KEBERAGAMAN MASYARAKAT INDONESIA DALAM BINGKAI
BHINEKA TUNGGAL IKA
Mata Pelajaran:
Pancasila dan pendidikan kewarganegaraan
Kelas: IX.8
Pemeran Tokoh:
MC 1: Almira Keysa Dafinah
MC 2: Kayla Maharani
Narator: Aqilah Hana Hashifah H.S
Guru BK: Siti Mulya Sari
Guru 1: Fachirana Shifa
Guru 2: Dinda Ayu Kartika Sari
Siswa 1: Muhammad Haikal R.
Siswa 2: Al-Baruna Bramantyo
Siswa 3: Aryo Tri Panjalu
Siswa 4: Muhamad Fahri Almansyah
Siswa 5: Ilyas Alfarisi
Siswa 6: Dzaki Majid Fadlurohman
Siswi: Syafa Namira Fitriani
Narator:
“Dulu... ketika masa penjajahan, Bangsa Indonesia tidak mengenal yang namanya
perbedaan. Mereka bersatu untuk negerinya, tetapi... Zaman sekarang perbedaan ras
saja dipermasalahkan.
1
Adegan
(Seorang murid yang bergegas menuju kelasnya untuk mengikuti kegiatan belajar,
namun ia tak sengaja menabrak seseorang)
Siswa 1(Haikal)
“Maaf, aku tak sengaja menabrakmu”
Siswa 2(Albar)
“Kalau jalan itu pakai mata”
Siswa 1(Haikal)
“Dasar orang bodoh, dimana-mana orang berjalan menggunakan kaki bukan
menggunakan mata”
Siswa 2(Albar)
“Kamu kelas berapa? mengajak berkelahi dengan saya, ayo maju sini”
(posisi siap untuk berkelahi)
Siswa 1(Haikal)
“Saya tidak bermaksud untuk bertengkar di sini, saya cuman ingin memberi tahu saja
kalau jalan menggunakan kaki bukan memakai mata”
Siswa 2(Albar)
“Kalau kamu sudah tau kenapa harus menabrak saya, apa ingin modus? “
Siswa 1(Haikal)
“Tadi saya sudah bilang maaf kan, tadi saya tidak sengaja, saya minta maaf! “
2
Siswa 2(Albar)
“Nasib punya kulit hitam jadi tidak kelihatan “
(Tertawa)
Siswa 1(Haikal)
“Jaga omongan kamu! ”
Narator(Aqilah)
“Saat mereka berkelahi, Tiba-tiba ada seorang murid yang menghampiri mereka”
Siswa 3(Aryo)
“Eh, eh ada apa nih ribut-ribut? “
Siswa 1(Haikal)
“Ini nih dia mengejek saya hitam”
Siswa 2(Albar)
“Tapi kan kamu duluan yang menabrak saya”
Narator (Aqilah)
“Tiba-tiba ada seorang guru yang menghampiri mereka”
Guru 1(Fachirana)
“Ada masalah apa ini? “
Siswa 3(Aryo)
“Ini ada masalah Bu”
3
Guru 1(Fachirana)
“Masalah apa memangnya? ‘
Siswa 3(Aryo)
“Si Albar menghina Haikal dengan sebutan orang hitam “
Guru 1(Fachirana)
“ oh, jadi itu permasalahannya. Kalau begitu mari ikut ibu pergi ke BK untuk di
selesaikan dengan baik-baik”
Narator(Aqilah)
“Siswa dan guru tersebut pun pergi ke BK untuk menyelesaikan masalah tersebut”
Guru 1(Fachirana)
“Sekarang kalian jelaskan apa masalah kalian, ibu ingin pergi keluar”
(Albar & Haikal menganggukan kepala)
Siswa 1(Haikal)
“Ini si Albar mengejek saya hitam bu”
Guru BK(Mulya)
“Kita ini kan satu sekolah, seharusnya kita tidak boleh saling menghina. Apa lagi
menghina ras seperti, menghina fisik, warna kulit dan lain-lain”
(Albar & Haikal menganggukkan kepala mereka)
Guru BK(Mulya)
“Ibu rasa sudah cukup tentang yang ibu bilang. Sekarang sudah boleh keluar”
4
Narator(Aqilah)
“Ternyata di belakang ibu guru dan guru BK masalah ke-dua siswa tersebut belum
terselesaikan. Masih ada yang menaruh dendam”
Siswa 1(Haikal)
“Hei aku masih tidak senang kau menyebut aku hitam”
Siswa 2(Albar)
“Kan kenyataannya kulit kau hitam”
Narator(Aqilah)
“Ada 3 siswa dan 1 siswi menghampiri mereka”
Siswa 4(Fahri)
“Perih bukan sembarang perih, sekarang zamannya perih di Indonesia. Nih yang seperti
ini bisa memecah belah bangsa Indonesia”
Siswa 5(Ilyas)
“Ya, mereka-mereka ini harus cepat di singkirkan! “
Siswa 6(Dzaki)
“Saya setuju, karena kita harus mempertahankan persatuan kita ini”
5
Siswi(Syafa)
“Saya gak setuju, kalau kita menyingkirkan orang ini dapat menimbulkan masalah yang
baru. Saya gak suka sama orang ini, karena bahwa katanya Indonesia akan terpecah
belah”
Siswa 4(Fahri)
“Tahu bukan sembarang tahu, tahu yang paling enak ada di Indonesia, lalu apakah
kamu tau caranya untuk mempersatukan kita sebagai bangsa Indonesia“
Siswa 5(Ilyas)
“Maklum lah, orang seperti itu gak akan mengerti apa pun”
Siswi(Syafa)
“Hei jangan sombong kau, kau itu gendut”
Siswa 5(Ilyas)
“Kau sendiri pun matanya belo “
(Tertawa)
Siswa 6(Dzaki)
“Hei masalah kecil seperti ini saja kok pada ribut semua? “
Siswa 1(Haikal)
‘Ya ini semua gara-gara ulah orang bodoh, yang saking bodohnya sampai ke tulang
rusuk”
6
Siswa 2(Albar)
“Heh hitam, yang bodoh itu kamu kalau jalan itu menggunakan mata”
Siswa 1(Haikal)
“Dimana-mana jalan itu memakai kaki bukan memakai mata, lintah kerbau!”
Siswa 2(Albar)
“Kenapa harus lintah kerbau, mengaca atuh muka kamu seperti tikus got”
Siswa 1(Haikal)
“Hei jaga omongan kamu! “
Siswa 2(Albar)
“Kamu juga jaga omongan kamu! “
Siswa 4(Fahri)
“Hei sudah”
Siswa 2(Albar)
“Diam kamu keriting, jangan ikut campur! “
Siswa 4(Fahri)
(Memegang kerah baju Albar)
“jangan menghina fisik saya dong”
7
Siswa 1(Haikal)
“Hantam saja dia, di hajar tau rasa”
Narator(Aqilah)
Guru yang sedang di luar melihat mereka dan menghampiri mereka
(Terjadi keributan. Lalu Albar mengambil sapu lidi untuk memukul Haikal. Namun, di
cegah oleh guru)
Guru(Dinda)
“Kalian ngapain sih, sudah seperti anak kecil, kemarin bukannya sudah di selesaikan
masalanya. Kita ini bangsa Indonesia, bangsa Indonesia tidak mengenal yang namanya
perbedaan “
(Pak guru mengambil sapu lidi dan memberikan 1 batang lidi kepada Albar & memberi
sapu lidi kepada Haikal)
Guru 2(Dinda)
“Sekarang kalian patahkan lidi itu dan sapu lidi itu”
(Haikal & Albar pun mencoba mematahkan lidi yang mereka pegang)
Guru(Dinda)
“Sudah jelas sekarang apa maksudnya. Satu Lidi itu cepat patah karena sendirian tanpa
ada bantuan orang lain, terus kenapa sapu lidi itu yang terikat tidak bisa patah? Karena
mereka kuat, mereka kokoh, karena mereka bersatu. Sama seperti kita, jika kita berdiri
sendiri dalam hidup kita, tanpa bantuan orang lain itu tidak akan kuat, tidak akan kokoh.
Tapi apa jadinya jika kita bersama? Kita akan kuat, kita akan kokoh, kita tidak akan ter
patahkan oleh apa pun, itulah artinya persatuan. Kita harus berjanji dalam meneruskan
generasi bangsa Indonesia, kita harus bersatu walaupun kita berbeda”
8
Narator(Aqilah)
“Akhirnya seluruh siswa yang berkelahi mengenai ras berdamai. Mereka
saling berjabat tangan di hadapan bapak guru”