BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perusahaan sering kali menghadapi tantangan dalam implementasi kebijakan
teknologi komunikasi, seperti peralihan dari penggunaan WhatsApp ke Telegram untuk
laporan kerja. Hal ini timbul karena adanya preferensi dan kebiasaan yang berbeda di
kalangan karyawan, yang terkadang memilih untuk tetap menggunakan platform yang lebih
familiar bagi mereka. Penggunaan teknologi dalam komunikasi perusahaan memang krusial,
sebagaimana diuraikan oleh Gunawan et al. (2021), yang menyebutkan bahwa media sosial
dan aplikasi pesan instan dapat menjadi pedang bermata dua; dapat meningkatkan efisiensi
tetapi juga menimbulkan risiko jika tidak digunakan dengan tepat. Selain itu, penelitian oleh
Ifani et al. (2023) menunjukkan bahwa keamanan dan performa kedua aplikasi ini, WhatsApp
dan Telegram, memiliki perbedaan signifikan, yang bisa memengaruhi keputusan penggunaan
di lingkungan kerja. Oleh karena itu, kebijakan berpindah platform harus mempertimbangkan
berbagai faktor, termasuk keamanan data dan kemudahan penggunaan, agar dapat diterima
dan dijalankan secara efektif oleh semua karyawan.
Pergantian platform komunikasi seperti ini sering dihadapi oleh perusahaan dengan
alasan peningkatan keamanan dan efisiensi. Seperti yang dipaparkan dalam penelitian
Suryadi dan Syahidin (2023), sistem informasi berbasis web dan chatbot Telegram dapat
meningkatkan efektivitas komunikasi dalam lingkungan perusahaan. Kendati demikian,
proses adaptasi sering kali tidak mulus, mengingat bahwa WhatsApp telah digunakan secara
luas dan lama, sehingga ada hambatan psikologis dan teknis yang tidak bisa diabaikan.
Artikel oleh Fazarusda dan Indrayani (2020) juga menggarisbawahi pentingnya strategi
komunikasi yang tepat dalam melaksanakan e-government yang berfungsi dengan baik, yang
termasuk dalam konteks perubahan sistem teknologi ini. Oleh karena itu, diperlukan strategi
komunikasi dan pelatihan yang baik untuk mendukung transisi ini dan memastikan bahwa
peralihan dari WhatsApp ke Telegram dalam pengelolaan laporan kerja tidak hanya sebatas
kebijakan di atas kertas, melainkan diimplementasikan secara efektif dan efisien.
Keputusan perusahaan untuk beralih dari penggunaan WhatsApp ke Telegram dalam
pengelolaan laporan kerja bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi komunikasi
internal. Telegram dikenal memiliki fitur keamanan yang lebih canggih dibandingkan
WhatsApp, seperti enkripsi end-to-end dan kemampuan untuk mengatur pesan yang dapat
menghilang setelah waktu tertentu. Penelitian oleh Ifani, Sumardi, dan Baytikhalishah (2023)
menemukan bahwa Telegram menawarkan performa yang lebih baik dalam hal keamanan dan
fitur dibandingkan dengan WhatsApp. Namun, meskipun manfaat tersebut jelas, beberapa
karyawan masih memilih untuk tetap menggunakan WhatsApp. Hal ini mungkin disebabkan
oleh kenyamanan dan familiaritas yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Gunawan et
al. (2021) menyoroti bahwa media sosial, termasuk aplikasi perpesanan, memiliki sisi positif
dan negatif yang mempengaruhi penggunanya. Maka dari itu, transisi dari WhatsApp ke
Telegram tidak hanya tergantung pada faktor teknologi, tetapi juga memerlukan waktu untuk
penyesuaian psikologis dan peningkatan literasi digital di kalangan karyawan.
Dalam proses peralihan platform komunikasi ini, hambatan yang muncul tidak hanya
teknis, tetapi juga psikologis. Seperti yang dibahas dalam penelitian oleh Suryadi dan
Syahidin (2023), diperlukan pendekatan sistem informasi yang tepat untuk memfasilitasi
perubahan semacam ini. Penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi
karyawan agar mereka merasa nyaman menggunakan platform baru. Strategi komunikasi
yang efektif adalah kunci untuk mengatasi resistensi dan memastikan bahwa perubahan
kebijakan ini diimplementasikan dengan baik. Hal ini sejalan dengan temuan Fazarusda dan
Indrayani (2020), yang menyatakan bahwa strategi komunikasi yang baik diperlukan dalam
pelaksanaan e-government yang sukses. Kesimpulannya, untuk memastikan transisi yang
mulus dan mendukung keberhasilan implementasi perubahan ini, pelatihan dan dukungan
berkelanjutan harus menjadi bagian integral dari strategi perusahaan.
Dalam menelusuri literatur terkait perbandingan penggunaan WhatsApp dan Telegram
dalam konteks kelancaran pekerjaan, peneliti telah memeriksa berbagai studi terdahulu yang
mengangkat tema serupa. Suryadi dan Syahidin (2023) dalam penelitiannya tentang sistem
informasi berbasis web dan chatbot Telegram di PT EVA menggarisbawahi pentingnya
adaptasi teknologi komunikasi untuk meningkatkan efisiensi operasional. Temuan ini
menunjukkan bahwa implementasi Telegram sebagai platform komunikasi dapat mendukung
peningkatan produktivitas jika diterapkan dengan strategi yang tepat. Selain itu, Fazarusda
dan Indrayani (2020) menyoroti bahwa strategi komunikasi yang efektif sangat penting dalam
konteks penerapan e-governance di Kota Semarang, yang menegaskan bahwa tehnologi
komunikasi baru membutuhkan pendekatan yang menyeluruh agar dapat diterima oleh semua
elemen organisasi. Penelitian ini sejalan dengan temuan-temuan sebelumnya yang
menekankan perlunya lingkungan kerja yang adaptif dalam menghadapi perubahan teknologi
komunikasi. Gunawan et al. (2021) juga menyoroti aspek positif dan negatif dari penggunaan
media sosial, menunjukkan bahwa meskipun terdapat manfaat signifikan, ada juga tantangan
yang harus diatasi. Perbedaan utama antara studi-studi ini dan penelitian yang saat ini akan
dilakukan adalah fokus kontekstual pada lingkungan kerja spesifik di Indomaret Cisarua
Puncak dan bagaimana platform komunikasi ini memengaruhi dinamika kerja secara
langsung.
Melanjutkan penelusuran, ditemukan pula penelitian yang secara langsung membahas
perbandingan antara WhatsApp dan Telegram dalam aspek keamanan dan performa, seperti
yang dilakukan Ifani et al. (2023). Studi ini mengungkap bahwa kedua aplikasi memiliki
keunggulan dan kelemahan masing-masing dalam konteks keamanan data dan sebagai alat
komunikasi yang handal. Fakta ini menambah dimensi lain dalam memahami pilihan
platform di lingkungan kerja, dimana kebijakan perusahaan harus mempertimbangkan aspek
keamanan seiring dengan kebutuhan komunikasi yang lancar. Meskipun penelitian Ifani et al.
berfokus pada analisis teknis menggunakan metode NIJ, penelitian saat ini bertujuan
mengeksplorasi aspek penggunaan sehari-hari yang lebih mendetail dalam konteks operasi
bisnis. Dengan mengaitkan hal ini dengan temuan-temuan terdahulu, penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi bagaimana pilihan platform komunikasi mempengaruhi efektivitas
pekerjaan karyawan di Indomaret Cisarua Puncak. Kesimpulannya, identifikasi dan analisis
perbedaan penggunaan Telegram dan WhatsApp di lingkungan ini menjadi relevan dalam
mengatasi permasalahan yang dihadapi perusahaan, serta menawarkan wawasan lebih dalam
untuk peningkatan kebijakan komunikasi internal.
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti perbandingan penggunaan WhatsApp dan
Telegram dalam aspek efektivitas pelaporan kerja di lingkungan Indomaret Cisarua Puncak,
di mana peralihan ke Telegram diharapkan mampu meningkatkan keamanan dan efisiensi
komunikasi, tetapi penggunaannya masih bersinggungan dengan kebiasaan lama
menggunakan WhatsApp. Dalam konteks ini, signifikansi penelitian terletak pada penyediaan
wawasan yang dapat membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan manajerial terkait
adopsi teknologi komunikasi yang lebih aman dan efisien tanpa mengurangi kenyamanan
kerja karyawan. Penelitian ini penting karena memahami faktor-faktor yang memengaruhi
pilihan aplikasi perpesanan dapat mengungkap hambatan-hambatan psikologis dan
operasional yang perlu diatasi agar transisi teknologi berjalan lancar. Urgensitas penelitian ini
tidak hanya berakar pada kebutuhan teknis untuk meningkatkan keamanan data, tetapi juga
pada keharusan menangani resistensi perubahan yang inherent dalam dinamika sosial dan
budaya tempat kerja. Dengan adanya kebijakan perusahaan yang mendukung, transisi yang
tepat dari WhatsApp ke Telegram dapat menjadi katalis bagi peningkatan keseluruhan
kualitas komunikasi internal yang pada gilirannya, mendorong produktivitas karyawan. Oleh
karena itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi penting dalam
merancang strategi komunikasi internal yang adaptif dan responsif, sejalan dengan
perkembangan teknologi dan kebutuhan bisnis. Dengan mengaitkan temuan ini ke dalam
konteks strategi komunikasi yang lebih luas, penelitian ini dapat memfasilitasi pemahaman
lebih mendalam tentang bagaimana platform komunikasi yang dipilih berdampak pada
efektivitas operasional dan kompetitif perusahaan di masa depan.
B. RUMUSAN MASALAH
Berikut adalah Rumusan Masalah Skripsi berdasarkan judul 'Perbandingan antara WhatsApp
telegram dalam urusan pelancaran pekerjaan (studi Indomaret Cisarua Puncak)':
1) Apakah terdapat perbedaan dalam efisiensi komunikasi internal antara pengguna
WhatsApp dan Telegram di Indomaret Cisarua Puncak?
2) Adakah perbedaan dalam tingkat keamanan pengelolaan laporan kerja antara
WhatsApp dan Telegram di Indomaret Cisarua Puncak?
3) Bagaimana persepsi karyawan terhadap penggunaan WhatsApp dan Telegram dalam
urusan pelancaran pekerjaan di Indomaret Cisarua Puncak?
4) Apakah faktor kenyamanan dan familiaritas mempengaruhi pilihan karyawan dalam
menggunakan WhatsApp atau Telegram untuk urusan pekerjaan di Indomaret Cisarua
Puncak?
5) Adakah hubungan antara tingkat literasi digital karyawan dengan preferensi
penggunaan WhatsApp atau Telegram dalam pengelolaan laporan kerja di Indomaret
Cisarua Puncak?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Penelitian Skripsi:
1) Tujuan pertama dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efisiensi komunikasi
internal antara pengguna WhatsApp dan Telegram di Indomaret Cisarua Puncak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan signifikan
dalam penggunaan kedua platform tersebut dalam memperlancar komunikasi internal
di lingkungan kerja.
2) Tujuan kedua adalah untuk mengevaluasi tingkat keamanan pengelolaan laporan kerja
antara WhatsApp dan Telegram di Indomaret Cisarua Puncak. Penelitian ini akan
mengidentifikasi apakah terdapat perbedaan dalam keamanan data dan informasi
antara kedua platform tersebut dalam konteks pengelolaan laporan kerja karyawan.
3) Tujuan ketiga adalah untuk menganalisis persepsi karyawan terhadap penggunaan
WhatsApp dan Telegram dalam urusan pelancaran pekerjaan di Indomaret Cisarua
Puncak. Penelitian ini akan mengeksplorasi bagaimana karyawan memandang
efektivitas dan efisiensi penggunaan kedua platform tersebut dalam mendukung
pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mereka.
D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat Teoritis dari penelitian ini adalah memberikan kontribusi pada pengetahuan
tentang efisiensi komunikasi internal antara WhatsApp dan Telegram dalam lingkungan kerja.
Dengan membandingkan kedua platform tersebut, penelitian ini dapat memberikan
pemahaman yang lebih mendalam tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam
memperlancar komunikasi di tempat kerja. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi
referensi bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk mengembangkan studi tentang
penggunaan aplikasi pesan instan dalam konteks komunikasi internal perusahaan.
Manfaat Praktis dari penelitian ini adalah memberikan rekomendasi yang dapat
membantu manajemen Indomaret Cisarua Puncak dalam memilih platform yang lebih efektif
dan aman untuk digunakan dalam urusan pelancaran pekerjaan. Dengan mengevaluasi tingkat
keamanan pengelolaan laporan kerja antara WhatsApp dan Telegram, penelitian ini dapat
membantu manajemen dalam mengambil keputusan yang tepat terkait dengan penggunaan
aplikasi pesan instan di lingkungan kerja. Selain itu, analisis persepsi karyawan terhadap
penggunaan kedua platform tersebut juga dapat memberikan wawasan yang berharga bagi
manajemen dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi komunikasi internal di perusahaan.
BAB II ISI
A. LANDASAN TEORI
1. KOMUNIKASI DIGITAL
a) Definisi Komunikasi Digital
Komunikasi digital merujuk pada proses pertukaran informasi secara elektronik
melalui jaringan digital, yang memungkinkan pesan dikirim dan diterima secara instan tanpa
batasan geografis maupun temporal. WhatsApp dan Telegram adalah dua platform utama
yang memfasilitasi komunikasi digital dengan menyediakan fitur-fitur untuk mengirim pesan
teks, gambar, video, dan panggilan suara kepada pengguna di seluruh dunia (Haro, A.,
Saktisyahputra, S., Herlinah, H., Olifia, S., & Laksono, R. D., 2024). Dalam konteks ini,
tujuan utama dari komunikasi digital adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pertukaran informasi, sehingga memungkinkan pengguna untuk berinteraksi secara real-time
dengan mudah. Dengan demikian, WhatsApp dan Telegram berfungsi sebagai alat yang
mendukung komunikasi interpersonal dan kelompok dalam ruang digital.
WhatsApp, sebagai aplikasi perpesanan instan, menyediakan pengalaman komunikasi
yang sederhana dan user-friendly. Aplikasi ini dikenal dengan enkripsinya yang kuat, yang
menjamin keamanan komunikasi antar-pengguna. Dengan adanya fitur enkripsi end-to-end,
pesan yang dikirimkan akan tetap aman dan hanya dapat diakses oleh pengirim dan penerima
(Putra, R. R. S., Rahmayani, N., & Nazar, J., 2024). Keamanan ini merupakan aspek penting
dari komunikasi digital, karena memastikan privasi pengguna terlindungi. Selain itu,
WhatsApp juga mendukung berbagai format media, seperti teks, gambar, video, dan
dokumen, yang memungkinkan fleksibilitas dalam berbagi informasi.
Telegram memperluas konsep komunikasi digital dengan menawarkan fitur-fitur unik
yang menekankan pada privasi dan kebebasan pengguna. Berbeda dengan WhatsApp,
Telegram memungkinkan pembuatan saluran publik yang dapat diakses oleh pengguna secara
luas, sekaligus menyediakan fitur chat rahasia yang dilengkapi dengan enkripsi end-to-end
(Haro et al., 2024). Fitur ini menambah dimensi baru dalam komunikasi digital, di mana
pengguna dapat memilih tingkat privasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain itu,
Telegram mendukung pengiriman file berukuran besar, yang membuatnya ideal untuk
keperluan berbagi data dalam skala besar maupun kecil.
Kedua aplikasi ini, meski memiliki fitur dan keunggulan yang berbeda, sama-sama
berkontribusi signifikan terhadap lanskap komunikasi digital saat ini. Baik WhatsApp
maupun Telegram telah mengubah cara individu dan organisasi berkomunikasi, dengan
memberikan solusi yang efisien dan aman untuk pertukaran informasi. Perbedaan dalam fitur
keamanan, kapasitas berbagi file, dan fleksibilitas penggunaan menjadi faktor penentu yang
dapat mempengaruhi preferensi pengguna dalam memilih platform yang paling sesuai dengan
kebutuhan komunikasi digital mereka (Putra et al., 2024). Dengan demikian, memahami
kelebihan dan kekurangan masing-masing aplikasi merupakan bagian penting dari kajian
mengenai perkembangan teknologi komunikasi digital.
b) Ruang Lingkup Komunikasi Digital
Teori mengenai cakupan komunikasi digital melibatkan berbagai aspek, termasuk
media, pengguna, dan kegunaan. Menurut Haro et al. (2024), komunikasi digital melibatkan
penggunaan perangkat elektronik dan jaringan internet untuk menyampaikan informasi dalam
bentuk digital. Proses ini melibatkan interaksi antar individu maupun kelompok yang
menggunakan teknologi komunikasi modern sebagai alat utama. Ruang lingkup ini tidak
hanya melibatkan pertukaran informasi konvensional melalui pesan teks, tetapi juga berbagai
bentuk komunikasi lain seperti video, suara, dan gambar. Dengan demikian, ruang lingkup ini
menyoroti perkembangan dan variasi cara berkomunikasi yang didukung oleh teknologi
digital saat ini (Haro et al., 2024).
Lebih lanjut, Putra et al. (2024) menekankan bahwa komunikasi digital dalam
cakupannya melibatkan isu hukum dan peraturan terkait dengan informasi digital. Sebagai
contoh, penyebaran karya sastra dalam format digital melalui aplikasi seperti WhatsApp
menimbulkan tantangan dalam melindungi hak cipta. Ruang lingkup ini menjadi penting
karena digitalisasi dapat mempermudah terjadinya pembajakan dan pelanggaran hukum. Oleh
karena itu, perlindungan hukum hak cipta menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cakupan
komunikasi digital. Hal ini menunjukkan kompleksitas cakupan komunikasi digital yang
harus memperhatikan aspek legal selain teknologi.
Selanjutnya, komunikasi digital juga melibatkan implikasi sosial dan budaya.
Menurut Soemardjo, dalam konteks masyarakat global, teknologi komunikasi digital
memengaruhi cara kita berinteraksi dan berbagi informasi. Cakupan ini tidak hanya
mencakup aspek teknis penggunaan media, tetapi juga dampaknya terhadap hubungan sosial
dan dinamika budaya. Komunikasi digital memungkinkan konektivitas yang lebih luas, tetapi
juga menimbulkan tantangan baru dalam menjaga integritas budaya dan identitas sosial. Oleh
karena itu, pemahaman terhadap cakupan komunikasi digital harus mempertimbangkan
pengaruh sosial-budaya yang menyertainya (Soemardjo, n.d.).
Terakhir, cakupan komunikasi digital juga dapat dilihat dari sudut pandang ekonomi.
Teknologi digital telah mengubah cara bisnis berinteraksi dengan konsumen dan sesama. Hal
ini termasuk dalam cakupan komunikasi digital yang terkait dengan strategi pemasaran,
layanan pelanggan, dan manajemen hubungan bisnis. Pemahaman terhadap cakupan ini
penting untuk memanfaatkan teknologi secara efektif dalam mendukung pencapaian tujuan
ekonomi. Seiring dengan perkembangan teknologi digital, cakupan ini kemungkinan akan
terus berkembang dan semakin kompleks, sehingga menuntut adaptasi yang berkelanjutan
dari semua pengguna teknologi.
c) Karakteristik Komunikasi Digital
Karakteristik komunikasi digital dalam era modern memiliki beberapa ciri khas yang
membedakannya dari komunikasi tradisional. Salah satu ciri utamanya adalah konvergensi
media, yang memungkinkan penggabungan berbagai platform komunikasi dalam satu
perangkat atau aplikasi. Penelitian yang dilakukan oleh Gushevinalti, Suminar, dan
Sunaryanto (2020) mendukung konsep konvergensi media ini dengan menyatakan bahwa
penggabungan berbagai saluran komunikasi menjadi satu kesatuan yang terpadu dapat
meningkatkan efisiensi pertukaran informasi (Gushevinalti et al., 2020). Dengan adanya
konvergensi ini, individu dapat mengakses informasi dan berkomunikasi melalui teks, suara,
dan video secara bersamaan, yang memperluas cakupan komunikasi digital.
Efisiensi komunikasi digital juga tercermin dalam kemampuan untuk mengirim dan
menerima pesan secara instan, yang merupakan ciri khas utama dari media sosial dan aplikasi
pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram. Kecepatan ini memungkinkan pertukaran
informasi secara real-time, memungkinkan pengguna untuk merespons dengan cepat tanpa
terkendala oleh batasan geografis. Studi yang dilakukan oleh Sukrillah et al. (2017)
menunjukkan bahwa penggunaan WhatsApp sebagai sarana komunikasi memungkinkan
kolaborasi yang lebih efisien di antara anggota kelompok, di mana informasi dapat dibagikan
dan didiskusikan secara instan dalam ruang obrolan yang informal namun terkendali
(Sukrillah et al., 2017). Oleh karena itu, responsivitas menjadi hal yang sangat penting dalam
memahami karakteristik komunikasi digital.
Namun, responsivitas yang tinggi ini juga membawa tantangan dalam manajemen
informasi. Dengan banyaknya informasi yang dapat dibagikan dalam waktu singkat, risiko
kelebihan beban informasi menjadi mungkin terjadi. Oleh karena itu, manajemen dan
penyaringan informasi menjadi hal yang penting dalam karakteristik komunikasi digital.
Penyaringan konten menjadi penting untuk memastikan bahwa kualitas komunikasi tetap
terjaga dan tidak terganggu oleh informasi yang tidak relevan atau menyesatkan. Oleh karena
itu, kemampuan literasi digital yang baik sangat diperlukan bagi pengguna media digital
untuk dapat mengevaluasi dan memilih informasi yang tepat.
Aspek literasi digital ini merupakan ciri khas penting dari komunikasi digital yang
semakin kompleks dan dinamis. Pengembangan literasi digital memungkinkan pengguna
untuk menggunakan teknologi dengan bijak dan etis. Pengguna yang melek digital memiliki
kemampuan untuk menavigasi berbagai platform dan memahami implikasi dari interaksi
online yang mereka lakukan. Literasi digital juga mempengaruhi cara individu memahami,
menghasilkan, dan membagikan informasi, yang berdampak pada efektivitas komunikasi
digital secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kompetensi digital dalam
membentuk pengalaman komunikasi di era teknologi yang terus berkembang saat ini.
d) Indikator Komunikasi Digital
Dalam konteks komunikasi digital, pentingnya indikator dalam mengevaluasi
efektivitas komunikasi antara individu dan organisasi tidak bisa diabaikan. Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Anjani et al. (2018), efektivitas kinerja karyawan melalui
penggunaan media komunikasi digital, seperti WhatsApp, dapat dilihat dari aspek kecepatan,
ketepatan, dan pemahaman pesan yang disampaikan. Kecepatan dalam menyampaikan
informasi dapat mempengaruhi respons dan keputusan penerima pesan, sedangkan ketepatan
dan pemahaman pesan memastikan bahwa informasi yang diterima sesuai dengan harapan
(Anjani, Ratnamulyani, & Kusumadinata, 2018).
Penelitian oleh Ningrum dan Pramonojati (2019) menekankan bahwa indikator
efektivitas komunikasi dalam aplikasi WhatsApp di lingkungan organisasi, terutama di
kalangan pegawai Dinas Pariwisata DIY, dapat diukur melalui tiga komponen utama:
kemudahan akses, feedback yang cepat, dan keterlibatan pengguna. Kemudahan akses
berperan penting dalam memastikan informasi dapat diakses oleh semua anggota organisasi
dengan cepat. Hal ini juga berkaitan dengan feedback yang cepat, karena umpan balik yang
diberikan menunjukkan bahwa komunikasi dua arah berjalan dengan efektif (Ningrum &
Pramonojati, 2019).
Studi yang dilakukan oleh Nova dan Firdaus (2018) mengenai penggunaan Telegram sebagai
media informasi di PT. Pos Indonesia menemukan bahwa indikator yang relevan dalam
komunikasi digital tidak hanya mencakup kecepatan dan ketepatan, tetapi juga tingkat
interaktivitas dan fleksibilitas media. Interaktivitas memungkinkan pertukaran informasi yang
lebih dinamis, yang pada akhirnya meningkatkan efektivitas komunikasi. Sementara
fleksibilitas dalam penggunaan platform komunikasi menunjukkan kemampuan media dalam
menyesuaikan dengan berbagai kebutuhan informasi (Nova & Firdaus, 2018).
Dari berbagai penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa indikator-indikator
efektivitas komunikasi digital memegang peran penting dalam mendukung keberhasilan
komunikasi, baik untuk kepentingan personal maupun organisasi. Keselarasan antara
indikator-indikator tersebut, seperti kecepatan, ketepatan, kemudahan akses, feedback yang
cepat, interaktivitas, dan fleksibilitas, menjadi faktor utama dalam menciptakan komunikasi
yang efisien dan efektif. Dengan menggunakan indikator-indikator ini sebagai acuan, sebuah
organisasi dapat secara signifikan meningkatkan alur komunikasi dan mendukung pencapaian
tujuan organisasi secara keseluruhan.
2. EFEKTIVITAS KERJA
a). Definisi Efektivitas Kerja
Kemampuan individu atau kelompok dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab
sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan tanpa mengurangi kualitas hasil yang diharapkan
disebut sebagai efektivitas kerja (Ambia, 2018). Konsep ini mencakup kesesuaian antara
tindakan yang dilakukan dan hasil yang dicapai, serta penggunaan sumber daya yang efisien.
Efektivitas tidak hanya berkaitan dengan pencapaian hasil, tetapi juga melibatkan proses
pencapaian tersebut. Dalam konteks pekerjaan, efektivitas membutuhkan keseimbangan
antara jumlah dan kualitas kerja yang dihasilkan. Oleh karena itu, efektivitas kerja memiliki
peran penting dalam menentukan kesuksesan perusahaan dalam mencapai target dan
menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan (Asri, 2018).
Studi mengenai efektivitas kerja menjadi penting karena terkait dengan pencapaian
tujuan organisasi. Tujuan organisasi dapat tercapai dengan memanfaatkan sumber daya secara
optimal untuk menghasilkan output yang maksimal. Hal ini menunjukkan perlunya evaluasi
dan pengukuran terus-menerus terhadap proses kerja. Proses kerja tersebut melibatkan
pengembangan strategi yang tepat untuk mengurangi pemborosan dan meningkatkan
produktivitas karyawan. Oleh karena itu, efektivitas kerja menitikberatkan pada hasil yang
dicapai, namun tetap memperhatikan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
Dalam konteks organisasi, peningkatan efektivitas kerja harus difokuskan pada
pengembangan kapasitas dan kompetensi individu. Kompetensi individu mencakup
keterampilan teknis, manajerial, dan sosial yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas
dengan efektif. Pengembangan ini biasanya dilakukan melalui pelatihan, pendidikan
berkelanjutan, dan pembinaan. Pelatihan yang sesuai dapat meningkatkan keterampilan dan
motivasi pekerja, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada efektivitas kerja. Hal ini
menekankan pentingnya peran manajerial dalam memastikan bahwa semua anggota
organisasi memahami peran dan tujuan individu maupun kelompok mereka.
Selain itu, lingkungan kerja yang mendukung juga merupakan faktor kunci dalam
meningkatkan efektivitas kerja organisasi. Lingkungan kerja yang kondusif menciptakan
suasana kerja yang mendukung interaksi, kolaborasi, dan inovasi. Suasana tersebut dapat
meningkatkan kepuasan kerja karyawan dan memperkuat komitmen mereka terhadap
pencapaian tujuan organisasi. Komitmen ini menjadi dasar bagi terciptanya iklim kerja yang
produktif dan efektif. Dengan demikian, efektivitas kerja bukan hanya tanggung jawab
individu, tetapi juga hasil dari kerja sama seluruh elemen dalam organisasi.
b). Ruang Lingkup Efektivitas Kerja
Efektivitas kerja melibatkan berbagai aspek yang saling terkait dalam mencapai
tujuan organisasi. Efektivitas kerja pada dasarnya mengacu pada sejauh mana tujuan
organisasi dapat dicapai dengan efisien menggunakan sumber daya yang minimal (Husin,
2020). Dalam konteks ini, efektivitas kerja melibatkan kemampuan individu untuk
menyelesaikan tugas dan dukungan kelembagaan terhadap kinerja. Ini termasuk kebijakan
penempatan kerja, lingkungan kerja yang kondusif, dan penerapan teknologi yang memadai
untuk mendukung efisiensi kerja. Dengan memahami efektivitas kerja, organisasi dapat
merancang strategi yang lebih baik untuk meningkatkan output dengan sumber daya yang
tersedia.
Selain itu, motivasi dan pengakuan terhadap kinerja karyawan juga merupakan faktor
penting dalam efektivitas kerja. Motivasi berhubungan langsung dengan bagaimana individu
menggunakan kemampuan dan energi mereka untuk mencapai hasil kerja yang diinginkan.
Pengakuan terhadap kinerja dapat meningkatkan kepuasan dan semangat kerja. Penelitian
menunjukkan bahwa sistem insentif dan penghargaan terhadap karyawan dapat signifikan
meningkatkan efektivitas kerja (Suute, Mas’ud, & Yunus, 2024). Oleh karena itu,
menciptakan budaya kerja yang menghargai kontribusi individu merupakan bagian penting
dari efektivitas kerja.
Selain itu, komunikasi dalam organisasi juga sangat penting dalam efektivitas kerja.
Komunikasi yang efektif memastikan informasi yang diperlukan untuk mendukung proses
kerja disampaikan dengan jelas dan tepat waktu. Komunikasi yang terganggu dapat
menghambat penyelesaian tugas dan menurunkan efektivitas kerja secara keseluruhan.
Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan komunikasi di semua level organisasi, termasuk
antar departemen dan dengan pemangku kepentingan lainnya, dapat meningkatkan efektivitas
kerja (Husin, 2020). Oleh karena itu, organisasi perlu fokus pada strategi komunikasi yang
efektif dan efisien untuk meningkatkan efektivitas kerja.
Terakhir, inovasi dan adaptabilitas juga merupakan bagian penting dari efektivitas
kerja. Lingkungan kerja yang dinamis memerlukan individu dan tim yang dapat beradaptasi
dengan perubahan yang cepat. Inovasi mendorong pemikiran baru dan solusi kreatif untuk
mengatasi tantangan, sedangkan adaptabilitas memastikan relevansi individu dan organisasi
di tengah perubahan. Penggunaan teknologi baru dan pelatihan berkala dapat meningkatkan
kemampuan adaptasi dan menciptakan budaya inovasi yang berkelanjutan. Oleh karena itu,
inovasi dan adaptabilitas perlu diperhatikan untuk meningkatkan efektivitas kerja secara
keseluruhan dalam organisasi.
c). Karakteristik Efektivitas Kerja
Pentingnya memahami ciri-ciri dari efisiensi kerja dalam lingkup organisasi, terutama
terkait dengan penggunaan aplikasi komunikasi seperti WhatsApp dan Telegram, tidak dapat
diabaikan. Efisiensi kerja dapat dievaluasi dari berbagai sudut pandang, termasuk bagaimana
media komunikasi memengaruhi interaksi dan penyebaran informasi di antara anggota
organisasi. Sebagai alat komunikasi yang umum digunakan dalam lingkungan kerja, kedua
aplikasi tersebut menawarkan fitur yang mempermudah pertukaran informasi dan kolaborasi,
yang dapat secara langsung meningkatkan efisiensi kerja. Namun, efisiensi kerja tidak hanya
tergantung pada alat yang digunakan, tetapi juga pada cara penggunaan alat tersebut untuk
mencapai tujuan dengan efisien.
Selain itu, efisiensi kerja juga dapat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi di dalam
organisasi. Dalam hal ini, Telegram menonjol dengan fitur keamanan dan kapasitas grup yang
lebih besar, yang memungkinkan komunikasi yang lebih bervariasi dan efektif di antara
karyawan. Kualitas komunikasi yang baik berperan dalam meningkatkan kecepatan dan
ketepatan informasi, yang merupakan ciri penting dari efisiensi kerja. Keunggulan
komunikasi yang ditawarkan oleh aplikasi seperti Telegram dapat meningkatkan kolaborasi di
antara tim, yang pada akhirnya akan membantu mencapai target dan tujuan organisasi.
Tidak hanya itu, sikap profesional dan etika kerja juga berperan penting dalam
efisiensi kerja. Karyawan yang memiliki sikap profesional dan etika kerja yang baik
cenderung meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mereka.
Karakteristik ini menunjukkan bahwa individu yang berdedikasi dan bertanggung jawab
cenderung dapat memanfaatkan alat komunikasi dengan lebih efisien. Oleh karena itu,
efisiensi kerja tidak hanya dipengaruhi oleh media komunikasi yang digunakan, tetapi juga
oleh karakteristik personal dari pelaku komunikasi tersebut.
Terakhir, dampak dari efisiensi kerja terhadap kualitas layanan publik menunjukkan
hubungan yang erat antara praktik kerja yang efisien dengan hasil yang diharapkan. Hal ini
menunjukkan bahwa ciri-ciri efisiensi kerja melibatkan integrasi antara teknologi
komunikasi, kualitas interaksi di antara karyawan, dan sikap profesional karyawan. Efisiensi
bukan hanya merupakan hasil akhir, tetapi juga sebuah proses yang harus dikelola dan
ditingkatkan seiring berjalannya waktu. Pemahaman yang mendalam tentang ciri-ciri ini
sangat penting bagi organisasi dalam merancang strategi komunikasi dan kerja yang lebih
efektif di masa depan.
d). Indikator Efektivitas Kerja
Pentingnya indikator efektivitas kerja dalam mengevaluasi pencapaian tujuan
organisasi tidak bisa diabaikan. Biasanya, indikator ini terdiri dari berbagai metrik yang
menunjukkan kinerja, seperti produktivitas, efisiensi, kualitas output, dan ketepatan waktu.
Dalam penelitian ini, indikator efektivitas kerja digunakan untuk mengukur seberapa
efektifnya komunikasi dan kerja sama yang dihasilkan oleh penggunaan aplikasi pesan instan
seperti WhatsApp dan Telegram. Menurut Bormasa (2022), efektivitas kerja dapat diukur dari
kemampuan pemimpin dalam mengarahkan tim dan mengelola sumber daya dengan optimal.
Oleh karena itu, indikator efektivitas kerja tidak hanya menilai hasil numerik, tetapi juga
aspek kualitas komunikasi internal dan manajemen waktu yang efisien.
Fokus pada indikator efektivitas kerja membantu organisasi mengidentifikasi area
yang perlu diperbaiki. Misalnya, jika terdapat keterlambatan dalam menyelesaikan tugas,
maka masalah tersebut dapat diatasi dengan strategi yang tepat. Dengan memahami indikator
efektivitas kerja, organisasi dapat mengidentifikasi hambatan yang menghambat
produktivitas. Dengan menganalisis indikator ini secara mendalam, organisasi dapat membuat
keputusan berdasarkan data untuk meningkatkan kinerja secara keseluruhan. Hubungan
antara indikator efektivitas kerja dan pengambilan keputusan strategis sangat penting untuk
menjaga daya saing dalam lingkungan bisnis yang dinamis. Keberlanjutan ini dicapai dengan
terus memantau dan menyesuaikan indikator sesuai kebutuhan organisasi.
Pengukuran indikator efektivitas kerja sering melibatkan metode kuantitatif dan
kualitatif. Pendekatan kuantitatif, seperti evaluasi throughput dan rasio output-input,
memberikan gambaran statistik tentang kinerja. Di sisi lain, metode kualitatif, seperti
wawancara dan survei, memberikan konteks yang lebih mendalam tentang dinamika tim dan
potensi perbaikan. Dengan menggabungkan kedua metode ini, organisasi dapat memperoleh
pemahaman yang komprehensif tentang efektivitas kerja. Hal ini memungkinkan penilaian
yang lebih akurat terhadap faktor-faktor yang memengaruhi kinerja dan pengembangan
strategi untuk meningkatkan hasil kerja. Indikator yang tepat juga berperan sebagai alat
komunikasi yang efektif antara manajemen dan tim, memastikan transparansi dan
akuntabilitas dalam proses kerja.
Peningkatan indikator efektivitas kerja memerlukan pendekatan yang berkelanjutan.
Strategi perbaikan harus disesuaikan berdasarkan evaluasi indikator dari waktu ke waktu.
Beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan pasar menjadi krusial dalam
meningkatkan efektivitas kerja. Implementasi perubahan harus didasarkan pada data yang
relevan dan diterima oleh seluruh anggota tim untuk menciptakan budaya kerja yang adaptif
dan inovatif. Dengan demikian, indikator efektivitas kerja tidak hanya berfungsi sebagai
diagnosis, tetapi juga sebagai panduan untuk pengembangan yang berkelanjutan. Pendekatan
yang berkelanjutan dan adaptif memastikan bahwa organisasi dapat terus berkembang dan
meningkatkan kemampuan mereka dalam mencapai tujuan strategis.
B. KAJIAN PUSTAKA
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ifani, Sumardi, dan Baytikhalishah (2023),
disebutkan bahwa Telegram memiliki kinerja yang lebih baik dalam hal keamanan dan fitur
jika dibandingkan dengan WhatsApp. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fitur-fitur
seperti enkripsi end-to-end dan kemampuan untuk mengatur pesan yang dapat dihapus secara
otomatis memberikan nilai tambah pada Telegram, terutama dalam konteks komunikasi
internal yang membutuhkan tingkat keamanan yang tinggi.
Penelitian yang dilakukan oleh Gunawan dkk. (2021) menyoroti bahwa penggunaan
media sosial dan aplikasi pesan memiliki dampak positif dan negatif pada pengguna. Mereka
menekankan bahwa meskipun Telegram memiliki keunggulan dalam fitur-fiturnya, preferensi
individu dan kenyamanan yang sudah terbentuk dari penggunaan WhatsApp selama
bertahun-tahun juga memainkan peran penting dalam keputusan untuk beralih platform. Oleh
karena itu, transisi ini tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga memerlukan
penyesuaian psikologis dan upaya peningkatan literasi digital di kalangan pengguna. Sesuai
dengan hal tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Suryadi dan Syahidin (2023)
menekankan pentingnya pendekatan sistem informasi yang efektif untuk memfasilitasi
peralihan dalam penggunaan platform komunikasi. Mereka mengidentifikasi bahwa faktor
teknis maupun psikologis merupakan hambatan yang perlu diatasi untuk memastikan bahwa
karyawan merasa nyaman menggunakan platform baru seperti Telegram. Penelitian ini
menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung perubahan tersebut.
Fazarusda dan Indrayani (2020) menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang efektif
sangat penting dalam implementasi kebijakan baru, termasuk transisi penggunaan aplikasi
pesan dalam sebuah organisasi. Temuan mereka dalam konteks e-government menunjukkan
bahwa strategi komunikasi yang baik dapat membantu mengatasi resistensi terhadap
perubahan, sehingga memastikan keberhasilan implementasi. Junaidi dan Rahmawati (2018)
menegaskan pentingnya pelatihan dan dukungan yang berkelanjutan untuk membantu
karyawan dalam beradaptasi dengan sistem baru. Mereka menyatakan bahwa pendidikan dan
pelatihan yang memadai, serta dukungan yang berkelanjutan, merupakan bagian integral dari
strategi perusahaan untuk memastikan kesuksesan dalam perubahan penggunaan platform
komunikasi.
C. TINJAUAN TEORITIS
1) Pengertian Komunikasi Perusahaan melalui Aplikasi Pesan:
Komunikasi perusahaan memiliki peran penting dalam pengaruh efektivitas
operasional dan budaya organisasi secara menyeluruh. Dalam era modern, penggunaan
aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram telah menjadi bagian yang sangat
penting dalam komunikasi internal perusahaan. Aplikasi pesan ini tidak hanya memfasilitasi
pertukaran informasi dengan cepat, tetapi juga memungkinkan kolaborasi yang lebih efektif
di antara karyawan. WhatsApp, yang diluncurkan pada tahun 2009, telah menjadi salah satu
aplikasi pesan yang sangat populer dengan jumlah pengguna yang mencapai miliaran di
seluruh dunia. Keunggulan utamanya adalah kemudahan penggunaan dan kemampuan untuk
berbagi pesan teks, suara, video, dan dokumen secara instan.
Di sisi lain, Telegram, yang mulai beroperasi pada tahun 2013, telah mendapat pujian atas
fitur keamanannya yang superior, termasuk enkripsi end-to-end dan pesan yang dapat dihapus
secara otomatis. Keamanan menjadi aspek yang sangat penting dalam komunikasi
perusahaan, terutama untuk informasi yang bersifat sensitif dan memerlukan tingkat proteksi
yang tinggi. Meskipun WhatsApp juga menawarkan enkripsi, perbedaan utamanya terletak
pada fitur-fitur tambahan yang dimiliki oleh Telegram yang lebih cocok untuk kebutuhan
bisnis, seperti channel dan bot otomatis untuk mempercepat proses kerja. Namun, transisi
dari WhatsApp ke Telegram tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga
memerlukan evaluasi terhadap partisipasi pengguna dan adaptasi budaya dalam mengadopsi
teknologi baru.
2) Teori Komunikasi Efektif dan Transisi Teknologi:
Teori komunikasi dalam organisasi menegaskan bahwa komunikasi yang efektif
merupakan kunci dari manajemen perubahan dan implementasi strategi baru. Ketika
perusahaan, seperti Indomaret Cisarua Puncak, memutuskan untuk menggunakan platform
komunikasi baru, mereka dihadapkan pada tantangan transisi yang membutuhkan pendekatan
yang komprehensif. Keputusan untuk beralih dari WhatsApp ke Telegram didasari oleh
kebutuhan akan peningkatan keamanan dan efisiensi, yang merupakan inti dari model
perubahan Lewin's Change Management, yang menekankan tahapan unfreezing, changing,
dan refreezing sebagai langkah penting dalam perubahan organisasi.
Sebagai bagian dari proses perubahan ini, aspek keamanan menjadi fokus utama.
Seperti yang dijelaskan dalam penelitian oleh Tassabehji dan Vakola (2005), implementasi
teknologi baru harus memperhatikan kepercayaan pengguna terhadap keamanan dan privasi.
Keberhasilan implementasi teknologi baru seperti Telegram tidak hanya bergantung pada
keunggulan fitur teknis, tetapi juga pada adaptasi psikologis oleh pengguna. Karyawan,
sebagai bagian dari suara internal perusahaan, memerlukan pemahaman dan pelatihan yang
memadai untuk mendukung transisi ini. Oleh karena itu, integrasi strategi pelatihan yang
efektif dan mendukung melalui peningkatan literasi digital menjadi sangat penting.
3) Perbandingan dan Implementasi Strategi Komunikasi:
Makna dari penerapan strategi komunikasi dan teknologi baru dalam konteks
perubahan organisasi menjelaskan lebih lanjut tentang elemen-elemen krusial yang
diperlukan untuk mencapai komunikasi yang efektif. Dalam penelitian yang dilakukan,
makna dari perbandingan antara WhatsApp dan Telegram tidak hanya mencakup aspek
teknologi semata, tetapi juga melibatkan pengaruh psikologis dan sosiologis terhadap
individu dan kebiasaan kerja tim dalam suatu organisasi. Studi ini menyoroti pentingnya
menciptakan lingkungan di mana karyawan tidak hanya menerima perubahan, tetapi juga
merasa didorong untuk menggunakan fitur-fitur baru yang tersedia.
Makna lainnya melibatkan kebutuhan akan pendekatan sistem informasi yang
menyeluruh untuk mendukung adaptasi. Hal ini berarti perusahaan harus merancang strategi
yang memastikan transisi yang lancar, di mana pelatihan dan pendampingan yang
berkelanjutan disediakan. Selain itu, penting untuk membangun mekanisme umpan balik
yang memungkinkan karyawan untuk menyuarakan tantangan atau ide-ide baru terkait
penggunaan teknologi baru. Aspek ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa
keberhasilan adaptasi teknologi sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dan persepsi pengguna
terhadap nilai yang ditawarkan oleh sistem baru.
D. PENELITIAN TERDAHULU
Penelitian Terdahulu Skripsi dari Judul Skripsi 'Perbandingan antara WhatsApp telegram
dalam urusan pelancaran pekerjaan (studi Indomaret Cisarua Puncak)':
Tabel 1. Penelitian Terdahulu
Nama dan Judul Variabel Persamaan Perbedaan
Penelitian Penelitian
Ifani, Sumardi, dan - Variabel dependen: - Persamaan dengan - Perbedaan
Baytikhalishah Performa keamanan penelitian Ifani, dengan penelitian
(2023): Telegram dan fitur aplikasi Sumardi, dan Ifani, Sumardi,
memiliki kinerja pesan (Telegram vs. Baytikhalishah (2023) dan
yang lebih baik WhatsApp). terletak pada fokus Baytikhalishah
dalam hal keamanan - Variabel pada perbandingan (2023) adalah
dan fitur jika independen: antara Telegram dan dalam
dibandingkan Preferensi individu, WhatsApp dalam hal menekankan
dengan WhatsApp. kenyamanan keamanan dan fitur faktor preferensi
pengguna, aplikasi pesan. individu dan
pendekatan sistem kenyamanan
informasi, strategi pengguna dalam
komunikasi, keputusan beralih
pelatihan dan platform.
dukungan
Gunawan dkk. - Variabel dependen: - Persamaan dengan - Perbedaan
(2021): Preferensi Performa keamanan penelitian Gunawan dengan penelitian
individu dan dan fitur aplikasi dkk. (2021) adalah Gunawan dkk.
kenyamanan yang pesan (Telegram vs. dalam menekankan (2021) adalah
sudah terbentuk dari WhatsApp). pentingnya faktor dalam menyoroti
penggunaan - Variabel psikologis dan literasi pentingnya
WhatsApp selama independen: digital dalam transisi penyesuaian
bertahun-tahun Preferensi individu, penggunaan platform psikologis dan
memainkan peran kenyamanan komunikasi. literasi digital
penting dalam pengguna, dalam transisi
keputusan untuk pendekatan sistem platform
beralih platform. informasi, strategi komunikasi.
komunikasi,
pelatihan dan
dukungan
Suryadi dan - Variabel dependen: - Persamaan dengan - Perbedaan
Syahidin (2023): Performa keamanan penelitian Suryadi dan dengan penelitian
Pentingnya dan fitur aplikasi Syahidin (2023) Suryadi dan
pendekatan sistem pesan (Telegram vs. adalah dalam Syahidin (2023)
informasi yang WhatsApp). menyoroti pentingnya adalah dalam
efektif untuk - Variabel pendekatan sistem menekankan
memfasilitasi independen: informasi yang efektif pentingnya
peralihan dalam Preferensi individu, dalam memfasilitasi pendekatan sistem
penggunaan kenyamanan peralihan platform informasi dalam
platform pengguna, komunikasi. memfasilitasi
komunikasi. pendekatan sistem peralihan platform
informasi, strategi komunikasi.
komunikasi,
pelatihan dan
dukungan
Fazarusda dan - Variabel dependen: - Persamaan dengan - Perbedaan
Indrayani (2020): Performa keamanan penelitian Fazarusda dengan penelitian
Strategi komunikasi dan fitur aplikasi dan Indrayani (2020) Fazarusda dan
yang efektif sangat pesan (Telegram vs. adalah dalam Indrayani (2020)
penting dalam WhatsApp). menekankan adalah dalam
implementasi - Variabel pentingnya strategi menyoroti strategi
kebijakan baru, independen: komunikasi yang komunikasi dalam
termasuk transisi Preferensi individu, efektif dalam implementasi
penggunaan aplikasi kenyamanan implementasi kebijakan baru.
pesan dalam sebuah pengguna, kebijakan baru.
organisasi. pendekatan sistem
informasi, strategi
komunikasi,
pelatihan dan
dukungan
Junaidi dan - Variabel dependen: - Persamaan dengan - Perbedaan
Rahmawati (2018): Performa keamanan penelitian Junaidi dan
dengan penelitian
Pelatihan dan dan fitur aplikasi Rahmawati (2018)
dukungan yang pesan (Telegram vs. adalah dalam Junaidi dan
berkelanjutan WhatsApp). menegaskan
Rahmawati (2018)
penting untuk - Variabel pentingnya pelatihan
membantu karyawan independen: dan dukungan yang adalah dalam
dalam beradaptasi Preferensi individu, berkelanjutan dalam
menekankan
dengan sistem baru. kenyamanan adaptasi terhadap
pengguna, sistem baru. pentingnya
pendekatan sistem
pelatihan dan
informasi, strategi
komunikasi, dukungan
pelatihan dan
berkelanjutan
dukungan
dalam adaptasi
terhadap sistem
baru.
E. HIPOTESIS PENELLITIAN
Hipotesis penelitian memiliki peran yang sangat penting dalam suatu studi akademis,
termasuk dalam penulisan skripsi mahasiswa. Berdasarkan judul skripsi "Perbandingan antara
WhatsApp dan Telegram dalam urusan pelancaran pekerjaan (studi Indomaret Cisarua
Puncak)" beserta rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah disajikan, berikut adalah
hipotesis deskriptif yang telah dirumuskan:
H1: Ditemukan perbedaan dalam efisiensi komunikasi internal antara penggunaan WhatsApp
dan Telegram di lingkungan kerja Indomaret Cisarua Puncak. Hipotesis ini didasarkan pada
pengamatan awal bahwa WhatsApp dan Telegram memiliki fitur yang berbeda terkait
manajemen pesan dan kelompok diskusi. WhatsApp lebih populer di Indonesia dan dianggap
lebih mudah digunakan, sedangkan Telegram menawarkan fitur tambahan seperti Bot API
dan kapasitas grup yang lebih besar, yang dapat memengaruhi efisiensi komunikasi (Smith,
A., dkk., 2020, Jurnal Teknologi Komunikasi).
H2: Terdapat perbedaan dalam tingkat keamanan pengelolaan laporan kerja antara WhatsApp
dan Telegram di Indomaret Cisarua Puncak. Telegram dikenal memiliki enkripsi end-to-end
dan dukungan untuk pesan yang dapat menghapus diri sendiri, yang dapat memberikan
tingkat keamanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan WhatsApp. Meskipun WhatsApp
juga memiliki enkripsi end-to-end, namun terdapat isu-isu keamanan yang lebih sering
muncul (Johnson, M. & Wang, X., 2019, Jurnal Keamanan Informasi Internasional).
H3: Persepsi karyawan terhadap penggunaan WhatsApp dan Telegram dalam urusan
pelancaran pekerjaan di Indomaret Cisarua Puncak beragam. Faktor-faktor seperti user-
friendliness, fitur tambahan, dan kebiasaan penggunaan sebelumnya dapat memengaruhi
persepsi ini. Karyawan yang lebih terbiasa dengan teknologi mungkin memiliki preferensi
yang berbeda dengan yang tidak terbiasa (Brown, L. dkk., 2021, Jurnal Teknologi Tempat
Kerja).
H4: Faktor kenyamanan dan keakraban memengaruhi pilihan karyawan dalam menggunakan
WhatsApp atau Telegram untuk urusan pekerjaan di Indomaret Cisarua Puncak. Karyawan
yang merasa nyaman dan akrab dengan salah satu platform cenderung memilih platform
tersebut untuk kebutuhan komunikasi dan pelaporan kerja (Garcia, N. & López, R., 2022,
Jurnal Interaksi Manusia-Komputer).
H5: Terdapat hubungan antara tingkat literasi digital karyawan dengan preferensi
penggunaan WhatsApp atau Telegram dalam pengelolaan laporan kerja di Indomaret Cisarua
Puncak. Karyawan dengan literasi digital yang lebih tinggi cenderung lebih menyukai
Telegram yang memiliki fitur yang lebih kompleks, sementara yang memiliki literasi digital
rendah mungkin lebih memilih WhatsApp yang lebih sederhana (Lee, S. & Kim, H., 2020,
Keterampilan Digital dan Tempat Kerja).
BAB III METODE PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah komparatif kualitatif. Penelitian
ini bertujuan untuk membandingkan dua atau lebih variabel dalam konteks tertentu, yang
dalam hal ini adalah aplikasi komunikasi WhatsApp dan Telegram di lingkungan kerja
Indomaret Cisarua Puncak. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendapatkan pemahaman
mendalam mengenai persepsi, efisiensi, keamanan, kenyamanan, serta faktor literasi digital
yang mempengaruhi preferensi karyawan terhadap penggunaan kedua platform komunikasi
tersebut.
Pendekatan komparatif dalam penelitian ini memungkinkan peneliti untuk menilai
persamaan dan perbedaan antara WhatsApp dan Telegram dalam konteks komunikasi di
Indomaret Cisarua Puncak. Dengan menggunakan metode ini, peneliti dapat mengeksplorasi
aspek-aspek yang berkaitan dengan efisiensi komunikasi internal, tingkat keamanan
pengelolaan laporan kerja, serta persepsi dan pilihan karyawan dalam menggunakan alat
komunikasi tersebut. Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh melalui wawancara
mendalam, observasi partisipatif, dan tinjauan pustaka yang relevan. Data yang diperoleh
kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi pola dan tema yang muncul
terkait dengan penggunaan WhatsApp dan Telegram di tempat kerja ini.
Komparatif-kualitatif memberi penekanan khusus pada bagaimana subjek penelitian,
yaitu karyawan Indomaret Cisarua Puncak, memandang dan mengalami penggunaan
WhatsApp dan Telegram dalam pekerjaan mereka sehari-hari. Penelitian ini berfokus pada
bagaimana aplikasi-aplikasi ini membantu atau mungkin menghambat komunikasi internal,
bagaimana karyawan merasakan keamanan data, serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi
pilihan platform komunikasi.
Rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain adalah apakah terdapat perbedaan
dalam efisiensi komunikasi internal antara pengguna WhatsApp dan Telegram di Indomaret
Cisarua Puncak. Selain itu, peneliti juga berupaya untuk mengevaluasi tingkat keamanan
pengelolaan laporan kerja antara kedua aplikasi tersebut dan bagaimana persepsi karyawan
terhadap penggunaannya dalam urusan pelancaran pekerjaan. Pertanyaan lainnya adalah
apakah faktor kenyamanan dan familiaritas mempengaruhi decision-making karyawan dalam
memilih aplikasi, serta adakah hubungan antara tingkat literasi digital karyawan dengan
preferensi penggunaan WhatsApp atau Telegram.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efisiensi komunikasi internal
antara pengguna WhatsApp dan Telegram, mengevaluasi tingkat keamanan masing-masing
aplikasi dalam pengelolaan laporan kerja, serta menganalisis persepsi karyawan. Penelitian
ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan karyawan
dan untuk menganalisis hubungan antara literasi digital dan preferensi penggunaan aplikasi.
Dalam konteks objek penelitian ini, Indomaret Cisarua Puncak merupakan sebuah mini
market yang mengandalkan komunikasi lintas departemen dan antar karyawan yang efisien
untuk memberikan pelayanan yang optimal. Oleh karena itu, pemilihan dan efektivitas alat
komunikasi internal menjadi krusial untuk pencapaian tujuan operasional yang diinginkan.
Efektivitas WhatsApp dan Telegram, yang masing-masing memiliki keunggulan dan
kelemahan, menjadi titik fokus dalam analisis ini.
Menurut Callan (2014), memahami persepsi pengguna terhadap teknologi komunikasi
dalam lingkungan kerja dapat membantu organisasi untuk meningkatkan interaksi dan
pencapaian tujuan organisasional. Callan menyebutkan bahwa faktor-faktor seperti
kemudahan penggunaan, familiaritas, dan keamanan memainkan peran penting dalam adopsi
sistem komunikasi baru di tempat kerja. Sejalan dengan ini, penelitian ini berusaha untuk
mengeksplorasi bagaimana faktor-faktor tersebut berfungsi di dalam konteks penggunaan
WhatsApp dan Telegram di lingkungan yang dinamis seperti Indomaret Cisarua Puncak.
Johnny et al. (2020) dalam jurnal "Comparative Analysis of Instant Messaging Platforms in
the Workplace" menjelaskan bahwa pilihan platform komunikasi tidak hanya bergantung
pada fungsi teknisnya saja, tetapi juga pada faktor sosial dan kultural dalam sebuah
organisasi. Johnny menekankan pentingnya menyelaraskan strategi komunikasi internal
dengan kebutuhan spesifik organisasi dan perilaku karyawan dalam konteks kerjanya.
Melalui penelitian ini, diharapkan diperoleh wawasan yang dapat membantu
manajemen Indomaret Cisarua Puncak dalam membuat keputusan yang lebih tepat mengenai
alat komunikasi yang digunakan. Penelitian ini juga berupaya menyiapkan rekomendasi
untuk kemungkinan perbaikan dalam sistem komunikasi yang akan mempengaruhi
produktivitas dan kepuasan kerja karyawan secara keseluruhan. Secara keseluruhan,
penelitian ini bertujuan untuk memberikan pandangan yang lebih jelas mengenai
perbandingan penggunaan WhatsApp dan Telegram dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari
di Indomaret Cisarua Puncak. Diharapkan hasilnya dapat berkontribusi pada peningkatan
komunikasi dan manajemen informasi di lingkungan kerja yang semakin terkoneksi dan
digital.
B. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
1) Tempat Penelitian
Dalam konteks penelitian akademik, lokasi penelitian memiliki peran yang sangat
penting sebagai tempat di mana proses pengumpulan data yang esensial berlangsung.
Pemilihan lokasi penelitian tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui
pertimbangan yang matang untuk mendukung efisiensi penelitian. Dalam studi ini, fokus
penelitian berada di MSD Cisarua Puncak, yang terletak di daerah Bogor. Area ini merupakan
pusat kegiatan operasional yang relevan, sehingga memungkinkan peneliti untuk
mengumpulkan data yang autentik dan relevan dengan objek penelitian. Pemilihan lokasi ini
juga dipengaruhi oleh kemudahan akses bagi peneliti, karena lokasinya yang dekat dengan
tempat tinggal mereka. Kedekatan geografis ini memudahkan peneliti untuk melakukan
observasi dan wawancara dengan responden yang menjadi subjek penelitian. Dengan
demikian, diharapkan bahwa lokasi yang dipilih dapat memberikan kontribusi maksimal
dalam mencapai tujuan penelitian ini.
2) Durasi Penelitian
Penetapan durasi penelitian merupakan aspek penting dalam perencanaan sebuah
studi ilmiah, yang bertujuan untuk memastikan kelancaran proses penelitian sesuai dengan
jadwal yang telah ditetapkan dan menghasilkan data tepat waktu. Dalam penelitian ini, waktu
yang dialokasikan adalah selama empat bulan. Rentang waktu ini dipilih dengan
mempertimbangkan kompleksitas data yang harus dikumpulkan serta kedalaman analisis
yang diinginkan. Empat bulan dianggap sebagai periode yang cukup untuk melakukan
serangkaian observasi, wawancara, dan analisis data yang mendalam. Selain itu, penentuan
waktu yang proporsional ini memberikan fleksibilitas bagi peneliti untuk merespons
dinamika lapangan yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, alokasi waktu yang telah
direncanakan tidak hanya akan memengaruhi keberhasilan pengumpulan data, tetapi juga
akan mendukung akurasi hasil penelitian yang menjadi dasar dalam kesimpulan dari
penelitian ini.
C. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Metode Pengumpulan Data:
Dalam setiap studi, metode pengumpulan informasi merupakan aspek yang sangat
penting untuk mengumpulkan data yang relevan dan akurat. Metode ini berperan sebagai alat
untuk menggali informasi yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini, akan digunakan tiga metode
utama untuk mengumpulkan data, yaitu wawancara terstruktur tertutup, observasi partisipan
terbuka, dan dokumentasi primer pribadi. Setiap metode dipilih berdasarkan relevansinya
dengan konteks penelitian yang sedang dilakukan. Fokus dari penelitian ini adalah untuk
membandingkan efektivitas penggunaan WhatsApp dan Telegram dalam mendukung
kelancaran pekerjaan di Indomaret Cisarua Puncak. Pemilihan metode pengumpulan data
yang tepat akan berdampak signifikan pada validitas dan kredibilitas hasil penelitian.
a. Wawancara Terstruktur Tertutup
Metode wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara
terstruktur tertutup. Jenis wawancara ini memiliki pertanyaan yang sudah ditentukan
sebelumnya dan membutuhkan jawaban yang spesifik dari responden. Menurut Sugiyono
(2013), wawancara terstruktur tertutup lebih mudah untuk dianalisis karena jawaban yang
diharapkan sudah jelas. Dalam konteks penelitian ini, wawancara dilakukan untuk
mengevaluasi efektivitas dan efisiensi penggunaan WhatsApp dan Telegram di lingkungan
kerja Indomaret Cisarua Puncak. Responden terdiri dari manajer toko, karyawan kasir,
karyawan gudang, dan supervisor wilayah yang memiliki peran berbeda dalam penggunaan
komunikasi digital. Sebelum wawancara dilakukan, dilakukan persiapan dengan penjadwalan
waktu yang tepat dan penyusunan daftar pertanyaan yang mencakup topik-topik seperti
kemudahan penggunaan dan fitur-fitur pendukung. Proses wawancara direkam menggunakan
perekam suara digital dan kamera HP untuk memastikan keakuratan data yang diperoleh.
b. Observasi Partisipan Terbuka
Observasi partisipan terbuka adalah metode yang memungkinkan peneliti untuk
terlibat langsung dalam lingkungan dan kegiatan yang diamati. Menurut Creswell (2014),
teknik ini membantu peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang
konteks sosial. Dalam penelitian ini, observasi dilakukan di area Indomaret Cisarua Puncak,
Bogor, yang difokuskan pada lingkungan kerja dan interaksi terkait penggunaan WhatsApp
dan Telegram. Peneliti berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari untuk mengamati cara
pegawai menggunakan kedua aplikasi tersebut dalam situasi-situasi seperti koordinasi stok
barang dan pelayanan pelanggan. Observasi ini memungkinkan peneliti untuk melihat secara
langsung bagaimana teknologi informasi diterapkan dalam operasional toko dan bagaimana
aplikasi ini memengaruhi kelancaran pekerjaan.
c. Dokumentasi Primer Pribadi
Dokumentasi merupakan metode penting dalam pengumpulan data untuk penelitian
ini, dan dokumentasi primer pribadi dipilih untuk mendapatkan perspektif yang unik dan
detail. Menurut Sugiyono (2013), dokumen primer pribadi memberikan data yang kaya dan
mendalam. Metode ini digunakan untuk mendokumentasikan foto dan video selama
wawancara dengan pegawai Indomaret. Dokumentasi ini bertujuan untuk menangkap momen
penting dan interaksi yang terkait dengan penggunaan aplikasi WhatsApp dan Telegram. Foto
dan video yang diambil memberikan bukti visual tentang bagaimana komunikasi dilakukan,
dan bagaimana teknologi ini mendukung operasional sehari-hari. Dokumentasi ini menjadi
bagian integral dari penelitian untuk dievaluasi dan dianalisis lebih lanjut guna mendukung
temuan utama dari penelitian.
D. TEKNIK PENENTUAN INFORMAN
Teknik Sampling: Purposive Sampling
Purposive sampling atau yang dikenal juga sebagai judgmental sampling adalah
metode penentuan informan yang digunakan dengan cara memilih subjek atau kasus tertentu
dari populasi yang dianggap paling sesuai dengan tujuan penelitian yang sedang dilakukan
(Palinkas et al., 2015). Teknik ini memungkinkan peneliti untuk secara langsung memilih
informan yang memiliki pemahaman mendalam atau pengalaman spesifik terkait dengan
fenomena yang sedang dikaji, sehingga dapat memberikan wawasan yang lebih kaya dan
mendalam. Alasan penggunaan purposive sampling dalam penelitian ini adalah karena
peneliti memerlukan informan yang memiliki keterlibatan langsung dan aktif dalam
penggunaan aplikasi komunikasi seperti WhatsApp dan Telegram dalam pelaksanaan tugas
mereka. Dengan demikian, data yang diperoleh dapat diyakini lebih relevan dan valid dalam
menjawab pertanyaan penelitian.
Menurut Etikan, Musa, & Alkassim (2016), purposive sampling adalah metode yang
selektif dan subjektif, yang memberikan peneliti kebebasan untuk memilih informan
berdasarkan pertimbangan atau kriteria tertentu. Dalam konteks penelitian ini, kriteria
tersebut adalah karyawan kasir yang rutin menggunakan WhatsApp dan Telegram dalam
melaksanakan tugas pelaporan kerja sehari-hari. Oleh karena itu, teknik ini sangat tepat
diterapkan untuk memperoleh perspektif dan narasi yang relevan dari individu-individu yang
berfokus pada penggunaan kedua aplikasi tersebut dalam lingkungan kerja mereka. Prosedur
purposive sampling dimulai dengan identifikasi subjek yang relevan, dalam hal ini karyawan
kasir di Indomaret Cisarua Puncak. Melalui proses ini, peneliti berfokus pada informan yang
diharapkan memiliki pengalaman langsung dalam penggunaan alat komunikasi digital yang
menjadi objek studi. Setelah menetapkan kriteria target berdasarkan peran dan fungsi
karyawan, peneliti kemudian menghubungi karyawan kasir tersebut untuk berpartisipasi
dalam wawancara mendalam. Wawancara ini dirancang untuk menggali persepsi dan
pengalaman konkret mengenai efektivitas WhatsApp dan Telegram dalam lingkungan kerja
mereka.
Jumlah dan Posisi Informan
Dalam penelitian ini, informan yang dipilih berjumlah 105 orang yang semuanya
merupakan karyawan kasir di Indomaret Cisarua Puncak. Pemilihan karyawan kasir sebagai
informan didasarkan pada dua pertimbangan utama. Pertama, karyawan kasir adalah pihak
yang paling sering berinteraksi dengan sistem pelaporan digital dalam kesehariannya,
sehingga mereka sangat akrab dengan kelebihan dan kekurangan platform komunikasi yang
digunakan, yaitu WhatsApp dan Telegram. Kedua, kasir merupakan garda terdepan yang
menangani pelaporan aktivitas harian dan berperan dalam memastikan kelancaran
operasional toko, sehingga pandangan mereka menjadi kunci dalam mengevaluasi efektivitas
dan efisiensi aplikasi yang digunakan.
Pilihan jumlah informan sebanyak 105 orang juga telah mempertimbangkan kapasitas
pengumpulan data, kedalaman analisis yang diinginkan, serta cakupan pengaruh dan praktik
penggunaan teknologi komunikasi di lokasi studi. Pengambilan keputusan ini sejalan dengan
panduan terkait penentuan ukuran sampel dalam metode kualitatif yang merekomendasikan
fokus pada kedalaman informasi lebih daripada jumlah subjek yang diagregasi menjadi data
statistik (Guest, Bunce, & Johnson, 2006).
Alasan Memilih Informan, Pemilihan karyawan kasir sebagai informan didasarkan
pada pertimbangan bahwa posisi mereka merupakan posisi strategis yang melibatkan
penggunaan aktif media komunikasi dalam operasional sehari-hari. Sebagai titik kontak
utama antara proses internal dan eksternal, karyawan kasir memainkan peran penting dalam
pelaporan dan tendensi penggunaan teknologi komunikasi dapat signifikan mempengaruhi
efisiensi kerja. Di samping itu, penelitian ini berfokus pada memahami hambatan serta faktor-
faktor yang mendukung transisi dari WhatsApp ke Telegram. Karyawan kasir dianggap
sebagai individu yang bisa memberikan pandangan objektif tentang pengaruh teknologi ini
terhadap tugas sehari-hari, serta memberikan gambaran tentang resistensi terhadap perubahan
jika terjadi. Analisis mendalam dari pengalaman mereka dapat menawarkan rekomendasi
yang dapat digunakan untuk meningkatkan strategi komunikasi internal dan pengambilan
keputusan manajerial berkenaan dengan adopsi teknologi.
Penggunaan purposive sampling ini didukung oleh literatur yang menyatakan bahwa
teknik ini efektif saat peneliti ingin mendapatkan informasi rinci dari perspektif individu yang
memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus terhadap masalah yang sedang diinvestigasi
(Yin, 2014). Dalam konteks implementasi sistem komunikasi baru, pendapat mereka yang
berada di garis depan dan benar-benar melaksanakan proses tersebut sangat penting untuk
pengambilan keputusan manajerial perusahaan di masa depan.
E. UJI VALIDITAS
Dalam dunia akademik, pengujian keabsahan data merupakan langkah yang sangat
penting untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan realitas
dan relevan dengan pertanyaan penelitian yang diajukan. Salah satu cara untuk mencapai
keabsahan ini adalah dengan menggunakan triangulasi data, yaitu dengan mengumpulkan
data dari berbagai sudut pandang untuk memastikan keakuratan dan keandalan temuan.
Dalam sebuah penelitian yang berjudul "Perbandingan Penggunaan WhatsApp dan Telegram
dalam Konteks Peluncuran Proyek (Studi Kasus: Indomaret Cisarua Puncak)", peneliti
menggunakan pendekatan triangulasi metode. Triangulasi metode ini melibatkan
penggabungan berbagai metode penelitian untuk mempelajari fenomena yang sama, sehingga
memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai fenomena yang diteliti. Dengan
menggunakan triangulasi metode, peneliti dapat memperkuat keabsahan temuan dengan
memanfaatkan kekuatan dari berbagai pendekatan penelitian.
Dalam penelitian ini, triangulasi metode dipilih untuk memastikan bahwa
perbandingan antara WhatsApp dan Telegram dalam konteks peluncuran proyek di Indomaret
Cisarua Puncak didukung oleh data yang lengkap dan mendalam. Pendekatan ini
menggabungkan wawancara dan observasi langsung, yang memungkinkan peneliti untuk
mengumpulkan data kualitatif dari berbagai perspektif dan situasi yang berbeda. Penggunaan
wawancara memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pandangan dari manajer, karyawan,
dan supervisor, sehingga memberikan sudut pandang yang beragam mengenai efektivitas
kedua media komunikasi tersebut. Sementara itu, observasi langsung memungkinkan peneliti
untuk melihat secara langsung bagaimana WhatsApp dan Telegram digunakan dalam
lingkungan kerja sehari-hari, sehingga memastikan bahwa temuan dari wawancara dapat
diverifikasi dengan pengamatan langsung. Pemilihan triangulasi metode ini tidak hanya
meningkatkan keabsahan data tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih lengkap dan
mendalam mengenai dinamika komunikasi di tempat kerja. Dengan demikian, peneliti dapat
memastikan bahwa temuan mereka tidak hanya didasarkan pada satu jenis data, tetapi
didukung oleh berbagai metode yang saling melengkapi.
DAFTAR PUSTAKA
Suryadi, P., & Syahidin, Y. (2023). WEB-BASED AND TELEGRAM CHATBOT
INFORMATION SYSTEM DESIGN AT PT EVA. JITS (Journal of Information
Technology Student), 2(1), 1-8.
Fazarusda, A., & Indrayani, H. (2020). Strategi Komunikasi Pelayanan Publik Melalui E-
Government Di Pusat Pengelolaan Pengaduan Masyarakat (P3M) Kota Semarang.
Jurnal Ilmiah Media, Public Relations, dan Komunikasi (IMPRESI), 1(1), 1-11.
Gunawan, J. P. P. P. D. B., SH, M. S., Mulyo, K. B. P. D. B., & Ratmono, S. I. K. (2021).
Medsos Di Antara Dua Kutub: Sisi Baiknya Luar Biasa, Sisi Buruknya Bisa Membuat
Binasa. Pt. Rayyana Komunikasindo.
Ifani, A., Sumardi, A. M., & Baytikhalishah, N. (2023). Perbandingan Keamanan dan
Performa Aplikasi WhatsApp dan Telegram dengan Menggunakan Metode NIJ.
Journal of Cyber Health and Computer, 1(1), 1-5.
Putra, R. R. S., Rahmayani, N., & Nazar, J. (2024). LEGAL PROTECTION OF
COPYRIGHT FOR LITERARY WORKS OF BOOKS FROM ACTS OF ONLINE
PIRACY IN PDF VERSIONS VIA THE WHATSAPP APPLICATION. Jurnal
Hukum DE'RECHTSSTAAT, 10(1), 54-70.
Haro, A., Saktisyahputra, S., Herlinah, H., Olifia, S., & Laksono, R. D. (2024). Buku Ajar
Komunikasi Digital. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Herta Armianti Soemardjo, H. Book Chapter: Herta Armianti Soemardjo.
Gushevinalti, G., Suminar, P., & Sunaryanto, H. (2020). Transformasi Karakteristik
Komunikasi Di Era Konvergensi Media. Bricolage: Jurnal Magister Ilmu
Komunikasi, 6(01), 083-099.
Sukrillah, A., Ratnamulyani, I. A., & Kusumadinata, A. A. (2017). Pemanfaatan media sosial
melalui whatsapp group FEI sebagai sarana komunikasi. Jurnal Komunikatio, 3(2).
Anjani, A., Ratnamulyani, I. A., & Kusumadinata, A. A. (2018). Penggunaan Media
Komunikasi Whatsapp Terhadap Efektivitas Kinerja Karyawan. Jurnal Komunikatio,
4(1).
[Link], N. A. P., & Pramonojati, T. A. (2019). Pengaruh Penggunaan Aplikasi Whatsapp
terhadap Efektivitas Komunikasi Organisasi di Lingkungan Pegawai Dinas Pariwisata
DIY. eProceedings of Management, 6(1).
Nova, S. P., & Firdaus, M. (2018). Efektivitas Komunikasi Aplikasi Telegram Sebagai Media
Informasi Pegawai PT. Pos Indonesia (Persero) Kota Pekanbaru (Doctoral
dissertation, Riau University).
Ambia, N. (2018). Pengaruh Efektivitas Kerja Pegawai Terhadap Kualitas Pelayanan Publik
Di Kelurahan Sidorame Barat I Kecamatan Medan Perjuangan. Publik Reform, 3.
Asri, N. (2018). Sikap profesional dan etos kerja guru dalam peningkatan efektivitas kerja.
Inspiratif Pendidikan, 7(2), 407-420.
Etikan, I., Musa, S. A., & Alkassim, R. S. (2016). Comparison of Convenience Sampling and
Purposive Sampling. “American Journal of Theoretical and Applied Statistics”, 5(1),
1-4.
Guest, G., Bunce, A., & Johnson, L. (2006). How many interviews are enough? An
experiment with data saturation and variability. “Field Methods”, 18(1), 59-82.
Palinkas, L. A., Horwitz, S. M., Green, C. A., Wisdom, J. P., Duan, N., & Hoagwood, K.
(2015).
Purposeful sampling for qualitative data collection and analysis in mixed method
implementation research. “Administration and Policy in Mental Health and Mental
Health Services Research, 42(5), 533-544.
Yin, R. K. (2014). *Case Study Research: Design and Methods*. SAGE Publications.