0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan5 halaman

Kesiapan Belajar Mandiri Mahasiswa Kedokteran

Penelitian ini mengeksplorasi karakteristik kesiapan belajar mandiri mahasiswa Kedokteran Umum di Universitas Jenderal Soedirman, menggunakan metode mixed methods. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata mahasiswa memiliki skor kesiapan belajar mandiri yang tinggi, dengan mahasiswa angkatan 2019 menunjukkan 57.3% dalam kategori tinggi dan 33.6% sangat tinggi. Meskipun proses identifikasi kebutuhan belajar sudah baik, beberapa aspek seperti konsistensi dan manajemen waktu masih perlu ditingkatkan.

Diunggah oleh

Agung Santoso
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan5 halaman

Kesiapan Belajar Mandiri Mahasiswa Kedokteran

Penelitian ini mengeksplorasi karakteristik kesiapan belajar mandiri mahasiswa Kedokteran Umum di Universitas Jenderal Soedirman, menggunakan metode mixed methods. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata mahasiswa memiliki skor kesiapan belajar mandiri yang tinggi, dengan mahasiswa angkatan 2019 menunjukkan 57.3% dalam kategori tinggi dan 33.6% sangat tinggi. Meskipun proses identifikasi kebutuhan belajar sudah baik, beberapa aspek seperti konsistensi dan manajemen waktu masih perlu ditingkatkan.

Diunggah oleh

Agung Santoso
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia (JPTI) DOI: [Link]

209
Vol. 3, No. 4, Agustus 2022, Hal. 379-383 p-ISSN: 2775-4227
e-ISSN: 2775-4219

Karakteristik Kesiapan Belajar Mandiri Mahasiswa

Arfi Nurul Hidayah*1, Miko Ferine2, Raditya Bagas Wicaksono3


1,2,3
Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Soedirman, Indonesia
Email: [Link].h@[Link], [Link]@[Link], [Link]@[Link]

Abstrak

SCL (student centered learning) merupakan strategi pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai
subyek yang aktif, mandiri dan bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses belajarnya. Peserta didik beserta
proses belajarnya menjadi tokoh utama dalam proses pembelajaran. Semakin kompleksnya materi belajar dan
tantangan kebutuhan jaman yang dinamis menuntut adanya kemampuan belajar yang mandiri. Oleh karena itu,
kesiapan mahasiswa untuk belajar atas keinginan sendiri (self directed learning readiness) merupakan salah satu
komponen penting dalam menentukan keberhasilan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi
karakteristik kesiapan belajar mandiri mahasiswa Kedokteran Umum. Desain penelitian ini ialah mixed methods
secara analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dan pendekatan fenomenologi untuk mendalami
hasil penelitian kuantitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu pengisian kuesioner Self Directed
Learning Readiness Scale dan wawancara semi terstruktur. Kesimpulan penelitian ini ialah rata-rata mahasiswa
Kedokteran Umum memiliki skor kesiapan belajar mandiri yang tinggi. Mahasiswa angkatan 2019 menunjukkan
skor kesiapan belajar mandiri kategori sedang sebanyak 9.1%, tinggi 57.3%, dan sangat tinggi 33.6%.
Mahasiswa angkatan 2016 menunjukkan skor kesiapan belajar mandiri kategori sedang sebanyak 17.8%, tinggi
50.5%, dan sangat tinggi 31.7%. Sedangkan mahasiswa profesi angkatan 2014 menunjukkan skor kesiapan
belajar mandiri kategori rendah sebanyak 2.3%, sedang 4.5%, tinggi 56.8%, dan sangat tinggi 36.4%. Proses
identifikasi kebutuhan belajar sudah baik, namun konsistensi, manajemen waktu, pengendalian diri, wawasan
kinerja, dan ulasan masih perlu ditingkatkan.

Kata kunci: kesiapan belajar mandiri, mahasiswa, kedokteran.

Characteristics of Students Self Directed Learning Readiness

Abstract

SCL (student centered learning) is a learning strategy that places students as active, independent and fully
responsible subjects in the learning process. Students and their learning process become the main characters in
the learning process. The increasingly complex learning materials and the challenges of the dynamic needs of
the era require independent learning abilities. Therefore, the readiness of students to learn on their own (self-
directed learning readiness) is an important component in determining learning success. This study aims to
explore the characteristics of self directed learning readiness of General Medicine students. This research
design is a mixed method consisting of analytical observational with a cross sectional approach and a
phenomenological approach to explore the results of quantitative research. The data collection method used is
filling out the Self Directed Learning Readiness Scale questionnaire and semi-structured interviews. The
conclusion of this study is that on average, General Medicine students have a high score of self-study readiness.
The class of 2019 showed a self directed learning readiness score in the medium category of 9.1%, high 57.3%,
and very high 33.6%. Class of 2016 students showed a self directed learning readiness score in the medium
category of 17.8%, high 50.5%, and very high 31.7%. Meanwhile, professional students of the 2014 class
showed a low score of 2.3% for self directed learning readiness, 4.5% for medium, 56.8% for high, and 36.4%
for very high..The process of identifying learning needs is good, but consistency, time management, self-control,
performance insights, and reviews still need to be improved..

Keywords: medical, self directed learning readiness, students.

1. PENDAHULUAN
Kurikulum pendidikan kedokteran terus berubah baik dalam cakupan kedalaman maupun keluasan isinya
mengikuti perkembangan jaman. Salah satu perubahan yang penting adalah bergesernya paradigma teacher

379
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia (JPTI) p-ISSN: 2775-4227
e-ISSN: 2775-4219

centered learning (TCL) menuju ke arah student centered learning (SCL). SCL merupakan strategi
pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subyek yang aktif, mandiri dan bertanggung jawab sepenuhnya
dalam proses belajarnya. Siswa beserta proses belajarnya menjadi tokoh utama dalam proses pembelajaran [1]
[2].
Pergeseran paradigma ini menjadi tantangan besar baik bagi seorang dosen maupun mahasiswa. Mahasiswa
diharapkan mampu mengembangkan keinginannya untuk belajar sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhannya
dalam mencapai kompetensi yang diharapkan. Standar Kompetensi Dokter Indonesia [3] telah mencantumkan
kemampuan mempraktikkan belajar sepanjang hayat sebagai salah satu komponen kompetensi seorang dokter.
Seorang dokter harus mampu untuk menyadari kinerja profesionalitas diri dan mengidentifikasi kebutuhan
belajar untuk mengatasi kelemahan serta berperan aktif dalam upaya pengembangan profesi. Karakteristik
pembelajar sepanjang hayat menjadi kompetensi krusial mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi berlangsung sangat cepat dan dinamis. Informasi yang sangat banyak dengan sumber rujukan yang
bervariasi dan arus informasi yang sangat cepat mengharuskan seorang dokter terus belajar agar senantiasa
memperbarui ilmu pengetahuan yang dimilikinya dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat [4].
Salah satu bekal yang harus dimiliki oleh seseorang untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat adalah
kesiapan untuk belajar atas keinginan dan kebutuhan pribadi (self directed learning readiness). Self directed
learner adalah seseorang yang dapat mengembangkan inisiatif dan mempertahankan motivasi belajar serta
bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri. Karakteristik ini sesuai dengan karakteristik pembelajar
dewasa. Seseorang yang memiliki kekuatan motivasi internal tentunya dapat meningkatkan efektivitas
belajarnya. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan, self directed learning readiness berhubungan
positif dengan hasil belajar [5] [6].
Pada dasarnya kelompok usia mahasiswa telah memiliki karakteristik dewasa. Meskipun demikian, tidak
semua mahasiswa memiliki kemauan dan kemampuan untuk menjadi self directed learner. Beberapa penelitian
di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 50 sampai dengan 60 persen mahasiswa kedokteran yang memiliki
karakteristik self directed learner [5]. Sementara itu dari hasil penelitian kualitatif, diketahui bahwa sebagian
besar mahasiswa kedokteran tidak mempunyai karakteristik self directed learning yang cukup besar. Proses
belajar mahasiswa masih banyak ditentukan oleh dosen. Mahasiswa lebih banyak belajar dari kuliah yang
diberikan oleh dosen dibandingkan dengan belajar dari materi yang dipecari dan dipelajari sesuai dengan
keingintahuannya sendiri [7].
Jurusan Kedokteran Umum telah menerapkan kurikulum berbasis kompetensi sejak tahun 2005. Salah satu
karakteristik yang diharapkan dari lulusannya adalah sebagai pembelajar sepanjang hayat. Kompetensi ini dinilai
secara formatif dari kegiatan belajar mahasiswa. Belum ada metode penilaian spesifik dan terukur secara
kuantitatif yang dikembangkan di FK Unsoed untuk mengukur tingkat self directed learning readiness sebagai
bagian dari karakteristik pembelajar sepanjang hayat mahasiswanya [8].
Perumusan masalah penelitian ini ditekankan pada bagaimana karakteristik self directed learning readiness
mahasiswa Kedokteran Umum.

2. METODE PENELITIAN
Rancangan penelitian ini menggunakan desain mixed methods yaitu penelitian analitik observasional
dengan pendekatan cross sectional dan dilanjutkan dengan penelitian kualitatif dengan pendekatan
fenomenologi. Penelitian ditujukan untuk mengetahui gambaran jenis kelamin, lama belajar (pendidikan sarjana
atau profesi), dan tingkat self directed learning readiness. Subjek penelitian adalah mahasiswa Jurusan
Kedokteran Umum angkatan 2019, 2016, dan 2014. Mahasiswa angkatan 2019 dan 2016 berada pada tahap
sarjana dan angkatan 2014 merupakan mahasiswa koas yang sudah mengikuti pendidikan profesi kedokteran
minimal 1 tahun. Pengumpulan data menggunakan kuesioner self directed learning readiness [9] dan dilanjutkan
dengan wawancara dari beberapa mahasiswa. Kuesioner ini mengukur self directed learning readiness
berdasarkan 3 dimensi, manajemen diri, keinginan untuk belajar dan kontrol diri. The SDLRS terdiri atas 40
pernyataan disertai dengan 5 skala Likert yang terdiri atas sangat setuju (5), setuju (4), tidak yakin (3), tidak
setuju (2) dan sangat tidak setuju (1). Empat butir pernyataan merupakan unfavourable items (butir 3, 11, 20, dan
40). Maksimum skor yang dapat diperoleh adalah 200. Daftar pertanyaan wawancara disusun sesuai dengan
aspek kesiapan belajar mandiri. Proses penelitian dilaksanakan selama bulan Agustus hingga Oktober 2019.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil
Pengambilan data dilakukan setelah didapatkannya surat persetujuan etik yang dikeluarkan oleh KEPK FK
Unsoed pada tanggal 10 Oktober 2019. Setelah mendapatkan persetujuan etik, langkah selanjutnya adalah
380
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia (JPTI) p-ISSN: 2775-4227
e-ISSN: 2775-4219

penyebaran skala Self Directed Learning Readiness pada ketiga angkatan mahasiswa. Peneliti memasuki ruangan
kelas angkatan 2019 dan 2016, memberikan pengarahan mengenai cara pengisian skala, dan mengumpulkan data
yang telah diisi oleh para mahasiswa. Pada angkatan 2014, peneliti memanggil perwakilan mahasiswa dan
memberikan pengarahan mengenai cara pengisian skala. Mahasiswa tersebut kemudian menyebarkan skala
kepada teman-teman seangkatannya. Sejumlah 255 data dari kuesioner Self Directed Learning Readiness telah
didapatkan. Berikut gambaran demografi dan deskriptif skor kesiapan belajar mandiri mahasiswa Kedokteran
Umum:

Tabel 1. Gambaran demografi dan deskriptif skor kesiapan belajar mandiri


Angkatan Jenis Kelamin Jumlah Mean
2019 Laki-laki 33 151.55
Perempuan 77 153.7
2016 Laki-laki 30 151.97
Perempuan 72 148.94
2014 Laki-laki 13 139.62
Perempuan 31 161.23

Berdasarkan jenis kelamin, data penelitian berasal dari 70,6% mahasiswa perempuan dan 29,4% mahasiswa
laki-laki. Hal ini sesuai dengan keadaan aslinya dimana jumlah mahasiswa perempuan selalu lebih banyak
dibanding mahasiswa laki-laki di setiap angkatan. Data yang terkumpul kemudian dikategorikan menggunakan
rumus rerata kelompok yang terbagi menjadi lima, yaitu kelompok sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan
sangat rendah[10]. Berikut rumus kategorisasi skor kesiapan belajar dalam penelitian ini:

Tabel 2. Rumus kategorisasi skor kesiapan belajar mandiri


Kategori Rumus Nilai
Sangat rendah x ≤ Mean (M) – 1,5 SD x ≤ 81
Rendah M – 1,5 SD < x ≤ M – 0,5 SD 81 < x ≤ 107
Sedang M – 0,5 SD < x ≤ M + 0,5 SD 107 < x ≤ 133
Tinggi M + 0,5 SD < x ≤ M + 1,5 SD 133 < x ≤ 159
Sangat tinggi x > M + 1,5 SD x > 159

Skor Kesiapan Belajar Mandiri Mahasiswa


70
63
60
51
50

40 37
32
30 25
18
20 16
10
10
1 2
0 0 0 0 0
0
2019 2016 2014

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Gambar 1. Skor Kesiapan Belajar Mandiri Mahasiswa

Berdasarkan tabel 2 dan Gambar 1 didapatkan hasil bahwa mahasiswa angkatan 2019 menunjukkan skor
kesiapan belajar mandiri kategori sedang sebanyak 10 orang (9.1%), kategori tinggi 63 orang (57.3%), dan
kategori sangat tinggi 37 orang (33.6%). Mahasiswa angkatan 2016 menunjukkan skor kesiapan belajar mandiri

381
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia (JPTI) p-ISSN: 2775-4227
e-ISSN: 2775-4219

kategori sedang sebanyak 18 orang (17.8%), kategori tinggi 51 orang (50.5%), dan kategori sangat tinggi 32
orang (31.7%). Sedangkan mahasiswa profesi angkatan 2014 menunjukkan skor kesiapan belajar mandiri
kategori rendah sebanyak 1 orang (2.3%), kategori sedang sebanyak 2 orang (4.5%), kategori tinggi 25 orang
(56.8%), dan kategori sangat tinggi 16 orang (36.4%). Secara keseluruhan, rata-rata mahasiswa menunjukkan
skor kesiapan belajar mandiri dalam kategori tinggi.
Langkah penelitian selanjutnya yaitu melakukan wawancara terkait kesiapan belajar mahasiswa. Daftar
pertanyaan disusun sesuai dengan aspek kesiapan belajar mandiri. Responden wawancara dalam penelitian ini
ialah 6 orang mahasiswa 2019, 6 orang mahasiswa 2016, dan 5 orang mahasiswa profesi 2014. Penentuan
responden wawancara dipertimbangkan berdasarkan kategori skor nilai dan jenis kelamin. Pengambilan data
wawancara dihentikan saat data yang terkumpul sudah dianggap jenuh. Proses wawancara dilakukan sesuai
kesepakatan waktu dan tempat antara responden dan tim peneliti. Hal ini dilakukan supaya proses wawancara
dapat membuat nyaman responden sehingga tim peneliti dapat mendapatkan data kualitatif yang mendalam.
Setelah data wawancara terkumpul, penyusunan transkip atau verbatim dilakukan dari masing-masing
responden penelitian. Tahapan selanjutnya yaitu melakukan pengecekan data kepada responden, koding, serta
pengelompokkan data dalam kategori dan tema. Tema yang telah tersusun dikembangkan menjadi pembahasan
penelitian.

3.2. Pembahasan
Data menunjukkan rata-rata skor kesiapan belajar mandiri yang dimiliki mahasiswa Angkatan 2019, 2016,
dan 2014 termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa secara rata-rata memiliki
sikap, bakat, dan kemampuan yang diperlukan sebagai pembelajar mandiri. Hasil ini mendukung hasil penelitian
Shokar et al [11] yang menunjukkan bahwa tingkat kemandirian diri lebih tinggi pada mahasiswa kedokteran
daripada pelajar dewasa lainnya. Rata- rata mahasiswa kedokteran telah mengetahui dengan baik hal-hal yang
harus dicapai dalam tiap blok yang diikuti. Hal ini dapat diwujudkan karena mahasiswa mendapatkan arahan
lisan saat sosialisasi dan arahan secara tertulis dalam buku panduan mahasiswa di awal blok. Hal ini seperti
diungkapkan oleh informan 9 yaitu “Biasanya dari sosialisasi blok, kan dibagi BRP (Buku Rancangan
Pembelajaran),nah itu dilihat dari situ sasaran pembelajarannya”.
Menurut Murad dan Varkey [12], karakteristik belajar mandiri yang dimiliki oleh mahasiswa kedokteran
sudah mencakup prinsip identifikasi kebutuhan belajar, pengembangan tujuan pembelajaran, dan identifikasi
sumber daya yang tepat. Namun, dalam prinsip implementasi proses, komitmen terhadap kontrak pembelajaran,
dan evaluasi proses pembelajaran masih belum optimal. Hal ini dapat ditunjukkan dengan kutipan wawancara
berikut “saya malas sih, Bu, kalau harus cari tahu lebih dulu. Saya memang orangnya belajarnya audio, jadi
memang sukanya diajarin. Cuman untuk belajar lebih dalamnya lagi, itu tergantung, sih, Bu. Jarang banget
Saya pengen belajar lagi karena Saya pengen tahu gitu. Biasanya harus ada... apa ya misalnya kayak PBL”
(Informan 7). Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya tuntutan suatu metode pembelajaran, mahasiswa akan
lebih meningkatkan komitmennya terhadap pembelajaran mandiri. Semakin tinggi skor kesiapan belajar mandiri
yang dimiliki, maka karakteristik dalam hal komitmen menjadi lebih baik. Informan 10 yang memiliki skor
sangat tinggi mengungkapkan “Jadi em angsur gitu Bu, berangsur-angsur, tergantung jadwalnya, misalkan
besok kuliah..kuliah 1,2,3,4 berarti hari ini baca yang kuliah 1,2,3,4 begitu seterusnya”.
Jika dilihat berdasarkan teori bidang pembelajaran mandiri menurut Fisher, King, dan Tague [9], maka
hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara rata-rata mahasiswa masih menemui kendala di bidang kesediaan
untuk belajar dan kemampuan mengatur diri sendiri. Informan 9 mengungkapkan, “Saya tuh paling enggak bisa
gitu loh bu kalau harus kaya berjuang lagi. Tipenya all out atau enggak usah sama sekali”.
Proses belajar mandiri merupakan suatu keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab yang perlu
dilakukan oleh individu [5]. Kebebasan tercermin dalam tahap satu hingga empat, yaitu: menentukan target
pembelajaran, organisasi pembelajaran, strategi pembelajaran, dan pembelajaran sumber daya. Tanggung jawab
diperlukan dalam lima hingga sembilan tahap, yaitu: konsistensi, manajemen waktu, pengendalian diri, wawasan
kinerja, dan ulasan. Tahap sepuluh melibatkan kebebasan dan tanggung jawab, karena dalam perencanaan
strategis, perencanaan yang membuka peluang kebebasan siswa dan perencanaan adalah bentuk tanggung jawab
dari proses sebelumnya itu sudah dilakukan. Berdasarkan data penelitian didapatkan gambaran bahwa tanggung
jawab dari mahasiswa masih perlu ditingkatkan lagi. Sebagian besar informan menyatakan bahwa konsistensi
dalam menjaga semangat belajar masih kurang. Di awal semester mayoritas menyatakan bahwa semangat
mendalami materi pelajaran lebih rendah dibandingkan saat semester akhir. Informan 10 mengungkapkan “di
situ kan mungkin karena semangat belajarnya juga atau mungkin kurang beradaptasi juga jadi sebelum-
sebelumnya itu mepet belajarnya Bu, saya baru semangat di satu tahun belakang setelah ketemu penyakit-
penyakit gitu”.

382
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia (JPTI) p-ISSN: 2775-4227
e-ISSN: 2775-4219

Pengaruh dukungan sosial dari teman sebaya dan keluarga juga menjadi salah satu faktor yang mampu
mempengaruhi kesiapan belajar mandiri mereka. Jika masih berada di awal blok, beberapa mahasiswa masih
menunjukkan sikap yang kurang berkomitmen dalam belajar mandiri. Namun, sebagian besar mahasiswa
kedokteran membentuk sebuah kelompok belajar menjelang ujian dengan agenda saling bertukar materi, tanya
jawab, hingga bermain peran sebagai pasien maupun dokter jika akan menghadapi ujian OSCE.

4. KESIMPULAN
Rata-rata skor kesiapan belajar mandiri yang dimiliki mahasiswa Kedokteran Umum Angkatan 2019, 2016,
dan 2014 termasuk dalam kategori tinggi. Mahasiswa secara rata-rata memiliki sikap, bakat, dan kemampuan
yang diperlukan sebagai pembelajar mandiri. Prinsip identifikasi kebutuhan belajar, pengembangan tujuan
pembelajaran, dan identifikasi sumber daya sudah tepat. Namun, dalam prinsip implementasi proses, komitmen
terhadap kontrak pembelajaran, dan evaluasi proses pembelajaran masih belum optimal. Tanggung jawab dalam
proses belajar mandiri seperti konsistensi, manajemen waktu, pengendalian diri, wawasan kinerja, dan ulasan
masih perlu ditingkatkan. Dukungan sosial dari teman sebaya dan keluarga juga menjadi salah satu faktor yang
mampu mempengaruhi kesiapan belajar mandiri.

DAFTAR PUSTAKA
[1] R. M. Harden and J. Crosby, “AMEE guide no 20: The good teacher is more than a lecturer - The twelve
roles of the teacher,” Med. Teach., vol. 22, no. 4, 2000, doi: 10.1080/014215900409429.
[2] Harsono, “Sudent-Centered Learning di Perguruan Tinggi,” J. Pendidik. Kedokt. dan Profesi Kesehat.
Indones., vol. 8, no. 1–2, pp. 144–153, 2008.
[3] Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Standar Kompetensi Kedokteran Indonesia. 2006.
[4] S. Gyawali, A. C. Jauhari, P. Ravi Shankar, A. Saha, and M. Ahmad, “Readiness for self directed
learning among first semester students of a medical school in Nepal,” J. Clin. Diagnostic Res., vol. 5, no.
1, pp. 20–23, 2011.
[5] F. A. Tjakradidjaja, “Directed Learning ( SDL ) Process,” vol. 10, no. ICHLaS, pp. 98–102, 2017.
[6] R. A. CHAIRUNNISA, “HUBUNGAN SELF DIRECTED LEARNING DENGAN INDEKS
PRESTASI KUMULATIF KUMULATIF MAHASISWA,” p. 2016, 2016.
[7] H. Nyambe, Harsono, and G. Retno Rahayu, “Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia Hasan Nyambe et
al., Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self Directed Learning Readiness pada Mahasiswa Tahun
Pertama,” vol. 5, no. 2, pp. 67–77, 2016.
[8] Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Buku Pedoman Kurikulum. 2014.
[9] M. Fisher, J. King, and G. Tague, “Development of a self-directed learning readiness scale for nursing
education,” Nurse Educ. Today, vol. 21, no. 7, pp. 516–525, 2001, doi: 10.1054/nedt.2001.0589.
[10] S. Azwar, “Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya,” Yogyakarta: Pustaka Pelajar, vol. 1, no. 69,
2013.
[11] G. S. Shokar, N. K. Shokar, C. M. Romero, and R. J. Bulik, “Self-directed learning: Looking at
outcomes with medical students,” Fam. Med., vol. 34, no. 3, pp. 197–200, 2002.
[12] M. H. Murad and P. Varkey, “Self-directed learning in health professions education,” Ann. Acad. Med.
Singapore, vol. 37, no. 7, pp. 580–590, 2008.

383

Anda mungkin juga menyukai