (Setyaningsih et al., 2022)
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rezeki, (2024) dengan judul
hubungan dukungan keluarga dan dukungan bidan dalam pemberian asi eksklusif di desa
kampung tengah, aceh barat daya hasil penelitian diketahui keluarga yang tidak
mendukung sebanyak 16 orang ada 3 orang (18,8%) yang memberikan ASI eksklusif dan
13 orang tidak memberikan ASI eksklusif. Hasil uji che square menunjukkan bahwa ada
hubungan dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif dengan nilai p value
=0,011. Berdasarkan asumsi peneliti, terdapat 16 responden (53,3%) keluarga yang
tidak mendukung pemberian ASI Ekslusif. Hal ini disebabkan karena masih adanya
pengaruh budaya, terkait pemberian makanan di awal bayi lahir seperti madu dan
pandangan keluarga, bahwa ketika bayi masih menangis itu artinya bayi masih belum
kenyang sehingga diberikan makanan lain untuk membuat bayi kenyang
Begitu juga dengan hasil penelitian Anggraini (2023) dengan judul hubungan
tingkat pendidikan dan dukungan keluarga dalam pemberian asi eksklusif pada bayi usia
0-6 bulandi puskesmas talang bakung kota jambi dengan menggunakan Metode penelitian
menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, dengan populasi
adalah ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan dengan sampel sebanyak 38 orang,
Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisa bivariat menggunakan uji chi-square
hasil penelitian diketahui hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang
signifikan dukungan keluarga (p-value 0,001) dengan pemberian ASI eksklusif di
Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi.
Peneliti berasumsi dukungan keluarga berperan penting dalam meningkatkan
kemungkinan ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Dalam konteks ini, dukungan keluarga
dapat mencakup berbagai bentuk bantuan emosional, praktis, dan informasi yang
berkontribusi pada keputusan ibu untuk menyusui bayi mereka secara eksklusif

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang menggunakan metode Survey Analitik dengan menggunakan
pendekatan Cross Sectional dan uji statistik menggunakan rumus chi-square dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan, pekerjaan dan dukungan keluarga
secara simultan dengan pemberian ASI esklusif anak usia 7-12 bulan di Wilayah Kerja
Puskesmas Abab tahun 2024, terdapat hubungan pengetahuan secara parsial dengan
keberhasilan pemberian ASI esklusif anak usia 7-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Abab tahun 2024 dan juga terdapat hubungan dukungan keluarga secara parsial dengan
keberhasilan pemberian ASI esklusif d anak usia 7-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Abab tahun 2024.

REFERENSI
Arinda, G., & Lubis, D. H. (2022). Hubungan Jenis Persalinan Dan Dukungan Keluarga
Dengan Pemberian Asi Eksklusif Di Klinik Pratama Sunartik Medan 2022. In Prosiding
Forum Ilmiah dan Diskusi Mahasiwa (Vol. 3, pp. 46-51).
Bintoro, S., & Sudjono, S. (2020). Pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap kesehatan
bayi. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 15(2), 150-158.
Erviana, D., & Azinar, M. (2022). Determinan Sosial dan Perilaku Ibu Hamil Trimester III
dengan Pencegahan Covid-19. HIGEIA (Journal of Public Health Research and
Development), 6(3), 362-374
Fauzi, Y., & Sari, F. M. (2024). Hubungan Dukungan Suami Dan Pekerjaan Ibu Dengan
Pemberian ASI Eksklusif Di Rumah Sakit Umum Daerah Kaur. Jurnal Ilmu Kesehatan
Mandira Cendikia, 3(1), 150-157.

665
Habibah, N., Arifiana, R., & Ayuanda, L. (2022). Cegah Resiko Tinggi Pada Ibu Hamil
Dengan Pena Suasi (Pendampingan Keluarga Dan Suami Siaga). Jurnal Batik Mu, 2(1),
1-5.
Jemmy, J., Ningsih, F., & Ovany, R. (2023). Hubungan Pengetahuan Ibu Terhadap
Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Menteng Kota Palangka Raya:
Correlation of Maternal Knowledge to Exclusive Breastfeeding in the Working Area of
the Menteng Helath Center, Palangka Raya City. Jurnal Surya Medika (JSM), 9(2), 1-10.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Pedoman pemberian ASI eksklusif.
Jurnal Gizi dan Pangan, 14(1), 25-32.
Lakoro, M. S., Handayani, L., & Mulasari, S. A. (2024). Faktor-Faktor yang Berhubungan
dengan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Umbulharjo I Kota
Yogyakarta. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), 7(3), 680-687.
Mahadewi, E. P., & Heryana, A. (2020). Analisis Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Di
Puskesmas Bekasi. Gorontalo Journal of Public Health, 3(1), 23-31.
Nurrizka, R. H., & Wenny, D. M. (2022). Pelatihan Perawatan Payudara dengan Media
Phantom Sebagai Treatment Keberhasilan ASI Ekslusif. Dinamisia: Jurnal Pengabdian
Kepada Masyarakat, 6(1), 122-127.
Nugraheny, E. (2016). Faktor penghambat dan pendorong penerapan asi eksklusif. Jurnal
Ilmu Kebidanan, 2(2), 79-86.
Oktoriana, P., & Krishna, L. F. P. (2019). Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan
Gastritis. Buletin Kesehatan: Publikasi Ilmiah Bidang Kesehatan, 3(2), 197-209.
Rahayu, S., & Wati, D. (2021). Faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan ASI eksklusif.
Jurnal Keperawatan, 12(3), 45-52
Wiji, R. N., & Fitri, I. (2020). Strategi edukasi gizi dan efektivitas media poster sebagai
implementasi Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi). JOMIS (Journal of Midwifery
Science), 4(2), 96-106.

Copyright Holder:
© Risma Eka et al., (2024)

First Publication Right :


© Bulletin of Community Engagement

This article is under:


CC BY SA

666

Anda mungkin juga menyukai